CANDI IJO


Candi Ijo kalau menilik namanya kemungkinan besar candi Hindu ini diambil dari nama Bukit Ijo yang memiliki ketinggian 420m diatas muka laut. Kawasan ini masuk kampung atau Ndusun Groyokan, desa Sambirejo, Prambanan.

 

Lalu saya baca penjelasan dimuka candi. Berdasarkan Prasasti Poh ada disebut menyebut bahwa pada tahun 906 Masehi sudah ada desa bernama WuangHijo.

Prasasti POH menyebut sebuat upacara yang dilakukan didesa bernama WuangIjo. Persoalannya Prasasti Poh cuma cerita bahwa jaman itu sungai diluruskan.

Namun Candi ini sempat menghilang terkubur. Untunglah Orang Belanda yang secara kebetulan menemukan gundukan batu yang ternyata candi. Saat itu dia sedang mencari lahan untuk tanaman Tebu.

Belanda VOC itu namanya HE Doorepaal pada 1886. Ia melihat bahwa struktur candi terdiri dari 11 Undakan dan 17 group candi.

Dari situ keluar istilah candi A sebagai Candi Utama dan candi kecil dinamakan Perwara B,C,D.

Saat ini proses restorasi sisa candi masih berlangsung sekalipun  kadang On Off, misalnya ada gempabumi, yang menyebabkan beberapa bagian candi rusak.

Candi Ijo menjadi terkenal sejak kota Prambanan, diperkenalkan Obyek wisata Tebing Breksi. Pengunjung tebing akan dapat membaca spanduk ke Candi Ijo. Lalu pemda setempat mengecor jalan sehingga mobil atau motor mudah mencapai arah sana.
Spot yang elok untuk penggemar selfi berlatar belakang Yogya, Candi, bahkan kadangkala pesawat yang hendak mendarat.
Di pelataran parkir candi Ijo ada panggung spot untuk berfoto. Hati-hati, pagar kayu, tidak ada pengawas keselamatan kecuali kotak sumbangan yang menuntun anda naik ke spot.
Karena masih banyak temuan-temuan maka anda bisa menyaksikan bagaimana sebuah proses penggalian dan restorasi dilakukan.
Sayangnya, Candi ini tidak ramah DRONE
Advertisements