Yu Gemi


SIAPA YU GEMI ITU
Mendadak nama ini muncul di HP saya. Oh ya saya bercerita melompat lompat.

Mengirimkan undangan nikah, saya menggunakan jasa ekspedisi yang kadang menjengkelkan tetapi ada unsur pembelajaran. Misalnya – tidak setiap orang “update” dengan alamat, sekalipun alamat sendiri.

Untuk memonitor dokumen yang dikirim maka saya menggunakan aplikasi di HP untuk melakukan pelacakan. Dengan memasukkan Nomor Resi, maka bisa diketahui – kapan kiriman tiba dan nama sang penerima.

Ada nama yang unik misalnya YBS. Setelah di utak atik gathuk, maksudnya Yang Bersangkutan Sendiri.  Petugas ekspedisi kadang tidak ragu menulis Pembantunya. Padahal kalau hal tak diharapkan terjadi, akan sulit mencari batang hidung sang penerima.

Umumnya ibu-ibu kurang suka menulis nama kecilnya sehingga tanda terima berisikan nama Bu Sudin karena suaminya pak Sudin. Padahal Nama Kecil lebih memiliki legitimasi dalam urusan hukum.

Dari nama penerima undangan, maka muncul nama unik Yu Gemi. Yu adalah singkatan dari Mbakyu artinya lagi kakak perempuan. Nama Yu atau mbakyu Gemi muncul akrab ditelinga saya sebab inilah asisten wara-wiri sahabat saya, kita singkat namanya ES.

Ibu ES banyak menulis tentang Yu Gemi, gayanya memasaknya, serta teman nonton filem India disaat senggang. Bahkan memasak lodeh-pun bunda ES seperti chef Yuna membuat kue. Serba cantik, serba yummy. Ia pernah seperti “gerowong” alias mencelos hatinya ketika Yu Gemi pulkam.

Hidup seperti hampa, komentarnya.

Yang ditangkap dari cerita beliau adalah Yu kita ini sudah di “wong-ke” alias tidak dianggap sebagai PRT, melainkan sahabat.

Advertisements

Dilarang Piknik di Singapur


Setidak-tidaknya demikian papan larangan yang banyak ditemui di kawasan sepanjang Orchard Road. Lha kok aneh, Singapura paling kebanjiran tamu dari Indonesia manakala ada isue akan ada kerusuhan rasial, kerusuhan agama. Tetapi mengapa setelah sampai di Singapura kita dilarang piknik

Sudah bukan rahasia bahwa saat hari libur besar seperti Sabtu dan Minggu kawasan Orchard Road selalu dipenuhi para mbak-mbak dan mas-mas yang setelah seharian bekerja, berbicara dalam bahasa Inggris, Mandarin, Jepang – lantas kepingin bebas sejenak, bertemu teman sekampung, setanah air di tempat rendevouz yang biasanya dipilih di kawasan Orchard Road.

Memandang mereka berpakaian ketat keluaran Giordano, Mark Spencer, tank top, dandanan serba menor, celana panjang – tas Charles and Keith, HP sampai BlackBerry model terbaru, kacamata Oakley original memang membuat pemandangan di Orchard Road menjadi hidup. Saya kadang tak mengenalinya kalau tidak menyaksikan mereka berhahahihi di celuler menggunakan logat daerah yang medok.

Mula-mula mereka hanya duduk-duduk saling bertukar SMS – menanyakan keadaan di kampung masing-masing.

Dasarnya kita suka bergerombol macam sekumpulan ikan Bilis, maka lambat laut komunitas ini makin melebar sehingga ruang bagi pejalan kaki mulai terdesak.

Kalau ditanah air, lapak-lapak kali lima sampai ketengah jalanpun dianggap suatu kewajaran. Namun para pengguna jalan mulai mengeluh “ngeri” kalau menerobos kawasan yang sudah mulai dikuasai sehari oleh para mbak kita dari Indonesia, Filipina atau India.

Apalagi beberapa mbak mulai membawa sendiri dingklik (bangku), lalu berawal dari arisan (lagu wajib kita kalau kumpul), menggelar dagangan sampai membuka mencure dan pedicure. Jelas membutuhkan waktu lama dan tempat.

Akhirnya pemerintah Singapura menempatkan larangan untuk duduk-duduk dan piknik di emper toko di kawasan Orchard Road.

Sekarang para mbak kita berkumpul di rumputan taman, atau masih dikawasan emper toko yang belum komplain

Tapi niat datang kesana adalah untuk cuci mata, kalau cuma pul-kumpul di taman apa yang dilihat? burung Jalak, Gagak atau burung Merpati?

Jadi juga mak KwekKwek mudik 1429H-2008SM


Mak Kwek Kwek dalam keseharian
Mak Kwek Kwek dalam keseharian

Tadi pagi selepas meletakkan koran Warta Kota, mak Kwek-kwek langsung masuk ke ruangan pantry, membereskan cucian tanpa banyak bicara. Ini hari Sabtu 27 September 08. Mendadak ia pamitan kepada kami “mudik lebaran..” – padahal sebelumnya perempuan muda dengan empat anak ini tidak pernah memberikan sandi untuk berhajat nasional tahunan tersebut.

Mak Kwek-kwek bekerja di rumah sebagai paruh waktu. Ia datang mencuci piring, pakaian untuk pasangan suami istri over-sex(ketan), ambil koran di halaman depan, lalu kalau ada nasi atau lauk berlebih (umumnya ya), akan dibawa pulang untuk keempat anaknya yang masih kecil.

Ada beberapa pembantu “full time” yang melamar namun saya kadung jatuh hati melihat perjuangan hidupnya, apalagi ia jujur kendati kalau bicara selalu melengking bak lenong Betawi. Di luar itu jarak rumah kontrakan hanya selemparan batu.

Tidak lama kemudian di luar pagar terdengar suara pintu mobil dibuka, bluk.

Sebuah kendaraan mirip kijang berwarna abu-abu tua sudah menjemputnya. Rupanya salah satu kerabatnya “mendadak” menjadi baik setelah puluhan tahun tidak pernah menyambangi mereka. Semoga masih ada kaitannya dengan hikmah Ramadhan.

Tidak lama kemudian atap Kijang sudah bertengger “barang-barang” berbungkus plastik dan terpal.

Saya membayangkan saat diperjalanan nanti ujung terpal melambai-lambai sambil mengeluarkan suara mencicit karena bergesekan dengan angin. 

Pak Kwek-kwek sendiri tidak nampak dalam rombongan mudik. Ia memilih di rumah, sebab pengalaman mengatakan bahwa sekalipun sudah punya anak empat,sang mertua bak sinetron kita – berusaha menjauhkan ia dari istrinya.

Yang saya kuatirkan adalah anak-anaknya tidak pernah diajak bepergian jauh. Dulu saya pernah, maksudnya menyenangkan mereka naik mobil pakai AC, akan saya traktir es.

Hanya 15menit bertahan mereka pada bertumbangan muntah dan menangis. Mudah-mudahan keberangkatan bak ikan sardin justru menggembirakan anaknya apalagi kali ini beserta keluarganya

Sekali Mbak Irah – pamit, dua keluarga kehilangan pembantu ….


Gonjang ganjing daging sapi hilang dari pasaran, heboh bakteri Enterobacter Sakazakii (ES), Jaksa Ketua yang mencari koruptor tetapi nyambi mencuri dari koruptor belum menggoncangkan keluarga kami. Namun hari Minggu dua maret 2008 orang rumah bisa tertunduk meneteskan air mata.

Pasalnya sang deputy kepercayaannya sejak Februari 2006 tiba-tiba pamit untuk menikah dengan kerabat dekat seperti yang di inginkan oleh sang ayah. Modusnya biasa, keukeuh minta ijin pulang kampung lantaran ditilpun keluarga bahwa sang ayah muntah-muntah. Satu indikasi awal prt kita tak betah jika tilpun selalu berdering dari adik, kakak, keponakan, paklek entah siapa saja. Betul saja, Irah langsung pamit “cuma seminggu” pulang kampung – lantaran bapak sakit.

Beberapa hari lalu ia sempat mencium punggung tanganku pamitan sambil bilang “Irah pulang duluganya bahwa ya Pak..” – biasanya dia pulang membawa oleh-oleh beras tutu (tumbuk) merah kesukaanku. Namun kali ini setelah seminggu ia kirim pesan singkat mengatakan “Maaf Irah tidak boleh bekerja lagi ke Jakarta…

Saya masih ingat baru beberapa minggu bekerja dengan kami, pada bulan Maret 2006 sang ayah datang njujuk (tinggal) disalah satu familinya di bilangan Jakarta Barat. Malam harinya kami ditilpun lantaran diberitakan bahwa Irah sakit muntah-muntah dan tidak mampu untuk berjalan. Lalu kami bergegas menuju ke rumah kontrakannya. Melihat anaknya sakit sang ayah ternyata bergegas pulang “tinggal glanggang colong playu” ke kampung ketimbang mengurusi sakitnya sang puteri. Sementara pihak keluarga yang kuatir ketempuhan seperti mendesak Irah agar “jangan sakit dirumahnya” – tidak seoles balsem sebagai tindakan pertolongan dilakukan disini.

Malam itu juga Irah kami bawa ke rumah sakit. Tidak mudah mendapat ruang di rumah sakit sebab Jakarta sedang dilanda demam berdarah dan tidak sanggup menerima pasien baru. Saya harus minta tolong adik dr. Agus Sudrajat yang saat itu masih di jalan Tol untuk kembali kerumahnya dan membatalkan semua acaranya untuk menolong nyawa Irah.

Kami terlanjur jatuh hati. Tak heran, berpembawaan “merak hati” – membuat orang suka melihatnya, para tamu kami kerap memberinya tips.  Membalas email, membuka attachment, cukup satu kali ia diberi pengarahan, sisanya kita geleng-geleng melihat kecekatannya. Urusan mendaftarkan SIMCARD baru, memecah pulsa, mengisi pulsa, mengecek pulsa dia adalah kamus hidup.
Pakaian yang disandangnya keluaran merek dari luar negeri yang terkadang menimbulkan iri hati ABG “non PRT” se RT kami.

Baru sebentar bekerja di tempat kami Ira sudah memiliki HP, Gelang, Suweng (anting), Jam Tangan, Cincin, Tas, Sepatu sehingga kalau dia tidak mengaku siapa dirinya, orang akan menyangkanya anak SMA, kecuali memang wajahnya yang tertempa pekerjaan saat usia masih teramat belia. Tapi setiap kali ia pulang kampung terseoklah dia kembali menjadi Irah Gundul. Perhiasan dan uangnya ludes.

Ada lagi kebiasaannya sekali tempo ia pamit untu acara mingguan “main” ke rumah teman-temannya seprofesi. Bisa dipastikan penggemar Sinetron Fitri seperti mengalami semacam cuci otak atau “pencerahan” sebab keesokan harinya ia akan pamit dengan alasan menengok ayahnya di kampung.

Sebagai anak yang patuh, ancaman yang disampaikan temannya “bakal masuk neraka tidak mengikuti kata ayah” – sangat mempengaruhi bathin gadis kecil yang kuat salatnnya ini termasuk keputusan sang ayah bahwa Irah harus nikah dengan pemuda pilihan ayahnya.
Efek domino datang, sang Arjuna lain, Imam mendengar Irah menikah maka pemuda yang sehari-hari bekerja sebagai supir sebuah keluarga langsung pamit keluar kerja dan pulang kampung.

Hati saya gundah gulana,” alasannya. Padahal sebelumnya ia masih tergeletak akibat dugaan serangan thypus. Belakangan saya baru tahu setelah HP berdering. Di ujung telpun suara adik ipar terdengar tak bersemangat “Mas..supirku keluar tadi pagi, padahal semalam suhu badan masih panas..“- WoalahIrah ternyata kamu sudah mampu menaklukkan beberapa keluarga.

Doa kami Irah agar kamu bisa tegak berdiri bersama suamimu. Dan Imam bisa legawa menerima keputusan Irah dan paham bahwa jaman Siti Nurbaya masih ada di era PLN edisi Insentif dan De-insentif.

Balada mbak Imah


Pulang mudik lebaran, usai mengunjungi sanak saudara, menyekar makam para leluhur. Melihat pagar rumah berdebu, tanaman hias mengering karena musim kemarau berkepanjangan, dedaunan yang kering dihalaman. Tuntas sudah ritual tahunan. Beberapa hari lagi akan kembali ke kantor, kembali ke aktivitas “normal” sehari-hari. Lemas tapi puas. Sementara Gubermen Jakarta tak putus menghimbau agar para pemudik, tak membawa pasukan urban ke Jakarta.

Tapi eit.. tunggu dulu. Tidak sepenuhnya benar sinyalemen bahwa para pemudik membawa teman sekampung ke Jakarta.

Buktinya, pembicaraan para ibu masih berkisar para Kitchen Kabinet yang belum nongol dari kampungnya. Mereka yang selama ini mendapat multi predikat “masak sering gosong, sayur terlampau asin, ngepel lantai basah kuyup, nyapu tidak sampai kolong, boros deterjen, dapur penuh kotoran dan minyak ” – maka pada hari itu menjadi sosok dewi penolong yang sangat dinantikan, melebihi kedatangan Bush ke Hotel Salak- Bogor pada 20 Nopember 2006. Lebih celaka lagi handphone yang mereka bawa dari Jakarta seperti tidak bisa dihubungi. Kemana gerangan berita Cicih, Irah, Kadi, Mistok, Nanik (pakai K).

Tunggu punya tunggu, masuk juga laporan dari beberapa pihak. Cicih janda beranak tigar ternyata berniat balik kepada suaminya. Pupus sudah luka batin tatkala beberapa tahun lalu saat darah akibat melahirkan belum mengering, air susu masih muncrat segar buat orok anak mereka yang ke tiga, suaminya sudah merat meninggalkannya lantaran jatuh di pelukan orang lain. Cicih terdampar di Jakarta sebagai PRT dan bekerja pada keluarga kami sampai sekarang.

Orangnya bersih, profesional dan seperti bisa membaca pikiran kita. Baru mau ambil pen, dia sudah datang menyodorkan ballpoint. Rupanya mantan suami (berlagak) tohobat di hari Fitri dan mengajaknya kembali satu atap. Alasannya belum bercerai. Pasal tak memberi nafkah lahir bathin selama bertahun, seperti terlupakan. Apalagi sejak bekerja di Jakarta Cicih mampu menabung untuk membeli kalung dan giwang. Cicih bukan perempuan yang dulu, kini ia sudah mandiri dan nampak berduit.

Sebagai perempuan lugu, Cicih luluh akan rayuan sang mantan tak perduli nasihat para rekannya. Bahwa Cicih akan membiayai anak-anaknya, dan anak dari madunya. Sang suami melontarkan jurus Naik Kuda Lama, sembari memetik Padi. Ini namanya dapat service Bathin dan Lahir. Inilah tarik menarik molekul kimia yang susah di dijabarkan.

Sementara Irah, kendati sudah dilarang oleh orang tuanya, nekad juga beserta temannya Imah dan yang lain ke Baturaden. Maklum hanya setahun sekali. Irah hanya telat beberapa jam ketika dipenghujung jalan melihat raungan sinire dan jeritan korban jembatan gantung putus. Baru ia ingat larangan orang tuanya.

Atau sebut saja Imah,17, yang kali ini berniat tidak pulang kepada Nyonyah dan Toean lamanya. Tapi Imah belum punya “pemilik” baru, maka seperti lagu lama. Ia datang ke rumah beserta Irah, dalam hal ini ke rumah saya. Bukan mainya gembira mereka dengan bahasa “Ngapak bin Tegal” berbicara sambil sebentar-sebentar tilpun berdering dari sohibnya. Kami cuma kuatir ia keburu betah di sini, sementara kami tidak membutuhkan tenaga tambahan.

Kok kebetulan, sebuah keluarga tanpa anak curhat lantaran kebingungan lantaran mbak Inah asistennya meminta PHK. Maka otak berputar cepat Imah ditawari pekerjaan baru, di keluarga tanpa anak. Klop, apalagi nama mirip.

“Saya mau kerja kalau tidak ada anak kecilnya…”

Tidak masalah Imah, mereka belum punya anak.

“Tapi, saya tidak mau ada anjing…. sebab tuwan saya dulu pelihara anjing…”

Hm agak repot memang, tetapi kan anjing bisa masuk kurungan, biar pemilik yang memberinya makan.

“Tapi saya minta gaji…..,” lalu ia menyebut angka mendekati setengah jeti.

Tidak masalah Imah…Masih standar…

Maka, setelah semalaman masa orientasi di rumah, keesokan harinya dengan semangat ORMAS mengganyang toko kecil yang jualan miras, Imah diantar ke majikan barunya…

Di tempat yang baru, Imah langsung pegang sapu, memperkenalkan diri. Selesai menyapu, ia minta ijin kepada tuan yang hari itu sengaja tidak kekantor untuk menyambutnya. Maka belia bertubuh jumbo ini menilpun “kakaknya” – dan dramapun mulai.

Begitu tilpun diletakkan, Imah mengajukan MOU baru, pertama dalam setahun ia dua kali cuti masing-masing sepuluh hari. Juga kalau ia kawin (pengakuannya sudah tunagan cowoknya), harus diberi cuti nikah.

Butir kedua, Imah mengatakan ia tidak suka dan tidak bisa memasak…

Sang tuan hanya terdiam sebab urusan kitchen kabinet diluar wewenangnya. Tapi itu bisa diatur, mereka hanya perlu orang menunggu rumahnya.

Baru saja Imah akan ditinggal sendiri, mungkin ia menyadari akan sendirian bersama dua anjing yang dikandang. Langsung ia meraih tilpun dan berani sang Nyonya barunya yang sedang rapat. “Nyonya harus pulang, kalau tidak saya mau pulang, saya tidak mau kerja sendirian…”

Akhirnya sekalipun semua permintaan (kecuali eutanasia anjing) dikabulkan, Imah makin berani. Dia bahkan minta agar Nyonya rumah berhenti bekerja, menemaninya…

Kesabaran tuntas sudah, belum 24 jam dia sudah bukan main persyaratannya. Akhirnya vonis datang “okey kamu boleh meninggalkan rumah ini kalau kamu tidak suka…”

“Saya minta ganti rugi, saya minta diantar ke rumah temannya di Grogol..”

Masih disabarkan akhirnya, dari suatu kawasan di Bekasi, supir secara khusus mengantarkannya ke sebuah alamat di jalan Makaliwe Grogol.

Ini episode berjudul “memanusiakan orang yang gagal..”

Kadang, kalau ketanggor majikan yang paceklik-sabar ditambah ada unsur sadis, tidak heran mendengar ada pembantu disetrika, dipukuli. Alasannya “tidak tahu dielus” malahan mau ngaprus (mukul).

Cerita menahun pengiring lebaran.


11/3/2006
Mimbar Bb. SAPUTRO
Text Msg: +62811806549

You must not lose faith in humanity. Humanity is an ocean; if a few drops of the ocean are dirty, the ocean does not become dirty.- Gandhi

Segarnya Mantab… boleh… asal sudah sarapan


29 Maret 2006

Liburan weesak, Irah, deputy yang baru 2 bulan bekerja minta ijin pakansi “kecil” lantaran mendapat kabar bahwa orang-tuanya dari desa datang menengoknya. Biasanya kangen-kangenan diteruskan dengan evaluasi penghasilannya selama bekerja di Jakarta. Ada kemungkinan sang orang tua menganjurkannya pindah tauke bilamana hasilnya dinilai kurang memadai.

Masalahnya, Irah di Rawa Bogo sementara sang keluarga “ngepul” di bilangan Grogol. Lantaran Jendral dari Kitchen Kabinet -JKK- merasa tidak PeDe melepaskannya sendirian dibelantara Angkot, Minibus dan Calo-calo sehingga sang deputy diberikan akomodasi dengan supir dari Australia. Jam 04:30 dinihari kami meluncur ke Grogol. Jam 06:00 kami bayangkan Irah sedang ngomong “ngapak-ngapak” dengan sanak familinya. Duh bahagianya.

Saat jarum jam beranjak ke angka 14 belum ada tanda Irah akan melapor k ePosko.

Jam 15 masih idem-dito. JKK mulai gelisah. Pertama bisa jadi Irah memenuhi permintaan orang tuanya mencari penghasilan yang lebih layak, yang kedua – kekuatiran jangan-jangan anak ini sakit. Lalu telik sandi dikirim mencari sisik melik keberadaan Irah. Pelapor menyampaikan berita, Irah berada di Jalan Makaliwe Gang Lima tidak mau pulang lantaran ia muntah terus sejak pagi. Sekarang ia hanya penunggu kamar mandi dengan wajah pusat pasi…” – sementara Orangtua sudah kembali ke desa meninggalkan Irah dengan saudaranya. Dan kini saudaranya takut ketempuhan biaya dan resiko, buru-buru “meminta” saya menjemput Irah di kontrakannya.

Usut-punya usut. Rupa-rupanya Irah berniat merayakan pakansinya dengan membeli minuman ringan. Begitu cairan dingin yang segarnya mantab itu mengalir melalui kerongkongannya. Ia meringis kesakitan. Alih-alih dunia meriah, perutnya terasa akan pecah. Cairan sodium bi carbonat melepaskan gas CO, menendang kekiri, kekanan, bergulung.

Akibatnya Irah “gulung koming” dan harus dipapah berdiri oleh saudaranya. Iklan memang sering tidak mendidik dan kurang informatip. Minuman Segarnya Mantab boleh saja. Tapi perut harus sudah terisi. Apalagi yang cenderung menderita tukak lambung seperti Irah. Kawan-kawan di Australia glegak-glegek minum  SoftDrink baik sarapan pagi, siang maupun malam. Kendati ditengarai penyebab osteo, tapi diet tandingan mereka di pagi hari adalah full susu.

Bagaimana kalau operasi SAR digelar“. Usul saya dalam rapat darurat terbatas.

Setelah disepakati, tidak lama kemudian kendaraan SAR sudah berada di mulut gang. Untuk menjemputnya orang harus berjalan kaki sejauh 30 meter menuju rumah kontrakan. Kebetulan penghuni lainnya sedang bekerja mencari nafkah. Hanya Irah dan saudara perempuannya yang kami jumpai. Kondisinya lemah sampai untuk berjalan menuju kemobilpun ia harus dipapah sambil sesekali muntah “uger” lantaran tidak ada lagi yang bisa dikeluarkan.

Dalam keadaan lemah, Irah dibawa ke Dokter sementara arloji menunjukkan jam 16. Dokter keluarga kami, Kardi, yang memeriksanya seperti punya firasat agar Irah tidak dibawa ke Bekasi. Lebih baik melakukan operasi pemulihan kesehatan di Grogol.

Jam 17:30 ternyata obat yang diberikan hanya menjadikan muntahnya makin menjadi. Akhirnya ia kami larikan ke rumah sakit. Tujuan pertama RS Tarakan, ternyata sampai ke lorong-lorongpun sudah terisi penderita demam berdarah. Coba tilpun RS lainnya, keadaan sama, tidak menerima pasien baru.

Kalau sudah kepentok begini saya pakai jurus KKN, adik kandung, dr. Agus Sudrajat saya tilpun. Pertama minta saran, kedua minta tulung, ketiga saya setengah memaksa. Adik dan temannya sebenarnya sudah masuk Tol menuju Jagorawi dan terpaksa mutar balik ke rumahnya di bilangan Cipinang Jaya 2EE Perumahan Depkes. Saementara menunggu perjalanan kami ke Cipinang Jaya, saya minta adik untuk membelikan cairan infus dan segala ubo-rampe sehingga saat kami tiba disana Irah bisa langsung diterapi.

Teman rombongan adik sampe heran rencana sudah diatur seminggu sebelumnya, tiba-tiba dibatalkan hanya lantaran saya tilpun. “Elu tau, kakak gue ini cuma ngebelain pembokat sakit. Tapi yang gue tau, kalau sampe dia minta tolong, artinya sudah kepentok usahanya kesana kemari..

Obat-obat kami peroleh di apotik RS Mitra International Jatinegara, yang diperkirakan beberapa tahun lagi akan dibeli oleh perusahaan berlogo Ramsey. Selang dua jam diinfus, keadaan pasien nampak tenang.

Tuan rumah menyediakan nasi goreng ayam dan kopi Aceh yang segera kami embat tandas. Baru terasa lapar abizz setelah jam-jam menekan. Setelah botol infus berwarna merah jambu habis, kami minta diri berhubung sudah jam 12:00 malam. Baru nyadar bahwa BBM sudah mendekati nadir. Mobil saya belokkan ke sebuah stasiun yang berlogo tiga warna Merah, Hijau, Biru. Antrean panjang namun hanya seorang petugas yang melayani pom.

Ketika giliran saya tiba, baru satu liter diisi, pompa sudah menyentak berhenti, liter kedua pompa menyentak sama. Sang juru isi bergumam “tangkinya kosong ya pak!“.

Lha sejak kapan tangki dalam keadaan full baru diisi bensin?” tanya saya.

Kalau tangkinya kosong, anginnya mengganggu pompa kami….

Seumur-umur mengisi bensin ya baru hari ini saya dikomplin penjual lantaran menyisakan bensin 10 liter dalam tangki. Dan Logo warna merah, biru, hijau tervisualisasikan menjadi Merah, Biru Hijau dan buram, manakala saya lihat stasiun berlogo kerang berdiri tegak tak jauh dari situ.

Tidak perut tidak mobil, kalau sedang kosong lalu diisi mendadak. Bisa timbul masalah baru.

Mimbar Saputro

Burung Hantu dan Irah


Depan rumahku ada sebuah lampu hasil swadaya warga dengan cara menggantol listrik secara bebas, langsung dan sedikit rahasia. Penerangan jalan dimaksud agar “iseng.” istilah lain untuk hal yang bersifat senyap dan membuat bulu roma berdiri. Tetapi sejak saya di Bekasi, penerangan tersebut saya biarkan sampai lampunya “dut“.

Alasan lain, aku kurang sreg dengan penerangan liar ini sebab kalau ditelusuri ada sebuah kabel rahasia yang tersambung ke rumah warga yang memasang lampu tersebut. Rupanya ia tergoda untuk mendapatkan tambahan listrik gratis ke rumahnya.

Lalu aku menggantikannya lampu dari rumah yang dipasang sedikit menjorok keluar sehingga sinarnya mampu menerobos keluar pagar dan memberikan sedikit penerangan, sementara bekas penerangan kubiarkan terlantar.

Belakangan ini warga gempar, seekor burung hantu kerap bertengger di cagak bekas lampu.
Apa yang salah dengan seekor burung hantu mencari makan, atau ular yang kesasar kerumah saya. Ini desa “Rawa Bogo” ada pohon “Pasar Kecapi” ada hutan “Jati Makmur” – masih banyak pohon besar yang semoga tetap disana untuk memberikan perlindungan bagi habitat burung langsa ini.

Apalagi mahluk berjambul halus yang besarnya “adeb-adebi” ini sering berteriak “kreaaak” memecah kesunyian saat berhasil memperoleh salah satu rantai makanan berupa katak, tikus, ular atau serangga malam, sambil menyeruak diantara gerumbulan semak menuju pepohonan besar.

Tetapi bagi bagi warga apalagi Irah, 16, asisten Kitchen Cabinet. Kicau merdu mahluk tersebut sangat nggegirisi sebab jauh dari lagu “uhu-uhu suaranya merdu“.

Merdu apaan, katanya tubuh mungil berkulit hitam ini sambil menahan gemetar mendekati histeris. Sudah itu munculnya setelah magrib terbenam lagi.Sepertinya Irah tetap percaya ucapan turun temurun di kampung bahwa burung hantu “owl messenger” dari dunia demit ora ketok. Seperti “pre-alert” akan datangnya berita kedatangan batara Yamadipati.

Pokoknya burung Hantu adalah “ora ilok” begitu di benak gadis berambut sebahu ini, ia adalah jelmaan Nenek Sihir menyedot darah bayi-bayi yang terbuai dalam tidurnya.

Celakanya lagi dia baru saja bekerja untuk 3 minggu bersama kami sudah ringkes-ringkes minta pamit mundur. Maka repotlah kami membujukinya agar niatnya dibatalkan.

Keputusan Irah untuk “cabut” bukannya tanpa resiko. Maklum ia sudah bekerja saat usianya baru “retes” remaja pada 12 tahun. “Baru kelas lima, bapak menyuruh saya bekerja“.

Singkatnya ia diminta ambil alih tanggung jawab orang tuanya yang sehat bugar. Semua bukan untuk dirinya. Ayahnya terbiasa pasang tarif 400.000 rupiah yang diambilnya tiap bulan melalui BCA. Bila jumlahnya kurang atau uang sudah habis sang “pemerah anak” ini naik darah.

Pernah Irah berbohong bahwa gajinya kurang dari 400.000 lantaran sebagai perempuan ia ingin bersolek, bercelana legging, syukur punya handphone. Order dari kampung langsung menyengat.

Keluar segera dari “bendaramu” (bosmu) dan cari pekerjaan yang bergaji tinggi. Ini urusan UMR. Di Jakarta peluang bekerja sangat banyak… Entah setelah memutuskan hubungan SLJJ sang ayah juga cari kerja sesuai perkataannya? Irah hanya mengangkat bahu, namun artinya tegas “nganggur!.

Celakanya lagi adik perempuannya, saudara-saudara yang di Jakarta akan datang mengeroyok Irah dengan kata-kata ala Ustad dan Ustadzah kita kalau menakut-nakuti umatnya. Orang yang tidak berbakti kepada orang tuanya bakalan kuwalat dan masuk neraka. Tetapi orang orang tua yang memaksa anak kelas 5 SD menjadi penopang hidup keluarganya aman-aman saja duduk dimeja judi togel.

Debut karirnya ia menjadi babby sitter. Mengantarkan anak taukenya ke sekolah. Betapa gembira sang anak kalau sudah pulang sekolah, lepas tekanan yang melelahkan, apalagi boleh jajan. Sementara sang pemomong, bibir senyum namun hati teriris, ia hanya bisa membawa buku sekolah orang lain. “Alangkah bahagianya bisa bersekolah. Duh Gusti…

Sebuah cita-cita yang dinafikan oleh umumnya para pekerja kasar.

Di panggil pulang kampung

Lalu ada tilpun dari familinya, bahwa Irah harus pulang lantaran neneknya sakit, padahal sejatinya sudah meninggal. Nenek yang disayangi dan selalu membelanya dari tekanan ayahnya. Tapi biaya penguburan dan “selamatan” ia harus menanggungnya. Sehingga berita kematian diplintir menjadi “nenek sakit keras.”

Ira pulang lantas menunggu upacara tujuh hari seperti layaknya tradisi di desanya. Ia kembali ke Jakarta tatkala sang “pemerah anak” sudah mulai sering marah-marah. Sialnya, setiba di rumah tuannya posisi pemomong anak sudah diambil orang lain. Bahkan beberapa potong baju masih tertinggal disana. Ia jadi pengangguran, tinggal pada kontrakan sempit kerabatnya.

Itulah awal anak cerdas dan sigap gawe ini bekerja pada kami Maret 2006 ini.

****

Kalau saja Irah tidak rabun-komputer saya akan bilang, selain ada MSN Messenger ada Yahoo Messenger, ada OwlMessenger misalnya dalam cerita Harry Potter yang selalu mendapat surat, koran, bahkan titipan paket yang dibawa oleh Harriet sang Burung Hantu Putih.Kalau saja Irah sekolah, mungkin dia tahu bahwa sebagai binatang nocturnal (kelayapan diwaktu malam) sehingga bergelar sang elang malam ini didapuk sebagai simbol pengetahuan lantaran kemampuan matanya yang nyaris sempurna menembus belukar malam.

Andai saja Irah pernah baca sejarah mengenai Dewi Yunani yang selalu membawa Celepuk sebagai simbol Dewi Kebijaksanaan. Burung Hantu yang terbang didepan pasukan Yunani selalu diterjemahkan sebagai “Victory.”Irah belum tahu bahwa dalam shamanisme, burung hantu dikaitkan dengan keadaan yang “waskita”. Kemampuan melihat sebelum terjadi, mendengar sebelum diucapkan.

*****
Di layar TV saat Basuki dengan cerdas mengiklankan SUKRO kami terpengaruh, dan meminta Irah beli di warung, melewati jalan tanah merah yang selalu ditimpa hujan setiap sore sehingga perlu pakai sepatu boot. Tapi yang paling menakutkannya disisi jalan ada kuburan keluarga, mana gelap lagi. Belum lagi cerita “sirik” bahwa salah satu tetangga kami memelihara jin untuk ambil alih tugas Satpam. Dan poskonya adalah kebun singkong di “belor” rumah. Belor adalah seBElah Lor. Tapi wetan tidak disingkat Setan.

Melihat wajahnya ragu-ragu saya melihat kesempatan membesarkan hatinya. Sekalian cari Majalah. Melihat saya besiap pergi, gantian, perempuan pecandu sinetron Cincin dan Leontin ini yang kuatir: “sudah malam pak!, nggak takut?”

“Entar kalau pulangnya badanku ada yang kurang aku kasih tahu kamu ya….” kata saya. Saya kadang harus sok-sok berani, sok pamer “bisa berdialog dengan dunia lelembut” – pasalnya persepsi masyarakat kadang mengacaukan sehingga mudah diterror dengan isu yang ditiupkan.

Dulu kantor saya dibilang ada penampakan. Sebulan kemudian, 10 set komputer diangkut maling.Lalu saya bilang, nanti kalau ketemu muka dengan si Celepuk ini akan saya tanya dia bawa surat panggilan atau sapu terbang. Atau ingin menyampaikan bahwa Visa Australia saya yang rendet jalannya bisa di proses.

Irah senyum ketika dia melihat saya pulang utuh.Irah adalah satu dari jutaan pembantu mencari peruntungan di kota besar. Mereka bekerja 30 hari sebulan, sementara ia sendiri mengambil 50.000 per bulan pun berbonus ketakutan. Mudah-mudahan Ira kerasan bekerja dengan keluarga Mimbar yang cuma 3 orang dan seekor Celepuk Jawa yang bebas.

Kreaaaaak…. (2 kali)

Bekasi
3/24/2006
Mimbar Bb. SAPUTRO