Dahsyatnya Arisan Online (W.O.W)


Lelaki di depan truk ini tugas sehari-hari sebagai Satpam Komplek. Pada malam hari diatas pukul 23:00 ia memegang kontrol sepenuhnya atas portal komplek kami.

Saya memanggilnya pak Tum. Pria asal Wonogiri ini semula tanpa uang sepeserpun meninggalkan desa kelahirannya menuju Batam, bergabung dengan team pembangunan Otorita Batam yang saat dikomandoi pak Yusuf Habibie. Kontrak selesai – ia berkelana sampai Dabo Singkep dan banyak daerah lain.

Sekarang dimasa tuanya, mencari tambahani  memelihara Kambing sendiri, buka warung, apalagi sang istripun “prigel” cekatan dalam mencari uang tambahan.

Kebahagiaannya bertambah setelah diberi cucu. Tabungan demi tabungan dikumpulkan sehingga nampaknya ia bisa membangun rumah sederhana pengganti bedeng sementaranya.

Ingin mewujudkan mimpi sang ayah,  putri semata wayangnya berusaha  menambah penghasilan dengan ikut arisan. Ketika arisan offline lumayan menjadi tabungan, mereka makin berani “thinking out of the box” –  Singkatnya menerobos gelas kaca, menuju arisan online.

Sang putripun menjadi bandarnya.

Kalau arisan offline, ada anggota yang “mbeler” alias molor membayar kewajiban, mudah baginya untuk ditagih. Namun menginjak dunia cyber persoalannya tidak mudah diatasi. Apalagi orok mulai nampak, anggota lainnya ternyata menggunakan alamat palsu, persoalannya adalah seratus juta rupiah dipertaruhkan. Sementara Putri Pak Tum menggunakan alamat aseli.

“Lha nama saya dikatut-katutkan pak…” – jadi harus tanggung jawab. Saya diancam dipenjara kalau tidak membayar ganti rugi. Wajah mirip keturunan “mongol”nya nampak bersedih. Lepas sudah mimpi memiliki rumah yang lumayan.

Bisnis kerjasama, semula memang bak bulan madu, penuh rasa persaudaraan, rahasiamu rahasiaku, tukar menukar hadiah, saban sore ketemu di saung, kafe, pos,  bakar jagung, ngopi bersama.

Namun jebakan betmennya – mencari integritas teman sejati – butuh puluhan tahun, bukan puluhan hari.

 20171104_031840

Advertisements

Melongok Kampung Pensiunan


Namanya kawasan Admiralty, apartemen kelas Studion yang isinya adalah para pensiunan. Umumnya mereka meninggalkan kemewahan Flat, Condo – dan turun gunung tinggal di Studio (ruang minimalis ukurannya) dengan tujuan bisa kembali seperti dulu. Saat Singapura masih kampung. Saat orang bertegur sapa setiap bertemu, saat berbelanja menjadi ajang komunikasi, saat pagi maupun sore mereka kongo-kongko sambil “ngeteh”

Bangunan ini terdiri dari sebelas lantai. Bedanya lantai Studio diberi vinil anti slip, maklum bahaya terpeleset sangat besar bagi kaum seperti saya. Bahkan toiletpun diberi pegangan kokoh dari stainless steel agar mereka bisa keluar masuk toilet sambil berpegangan. Agar jemur baju lebih mudah, maka digunakan rak jemuran yang bisa dilipat.

Alat memasakpun berupa “induction hob” koil pemanas sehingga para lansia tak perlu bersentuhan dengan api.

Maklum lagi pensiunan kalau tangannya nggak “nggregeli” lupanya banyak. Misalnya kalau pakai kompor gas memasak air, sampai air “over cooked” – pun mereka (saya) terkadang lupa jerang air.

Di lantai Sembilan disedakan ruangan terbuka khusus tanaman hias, pepohonan agar masa kecil bertanam bisa dipuaskan disini.

Tentu saja kampung ini dilengkapi fasilitas  kesehatan, olah raga, hawker centre dengan harga akan berkisar tiga puluh ribu ruiah untuk dua kali makan.

Karena mengakomodasi lansia doyan ngobrol, maka tak kurang lima puluh kedai artinya ada 900 kursi disediakan buat jajan para lansia ini.

Ah sampai hampir lupa.. Maklum lagi lagi.. IMG_0010Rata-rata orang Singapore – menjalankan praktek “dobel-gardan” – suami istri kerja. Maka para pensiunan kebagian tugas menyenangkan.  Antar jemput cucu ke sekolah, mengajaknya bermain di kampung Pensunan. Ini artinya fasilitas dari Lansia sampai Balita-pun tersedia.

 

 

Dari Agan terbitlah Sista..


Boswoman minta dicarikan Kulot 3/4 alias “gojak gajek” – melalui sebuah lapak online.

Saya yang dasarnya suka ber-OL-ria – jelas  hayuh saja.. HP saya buka, kebetulan ada applikasi untuk transaksi OL..

Saya ketikkan kata kunci “kulot, jumbo, katun”

Jreng…Kebetulan speknya cocok, lalu saya lihat ada Lencana Emas, kualifikasi pedagang Grosir a.k.a. toko OLnya bonafide. Dan lokasi toko di Jakarta – artinya ongkos kirim JNE bisa lebih murah.

Tapi jangan buru-buru melakukan pembayaran. Dianjurkan bawel bin cerewet. Sahabat saya pernah beli OL… asal ditanya kesediaan barang – penjualnya marah bahkan curhat : “untung nggak seberapa, pembelinya cerewet..”

Orang  “kelotokan” seperti ini sebaiknya di delete saja..

Sayapun  “bawel” dengan menanyakan ketersediaan barang. Biasanya mereka akan membalas pertanyaan dengan panggilan “GAN” dari singkatan Juragan.

Kalau sampai beberapa jam mereka tidak menjawab, ganti pelapak lain.. Nanti kalau kita komplin lantaran pelayanannya lama alasannya bisa macam-macam – “maap saya kena DBD, baru keluar rumah sakit – jadi telat proses..”

Pesan saya yang langsung dibalas. Biasanya singkat jawab “barang stok Gan dari kata Juragan. Tapi yang ini beda…

“stok tinggal sedikit Sista..”
“cuma ada kelir cream dan peach – Sista..”
“buruan di order ya Sista”
“biar langsung proses ini hari ya Sista..”

Wah  kenapa saya dianggap ganti jurusan ya…

 

 

Keblejog Transaksi Online


Selasa 9 Juli 2013

Tiap hari diiming-imingi mbak Dona Agnesia  jual beli online di TV dengan gampangnya. Lama kelamaan membuat kami kepingin mencobanya.

Kok kebetulan istri saya lagi kepingin sepeda…Bertahun lihat suaminya naik sepeda – dia baru kemecer-kepingin ya sekarang ini.

Semula rencana ingin cari sendiri di toko sepeda.

Namun karena hujan lebat, dan hari pertama puasa – dicoba cara yang modern melalui internet. Iklannya kan ndak perlu keluar rumah, semua ada diujung jari, anda pesan kiriman datang.. Bahkan lebih lebay lagi, artis Dona yang mendatangi pembeli..

Lalu kami melihat iklan di website “TB”. Barang yang kami cari berupa sepeda lipat. Iklan ini belum di verifikasi artinya belum pernah dicek kebenarannya oleh pengelola. Nomor kode iklan adalah 256-79-49-5, mengaku berlokasi di Jakarta Timur.

Ternyata nomor Tilpun 082-3348-444-29 yang tertera di situs tidak langsung diangkat, kami susul dengan SMS, dan email yang menggunakan alamat samaran herriharyanto123.

Menjelang Magrib barulah pemilik iklan menghubungi HP istri.

Harga sepeda diturunkan sampai setengah juta. Tanpa ditanya dia bilang akan kasih Sepatu?, Helm, Sarung Tangan, baju dan celana bersepeda, Bell dan Lampu, Kunci Gembog. Barang langsung dipacking, langsung dikirim.

Sekalipun curiga namun jujur saja hati siapa tidak mongkog coba..

Lalu dia mengirimkan SMS berisikan data nomor rekening BCA 295-227-1378 atas nama Ahmad Kurnia.

Hati mulai kebat-kebit..Pasalnya beda bener nama samaran HerriHaryanto123 kok munculnya lain. Tidak lama kemudian dia kirim kabar minta dibelikan Pulsa-sebab tanpa pulsa ia sulit bergerak. Alasannya Anak buahnya pada pulang semua sehingga dia sendiri yang packing barang.

Saya sampai menggigit jari telunjuk kiri – sampai sekarang masih sakit – ini penipuan.. 

Dia bilang – dia bos pemilik Sepeda, tapi pulsa untuk bisnis nggak gablek.. bisnis apaan..

Saya mencoba bertahan untuk tidak mengabulkan- caranya menunda kirim uang pulsa.

Dia menilpun kembali nomor HP istri saya, dan kini istri saya yang mendesak saya untuk mengabulkan permintaanya.  Sebab kalau ndak ada pulsa dia belum bisa bergerak kirim barang. Giliran saya didesak istri, aku ndak berkutik sekalian pingin tahu bagaimana sih jalan pikiran para penipu ini.

Ketika Pulsa sudah diterima, dari semula berjanji akan kirim sendiri dengan mobil, ia mengubahnya dengan pakai JNE. Alasannya sudah malam… Kapan dia hubungi kami lepas magrib.

Beberapa jam kemudian istri saya menanyakan update barang. Jawabnya  JNE sedang ada penggerebegan Narkoba, jadi tidak bisa kirim barang… Baru besok pagi sekalian dikirim resi.

Jreng…..

Istri nengok kepada saya …“hati saya mengatakan kita ditipu”.. Katanya.

Ya iyalah – kata saya enteng…

Tapi kan menurut pemeran pak Uztad di Sinetron paling suka umbar kata jangan Sudzon. Kami tunggu resi sampai hari Rabu ini…

Hari Rabu.. awal puasa – SMS dan tilpun atas nama Ahmad Kurnia sudah ikutan puasa alias tidak diangkat.  Mudah-mudahan uang panjar plus uang pulsa yang dipakai melalui rekening BCA-nya Bung Ahmad Kurnia untuk makan sahur dan berbuka puasa.

Pelajaran bagi saya – ratusan atau ribuan kali kita menyaksikan penipuan minta pulsa. Namun tidak berarti kita imun akan virus tersebut. Mereka pandai sekali memanfaatkan kelemahan kita.  Jangan coba-coba berurusan dengan mereka sebab bisa berakibat fatal…

Pesan Trilogi dapat Triplex


Gara-gara resensi seorang Wikimuer mengenai buku Laskar Pelangi, saya seperti mati langkah. Niat mengebet baca buku habis. Tapi Apa daya.

Pertama saya ada di tengah laut, kedua kalaupun saya sampai di daratan Perth maka toko buku macam Dymocs, Borders jelas tidak akan menjual buku karya Andrea Hirata tersebut. Maka untuk memenuhi hasrat yang berkobar, sebuah toko buku online saya pilih. Maksud hati saat kepulangan ke tanah air, buku sudah tiba. Halaman depan situs ini bertaburan pujian nan tiada kering, cepat, baru klik pesan, tahu-tahu sudah “jleg” di depan mata sehingga membuat saya Muantabz melakukan pesanan online.

Perlahan saya baca resep memesan. Saya klik Laskar Pelangi harga X rupiah, saya klik Sang Pemimpi Y rupiah, saya klik Edensor Z rupiah. Lalu ketiga petikan ini saya masukkan keranjang belanja.

Upacara pesan memesan diakhiri dengan perintah beli. Situs menjumlah tiga deret sederhana. “Jeglek” yang muncul angka kurang pas. Barangkali persamaan hasil persilangan antara Pitagoras dengan rumus membuat KTP karena menghasilkan X+Y+Z = X+X+X.

Gagal bertransaksi, saya cabut dari situs tersebut lalu setelah surfing kesana kemari entah kenapa kepingin balik ke situs awal.

Kelihatannya ada sistem error pada situs tersebut.

Kebetulan pikir saya, kalau ada anomali, bakalan ada berita. Saya nekad memesan tiga buku, bahkan melunasi pembayarannya.

Ada beberapa hari email saya dijawab. Alasannya masih liburan hari Raya. Lalu seorang berinisial “D” menegaskan apa betul saya pesan tiga buku yang sama. Terang saya jawab “Tidak, saya tidak pesan tiga buku yang sama, saya pesan buku jilid 1, Jilid 2 dan Jilid 3″

Email dijawab, baik pak, pesanan sudah diperbaiki.

Dua minggu setelah lebaran, terbaca SMS dari toko buku online. Buku akan dikirim besok tanggal sekian.

Takut saya tidak ada di Jakarta (lha saya kan di Bekasi), status Menunggu Cemas saya naikkan menjadi Waspada Menunggu. Ternyata buku yang dijanjikan tidak datang.

Baik kalau begitu, saya SMS kembali, dan dijawab “Maaf Penerbitnya belum kirim Buku” – Inilah hebatnya cara kita berbisnis, mulai dari karyawan tidak masuk pada saat liburan sudah usai, penerbitan yang lelet, segala macam parameter ikut ditimpakan kepada pelanggan. Jangan-jangan bertengkar dengan istri dirumah gara-gara jatah malam tidak diberikan akan mengajak pelanggan menanggung akibatnya.

Kebetulan status saya turunkan menjadi “masa bodoh” alias tidak terlalu memikirkan pemesanan, di Jakarta, sang kurir datang.

Tolong dicek pak,” katanya sambil mengendorkan jaket dan sarung tangan kulitnya. Sebelum membuka bungkusan bersampul kertas kopi ini, saya meraba ketiga buku.

Saya merasakan ada salah kirim. Mari kita buktikan..

Bret sampul saya buka.

Buku salah kirim. Saya pesan jilid satu, jilid dua, jilid tiga. Ini semuanya buku jilid satu sebanyak tiga buku” – sebab warna buku, ketebalan, dan judulnya sama “Laskar Pelangi.”

Kurir keukueh dengan mengatakan memang ada buku dengan ketebalan dan cover sama, tetapi isinya berbeda Pak.

Maka kali ini buku dibedah. Bab I bertajuk Sepuluh Murid Baru.

Buku lainnya saya buka dan Bab I dengan tajuk serupa saya pelototkan didepan kurir. Kali ini dia menyadari pendapatnya digugurkan.

Saya kan cuma kurir pak! Jauh juga ya pak dari Jatinegara ke Grogol” – keluar ilmu simpanannya.

Kata sakti yang bisa berarti sudah jauh dikirim masak dikembalikan, kasian dong kepada kurir yang sudah buang bensin dan waktu, maklum lebaran belum lama, pegawai masih mengantuk.

Lalu saya tanda tangani formulir berita acara, bahkan masih ada pesan khusus. Bila anda puas dengan pelayanan kami, silakan kirim testimonial ke email addres xxxxgmail.

Dan sekalipun ongkos kirim sudah tertulis 0000, maka seperti biasa saya memberikan uang puas sekedarnya. Maka sekaligus melegitimasi kesalahan dimaafkan. Kapokkah saya dengan toko buku yang ternyata super lelet dan super salah ini. Tidak.

Saya masih kirim SMS, saya pesan Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov, tapi tidak pakai salah, tidak pakai lama. Siapa tahu bisa bikin cerita aneh lagi.