Kredit


Tadi malam mau bayar cicilan motor. Selalu ditolak. Boleh jadi sudah lunas.

Ini hari ke jalan Hankam – untuk lunasi dan ambil bpkb.. Punya motor cuma sekedar diangetin. Lha nggak punya SiM C.

Advertisements

Modelnya – Pengojek


Umumnya orang beli barang seperti mobil, hp atau televisi rata-rata akibat bujuk rayu majalah atau TV. Beli HP plastiknya belum thethel (rontok) semua sudah mau ganti yang BB. Dari merek BB satu pindah ke BB yang lain. Mau yang hp dengan kemampuan foto 12M pixel padahal saat dikirim pakai mms harus dikecilkan sekucil mungkin. Ada kebanggaan saat memamerkan barang miliknya yang exclusif lalu lawan bicara lehernya mengeras tegang sambil bilang “ooo”

Atau coba bawa keponakan kecil ke mini market. Dengan fasih dan terlatih tangan mungil ini memilih segala jenis makanan yang umumnya baru ditawarkan di Televisi. Kalau ditanya bukankan di kulkas penganan macam coklat, permen, jelly masih belum dimakan. Anak lucu akan menjawab – yang di kulkas sudah kuno…”

Kadang cara orang menawarkan produk sering tidak masuk akal seperti seorang ibu ayu berteriak macam sebulan baru dapat dijatah orgasm sekali – padahal sekedar pamer makan keripik full micin dan pengawet kepada anak dan suaminya.

Alkisah dinegeri RawaBogo ada seorang pengojek yang “dandy” – kendati usia sudah tak terbilang muda. Bajunya selalu lengan panjang, disetrika, dan kata ibu-ibu pelanggannya dia selalu bau harum. Ya Gatsby model suntik (campuran kebanyakan alkohol) tak jadi mengapa. Asal diboncengkan pak Ali sebut saja namanya demikian maka penumpang dibelakangnya tersentak akan bau semerbak tubuhnya. Helm yang ditawarkan untuk dipakai pelanggannyapun jauh dari bau apek bin prengus.

Apalagi dengan HP yang tidak pakai “low-bat atawa pulsa ngedrop lantaran belum diisi” – maka Bang Ali ojek bang Ali terekam dalam benak ibu-ibu. Persis seperti di internet explorer – mouse harus klik “Favorites -> Add favorites-> Ketik Nama lalu klik OK”

KANTOR=PANGKALAN OJEK
Diantara nama-nama yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga tapi istri Provost Mabak, ibu rumah tangga tapi istri Jaksa, ibu rumah tangga lain yang ingin bepergian selalu mencari bang Ali ini dikantornya. Orang di Bekasi mulai dari narik gerobak sampah sampai narik ojek selalu menyebut diri mereka ke-kantor manakala ditanya apa pekerjaannya.

Salah satu pelanggannya adalah seorang Guru Senam Egol Egolan (BL). Tatkala suami lengser ke arah barat, alias pensiun maka bakat terpendam semakin diasah. Dulu hanya kesehatan semata sekarang ditambah lagi dengan kesejahteraan untuk mengasapi dapur yang pakai kompor gas.

Ibu hebat ini, sebut saja mbak Ning, sebat sebet melayani permintaan senam dari mana saja mana saja.

Dia selalu tersenyum kalau ada pelanggan selalu tergesa-gesa ingin menyulap badan bak dari frigerator dua pintu menjadi langsing dan seliat Tamara Belzinski. Dalam tempo kurang dari satu panenan jagung.
Kalaupun dia mengeluh mengapa tak satupun keluarganya tertarik berolah fisik. Mereka cuma mumpuni olah cerdas lidah.

Lantaran kawasan tinggal bu Ning yaris bak alas mentaok – belum di finising oleh Pandawa. Maka alat transportasi andalannya adalah ojek bang Ali Wangi. Dalam menggapai kediaman pelanggan ojek yang ditungganginya kadang menanjak, kadang meliwati kubangan, kadang bertemu polisi yang tidak mau menerima salam tempel atau amplop – yaitu polisi tidur. Hatta lama-lama terbitlah chemistri antara ibu beranak dua ini dengan tunggangannya. Dan tanpa banyak cingcong sebuah sepeda motor menambah perbendaharaan daftar panjang pengguna kendaraan di Bekasi. Padahal motor dirumah sudah seorang satu.

Semua gara-gara Mio pak Ali.
Enak toh di gendong Mio.. Serunya.

Memboncengkan Balita Mudik memang berbahaya


Satrio 1988 usia setahun, ngileran dan tangan bapaknya harus selalu siap menangkap manakala ia melakukan gerakan membahayakan
Satrio 1988 usia setahun, ngileran dan tangan bapaknya harus selalu siap menangkap manakala ia melakukan gerakan membahayakan

Satrio bungsu saya tiba-tiba “nembung” alias membuat usulan agar motor bebeknya di jual dan diganti dengan motor setengah balap CBR. Sekalipun semula Ibunya nggak setuju tetapi akhirnya menyerah. Maka jadilah Satrio mendapatkan motor yang ternyata untuk inden-pun minimal dua bulan.

Rupa-rupanya ia kepingin memboncengkan ibunya, tetapi yang belakangan ini selalu menolak. “Bisa kering gigi mama,” katanya bergurau. Tentu maksudnya lantaran ia harus meringis ketakutan sepanjang diboncengkan Satrio. Maklum dengan anak selalu saja ada rasa was-was.

Dan dalam satu kesempatan emas, saya diajaknya berboncengan dari Grogol ke Glodok untuk membeli baterai laptopnya. “Kalau pakai mobil, susah cari parkirnya..Pa” – demikian kilah anak bungsu kami ini.

Baru helm akan saya kenakan, dia sudah mengasongkan masker. Saya pikir helm sudah cukup sebab masa sekolah dulu saya tidak kenal helm apalagi masker. Baru dua tiga kali dia ganti perseneling motor sudah minggir ke SPBU, “isi minyak dulu Pa, Pertamax..” – duh kepajek aku.

Perjalanannya sih awalnya nyaman, suara baju ditiup angin, lalu deru angin ditelinga mengingatkan saya masa mahasiswa dahulu. Namun ketika menunggu dalam barisan kendaraan lain yang menunggu lampu hijau menyala suasana terasa menyiksa.

Saya mulai tersengal akan bau asap dan hawa panas yang dipancarkan oleh knalpot kendaraan. Mungkin juga karena suasana puasa sehingga saya mudah sekali merasa mual.

Cuma sekitar 30menit bokong nangkring diatas sadel yang miring kedepan. Rasanya seperti menunggu tanggal 20, alias gajian.

Tercatat motor sempat “kebuang” kekiri sebab tangan kanan saya ditowel spion Avanza. Lalu di jalanan ada dua kali razia kendaraan bermotor. Ehm harap maklum, mendekati mudik yang harap (bisa juga) dibaca mendekati lebaran biasanya petugas pada beringas.

Tidak lama kemudian terasa mulut saya seperti dileleti cairan asam. Asap knalpot yang menembus sela-sela helm sudah membuat posko di wajah dan bibirku.

Tak heran pengendara motor selalu terkesan buru-buru. Kadang kalau salat bersama mereka, saat jaket dibuka saya bisa mencium bau keringat campur debu dan asap kendaraan.

Kali ini saya tegaskan, pengendar bermotor memang manusia tangguh. Sesampainya dirumah, saya seperti kesetanan mandi sebersih-bersihnya karena rasanya baju, muka, rambut berbau asap.

Itu baru perjalanan 30menit. Bagaimana dengan para pemudik yang sampai 8 jam tempuh. Dari sini saya tidak heran ada balita meninggal dunia dalam mudik berboncengan. Kita yang dewasapun salah salah bisa mabok perjalanan.

Trail Polisi kalah dengan Jiangling


Didepan kantor saya terbentang jembatan penyebrangan untuk pejalan kaki yang melintang dengan angkuhnya seakan pak Polisi mengawasi pelanggar Three In One sampai lupa jalanan sudah macet karena volume kendaraan dengan supir yang terburu-buru lebih banyak daripada pengemudi yang sabar (aku disini)Dari jendela kantor, kalau pagi saya sering lihat, pengendara motor seperti Bebek atau Jialing sekalipun menggunakan jembatan tersebut untuk melakukan terobosan. Sekalipun dibantu dengan kaki yang ngepet kiri kanan menjaga keseimbangan, para pengendara roda dua ini selalu berhasil menyebrang dengan kemiringan jembatan yang curam. Nampaknya fungsi sebagai saran menyebrang pejalan kaki juga diubah menjadi pegemudi beroda dua.

Dilain waktu, didepan Mulia Tower saya melihat rombongan Perintis, sedang menunggang motor Trail yang melihat rodanya saja sudah nggegirisi. Rupanya mereka sedang latihan, dan biasanya para pembalap Motocross seperti Satya Sunarsa dipanggil untuk mendidik para Bhayangkara Negara ini. Memang secara psikologis, orang sudah keder mendengar raungan motor yang keras disertai Ban yang guede, polisi lagi. Ngebayangkan motor yang bisa mendaki, masuk jeblokan pasti tenaganya luar biasa. Untuk meberantas pelaku kerusuhan, pasti pas takerannya.

Saya coba minggir, melihat atraksi semi akrobat ini. Sayang, waktu yang singkat ini tidak menyuguhkan tontonan dimana Motor Perkasa itu berhasil mendaki jembatan, rata-rata, motor terengah-engah mati mesin setelah 3/4 perjalanan. Apa karena suaranya yang terlampau keras, atau motornya yang sudah tua kok kalah dengan bebek Jepangh maupun Jialing Cina yang ditumpaki bapak menggoncengkan anaknya ke sekolah.

Bebekku oh bebekku… Ngaciir.

Date: Thu Jun 14, 2001 3:16 pm