Aturan Menyeberang ala emak Roxy Mas


Menyeberang jalan ada 3 perkara..
  • Jalan Sepi.
  • Lampu hijau tanda menyeberang menyala.
  • Nekad aja.
TKP di RoxyMas, Grogol.. Jalan tidak pernah sepi, Lampu BangJo juga tidak ada maka pilihan jatuh ke nomor Tiga. Nekad saja.
 
Kok pas saya sudah berhasil menyetop Taxi, Kendaraan Umum, Angkot, Ojol, Ojoff.. lalu menyeberang, di tengah menyeberang terlihat tiga emak. Dua emak masing-masing  gendong bayi-.. Satu menggendong beban hidup tetapi menggandeng bocah balita..
Gerak tubuh melihat ke kanan ke kiri, dengan kaki dipinggir trotoir- mestinya mereka akan menyeberang.
 
Saya segera ambil inisiatip. Tangan saya rentangan – masih di tengah jalan sambil – memberi isyarat “ibu-ibu silahkan, buruan menyeberang, lalu lintas sudah saya stop..”
 
Bukannya mau menyeberang, mereka malahan mundur. Satu emak menyahut.
“Nanti .. nunggu teduh..” Lantas mereka berlindung di bawah jalan layang yang melintas di depan RoxyMas.
 
Jadi, perkara yang ke empat – menyeberanglah saat “lampu matahari”  teduh..
Advertisements

Susahnya kalau Orangnya Satu HP-nya Banyak


Setengah harian saya berada di centra jual beli HP di Jakarta Barat - 
Roxy. Mereparasi perangkat BB saya. BB ini pernah kehujanan dalam 
backpack dan terendam air, tetapi masih digdaya. Tapi kok melihat Tato 
disana sini saya memutuskan ganti casing dengan yang "lisik" - mulus 
(citayam)

Pekerjaan yang dijanjikan 30 menit membuat saya memilih duduk sambil 
memperhatikan aktivitas "konter HP" sekeliling. Nampak sepi, nampak 
tidak mungkin meraup untung, nyatanya mereka tetap eksis dan "kaya". 
Tapi sebetulnya saya sedang memikirkan seorang konter HP mampu menulis 
Novel humor kehidupannya menjadi pelayan Konter.

Gedubrak...Seorang anak muda datang - langsung merangsek disebelah saya 
dengan meletakkan sebuah BB bergaransi dan sebuah Galaxy 1 yang masa 
garansinya selesai pada bulan Mei 2013. Ia bermaksud "barter" tetapi ia 
masih harus nombok 1 Satu Setengah Juta+ satu perangkat BB97. Eh rupanya 
dia tergolong pelanggan kecomelan - “*KoH Guwa denger elo ambil master 
di Mining Australia, ngapain cuma jualan HP?*” -

Si Counter kecut menjawab “*bosen: kerja di Pertambangan...*”

Saya seperti tersentil... Sial bener...

Lalu saya gantian menyahut - Maap kata nih (ikutan karakter haji 
mahyudin) ..Aku ngebleng (blank) soal Note1 apalagi Note2, bedanya apa 
sih sampai anda rela tukar BB dan cash 1,5 juta untuk barter ala tawuran 
(ada barter masih pakai duit).

Jawabannya- “Pekerjaan pak!” - kalau designer - butuh yang bisa 
“ngegambar..”

Lalu matanya dan telunjuknya mengarah ke layar HP. Terdengar suaranya 
kakak kekek.. Lho kok mirip Angry Bird. Anggap saja dia designer game 
Smartphone.

Perasaan badan saya sudah tipis digesek oleh pengunjung lain yang lalu 
lalang di kawasan mirip gang senggol. Tapi BB belum kelar-kelar juga. 
Seorang peempuan bawa baki menyeruduk di- Gang Senggol - sambil 
menawarkan "Makan Siang- Bisa di antar!"

Saya membolak balik address HP saya, hasil koleksi puluhan tahun, bisa 
menghasilkan sekitar 2 ribu alamat. Tidak yakin sebagian masih eksis. 
Sebagian hasil kopi dari Simcard yang dulu cuma bisa 100 alamat dan 
tulis nama musti singkat.

Untuk alamat Rumah Sakit saya sukses secara idiot mulai dengan awalan “R”

Rumah Sakit Hermina

Rumah Sakit Hernia

Rumah Sakit KO

Rumah Sakit BAB

.... dan seterusnya.. Akibatnya kalau saya tekan "R" musti berkutat 
lama. Klinik masuk rumah sakit, pangkalnya "R:"

Lalu karena pergaulan saya dikalangan ibu-ibu teman istri, maka saya 
tulis alamat mereka sebagai:

Bu Siti

Bu Romlah

Bu Bakir 1

Bu Bakir 2 - Kalau Bu Bakir punya Hp lebih dari satu.

...dan seterusnya akibatnya kalau mau cari nama seorang ibu saya harus 
padat merayap mencari satu persatu...

Giliran mengidentifikasi HP istri yang serenteng, terpaksa saya memberi 
kode providernya..

Istri XL

Istri S(untuk Simpati)

Istri M (untuk Mentari)

Tapi yen dipikir-pikir ini istri apa ukuran sandal jepit...

Saya ganti lagi dengan memberi nomor urut..

Istri 1

Istri 2

Istri 3

Istri 4

Giliran HP ke lima saya kebingungan (kan biar adil boleh cuma 4), 
apalagi kesannya saya seperti "tweeter" pengusaha Ayam Bakar dari 
Surakarta.

Jadi untuk HP yang terakhir milik istri saya tulis begini..

“Istri SIMPA”

Persoalannya - kalau tilpun berdering dari HP ke lima -munculnya

Istri SIMPA... Istri Simpa...dan sering otak ini meneruskan Istri 
Simpanan....

Padahal saya ya dari Genus Erectus Monogamikus.

Tukang Nada Dering yang kini melejit


Si tukang oprek yang berhasil

Minggu di bulan Januari 2011 – adik ipar yang baru berpisah satu tahun lantaran sekolah di Belanda  mengeluh kepada saya karena BB-nya begitu sampai di tanah air langsung “mejen” – terutama pada bagian roller ball. Saya bilang itu roller lag namanya.  Penyakit BB dengan roller touch memang disana.

Ini hari minggu, syusyah (y)  cari toko reparasi hp.  Saya tidak punya alternatif  lain kecuali mengunjungi kawasan Roxy Mas yang selalu macam orang rebutan sembako suasananya.

Penyakit kronis di RM adalah perokok bisa berbuat sesukanya kendati pengumuman “jangan merokok” dibacakan melalui TOA berulang-ulang.  Sungguh suatu kenikmatan duduk dibangku kayu, mengamati pesawat HP seperti penggemar burung mengkaji hewan peliharaan yang sedang ditaksir. Perlu otak tenang, perlu mengaktipkan jiwa seni. Dan rokoklah temannya (katanya).

Padahal tak jarang Satpam meronda dengan membawa bekas minuman kemasan untuk meminta perokok memasukkan puntung membara kedalamnya. Tetapi ini masalah hakiki. Darah A, B, AB dan O dalam tubuh kita sepertinya perlu ditemukan  golongan lain C yaitu “cuma taat kalau ada petugas.

Diantara gemuruh tawaran promosi HP Cina yang bisa nonton TV tanpa Antene luar (apa hiya?) mata saya jelalatan kesana kemari sambil menghindari “body contact” dari para penjual isi (ringtone) hape pak, mari sini“.

Ternyata INDRA NADA DERING (begitu nama di HP saya) tidak nampak. Lalu saya tilpun saja nomor fleksinya. Lama baru dia menyahut dan nampaknya sudah tidak mengenali saya ataupun suara nyempreng yang saya keluarkan. Saya sudah tidak di Roxy lagi pak. Sial bener. Sebelum saya kuciwa (u), dia menyebut nama serta nomor HP seorang anak yang namanya mirip nama pelawak yang mengambil jatah politisian. Yang mirip cuma rambutnya tajam keatas macam dijengguti (ditarik) seseorang. Kita sebut saja namanya EKO.

Begitu HP diserahkan dan ia minta waktu setengah jam. Kami cabut dari lantai dasar ke lantai teratas yaitu 4 sembari memesan teh botol – (apapun Hapenya – teh botol minumnya) . Belum setengah jam dia menilpun “KOKO Mimbar..” – Kapan lagi ada orang panggil saya sebagai manusia ulet, tahan uji, cerdik dan memiliki feeling bisnis yang kuat.

Koh ada dimana,”

Tak lama kemudian dia nampak menaiki eskalator sambil cengangas-cenges.

Azaib,  HP sudah dioprek dan bisaberfungsi dan tinggal kirim BB ON ke sebuah nomor. Cabut baterai dan BB anak kecil sudah aktip “Klak-Klik” bunyinya.

Lalu sambil menggamit teh botol yang kami suguhkan bercelotehlah  Eko mengenai kemana perginya si Indra Nada Dering dan mengalirlah kehebatan  tokoh yang dulu adalah muridnya. Si Indra sekarang sudah pegang  17 Kios Nada Dering disini. Malahan buka cabang di Batam, main Heli REMOT  (main = jual beli), punya rumah sampai lebih dari satu, sudah naik mobil sendiri. Lantaran anaknya si Indra masih kecil dan doyan odong-odong, kini dia beli dan menjalankan bisnis odong-odong.

Eko bilang bahwa waktu awal mula ke Jakarta, maka Indra adalah anak didiknya yang bekerja sebagai teknisi pada sebuah supermarket namun penghasilan super-mengkeret. Lalu Eko mengajak isi HP, ngoprek hp sampai laptop. Kadang dia sambi jual SIMCARD, isi pulsa, Memory Stick apa saja yang pernik penggemar Gadjet.

Anda tahu kan pasang nada dering sekitar 5ribu-an. Dan rejeki ini dikais Indra sampai bisa menyewakan kios kepada Eko yang notabene Mentornya. Cuma dasar si Indra, manakala aku SMS dia malahan jawab “jangan percaya pak – Eko suka besar-besarin cerita,” katanya merendah.

 

Ketika mendadak harus menghitung mundur dari Sepuluh


Tumpukan monitor "jadul" berkonde menyiratkan bursa komputer bekas
Tumpukan monitor "jadul" berkonde menyiratkan bursa komputer bekas

Tentu bukan lantaran ikutan seorang ibu memperingatkan anak balitanya yang kelewat demen bermain pancuran dispenser air minum sambil menirukan iklan “Sewkarang Sumber Ayer So Dekaat” – lalu cuuur air dingin diisikan, zonder diminum – ambil gelas baru, lalu cuur air diiskan lagi. Lha air minum galonan sekarang sudah tidak murah lagi cucuku.

Hitungan mundur ini saya lakukan ketika saya mengklik handphone New Message (SMS), sampai muncul layar kosong siap mengisi pesan. Bisa-bisa pelanggan pada amblas semua dikira tilpun saya bermasalah.

Saran agar menghapus semua SMS yang masuk, terkirim, draft sudah saya lakukan. Menghapus foto, image juga hasilnya “sarwa keneh” alias sami mawon.

Hari Sabtu siang, selesai beli buku Cerita Anak Bengal-nya Haji Misbach Yusa Biran – yang saya kenal karena sama-sama tinggal di Grogol(dulu) dan saya pastikan pak Misbach dan Hj Nanny Wijaya tidak kenal saya, maka berangkatlah aku ke ITC Roxy Mas mencari pusat resmi HP untuk di bengkelkan. Di Roxy Mas saya punya kepentingan (bahasa caleg), yaitu menyetop langganan Broadband 3G Pasca Bayar yang baru aktip tiga hari.Baru berlangganan saja sudah bermasalah, bagaimana dengan kedepannya. Padahal biasanya saat pertama berlangganan semua lancar bancar, kedepannya babaliut senhgkarut.

Apalagi urusan pembayaran Pasca Bayar sekalipun pelayanan kacau, tetapi giliran menagih bisa rapi, terorganisasi dan tidak kenal kompropmi.

Di lantai atas sebuah roko mbak petugas Wulan  counter 11, menanyakan alasan saya menyetop langganan. Saya hanya menyerahkan Chip, CD dan tanda mendaftar yang saya lakukan minggu lalu di lapak depan warung makan saya.

Tadinya saya ingin bergurau “takut bahasa Inggris dan Indonesia semangkin lama semangkin kaco belio” menerjemahkan bahasa lain secara serampangan. Pakai bahasa sendiri secara sembrono.

wajah-itc-roxy-masSelesai urusan dengan biaya “meterai” saya. Dari Ruko kawasan Roxy Mas saya menyeberang  menuju gedung ITC Roxi Mas. Padahal sudah ada peringatan berupa pesan singkat dari istri mengatakan ada kompor meleduk alias mbledos di lantai 4 Roxi. Tetapi saya tidak melihat adanya kepanikan. Orang berjalan lalu lalang mirip kalau anda bermimpi atau mengalami sensasi OBE (rogoh sukmo) – yaitu melihat orang berlalu lalang disuatu tempat tetapi zonder berbicara.

Tetapi ala mak, panjang nian antrean di Customer Centre merek terkenal tersebut. Apalagi HP saya beli dari luar Indonesia, bakalan runyam nanti diperlakukan sama dengan BM – pasar gelap.

Sampailah saya mendarat di ruang tengah sambil di jawil – towel oleh para perempuan cantik menawarkan “boleh isi hape–isi hape, boleh ada ST12, ada Ungu, Wiji..”  Dengan perangkat komputer seadanya mereka melayani keinginan kita mengisi HP dengan nada dering apa saja. Kalau anda setuju, sebuah bangku plastik disongsongkan kepada anda.

Kepada gadis ST12 maksudku yang menawarkan nada dering ST12, saya iseng curhat  HP yang sekarang jadi lemot. Maaf  saudara-saudara bahasa lemot ini saya peroleh dari SPG dicounter HP terkenal di mall Ciputra. Jadi bukan pengaruh Chip HP yang bikin scramble vocab saya.

boleh_isi-hpGadis nada dering kehilangan riangnya sambil memperlihatkan wajah pas untuk mimik orang yang tidak mengerti akan suatu topik pembicaraan. Tetapi dalam sekejap wajahnya sumringah lantas dia memanggil seorang lelaki sebut saja Hendi. Mendengar namanya dipanggil, Hendi yang sedang mengunyah sekeping kerupuk “maunya Tengiri Palembang” langsung menyerahkan sisa tiga keping kerupuk Palembang kepada sang Nada Dering, dan menuju komputer jadul bermonitor konde. Dia bilang saya hanya bisa membackup contact bapak yang nampaknya mendekati seribu alamat. SMS, gambar, inbox semua terhapus. Saya acckan semua persyaratannya.

Saat dia bekerja saya tebar suasana Studio Lapangannya. Sekelompok wanita berkulit bak lilin nampak menawarkan HP produk Cina yang disebuat Bisa GSM bisa CDMA, bisa nonton TV sekaligus.

Mungkin sekali anda akan melihatnya sebagai tumpukan disudut bursa jual beli monitor konde- yang bagi sebagian orang sudah dianggap “barang kadaluwarsa” – apalagi anda akan melihat helm motor, sarung tangan kulit(an), bekas air minum kemasan tergeletak disana.

Mudah-mudahan anda percaya bahwa foto ini saya ambil disalah satu pusat grosir hanphone sohor di Indonesia, bahkan dunia yaitu Roxy Mas. Bahkan kalau anda tahu tempatnya, pistol gas bercasing hape bisa ditemukan disini.

Sambil memformat Memory Card saya, ia berceloteh melayani cetak foto. Hanya dari contoh yang ada saya masih bisa bilang kualitas foto rata-rata diambil dari HP sehingga resolusinya rendah.

Sambil menunggu HP diformat, saya berjalan ke salah satu counter karena mengaku melayani BlackBerry bergaransi. Ditemui oleh Rudi. Beberapa menit kami berbicara dengan pemilik toko Gilang. “Sekarang untuk seumuran bapak pakainya Bold” – jarang pakai Jevlin. “Kita banyak jual itu barang, laku keras..Bapak bisa pakai Matrix atau Telkomsel tidak masalah, kami bisa aktipkan langsung.”

Saya simpan ludah saya melihat kotak yang tidak ada gambarnya kecuali warna hitam dan sedikit label negara asal pembuat seperti Mexico atau Hungaria. Harganya masih setara Motor Bebek atau sebuah Laptop.

Balik lagi ke lapak Hendi, dia sudah selesai dengan mengcopy balik contact saya. Voilla HP saya kembali normal. Tapi Hendi keburu menyerang “Indonesia belum punya lisensi Blackberry pak! kalau mereka bilang bergaransi, artinya garansi toko. Semua yang dijual disini adalah BM alias pasar gelap..” – Mungkin bapak masih ingat cerita Launching Iphone yang sebetulnya belum siap disini.  Astaga bocah ini selain makan nasi pasti memamah biak tabloid komputer tiga kali sehari. Dia hanya ingin menasihatkan “tunggu tanggal mainnya..

Tapi kalau soal “push mail” saya bisa pasangkan software bisa terima email dari Yaho, Gmail atau apa saja. Terima email 24jam tidak bayar. Kalau bapak kirim balasan, baru kena charge dari provider. Lho kok nyimut. Apa salahnya saya ikuti sarannya, dan dalam sebentar saja 60 email dari yahoo sudah saya kantongin. Rupanya dia mendownload dari situs Seven masih dalam rangka versi Beta. Pantesan gratis.

Begitu melihat senyum saya terkembang merekah. Dia menyerang lagi. “GPS yang di HP bapak cuma sekedar main-mainan.  Saya punya yang bisa menjelaskan detail sampai gang-gang di Jakarta” . Lalu dia menyebut merek dagang perusahaan Top Markotop dibidang GPS. Lalu dia mendemokan versi GPS “beneran.”  Untuk mengujinya dia bawa HP keluar Roxy Mas. Udara di luar masih mendung dengan Gerimis. Layar monitor perlahan muncul “penampakan” – ini gang Subur, ini gang Kober, Ini RS Taruma. Hanya di kawasan Bekasi, jalan Pendidikan saya selalu kalah mencorong dengan jalan “Kemesraan.”

Satrio yang dari semula diam saja ternyata ikutan kepincut dia minta pasangkan PDF distiller di HP-nya. Dan sebentar saja software sudah mengalir ke memory stik Satrio. Tak terasa sudah satu jam lebih saya duduk disini. Rasa haus mulai menyiksa, untung berseliweran penjuall minuman dalam gelas plastik (sudah gelas tapi plastik), mulai dari Teh Oepet, jus alpukat, jus jerus – tinggal comot. Hanya ketika isinya tuntas membuang sampah tidak semudah saat membeli minuman. Saya harus masuk ke resto ikan goreng wara laba yang kebetulan ada tong sampahnya. Bagi penganut “short cut” ada semacam legitimasi untuk lempar sampah dimana saja.

Lho kok mendadak Hendi  dipeluk seorang warga nampak asing dari belakang. Bahasa Indonesianya terpatah-patah menanyakan kapan ada waktu check laptopnya.  Ternyata Hendi juga melayani urusan bongkar pasang software.

Yang saya kadang kepingin malu. Mereka memanfaatkan teknologi jadul, dengan peralatan seadanya tetapi mampu memberikan pelayanan yang prima. Sementara kita selalu mau laptop atau paling mutakhir, volume hardisk sebesar samudra. Cuma buat email dan main Soliter.

Soto Betawi Roxy – H. Darwasa


Soto Betawi – Legendaris

Di Jakarta, tak terhitung kedai penyaji makanan khas Betawi ini yang terdiri santan gurih ditambahkan potongan daging sandung lamur, paru, babat, usus sapi lalu dihidangkan dalam keadaan kuah kebul-kebul berhias potongan tomat kemerahan, daun bawang dan sledri, masih harus digoda dengan gorengan emping yang renyah-renyah sedikit pahit.

Bagi masakan betawi terkenal pemeo berani santen” sekalipun pada kenyataan mereka bisik-bisik bahwa menambahkan sedikit susu akan membuat santan tidak pecah ketika dipanaskan. Belum lagi ada lawan klasik soto yaitu berupa nasi akel bertubuh tinggi langsing, beraroma beras Rajalele bertabur bawang goreng.

Kalau sudah begini iman bakalan jeblok? – belum lagi sepiring kecil, acar, sambal cabe rawit hijau dihidangkan secara terpisah ada disisinya. Bagi saya pribadi, lebih afdol kalau dikecroti kecap benteng bergambar burung sedih.

Yang bikin keder, rata-rata masakan Soto Betawi rasanya hampir standar. Mirip dengan image yang diberikan oleh masakan Padang. Perlu parameter tambahan lainnya seperti pengalaman mereka berdagang dan klasemen pembelinya.

Diantara deretan penyaji makan kelas super harga bemper, maka jajan jalan Biak memang sudah kesohor. Sebut saja Soto Madura “Ngatijo”, Sup Kambing “Sudi Makmur”, Bakmi “Roxi”, martabak kubang ARH. Tapi ini untuk cerita lain kali.

Saya ajak anda mengunjungi salah satu cabang jalan Biak yaitu jalan Tidore.

Maka pas di belakang bekas bioskop Roxy yang kini sudah berubah menjadi pertokoan. Saya mengarahkan kendaraan menuju langganan Soto Roxy milik Haji Darwasa. Tepatnya di jalan Tidore no 2, Jakarta Pusat. Saya mengenalnya baru 1978-an.

Ketika sekitar jam 9 pagi saya mendatanginya. Kendaraan baru nongol dari kejauhan salah satu tukang parkir berkaus kutang merah, berambut dicat ala bule, menenteng dua handphone di pinggangnya. Nampak memberi isyarat tempat parkir.

Di pojok kedai sudah duduk serombongan warga Hokian nampaknya baru merampungkan olah raga tenis, terlihat dari pakaian dan raket yang mereka jinjing. Indikasi lain bahwa sebuah kedai jajan itu masuk “okey zone,” adalah jika warga keturunan banyak hadir. Mereka terkenal cerewet dan selektip. Jadi makanan yang sudah lulus uji lidah mereka biasanya tidak perlu dipertanyakan rasanya.

Suasana kedai masih seperti puluhan tahun lalu. Empat puluh kursi plastik bakso merah tersedia buat melayani pembeli pada jam makan siang. Dua pria berumur mengenakan kaos oblong dan celemek merah. Lalu ada istri pak haji dan pak Haji Darwasa sendiri nampak siap melayani para pembeli.

Di bawah meja dagang, tergeletak lima dandang aluminium besar (50liter) sebagian berisikan kuah soto yang masih panas. Setiap sebentar santan dari bawah meja dipindahkan ke atas pertanda satu dandang kuah soto sudah mulai menipis. Sementara di atas meja dagangan tergolek menantang rebusan dan gorengan daging dalam kotak kaca, hidup berdampingan dengan susunan piring beling warna putih polos.

Hitung-hitung menurut pemiliknya, Darwasa, “ade kali barang sekitar anem pulu kilo, semue, sehari ludes,

Dengan menghabiskan sekitar 60 kilogram daging (campuran daging, usus, paru, babat, sandung lamur), maka warung yang buka sejak jam 7 pagi akan ladas (tandas Palembang) pada sekitar jam 16:00 an. Pasalnya setelah jam tersebut jalanan Tidore praktis dikuasai para pemilik lapak.

Darwasa membuka kedai ini sejak 1951, ia masih ingat kawasan Roxy dulu masih banyak kebon singkong, belum ada jalan beraspal. Bioskop Roxy sebagai landmark tempat ini (dulu) baru dibangun pada 1953-an.

Maaf sekarang dua puluh ribu, maksudnya untuk harga sepiring soto, saya sebut sepiring karena disini soto Betawi disajikan dalam piring, bukan mangkok. Ditambah sepiring nasi Rajalele bertabur bawang goreng, “ maklum semua serba mahal”, kata pak Haji tersenyum sambil memberikan kembalian. Saat itu saya langsung memotretnya dengan HP – ceklek, cepat namun hasilnya kurang tajam.

Mungkin pak haji ingin menjelaskan bahwa hukum gravitasi Newton tidak pernah berlaku di Indonesia. Pasalnya pernyataan Newton bahwa benda yang dilemparkan ke atas akan mengalami gaya tarik. Uniknya di negeri ini sekali harga barang terlempar keatas, tidak akan pernah turun lagi.

Oh ya tentang tukang parkir, rupanya satu dari dua kotak HP dipinggangnya adalah sarana uang kembalian parkir.

Mimbar Bambang Saputro