Gedung Wanita Patra


RUANG AKAD NIKAH Gedung Wanita Patra
Ruang Akad di lantai atas Bisa sekitar 70 pengunjung

Advertisements

Pernah tahu lingkar kepala “Delapan Firma”


SANGGAR DIAMOND
SANGGAR DIAMOND
Busana
Pakaian Resepsi

Medio Oktober 2017, kami mendatangi Vendor untuk resepsi pernikahan. Ssampailah pada acara pemilihan baju, tertutama bagi Ayah “CPP dan CPW”. Begitu buanyak ragam pakaian, bagi saya seperti ke toko parfum. Semua dicobai, semua Okey, kalau sudah “Yak Ubeng” alias “pening kepalaku Tante” – kata si Poltak “Ruhut”

Akhirnya memang saya memilih warna yang “restu” – maksudnya yang sudah dipilihin tetangga sebelah. Mungkin perangai ini terinduksi dari bahasa software  Microsoft “do you agree” to install yang jawabnya musti kudu YES dengan hurup besar. Berani klik “NO” – resiko tanggung penumpang.

Maka jadilah dua stel busana. Satu warna silver sedang satunya gold. Desember kelak, saya berbusana ala pria Bugis. Jadi yang saya fantasikan ya legenda jaman kolonial yaitu Daeng “Patojo” – yang kini menjadi Petojo.

Ukuran kepala saya 8 FIRMA

Giliran mencoba “kupluk” alias kopiah, si embak Sanggar bertanya yang bikin saya “pening kepalaku Tante” – lantaran istilah “ukuran bapak delapan Firma ya?”

Maksud mbak“”

Iya pak, kalau delapan Firma kursnya sama dengan sembilan Awing, si mbak mencoba menjelaskan. Ketika dia sebut AWING, aku mulai ngeh akan sebuah kupluk yang boleh dicuci sehingga terhindar dari bau campuran keringat, lemak, debu, lem kanji yang menempel pada kayu di loket kantor pos jaman sebelum NOW.

Pihak besan seperti teringat sesuatu, ia mengambil sebuah kupluk warna emas lantas dicobakan kepada saya.

Ukurannya Pas!,” komentar saya ikutan slogan SPBU yang menjual dagangan sesuai takaran katanya.

Kelar fitting memfitting acara diakhiri dengan eating di Bakmi GM.

 

 

 

 

 

 

Dengan tidak mengurangi rasa hormat


Kerabat yang bekerja di Singapura baru-baru ini mendapat pasangan hidup seorang lelaki mapan. Saya sempat menyaksikan detik  mereka melakukan “pdkt”.. adu lempar pandangan berarti sampai pembacaan deklarasi “kami jadian..”

Pihak keluarga menghendaki perayaan dilakukan semeriah mungkin  di Jakarta. Apalagi keduanya berasal dari Jakarta.

Persiapan demi persiapan dilakukan – ketika melihat kost perhelatan ini  reken-punya reken ternyata “biaya” hidangan per porsi mencapai angka sekitar 2 juta rupiah per kepala.

Ini hanya obrolan biasa – antar kerabat. Dan memang kenyataannya banyak kerabat hanya datang pada saat janji nikah diikrarkan  untuk  mengucapkan selamat , foto bersama dan “mohon ijin” tidak datang  ke resepsi makan malam yang diselenggarakan di  sebuah Hotel di tempat yang berbeda.

Saya pun hadir pada saat upacara “pemberkatan” dan tidak pada Gala Dinner.

Lain Singapur lain pula kota AADC2.

Kebetulan saya satu-satunya orang  yang dapat “hardcopy” undangan melalui paket. Pesan Shohibul Hajat agar berita disampaikan ke keluarga di Jakarta.. Biar cepat – undangan saya scan dan dikirim melalui pesan WA.

Tetapi ada sedikit yang aneh. Undangan ini diberi stiker. Semula saya pikir ada salah cetak.. Ternyata semacam peringatan.

“Dengan segala rasa hormat, kami tidak menerima sumbangan dalam bentuk apapun kecuali doa…” – kali ini si penerima pesan yang bingung sebab tidak “sari-sari”nya nikah menolak kado atau angpau..

Kerabat yang saya sebut pertama kali adalah “orang kaya beneran” – bukan kayaknya orang kaya. Sementara keluarga yang saya sebut belakangan – datang dari keluarga sederhana.

Tapi itulah yang terjadi.. Lain Padang Lain Belalang..

Monic Indrisari Johan 2

 

 

Gedung ANTAM dan saat bersejarah bagiku (Des2007)


Gedung AnTamGedung Aneka Tambang yang terletak di jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan ini sekarang mengisi tempat di hati kami saat resepsi pernikahan Lia dan Seno. Ketiga Perusahaan yang saya pernah dan masih bekerja kebetulan berlokasi di jalan TB Simatupang. Saat memilih gedung ini pertimbangannya ya – banyak teman tinggal di kawasan ini, lokasi gedung dekat dengan rumah saya dan rumah calon besan. Apalagi jalan Tol Lingkar Luar juga membuat sudetan disini. Dekat dengan Stasiun Kereta Api (kalau mau). Jadi Klop sudah lokasi dan strateginya.

Maka satu persatu calon gedung lainnya kami rontokkan dan saya hanya terfokus kepada satu nama ANEKA TAMBANG.

Waktu kami mendatangi gedung ini H minus satu tahun lebih ternyata gedung sudah dipesan untuk pelbagai acara. Untung ibu Yetty memperlihatkan pada angka 8 Desember 2007, ada arsiran pensil menunjukkan bahwa ada yang pernah memesan tempat ini namun membatalkan pesanannya. Spontan kami “ngecup” – mememesan tempat tersebut. Jadi cari gedung dulu baru urusan hitungan hari baik, atau lainnya mengikuti. Hopo tumon.

BAYAR TUNAI

Pulang dari gedung Antam kami baru sadar bahwa pesan tempat, biaya, koordinasi dengan pihak yang terkait belum dilakukan. Kami masih baru tahap bermimpi percaya tidak percaya akan menikahkan anak di gedung tergolong semi borjuis ini. Lantas apakah Lia dan Seno kedua calon mempelai mendapatkan ijin dari kantor mereka untuk menikah. Saya sendiri belum tentu dapat ijin cuti dari perusahaan saya di Perth- Australia. Wah baru terasa komplek dari rembetan acara ini.

Mula-mula soal pembayaran.

Persoalan lain muncul. Pengelola gedung ini nampaknya hanya percaya kepada pihak bank “M” yang namanya memang terpajang segede dinosaurus di gedung ini. Sayangnya ketika kita harus mentransfer sejumlah uang, kesukaran mulai menghadang lantaran bank jagoan sang Antam menjadi tiarap tidak bisa diandalkan. Boleh percaya atau tidak dari Pondok Gede saya harus mencairkan dana di Bandung (kebetulan disana) lantaran ATM -ATM bank ini kalau hari Sabtu dan Minggu menjadi “kantong kosong” belaka. Seyogyanya pemilik gedung juga lebih “fleksible” dengan menggunakan jasa perbankan yang kalau boleh saya bilang lebih bonafide. Semoga.

Panggung AntamPelaminan ini dihias oleh perias panggung tante “Thres” – kalau yang ini dasarnya kami sudah lama mengenalnya dan pakar menurut kami sehingga tidak usah coba-coba cari yang lain. Bahkan tante Thres, demikiankami memanggilnya,  baru sembuh dari luka operasinya. Suaranya masih lirih ketika kami temui saat menghias pelaminan.

Hanya saja jarak antara pemesanan gedung dengan berdirinya pelaminan memakan waktu tidak tanggung-tanggung, satu tahun lamanya. Maklum letaknya cukup strategis.

Balangan

Acara Balangan.

Salah satu upacara sebelum resepsi dimulai adalah upacara “lempar sirih“. Hanya dilakukan sekedarnya dipandu oleh pemaes dari Surabaya, Ibu Nur yang kebetulan masih “bude” dari keluarga pengantin, Seno.

Sedikit insiden ketika lemparan sirih sang calon suami telak masuk dan bersembunyi diantara kemben anak saya Lia yang memang “botol minum” alaminya luar biasa ukurannya. Terang menimbulkan “gergeran” – sambil menahan senyum. Saya sendiri tidak melihatnya secara langsung. Lia sering menyalahkan papanya karena membuat porsi dadanya selalu bongsor. Kebetulan ibu saya almarhum juga memiliki postur yang sama.
Minum

Acara minum.Saya memberikan segelas air putih kepada putri kesayanganku disaksikan oleh pengantin pria Seno dan para kerabat.

Selendang Mayang Sampur. Selendang dipakai membebat kedua pengantin sebagai perlambang bahwa mereka berdua saat ini masih dibawah bayang-bayang dan perlindungan orang tuanya.

Acara Timbangan. Kedua pengantin duduk dipangkuanku lalu istri menanyakan “berat yang mana Pak?” dan aku harus menjawab “kedua-duanya sama berat”

Aku mendudukkan kedua anakku sekalian memberikan restu sekali dan sekali dan sekali lagi.

Semoga kalian bahagia nak! dengan pilihanmu sendiri. Sebab setelah pernikahan usai, beberapa sesepuh pada jatuh sakit sehingga kalau saja kami menunda perkawinan barang dua atau tiga bulan, boleh jadi beberapa sesepuh tidak bisa datang menghadiri pernikahan seperti sekarang ini.

Kalaupun saya sedih, ibunda sudah tidak sempat menyaksikan cucunya yang selalu dimasakkan “lele” apabila kami mengunjungi beliau di Bandar Lampung. Sementara ayah saya semenjak menikah lagi “rasan-rasan” akan memboikot pernikahan cucunya dengan cara “tidak datang.” – untunglah semua bisa diatasi. Pernikahan itu seperti perang, ada musuh tersembunyi, ada intel, ada provokator disamping banyak supporter.

Acara Kacar Kucur.
Simbolisasi pemberian nafkah lahir dan bathin oleh pengantin pria kepada istrinya. Saya dan istri di sayap kiri sementara besan pak Susilo dan ibu Tatik di sebelah kanan.

Kembul Dahar

Acara “kembul dahar” – alias suap-suapan. Ruangan ini juga dimanfaatkan untuk foto keluarga bersama. Seperti halnya foto studio mereka juga menyediakan “dingklik” – alias bangku kayu sehingga saat di abadikan kelihatannya semua memiliki tinggi badan yang sama. Jangan heran, itu akal-akalan juru foro yang kami sukai.

Ketika keluarga besar saya diundang untuk difoto bersama, termasuk ayah yang akhirnya luruh hatinya, asal istri mudanya diajak serta. (kami tidak suka itu) para juru foto langsung menyerah lantaran jumlah anggota yang luar biasa – hampir satu asrama. Sehingga sudut pandang kamera mengalami kesukaran ambil semua pihak untuk masuk ruang foto. Terpaksa pemotretan dilakukan berkali-kali untuk satu keluarga. Kelak dipanggungpun keluarga besar saya bisa memenuhi tempat dari ujung ke ujung.

Acara Rampokan.
Satrio adik kandung Lia membawa acara rampokan. Maksudnya agar para hadirin dapat ikut bersenang membawa suvenir kecil dari kami. Ingatan saya saat mas Yapto Suryosumarto (dia  ndak perlu kenal saya, tapi saya kenal dan salaman dnegan beliau)- mantu dengan salah satu kerabat kami mereka mengadakan acara rayahan di TMII. Saya ikut melompat rebutan dengan bapak Mentri Kesejahteraan Rakyat waktu itu. Sekarang saya sendiri yang menjadi penyelenggara.

Usai acara rampokan maka pengantin masuk kendaraan untuk mulai acara kirab dari pintu depan.

Kirab pengantin Didahului oleh “cucuk lampah” bapak Suyatno maka kirab pengantin segera dilaksanankan setelah waktu menunjukkan jam 19:00 WIB. Sekalipun para tamu undangan belum lengkap semuanya, namun saya kurang suka acara berjalan menggunakan jam karet. “Show must go on in time.”

Mas Yatno ini sering memanggil saya SUHU hanya karena saya pernah mengajarinya cara megolah aura seseorang di Yogya. Yang matanya tajam dan mudah tersugesti akan melihat asap mengepul diatas kepala kami. Telapak tangan. Dan peristiwa itu sepertinya sangat berkesan sehingga setiap kami mengadakan “hajat” apa saja, mas Yatno dan keluarga selalu menyempatkan untuk datang sekeluarga. Dari Yogya, saudara-saudara.

Padahal saya sendiri sudah meninggalkan ilmu semacam itu. Malas latihan meditasi sebab kata Gde Pramana – meditasi yang terbaik adalah “berbuat baik dan jujur..”

Sambutan

Kata sambutan dari dr. Yatiman yang bertindak selaku wakil keluarga putri dan putra. Ketika saya menikah pada tahun 1978-an, dr. Yatiman yang memberikan sambutan. Dan sekarang “cucunya”  juga memintanya untuk memberikan sambutan mewakili tamu.

Karena peristiwanya sudah berlangsung lama, saya tambahkan “kalimat kurang nyambung ” sebagaiu tips disini bahwa saat menyelenggarakan perhelatan, maka panitia yang kami pilih hanya kecil alias sedikit namun militan. Semua panitia disini adalah panitia yang bisa berjalan sendiri tanpa “pamrih”. Kalau tidak tegas – maka jumlah panitia akan membengkak tetapi bak gelembung sabun, sebentar pecah menjadi buih kecil.

Kalau sehari-hari anda mengenal sanak saudara yang selalu “lelet” dalam persiapan entah alasan anak belum buat PR,  pembantu pulang kampung, jalanan macet – maka sebaiknya singkirkan saja namanya dari kepanitiaan. Kelak karakter ini hanya membesar dalam angka namun tidak ada manfaatnya. Saya malahan tidak menggunakan saudara kandung saya, sebab alih-alih membantu ceramah versi “gurunya” yang saya terima.

Juga kalau anda memiliki kerabat yang “rewel” – selalu menggerutu, selalu tidak puas. Inipun akan menambah beban stress kita.

Saya mencoret keluarga yang “reseh” – ini biasanya yang baru datang kalau “disangoni” alias diberi tiket pergi pulang, minta menginap dihotel, minta jemputan seakan-akan mengadakan pesta adalah kerja sederhana sehingga saya punya waktu untuk meng-hibur- mereka di Jakarta.

Saya juga memilah-milah kerabat yang mulutnya doyan menghasut atau berbuat provokasi sehingga merasa terhibur kalau bisa bertengkar dengan sesama saudara. Biasanya saya coba memancing pihak panitia yang berpengalaman. Ada yang memberikan masukan seperti saat pengantin akan keluar ayahnya tiba-tiba ngambek tidak mau pakai “adat Jawa” – gatel. Padahal sehari-hari “bapakku cuma tani” -katanya. Selalu menurut agenda panitia, tetapi detik-detik terakhir kok rewel.

Soal uang angpau. Anak saya bercerita bahwa kalau di Singapura perkawinan biasanya dilakukan di restoran. “hanya orang Melayu mengadakan di rumah atau halaman apartemen..” – selalu saja Melayu (Malay) dibuat konotasi sedikit terbelakang, padahal orang Malay memandang kita sedikit berada level dibawah mereka. Kalau kawinnya di hotel besar, pihak yang diundang harus menakar berapa ongkos makan disana.  Jadi uang AngPau yang diberikan harusnya sedikitnya lebih tinggi daripada harga makanan rata-rata hotel tersebut. Di Indonesia saya mendengar cerita bahwa banyak orang bangga karena mengundang pejabat dan artis.  Sialnya pejabat biasanya “diberi angpau” sehingga saat diundang ya datang secara halus alias kosong melompong.

Sekalipun sudah diwanti-wanti jangan pernah mengaharapkan angpau, kan ini acara kita, tidak fair dibebankan kepada pihak lain. Namun kenyataannya pihak keluarga saya kecut juga ketika menghitung angpau. Celakanya saya paling anti kalau diajak bicara soal ini, tetapi tak urung kepingin dengar juga. Dasar saya muna(fi)k ya.

Wah kok sepertinya  repot banget ya.

Namun kalau jauh-jauh hari – sudah diantisipasi mudah-mudahan kita jadi lebih siap.

Ada saja yang terlupakan


Teman senam istri saya komplin saat pernikahan putri kami. Kami dua kali naik panggung pura-pura untuk memberikan selamat kepada pengantin, katanya.

Malahan para suami hadir dipernikahan Lia dan Seno. Tapi kenapa Bu Mimbar tidak terkesan mengajak kami berfoto.”

Adik kandung saya ngedumel dibelakang karena tidak kebagian “pakaian seragam resepsi” – dia seperti sengaja tidak menghadiri pernikahan keponakannya, sekalipun bertahun-tahun pernah tinggal dengan saya. Alasannya sederhana. Tidak punya seragam dan tidak ada undangan. Seragam sebetulnya dikirimkan bersama undangan. Namun berkali-kali pak Kurir menghubungi kami menanyakan nomor tilpun rumahnya (saya berikan sesuai alamat yang di SMS adik saya). Tetapi entah bagaimana paket tersebut kembali.

Beberapa teman sengaja mengirim SMS. “Saya ucapkan selamat, tetapi saya TIDAK bisa datang karena tidak ada undangan.” – dengan kata tidak diberi tekanan berupa hurup besar, saya maklum dia mestinya gusar sekali. Maksudnya tentu email bukanlah alat legitimasi untuk datang ke pesta. Tentu tidak akan ada yang percaya bahwa bagaimana kami harus mengatur agar mendekati hari “h” ada waktu luang untuk persiapan. Tetapi lagi-lagi kantor malahan menahan saya dua hari di Perth.

Mas Wahono, terpaksa terlewatkan karena pada saat akan dikirim undangan via email, ia baru kehilangan putra kesayangannya.

Sejatinya nama-nama teman sudah diketik dalam software Applisoft keluaran perusahaan Bantex. Tapi apa lacur, kadang terjadi duplikasi, triplikasi, dan replikasi lainnya. Akhirnya ketika beberapa nama dicabut agar ada pemenang tunggal. Malahan bedol desa semuanya. Duh Gusti.

Itu adalah beberapa ganjalan dalam mengadakan pernikahan anak saya Lia dan Seno pada Desember lalu. Tapi kalau pernah terlibat pada situasi dimana tekanan-tekanan kesehatan, moneter, tenggat waktu, lobi-lobi kepada pihak besan dan semua pertanyaan bermuara kepada kita tak heran mudah menjadi pelupa dan jeleknya lagi mulut menjadi asal jawab.

Pernah saya dikritik famili yang “bakalan amburadul nih habis nggak pakai even organiser sih.” – Saya sendiri heran sejak kapan penjajahan atas “syaiful hajat” sang pembuat hajat. Pengaruh filem dan majalah begitu kuat sehingga demam “tanpa EO, perhelatan bakalan gagal.”

Baru saya mencoba mengecat muka agar berubah dari merah menjadi sawo matang normal. Istri sudah nyelantap nyerocos “Emang situ pernah mengawinkan anak? Emang situ pernah pakai EO.

Bahkan saat berdiri di panggung selama tak kurang dua jam. Tangan saya dijawil-jawil istri sambil mengernyitkan keningnya. “Kakiku bengkak kelamaan berdiri.” – kalau boleh terbang atau memfotocopy diri, saya kepinginnnya berputar sekitar Aneka Tambang

Mungkin lelahnya adalah tumpukan lelah mental dan fisik. Tak jarang memori sering error “407” alias ketemu orang tapi namanya tak ada dalam database. Begitu orangnya sudah bersalaman dan turun panggung baru data berhasil di download “oh itu mas Anu dengan istrinya mbak Menuk.” – Atau ada teman lama tidak kedengaran kabarnya, tiba-tiba sudah gandengan lain. Tentu soal yang sangat pribadi, namun tak urung muka terbelalak sebentar saja tapi.

Sampai hari ini rasa “gegetun” belum juga bisa saya hilangkan. Terbayang wajah teman yang selama ini mengobrol tetapi lupa diundang. Atau sudah datang namun lupa untuk diajak foto bersama.

Untungnya pada anggota Wikimu.com sudah saya set jauh-jauh hari. Sehingga begitu melihat pak Andri, Suhu Tan, Mas Bajoe (terpaksa tidak pulang hari sabtu ke Yogya) langsung saya “lupa diri” – beri tanda kepada petugas agar segera dipotret.

Pak Mimbar Wikimu… Diturunkan Dari Mimbar.


Minggu, 09-12-2007 09:59:08 oleh: Suhu Tan
Kanal: Peristiwa

Pak Mimbar Wikimu... Diturunkan Dari Mimbar. Sudah sejak beberapa hari terakhir ini, seperti terungkap di Wikimu, Pak Mimbar tampak dibuat repot oleh urusan kebaya yang meterannya jadi susut saat mau dijahit. Setelah sempat disibuki urusan ibu-ibu yang merepotkan itu, akhirnya Sabtu malam 8 Desember 2007 Pak Mimbar pun naik ke mimbar pelaminan di Gedung Aneka Tambang 1 (ANTAM 1). Bukan sebagai pengantin…lho, tapi sebagai orang tua yang ikut mendampingi pasangan mempelai Lia dan Seno, berdiri berbaris di mimbar pelaminan (panggung) tersebut , menyalami para tamu yang naik ke mimbar.Dengan busana resmi adat Jawa, jas hitam berblangkon serta keris besar yang bercakak dipunggungnya, bapak kita yang satu ini tampak tampil gagah sumeringah. Tebaran senyumnya yang renyah penuh pesona menerpa setiap tamu yang menyalaminya di mimbar itu. Begitu juga tak kalah anggun nya sosok ibu berkebaya agak ketat warna abu2 bercampur ungu yang berdiri disisi kirinya, Nyonya Mimbar Bambang Saputro. Sepasang pendamping lainnya, berdiri di sisi paling kiri, ujung satunya lagi, Bapak & Ibu Soesilo Soemitro – sang besan – yang juga ikut sumeringah dengan setelan serupa.

Suasana resepsi pernikahan putrinya Pak Mimbar ini, Cornelia Petrolina Interesa ( Lia ) dengan Hajar Senohadi Susilo berjalan dalam tempo yang tenang dan menyenangkan.

Jam menunjukkan pukul 19.10 ketika saya dan istri mulai memasuki Resepsi pernikahan ini. Pak Adrianto Gani dan Ibu sudah ada lebih dulu disana, yang juga baru saja tiba, katanya. Melihat keberadaan kami, pak Mimbar menepi membisikkan sesuatu ke MC. Tak lama kemudian suara MC yang penyampaiannya sangat kalem dan njawani itupun berkumandang lembut ;

“Kepada para teman dari Wikimu dimohon kesediaannya naik ke pentas untuk foto bersama dengan keluarga mempelai”.

Saya mencoba melihat kesekeliling, mencari-cari wikimuer yang lain tapi ternyata belum ada yang nampak, mungkin karena saat itu masih terbilang sore baru sekita jam 19.30 an, yang lain mungkin masih terkendala kemacetan.

Kali kedua pengumuman ini disampaikan dan Pak Mimbar memandangi saya memberikan isarat tangan agar saya segera naik ke atas. Istri saya kala itu pas sedang ada diantrian Mie Kocok, mangkok mie sudah ditangan, tinggal antri untuk ambil kuah…apa bolehbuat mangkokpun harus legowo diletakkan kembali ke tempat semula. He..he… ditunda nih ye…e..e!

Jadilah saya dan istri beserta Pak Adrianto Gani dan ibu, cuma baru kami berempat, action foto bareng dengan keluarga mempelai.

Seusai foto, saya dan istripun kembali menyibukkan diri dalam antrian penganan. Istri kembali ke Pojok Mie Kocok saya ke Es Puter dilanjut pula ke Mie Kocok ga mau kalah dengan istri.

Saat saya baru mulai menyantap Mie Kocok, suara lembut MC kembali terdengar;

“Bapak Ibu para undangan, ada satu hal yang menjadi kebiasaan Pak Mimbar yang mungkin belum banyak Bapak Ibu ketahui, yaitu kebiasaan ingin bernyanyi bila melihat ada mic dihadapannya, gatal rasanya kalau tidak segera memanfaatkan mic yang ada”.

“Karena itu hadirin, dihari yang bahagia ini marilah kita berikan tepukan meriah untuk Pak Mimbar yang berkenan mendendangkan sebuah lagu untuk kita semua”, sang MC kembali berceloteh.

“Plok…plok…pok…”, tepukan tanganpun bergemeruh.

“Terima kasih hadirin, selanjutnya kepada Pak Mimbar dipersilahkan turun untuk menyumbangkan lagunya”

Dengan senyum tersipu Pak Mimbarpun terpaksa turun dari mimbar (panggung) pelaminan ketempat pemusik organ tunggal yang ada disisi kanan dibawah panggung.

Jadilah seorang Mimbar Saputro yang diturunkan dari mimbar, meninggalkan sementara para tamu yang ingin menyalaminya di mimbar pelaminan.

Nah inilah seninya kalau menyanyi sudah menjadi hobby. Orang2 didaulat untuk naik panggung – nyanyi, bapak Wikimu kita yang satu ini malah diturunkan dari mimbar karena urusan nyanyi.

Selang beberapa saat kemudian, sebuah tembang lawas“Green,green grass of home” berkumandang merdu di Gedung Antam 1.

“Plok..plok…plok…pok…pok! Suara tepukan terdengar bergemuruh seusai pak Mimbar menyanyikan tembang itu.

Hebat…! Bukan hanya lincah menulis dan produktif dalam menurunkan tulisan segarnya ke Wikimu, ternyata Olah-vocalnya Pak Mimbarpun mampu mempersembahkan suara emas yang begitu merdu memukau. Sungguh saya baru tahu…

Sayang penampilannya saat bernyanyi tak sempat saya abadikan dengan kamera ponselku. Maklumlah karena pas lagi repot sama Mie Kocok. He…he… : ).

Saya tak bisa hadir sampai usai di acara ini karena ada agenda peretemuan lain di kawasan Ciputat. Sesaat mau meninggalkan Gedung Antam 1 , eh .. h .. muncul wikimuer yang lain, Ibu Melani, Mbak Ary (Ukirsari) dan Meidy. Sekaligus ini menjadi kali pertama saya berkenalan dengan Ary yang lincah ceriah dan Meidy yang agak pendiam dan malu-malu. Senang akhirnya bisa kenalan en tatap muka langsung dengan sebagian dari kontributor wikimu.

Untuk Bapak dan Ibu Mimbar… selamat ngunduh mantu ya …..

Mengurus Pernikahan Anak -unfinished story


En: This article about my panicing to have my daughter wedding. In Indonesia, parents take over all cost of daugher or son wedding.

Bulan September 2002 tak terasa anak sulungku anakku lulus di National University of Singapore jurusan ekonomi. Setamat SLA di kawasan lapangan Banteng, cewek kelahiran 31 Maret 1981 Jakarta bilang mau sekolah ke luar negeri. Padahal dollar sedang membubung tinggi. Tapi dia nekad cari beasiswa, setidaknya pinjaman lunak dari pemerintah Singapura. Untungnya saat kita digempur moneter dan badai politik tak berkesudahan atas kebijakan Mr. Lee Kwan Yew dari Singapura diam-diam, negeri jiran ini memberikan pertolongan berupa beasiswa dengan pinjaman lunak.

Tahun pertama di Singapura para mahasiswa diberikan penginapan berupa asrama dalam komplek kampus. Cerita wisuda disini. Tidak terasa pula pada tanggal 30 Desember 2006, anak ditembung pihak lelaki aku nggak bisa menjawab didepan umum. Blangkemen, gagu. cerita disini

Tidak salah dong kalau kami mulai gedubrakan mencari tempat resepsi. Mulai dari tempat resepsi pernikahan sampai rumah digunakan untuk acara malam “midodareni.”Kami mengubek-ubek seluruh Jakarta memikirkan lokasi yang paling mudah dicapai oleh pihak saya maupun pihak besan kami.

Ternyata mencari lokasi harus dilakukan minimal setahun lebih awal. Pasalnya ada hari-hari tertentu yang prime-time. Kali ini kami beruntung, ada yang mengundurkan diri sehingga pada tanggal 8 Desember 2007 nanti kami bisa mengadakan resepsi pernikahan pada sebuah gedung di kawasan jalan TB Simatupang Jakarta Selatan.Persoalannya, sekali pakai gedung ini maka semua katering hanya yang masuk rekanan diperbolehkan beroperasi di gedung tersebut.

Yang unik. Beberapa orang yang sedianya menjadi panitia karena tiada kerepotan mengawinkan anak. Mendadak mereka harus mengawinkan anak-anaknya jauh lebih cepat daripada perkiraannya. Lalu kami bilang, hitung-hitung ini sebagai katalisator, membuka sumbatan (karena ada yang sudah lama anak gadisnya gagal menikah) selama ini.

Usaha pertama adalah menginventarisir nama yang akan diundang. Disini repotnya, selama ini mengenal seseorang dengan nama pendek seperti Mas Son padahal apalah namanya Soemarsono ata Sumarsono atau Sonnie, selama ini tidak tahu. Waduh. Belum lagi alamatnya sekarang dimana. Waduh lagi. Masakya kirim alamat Kepada Yth: Mas Son suaminya mbak Liz yang di Semarang itu Lho. Pasti pak pos kebingungan tujuh keliling.

Mencetak Undangan. Selama ini kami tergolong orang yang menganut paham menjadi pemain, sutradara, scripter sehingga pembuatan undanganpun dibuat sendiri. Ternyata tidak mudah, sekalipun nama sudah dibuatkan dalam bentuk digital para juru set sering gatal tangannya untuk mengubah nama yang menurut mereka tidak sesuai. Atau karena mereka sudah mengantuk menghadapi pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Persoalan menjadi ribet saat anak yang berada di luar negeri minta bagian undangan untuk diberikan kepada temannya disana. Akibatnya harus dibuatkan undangan dalam dua bahasa yaitu Inggris dan bahasa Indonesia. Semua bergantung kepada ketelitian setter dan kejelian mata kami.

Lalu mulai diputuskan akan menggunakan tradisi Jawa. Berarti harus mempersiapkan segala ubo rampenya. Juli 2007 kami ke Yogya, mampir di Tjokrosuharo membeli beberapa barang yang diperlukan.

Panitia dirancang sekecil mungkin. Banyak orang menawarkan jasa ingin menjadi panitia, namun dalam reputasi sehari-hari mereka lelet dalam bekerja sekalipun jago dalam berbicara. Maaf yang beginian terpaksa tidak dapat diakomodasi dalam tim kami. Mulai mendapat tekanan dari beberapa pihak yang semula acuh tak acuh mereka mulai ikut campur. Maksudnya sih baik, tetapi kalau semua orang harus di undang betapa merepotkannya.

Tetapi ada pengalaman bahwa mengundang saudara dari daerah berarti mempersiapkan akomodasi termasuk antar jemput dan (jalan-jalan ) ke Jakarta. Belum lagi yang mau datang kalau dikasih kebaya lengkap…lho..lho..lho. Apa dipikir uang saya nggak punya seri alias nyetak sendiri. Hal inilah yang sering tidak disadari.

Namun ada juga yang langsung bertanya, apa perlu bantuan keuangan. Waduh terharu juga. Sekalipun saat ini belum bisa menerimanya. Orang ini memang tajir sekalipun masih muda. Hatinya emas, akmi tahu itu namun mulutnya arogan. Kalau berbicara selalu keluar kata sakti “goblok, salah itu, nggak bener itu, nggak punya otak, kampungan,” akibatnya para sesepuh yang berada didekatnya sering “sakit telinga” berhadapan dengan anak muda yang kalau bicara selalu tidak mau kalah, dan merasa paling hebat sendiri.

Ada teman yang bersikeras akan datang sekalipun tak diundang hehehe ini lucu juga.

  1. Katering sudah dipersiapkan. Awal Nopember 2007, kami mendatangi salah satu pengusaha katering di kawasan Jatiwaringin. Kali ini kebagian marketing officer mbak Santi yang banyak membantu kami menentukan nuansa (ungu), kombinasi makanan. Nasihatnya, jangan menyuguhkan makanan serupa, misalnya ada tiga macam soup, atau tiga macam es krim. Seseorang akan cenderung mengambil semuanya. Celakanya kadang hanya mencoba satu icip, lalu dibuang dan ambil makanan yang lain. Terimakasih mbak, kami tidak ngeh soal trik dan trip beginian sehingga seratus persen pasrah bongkokan kepada mereka.
  2. Pemaes penganten, pakai Bu Tris.
  3. Juru Foto. Akan diadakan pre-wedding foto sebelum acara resmi digelar. Jurufoto sudah diuji coba pada saat ulang tahun pernikahan emas (50tahun) pada September 2007. Kami puas dengan hasilnya dan profesionalismenya. Pelajaran lain, jangan coba-coba menduplikasi DVD karena hasilnya tidak akan sebaik para profesional. Lagian masih ada urusannya dengan hak cipta mereka.
  4. Acara perkawinan
  5. Acara midodareni
  6. Uborampe (pernik) yang harus dipersiapkan dalam acara
  7. Komunikasi dengan pihak besan
  8. Keamanan, ibu Rahel istrinya Letkol Marpaung bersedia mengirimkan sebagian anggota untuk keamanan.
  9. Menyediakan HP untuk kelancaran operasi mungkin pakai Esia yang selama ini okey-okey saja.
  10. Dr. Yatiman dari Purworejo sudah dimintai kesediaan untuk memberikan sepotong sambutan.
  11. Teman-teman Lia dari Singapura katanya berkenan hadir lantaran mereka mendengar bahwa perkawinan adat Jawa biasanya unik dan agung dalam berpakaian. Waduh lagi… apa perlu acara tarian dan gamelan?

Picture from http://www.clipartguide.com/_small/0060-0608-0917-2947.jpg

Tanggal 27 Oktober 2007
Cigandung, Bandung.
Bertemu lagi dengan calon besan (Pria) bapak Susilo dan ibu Tatik.

  1. Pada saat midodareni di kawasan Tanjung Barat, mereka – pihak besan- pria akan melakukan acara midodareni, langkahan. Bahkan sudah menyiapkan panggung, bokor, gentong untuk upacara siraman kelak.
  2. Pihak pria menyediakan sendiri pemaes
  3. Pihak pria akan menyediakan sendiri tempat penginapan.
  4. Keseragaman tusuk kedua ibu pengantin.
  5. Pemberian cicncin akan dilakukan dimana?

4 Nopember 2007. Kumpul di rumah Pendidikan 73 Bekasi. Leo dan Anna membicarakan round down acara. Sempat ada pertanyaan mengapa saudara dari pak Mimbar tidak muncul dalam kepanitiaan. Repot rek menjawabnya.

5 Nopember 2007, terpaksa pertemuan dengan calon Besan dari Bandung ini hari saya tidak bisa ikut lantaran sudah harus terbang ke Perth dengan Garuda 730.