HOLILI van Sampang


Holili van Sampang dikabarkan belajar Pencak Silat. Foto yang diupload memperlihatkan ia mampu melakukan gerakan sulit seorang pesilat Tradisional. Artinya dia sudah mampu menggerakkan anggota tubuhnya tanpa diperintah. Semua serba reflek.
Reflekan orang terlatih ketika ia melakukan kepretan atau pukulan maka berlaku hukum e=mc2, ada kecepatan ditambah massa otot maka jadilah energi luar biasa.
Logikanya kalau kita menyenggol motor yang diam, paling memar. Namun kalau motor bergerak dengan katakanlah 20km/jam maka energi tumbukan jadi lain. Mungkin inilah yang menyebabkan ia memukul korbannya  tanpa otak sadarnya bekerja. Korbannya adalah gurunya. Mungkin selama ini mereka bercanda. Tapi Pak Budi ketemu apes.
Pak Budi, yang mengajar Senirupa, boleh jadi seorang seniman yang hatinya lembut sehingga tidak terpikir akan melakukan atau diperlakukan kekerasan. Kita banyakan penganut mahzab – kalau kamu tidak jahat kepada orang, orang juga tidak jahat kepadamu. Itu ada di Planet Meikarta.
Namun berita mengatakan tidak ada memar kemudian korban dinyatakan meninggal akibat pecah pembuluh darah, mestinya dilakukan investigasi lebih lanjut. Apa bukan tidak mungkin bersamaan dengan stroke misalnya.
Lebih menarik lagi para Guru non Honorer yang sibuk Kongres lalu memberikan pernyataan agar Undang-undang yang sudah ada di kongresin lagi. Lalu sibuklah orang di televisi memberikan pernyataan yang standar – bahwa guru harus dihormati, kejadian ini harus pertama dan terakhir,  dsb..dsb..
Lha setiap ada kejadian tak mengenakkan kok larinya menuding undang-undang tidak mendukung.
Bulan Desember lalu (2017), dalam sebuah pernikahan saya ketemu famili yang saya tahu pendekar dari Tamansari Yogya. Putranya saya tanya, soal ilmu silat. Saya bilang kalau ada acara Silat di TV maka wajah ayahmu memeragakan kebisaannya mulai tangan kosong, cabang tiga, toya dimainkan dengan cepat. Kalau UGM bikin acara, dia yang didepan pintu masuk (keamanan).
Hari gini belajar silat, buat apa oom
Saya lirik ke bapaknya, yang cuma bisa mrenges.
****
Anak-anak dibekali beladiri. Bukan buat mukul orang, namun setidaknya anggota badan bisa bereaksi kalau ada serangan. Tidak terlalu kaget menerima serangan tiba tiba.
Dipukul tetap sakit, namun atlit bela diri tahu dimana bikin “kebal sementara” misalnya dengan menegangkan otot. Dan semua terjadi melalui latihan. Yang lebih penting tidak terjadi “gegar kekerasan” – tidak mudah diprovokasi kalau lawan teriak-teriak menggertak. Kena pukul tidak lalu shok, “waduh aku dipukul, waduh patah tulangku.”
Lalu either down atau muntab membabi buta.
Bab ini memalukan, namun musti cerita.. dan sering diulangi…
Saya selalu ingat manakala ke Yogya terutama di depan Kantor Pos Yogya di Malioboro sebelah Gedung Agung.
Namanya anak muda nonton acara kesenian, mulailah ada yang sok mabok. Alhasil Segerombolan Perguruan Silat disaksikan Guru Besarnya mengeroyok kami.
Saya tidak bisa membela diri karena di “chop” tiba-tiba pada bagian tengkuk, sampai terhuyung lalu ditampani dengan pukulan oleh pendekar yang lainnya.
Yang saya bersyukur – karena dalam latihan kadang kami menerima pukulan tanpa pelindung, sekalipun sakit, sesak napas, otak ngeblank namun setidaknya tidak fatal.
Saya tidak berlatih bela diri lagi. Gantinya latihan mata melihat petarung MMA.
#pentingnya belajarilmu bela diri
#sampang
#torjun
#apa akibat stroke
#kenapa tidak ada memar
#apakah selesai dengan kalimat “sudah waktunya”
Advertisements

Seputar Cerita Nagasasra dan Sabukinten


Date: Sat Dec 4, 1999 1:47 am

Hampir setahun yang lalu penulis Nagasasra dan Sabukinten yaitu (SH) Singgih Hadi Mintardja meninggal dunia. Lantas kita di milis ini memberitakan, wah lelayu, SH Mintardja meninggal dunia. Seniman Seno Aji Gumira (bapaknya Sitok Srengenge), malahan menulis bagaimana perang tanding terjadi, tidak pakai gaman (senjata) tapi pakai suling yang mendayu, melemah, merintih, menggelora, kadang BT (birahi tinggi). Seno menyebutkan cara pengungkapan SHM dalam cerita ini sangat “RUARR BIASSAAA”, ada guemess, ada marah, tapi tidak jarang seperti samudra tenang. Kalo pernah baca riwayat hidup Chopin dan pencipta musik klasik yang lain, isinya hampir senada yaitu ada “roh” yang hidup dari sebuah aransemen musik. Saya menikmati musik klasik atau orkestra dengan cara primitip. Saya setel kartun Mulan ataupun The Lion King. Saat Simba ditinggal ayahnya, bagaimana ilustrasi musik mendayu. Saat Simba mulai menemukan teman Gelutnya, bagaimana musik menjadi riang. Nah SH Mintardja mampu memainkan kata-katanya seperti ilustrasi musik dalam filem kartun. Saya masih suka filem kartun lho.

Ada malahan menghapal seluruh dialog dalam filem tersebut. Jadi VCD bisa diputer berulang-ulang sampai, dia bisa hapal semuanya, dan menonton sambil ikut bergumam. Positipnya, dia memperlancar Inggris, negatipnya rumah jadi brisik. Tiba-tiba, mak jeganggit, harian KR menghidupkan roh tadi di homepagenya http://www.kr.co.id – Saya mulai mengakses dan ketika isinya saya “CP” (copy paste) – magic word komputer sekarang, ke internet/email, teman-teman sangat antusias.
Kejadiannya sekitar 1 Maret 1999, untuk tidak menimbulkan masalah hukum, saya minta ijin kepada redaksi KR, yang dijawab oleh bapak Cahyono Wisu, “kami tidak keberatan dengan kegiatan anda tersebut, namun kami mohonkan kepada anda untuk menyebutkan sumber cerita tersebut berasal dari harian Kedaulatan Rakyat.” Saya sebut mas-mas Dwi Waluyo, Mamay Suryaman, Bob Adibrata, Istidharto, Pradiwanto, Mbah Wir, mas Umar Fatah dan seabreg abreg para pecinta serial ini, roh mereka seperti di charge kembali. Lamunan mereka kembali kekejadian seputar Jlagran, Ketandan, Malioboro dsb..dsb. Semasa masih Noroyono.
Pokoknya “Endaaah” (tapi bacanya jangan mencong-mencong seperti banci di iklan permen “Es Teler 2000”). Setelah saya baca, saya save sebagai html, lalu saya copy paste-kan di theBat saya. Maka kepopuleran UPNVY menjadi menanjak. Seperti Narkoba, sekali coba pusing, next trip, “endaaa…ah” (seperti permen es teler 2000 lagi). Tapi kata orang lho.

Mas Bob Wikan Adibrata dari Amrik sana, sehari nggak ketemu Nagasasra dan Sabukinten (sekarang kan ngetrend tahun NagaMas, maka kita singkat Naga saja) – bisa blingsatan. Rumor katanya dia sedang mengubah desertasi doktornya dengan judul baru “Effek VibroSeismic yang diakibatkan oleh Gempuran Sasrabirawa terhadap Laju Produksi sumur Minyak”. Konon kalau judul ini ditolak, dia punya judul baru lagi “Menguji Kekerasan Batuan berdasarkan guratan Kuku Nyai Randa Sima Rodra” –

Apa nggak “endaaahhh”

Di Pit IAGI kemarin, judulnya keren Toward Profesionalisme bla..bla..bla, tapi diluar ruangan, kami membahas Tewasnya Simo Rodra alias Ki Panutan dan Djaka Soka sudah main “potong bebek angsa” alias Serong Sana Serong Sini dengan Nyi Randa Sima Rodra, yang katanya cantik, lincah, semekel tapi bisa liaaarrr.