Cendol marendol endol2


Cetakan cendol buatan dalam negeri.

Bisa bikin cendol, giliran jadi hasil cetakan seperti membuat bubur sumsum yang “magel” alias “mringkil” kata orang Jawa. Ternyata menghasilkan Cendol cantik seperti babang cendol Bandung butuh kesabaran, usaha. Dan dibantu dengan alat sederhana ini.

#Persiapan wedding Satrio dan Raini (17.12.2017)
#cendol
#cetakan Cendol

 

 

Advertisements

Cendol


Running Test..

Sedang dicari komposisi agar cendol bisa liat seperti uratnya Ade Rai.

Sebuah home made Cendhol marendol Untuk dua minggu mendatang. Persoalannya  apakah bisa ditambahai buah durian atau nangka atau polosan. Tidak semua suka durian, dan tidak semua suka nangka.  Yang jelas suka dengan rasa ORI.

Diaduk atau tidak..

Gara-gara cendol, saya harus keluyuran cari pedagang yang lezat (katanya).

Tapi kembali, kami berembug bagaimana bikin Dawet tak berdawai, yang zonder obat, harus home made sebab tanggal 17 Desember 2017 adalah hari spesial..

Sekarang sedang proses mencari ramuan tepat agar tepung beras bisa membentuk butiran yang kenyal, rasa berasnya masih membekas, pandannya masih harum, campuran gula aren yang beraroma gosong sikit lah.

#persiapan akhir siraman

Upacara Siraman di rumah Ujung Kabel


Rumah Ujung Kabel. Begitulah kami menyebutnya sebab lokasinya saat ini berada pada urutan tiang listrik paling bontot. Pada tahun 2007 belum banyak rumah disekitarnya. Masih banyak tanah lapang yang  dimanfaatkan oleh penduduk sekitar sebagai sarana menambah uang dapur mereka. Continue reading Upacara Siraman di rumah Ujung Kabel

Surat mbak Endah kepada adiknya Seno dan Lia


Dalam suasana suka maupun duka tidak selalu seluruh anggota keluarga dapat berkumpul bersama.  Ada saja yang berhalangan. Endah misalnya, lajang sekaligus kakak tertua dari Seno, karena sedang menuntut ilmu di India.

Dosen wanita sebuah universitas negeri Bandung ini memang sudah lama tertarik akan kebudayaan serta arsitektur India.

Ke-India-annya pernah dipertunjukkannya saat berakhir pekan di Little India Singapura, beberapa waktu lalu. Diantara desakan penumpang yang sebagian berdiri memadati lorong bis, tubuhnya nampak menjadi kecil terperangkap ditengah ketiak penumpang bergelantungan dengan posisi mirip pelontar lembing.  Bagi yang berpengalaman memasuki komunitas India mungkin mampu bercerita aroma keringat para penumpang berkulit gelap yang khas mungkin akibat masakan khas mereka yang padat bumbu.

Sementara saudara yang lain sudah merasa mual dan pusing dengan aroma menyengat ini, Endah malahan bercanda dengan saudaranya tanpa sedikitpun merasa terusik. Padahal hidungnya tepat dibawah rembesan ketiak basah penumpang seperti anak sekolah dibawah berlindung dibawah pelepah daun pisang.

Wheladalah. Turun dari bis dengan lahapnya ia mencarup (mengaduk) nasi dengan menyantap kare, mencabik lembaran capati lalu lahap memasukkannya kedalam mulut dengan tangan kosong. Selesai bersantap kedua tangannya ditangkupkan  didepan wajahnya lalu kepalanya digeleng-gelengkan seperti mainan boneka roro blonyo, patung pasangan pengantin jawa yang sedang duduk yang lehernya dipasani per.

Saat thenk adiknya mengadakan kirab atau prosesi pengantin memasuki siraman, dari bilik kecilnya di India sana, kakak perempuan tertua Seno ini mengirimkan pesan singkat (sms) kepada ayahnya.

Bapak, aku bahagia adikku menikah. Pagi ini seharian aku tafakur, semedi memohon kepada pengusaha jagad, agar Lia dan Seno berbahagia. Siang harinya aku kenakan kebaya seragam pengantin, lalu makan di restoran yang enak, membayangkan aku berada diantara kalian. Aku disini senang kok.

Kepada adiknya, lajang ini menitipkan pesan untuk dibacakan saat upacara pendahuluan sebelum siraman yakni “langkahan.” – Siraman adalah upacara memohon ijin menikah kepada kakak-kakaknya yang belum menikah termasuk Endah tentunya:

“Adikku Seno dan Lia, aku memang tidak melihatmu hari ini”
“Aku tidak dapat melihat warna baju pengantin kalian”
“Aku tidak dapat melihat wajah bahagia dan haru kedua orang tua kita”
“Aku tidak dapat mencicipi hidangan pengantin kalian”

“Tapi aku hadir disini……”  – saat kata-kata disini mulai dibacakan, isak tangis mulai terdengar. Tisue mulai dikeluarkan. Bahkan pembaca suratpun mulai kehilangan suaranya.

“Karena pernikahan ini tidak saja dibatasi oleh atap gedung..”

“Bila sejenak kalian menatap langit, sebelum kalian masuk dan keluar mobil pengantin..”

“Sadarilah, pernikahan tidak saja dalam atap melainkan diatapi langit, pernikahan tidak saja diterangi lampu, tapi juga sinar matahari”

“Pernikahan ini tidak saja didalam ruangan, melainkan dalam pelukan langit serta udara yang kuhirup dan kehangatan kasih Yang Maha Kuasa yang merestui kalian..juga menjagaku disini”

Lailahailallah…….. 

“Dari jauh kakakmu ini hanya bisa melempar ujung selendang pelangi kepadamu, adikku”  – isakan terdengar semakin bergemuruh. Bahkan ada yang mulai tersedu. Mengontrol emosi haru lantas bersikap tegar sepertinya sudah tidak ada dalam kamus para hadirin dan kerabat saat itu.

“Langit dan bumi mengeratkan kita. Hati menyatukan kita semua sebagai keluarga, sekalipun kita seringkali harus berpencar di ujung dunia yang berbeda”
“Selamat menempuh hidup baru adikku, Seno dan Lia…”

Dari bilik kecilku Chennai, India