Alamat Palsu


ALAMAT PALSU HARGANYA 90 JUTA RUPIAH..

Bulan Mei 2014, seperti sekolah lainnya, sebuah sekolah menengah di Bishan – Singapura (lihat peta) membuka pendaftaran siswa baru Phace 2C. Mereka juga menggunakan sistem Rayon, artinya cuma buat warga KAMSINI yang berhak daftar.

Dan sebagai orang tua yang berkewajiban menyekolahkan anaknya hadir diantara para pengantre sebut saja keluarga Wei (bukan nama sebenarnya.)

Tugas datang ke TKP untuk ambil formulir, dilakukan oleh Ibu Wei sekarang 36tahun. Setelah diisi di rumah, disertai pernyataan bahwa semua keterangan yang diberikan adalah sesungguhnya maka pak Wei mendapat giliran ke kantor pos. Usia sekarang 39 tahun saat ia mengirimkannya dari Kantor Pos Serangoon.

Tapi apa yang lantas bikin “GEGERAN” dua tahun kemudian, sampai mereka masuk pengadilan dan didenda “masaolo” jumlahnya.

Rupanya saat mendaftar di TKP, saat ditanya alamat, mereka mengaku tinggal di Bishan. Pikir mereka timbang dekat ini, “yaolo” cuma lima kilo (meter). Di negeri tetangganya, ada orang tinggal di Propinsi Jawa Barat menyekolahkan anak ke DKI, nggak masalah. Apalagi sampai masaolo.

Biar lebih tepat sasaran mereka menyebut alamat – jaraknya kurang dari 1 kilometer dari sekolah. Pihak SMP akan memprioitaskan siswa yang tinggal sekitar sana. Dan kocap carita, memang mereka diterima.

Tetapi pada 30 Juli 2015, entah bagaimana sepandainya menyembunyikan identitas, jati diri mereka terkuak. Ya iyalah, kapan sering mengobrol dengan guru, ditanya tinggal dimana. Bocah akan menjawab sejujurnya.

Merasa kecolongan, daripada nanti dituduh melindungi kejahatan maka pihak sekolah menghubungi kepolisian setempat. Detektip Iqbal diberi kasus ini. Namun demi masa depan anak bangsa, kasus dipending. Tunggu sampai anak lulus SMP.

Sekarang sang anak sudah lulus. Kasus dicairkan kembali. Pengadilan memanggil keluarga asal Serangoon yang didakwa memberikan alamat palsu.

Istri yang dianggap menipu saat mendaftar di SMP Bishan, dikenai denda SGD 5000 (Lima Puluh Juta Rupiah), Suaminya didenda SGD 4000 (Empat Puluh Juta Rupiah). Ia dianggap membantu rekayasa istrinjya.

Jarak Serangoon dengan Bishan = 5 kilometer. Kalau MRT sekitar 11 menit.

Advertisements

KW


Perempuan separuh baya ini nampak tajir. Rambut disasak, bercelana panjang dan bukan dari bahan jean, memakai hak tinggi kendati berjalan jauh sepanjang jalan Orchard Singapura. Biasanya dicirikan perempuan Indonesia yang kaya.

Di sebuah pusat pertokoan di jalan Orchard yang menjual barang macam tas kulit, dompet kulit barang bermerek salah satuannya keluaran LV – dia masuk dengan penuh percaya diri. Nampak mengincar sebuah tas bermerek LV.

Transaksipun berjalan mulus. Tas yang ditaksir diatas 5ribuan dollar berpindah tangan. Pembayaran menggunakan kartu Kredit yang diselipkan dalam dompet nampaknya merek LV.
Tapi mata tajam dan terlatih kasir di pertokoan jalan Orchard ini melihat bahwa dompet yang dikeluarkan perempuan adalah bajakan.

Diam-diam Kasir mengirimkan isyarat kepada pihak keamanan Gedung. Perempuan tadi terpucat-pucat karena kedapatan menggunakan barang bajakan. Biasanya pertanyaan ini berujung denda. Tentgunya tidak kecil.

Negeri Singapura makin tak ramah terhadap fans barang “KW” entah KW Premium atau KW nomor dua. Lebih aman pakai mereka biasa tetapi aseli ketimbang merek sohor jebul tetiron. Atau, kalau mau pakai, jauhi Orchard.

Enaknya jadi Belanda


Seorang tuan Schmidt ketangkap basah lantaran membuat uang gulden palsu. Kalau jaman dulu, ronda ketiduran saja bisa masuk “rumah monyet” alias sel, maka kasus uang palsu minimum bisa kena perkara lima tahun. Tidak puas dengan hukuman 5 tahun bakal jadi orang rante, Schmidt segera naik banding ke pengadilan “Hof Besar” dan hasilnya luar biasa, ia malahan bebas tanpa syarat. Apalagi ia bernyanyi bahwa pelakunya adalah seorang Kapitan Cina yang tanpa ayal lagi langsung digiring masuk kerangkeng.

Para hakim yang umumnya lulusan sekolah hukum di Belanda terkenal tempat dimana ahli hukum belajar disana, buku-buku hukumnya dihapal ngelotok kering oleh para Hakim sana. Ternyata dalam prakteknya ada ketimpangan dalam keadilan.

Alasan Hakim memang nyeleneh alias menggemparkan.

Betul Schmidt membuat uang gulden palsu, tetapi kan uangnya belum sempat beredar. Belum merugikan publik. Jadi tidak perlu dihukum sementara Tuan Lauw Tjeng Sian dari Senen yang mengerjakan pembuatan uang bajakan tersebut. Jadi dia harus masuk penjara.

Setelah beberapa bulan berlalu, Schmidt mengaku bahwa tudingan kepada Kapitan Lauw Tjeng Sian adalah akal-akalannya belaka guna menghindari hukum. Sekalipun dibebaskan, namun Lauw sudah keburu mendekam sebagai pesakitan. Inilah yang membuat masyarakat geger, pelakunya sudah mengaku, barang buktinya ada, tetapi sipelaku malahan bebas mardijker (merdeka). Penulis kritis mengatakan itu karena beda kulit.

Tapi kalau dalam The last Mohicans, tokoh Indian Blackhawk pernah ditanya oleh cewek bule Nn. Duncan, mengapa mayat yang bergelimpangan tidak dikubur, itu menyalahi aturan negara, maka blackhawk hanya mengutip kata-kata ayahnya “jangan pernah mencoba mengerti jalan pikiran kulit pucat, karena memang kita (Indian) ditakdirkan berbeda..”

Akibatnya di Betawi yang namanya uang palsu jadi kasus menggunung.

Tahun 1590, kesultanan Banten sudah mengenal uang logam yang namanya “picis” – picisan alias uang kecil. Uang picis ini di impor dari Belanda dan umumnya tengahnya berlubang. Kadang-kadang uang direnteng dengan tali sampai genap 25 sen. Kalau dua logam puluhan sen (picis) ditambah satu logam lima sen lalu diikat tali, maka orang mengatakan setali tiga uang. Alias sama saja. Uang yang usianya sudah tua biasanya dicari orang sebab dibuat kalung sebagai jimat tolak bala. Bulan Oktober 1903, Batavia mengimpor uang 500.000 gulden. Uang ini terdiri dari pecahan 10 sen yang disebut picis ‘pitje’ bisa dibayangkan sibuknya kapal dari Belanda hilir mudik masuk perairan Batavia dengan membawa uang tembaga dan pulangnya membawa emas dan perak dari negeri ini.

Tahun 1904, Belanda mengirim lagi 500.000 gulden, termasuk pecahan setengah perak (0,50 gulden), seperempat perak (0,25 gulden), akibatnya kapal makin ramai dan karena bentuk pembuatannya uang aseli kurang baik, banyak ahli sepuh emas dan perak iseng dengan pekerjaan tangan “membuat uang bajakan”.

Penjahat mengaku Pertamina


Hari ini rumah saya didatangai tiga petugas berseragam biru, mengaku dari Pertamina untuk mengecek tabung gas ELPIJI

Beruntung semua penghuni sudah di indoktrinasi, bahwa di rumah itu hanya pakai Kompor Minyak Tanah, biasanya sang “petugas berseragam” akan mengejek dengan kata-kata masak rumah begini pakai kompor minyak tanah. Tapi untuk tidak memperpanjang persoalan, jangan perdulikan ejekannya. Buntutnya akan menipu.

Logikanya, pasokan gas seret saja orang ndak perduli. Masak masih sempat-sempatnya memeriksa apakah tabung sudah expire atau belum.

30 Nov 2000