Ada saja yang terlupakan


Teman senam istri saya komplin saat pernikahan putri kami. Kami dua kali naik panggung pura-pura untuk memberikan selamat kepada pengantin, katanya.

Malahan para suami hadir dipernikahan Lia dan Seno. Tapi kenapa Bu Mimbar tidak terkesan mengajak kami berfoto.”

Adik kandung saya ngedumel dibelakang karena tidak kebagian “pakaian seragam resepsi” – dia seperti sengaja tidak menghadiri pernikahan keponakannya, sekalipun bertahun-tahun pernah tinggal dengan saya. Alasannya sederhana. Tidak punya seragam dan tidak ada undangan. Seragam sebetulnya dikirimkan bersama undangan. Namun berkali-kali pak Kurir menghubungi kami menanyakan nomor tilpun rumahnya (saya berikan sesuai alamat yang di SMS adik saya). Tetapi entah bagaimana paket tersebut kembali.

Beberapa teman sengaja mengirim SMS. “Saya ucapkan selamat, tetapi saya TIDAK bisa datang karena tidak ada undangan.” – dengan kata tidak diberi tekanan berupa hurup besar, saya maklum dia mestinya gusar sekali. Maksudnya tentu email bukanlah alat legitimasi untuk datang ke pesta. Tentu tidak akan ada yang percaya bahwa bagaimana kami harus mengatur agar mendekati hari “h” ada waktu luang untuk persiapan. Tetapi lagi-lagi kantor malahan menahan saya dua hari di Perth.

Mas Wahono, terpaksa terlewatkan karena pada saat akan dikirim undangan via email, ia baru kehilangan putra kesayangannya.

Sejatinya nama-nama teman sudah diketik dalam software Applisoft keluaran perusahaan Bantex. Tapi apa lacur, kadang terjadi duplikasi, triplikasi, dan replikasi lainnya. Akhirnya ketika beberapa nama dicabut agar ada pemenang tunggal. Malahan bedol desa semuanya. Duh Gusti.

Itu adalah beberapa ganjalan dalam mengadakan pernikahan anak saya Lia dan Seno pada Desember lalu. Tapi kalau pernah terlibat pada situasi dimana tekanan-tekanan kesehatan, moneter, tenggat waktu, lobi-lobi kepada pihak besan dan semua pertanyaan bermuara kepada kita tak heran mudah menjadi pelupa dan jeleknya lagi mulut menjadi asal jawab.

Pernah saya dikritik famili yang “bakalan amburadul nih habis nggak pakai even organiser sih.” – Saya sendiri heran sejak kapan penjajahan atas “syaiful hajat” sang pembuat hajat. Pengaruh filem dan majalah begitu kuat sehingga demam “tanpa EO, perhelatan bakalan gagal.”

Baru saya mencoba mengecat muka agar berubah dari merah menjadi sawo matang normal. Istri sudah nyelantap nyerocos “Emang situ pernah mengawinkan anak? Emang situ pernah pakai EO.

Bahkan saat berdiri di panggung selama tak kurang dua jam. Tangan saya dijawil-jawil istri sambil mengernyitkan keningnya. “Kakiku bengkak kelamaan berdiri.” – kalau boleh terbang atau memfotocopy diri, saya kepinginnnya berputar sekitar Aneka Tambang

Mungkin lelahnya adalah tumpukan lelah mental dan fisik. Tak jarang memori sering error “407” alias ketemu orang tapi namanya tak ada dalam database. Begitu orangnya sudah bersalaman dan turun panggung baru data berhasil di download “oh itu mas Anu dengan istrinya mbak Menuk.” – Atau ada teman lama tidak kedengaran kabarnya, tiba-tiba sudah gandengan lain. Tentu soal yang sangat pribadi, namun tak urung muka terbelalak sebentar saja tapi.

Sampai hari ini rasa “gegetun” belum juga bisa saya hilangkan. Terbayang wajah teman yang selama ini mengobrol tetapi lupa diundang. Atau sudah datang namun lupa untuk diajak foto bersama.

Untungnya pada anggota Wikimu.com sudah saya set jauh-jauh hari. Sehingga begitu melihat pak Andri, Suhu Tan, Mas Bajoe (terpaksa tidak pulang hari sabtu ke Yogya) langsung saya “lupa diri” – beri tanda kepada petugas agar segera dipotret.

Advertisements

Terasi dan Mak Irah



2/17/2006
Entah mengapa kantin di Australia kalau menanak nasi selalu terasa mentah sampai-sampai saya jarang sekali makan nasi disana. Akan berbeda misalnya ketika bakso dibalut nasi lalu digoreng, saya amat menyukainya. Jadi ketika di Bekasi saya dimasakkan tempe,sayur kacang panjang, goreng ikan asin, caisim, bayam, kangkung. Wah ini baru Nyam Nyam Bangget.
Namun keadaan menjadi drama ketika dari hari kehari masakannya kok ajek gitu, kata wong kito “jadi-maleg” – alias enek terenek.

Harap visualisasikan Fuadi yang ketua Artis sedang “ngejadul” pakai bahasa wong kito..
Ada apa ini. Dimana keahlian para juru masakku?
Daripada “Ya-Ubeng” tidak ketemu jawabannya mending saya melakukan investigasi ringan di TKP.
Ternyata penyebab semua ini berpangkal pada pemasok Logistik harian kami.

Levelnya belum sampai setingkat KSAN yang seloroh atasnya membuat seorang anggota DPR menuai Ketupat Bengkulu racikan front”Panca Marga”.

Namanya sebut saja “Mak Irah” kalau ditanya usia, dia jawab “kagak tahu, saya mah sehat bae…” – Ini bedanya kalau yang buta hurup orang Cina, paling tidak mereka masih bisa menyebut tahun kuda, tahun kelinci sehingga paling tidak bisa diurut per dua belasan tahun.

Saya taksir belum 50-an namun porem wajahnya boros lantaran deraan hidup yang dilakoninya. Suaminya sudah berpulang beberapa tahun berselang. “Muntah darah diteluh sampai mati,” katanya ketika ditanya mengapa dia berdagang.
Sekalipun jabatan tak resmi suaminya cuma kerja bantu-bantu tukang, ibarat kata, jabatan yang bukan dicecar oleh pesaingnya. Mak Irah keukeuh lawan suaminya tidak “fair play”.

Bagi rakyat pedesaan sakit adalah teluh dengki, jadi tidak perlu diobati kedokter, cukup orang pintar, sisanya pasrah. Perkara siapa yang meneluh, selalu misteri. Atau cukup disebut “ada ajah..” – untung mereka tidak baca koran. Kan repot sampai dijawab “Yang bunuh presiden Amerika JF Kennedy saja tidak tahu sampai sekarang. Apalagi cuma suami seorang tukang batu.”

Janda yang hanya melek hurup arab ini ikut anak lelakinya. Kok ya menantu sakit dan meninggal dunia, meninggalkan dua bocah. Akhirnya nenek inilah yang mengurus dua anak piatu.

Seperti belum usai cobaan, Anak yang kedua (lelaki) meninggal dunia, meninggalkan dua bocah yatim. Berarti total 4 mulut mungil harus diurusinya. Pasalnya Nenek Irah tidak tega melihat menantu perempuannya menjadi tukang cuci sana sini dengan penghasilan tambal butuh, sementara pekerjaan anak lelakinya tidak tetap.
“Kalau saya cerita panjang dik”, katanya sambil matanya berlinang. Kerutan diwajah tuanya bagaikan pahatan sungai-sungai mini akibat kulit terbakar matahari.

Tidak tega melihat kekurangan ekonomi keluarga, nenek Irah cancut taliwanda. Ia minta mantunya belanja sayur di pasar Kecapi, dan nenek Irah yang membantu menjualnya keluar masuk kampung.

Dan tengoklah telapak kaki telanjangnya yang sampai melebar “njebeber”dan telapak kulit yang menebal lantaran beradu dengan aspal, batu,pasir jalanan yang terkadang panasnya menyengat.
Kalau sudah dibeli dan diberi lebihan sekedarnya (kembaliannya diambil saja), doanya seperti tidak putus-putusnya. Kadang disela doanya dia berguman, “jadi dah anak yatim dan piatu saya makan nasi sama terasi goreng.”
“Terasi bakar…” rasanya keluarga saya akrab dengan kata-kata itu,lantaran saya pernah cerita, makanan paling lezat waktu kecil adalah kerak nasi masih panas diolesi terasi Bangka yang sudah digoreng. Bau terasi terbakar itulah yang menerbitkan rasa lapar.

Tong, kite adenye cuma terasi ama nasi, kalo elu ihlas makan jadi enak,” begitulah nenek Ira membesarkan hati ke empat cucunya yangkadang bertanya mengapa menunya harus terasi. Lantaran empati, kadang kami sumbangkan pula beberapa potong ikan asin buat cucunya.
Mak Irah, sering merasa alhamdulillah karena sering diberi tetangga baju dan kain bekas sehingga ia tidak pernah beli baju muslim. Sebuah design yang melindunginya dari terpaan angin dan sengatan matahari.
Menghindari rasa bosan. Tempe digoreng, sayuran diolah, hasilnya dibagikan ke tetangga yang di Rawa Bogo masih bisa dihitung sebelah tangan.
Kadang peristiwa kecil begini sering menambah wawasan dan rasa syukur bahwa masih banyak orang yang lebih menderita di bawah kita.Sehari-hari bergelut urusan pincuk belum menuju puncak.