Mesin cetakan cendhol


Advertisements

Melongok Kampung Pensiunan


Namanya kawasan Admiralty, apartemen kelas Studion yang isinya adalah para pensiunan. Umumnya mereka meninggalkan kemewahan Flat, Condo – dan turun gunung tinggal di Studio (ruang minimalis ukurannya) dengan tujuan bisa kembali seperti dulu. Saat Singapura masih kampung. Saat orang bertegur sapa setiap bertemu, saat berbelanja menjadi ajang komunikasi, saat pagi maupun sore mereka kongo-kongko sambil “ngeteh”

Bangunan ini terdiri dari sebelas lantai. Bedanya lantai Studio diberi vinil anti slip, maklum bahaya terpeleset sangat besar bagi kaum seperti saya. Bahkan toiletpun diberi pegangan kokoh dari stainless steel agar mereka bisa keluar masuk toilet sambil berpegangan. Agar jemur baju lebih mudah, maka digunakan rak jemuran yang bisa dilipat.

Alat memasakpun berupa “induction hob” koil pemanas sehingga para lansia tak perlu bersentuhan dengan api.

Maklum lagi pensiunan kalau tangannya nggak “nggregeli” lupanya banyak. Misalnya kalau pakai kompor gas memasak air, sampai air “over cooked” – pun mereka (saya) terkadang lupa jerang air.

Di lantai Sembilan disedakan ruangan terbuka khusus tanaman hias, pepohonan agar masa kecil bertanam bisa dipuaskan disini.

Tentu saja kampung ini dilengkapi fasilitas  kesehatan, olah raga, hawker centre dengan harga akan berkisar tiga puluh ribu ruiah untuk dua kali makan.

Karena mengakomodasi lansia doyan ngobrol, maka tak kurang lima puluh kedai artinya ada 900 kursi disediakan buat jajan para lansia ini.

Ah sampai hampir lupa.. Maklum lagi lagi.. IMG_0010Rata-rata orang Singapore – menjalankan praktek “dobel-gardan” – suami istri kerja. Maka para pensiunan kebagian tugas menyenangkan.  Antar jemput cucu ke sekolah, mengajaknya bermain di kampung Pensunan. Ini artinya fasilitas dari Lansia sampai Balita-pun tersedia.

 

 

Sampai kapan akan bekerja


Dua pria seumuran saya dilihat dari BMI -body mass index – yang sudah overscale alias mblandang kemana-mana, lalu gerakan tubuh sewaktu akan duduk terkesan Bekhoe akan berbelok. Saat mereka bicara, sebentar napasnya tersengal. Pria ini perwakilan dari sebuah lembaga semacam pemberdayaan manusia. Mereka datang berjimat – watak manusia bisa dilihat dari uji warna. Didalam tubuh yang sehat tertanam jiwa yang kuat nampaknya cuma slogan untuk orang lain.

Saat pertemuan mingguan di rig, ia menarik 6 orang dengan mata tertutup lalu mereka mengikuti instruksi seperti melipat kertas, memotong, melipat lagi. Hasilnya sudah ditebak, pakar-pakar ini ingin mengatakan bahwa sekalipun tujuannya sama, kadang hasilnya berbeda.

Saat di rig saya tidak sempat berbicara dengan mereka namun bertemu saat menunggu pesawat yang akan membawa ke Singapura. Ketika tahu saya dari Jakarta, langsung salah satu mereka menukas punya teman di Rig dipanggil “Leon Spink” – lantaran semua atribut petinju besar waktu itu diikuti oleh teman tadi.

Cuma kok lama-lama si Leon menjadi pendiam. Usut punya usut, dengan dipanggil nama Leon, si pemuda tadi merasa bahwa temannya tidak menghargai keberadaan nama pemberian orang tuanya. “Saya belajar bahwa kepada orang Indonesia, kami harus menghapal nama aselinya

Suasana sempat terkoyak ketika salah satu dari mereka bilang, “Sampai kapan akan bekerja di rig, tidak terpikir pensiun, keluarga dst..” sebuah pertanyaan klasikal. Pria asal Columbia ternyata perut gendutnya bisa jadi lantaran mengunyah puluhan eksemplar buku Bob Kiyoshaki.

Enteng saya menjawab, saya kepinginnya pakai topi Akubara, bawa tongkat, pakai baju setelan putih-putih, pakai jam rantai emas seperti di filem November 28, lalu tiap hari ada orang membawakan uang berkarung-karung. – lalu sebentar-sebentar bicara Eh mandor, Eh Bek ambilkan tuan punya Kuda.

Saya lihat rahang bawahnya menurun sedikit. Agar lebih turun lagi saya menambahkan “but I have no choice. I am just like a taxi driver. You stay at car pool, you have no buck, you have to hit the road to get money..

Saya tak habis pikir, mengapa ada orang begitu mengagulkan pensiun padahal badan masih kuat bisanya orang ini bekerja di institusi pemberdayaan manusia. Harusnya pemensiunan orang. Padahal kalau mau dibalik mudah saja saya bilang “lha sampeyan gelayaran (main) ke rig pengeboran juga ngapain, kenapa tidak ambil pensiun…” – tetapi orang Jawa bilang namanya “sengkring” alias volume meninggi karena marah.

Empat tahun saya sudah bekerja menjadi kuli pengeboran, saya terang-terangan mengatakan sebagai TKI, so what gitu lho. Pasalnya begitu jreng – kaki menapak kedalam helikopter yang menjemput kami, maka thestinggalah semua persoalan di rig, jangan dibawa pulang ke rumah.

Kadang ada pertanyaan dari kerabat, bagaimana rasanya bekerja 12 jam sehari di Offshore Rig.

Lalu saya jawab, bagaimana dengan anda sendiri yang jam setengah lima pagi harus sudah berada di jalan, lantas pulang paling tidak jam 8 malam lebih lantaran selalu macet mulai dari berangkat dan pulang kerja.

Biasanya kerabat tertawa sadar bahwa mereka sebetulnyabekerja-Full-stress lebih dari dua belas jam. Sampai dirumahpun mereka masih ditilpun pimpinan, hari Sabtu kadang minggu sepintas kelihatan libur tetapi HP masih sering terhubung dengan urusan kantor.

Saya sempat menjelaskan kepada kerabat bahwa sekali waktu terjadi perubahan pergantian crew sehingga pihak di rig harus bekerja lebih dari semestinya yaitu extra dua jam. Semua dicatat sebagai uang lembur. Di negeri kita, pegawai ditekan sampai bekerja jauh malam dengan imbalan sebesar 2M (Makasih Mas) saja.

Surat Perpisahan Terhadap Kawan di Kantor Lama


Date: Fri Aug 20, 2004 4:54 pm

Saya menerima beberapa pertanyaan seputar kepindahan saya dari perusahaan yang lama. Ada yang bilang retired, ada yang really tired dan banyak lagi.Sebuah konsekwensi ketika perusahaan saya yang lama melakukan “merger” dengan perusahaan kecil tetapi militan yang terletak di kawasan Cikarang. Tidak mungkin satu perusahaan akan terdapat dua pimpinan, maka saya harus segera ambil kesempatan emas ini. Tetapi sebelumnya sayapun bilang kepada teman-teman yang dibelakang bersorak sorai karena “satu ganjalan hilang” – bahwa kepergian saya adalah ujung dari bola salju yang kelak akan membesar dan menimpa para senior di perusahaan tersebut.

Saya kutipkan salam perpisahan saya kepada milis “mudlogging” yang isinya adalah teman-teman satu perusahaan. Disini kami membahas strategy, teknology, gossip kompetitor dan banyak lagi. Hasilnya ada yang suka dengan milis tersebut, tetapi ada yang skeptis. Kutipan dibawah ini menjelaskan sedikit hijrahnya saya. Salam.

Pensiun…
Alangkah enaknya bilamana menjadi pegawai Mahkamah Agung, bisa memilih pensiun sendiri, kapan saja suka. Padahal kata pensiun bagi sementara orang adalah momok. Apalagi konotasi pensiun sudah berubah, pensiun berarti pemberhentian sepihak dari perusahaan tempat kita bekerja.

Kadang sukar dimengerti, pegawai yang banyak absen dikantor, bahkan sakit-sakitan sehingga tidak bisa bekerja 100% karena kondisi fisik bahkan dipertahankan sementara pegawai yang masih berprestasi digeser karena alasan “suka dan tidak suka..

Kadang sering terjadi penyesalan mengapa selama loyalitas kita 100% lebih terhadap perusahaan sehingga tatkala ada tawaran yang lebih baik, kita kembali ke jurus pertama ajaran orang tua yaitu bekerja yang jujur, giat perusahaan akan mereward pengorbanan kita.

Ternyata jaman sudah berubah. Pilihan menjadi pegawai yang “budiman” yaitu penurut, yes Sir, akan lebih disukai ketimbang pegawai kreatip yang terkadang sedikit nakal.

Di Indonesia menjadi pensiunan berarti siap hidup mundur. Beda dengan di Singapore, anda pensiun, sebuah rumah di apartemen sudah ditangan. Di Australia, anda bisa bepergian dengan 50% harga. Jaman dulu-pun pensiunan aamtenar Belanda bisa hidup nyaman. Namun tidak jaman sekarang.

Sejak 1 Agustus 2004, setelah bekerja sejak Juli 1998, saya mendapat tawaran pensiun dini. Dan saya simpan kata perpisahan saya.

KUTIPAN dan ditambah sana sini. Kata teman-teman kalimatnya
merindingkan……….. [Mimbar]

*****

Jakarta 1 Agustus 2004

Para sahabatku para BALA-Geoprolog Intiwijaya.

Seperti yang mungkin telah diketahui bersama maka terhitung mulai Agustus 2004 berondongan e-mail saya (di milis Geoprolog) tidak akan muncul lagi. Pasalnya, saya mengambil tawaran dari perusahaan Geoservices Perancis untuk program “early retirement” sebagaimana yang sudah dicanangkan sebagai kebijakan perusahaan. Dalam dunia perminyakan hal demikian lumrah terjadi.

Sementara poster sebesar mammouth terpampang agar dibaca para tamu “Karyawan adalah Asset Perusahaan..” – maka pada prakteknya menjadi karyawan adalan sejumlah mur dan baut yang kalau dirasakan sudah berkarat harus diganti terlebih dahulu. Saya salah satu mur dan baut yang dianggap sudah karatan, penyok dan dol.

Dalam kurun waktu 24 tahun, mengembara dari Elnusa Data Unit, Exploration Logging, belajar peralatan Data Logger Canada, Petron Industry-Houston, Martin Decker sampai ke Geoservices maka keputusan di-eliminasi dari perusahaan saya terima dengan legawa.

Saya bahkan cenderung memancing-mancing dan menghangatkan isu “eliminasi” – yang sebetulnya di “sounding” sudah terdengar pada April 2002 jadi rentang waktunya sudah cukup lama untuk diendapkan, difermentasikan sekitar 2 tahun lalu.

Jadi istilah kejadian mendadak, lalu timbul spekulasi, mitzalnya ada, tidak benar adanya. Saya pendukung fanatik klub “pak pos tidak memencet bel dua kali..” – kasarnya mumpung perusahaan belum tipis dompetnya maka tawaran keluar dengan berpesangon ria mending langsung disambar.

Saya justru ingin memperkaya pengalaman batin saya dengan pengalaman-pengalaman menjadi anggota partai Panji Klantung (klontang klantung). Seperti keisengan saya dengan menabrak rambu peraturan yang dilarang perusahaan. Tidak jarang keisengan ini membuat murka para Dewa dari Menara Eiffel, tapi itulah dinamika dan romantika hidup.

Semua bemuara dari suatu pertanyaan kecil yang mengusik-usik rasa ingin tahu saya “mengapa terlanggar PHK itu aib, mengapa menjadi pensiun selalu dianggap sementara orang sebagai pecundang?” – bagaimana kalau peristiwa tersebut disikapi sebagai kemenangan.”

Para Ceo yang pensiun malah menulis pegalamannya “seperti ada kekuatan menarik dari segala penjuru, menghempaskan aku kepada suatu ketidak berdayaan. Atau tulis seorang Ceo yang lain “pergi sendiri ke kantor pos, menempelkan perangko, mengeposkan surat kepada sanak-keluarga, saya seperti orang tak berdaya…

Teman-teman sekalian.

Saya ingin berakrobatik dalam hidup. Bagaimana rasanya “tereliminasi” dari perusahaan yang sudah membesarkan saya. Bekerja dengan seorang Direktur yang selalu pasang badan didepan, manakala stafnya mulai diusik. Sementara pimpinan lain umumnya lebih bermahzab stempel “thats your fault“. Sungguh pengalaman bathin yang luar biasa.

Jujur saja keluarga sayapun bahkan tidak tahu. Baru setelah lappie, kijang dan handphone di kembalikan ke organisasi, lalu pak-bon bertanya, saya mau cuci mobil yang kijang kok nggak ada? mereka bertanya-tanya “what’s going on“. Yang jelas budget sehari-hari agak “disekeng.”

Saya hanya bilang “this is my prerogative” – hak mutlak saya, dan kalian tidak boleh protes. Demokrasi yang selama ini saya jalankan dalam keluarga, akhirnya berubah jadi otoritarian dalam beberapa hal.

Akhirul kalam, selama bergaul secara interaktip dalam 84 bulan ini sudah pasti ada kata, perbuatan dan kata-kata yang menyinggung anda sekalian secara tangensial maupun frontal. Mohon jangan disimpan dalam hati ya. Take care, all the best buat teman-teman semua.

MBS