SUKA DUKA KIRIM UNDANGAN PERNIKAHAN.


26047380_10213003230288494_8379041926271742527_n

Thok palu dijatuhkan, hari pernikahan diputuskan oleh kedua belah pihak. Jujur sih anak-anak yang memutuskan. Mereka mulai cari TKP resepsi.
 
Kami yang orang tua ada beberapa saat kita bingung, galau dengan perkembangan situasi terkini (nggak usah di elaborate alias dijlentrehkan), namun “show must go on.”
 
Maka yang pertama dilakukan adalah mengumpulkan alamat. Dari buku tilpun, dari Gmail, Kartu Nama, bekas Undangan, semua daya dikumpulkan. Tidak ada kata nanti dulu.
 
Alamat ini kami pindahkan ke spreadsheet, lalu disimpan di DropBox sehingga setiap saat bisa di akses dari Komputer maupun Smartphone. Google Spreadsheet, sungguh ciamik dalam melakukan tugasnya. Aplikasinya “free” dan sangat portabel.
 
Setelah alamat selesai disiapkan, lalu dicetak sebagai label.
 
Kami gunakan Computer Label, dalam hal ini saya mempercayakan kepada tipe RA-01273, label 37mm panjang dan 70mm lebar.
 
Dulu label ini aduhai harganya, tetapi entah mengapa mereka sekarang harganya bisa “harga pertemenan deket..”
 
Jadi database mengambil dari Spreadsheet, dikawinkan dengan Program APLI LABEL. Tidak perlu bingung dengan pernik “mail merge” segala macam. Tinggal pakai.
 
Sekalipun demikian harus dilakukan cross check.
 
Misalnya ada yang berkeras alamatnya di Kunciran Permai, padahal yang betul Kunciran Mas Permai. ATau Komplek Perumahan Antilop, padahal seharusnya Antilop Maju.
 
“Orang lelakiH emang kurang perduli detail..”
 
Dalam hal ini Google Map sangat membantu menelusuri alamat lengkap suatu daerah.
 
Penulisan Label ternyata tidak bisa sepanjang guwe mau. Ada trik untuk sedikit menyingkat seperti Kelurahan, Kecamatan menjadi Kel, Kec. Ini guna menghindari ada aksara yang tidak muat untuk dicetak.
 
Sambil mengumpulkan informasi alamat, jangan dilupakan bahwa Undangan yang dikirim, akan menentukan jumlah piring. Dalam kasus kami, quota undangan adalah misalnya 200, maka disinilah kejujuran diuji.
 
Kita bisa saja “nakalan” tetapi merasa cerdik dengan mengundang 300 undangan apalagi WA sangat ampuh dalam menerobos hambatan geografis. Ditambah dengan desakan membaca mantera sakti “toh tidak semua tamu datang,”
 
Tetapi resiko yang dihadapi adalah kalau terjadi overload, malunya itu sampai kemana-mana.
 
Godaan over invited ini sangat besar.
 
Begitu anda ketemu seseorang, teringat akan undangan, atau bisikan kerabat untung mengundang si A, si B, si C. Family terkadang over enthusiastic – sehingga mereka suka rela menjadi relawan “getok tular” seperti yang biasa di lakukan di desa jaman dulu.
 
Kebiasaan baik yang sekarang terutama diperkotaan bisa menjadi boomerang.
 
EKSPEDISI MANA YANG PALING TERPERCAYA..
Pertanyaan yang tidak mudah dijawab, sebab selalu pakai buntut yang bertolak belakang “Tapi Murah..”
 
Semula kami menggunakan sebut saja JNE, lalu ketika mulai pinter mempercayakan kepada Wahana. Pernah juga dicoba dengan usaha BUMN, namun ongkosnya ternyata tidak murah. Lagian kantor mereka kerap putus nyambung, alias bisa tutup sepanjang mereka mau.
 
Begitu, barang terkirim, saya menggunakan aplikasi untuk mengecek dimana keberadaan kiriman kita. Pernah ada kiriman yang seminggu belumn sampai juga. Atas nasihat – diminta menggunakan alamat non formal, “di depan rumah putih tingkat, dekat bengkel tambal Ban.”
 
Etika menulis undangan juga harap diperhatikan, memang tidak mudah. Beristrikan Erni, kerap membuat saya garuk kepala ketika diundang dengan judul kepada “Mbak Erni”.
 
Saat menempelkan label luangkan waktu sebentar untuk meletakkannya tidak harus presisi, namun jangan pula mencang-mencong. Percaya atau tidak, kadang ini sering bawa-bawa nama sekolah.
 
Kalau lulusan SD kelas 2 misalnya, akan dikomentari pantes tidak becus lha cumaK lulusan SD 2. Tapi kalau lulusan S2, akan dikomentari lulusan S2 kok nempel label kayak orang mau pasang pamplet. Ngasal secara gitu.
 
Jaman kita masih berkirim pakai perangko, kemiringan perangko bisa ditafsirkan mulai dari “I Love You” kalau terbalik pasangnya, atau I like you kalau setengah miring.
Ada kerabat yang menyatakan berhalangan hadir karena satu dan lain hal. Dalam hal ini barulah kita berani mencari “pemeran pengganti”.
 
Undangan adalah perwakilan diri kita. Menempelkan label hendaknya dikerjakan dengan “hati dan passion”, bukan asal-asalan. Juga tidak elok jika kita mengirimkan undangan kosongan tanpa nama.
 
Pernah kami di tilpun oleh ekspedisi, “pak kami tidak menemukan Blok L2.” Setelah dicek, cebul memang hurup I (India) dengan L (lima) kadang kerap membingungkan. Kesalahan ada pada saya.
 
Tilpun lain pak Ibu Muharti tidak ada. Ternyata salah mata saat membaca nama Mujiarti menjadi Muharti.. Maaf ya bu.. Kesalahan jebul ada pada saya.
 
Beberapa tetangga yang masih bisa dijangkau kaki saya datangi secara pribadi. 
 
Tok..tok..Spada..
“Siapa?”
“Saya Mimbar, mau menyampaikan undangan…”
[Nama Mimbar… gampang dikenal] ..sombong..mode.
Beruntung ditangannya ada segebok kunci rumah. Nyatanya saya perlu menyelesaikan satu lagu pakai tiupan trompet, iklan Bukalapak – menunggu beliau menemukan anak kunci yang sudah pas tepat tetapi tidak bisa dibuka gemboknya, lha “gregelan drijine.” Lalu dicoba dengan anak kunci yang salah, ya tetap tidak bisa membuka gembok, lalu memasukkan anak kunci yang setelannya. Dan baru bisa.. Voilla.. kok persis aku ya.. gopohgopoh.
 
Lain tetangga lain reaksinya..
 
Tok-tok.Spada
 
Situ siapa?” sambil matanya menembus bahu celingukan kalau-kalau nih orang tua bawa temannya.
“Anu bu saya tetangga, nama saya singkat Mimbar, rumah dipojok sana, nomor sekian, menyampaikan undangan”- nunduk sambil usap bahu kiri yang sudah disempitkan.
Saya tidak tahu ada rumah disitu..” – katanya lagi. Entah mengapa rumah dua belas tahun lebih disana masih belum dikenali keberadaannya.
 
“Saya suaminya Bu Erni,” masih berharap ada kata kunci yang perlu disebut.
Saya ndak kenal tuh” – katanya lagi.
 
“Ya sudah itu tidak penting, ini ada undangan tolong diterimakan, tugas saya selesai ya bu, Selamat Siang..”
[Nama Mimbar… gampang dikenal] ..sombong..mode. OFF, dia tidak kenal saya, heu heu
Dan tetangga yang tidak kenal tersebut hadir pada malam resepsi.
Bekasi, Jawa Barat  17422 masih dekat Jakarta juga, orang harus selalu waspada.
 
#the wedding
#Satrio Wicaksono dan Raini.
#Gedung Wanita Patra SImprug
#Minggu 171217
Advertisements

RAHASIA SANG DUKUN HUJAN


IMG_0412.jpg

SECRET of DUKUN HUJAN KAMI

Salah satu yang ditakutkan dalam mengadakan perhelatan adalah hujan lebat, air masuk sampai mata kaki, sepatu basah, rusak, perut kembung. Ceritanya bakal diturun temurunkan sampai anak cucu…

Minggu malam 17 Desember 2017, awanpun sudah “ngenthak-enthak” tebalnya. Ini hujan extrim kalau turun bisa seperti dikasih formalin. Tidak terkecuali di Gedung Wanita Patra Simpruk tempat resepsi nikah diselenggarakan.

Mas Dody Julianto sudah mengeluarkan “songsong” untuk mengakomodasi undangan yang mungkin bakal kehujanan. Itupun ia lakukan sedari akad akan dimulai. Jarak antar Gedung dengan lokasi Parkir lumayan jauh.

Naga-naganya seperti lagu “BUKALAPAK”, AKAD berlangsung dalam suasana Payung Teduh.

Alhamdulilah, cuaca kali ini extrim bisa diajak berdamai. Resepsi berlangsung dalam keadaan kering.

Di luar dugaan, saya banyak ditanya “pakai orang pintar” dari mana. Atau “serana” – ritual apa yang dilakukan. Misalnya apakah ada celana dilempar (ini gedung orang), atau ramuan cabe dan bawang ditusuk lidi.

Kami tidak menggunakan jasa tersebut semua terpulang dari kehendak diatas. Terlintaspun tidak saat itu. Namun sayapun amat menghargai warisan nenek moyang, soal kepercayaan ini.

Saya lebih percaya doa para undangan sekalipun singkat “mbok yao jangan ujan yak,” selama dikeluarkan dengan ihlas, ya Insyaallah dijabah Tuhan.

Ketimbang doa panjang 300 lembar dengan kecepatan 3000 kata per menit lantas “tegese opo”.

***

Tapi kok ada cerita yang berbau uka-uka.

Lalu ingat sepuluh tahun lalu . “Desember 2007” – TKP Kapling Pendidikan.

Memang diantara kerabat ada yang kesehariannya dianggap Orang pintar, melalui medium menyampaikan pesan bahwa sang mBauRekso rumah minta Lisong, Kembang Setaman, dan sedikit -ngomongnya sambil berbisik – XXXXX .
Suara televisi berbunyi “tuut.” Sensor.

Alasannya ini rumah masih dingin (baru dihuni), butuh biaya pindah seredhanya agar mahluk halus mau tidur sementara dirumah saudaranya kalau siang. Itu kalau yang dibicarakan “diwongke” alias dianggap wadagnya sama dengan kita.

Permintaan Lisong diganti rokok biasa dan request XXXXX (bunyi tuut) dicoret.

Acara siraman dan serah-serahan berjalan lancar awalnya.

Mendada Mak Pet, Listrik mati saat upacara berjalan di rumah, padahal ya sudah loos stroom. Begitu penerangan darurat seperti petromax dinyalakan – maka Anai-anai keluar semua dari sarang sampai Petromak tersumbat sayap mereka.Sepuluh tahun kemudian, kalau hujanpun daerah kami masih bisa disaksikan laron macam air petasan mercon muncrat saking jumlahnya banyak.

Kok ndelalah, semua peralatan listrik mendadak seperti over voltage, kulkas, AC semua mengeluarkan getaran akibat over heat. Padahal dari segi kekuatan sekedar angkat beban pengeras suara apalagi lampu penerangan Video. Ia tak mampu. Duh..

Biar cerita lebih liar, semua tamu undangan yang bawa mobil, pulangnya harus didorong. Bukan macet melainkan kepater. Jalanan kami belum di semen. Masih tanah merah. Dan hujanpun seperti ikut meramaikan saat itu.

Kami memang akhirnya harus mengganti beberapa peralatan listrik.

Fact not fiction.. Believe of not..Kejadian sepulh tahun lalu, bisa dilewati “Kanthi Aman lan Tentrem..”

Thanks God..

#Kapling PdK 17 Desember 2017
#Gedung Wanita Patra

FOTO TAK BERSAKSI


IMG_0381

Kemarin – saya memilah foto koleksi dari WA, FB Instagram, tentunya hasil potret saudara dan kerabat.  Ini dilakukan  sementara menunggu Official Released dari juru foto Vendor yang biasanya baru klaar dalam hitungan bulan.
Setelah mencari foto kerabat, sayapun mencari foto Saksi mas Yusuf Iskandar.  Kalau ketemu langsung saya forwardkan, sebab beliaupun bisa menjailkan foto menjadi tulisan menarik.  Saksi sering dilupakan. Padahal pernikahan tak bakal terlaksana tanpa saksi, iapun dibeberapa kepercayaan menjadi “GodFather” yang dinikahkan.
Sayangnya mereka biasanya di kejar-kejar saat dibutuhkan, lalu setelah ada kata “SAH” keluar dari bibir mereka, seperti dilupakan.
Ini tidak boleh terjadi. Bahkan dalam technical meeting ditulis foto dengan saksi.
Jebul, entah mengapa – ingatan bisa hilang begitu saja. Padahal, sempat saksi yang lain mas Erwin bersalaman dengan saya. Saya cuma sebatas berhola-halo, namun ternyata isi kepala tidak full  loading. Sehingga saya tidak sempat mengingatkan kepada pihak WO untuk berfoto.
Jadi agak malu juga ketika dapat pesan WA “Baru Ingat Saya Tidak Punya Potret dengan Pengantin..
Hopo tumon…..
Tapi namanya wong Jowo, tetap ada untungnya. Untung Satrio mendadak minta Siraman, jadi kami bisa berkumpul bersama kerabat, fota-foto bersama, potong tumpeng, makan cendol.
Jadi andai Acara Siraman di SKIP dengan alasan tertentu,  nama saksi hanya diingat oleh orang tua pengantin belaka. Dan perlahan pudar.
KILAS BALIK BEBERAPA TAHUN LALU

 

Sekali tempo saya dimintai menjadi saksi sebuah pernikahan kerabat. Seperti biasa, saya menyambut tugas ini dengan penuh antusias. Saya bilang sebagai dukungan, transportasi dan akomodasi di Bandung, biarlah kami tanggung. Idep-idep Libur ke Bandung tetapi kali ini obyek wisatanya adalah menjadi saksi.

Yang diluar dugaan dan sempat bikin mengkeret adalah setelah diberi tahu bahwa saksi pasangan saya kelak adalah Menteri BUMN yang sedang aktip. Namanya tak penting sebab bukan inti inti cerita.

Hari yang telah ditentukan,  dalam acara temu pengantin, kami berhadapan, saya hanya membaca secarik kertas karangan sendiri. Kertas itupun sudah kumal seperti dokumen serifikasi  yang mengikuti emas bodong jaman VOC. setelah mengucapkan salam, ucapan terimakasih kedua pihak tuan rumah, saya memperkenalkan nama saya, menyebut maksud tujuan kemari.

Sayang naskah serah terima yang baku yang biasa disuplai oleh  pengantin baru muncul setelah jaman now, jaman WO.

Pernikahan dan resepsi berlangsung lancar. Pak penghulu nampak sedikit “ripuh” menikahkan seseorang didepan menteri yang lengkap dengan pengawalan. Berkali-kali ia menyebut saksi kepada saya tapi menyebut pak Menteri kepada saksi satunya. Pak Menteri bahkan berkenan memberikan sambutan sekaligus semacam Kotbah Nikah tambahan.

Kelar akad nikah, lalu dilanjutkan makan siang.  Eufora lapar, mencicip makanan lezat, bertemu famili seperti biasa mengiringi sebuah perhelatan. Ditambah ini pesta kebun.

Saya tak memiliki dokumentasi babar blas berupa foto sepotongpun bersama pengantin apalagi bersanding dengan Menteri (Kumis). Dan berjanji ini jangan terjadi pada anak keturunanku…

Lha kok sekarang terulang lagi terhadap saksi saya. Duh..

 

Tanya Mama


TANYA MAMA.

Bocah bagus tinggi besar ini salah satu keponakan kesayangan saya. [bingung nggak lo kalau setiap keponakan pakai sebutan kesayangan]. Tapi ya sebagai pakde saya cuma melihat keponakan, cucu selalu lucu dimataku.

Ketika pernikahan Satrio Wicaksono dan Raini di Gedung Wanita Patra Simpruk pada 17 Desember 2017,  ia nampak memakai jas hitam.  Tampil menyeruak, denganb postur tinggi  diantara tamu undangan.

Ia sudah menjadi pemuda kekar, berotot berkat diet dan latihan beban yang teratur.

Rupanya pasangan Satrio dan Raini kini menjadi semacam “ambasador” hidup sehat dalam family kami.

***

Wajahnya mengambil kecantikan mamanya Vivi Libranti – “ya sebelas dua belas dengan kakak tertuanya, wk kw” – dan rahang keras serta kulit putih dari papanya Janggam – yang wong Ogan Komering. Sebagai Ustadzah, adik saya kerap ditawari perjanjian “ijon” oleh ibu jamaahnya. Tapi jangan heran, mamanyapun dari kecil sudah menebar PHP. Padahal sudah TK-pun kalau datang manjanya “ngempeng” susu Ibu. Sebelum tertidur.

Beberapa tahun lalu ia hanyalah anak yang gomblah-gombloh, maksud kami – badannya bongsor tapi “sandung lamur” nya cukup tinggi. Ketika beberapa bulan lalu saya menjenguk mamanya yang adik kandung paling bungsu Vivi Libranti,  anak nomor tiga dari empat bersaudara ini pulang sekolah. Langsung “cepak-cepak” – bahasa jawa ringkes ringkes untuk berangkat ngeGym.

Dia berhasil, sekarang bobot tubuhnya ngedrop lebih dari sepuluh kilogram. Bukan urusan mudah mengatasi godaan Basmati, Mandhi, Kabshah dan  segala masakan full lemak ala ala Timur Tengah.

Sebab sepertinya bagi keluarga ini satu-satunya masakan di dunia yang turun ke bumi setelah mereka berlama-lama malang melintang di ranah Donal Trump-cuma dari Timur Tengah.

Saya pernah diajak “kerep” dan memang Wow, ini masalahnya.

Cita-citanya satu-satu lelaki dikeluarga ini ya satu “tampil langsing saat pernikahan mas Iyok” alias Satrio Wicaksono dan mbak Raini. Mudahan berkelanjutan.

Namanya bocah, selain gym ia memiliki kesukaan menggoda mamanya,  mengganggu adiknya Athifa sampai menangis, atau kakaknya Arwa dan Tabina.

Tapi ada satu resep cespleng menguruskan tubuhnya yaitu :

“Nggak Tau Tuh Tanya Mama…” 

Dan seperti kunci kontak ketemu motor, sang mama akan menggeber bercerita – bagaimana perjuangan putranya diangkat dari lembah kegemukan [hiperbolis on].

Cuma satu yang belum dikabulkan mamanya. Yaitu mengonsumsi WheyProtein sebab dia dengar mas Iyok (Satrio Wicaksono) juga meminum susu konsentrat tersebut.

[Dengar-dengar ayahnya sih sudah “hijau” seperti PBB terhadap Palestina]. Tapi mamanya seperti Trump yang bilang No. Maka gugur kabeh persekongkolan ayah dan anak.

Bukan Ashraf saja sebetulnya yang rela berlapar-lapar dahulu, Nikah SatrioRaini kemudian.
Sebut saja saya, ibu Erni, Ibu Tanti, juga berusaha menurunkan bobotnya. Bahkan mas IndraTama ayah dari Pengantin Raini Dwitama, saya lihat kerap hadir di CFD. Berlari tentunya.
Itu kalau CFD-nya mas Indratama besan saya.
Sementara itu dari generasi jaman now, CFD digunakan untuk pameran Sepatu Baru. Larinya mah entar entar dulu.
Anak dan mantu cucu R. Soeratman

Mulai dari NOL dengan KUA


MAHLUK ASING GEN N1,N2,N3,N4,N5

Ketika putra bungsu saya memutuskan akan menikah, tentunya akan mulai bertanya. Bagaimana cara mengurus surat menyuratnya. Kami buka internet, pengalaman blogger sebelumnya. Kami download formulir bertajuk N1, N2, N3, N4, Surat Pernyataan masih Jejaka, Surat Pernyataan Setuju dari  Orang Tua,  Foto Copy KTP, Kartu Keluarga, kedua belah pihak Ortu dan CP , foto copy kedua belah saksi.

Maka bertemulah kita dengan mahluk asing bernama – formulir N1,N2,N3,N4,N5, Surat Keterangan Numpang Nikah. Mayan nambah pengetahuan.

Saran pertama buat foto copy minimal lima lembar dari setiap dokumen anda. Setiap carik surat yang sudah di ACC bikin foto copynya dan jangan pelit dalam jumlah. Kalau katanya minta foto 2 lembar, lari ke lapak foto bang Tolang, afdruk 10 lembar. Jangan seperti orang susah, sekalipun susah banget.

****

Cek List.

  1. Surat Pengantar dari RT dan RW (satu lembar diteken RT dan RW lantas di cap basah.
    Kami mendatangi ibu RT dan ibu RW, kebetulan di Grogol-Jakarta Barat  – saat itu dijabat oleh dua orang ibu  namanya ibu Ilona dan ibu Yuni. Ibu Ilona akan membuatkan surat keterangan, formnya sudah tersedia berupa foto copian.   Ketika ibu RT dan RTW selesai membubuhkan tanda tangan dan cap RT/RW yang perlu anda lakukan pertama kali adalah membuat salinannya. Pernah kejadian, kami hanya punya satu lembaran aseli, setelah diberikan ke kelurahan ternyata pihak KUA minta yang sama. Jadi terpaksa membuat lagi. [Kalau memungkinkan lakukan pendekatan untuk membuat surat keterangan rangkap dua atau tiga sekaligus.] Sepertinya berlebihan, namun kami ketemu batunya sehingga cukup bikin deg deg plus.
  2. Surat Keterangan Belum Menikah , pakai Meterai, diteken RT dan RW dan Kelurahan, dan dicap Basah.
  3. Fotocopy Calon Pengantin Pria (CPP), Foto Copy dari kedua Orang Tua. Kalau bisa Hal yang sama dilakukan dari pihak CPW.  (Bikin yang banyak)
  4. Dapatkan  dengan mencari Fotocopi Saksi Nikah. (bikin yang banyak 5 lembar)
  5. Foto 3×4 sebanyaknya 10 lembar, latar belakang biru, latar belakang merah
  6. Foto 2×3 sebanyaknya 10 lembar, latar belakang biru, latar belakang merah
  7. Foto 4×6, sebanyaknya 10 lembar, latar belakang biru, laar belakang merah.
  8. Baik orang Tua dan Saksi, dapatkan foto copynya. Tadinya kami diberitahu bahwa foto yang dibutuhkan adalah 3×4, namun menjelang hari H, diubah menjadi 4×6. Jadi sebaiknya lengkapi semua baik masuk akal atau tidak.
  9. Foto copy Ijazah – buat sebanyaknya 5 lembar
  10. Foto copy Kartu Keluarga – buat sebanyaknya 5 lembar
  11. Foto Copy Akte Kelahiran – buat sebanyak 5 lembar
  12. Surat Keterangan NUMPANG Nikah. Ini yang agak baru kami dengar.

Ilustrasi, jauh-jauh hari kami sudah mendapatkan semacam “check list” dokumen, ukuran foto (2×3 dan 3×4) serta warna latar belakangnya.  Semua 100% kami penuhi.

Dokumen lantas diberikan kepada orang tua CPW yang dalam hal ini akan mengurus pernikahan di KUA wilayah Kebayoran Lama ( Gedung Wanita Patra). Terutama Surat Keterangan Menikah.

Sebulan sebelum hari “H” – ternyata pihak  KUA Jakarta Selatan merevisi “check list” yang mereka keluarkan sebelumnya. Foto harus 4×6 dan Surat Aseli dari Kelurahan. Ini sama halnya dengan kami harus mendatangi kembali RT dan RW, mengulang proses membuat Surat Keterangan dari RT RW, mengulang membuat Pernyataan Masih Jejaka. Lumayan kalang kabut.  Pengalaman yang berkesan lainnya. kami tinggal di Bekasi Propinsi Jawa Barat. Rumah RT, RW, Kelurahan, KUA ada di Grogol, DKI Barat. Kalau dibuka di WAZE jaraknya 30 kilometer, jarak tempuh 45 menit. Asalkan anda berangkat meninggalkan Propinsi “Yang Ada Badaknya”  sebelum pukul 05:00 untuk menghindari kemacetan.

Lha tiba di Propinsinya pak Lulung, pukul 05:45pagi, mau ngapain? rumah mana sudah buka. Maka biasanya kami ngejujuk ke Bubur Ayam BCA Grogol.

***

Kesimpulannnya, alur  yang dipajang di KUA, Kecamatan, Kelurahan jangan dijadikan “Take it for granted,” – akan ada kejutan kejutan diluar dugaan. Dan semua itu – bahan empuk untuk penulisan blog…

#Kebayoran Lama
#Surat Numpang Nikah
#Surat Vaksin (Putri)
#Surat Perjaka/Perawan
#Formulir N1,N2,N3,N4
#Ijin Nikah dari Kelurahan hanya untuk dua bulan lamanya.

https://mimbarsaputro.com/2017/12/23/wo-jilid-dua-2