Ketika Singapura masih sering dilanda banjir


The Thorn of Lion CityAnak kecil mana yang tidak suka diberi makanan?. Apalagi berhari-hari kami kekurangan makan akibat dikepung banjir di kawasan Tangling Road. Masalahnya jarak kendaraan teman ayah yang membawa makanan dengan rumah kami dibatasi oleh sebuah kali yang saat ini sudah tidak nampak batas antara jalan dengan selokan. Dengan perlahan-lahan sambil memegang pagar jembatan aku berhasil menuju kendaraan yang sebentar-sebentar digas agar tidak segera kemasukan air.

Betapa senangnya ketika aku tahu bahwa makanan ini berasal dari Cold Storage Singapore. Kedua tanganku penuh dengan bungkusan makanan yang segera aku junjung tinggi agar tidak basah.Rasanya ingin terbang ke rumah sambil membayangkan lezatnya coklat. Akibatnya aku ceroboh sehingga tergelincir terbawa pusaran banjir.

Mula-mula aku berusaha mengangkat kepala agar bisa berteriak minta tolong namun air sungai yang sedang meluap seperti memagutku keras-keras. “Duk,” Sebuah benda keras beradu dengan kepalaku. Sakit namun aneh justru kedamaian yang kudapati. Aku pasrah mengikuti kemana banjir membawaku.

Antara sadar dan tidak sepasang tangan menangkapku. “Kamu sekarang selamat nak,” kata lelaki berkacamata tebal tersebut sambil membawaku ke sebuah warung kopi terdekat.

Melihat kerumunan orang aku tercekat kutengadahkan kepala mencarinya “mana dia, mana dia?”
Siapa?,” tanya seseorang
Ayahku” – baru sadar bahwa ayahku sudah tidak bersama kami lagi.

Seorang bocah perempuan Melayu memutar telunjuk ke pelipisnya sendiri sambil bilang “gila.” Lalu pergi.

Istri pemilik toko membawakan segelas minuman panas, “kalau berenang jangan di sungai yang sedang banjir karena kamu bisa tenggelam seperti tadi..” Lalu ia menyebutkan satu persatu nama tenggelam di sungai tersebut.

Tapi aku tidak bisa berenang.” protesku.

Sekalipun tidak percaya perkataanku perempuan ini meletakkan tangannya ke bahuku sambil berkata “oke, oke,sekarang kuantarkan pulang ke rumahmu.”

Untung pemilik warung tidak mengenali saya, kalau sampai ia mengadu kepada ibu dan nenek, bisa dibayangkan jeweran dan jitakan bertubi-tubi dari kedua orang tersebut. Bukan karena aku hampir mati tenggelam. Tetapi karena makanan yang hilang bersama air bah.

Keesokan harinya aku mendatangi seorang “medium.” Aku mengenalnya ketika Nenek sering mengajakku mendatangi medium tersebut. Menurut Popo (nenek), ia memiliki kemampuan memanggil arwah.

Pagi-pagi sekali aku datangi sebuah rumah petak kecil dan gelap di kawasan China Town. Sandal kulepas diluar. Ada tiga anak tangga kayu kunaiki untuk mencapai disebuah lantai kayu yang sangat bersih sebelum kulihat duduk bersila seorang perempuan kecil dengan kepala tertunduk komat kamit membaca doa.

Sekalipun sudah berumur kentara dengan kulit yang berkeriput, Si Mo nama perempuan ini masih memiliki rambut hitam lebat. Rambut ini dikepang lalu diikat pita dan diikat dikepalanya, persis seperti pejuang Cina masa purba. Biasanya aku ketakutan menyaksikan sosok tubuhnya dan tatapan matanya yang kosong. Namun kali ini kubuang rasa takut tersebut.

Kunyalakan hio dan mundur kembali duduk bersila semula.

Tiba-tiba SiMo menghentikan doanya, suaranya serak dan dalam “Popomu kenapa tidak datang?
Aku berbohong dengan mengatakan dia tidak enak badan.

Jadi karena tidak enak badan ia malahan mengirimmu,” nampaknya Si Mo menangkap kebohonganku. Tetapi padangan matanya tidak berkata apa-apa.

Jadi mengapa kamu kemari,”

Lalu kukatakan almarhum ayah yang menolongku saat nyaris tenggelam sekalian menanyakan apakah ada pesan lain dari ayah sebelum meninggal dunia.

Si Mo menghilang di balik ruang dan kembali membawa anglo berisi arang membara dan sebuah ember berisikan air. Dengan hati-hati anglo diberi tatakan sebuah porselin agar tidak membakar rumah kayu yang sudah tua ini. Ia mulai berdoa seperti berzikir. Ketika air mulai bergejolak tangannya dimasukkan kedalam air panas tersebut sambil memanggil nama ayah tiga kali. Lalu kepalanya bergoyang kekiri dan kekanan tanda kerasukan. “ada yang ingin kau sampaikan kepada anakmu?

Kemarin adalah kedua kali ia bermain dengan bahaya. Mati akibat sembrono bukan penyelesaian untuk mengatasi kesukaran.”

Susunan kalimat, ya susunan kalimat, adalah ciri ayah berbicara. Oh Tuhan, ayahku hadir didepanku dalam ujud lain. Dalam kesedihan yang sangat, dan merasakan hidup sudah tidak ada artinya sepeninggal beliau sang pembelaku bulu romaku merinding semua. Ingin rasanya aku berteriak “Ayah aku rindu dekapanmu” – namun keinginan ini kutahan.

Lalu Si Mo (ayah) berkata sekali lagi “kesulitan jangan sampai menguasaimu. Ingat pesan yang aku katakan bahwa bila kamu menghadapi kesulitan kamu sebenarnya sedang mendapatkan kekuatan.”

Setelah berkata demikian, tangan Simo diangkat dari air mendidih, dan ia kembali sadar.

Dimasa hidupnya Ayah memang pernah berkata bahwa “orang harus berlatih hidup moderat. Tidak boleh terlalu bersedih dan tidak boleh terlalu bergembira.

Ayah memang melindungiku dari alam sana. Buktinya kakakku Miew-Kin yang menderita sakit tidak beberapa lama sembuh kembali..

****

Aku terlahir di rumah bersalin di Serangon road Singapura pada 19 Desember 1933. Nama saya Miew Yong, artinya Teratai Kecil. Popo yang memilihkan nama tersebut tentunya setelah berkonsultasi dengan para peramal dan ahli fengshuinya.

Kami tinggal di China Town. Sebagai anak tertua lelaki, Beng mendapatkan perhatian khusus dari ibu maupun nenek. Beng adalah anak yang tak pernah salah dimata mereka. Segala yang dimintanya dikabulkan dan segala ucapannya dipercaya.

Menurut ayah seharusnya kami memanggil WauPo atau Nenek Luar. Tapi kalau ini kami lakukan nenek akan memukuli dadanya sendiri sambil meraung-raung “tua bangka ini sudah tak layak hidup, cucu-cucunya tidak mau memanggil Popo

Umumnya makan bersama keluarga adalah saat menyenangkan. Tapi bagi kami anak-anaknya menjadi sasaran ditampar, dijitak atau di pukul pakai sumpit adalah “makanan penyerta.” Sedikit perdebatan antara ibu dengan ayah kami menjadi sasaran. Kalau suasana memanas nasi dan sayuran dikucurkan dikepala ayah. Sekalipun nampak menahan kemarahannya ayah tidak pernah kelepasan tangan . Biasanya ia akan masuk ke kamar mandi, berganti baju lalu keluar rumah. Belakangan aku tahu ayah teman akrab bernama Samsui, arak beras ketan.

Di luaran beredar bisik-bisik Po Mun (ayah) hidup dibawah jempol Istri dan Mertuanya.

Kedua perempuan ini sangat percaya kepada klenik, firasat, ramalan dan penggemar berar Mahyong. Bilamana kalah berjudi, mereka segera ke altar sembahyang membakar hio dan kertas doa. Tujuannya agar terlepas dari segala dosanya dan bisa memenangkan perjudian.

Untuk arwah yang berasal dari Cina ia sediakan buah-buahan, sementara untuk arwah dari Islam ia suguhkan kelapa yang dipecah empat bagian. Kadang kalau aku kelaparan diam-diam pisang sajian saya makan. Dan keesokan harinya POPO akan berteriak kegirangan bahwa permohonan kepada dewa sudah dikabulkan. Terbukti pisangnya berkurang. Padahal resikonya kalau ketahuan, kedua perempuan akan menempelkan lidi panas bekas bakaran hio ke bibirku. Belum lagi harus menahan lapar seharian.

Sementara kakek Kungkung suami Popo seperti tak berdaya menghadapi kedua perempuan ini. Ia lebih asik dengan opiumnya. Aku sendiri suka dengan bau harum candu yang keluar dari pipa panjang kakek Kung Kung. Suatu hari ketika asik menghisap candu, Popo masuk kamar dan melabrak. “Aku sudah tidak tahan lagi dengan kelakuanmu pergilah ke rumah candu disana tempatmu.

Kungkung tersinggung; “bertahun-tahun aku menghisap candu sekarang aku keberatan. Apa kau kira saya tidak tahu kau selalu mengambil gaji menantumu (ayahku) dan sekarang kau ingin aku berlaku yang sama?“.

Pertengkaranpun tak terhindari. Suatu hari Kungkung menyerahkan satu tas uang kepada Popo yang menerimanya dengan berteriak.

Ini uang yang kau inginkan,” setelah itu Kung Kung pergi dan tak pernah kembali. Harga dirinya terluka diusir oleh isterinya.

Sebagai istri, Popo tidak merasa kehilangan sebab ia mendapatkan uang peninggalan Kung Kung suaminya, gaji menantunya (ayah) yang besar, dan hasil persewaan penginapan sehingga ia makin tenggelam dalam asap rokok “555” dan mahyong. Aku bertugas menjadi tukang bersih asbak yang sebentar sudah menggunung dengan puntung dan abu rokok.

Suatu hari kamar mandi kami diperbaharui. Sebelum pergi tukang batu mengingatkan cat masih basah. Namun Beng, sang Pangeran, bermain-main di kamar baru tersebut sampai kakinya terinjak cat basah. Kami memergokinya ketika ia dalam kesulitan menghilangkan cat ditangannya. Aku ingin menolongnya, namun badanku didorongnya masuk kamar mandi dan tanganku ditempelkan kepada cat sambil berteriak “Popo lihat mereka memegang cat basah.”

Sia-sia aku membela diri. Beng selalu dianggap anak jujur tak pernah berbohong. Kedua tanganku diikat di kaki meja makan lalu diantara jari diselipkankan sumpit. Rotan mendera tubuhku. Namun aku bertahan mengatakan bahwa Beng yang melakukannya. Sekarang mulutku disundut besi panas colokan kompor sebagai hukuman seorang “pendusta” .

Tak henti-hentinya Popo dan ibu kandungku menyumpahi “keras kepala seperti bapakmu!.” – Dalam kesakitan aku membayangkan bermain dibawah pohon besar dan rindang di luar rumah.

Akhirnya Popo dan Ibu kecapekan memukuliku lalu mereka berdua istirahat untuk merokok. Ternyata hukuman masih berlangsung. Saat makan malam aku masih tertambat dan tidak diperbolehkan menelan sebutir nasipun.

Hukuman baru dilepas keesokan harinya setelah pertahananku ambrol dan mengakui kesalahan yang tidak diperbuat.

Beng kakakku nampak tersenyum kemenangan , sementara ayah sudah menghilang tidak tega melihat anaknya disiksa kedua manusia yang seharusnya menjadi pelindung.

Tidak tahan perlakuan Popo dan ibu, sekali waktu saya bertanya kepada lelaki kecil berkacamata ini. Mengapa ia tidak mencegah tindakan kejam mertua dan istrinya. Sang ayah tidak menjawab.

Lain waktu Singapura terancam pendudukan Jepang, dimana seluruh rakyat berlatih melindungi diri dari bom, dibalik gua perlindungan yang mereka buat, sambil menggigit biskuit penahan lapar, ayah berkata bahwa saat menikah dengan ibu, ayah masih status siswa perguruan Methodist.

Semula ia berkecukupan lantaran biaya sekolah ditanggung ibu kandungnya Kum Tai yang hidup sebagai petani. Tahun 1919, Kum Tai beremigrasi ke Singapura. Keputusan dibuat gara-gara sebuah kecelakaan menewaskan suaminya. Segala milik di Hainan dijualnya.

Perempuan buta aksara ini tujuannya satu, sang anak satu-satunya PohMun belajar bahasa Inggris (sebuah bahasa yang amat tidak dimengertinya), dan jangan sekali-sekali menjadi petani dan pembuat arang.

Di kawasan Nee Soon Singapura, nenek Kum Tai membeli kebun Rambutan dan Manggis. Sering terjadi salah komunikasi lantaran nenek KumTai cuma bicara Hainan. Daripada selalu jengkel, nenek Kum Tai menjaga kebunnya sendiri dari serangan Kalong yang menghabiskan panen.

Mula mula ia mengusir kalong sambil membawa lentera dan galah panjang. Lalu ada yang mengusulkan mengapa tidak menggunakan senapan. Satu kali tembakan kalong akan kabur. Bahkan kalong yang sial bisa dimakan dagingnya. Tetapi ayah tetap tidak diperbolehkan membantunya barang sedikit. “Poh Mun tugasmu belajar Inggris sebab negara (Singapura) tidak membutuhkan petani. Itulah alasan kami pindah kemari.”

Suatu ketika Kum Tai terpeleset dan kakinya patah. Dukun patah tulang baru datang keesokan hari. Orangnya pendek dengan lemak bergelambir disekujur tubuhnya. Kalau ia duduk di bangku, lemak tubuhnya menutupi bangku sehingga dari kejauhan seperti orang bersila.

Pekerjaan sehar-harinya sebagai tukang obat pinggir jalan bersebelahan dengan tukang cabut gigi. Bila tukang gigi berhalangan Babah Gemuk Lum menyela tugasnya. Dengan penuh perhatian si Gemuk Lum mengobati patah tulang ibu dengan ramuan obatan lalu kaki Kum Tai diikat tali asin yang terbuat dari pelepah pisang. Sambil menunggu kesembuhan ia menerjemahkan perintah nenek Kum Tai ke bahasa Malaya dan Tamil sehingga pegawai dapat mengerjakan pekerjaan sehari-hari.

Karena jarak kota ke Nee Soon cukup jauh, Lum diberi kamar belakang bersama pegawai-pegawai lainnya. Sekalian menjadi guru bahasa Inggris, Malaya dan India kepada Poh Mun ayah saya. Tidak lama kemudian Kum Tai sering mengundang Lum Gemuk makan bersama dan akhirnya mereka berdua menikah guna menghindari pergunjingan yang dapat menurunkan rasa hormat tetangga.

Suatu malam Kum Tai menembak kalong. Ketika korban buruannya seekor kera besar yang mati dengan tangan membentuk sembah. Kera tadi dianggap Kum Tai sebagai penjelmaan Dewa Monyet. Lintang pukang ia berlari pulang. Di rumah senapan dibanting sambil berteriak “pergi kau roh jahat” – tetapi sekalipun demikian senapan tersebut tidak rusak sedikitpun. Akhirnya senapan di lempar ke kolam pemeliharaan itik dan itulah tempat peristirahatannya terakhir.

Sejak itu Kum Tai mulai sering terganggu mimpi buruk. Sia-sia suaminya Babah Lum menenangkannya bahwa kera itu daging juga. Di Chinatown dagingnya diperjual belikan. Babah Lum mengatakan kepada ayah bahwa sewaktu panik matanya tertusuk ranting pepohonan dan dia akan menjadi buta.

Kum Tai lalu mencarikan istri bagi ayah melalui jasa perantara atau Mak Comblang. Waktu itu calon isterinya Chiew Wah masih berumur belasan sehingga segala sesuatu diatur oleh ibunya. Popo mengetahui kemampuan finansial besannya sehingga ia mengajukan mahar yang mahal dan pesta yang meriah.

Sebuah kecelakaan di kebun mengakibatkan nenek Kum Tai menemui ajalnya. Ayah menjadi yatim piatu. Beberapa hari setelah pemakaman Kum Tai. Lum Gemuk sang ayah tirinya menunjukkan surat rumah. “Kamu tidak berhak memanggil aku ayah, sekarang kamu harus pergi dari rumah ini sebab sudah menjadi milik saya. Ini surat yang ditanda tangani ibumu..” – Seandainya Kum Tai tidak buta huruf.

Untungnya Popo mertua ayah mengambil alih tugas membiayai sekolah ayah sampai selesai. “Aku lakukan ini demi anak dan cucuku jangan sampai mati kelaparan sementara ayahnya menekuni buku.” Kata Popo ketus. Tetapi ketika ayah lulus Popo langsung menagih jasa baiknya: “kamu berhutang seumur hidupmu. Mulai sekarang gajimu seluruhnya diserahkan kepadaku nanti aku yang membaginya.”

Saat bercerita, aku melihat muka ayah sedih merasa dibohongi dan dipermalukan.

Penjajahan Jepang ternyata membawa bencana bagi warga keturunan sebab orang Jepang lebih mempercayai orang Malaya dan India ketimbang orang Cina.

Untungnya ayah ahli bahasa. Ia bisa berbicara dalam beberapa dialog sehingga banyak dipakai sebagai penerjemah. Dengan kemampuannya ini ia bisa dekat dengan serdadu Jepang dan bekerja pada kantor polisi. Popo memanfaatkan posisi ayah dengan menerima suap keluarga yang ditangkap Jepang dengan tuduhan mata-mata, agar mereka dibebaskan.

Sejatinya, saya lebih suka bermain-main dengan anak Kampung Malaya sekalipun Popo selalu menganggap kelompok tersebut tidak lebih dari manusia penuh kutu. Teman akrabku bernama Fatimah. Aku diundang makan dirumahnya. Mula-mula aku menolak.Namun ibu Fatimah mengatakan “kamu anak orang kaya tidak suka masakan orang miskin,” baru sadar aku menyinggung perasaannya. Alangkah nikmatnya makan pakai tangan dan mencampurnya dengan sambal belacan. Selesai makan kulihat ayah Fatimah bersantai sambil mengunyah sirih. Aku langsung meludahkan sirih ketika mencobanya. Semua orang tertawa melihat aku gebes-gebes membersihkan mulut dengan bajuku. Kesukaanku yang lain adalah bermain di kebun mangga yang ditinggal penjaganya lantaran hujan dan angin ribut. Alangkah bahagianya bisa memungut mangga yang jatuh dari pohon.

Pulangnya mangga aku serahkan kepada Popo dengan harapan aku mendapat pujian. Di kursi goyang Popo berkata dingin; “Kamu tahu kita Cina tidak makan mangga mentah. Taruh itu di tong sampah. Mulai besok kamu tidak boleh bermain dengan anak Melayu.” – Yang Popo tidak sadari dikemudian hari ketika ayah meninggal, rumah mulai dikuasai oleh pihak lain sehingga kami sekeluarga terusir, seorang teman ayah yang Melayu, memberikan rumah kontrakan dengan sewa yang luar biasa murah. Setan Melayu yang penuh kutu ternyata menjadi malaikat dibelakang hari.

Herannya Popo dan ibu kandungku seperti tidak merasa bersalah selama ini memberikan stigma pelecehan terhadap puak Melayu.

Lucy Lum demikian nama penulis yang aselinya adalah Miew Yong adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara. Lahir di Singapura pada 1933 dari sebuah keluarga imigran Cina yang didominasi oleh tangan besi Popo seorang nenek yang digambarkan kejam dan superstitius. Popo adalah manusia kuno, hanya percaya kepada pengobatan jamu, hidupnya amat bergantung kepada jasa peramal. Gara-gara anak lelakinya mati dalam kandungan, Popo memindahkan sayangnya kepada Beng, cucu lelaki pertamanya. Dan Luci yang selalu menjadi korban keluarga ini. Sepertinya penderitaan belum berakhir. Singapura pada 1940-an ia menyaksikan ketakutan penduduk termasuk tentara Inggris ketika Jepang menyerang Singapura, ketakutan akan ancaman bancir yang kerap menenggelamkan seisi rumah. Ayah Lucy masih beruntung sekalipun ia keturunan Cina namun keahliannya berbahasa membuatnya bebas dari kerja paksa Jepang. Cerita kekejaman Jepang diperoleh dari sang ayah.

Sebuah cerita persahabatan antara anak perempuan dan ayah sampai-sampai ketika ayahnya meninggalpun arwahnya masih mencoba melindungi nyawa anaknya.

The Thorn of Lion City, sebuah Memoir oleh Lucy Lum

Advertisements

Pesan Trilogi dapat Triplex


Gara-gara resensi seorang Wikimuer mengenai buku Laskar Pelangi, saya seperti mati langkah. Niat mengebet baca buku habis. Tapi Apa daya.

Pertama saya ada di tengah laut, kedua kalaupun saya sampai di daratan Perth maka toko buku macam Dymocs, Borders jelas tidak akan menjual buku karya Andrea Hirata tersebut. Maka untuk memenuhi hasrat yang berkobar, sebuah toko buku online saya pilih. Maksud hati saat kepulangan ke tanah air, buku sudah tiba. Halaman depan situs ini bertaburan pujian nan tiada kering, cepat, baru klik pesan, tahu-tahu sudah “jleg” di depan mata sehingga membuat saya Muantabz melakukan pesanan online.

Perlahan saya baca resep memesan. Saya klik Laskar Pelangi harga X rupiah, saya klik Sang Pemimpi Y rupiah, saya klik Edensor Z rupiah. Lalu ketiga petikan ini saya masukkan keranjang belanja.

Upacara pesan memesan diakhiri dengan perintah beli. Situs menjumlah tiga deret sederhana. “Jeglek” yang muncul angka kurang pas. Barangkali persamaan hasil persilangan antara Pitagoras dengan rumus membuat KTP karena menghasilkan X+Y+Z = X+X+X.

Gagal bertransaksi, saya cabut dari situs tersebut lalu setelah surfing kesana kemari entah kenapa kepingin balik ke situs awal.

Kelihatannya ada sistem error pada situs tersebut.

Kebetulan pikir saya, kalau ada anomali, bakalan ada berita. Saya nekad memesan tiga buku, bahkan melunasi pembayarannya.

Ada beberapa hari email saya dijawab. Alasannya masih liburan hari Raya. Lalu seorang berinisial “D” menegaskan apa betul saya pesan tiga buku yang sama. Terang saya jawab “Tidak, saya tidak pesan tiga buku yang sama, saya pesan buku jilid 1, Jilid 2 dan Jilid 3″

Email dijawab, baik pak, pesanan sudah diperbaiki.

Dua minggu setelah lebaran, terbaca SMS dari toko buku online. Buku akan dikirim besok tanggal sekian.

Takut saya tidak ada di Jakarta (lha saya kan di Bekasi), status Menunggu Cemas saya naikkan menjadi Waspada Menunggu. Ternyata buku yang dijanjikan tidak datang.

Baik kalau begitu, saya SMS kembali, dan dijawab “Maaf Penerbitnya belum kirim Buku” – Inilah hebatnya cara kita berbisnis, mulai dari karyawan tidak masuk pada saat liburan sudah usai, penerbitan yang lelet, segala macam parameter ikut ditimpakan kepada pelanggan. Jangan-jangan bertengkar dengan istri dirumah gara-gara jatah malam tidak diberikan akan mengajak pelanggan menanggung akibatnya.

Kebetulan status saya turunkan menjadi “masa bodoh” alias tidak terlalu memikirkan pemesanan, di Jakarta, sang kurir datang.

Tolong dicek pak,” katanya sambil mengendorkan jaket dan sarung tangan kulitnya. Sebelum membuka bungkusan bersampul kertas kopi ini, saya meraba ketiga buku.

Saya merasakan ada salah kirim. Mari kita buktikan..

Bret sampul saya buka.

Buku salah kirim. Saya pesan jilid satu, jilid dua, jilid tiga. Ini semuanya buku jilid satu sebanyak tiga buku” – sebab warna buku, ketebalan, dan judulnya sama “Laskar Pelangi.”

Kurir keukueh dengan mengatakan memang ada buku dengan ketebalan dan cover sama, tetapi isinya berbeda Pak.

Maka kali ini buku dibedah. Bab I bertajuk Sepuluh Murid Baru.

Buku lainnya saya buka dan Bab I dengan tajuk serupa saya pelototkan didepan kurir. Kali ini dia menyadari pendapatnya digugurkan.

Saya kan cuma kurir pak! Jauh juga ya pak dari Jatinegara ke Grogol” – keluar ilmu simpanannya.

Kata sakti yang bisa berarti sudah jauh dikirim masak dikembalikan, kasian dong kepada kurir yang sudah buang bensin dan waktu, maklum lebaran belum lama, pegawai masih mengantuk.

Lalu saya tanda tangani formulir berita acara, bahkan masih ada pesan khusus. Bila anda puas dengan pelayanan kami, silakan kirim testimonial ke email addres xxxxgmail.

Dan sekalipun ongkos kirim sudah tertulis 0000, maka seperti biasa saya memberikan uang puas sekedarnya. Maka sekaligus melegitimasi kesalahan dimaafkan. Kapokkah saya dengan toko buku yang ternyata super lelet dan super salah ini. Tidak.

Saya masih kirim SMS, saya pesan Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov, tapi tidak pakai salah, tidak pakai lama. Siapa tahu bisa bikin cerita aneh lagi.

Epigram-nya Jamal


Nggak… yang ini serius. Sumpah! Berani dikutuk jadi Menteri…!

Jadi menteri kok kutukan?,” Kris geleng-geleng kepala. Keningnya berkernyit menatap gerak-gerik gelisan Adun. Lalu kembali mengamati koran. Kebetulan di koran itu terpampang berita tabrakan kereta api. Adun membaca sekilas.

Bayangkan saja, tiap ada kereta tabrakan, yang disalahkan menteri.

Memang.. Menhub dianggap masinis atau kepala stasiun kereta. Ha ha.. Eh yang untung sih Menteri Pendidikan, biarpun kualitas pendidikan negeri ini makin menurun dan generasi muda bangsa ini lebih bodoh, dia tidak pernah disalahkan orang..

Ya…yang disalahkan selalu guru dan cara mengajar.

Inilah perkenalan saya dengan hasil karya Jamal. Padahal semula karena pandangan pertama mula aku berjumpa karena cover Rig Pengeboran Lepas Pantai. Sebuah novel yang “ambisius dan berbahaya” sebab biasanya pembacanya bakalan tersegmentasi kelompok tertentu diantara menjamurnya novel checklit.

Kebetulan ada novel yang sudah terbuka pembungkus plastiknya, dan eng..ing eng.. pas tiba di ayat 33, maksud saya halaman 33 sihir Jamal mulai mempengaruhi syaraf.

Kok pas bener dengan kondisi kita sekarang, diantara rangkaian kecelakaan dua pesawat Adam Air, Kapal Motor Lavina 1, yang menggiring orang menuntut Menhub mundur.

Segera saya raih buku tersebut dan berharap keras pengarangnya Jamal, bercerita tentang kehidupan orang lepas pantai. Satu dari 10 pekerjaan berbahaya di dunia.

Dua tokoh yang diceritakan dalam episode ini. Kristunov dan Nara memang mengajak kita menikmati wisata keluar negeri, Boston, Spanyol, termasuk alam Norwegia sekalipun saya menjadi murung karena kehidupan rig pengeboran hanya diserempet sedikit sekali.

Kang Jamal penulis memang menyihir kita sehingga tidak bisa membedakan antara realitas dan dongeng karena keduanya sering saling memperkuat.

Kalaupun yang perlu diacungkan jari sekali lagi adalah “bebodoran” plesetan ciri khas orang Sunda dan Mahasiswa yang mengalir cerdas dan cerdas.

Cerita Mahasiswa dengan latar belakang perjuangan selalu memukau, banyolan Sunda – umumnya berdasarkan pemikiran mendalam. Mungkin inilah yang dimaksud epigram (dua cerita yang bermuara sama). Dan saya amat menikmatinya. Padahal cerita ini merupakan romatika duka, tangis panjang luka anak manusia. Namun diceritakan dengan tegar.

Seperti kata komentator lainnya, Jamal adalah pengarang berbahaya. Maksudnya ia bisa menulis novel serius tapi kalau diperlukan bisa melakukan diversifikasi menulis buku lucu.

Judul : Epigram
Penulis : Jamal
Editor : Indah S. Pratidina
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 384 hlm ; 20 cm

Mimbar Bambang Saputro

Rahasia dibalik Novel Ayat Ayat Cinta



Pernah baca novel Ayat-Ayat Cinta (AAC) yang fenomenal sebab penjualannya meledak setara dengan bom buku Harry Potter. Kalau sudah baca, mungkin masih penasaran mengapa ada tokoh berahlak luhur macam Fahri. Bahkan dalam sebuah acara bedah buku, seorang ustadz merasa lancang menghakimi tokoh Fahri dalam AAC sebagai kelemahan sang pengarang.

Pasalnya Hollywood mempunyai tiga resep membuat filem. Harus ada pemberontakan, maksudnya tokoh yang berontak terhadap kemapanan, harus ada kerusakan seperti mobil meledak, gedung hancur dan harus ada penelanjangan. Yang terakhir tidak perlu diperpanjang.

Lalu bagaimana jawab sang pengarang menepis tuduhan sang tokoh terlalu “malaikat”– apa benar masyarakat kita terlalu dicekoki tokoh jahat berselimut baik selama ini sehingga ketika ada tokoh baik 100% kita tersentak. Sama tersentaknya kita ketika ada berita supir Taxi mengembalikan tas berisi uang milik penumpang yang tertinggal di bagasinya.

Siapakah tokoh Fahri-nya Habiburrahman, apakah penggambaran dirinya sendiri yang menurut adik-adiknya memang mirip-mirip Fahri, selalu jago disekolah, selalu juara kelas sampai-sampai adik-adiknya memilih sekolah yang berbeda almamater ketimbang menanggung beban teramat berat menjadi adik seorang juara kelas.

Saat sang adik menjadi juara, para orang tua anteng saja. Namun ketika angka rapot jeblok cemooh mulai datang lantatran “kok tidak seperti kakaknya?”– bahkan ada adik pengarang yang memberontak dengan tidak mengundang kedua orang tuanya mereka saat wisuda sebagai protes karena orang tua terlalu memuji sang anak sulungnya.

Lalu siapa tokoh dai muda dari Mesir yang digambarkan pengarang sebagai “model” Fahrinya, muda, pandai, berbudi luhur dan tampan pula kendati penulis Yulia Suryakusuma menyebutnya lelaki tanpa darah.

Apa benar, nama masih mudanya bukan Habiburrahman, pertama kakeknya memberi nama terlalu “njawani” kendati tidak ditulis secara gamblang dalam buku ini hanya ditulis berdasarkan patokan Neptu dan Wuku sehingga sang ayah diam-diam memberi nama yang “islami.” Dibelakang hari ia sakit-sakitan nyaris tewas karena menyandang nama terlalu berat sehingga atas nasehat seorang yang mumpuni ilmu agama, ia perlu merevisi ulang namanya.

Ternyata nama adalah Doa yang dipateri bagi pemiliknya, menunjukkan existensinya.

Siapakah tokoh ayah yang demikian galak namun penuh kasih sayang dalam mendidik anak. Menghukum anak selain pakai sabetan kadang anak dilempar di empang pada malam hari, gara-gara seorang anaknya merengek terus minta tas baru, padahal hari sudah malam dan toko sudah tutup.

Berbeda dengan sang Ummi, demikian mereka memanggil ibu begitu lembut, kadang terlampau lembut sehingga tidak pernah terdengar nada marah. Akibatnya sang anak terlalu dekat dengan Ummi ketimbang ayahnya sang Kiai kaki lima lantaran tidak memiliki pondok pesantren.

Bagaimana gundah hati ibunda ketika menyekolahkan anak ke Kairo, menjadi juara disana, pulang menjadi lontang-lantung. Sekali ada pekerjaan berpenghasilan mengurus asrama dengan gaji taklebih Rp. 200 ribu perbulan. Lagi-lagi mulut ceriwis mulai membantai keluarga dengan cibiran “dibela-belain menggadai gaji ke Bank untuk menyekolahkan anak ke Kairo, hasilnya apa!

Mengapa novel ayat-ayat cinta kendati sarat dengan nuansa Mesir dan Islam, namun tidak sedikitpun bernada memusuhi golongan lain, tidak merasa dizolimi. Bahkan tulisannya seperti untuk dibaca semua orang dan bernapaskan “Islam tapi mesra

Apakah betul, Maria gadis Koptik dalam cerita itu itu benar-benar ada? – maksudnya apakah sang pengarang memang pernah tergores mawar dari Mesir.

Apakah betul untuk menelurkan ide fiksinya seseorang harus pakai pakai Laptop mahal? bagaimana kalau punyanya hanya PC Jadul

Bagaimana cara kang Abik menulis novelnya. Risetnya. Visi tulisan yang ia harapkan. Daftar penulis yang mengilhami semangatnya menulis. Tips bagi calon penulis novel dari kang Abik.

Betulkah Novel tersebut hampir tidak pernah muncul di bumi Indonesia ini. Apalagi di Malaysia yang baru-baru ini membeli ijin untuk menerbitkan dalam bahasa Malaysia.

Anif, sang adik yang memang pengarang, menuturkannya untuk anda.

Buku:
Fenomena Ayat Ayat Cinta
Anif Sirsaeba El Shirazy
Penerbit Republika dan Pesantren Basmala
412 Halaman

mimbarsaputro.wordpress.com

Siapa Bilang Kawin itu Enak? Sinih tak kasih tau ya…


Kok seperti hendak “menyindir” perkawinan keluarga Cendana yang serba moncer, serba kepenak, serba sempurna, maka pada 20 September 2006 lalu beredar novel tipis baru. Judul buku tipis warna merah jambu ini menggelitik, maklum kategori TeenLit “Siapa Bilang Kawin Itu Enak.”

Singkatnya penulis menceritakan bagaimana repotnya mencari hari baik yang ternyata sering tidak pas dengan ketersediaan hotel, mencari lokasi resepsi. tempat midodareni, membuat dan menyebar undangan dan pernik pernikahan.

Bahkan resepsi berlangsung yang kata orang menjadi raja sehari, justru rongrongan datang lebih hebat. Mana ada raja dan ratu kelaparan berat. Sudah berjam-jam dipaksa berdiri dan tersenyum sampai rahang sukar dikatupkan, saat dilanda lapar berat, mereka tidak boleh makan sampai acara selesai, sebab tugasnya hari itu adalah senyum dan mengucapkan terimakasih. Sampai-sampai memohon kepada juru kipas (anak-anak) untuk ambil “kue” saja.

Tapi celaka, baru mau mengemplok penganan, juru potret mendatangi sambil teriak “pengantin foto bersama.” Ya ampiiiunnn ..Gagal maning SON!

Lalu ketika pesta usai, hari mulai dijalani dan saat kulit pangeran dan putri kesempurnaan mulai mengelupas helai demi helai. Pertengkaran demi pertengkaran mengisi kehidupan perkawinan mereka. Satu senang tidur menempel di dinding, yang lain kepingin lampu menyala saat tidur.

Pendeknya kehidupan perkawinan hari-hari, ditulis dengan jenaka oleh seorang ibu yang kangen Bakso, lantaran harus tinggal di Kuala Lumpur.

Barangkali Tria, sang penulis juga mahfum, dan pikir kembali akan novelnya kalau melihat lakon Kakawin-Lulu Tobing yang bikin orang geleng-geleng kepala. Memang sih duit-duit sendiri, tak elok dibicarakan. Agnes Monica saja mampu pesta ultahnya “cuma satu eM” – masak cucu bekas orang nomor satu kalah? Anak Danajaya ngejoss sampai “dua eM” – mau dibilang apa?

Sebuah koran IbuKota meliput acara dan gambar hampir memenuhi satu halaman. Buah bibir, kembang lambe soal cindera mata berupa uang yang di lipet, dijepit merebak. Ini bicara mata uang resmi yang katanya acara tivi tidak boleh, diremas, dilipat, distaples.

Tapi khusus Cendana boleh di “origami” – tapi sudahlah, media masa gencar meliput habis-habisan. Bahkan acara ikutannya tak kurang Habibi bikin buku, dibantah Prabowo, disanggah Wiranto. Rasanya peristiwa baru kemarin, episodenya sudah mulai abu-abu. Bagaimana dengan Surat semacam Super Semar, pasti satu orang seribu cerita.

Namun disudut koran, seorang ibu melahirkan dibawah pohon lantaran tidak punya uang untuk ke rumah sakit. Tapi kontrasnya, ini bukan anak yang pertama melainkan anak keempat. Doyan napa bu? – saya selalu iri melihat orang punya anak buanyak.

Impian saya dari dulu punya anak banyak sehingga mau panggil Hasan jadi Sri, mau panggil Joko jadi Jang.

****

Padahal beberapa malam sebelumnya, anak saya pernah SMS, “aku mimpi be-ol tadi malam…

Lho kalau gitu buang uang di jalan, sebab orang tua dulu nasehatnya begitu. Bukan untuk menolak bala, tetapi sekedar rasa terimakasih kepada sang “kurir” – sehingga kalau bencanapun terjadi, hati sudah tegar.

Gantian SMS menyalak “Ini Singapore, jangan main-main dengan duit, ketahuan buang uang, bakalan jadi perkara masuk bui jadi anak rante..” – di Indon, kalau tidak mau jadi orang rante, silahkan buang-buang duit.

***

Pada 1996-1997, saya pernah memenuhi undangan pernikahan putrinya tokoh Pemuda Pancasila. Tidak usah ditanyakan hubungannya kekeluargaan, sebab sama sekali jauh panggang dari api. Sepanjang jalan masuk menuju Taman Mini, dipagar betis dengan pemuda berseragam “doreng” alias loreng-loreng jingga. Jadi anda tidak perlu tanya sana sini takut kesasar, karena dari jauh sudah “terbaca” yang punya hajat adalah bos vrijman.

Satu-satu kenangan adalah ketika acara “gropyokan” barang perkakas sehari-hari. Ada beberapa orang berpakaian ala petani masuk ketengah arena sambil memikul barang keperluan sehari-hari. Barang ini nantinya boleh diambil sambil berebutan tentunya. Kalau soal rebutan begini saya betul-betul “hidup akal“, betul saja, tahu-tahu saya sudah di tengah arena, sikut-sikutan dengan beberapa menteri, termasuk Menteri Kesra untuk “alap berkah” memperebutkan gayung, talenan, mangkok perak, padi dsb. Acara perkawinan tersebut unik, tanpa pameran kemewahan tetapi nuansa agungnya bisa dirasakan. Dan bukannya jadi kacau balau lantaran rebutan “udik-udik.

Waktu itu saya dapat mangkokan perak. Atensi-ku biar cepat dapat jodoh. Tentunya untuk anakku. Benda tersebut sampai sekarang selalu membuat saya teringat segar akan agungnya resepsi pernikahan, betapa kencangnya genggaman ayah mempelai yang notabene “tokoh pemuda” – tak heran ia kondang dibelantara dunia keras. Dulu saat tokoh ini berburu kijang di Lampung, mereka memanen banyak buruan di pajang diatas Jeep sehingga saat meliwati jalan pulang ke Jakarta masyarakat Lampung melihat konvoi tersebut. Ayah yang saat itu masih aktip dikesatuan mendapat teguran soal “pelestarian hewan.” – Lha ijinnya siapa yang bikin. Begitu bantah ayah.

Lho, setelah satu dasa warsa SMS yang dinantikan siang malam akhirnya berteriak juga. “Aku mau kawin….Pa! – Kalo bisa tahun 2007 – di Jakarta. “

Maka repotlah saya mendatangi segala macam tempat resepsi seperti Bidakara, Antam, Gedung Perfini dan beberapa daftar panjang, lantaran dompetnya pendek. Dan masukan-masukan kiri kanan mulai membanjir, pakai pemaes ini saja, kontrak katering itu saja dsb.

Ini urusan tidak main-main. Biasanya kami di “dapuk” jadi event organizer, sekarang kebingungan sendiri.

Secara kebetulan adik saya di Poso-Sulawesi mengirimkan kursi goyang. Tadinya saya ogah, tapi dia keukeuh dengan iming-iming, ini kayu ulin sehitam arang, tak bu tuh pernis, tahan ratusan tahun lantaran diemohi rayap yang racist. Rontok juga pertahanan saya. Apalagi katanya ongkos kirim cuma 300 ribu buat “anggota” yang membawanya pakai truk.

27tahun lalu saya bilang ingin berumah tangga, nenek yang masih keturunan “wong ndesa van Wanasari” duduk dikursi goyang sambil terkekeh “Mimbar iso njaluk rabi..heheheheh.”

Pasalnya saya sudah kelompatan adik-adik. Beliau masih ingat, masa saya kecil sakit gabagen (tampak, cacar air), sampai step-step lantaran halusinasi merasa ada pasukan ninja menyerbu dari kebun belakang rumah. Ibu kebingungan, dan nenek menetramkan saya dengan menyongsongkan susunya yang sudah pasti sudah peyot dan “saat”. Eh kok mujarobat, saya bisa “cep-klakep.”

Dan saya sudah siapkan lagu “Pada hari minggu, duduk di-muka(nya) pak Kusir yang sedang bekerja” – atau lagu syair Garuda Pancasila ..Pribang-pribangsaku…

Sebentara lagi aku menjadi kakek, lansia. Maka bacaan saya sekarang adalah “persiapan menjadi menjadi Lansia.” – menulis bagaimana rasanya menyiapkan sebuah perhelatan.

Wednesday, 27 September 2006
http://mimbar2006.blogspot.com

Tahun 2007 rencananya mengawinkan anak pertama.
Baru punya pot “puun dollar”

Nasihat Opa Pramoedya untuk menulis


Tulis..
Tulis..
Tulis..
dan Tulis…..

Itulah nasihat pengarang Pramoedya Ananta Toer. Ada 4 kali ia menyebut kata “tulis”.
Pasti ada maksudnya. Ini bukan nasihat orang sembarangan. Tulisan Pramoedya, sudah kondang ke pelbagai negara. Kita semua tahu itu.

Tuliskan saja apa yang gentayangan di otakmu, jangan takut ditolak (penerbit), suatu saat akan berguna. Saya harus menulis supaya dada tidak sesak akibat jika mengetahui sesuatu tetapi hanya menyimpannya di otak.”

Kata-kata yang juga bukan main-main. Dari bocah Blora yang Februari nanti lengkap 80 tahun usianya. Bukan tanpa resiko jabatan. Dari jaman Belanda dia jadi pelanggan boei, jaman Soekarno dia juga di kerangkeng, dan di masa Soeharto paling tidak 14 tahun “dikurung”.

Namun semakin di kekang, keinginan menulisnya semangkin bergeletar. Cerdaskah Pramoedya yang katanya sampai sekarang masih kuat ingatannya. Masa sekolah dulu?

Ternyata tidak. Ia tergolong anak yang lambat menerima pelajaran. Kalau kata iklan sekarang “thulaliit.” Terpaksa sang ayah Meneer Toer yang waktu itu jabatannya Direktur Boemi Poetra, jadi malu hati. Dia “cancut taliwondo” dan Pram kecil di”drill” secara spartan, kendati hasilnya jatah sekolah 7 tahun, baru lunas setelah 10 tahun. Sepertinya tidak satupun ada pelajaran gurunya nyangkut dibenaknya. Tapi jangan salah. Merasa kurang cekatan menerima pelajaran, maka Ananta, ini nama samaran dia ketika menulis Novel pertama kali “Hikayat Sebuah nama” – setiap pelajaran rajin menulis semua keterangan guru. Agar tidak mudah lupa. Kebiasan inilah yang dikemudian hari membuatnya seperti memiliki ensiklopedia hidup. Di usia senja, pekerjaannya bertambah. Sehari-hari ia mengoyak 3 koran untuk di kliping. “sudah 5 meter tingginya”.

Potongan koran yang tidak diklipping, ia remas seperti cara klasik pengarang meremas naskah tulisan. Sebelum ia lemparkan ke lantai dapur tempat isterinya memasak.

Soalnya ia punya obsesi membuat ensiklopedi Indonesia.

“Muda produktip, tua kelakar,” katanya lagi.
Yang ini Pramoedya,80, main-main.

Mimbar Bambang Saputro
19 Jan 2005

Imajinasi Liar – Hamsad Rangkuti


Date: Mon Aug 9, 2004 9:38 am
Cerpenis kondang sekaliber Hamsad Rangkuti sekali waktu pernah membeberkan teknik menulis cerpennya. Warga Depok yang kadang “kungkum” di tebat ikan gurami di rumahnya ini mengaku seorang pelamun dengan stadium “tak tertolong”.

“Saya suka duduk berjam-jam di atas pohon, membiarkan pikirannya “ngerogoh sukma” alias melayang kemana-mana. Itu nikmat sekali, kata penulis produktip yang berbakat alam itu.

Hobby lainnya, ujar kelahiran Titikuning, 7 Mei 1943 disiang hari adalah ia mengintip dari jendela rumahnya ke arah tukang tambal ban sepeda. Bukan memperhatikan bagaimana cara kerja pak Tambal, melainkan mencari akal agar sepedanya kempes dan bisa “numpang mompa” super lama di pak Tambal. Sambil curi kesempatan agar anak gadis pak Tambal keluar lantas mereka tukar menukar senyum dan lirikan.

Malam hari adalah teman Hamsad. Dengan malam ketika orang tertidur, penulis kelahiran Titikuning ini paling suka melihat kegelapan malam. Apalagi dulu almarhum ayahnya adalah seorang penjaga malam yang pandai mendongeng. Ia sering menemani ayahnya berjaga malam, hanya untuk mendengarkan tutur dongengnya. Kemungkinan bakatnya bertutur, ya turun dari ayahnya ini. Kalau saat terang bulan, yang dilakukannya adalah melihat sinar bulan sambil membayangkan sinar bulan memasuki jendela rumah yang tak pernah tertutup di malam hari sambil memeluk anak gadis pak Tambal. Sampai satu malam, ia nekad menggunakan tangga, meloncati pagar berduri, melongok ke arah kamar di balik jendela tersebut. Sang gadis tersentak, melihat sosok pemuda ada dikamarnya. Ia menghambur mengunci pintu kamarnya dari dalam, dan mengunci jendela setelah membantunya masuk kamarnya dan mendorong tangga. Malam itu sinar bulan cuma mampu mengintip iri lantaran pekerjaannya setiap purnama sudah digantikan. Layaknya anak tanggung 16 tahunan, siangnya, dikedai kopi, ia bercerita
panas didepan teman-temannya akan pengalamannya dengan Arida, nama anak gadis itu. Kawan-kawannya panas sebab Arida dalah kembang desa. Sukar didekati. Mereka bilang mana mungkin kumbang kecil seperti Hamsad punya nyali lompat jendela, menanggalkan bajunya lalu “mengentup” si kembang desa.

Mereka menyangkanya berbohong.

Sejak Sekolah Rendah, ia berminat akan membaca. Caranya kalau pulang sekolah, tidak langsung pulang tetapi tahan berjam-jam berdiri dibawah papan tempel tempal pak Wedana menempelkan koran-koran papan. Hari Senin adalah hari besarnya. Sebab koran edisi Minggu yang banyak memuat cerpen, fiksi bisa dibaca disitu. Di kantor wedana Kisaran. Ia mulai mengenal Anton Chekov. Hemingway, Gorky dan karyanya.

Celakanya bacaan tersebut selalu menempel tak hilang dari ingatannya. Lalu tanpa disadarinya timbul berahi untuk menulis. Suatu hari di hutan “para” ia melihat seorang buruh penyadap getah para (karet) sedang menderes getah dari satu pohon ke pohon. Tidak lama kemudian, datang seseorang bersepeda. Mereka bercakap dengan serius, sejenak keduanya meninggalkan hutan karet tersebut. Kisah ini dicatat dalam memorinya lalu mulai di jalin sebagai sebuah kisah fiktip. Ia lalu mengarang, isteri penderes tersebut dalam keadaan hamil tua, terpeleset di kamar mandi karena lantai berlumut. Maklum sejak hamil ia tak mampu berjongkok untuk menyikati kamar mandi. Ketika sang suami bergegas pulang dari onderneming ke rumah. Sang istri berjuang melawan maut mempertahankan janin atau nyawanya. Hamsad seperti mendengarkan nyanyian sedih yang mengiringi pacuan antara perjalanan suami dari kebun karet dan istri yang keguguran ke rumah sakit.

Imajinasi liar ini lalu dibentuk dalam sebuah cerpen “Sebuah Nyanyian di Rambung Tua” 1959 saat ia berusia 16 tahun.

Jakarta 9 Agustus 2004
Mimbar Bambang S
Suka melamun tetapi belum pernah pakai tangga.