Tanya Mama


TANYA MAMA.

Bocah bagus tinggi besar ini salah satu keponakan kesayangan saya. [bingung nggak lo kalau setiap keponakan pakai sebutan kesayangan]. Tapi ya sebagai pakde saya cuma melihat keponakan, cucu selalu lucu dimataku.

Ketika pernikahan Satrio Wicaksono dan Raini di Gedung Wanita Patra Simpruk pada 17 Desember 2017,  ia nampak memakai jas hitam.  Tampil menyeruak, denganb postur tinggi  diantara tamu undangan.

Ia sudah menjadi pemuda kekar, berotot berkat diet dan latihan beban yang teratur.

Rupanya pasangan Satrio dan Raini kini menjadi semacam “ambasador” hidup sehat dalam family kami.

***

Wajahnya mengambil kecantikan mamanya Vivi Libranti – “ya sebelas dua belas dengan kakak tertuanya, wk kw” – dan rahang keras serta kulit putih dari papanya Janggam – yang wong Ogan Komering. Sebagai Ustadzah, adik saya kerap ditawari perjanjian “ijon” oleh ibu jamaahnya. Tapi jangan heran, mamanyapun dari kecil sudah menebar PHP. Padahal sudah TK-pun kalau datang manjanya “ngempeng” susu Ibu. Sebelum tertidur.

Beberapa tahun lalu ia hanyalah anak yang gomblah-gombloh, maksud kami – badannya bongsor tapi “sandung lamur” nya cukup tinggi. Ketika beberapa bulan lalu saya menjenguk mamanya yang adik kandung paling bungsu Vivi Libranti,  anak nomor tiga dari empat bersaudara ini pulang sekolah. Langsung “cepak-cepak” – bahasa jawa ringkes ringkes untuk berangkat ngeGym.

Dia berhasil, sekarang bobot tubuhnya ngedrop lebih dari sepuluh kilogram. Bukan urusan mudah mengatasi godaan Basmati, Mandhi, Kabshah dan  segala masakan full lemak ala ala Timur Tengah.

Sebab sepertinya bagi keluarga ini satu-satunya masakan di dunia yang turun ke bumi setelah mereka berlama-lama malang melintang di ranah Donal Trump-cuma dari Timur Tengah.

Saya pernah diajak “kerep” dan memang Wow, ini masalahnya.

Cita-citanya satu-satu lelaki dikeluarga ini ya satu “tampil langsing saat pernikahan mas Iyok” alias Satrio Wicaksono dan mbak Raini. Mudahan berkelanjutan.

Namanya bocah, selain gym ia memiliki kesukaan menggoda mamanya,  mengganggu adiknya Athifa sampai menangis, atau kakaknya Arwa dan Tabina.

Tapi ada satu resep cespleng menguruskan tubuhnya yaitu :

“Nggak Tau Tuh Tanya Mama…” 

Dan seperti kunci kontak ketemu motor, sang mama akan menggeber bercerita – bagaimana perjuangan putranya diangkat dari lembah kegemukan [hiperbolis on].

Cuma satu yang belum dikabulkan mamanya. Yaitu mengonsumsi WheyProtein sebab dia dengar mas Iyok (Satrio Wicaksono) juga meminum susu konsentrat tersebut.

[Dengar-dengar ayahnya sih sudah “hijau” seperti PBB terhadap Palestina]. Tapi mamanya seperti Trump yang bilang No. Maka gugur kabeh persekongkolan ayah dan anak.

Bukan Ashraf saja sebetulnya yang rela berlapar-lapar dahulu, Nikah SatrioRaini kemudian.
Sebut saja saya, ibu Erni, Ibu Tanti, juga berusaha menurunkan bobotnya. Bahkan mas IndraTama ayah dari Pengantin Raini Dwitama, saya lihat kerap hadir di CFD. Berlari tentunya.
Itu kalau CFD-nya mas Indratama besan saya.
Sementara itu dari generasi jaman now, CFD digunakan untuk pameran Sepatu Baru. Larinya mah entar entar dulu.
Anak dan mantu cucu R. Soeratman
Advertisements

Mulai dari NOL dengan KUA


MAHLUK ASING GEN N1,N2,N3,N4,N5

Ketika putra bungsu saya memutuskan akan menikah, tentunya akan mulai bertanya. Bagaimana cara mengurus surat menyuratnya. Kami buka internet, pengalaman blogger sebelumnya. Kami download formulir bertajuk N1, N2, N3, N4, Surat Pernyataan masih Jejaka, Surat Pernyataan Setuju dari  Orang Tua,  Foto Copy KTP, Kartu Keluarga, kedua belah pihak Ortu dan CP , foto copy kedua belah saksi.

Maka bertemulah kita dengan mahluk asing bernama – formulir N1,N2,N3,N4,N5, Surat Keterangan Numpang Nikah. Mayan nambah pengetahuan.

Saran pertama buat foto copy minimal lima lembar dari setiap dokumen anda. Setiap carik surat yang sudah di ACC bikin foto copynya dan jangan pelit dalam jumlah. Kalau katanya minta foto 2 lembar, lari ke lapak foto bang Tolang, afdruk 10 lembar. Jangan seperti orang susah, sekalipun susah banget.

****

Cek List.

  1. Surat Pengantar dari RT dan RW (satu lembar diteken RT dan RW lantas di cap basah.
    Kami mendatangi ibu RT dan ibu RW, kebetulan di Grogol-Jakarta Barat  – saat itu dijabat oleh dua orang ibu  namanya ibu Ilona dan ibu Yuni. Ibu Ilona akan membuatkan surat keterangan, formnya sudah tersedia berupa foto copian.   Ketika ibu RT dan RTW selesai membubuhkan tanda tangan dan cap RT/RW yang perlu anda lakukan pertama kali adalah membuat salinannya. Pernah kejadian, kami hanya punya satu lembaran aseli, setelah diberikan ke kelurahan ternyata pihak KUA minta yang sama. Jadi terpaksa membuat lagi. [Kalau memungkinkan lakukan pendekatan untuk membuat surat keterangan rangkap dua atau tiga sekaligus.] Sepertinya berlebihan, namun kami ketemu batunya sehingga cukup bikin deg deg plus.
  2. Surat Keterangan Belum Menikah , pakai Meterai, diteken RT dan RW dan Kelurahan, dan dicap Basah.
  3. Fotocopy Calon Pengantin Pria (CPP), Foto Copy dari kedua Orang Tua. Kalau bisa Hal yang sama dilakukan dari pihak CPW.  (Bikin yang banyak)
  4. Dapatkan  dengan mencari Fotocopi Saksi Nikah. (bikin yang banyak 5 lembar)
  5. Foto 3×4 sebanyaknya 10 lembar, latar belakang biru, latar belakang merah
  6. Foto 2×3 sebanyaknya 10 lembar, latar belakang biru, latar belakang merah
  7. Foto 4×6, sebanyaknya 10 lembar, latar belakang biru, laar belakang merah.
  8. Baik orang Tua dan Saksi, dapatkan foto copynya. Tadinya kami diberitahu bahwa foto yang dibutuhkan adalah 3×4, namun menjelang hari H, diubah menjadi 4×6. Jadi sebaiknya lengkapi semua baik masuk akal atau tidak.
  9. Foto copy Ijazah – buat sebanyaknya 5 lembar
  10. Foto copy Kartu Keluarga – buat sebanyaknya 5 lembar
  11. Foto Copy Akte Kelahiran – buat sebanyak 5 lembar
  12. Surat Keterangan NUMPANG Nikah. Ini yang agak baru kami dengar.

Ilustrasi, jauh-jauh hari kami sudah mendapatkan semacam “check list” dokumen, ukuran foto (2×3 dan 3×4) serta warna latar belakangnya.  Semua 100% kami penuhi.

Dokumen lantas diberikan kepada orang tua CPW yang dalam hal ini akan mengurus pernikahan di KUA wilayah Kebayoran Lama ( Gedung Wanita Patra). Terutama Surat Keterangan Menikah.

Sebulan sebelum hari “H” – ternyata pihak  KUA Jakarta Selatan merevisi “check list” yang mereka keluarkan sebelumnya. Foto harus 4×6 dan Surat Aseli dari Kelurahan. Ini sama halnya dengan kami harus mendatangi kembali RT dan RW, mengulang proses membuat Surat Keterangan dari RT RW, mengulang membuat Pernyataan Masih Jejaka. Lumayan kalang kabut.  Pengalaman yang berkesan lainnya. kami tinggal di Bekasi Propinsi Jawa Barat. Rumah RT, RW, Kelurahan, KUA ada di Grogol, DKI Barat. Kalau dibuka di WAZE jaraknya 30 kilometer, jarak tempuh 45 menit. Asalkan anda berangkat meninggalkan Propinsi “Yang Ada Badaknya”  sebelum pukul 05:00 untuk menghindari kemacetan.

Lha tiba di Propinsinya pak Lulung, pukul 05:45pagi, mau ngapain? rumah mana sudah buka. Maka biasanya kami ngejujuk ke Bubur Ayam BCA Grogol.

***

Kesimpulannnya, alur  yang dipajang di KUA, Kecamatan, Kelurahan jangan dijadikan “Take it for granted,” – akan ada kejutan kejutan diluar dugaan. Dan semua itu – bahan empuk untuk penulisan blog…

#Kebayoran Lama
#Surat Numpang Nikah
#Surat Vaksin (Putri)
#Surat Perjaka/Perawan
#Formulir N1,N2,N3,N4
#Ijin Nikah dari Kelurahan hanya untuk dua bulan lamanya.

https://mimbarsaputro.com/2017/12/23/wo-jilid-dua-2

The Early Bird


Ibu Senam Kodau.jpg
Kelompok the Early Birds dari Kodau.

Ijinkan saya,  ikutan bahasa jaman now. mengucap “Mao nangis pake gedrug gedrug nggak lo rasanya“.  Saking bahagianya.

Betapa tidak, kami banyak sekali mendapat kejutan-kejutan dari teman, kerabat dan saudara. Salah satunya – the Early Birds.

Hari Minggu 17 Desember 2017, kami baru saja menyelesaikan etape pertama yaitu Akad Nikah. Kata “SAH” terucap pada 16:15 WIB, lantas diteruskan dengan sungkeman.

Pada pukul 17:30an, saya sudah melihat rekan saya dari jalan Kodau, juga dari Komplek PdK, sudah berdatangan sekalipun acara baru mulai dua jam setengah lagi, itupun kalau tidak molor.

Pertama saya lihat mas Teddy Sardy menggendong buah hatinya. Saya sampai tidak yakin akan penglihatan saya. Tidak sampai mengucek mata gaya lenong sih. Cuma bertanya,  bisa jadi orang lain yang mirip wajahnya.

Ia saya dekati dan wajahnya memperlihatkan “biasa ketemu saya“. Lalu saya tanya dengan siapa?  ia menjawab “Rombongan PdK.”

Boleh dong kitaH mengucap YaOlo, mruput secara gitu. Terimakasih banget atas perhatiannya. Eh detik yang sama saya melihat Toean Gou juragan bahan bangunan dan keluarga. Hebat.

Kalau saya tengok jam menunjukkan pukul 17:30, maka bisa dibayangkan jam berapa teman-teman ini meninggalkan rumah. Perkiraan 80% penghuni PdK datang semua.

Waktu  photo session bersama kami di pelaminan, deretan panjang dari ujung ke ujung warga PdK. Saya lihat Letkol Eko Wahyono sampai bolak balik cari posisi. Butuh waktu sedikit lama menzip mereka agar masuk kedalam frame foto.

Itu yang namanya Buahagiyah WarBiyasah..

Teman PdK, teman Kodau, kami sampaikan rasa suka cita dan penghargaan kami yang setingginya. Kami merasa sangat dihargai. Seriously. Sampai sekarang rasa bahagia itu belum juga redup.

Tapi bukan berarti itu saja. Keponakan yang saya lupa apakah pangkatnya sekarang. Entah sudah Mayor atau lebih,  seorang perwira Densus.  Namun sebuah LAKA membuatnya harus menggunakan tongkat penyangga, mudah-mudahan sementara. Belum dua minggu ia dioperasi dilepas “pen” pada kakinya.  Tak disangka ia berada dalam barisan untuk bersalaman dengan kami di panggung.  Ingatan kembali ia masih bocah dan saya memangkunya untuk bermain komputer game.

https://mimbarsaputro.com/2017/12/23/wo-jilid-dua-2