Bakmi Bangka


Sebentar saja Mie Bangka ( Mie+Ayam+tauge) ditemani Bakso dan Pangsit sudah ludes. Rasanya belum nendang. Sekalian menunggu pesan minuman, maka semangkok Bakso kami pesan. Dan berhasil.

Perut yang sudah puasa sejak pukul delapan belas kemarin mulai tenang. Sambil tunggu punya tunggu, sebuah mobil diurapi shampo kemudian masuk kedalam ruang bilas sambil di gosok dengan kemoceng otomatis.

Mobil selesai dengan basah dan bersih, tetapi kerongkongan masih kering. Ternyata minuman belum juga datang.

Akhirnya kedai Bakmi Bangka Super kami tinggalkan setelah sedikit berpesan – mbak kenapa pesanan minuman tidak kunjung tiba.

Tapi sambil larak lirik, memang teman pengudap lain makan juga zonder minum..

 

TKP Jalan Raya Jati Makmur, Pondok Duta

Satu Porsi Mie dan Bakso Lima Belas Ribu Rupiah

 

Advertisements

Jalan Raya Australia


s4100032.jpg

Masih seputar mengungsi sehubungan dengan Siklun Tropical – Nicholas bulan Februari 2008

Sambil menunggu waktu makan malam, jam 19 Waktu Australia Barat kita masih melihat matahari kinclong-kinclong maka dua pekerja pengeboran (pengungsi) sedang berbicang mengenai kemampuan masing-masing handphone menerima signal.

Victor seorang Filipino yang tinggal di Selandia Baru dengan HP mahal yang baru dibelinya ternyata hanya mampu menerima satu bar signal. Tak heran istrinya di sering kebingungan sambungan tilpun terputus begitu saja. Lawan bicara Bambang mengatakan HP-nya termurah didunia tetapi mampu menjelajah sampai ke Nologaten dibelakang Ambarukmo Plaza – Ngayogyokarto.

Saat mereka bertukar pikiran, saya menjauh dan memotret jalanan aspal pedalaman Australia. Nampak seperti dipoles tipis berbeda dengan jalanan kita yang sepertinya menggunakan rumus tiap kali diperbaiki harus dipertebal.

Aku tinggal di Bekasi saudara-saudaraku tercinta. Masuk wilayah JawaBarat – Perbatasan antara Pondok Gede dan Jawa Barat. Kalau pakai tol dua jam baru sampai ke Bandung ibukota Jawa Barat.

Jalanan di daerah kami tak pernah beres. Para pimpinan obral janji, jalan ratusan kilometer jalan rusak, yang diperbaiki cuma sekitar puluhan klik.

Pernah sekali saya dibikin bungah dan berbinar-binar, tumpukan baru krakal dan pasir menggunung dipinggir jalan. Hari ini mereka menggunung malamnya menghilang lantaran disapu hujan begitu seterusnya. Ketika hujan reda tumpukan menggunung datang lagi. Lalu nampak pekerja sibuk menggali sana sini. Ternyata hanya got yang mereka semen itupun cuma sepotong kecil sementara jalannya egp.

Ironis sekali meredeka 63tahun lebih warga hanya ingin sebuah jalan yang bukan mirip kubangan kerbau. Pekerjaan yang sia-sia kecuali Daftar IsianProyek yang mengalir deras tentunya. Angkot pengangkutan vital bangsa ini harus berjuang untuk memperpanjang usia suku cadang kendaraan yang cepat koma lantaran berperang melawan jalan yang teramat buruk. Sudah dipalak para bandit berselimut timer – petugas  setengah resmi masih  dengan ancaman kenaikan bahan bakar namun dilarang menaikkan tarif angkutan.

Rasanya kalau saya berdarah separatis macam alm Mayor Alfredo Reinadonya dari Dili, saya akan bikin pasukan pemberontak untuk berkoalisi dengan Pemerintah Propinsi Jakarta. Agar kami memiliki jalan sebaik saudara tua kami. Rasa tidak puas kami sebagai daerah yang diterlantarkan sederhana saja. Kalau sudah begini, hikmah yang dirasakan adalah “oh begini rasanya penduduk Papua yang kadang marah merasa terlantarkan pemerintahannya…

Akibat kesumat memiliki jalan bagus, saya tidak segan-segan kenorakan memotret jalan-jalan diluar negeri agar bisa berhalusinasi memiliki jalan yang bagus. Membuat jalan tidak perlu setebal kulit dinosaurus, bagian pinggiran diberi cat putih sebagai pedoman bagi pengendara agar tidak kehilangan pandangan. Masih lagi diberi campuran baru kasar berwarna mereah untuk membedakan badan jalan. Mirip ampyang (kue kacang) yang juga berfungsi menyerap air karena lebih berpori.Pemimpin Jawa Barat… saya akan pilih sampeyan, saya promosikan seperti saya gerilya kepada partai politik bendera biru saat pemilu kemarin. Asal perbaiki jalan yang seharusnya hak rakyat. Tidak banyak kok..

Tol Jati-Asih dan Warten Ketupat Sayur


Ada yang berubah di kawasan Jatiasih-Pondok Gede semenjak bulan September 2006, raungan remaja para penikmat trek-trekan (balapan liar) sepeda motor “bebek” yang biasa unjuk gigi pada sore hari, sudah tidak nampak memenuhi ruas jalan tol Jatiwarna – Jatiasih. Sayapun kehilangan lokasi olah raga pagi yang sangat luas, beraspal, alias jalan tol. Pasalnya, se(MEN)jak ruas tol ini sudah dibuka dengan ongkos dua ribu rupiah, untuk satu trip, maka pejalan kaki harus merelakan memperkuat otot tubuhnya cukup dipinggiran jalan tol. Sebuah fasilitas mewah yang gratis, usai sudah. Menurut penjaga pintu tol, seminggu menjelang lebaran, ruas tol menuju Cikampek akan dibuka dan seminggu setelah lebaran akan ditutup. Jadi kemungkinan besar anda para pemudik lebaran 2006 akan melalui rumah saya. Di mulut pintu tol Jatiasih, ada wartend Ke(t)upat Sayur yang sepertinya tak putus dirundung pelanggan dari kelas roda dua sampai roda empat. Umumnya pekerja “komuter” dari Bekasi -Jakarta dilihat dari wajah yang letih, berlemak, jaket tebal, baju yang kusut dan cara makan yang “ngethekut” alias lahap tanpa koma.. Ketika harlogie mendekati digital 23:00-an, pas perut tiba-tiba lapar. Saya langsung parkir di halaman komplek yang cukup besar. Sebuah service komputer memajang spanduk dengan nomor Jalan JatiAsih No50A. TKP antara pintu masuk dengan pintu keluar, utara jalan Raya Jatiasih. Tapi tirai Tenda Ketupat Sayur cabang Kebun Jeruk, menulis singkat Jalan KomsenD (pakai D). Siang hari, tempat ini adalah arena para montir mobil. Sebuah kuali logam ukuran jumbo nampak sarat dengan kuah dan potongan daging seperti usus, ginjal, hati, babat, yang begitu empuk sehingga kalau kata orang Citayam “kagak ngelawan kalau ditimpali garpu” maksudnya begitu lunak. Tatkala saya menghempaskan tubuh di bangku kayu panjang, sambil meraih sebungkus emping melinjo, kulirik wajan bak sungai dimusim kemarau. Kuah dan daging tampak mulai surut. Lha rak tenan. Dugaan saya betul. penjual mendeklarasikan kebulatan tekad bahwa bahwa Ketupat Sayur tandas. Maklum banyak yang membawa makanan dalam tas kresek hitam, untuk disantap di rumah. Saya bicara mengenai jurusan Ketupat Sayur. Sajian lain yang tersedia disini adalah bebek goreng, tahu, tempe, memenuhi etalase kaca sehingga pembeli tinggal main tunjuk apa yang diinginkan. Yang istimewa adalah usus dan ampela bebek, digoreng kering sampai begitu renyah. Masakan ini memang teman baik lauk nasi uduk. apalagi ada sambal colek kacang bertabur gorengan bawang. Wuih wuih.. Tetapi bagi yang bermasalah dengan Kolesterol, mohon maaf. Lalu bagi yang berlidah kurang “njawani” alias lebih doyan asin-asin, “nyuwun sewu”, karena rasa kuah dan irisan hijau keputihan dari labu siam memang resep antik bumbu Batavia featuring Porong-Java. Mumpung bulan puasa. Kalau waktu berbuka puasa sudah mepet untuk pulang kerumah, maka di jalan Raya Jati Asih no 50A, depan pintu tol Jati Asih, sekali lagi dekat Service Komputer dan penjual barang Cindera Mata. Adalah alternatip yang perlu dilirik. Mereka memang buka setelah jam 4:30 sore. Dan harus siap antri lantaran peminatnya berjubel. Pengunjung satu persatu sudah meninggalkan bangku. Ada yang dengan wajah “kuciwa” sebab kehabisan iso-babat kesukaannya. Sayapun harus bergegas pulang. Dua porsi ketupat sayur, dengan irisan labu siam, bertabur bawang goreng, lalu semangkok sayur santan terdiri dari dua potong hati, dua potong kulit kaki. Masih kurang puas, semur telur dan kentang, sebuah gorengan ati-ampela (bebek), dua bungkus emping, dua gelas es teh dengan aroma kencang “Tong Ji” – menyodorkan rekening duapuluh ribu rupiah plus seribu rupiah. Betul-betul harga super bazaar. Ada satu rasa penasaran belum terjawab, ada dua “glundungan” – kubis van kol, kira-kira untuk apa ya. Ini memang lakon lain dari de kubis code… Friday, September 22, 2006

Ulang Tahunnya – di cambuki


Bayangan hukuman cambuk selalu mengingatkan saya pada “Kartini” yang di Tanah Arab, lalu yang menimpa seorang anak Amrik yang coret-coret di Singapore. Tetapi ada hukuman cambuk yang memberi pelajaran kepada seseorang agar lari lebih cepat, istilahnya tinggal landas menuju kemakmuran…..

Sebuah gedung dengan corak Eropah berasimilasi Jawa dibangun pada tahun 1775 oleh Hooyman. Dituturkan oleh penulis Belanda bahwa interiornya dibuat dengan selera extravaganza, kusen pintu dan jendela diberi ukiran indah serta langit-langit dan dindingnya diperelok dengan pigura artifisial.

Karena rumah ini besar, sekalipun pemiliknya merendah dengan menyebut Pondok, tetapi masyarakat setempat memanggil langoed tersebut sebagai Pondok Gede. Keberadaan Hooyman tidak banyak diceritakan dalam sejarah Pondok Gede.

Seperempat abad kemudian kepemilikan tanah langoed Pondok Gede ini berpindah ke tangan Lendeert Miero yang terkenal berlidah tajam, mudah memaki-maki orang dengan alasan yang sepele. Inilah orang nyentrik tapi asoy yang ditulis sejarah.

Toean tanah Lendeert Miero alias Juda Leo Ezekiel adalah putera Yahudi asal Polandia yang ikut mencari nafkah di Betawi. Ia datang ke Betawi dalam keadan lontang-lantung, dan bisa bangkit menjadi Tuan Tanah kaya raya. Selain langoed Pondok Gede ia juga memiliki sebuah rumah mewah yang sampai sekarang (2003) masih bisa disaksiken kehebatannya. Gedung Arsip Nasional di jalan GajahMada, Jakarta Pusat.

Setelah hidup sukses, kerjanya hanya bersenang-senang. Lendeert mengundang ratusan tamu bukan untuk merayakan hari ulang tahunnya melainkan hari kepedihannya. Rupanya di masa mudanya ia pernah jadi opas jaga atau centeng.

Suatu hari ia terlanggar apes, kedapatan menggeros (tidur nyenyak) waktu jam kerja sehingga mendapat hukuman sebanyak 50 kali sabetan rotan dipantatnya. Cambukan ini dianggap pemicu untuk lari cepat dan lepas landas dari kemiskinan.

Ia berhasil…

Sekalipun memiliki rumah di Betawi, tetapi ia sering mengunjungi istananya di Pondok Gede. Orang setempat menyebutnya pondok yang gede sehingga kawasan itu terkenal dengan nama Pondok Gede.

Lendeert meninggal dalam usia 79 tahun dan dimakamkan di samping rumahnya di pondok gede. Konon saat kematiannya ia dalam keadaan kesepian, maklum teman yang mendekatinya sudah menjauh satu persatu. Tetapi makam itu dibongkar dan dijadikan rumah hunian penduduk. Bahkan nisannyapun dicongkel untuk umpak-umpak rumah.

Kalau soal merusak cagar budaya kita bisa diunggulkan. Buktinya bangunan bekas Sin Hwa alias Candra Naya di jalan Gajahmada hendak dipindahkan. Maksudnya jelas dihancurkan lalu akan dibuat replikanya di taman mini. Lha auranya sudah beda.

Rumahnya “pondok gede” pada 1992 dirobohkan untuk dijadikan Toserba.

Banyak pihak yang menyayangkan pembongkaran tersebut, tetapi siapa perduli dengan sejarah. Jadi kalau ada yang bertanya, kenapa namanya Pondok Gede padahal pondoknya tidak ada.

Itulah jawabannya
Mimbar Seputro
+62811806549
Date: Thu Jul 3, 2003 8:49 am