Elidah Was Here


Hukuman cambuk atau seringannya denda bagi yang kedapatan melakukan Vandalisme di public area, namun akhirnya saya menemukan juga coretan lain di Punggol Beach
Tahun 1993, Fay seorang Amerika kedapatan menyemprotkan Cat di tempat umum, seperti halnya kebiasaan anak-anak di Jakarta.
Tetapi menurut hukum Anti Vandalisme – Singapor, perbuatan isengnya menyebabkan ia dipenjara selama empat bulan sejak 3 Maret 1994 dengan denda 3500 dollar dan enam cambukan. Sementara rekannnya SHIU semula dibebaskan dari tuntutan penjara namun akhirnya dipenjara delapan bulan dan dapat 12 cambukan.

Banyak protes sampai sampai presiden Amerika ikut campur tangan karena melanggar HAM. Namun seperti biasa  Singapur tidak mau ambil perduli akan istilah atau dogma barat yang buntutnya membuat bangsa keropos kepribadian.

Dalam grafiti yang saya potret di public area PUNGGOL WATER WAY ini kalau betul namanya ELIDAH -boleh jadi perempuan, akan terancam hukuman yang sama kalau sampai kedapatan. kalau melihat penulisan tanggal 22-Oktober-2011 nampaknya belum lama berselang.

Kalau mengacu pada video eksekusi hukuman cambuk, maka si pesakitan ditelanjangi – dipenteng membelakangi (diikat seperti orang menjemur kulit kambing), lalu hanya bagian bokong yang terbuka, lainnya di lindungi.
Sang Algojo yang kepalanya tidak ditutupi sarung, sambil memegang sebatang rotan mulai mencambuk dalam selang 10-12 detik sambil memberi kesempatan ambil napas. Ia diharuskan mengayunkan cambuknya sekuat tenaga sampai bilur-bilur mulai terbuka dan mengucurkan darah. Eksekusi dinyatakan selesai kalau pesakitan pingsan.
Elidah sag penulis Grafiti dari gang Monkey Blast mungkin tidak sadar akibat perbuatannya. Kali ini ia masih bisa berlenggang dari disebat rotan.
Punggol 10-Des-2011

mimbar <dot> saputro  <at> yahoo <dot> com <dot> au

Advertisements

Foto Siapa


Sambil memotret keluarga kadang saya iseng menembak ke obyek lain. Kejadiannya di Bandara Changi. Waktu boarding nyaris 30menit lagi, tetapi oleh pasangan saya tidak dilepaskan begitu saja, seperti biasalah alasannya : sedang discount apalagi di Changi harga selalu setengah miring ketimbang diluaran sana. Atau kalau tidak untuk keperluan sendiri, ada saja alasannya ibu si A nitip, adik B nutup. Dalilnya ke Changi harus ada kartu kredit yang digesek.

Ketika memotret istri disebelahnya ada sedikit gaduh seperti ada  bancakan (jawa) – Bancakan =selametan dengan nasi dan urap. Cuma kalau dulu Nasi satu kerucut dipinggirnya ada urap dan  suwiran ayam itu sudah tergolong makanan “Peng Pengan” alias Top Markotop.  Tapi gairah dan mata berbinar lantaran sepertinya ada Santa Klaus kepagian datang lantas bagi-bagi parfum prodeo. Kalau kata wong Palembang, Parfum cap “Tanpo Beban” – maksudnya beban bayar dari kocek sendiri.

Tapi mata kamera saku saya menangkap ada salah satu tokoh yang memang saya mengaguminya karena cerdas, dan perempuan ini cantik “pisan”- pembuat berita yang sebat sebet. Kadang menangis, kadang berduet, kadang “teman dekatnya” diudak-udak nyamuk pers.

Enak juga rasanya jadi PapaRazi (kalau ndak digebukin orang)

mimbar saputro yahoo com au

Rojak Punggol lengkap dengan Tusuk Sate Bambu


Sekitar jam 11 pagi saya mendatangi lapak bertuliskan ROJAK HOT LINE, yang menerima pesanan via SMS. Pemiliknya seorang Encim tua yang tangannya tidak pernah berhenti bekerja, kerok sana, korek sini, lap sana, lap sini persis gambaran masa kecil saya bahwa perempuan Cina selalu aktip. Melihat saya datang,  tangan yang memegang lap berhenti. Perempuan bertubuh kecil dan bungkuk ini melihat saya langsung bilang “No Open… Come back afternoon..

Detik itu kalau nama saya Mimbar Magrib (sudah senja) mendadak ngelungsumi (ganti kulit) menjadi Mimbar Subuh – lantaran saya persis anak kecil minta uang beli es lalu disemayani (dijanjikan) nanti – setelah makan siang, kerjakan PR, kalau betul semua baru “beli es dipertimbangkan..

Lia putri saya malahan bilang, kadang kalau bahan rujak (buah-buahan) tidak tersedia di pasaran, mereka tidak akan buka jualan. Weleh weleh. Tapi jangan heran para sesepuh ini tinggal satu blok dengan kami. Bahkan seorang nenek penjual KopiTiam, dia tinggal di lantai 16 – dan lantai ini kelas premium..

Jam 15:00, belum kapok dimarahi, saya mendatangi kedai SMS Rojak yang ngemper di komplek Punggol Meadow ini. Si nenek sudah tidak nampak. Mungkin   istrahat, rupanya digantikan seorang lelaki entah anaknya-entah cucunya.

Anaknya memotong Timun maupun Cakwe mirip peserta lomba masak di ANTV disuruh memotong wortel, kudu sama size dan sudut potongannya.  Tak heran  setiap satu guntingan cakwe selesai bibirnya bergerak kekiri pertanda lega. Mungkin harusnya dia masuk kedokteran jurusan bedah otak mengingat caranya memperlakukan penganan yang hendak dihidangkan.

Permintaan saya untuk menambahkan “Juhi” – ternyata tidak terkabul lantaran  “Too expensive la, one piece catlle fish cost one dollar, people no-want to buy..They just want simple rojak.. Sorry.

OH MINUMANKU TUMPAH

Rencananya lepas beli rojak, beli sekantung plastik, supaya jangan kepedasan saya beli sekantung Lime Juice di kedai lain yang jual juga sudah usia pensiunan tapi kalau malam dua Carlberg bir masih kuat.  Ada incident sedikit di kedai ini… “One Bag Lime Juice..” saya sebutkan dengan keras, maklum didepan saya ada tiga nenek vendor yang berceloteh sambil ngisik-isik (merapikan) dagangan.  Kata “take away.” saya ganti dengan bahasa isyarat tangan saya buat gerakan mengait sesuatu lalu saya naik turunkan  persis seperti bikin teh celup…

“Jrenggggggg…” minuman diberikan dalam gelas ditambahi batu es…. Saya protes, “I want in bag, TAKE AWAY…” – mukanya seperti rasa minuman yang ia hidangkan kuning pucat dan kecut.. Ternyata saya salah Kode “take away”. Si encim salah dengar. Dia pikir saya minum ditempat. Salahnya dadri tadi kok ngobrol terus. Kepada pemilik toko bahan bangunan Gajah Suro di Grogol nanti saya harus menyampaikan pengalaman ini untuk stop chatting kalau sedang melayani pembeli.

Cita-cita saya adalah “tiru-tiru” para apek tua, makan di Kursi Taman, bungkusan minuman dikaitkan disalah satu batang menonjol dari motif bunga. Celaka, ternyata saya salah letak. kantung berisi minuman jatuh dan saya hanya bisa terbelalak. Ketimbang kena masalah nyampah, saya tinggalkan kursi taman dan pindah ke lokasi tak  jauh dari sana.

Penjual Rojak ini memotong Ketimun atau Cakui sama hidmadnya dengan orang Bali bikin pagung Wisnu.

Sambil duduk di kursi besi lokasi baru, perlahan  kantong plastik “asoi” – ini bahasa dari Bandar Lampung untuk kertas kresek, saya buka.  Diatas kotak sterofom saya menemukan tiga “sunduk” tusuk sate. Rupanya cara makan Rojak di Singapore adalah dengan tusuk bambu sate. Tusuk gigi mengesankan benda bekas, berbau sehingga jarang diperlihatkan dimeja-meja.

Lalu Rojak yang mestinya rojak cingur zonder daging ini saya pilah-pilah jerohannya. Ada Nanas, ada Ketimun, ada Jambu Air dan yang unik adalah Cakui Goreng.  Rasanya mirip rujak cingur. Sekarang saya bingung, rasa pedas Rojak Punggol sudah mulai menggigit. Tapi es kantung sudah kadung tumpah… Sial bener.

Rojak Punggol.. Potongan ketimun, nanas, jambu dicampur Cakwe. Cara makannya ditusuki pakai tusuk sate

mimbar <dot >saputro <at> yahoo <dot> com <dot> au

Manfaat Jalan Pagi (4)


Mungkin pelang- atau penunjuk arah ini salah satu benda yang bisa masuk MURI Singapore justru karena tidak terpelihara. Bertahun dimakan usia sementara nama jalan lainnya nampak kinclong. Dengan membaca plang tua ini saya terbayang saat peperangan Jepang melawan Sekutu, bekas tank, pesawat yang kena torpedo berserakan disana sini. Ternyata  situs Word War II, dulunya dijadikan tempat eksekusi Cina Singapura yang diselidik masih sangat mendukung Inggris ketimbang balatentara Jepang.

Logo yang saya lingkari merah, tadinya “ilusi” saya adalah Granat, namun setelah diperhatikan seksama adalah  Botol Abu Jenazah sebagai pertanda bahwa disana adalah sekedar peringatan arwah yang telah menemui ajalnya diburu tentara Hojo Kempei Jepang.  Lalu ingat sebuah ajaran Shin Tzu, sembelih Ayam Jantan – biar Kena Yang Nakal takut satu cara repressi untuk mengontrol pihak yang dianggap musuh.

Anda tidak mendapatkan bekas-bekas Perang Dunia II sama sekali disini..

Punggol 10-Des-2011
mimbar <dot> saputro  <at> yahoo <dot> com <dot> au

Manfaat Jalan Pagi (3)


http://www.youtube.com/watch?feature=endscreen&NR=1&v=KptotvX_1Kw

Pernah dengar lagu ciptaan Mang Koko yang dinyanyikan oleh Benyamin Sueb. Saya berikan link YouTubenya diatas, mudah-mudahan saja  pengupload file tersebut tidak memprotes saya. Atau masuk saja ke Metro Pondok Indah, pengelola disini gemar memutarkan serial lagu kocak Benyamin.

Lagu Badminton ini sampai sekarang masih saya nyanyikan dan setiap kali pula Erni, pasangan saya protes. Nyanyi kok seprono seprene “badminton” 35 tahun lalu..

Mudah-mudahan keluarga penulis lagu Mang Koko dan keluarga Benyamin Sueb tidak protes sebab judul lagu saya  plesetkan menjadi INDIA di mana-mana.

Asal jalan kaki sampai jelek, diujung tikungan, di setopan lampu merah saya selali saja bertemu mereka. Sepatu GumBoat kuning, rompy mengkilat, help plastik, tangan menyangking sekantong kopi  adalah pemandangan sama menariknya dengan melihat lautan biru.  Kadang kangen siapa tahu diantara mereka tersempil pekerja kulit Sawo Kecik yang bisa diajak “eh elu ngapain dsb..” – Etnis ini boleh dibilang memiliki kemampuan pisau MacGyver. Mau jadi kuli kasar, okay… Jadi ahli IT – bisa banget.


Kadang saya berfantasi, jangan-jangan dulu yang bikin Borobudur tenaga kasarnya juga mereka, selain Softwarenya.  Saya ngos-ngosan diterik matahari, sudah pakai topi pandan yang lebar, dan cuma aktivitas jalan kaki. Mereka manteng angkat kayu, nyabit rumput, pindahkan kerakal dengan laju kerja yang stabil.

Kalaupun mau di “cela” – bau badannya mengharuskan saya kalau bisa pinjam ilmu sakit sinuitis agar tidak keliyengan.

Penderitaan terbesar manakala di MRT yang berdesakan lantas saya dibelakang mereka yang sama-sama lempar lembing (bergelantungan). Thobaaat..thooobaat… Padahal kalau pagi-pagi bertemu mereka bau cendana semerbak. Tapi kalau sudah siang… Ambyar semua.

Di restoran-restoran, umumnya teman dari Pinoy yang menguasai area…

Punggol 10-Des-2011
mimbar <dot> saputro  <at> yahoo <dot> com <dot> au

Manfaat Jalan Pagi (2)


Diantara “explorasi” jalan kaki sampai jelek (kaki saya) yang saya lakukan sewaktu menengok Lia putri saya adalah keluar masuk HDB (Perumahan Rakyat Singapura) – Sering terlihat sepeda rusak, berkarat sebagian onderdil sudah dipreteli. Mungkin pemiliknya tidak mau repot cari bengkel maupun tambal ban yang memang tidak setiap tikungan ada. Kalaupun ada biaya teknisi sepeda akan lebih besar ketimbang keseluruhan harga sepeda.  Di Giant Supermarket, harga sepeda berkisar Sin 80 (tarif bawah). Tentu saja yang ribuan dollarpun banyak.

Cuma belum pernah dengar sih ada kasus macam di Jakarta yaitu Petani Ban. Tanam Paku panen Ban Bocor.

Pengelola gedung akan menempelkan semacam surat peringatan manakala benda mangkrak ini sudah terlalu mengganggu pemandangan.

Jalanan untuk pejalan kaki yang sharing dengan sepeda. Kelak kalau daerah ini sudah berkembang, jalanan ini akan diperlebar.

Tindakan “nakal” lain adalah manakala ada keluarga yang ngetem  “bangku untuk kongko keluarga” selama 24 jam. Masalahnya kalau gang didepan kita sudah mulai dihiasi bangku, sandal, pot bunga keruan saja kita akan enggan  melewatinya dan ini yang diharapkan keluarga nakal tadi.

Punggol 10-Des-2011
mimbar <dot> saputro  <at> yahoo <dot> com <dot> au

Manfaat Jalan Pagi (1)


Mencari Tanaman Obat

Kepada keluarga saya mengatakan “mau bayar utang” sebab sudah sejak Desember 2010 saya pikir saya banyak absen jalan kaki. Bahkan sebuah majalah berita yang biasa saya beli tiap minggupun pernah satu umuran jagung tidak pernah saya beli, sampai sampai pengasong di jalan Mampang Prapatan komplin “pak kenapa tidak pernah beli majalah apakah sudah lari ke pelanggan lain?”.

Manfaat lain dari jalan kaki saya dapat biasanya sering “penuh surprise” misalnya jalan aspal yang biasa-biasa saja kerapkali menimbulkan cetusan ide menulis di Blog.

Daerah yang saya pakai sebagai rute jalan pagi namanya Heritage Trail.

Pengembang berusaha mengembalikan kawasan ini seperti jaman dulu. Punggol (1800 ) aselinya daerah pemukiman tertua ketika Singapura mulai berbentuk negara. harimau, babi hutan, ular, biawak adalah penghuni kawasan ini. Harimau tidak bakalan ditemui sebab menurut catatan pada 1930 adalah harimau terakhir alam liar yang korban perburuan sebab hadiahnya $20 per kepala yang kemudian dinaikkan menjadi $50 sampai akhirnya $100. Tak ayal jumlah harimau menyusut sampai titik nol.

Dalam catatan koran Singapora tertua pada 8 September 1831 seorang Cina mati dimangsa harimau. Saat itu kawasan Singapur dan Malaysia adalah hutan lebat. Sebagai mahluk jago renang, dengan mudah mamalia menyeberangi selat Johor bergerak dari Punggol (Singapore sekarang) ke pulau Johor.

Lantaran rumah nelayan biasanya sudah ambruk, terpaksa di rekonstruksi ulang nelayan dulu berteduh sambil menjahit jala yang rusak

Buaya terbesar diperkirakan 7meter panjangnya terakhir nampak pada 1960. Babi hutan sudah lama dimangsa manusia. Saya sendiri baru bertemu biawak kecil yang mengendap kalau saya berjalan dekat mereka.

Bahkan dulu di 1980-an ada restoran Makanan laut yang kondang.

Saya sendiri hanya bisa melihat satu komplek budidaya ikan laut di kawasan ini yang ditulisi “(FISH POND 24hr).”

Dalam foto nampak Suami (berjongkok) dan Istrinya memegang tas kresek sedang menyabuti tanaman obat. Warga Singapore sebagian masih memiliki keahlian pengobatan dengan daun-daunan.

Sebetulnya perbuatan ini tidak dibenarkan akan merusak tanaman lain dari taman yang susah payah dirawat.

Bahkan sungai di seberang jalanpun tidak boleh dipancingi tidak boleh memberi makan pada ikan-ikan disungai, termasuk burung-burung diangkasa sebab menyebabkan mereka jadi ketergantungan pakan pada manusia,  Gemuk, Malas dan Penyakitan. Padahal kita maunya meliat burung seperti aselinya di alam bebas, serba liar…

Punggol 9-Des-2011
mimbar <dot> saputro  <at> yahoo <dot> com <dot> au