Yu Gemi


SIAPA YU GEMI ITU
Mendadak nama ini muncul di HP saya. Oh ya saya bercerita melompat lompat.

Mengirimkan undangan nikah, saya menggunakan jasa ekspedisi yang kadang menjengkelkan tetapi ada unsur pembelajaran. Misalnya – tidak setiap orang “update” dengan alamat, sekalipun alamat sendiri.

Untuk memonitor dokumen yang dikirim maka saya menggunakan aplikasi di HP untuk melakukan pelacakan. Dengan memasukkan Nomor Resi, maka bisa diketahui – kapan kiriman tiba dan nama sang penerima.

Ada nama yang unik misalnya YBS. Setelah di utak atik gathuk, maksudnya Yang Bersangkutan Sendiri.  Petugas ekspedisi kadang tidak ragu menulis Pembantunya. Padahal kalau hal tak diharapkan terjadi, akan sulit mencari batang hidung sang penerima.

Umumnya ibu-ibu kurang suka menulis nama kecilnya sehingga tanda terima berisikan nama Bu Sudin karena suaminya pak Sudin. Padahal Nama Kecil lebih memiliki legitimasi dalam urusan hukum.

Dari nama penerima undangan, maka muncul nama unik Yu Gemi. Yu adalah singkatan dari Mbakyu artinya lagi kakak perempuan. Nama Yu atau mbakyu Gemi muncul akrab ditelinga saya sebab inilah asisten wara-wiri sahabat saya, kita singkat namanya ES.

Ibu ES banyak menulis tentang Yu Gemi, gayanya memasaknya, serta teman nonton filem India disaat senggang. Bahkan memasak lodeh-pun bunda ES seperti chef Yuna membuat kue. Serba cantik, serba yummy. Ia pernah seperti “gerowong” alias mencelos hatinya ketika Yu Gemi pulkam.

Hidup seperti hampa, komentarnya.

Yang ditangkap dari cerita beliau adalah Yu kita ini sudah di “wong-ke” alias tidak dianggap sebagai PRT, melainkan sahabat.

Advertisements

Dilarang Piknik di Singapur


Setidak-tidaknya demikian papan larangan yang banyak ditemui di kawasan sepanjang Orchard Road. Lha kok aneh, Singapura paling kebanjiran tamu dari Indonesia manakala ada isue akan ada kerusuhan rasial, kerusuhan agama. Tetapi mengapa setelah sampai di Singapura kita dilarang piknik

Sudah bukan rahasia bahwa saat hari libur besar seperti Sabtu dan Minggu kawasan Orchard Road selalu dipenuhi para mbak-mbak dan mas-mas yang setelah seharian bekerja, berbicara dalam bahasa Inggris, Mandarin, Jepang – lantas kepingin bebas sejenak, bertemu teman sekampung, setanah air di tempat rendevouz yang biasanya dipilih di kawasan Orchard Road.

Memandang mereka berpakaian ketat keluaran Giordano, Mark Spencer, tank top, dandanan serba menor, celana panjang – tas Charles and Keith, HP sampai BlackBerry model terbaru, kacamata Oakley original memang membuat pemandangan di Orchard Road menjadi hidup. Saya kadang tak mengenalinya kalau tidak menyaksikan mereka berhahahihi di celuler menggunakan logat daerah yang medok.

Mula-mula mereka hanya duduk-duduk saling bertukar SMS – menanyakan keadaan di kampung masing-masing.

Dasarnya kita suka bergerombol macam sekumpulan ikan Bilis, maka lambat laut komunitas ini makin melebar sehingga ruang bagi pejalan kaki mulai terdesak.

Kalau ditanah air, lapak-lapak kali lima sampai ketengah jalanpun dianggap suatu kewajaran. Namun para pengguna jalan mulai mengeluh “ngeri” kalau menerobos kawasan yang sudah mulai dikuasai sehari oleh para mbak kita dari Indonesia, Filipina atau India.

Apalagi beberapa mbak mulai membawa sendiri dingklik (bangku), lalu berawal dari arisan (lagu wajib kita kalau kumpul), menggelar dagangan sampai membuka mencure dan pedicure. Jelas membutuhkan waktu lama dan tempat.

Akhirnya pemerintah Singapura menempatkan larangan untuk duduk-duduk dan piknik di emper toko di kawasan Orchard Road.

Sekarang para mbak kita berkumpul di rumputan taman, atau masih dikawasan emper toko yang belum komplain

Tapi niat datang kesana adalah untuk cuci mata, kalau cuma pul-kumpul di taman apa yang dilihat? burung Jalak, Gagak atau burung Merpati?

Perumahan Elit Kedoya yang maut.


Geram karena ada dua pembantu dibunuh
Geram karena ada dua pembantu dibunuh

Geram karena ada dua pembantu dibunuh

Mas mbok ditulis itu kasus istri dokter yang sudah membunuh pembantunya sebanyak dua kali, lalu beritanya menghilang begitu saja. Nanti kalau dia membunuh pembantu yang ketiga, keempat apa akan kita biarkan begitu saja,” – yang bicara ini seorang ibu rumah tangga.

Dia geram membaca berita pembunuhan dilakukan didepan pembantunya yang lain dan selalu lolos dengan alasan “tekanan kejiwaan” – lalu bebas.

Yang saya kuatirkan (tapi dia bilang takutkan) sekarang kan media gencar mengekspos soal pembunuhan berantai yang dilakukan  Riyan, jangan-jangan dengan kekuatan uang diam-diam sang pembunuh lolos lagi, lalu membunuh lagi beberapa tahun kemudian..Belum lagi suami sang pembunuh kok enak saja tidak tahu kelakuan istrinya selama ini yang hobi menyiksa pembantu. Mustinya sang dokter spesialis anak juga diperiksa.”

Aduh, ibu membombardir saya seperti sulit disela.

Kalau nggak ada bahannya, saya punya klipping dari Warta Kota dan Kompas, mau” – tanyanya dengan kata “mau” seperti bahasa iklan yang menjual pelayanan berbasis selular yang termurah.

Menurut Salah satu harian Ibu Kota kejadian sadis  pada tanggal 22 Juli 2008 terjadi disebuah perumahan yang dihuni oleh orang Elite dan Terpelajar yaitu KEDOYA GARDEN – Kebon Jeruk. Pelakunya Renata Tan (49) istri Dokter Spesialis Anak, konon seperti kesetanan menjambak dan membenturkan kepala korban Septiana yang sedang mengepel di lantai dua sampai sekarat lalu diseret ke lantai satu dan disiram air panas.

Melihat korban tak bergerak, Renata Tan malahan marah dan menganggap korban berpura-pura pingsan atau tidur.

Tahun 1996 menurut Kapolresto Jakarta Barat, Renata pernah menyiksa pembantunya sampai tewas, tetapi bebas karena dinyatakan memiliki kepribadian Ganda oleh tim pemeriksanya. Publik curiga, kalau posisi Renata adalah orang miskin lalu membunuh temannya, apakah tim pemeriksa akan mengatakan hal yang sama (berkepribadian ganda). Atau kita menunggu jatuhnya korban pembantu lainnya di Kedoya Garden hanya kecolongan para sadiswan dan sadiswati yang pemain watak.

Sekali Mbak Irah – pamit, dua keluarga kehilangan pembantu ….


Gonjang ganjing daging sapi hilang dari pasaran, heboh bakteri Enterobacter Sakazakii (ES), Jaksa Ketua yang mencari koruptor tetapi nyambi mencuri dari koruptor belum menggoncangkan keluarga kami. Namun hari Minggu dua maret 2008 orang rumah bisa tertunduk meneteskan air mata.

Pasalnya sang deputy kepercayaannya sejak Februari 2006 tiba-tiba pamit untuk menikah dengan kerabat dekat seperti yang di inginkan oleh sang ayah. Modusnya biasa, keukeuh minta ijin pulang kampung lantaran ditilpun keluarga bahwa sang ayah muntah-muntah. Satu indikasi awal prt kita tak betah jika tilpun selalu berdering dari adik, kakak, keponakan, paklek entah siapa saja. Betul saja, Irah langsung pamit “cuma seminggu” pulang kampung – lantaran bapak sakit.

Beberapa hari lalu ia sempat mencium punggung tanganku pamitan sambil bilang “Irah pulang duluganya bahwa ya Pak..” – biasanya dia pulang membawa oleh-oleh beras tutu (tumbuk) merah kesukaanku. Namun kali ini setelah seminggu ia kirim pesan singkat mengatakan “Maaf Irah tidak boleh bekerja lagi ke Jakarta…

Saya masih ingat baru beberapa minggu bekerja dengan kami, pada bulan Maret 2006 sang ayah datang njujuk (tinggal) disalah satu familinya di bilangan Jakarta Barat. Malam harinya kami ditilpun lantaran diberitakan bahwa Irah sakit muntah-muntah dan tidak mampu untuk berjalan. Lalu kami bergegas menuju ke rumah kontrakannya. Melihat anaknya sakit sang ayah ternyata bergegas pulang “tinggal glanggang colong playu” ke kampung ketimbang mengurusi sakitnya sang puteri. Sementara pihak keluarga yang kuatir ketempuhan seperti mendesak Irah agar “jangan sakit dirumahnya” – tidak seoles balsem sebagai tindakan pertolongan dilakukan disini.

Malam itu juga Irah kami bawa ke rumah sakit. Tidak mudah mendapat ruang di rumah sakit sebab Jakarta sedang dilanda demam berdarah dan tidak sanggup menerima pasien baru. Saya harus minta tolong adik dr. Agus Sudrajat yang saat itu masih di jalan Tol untuk kembali kerumahnya dan membatalkan semua acaranya untuk menolong nyawa Irah.

Kami terlanjur jatuh hati. Tak heran, berpembawaan “merak hati” – membuat orang suka melihatnya, para tamu kami kerap memberinya tips.  Membalas email, membuka attachment, cukup satu kali ia diberi pengarahan, sisanya kita geleng-geleng melihat kecekatannya. Urusan mendaftarkan SIMCARD baru, memecah pulsa, mengisi pulsa, mengecek pulsa dia adalah kamus hidup.
Pakaian yang disandangnya keluaran merek dari luar negeri yang terkadang menimbulkan iri hati ABG “non PRT” se RT kami.

Baru sebentar bekerja di tempat kami Ira sudah memiliki HP, Gelang, Suweng (anting), Jam Tangan, Cincin, Tas, Sepatu sehingga kalau dia tidak mengaku siapa dirinya, orang akan menyangkanya anak SMA, kecuali memang wajahnya yang tertempa pekerjaan saat usia masih teramat belia. Tapi setiap kali ia pulang kampung terseoklah dia kembali menjadi Irah Gundul. Perhiasan dan uangnya ludes.

Ada lagi kebiasaannya sekali tempo ia pamit untu acara mingguan “main” ke rumah teman-temannya seprofesi. Bisa dipastikan penggemar Sinetron Fitri seperti mengalami semacam cuci otak atau “pencerahan” sebab keesokan harinya ia akan pamit dengan alasan menengok ayahnya di kampung.

Sebagai anak yang patuh, ancaman yang disampaikan temannya “bakal masuk neraka tidak mengikuti kata ayah” – sangat mempengaruhi bathin gadis kecil yang kuat salatnnya ini termasuk keputusan sang ayah bahwa Irah harus nikah dengan pemuda pilihan ayahnya.
Efek domino datang, sang Arjuna lain, Imam mendengar Irah menikah maka pemuda yang sehari-hari bekerja sebagai supir sebuah keluarga langsung pamit keluar kerja dan pulang kampung.

Hati saya gundah gulana,” alasannya. Padahal sebelumnya ia masih tergeletak akibat dugaan serangan thypus. Belakangan saya baru tahu setelah HP berdering. Di ujung telpun suara adik ipar terdengar tak bersemangat “Mas..supirku keluar tadi pagi, padahal semalam suhu badan masih panas..“- WoalahIrah ternyata kamu sudah mampu menaklukkan beberapa keluarga.

Doa kami Irah agar kamu bisa tegak berdiri bersama suamimu. Dan Imam bisa legawa menerima keputusan Irah dan paham bahwa jaman Siti Nurbaya masih ada di era PLN edisi Insentif dan De-insentif.

Balada mbak Imah


Pulang mudik lebaran, usai mengunjungi sanak saudara, menyekar makam para leluhur. Melihat pagar rumah berdebu, tanaman hias mengering karena musim kemarau berkepanjangan, dedaunan yang kering dihalaman. Tuntas sudah ritual tahunan. Beberapa hari lagi akan kembali ke kantor, kembali ke aktivitas “normal” sehari-hari. Lemas tapi puas. Sementara Gubermen Jakarta tak putus menghimbau agar para pemudik, tak membawa pasukan urban ke Jakarta.

Tapi eit.. tunggu dulu. Tidak sepenuhnya benar sinyalemen bahwa para pemudik membawa teman sekampung ke Jakarta.

Buktinya, pembicaraan para ibu masih berkisar para Kitchen Kabinet yang belum nongol dari kampungnya. Mereka yang selama ini mendapat multi predikat “masak sering gosong, sayur terlampau asin, ngepel lantai basah kuyup, nyapu tidak sampai kolong, boros deterjen, dapur penuh kotoran dan minyak ” – maka pada hari itu menjadi sosok dewi penolong yang sangat dinantikan, melebihi kedatangan Bush ke Hotel Salak- Bogor pada 20 Nopember 2006. Lebih celaka lagi handphone yang mereka bawa dari Jakarta seperti tidak bisa dihubungi. Kemana gerangan berita Cicih, Irah, Kadi, Mistok, Nanik (pakai K).

Tunggu punya tunggu, masuk juga laporan dari beberapa pihak. Cicih janda beranak tigar ternyata berniat balik kepada suaminya. Pupus sudah luka batin tatkala beberapa tahun lalu saat darah akibat melahirkan belum mengering, air susu masih muncrat segar buat orok anak mereka yang ke tiga, suaminya sudah merat meninggalkannya lantaran jatuh di pelukan orang lain. Cicih terdampar di Jakarta sebagai PRT dan bekerja pada keluarga kami sampai sekarang.

Orangnya bersih, profesional dan seperti bisa membaca pikiran kita. Baru mau ambil pen, dia sudah datang menyodorkan ballpoint. Rupanya mantan suami (berlagak) tohobat di hari Fitri dan mengajaknya kembali satu atap. Alasannya belum bercerai. Pasal tak memberi nafkah lahir bathin selama bertahun, seperti terlupakan. Apalagi sejak bekerja di Jakarta Cicih mampu menabung untuk membeli kalung dan giwang. Cicih bukan perempuan yang dulu, kini ia sudah mandiri dan nampak berduit.

Sebagai perempuan lugu, Cicih luluh akan rayuan sang mantan tak perduli nasihat para rekannya. Bahwa Cicih akan membiayai anak-anaknya, dan anak dari madunya. Sang suami melontarkan jurus Naik Kuda Lama, sembari memetik Padi. Ini namanya dapat service Bathin dan Lahir. Inilah tarik menarik molekul kimia yang susah di dijabarkan.

Sementara Irah, kendati sudah dilarang oleh orang tuanya, nekad juga beserta temannya Imah dan yang lain ke Baturaden. Maklum hanya setahun sekali. Irah hanya telat beberapa jam ketika dipenghujung jalan melihat raungan sinire dan jeritan korban jembatan gantung putus. Baru ia ingat larangan orang tuanya.

Atau sebut saja Imah,17, yang kali ini berniat tidak pulang kepada Nyonyah dan Toean lamanya. Tapi Imah belum punya “pemilik” baru, maka seperti lagu lama. Ia datang ke rumah beserta Irah, dalam hal ini ke rumah saya. Bukan mainya gembira mereka dengan bahasa “Ngapak bin Tegal” berbicara sambil sebentar-sebentar tilpun berdering dari sohibnya. Kami cuma kuatir ia keburu betah di sini, sementara kami tidak membutuhkan tenaga tambahan.

Kok kebetulan, sebuah keluarga tanpa anak curhat lantaran kebingungan lantaran mbak Inah asistennya meminta PHK. Maka otak berputar cepat Imah ditawari pekerjaan baru, di keluarga tanpa anak. Klop, apalagi nama mirip.

“Saya mau kerja kalau tidak ada anak kecilnya…”

Tidak masalah Imah, mereka belum punya anak.

“Tapi, saya tidak mau ada anjing…. sebab tuwan saya dulu pelihara anjing…”

Hm agak repot memang, tetapi kan anjing bisa masuk kurungan, biar pemilik yang memberinya makan.

“Tapi saya minta gaji…..,” lalu ia menyebut angka mendekati setengah jeti.

Tidak masalah Imah…Masih standar…

Maka, setelah semalaman masa orientasi di rumah, keesokan harinya dengan semangat ORMAS mengganyang toko kecil yang jualan miras, Imah diantar ke majikan barunya…

Di tempat yang baru, Imah langsung pegang sapu, memperkenalkan diri. Selesai menyapu, ia minta ijin kepada tuan yang hari itu sengaja tidak kekantor untuk menyambutnya. Maka belia bertubuh jumbo ini menilpun “kakaknya” – dan dramapun mulai.

Begitu tilpun diletakkan, Imah mengajukan MOU baru, pertama dalam setahun ia dua kali cuti masing-masing sepuluh hari. Juga kalau ia kawin (pengakuannya sudah tunagan cowoknya), harus diberi cuti nikah.

Butir kedua, Imah mengatakan ia tidak suka dan tidak bisa memasak…

Sang tuan hanya terdiam sebab urusan kitchen kabinet diluar wewenangnya. Tapi itu bisa diatur, mereka hanya perlu orang menunggu rumahnya.

Baru saja Imah akan ditinggal sendiri, mungkin ia menyadari akan sendirian bersama dua anjing yang dikandang. Langsung ia meraih tilpun dan berani sang Nyonya barunya yang sedang rapat. “Nyonya harus pulang, kalau tidak saya mau pulang, saya tidak mau kerja sendirian…”

Akhirnya sekalipun semua permintaan (kecuali eutanasia anjing) dikabulkan, Imah makin berani. Dia bahkan minta agar Nyonya rumah berhenti bekerja, menemaninya…

Kesabaran tuntas sudah, belum 24 jam dia sudah bukan main persyaratannya. Akhirnya vonis datang “okey kamu boleh meninggalkan rumah ini kalau kamu tidak suka…”

“Saya minta ganti rugi, saya minta diantar ke rumah temannya di Grogol..”

Masih disabarkan akhirnya, dari suatu kawasan di Bekasi, supir secara khusus mengantarkannya ke sebuah alamat di jalan Makaliwe Grogol.

Ini episode berjudul “memanusiakan orang yang gagal..”

Kadang, kalau ketanggor majikan yang paceklik-sabar ditambah ada unsur sadis, tidak heran mendengar ada pembantu disetrika, dipukuli. Alasannya “tidak tahu dielus” malahan mau ngaprus (mukul).

Cerita menahun pengiring lebaran.


11/3/2006
Mimbar Bb. SAPUTRO
Text Msg: +62811806549

You must not lose faith in humanity. Humanity is an ocean; if a few drops of the ocean are dirty, the ocean does not become dirty.- Gandhi

Mudlogging, bukan bisnis komputer


Hujan masih menyirami bumi serambi Lhok Sukun Aceh, lokasi sebuah Rig Pengeboran Mobil Oil mencari Gas Alam. Diantara deretan bangunan yang disebut “Porta-Camp” nampak sebuah Data-Unit atau mudlogging. Beberapa awak terlibat percakapan seru dengan para pembantu lokal mengenai alih teknologi. Pemuda lokal melihat pekerjaan mudlogger cuma menthelengi (melotot) ke layar komputer, lalu sebentar-sebentar membuat catatan maka mereka berkomentar bahwa mudah sekali pekerjaan mudlogger. 

Lalu seorang senior Mudlogger itu meletakkan tangannya kedinding camp, matanya menatap lawan bicara sambil kepalanya bergerak seakan memberi perintah “pukul tanganku.”

Keruan sang pembantu nampak segan, namun sang Senior tetap bersikeras agar pembantu melontarkan tinju sekuat tulangnya. Karena dipaksa dan didesak terus menerus, maka sang lokal mulai membidik sasaran. Siut Zwiing … Pukulan terlontar dengan tenaga penuh. Namun beberapa milimeter tinju hampir mendarat, sang senior buru-buru menarik tangannya sehingga terdengar derak buku tangan beradu dengan dinding baja, diiringi seringai kesakitan sang lokal sambil menggoyangkan tinju yang kini nampak memerah bengkak.

Peristiwa sekitar 1975-an berawal dari keinginan Lokal, sebut saja demikian mengutarakan keinginannya segera mengganti posisi mudlogger dari Jakarta. “Cuma intip batu kami anak desa juga bisa…

Sang senior ingin menjelaskan dengan contoh bahwa sesuatu yang sepintas nampak sepele, bukan berarti bisa disepelekan. Pekerjaan orang lain selalu nampak mudah dipelupuk mata kalau belum disentuh tangan.

PEKERJAAN SEMI TUKANG ?

Demikian kesan yang tertangkap ketika seseorang memasuki wilayah kerja sebuah rig pengeboran entah di laut maupun darat, lalu mampir “numpang-ngadem” kedalam data-unit atau mudlogging yang berupa bangunan mirip container-rombakan ala “direksi kit” plus beberapa buah komputer menyala disana-sini. Apalagi tatkala mereka melihat petugas yang mengawaki peralatan tersebut ada yang nampak santai, baca “one hand magazine”, bahkan ada yang ketahuan sedang bermain game, atau membaca internet.

Seorang company-man bahkan berujar, “kalau sehari sewa data unit sekitar 1000 US, saya bisa impas dengan mengeluarkan uang sekitar 5000 dollar untuk membeli peralatan komputer”. Maka “yen pangsiun mbesuk” dia berniat bikin usaha unit-data atau mudlogging.

Saya jadi kepikiran apa beliau kira ini usaha ketik skripsi, cukup modal komputer berkecepatan tinggi dan awak pandai mengetik, semua urusan beres. Semoga cita-citanya tercapai setelah ia pensiun, menambah lapangan pekerjaan. Mudah-mudahan sebelum dia di Bezuk orang.

Tamu lain bahkan langsung bilang, 12 jam yang ia butuhkan langsung mampu mengoperasikan peralatan ini. Mereka tidak percaya bahwa cerita anak magang lulusan universitas Tov-Tov banget di Indonesia, yang setahun lebih dilatih, masih belum mampu dilepas bekerja tanpa pengawasan. Dia dikeluarkan dari perusahaan dan kalau ketemu sekarang, pangkatnya sudah bertitel Deputy anu…. sementara saya masih Deputy

(under) Dog.

Tak heran kalau banyak yang bosan karena bekerja selama 12 jam hanya melihat batuan yang itu-itu saja. Padahal dalam ilmu persilatanpun, siswa yang jadi Pendekar bisa berkelebat naik wuwungan, menekuk lengan lawan ala Steven Seagel, semula belajar memukul dan menendang yang itu-itu saja sampai terbentuk reflek atau sifat alami yang kedua. Kalau masih “gundul plontos” langsung disuruh menentukan pemasangan titik selubung (casing), merekomendasikan berat lumpur yang harus dipakai agar sumur tidak meledak, atau menyetop pemboran lantaran kawasan minyak sudah dilewati, memerlukan jam terbang yang tinggi. Sayangnya, kita keburu kerasukan “mie instant” – budaya “tinggal eleb” sehingga kurang sabar menekuni pekerjaan yang monoton.

SAMPLE CATCHER

Di pengeboran darat, ada semacam kebijakan untuk memanfaatkan penduduk lokal menjadi semacam pesuruh yang dipanggil dengan kata keren “sample-catcher”. Tujuannya mengajak keikutsertaan masyarakat menikmati nikmatnya kegiatan pemboran. Beberapa diantaranya memang bisa menunjukkan kinerja yang baik. Namun tidak jarang saya mendengar bisik-bisik “masak bekerja begitu saja perlu tukang insinyur dari Jakarta, cuma ambil tanah, disaring, dikeringkan, dipak, dikirim.”

Kalau sudah 9 dari tamu mengatakan bahwa mudlogger adalah pekerjaan “Manusia Bodoh” – maka tidak heran dalam rapat lelang para negosiator kerapkali menekan harga agar masuk akal menurut pertimbangannya, sekalipun mencekik leher menurut pertimbangan para mudloggerwan. Di beberapa tempat malahan tercetus, kalau dihitung depresiasi maka sewa mudlogging unit harusnya 100 US (bukan US 1000) paling untuk bayar gaji pegawai yang terbilang kecil dilingkup perminyakan.

BANYAK YANG TERTARIK LUARNYA

Apalagi melihat kenyataan bahwa banyak manager mudlogging yang teriak, pasaran sepi, rugi, sehingga susah menaikkan gaji pegawai kenyataannya bergolf-ria “hole to hole” keluar kota naik Garuda Istimewa pada hari minggu, ganti kendaraan berkelas minimal BMW tiap berganti kalender, ber-pena Maung Blecky,dan atribut asesori papan atas. Sementara pegawainya tetap “bus to bus” atau bahasa mas Cahyono dari ESI “Lempar Lembing” di Bus Kota dan KRL.

Tahun 1987-an, muncul sebuah mudlogging kelas ruko atau rukan. Namanya saya samarkan ROSALINDA. Dengan mengibarkan slogan “kami nasional, tapi kami lebih baik, mampu bersaing, asal diberi kesempatan…” – begitu pekerjaan diberikan dan alat dipasang, baru ketahuan bahwa yang kelihatan tidak susah ternyata tidak dapat dibuat lebih mudah. banyak komponen tidak berfungsi setibanya di tanah air. Padahal pemboran sudah berjalan.

Dengan modal KKN, perusahaan kami dihubungi untuk memberikan bantuan kepada pesaing. Mata para pemain baru sekarang terbelalak bahwa perusahaan mudlogging dasarnya “menciptakan” peralatan secara khusus, tidak menjual suku cadang dipasar. Ada perusahaan yang masih menggunakan peralatan yang sudah tidak ada suku cadangnya, namun kebijakan ini harus didukung oleh bagian riset yang handal dan koneksititas yang luas agar tetap mampu mengakali kesulitan yang diatasi. Sementara perusahaan yang kurang kompeten akan menjadi frustrasi. Apalagi kalau mencoba menyari suku cadang di Glodok misalnya. Alat yang waktu ditest pertama menunjukkan angka yang diharapkan misalnya 100 ohm, boleh jadi test kedua menunjukkan 90 ohm, lalu test berikutnya makin tidak akurat (repeatabilitas).

Beberapa kali saya terima tilpun dari pojok Kalimantan, atau Irian, ada mudlogging lokal yang kesulitan menyediakan alat misalnya gas detektor untuk CO2 dan ingin pinjam kepada kami. Masalahnya, alat kami tersebut bakalan tidak kompatibel dengan alat miliknya. Belum lagi kadang saya menjadi konsultan gratis kepada teman Geologist yang sedang menghadapi problem dengan peralatan unit-data ditempat kerjanya.

Konsep yang sering menyesatkan adalah iming-iming “kami lebih murah” apalagi kalau berlindung dibalik kata “nasional” harusnya disikapi dengan bijak. Dunia Pertambangan bukan untuk murah-murahan, sebab kenyataannya selain waktu terbuang, ujungnya kita harus mengeluarkan ongkos lebih besar lagi. Berapa banyak lagi cerita sebuah perusahaan memenangkan lelang, lalu di subkan kepada perusahaan lain akibat ketiadaan peralatan.

Barangkali itu pula menyebabkan saya mengkeret berniat bikin usaha mudlogging tandingan. Tidak cukup bermodal kata sakti “Pribumi” dan lebih murah!

Sunday, April 02, 2006

Segarnya Mantab… boleh… asal sudah sarapan


29 Maret 2006

Liburan weesak, Irah, deputy yang baru 2 bulan bekerja minta ijin pakansi “kecil” lantaran mendapat kabar bahwa orang-tuanya dari desa datang menengoknya. Biasanya kangen-kangenan diteruskan dengan evaluasi penghasilannya selama bekerja di Jakarta. Ada kemungkinan sang orang tua menganjurkannya pindah tauke bilamana hasilnya dinilai kurang memadai.

Masalahnya, Irah di Rawa Bogo sementara sang keluarga “ngepul” di bilangan Grogol. Lantaran Jendral dari Kitchen Kabinet -JKK- merasa tidak PeDe melepaskannya sendirian dibelantara Angkot, Minibus dan Calo-calo sehingga sang deputy diberikan akomodasi dengan supir dari Australia. Jam 04:30 dinihari kami meluncur ke Grogol. Jam 06:00 kami bayangkan Irah sedang ngomong “ngapak-ngapak” dengan sanak familinya. Duh bahagianya.

Saat jarum jam beranjak ke angka 14 belum ada tanda Irah akan melapor k ePosko.

Jam 15 masih idem-dito. JKK mulai gelisah. Pertama bisa jadi Irah memenuhi permintaan orang tuanya mencari penghasilan yang lebih layak, yang kedua – kekuatiran jangan-jangan anak ini sakit. Lalu telik sandi dikirim mencari sisik melik keberadaan Irah. Pelapor menyampaikan berita, Irah berada di Jalan Makaliwe Gang Lima tidak mau pulang lantaran ia muntah terus sejak pagi. Sekarang ia hanya penunggu kamar mandi dengan wajah pusat pasi…” – sementara Orangtua sudah kembali ke desa meninggalkan Irah dengan saudaranya. Dan kini saudaranya takut ketempuhan biaya dan resiko, buru-buru “meminta” saya menjemput Irah di kontrakannya.

Usut-punya usut. Rupa-rupanya Irah berniat merayakan pakansinya dengan membeli minuman ringan. Begitu cairan dingin yang segarnya mantab itu mengalir melalui kerongkongannya. Ia meringis kesakitan. Alih-alih dunia meriah, perutnya terasa akan pecah. Cairan sodium bi carbonat melepaskan gas CO, menendang kekiri, kekanan, bergulung.

Akibatnya Irah “gulung koming” dan harus dipapah berdiri oleh saudaranya. Iklan memang sering tidak mendidik dan kurang informatip. Minuman Segarnya Mantab boleh saja. Tapi perut harus sudah terisi. Apalagi yang cenderung menderita tukak lambung seperti Irah. Kawan-kawan di Australia glegak-glegek minum  SoftDrink baik sarapan pagi, siang maupun malam. Kendati ditengarai penyebab osteo, tapi diet tandingan mereka di pagi hari adalah full susu.

Bagaimana kalau operasi SAR digelar“. Usul saya dalam rapat darurat terbatas.

Setelah disepakati, tidak lama kemudian kendaraan SAR sudah berada di mulut gang. Untuk menjemputnya orang harus berjalan kaki sejauh 30 meter menuju rumah kontrakan. Kebetulan penghuni lainnya sedang bekerja mencari nafkah. Hanya Irah dan saudara perempuannya yang kami jumpai. Kondisinya lemah sampai untuk berjalan menuju kemobilpun ia harus dipapah sambil sesekali muntah “uger” lantaran tidak ada lagi yang bisa dikeluarkan.

Dalam keadaan lemah, Irah dibawa ke Dokter sementara arloji menunjukkan jam 16. Dokter keluarga kami, Kardi, yang memeriksanya seperti punya firasat agar Irah tidak dibawa ke Bekasi. Lebih baik melakukan operasi pemulihan kesehatan di Grogol.

Jam 17:30 ternyata obat yang diberikan hanya menjadikan muntahnya makin menjadi. Akhirnya ia kami larikan ke rumah sakit. Tujuan pertama RS Tarakan, ternyata sampai ke lorong-lorongpun sudah terisi penderita demam berdarah. Coba tilpun RS lainnya, keadaan sama, tidak menerima pasien baru.

Kalau sudah kepentok begini saya pakai jurus KKN, adik kandung, dr. Agus Sudrajat saya tilpun. Pertama minta saran, kedua minta tulung, ketiga saya setengah memaksa. Adik dan temannya sebenarnya sudah masuk Tol menuju Jagorawi dan terpaksa mutar balik ke rumahnya di bilangan Cipinang Jaya 2EE Perumahan Depkes. Saementara menunggu perjalanan kami ke Cipinang Jaya, saya minta adik untuk membelikan cairan infus dan segala ubo-rampe sehingga saat kami tiba disana Irah bisa langsung diterapi.

Teman rombongan adik sampe heran rencana sudah diatur seminggu sebelumnya, tiba-tiba dibatalkan hanya lantaran saya tilpun. “Elu tau, kakak gue ini cuma ngebelain pembokat sakit. Tapi yang gue tau, kalau sampe dia minta tolong, artinya sudah kepentok usahanya kesana kemari..

Obat-obat kami peroleh di apotik RS Mitra International Jatinegara, yang diperkirakan beberapa tahun lagi akan dibeli oleh perusahaan berlogo Ramsey. Selang dua jam diinfus, keadaan pasien nampak tenang.

Tuan rumah menyediakan nasi goreng ayam dan kopi Aceh yang segera kami embat tandas. Baru terasa lapar abizz setelah jam-jam menekan. Setelah botol infus berwarna merah jambu habis, kami minta diri berhubung sudah jam 12:00 malam. Baru nyadar bahwa BBM sudah mendekati nadir. Mobil saya belokkan ke sebuah stasiun yang berlogo tiga warna Merah, Hijau, Biru. Antrean panjang namun hanya seorang petugas yang melayani pom.

Ketika giliran saya tiba, baru satu liter diisi, pompa sudah menyentak berhenti, liter kedua pompa menyentak sama. Sang juru isi bergumam “tangkinya kosong ya pak!“.

Lha sejak kapan tangki dalam keadaan full baru diisi bensin?” tanya saya.

Kalau tangkinya kosong, anginnya mengganggu pompa kami….

Seumur-umur mengisi bensin ya baru hari ini saya dikomplin penjual lantaran menyisakan bensin 10 liter dalam tangki. Dan Logo warna merah, biru, hijau tervisualisasikan menjadi Merah, Biru Hijau dan buram, manakala saya lihat stasiun berlogo kerang berdiri tegak tak jauh dari situ.

Tidak perut tidak mobil, kalau sedang kosong lalu diisi mendadak. Bisa timbul masalah baru.

Mimbar Saputro