Epigram-nya Jamal


Nggak… yang ini serius. Sumpah! Berani dikutuk jadi Menteri…!

Jadi menteri kok kutukan?,” Kris geleng-geleng kepala. Keningnya berkernyit menatap gerak-gerik gelisan Adun. Lalu kembali mengamati koran. Kebetulan di koran itu terpampang berita tabrakan kereta api. Adun membaca sekilas.

Bayangkan saja, tiap ada kereta tabrakan, yang disalahkan menteri.

Memang.. Menhub dianggap masinis atau kepala stasiun kereta. Ha ha.. Eh yang untung sih Menteri Pendidikan, biarpun kualitas pendidikan negeri ini makin menurun dan generasi muda bangsa ini lebih bodoh, dia tidak pernah disalahkan orang..

Ya…yang disalahkan selalu guru dan cara mengajar.

Inilah perkenalan saya dengan hasil karya Jamal. Padahal semula karena pandangan pertama mula aku berjumpa karena cover Rig Pengeboran Lepas Pantai. Sebuah novel yang “ambisius dan berbahaya” sebab biasanya pembacanya bakalan tersegmentasi kelompok tertentu diantara menjamurnya novel checklit.

Kebetulan ada novel yang sudah terbuka pembungkus plastiknya, dan eng..ing eng.. pas tiba di ayat 33, maksud saya halaman 33 sihir Jamal mulai mempengaruhi syaraf.

Kok pas bener dengan kondisi kita sekarang, diantara rangkaian kecelakaan dua pesawat Adam Air, Kapal Motor Lavina 1, yang menggiring orang menuntut Menhub mundur.

Segera saya raih buku tersebut dan berharap keras pengarangnya Jamal, bercerita tentang kehidupan orang lepas pantai. Satu dari 10 pekerjaan berbahaya di dunia.

Dua tokoh yang diceritakan dalam episode ini. Kristunov dan Nara memang mengajak kita menikmati wisata keluar negeri, Boston, Spanyol, termasuk alam Norwegia sekalipun saya menjadi murung karena kehidupan rig pengeboran hanya diserempet sedikit sekali.

Kang Jamal penulis memang menyihir kita sehingga tidak bisa membedakan antara realitas dan dongeng karena keduanya sering saling memperkuat.

Kalaupun yang perlu diacungkan jari sekali lagi adalah “bebodoran” plesetan ciri khas orang Sunda dan Mahasiswa yang mengalir cerdas dan cerdas.

Cerita Mahasiswa dengan latar belakang perjuangan selalu memukau, banyolan Sunda – umumnya berdasarkan pemikiran mendalam. Mungkin inilah yang dimaksud epigram (dua cerita yang bermuara sama). Dan saya amat menikmatinya. Padahal cerita ini merupakan romatika duka, tangis panjang luka anak manusia. Namun diceritakan dengan tegar.

Seperti kata komentator lainnya, Jamal adalah pengarang berbahaya. Maksudnya ia bisa menulis novel serius tapi kalau diperlukan bisa melakukan diversifikasi menulis buku lucu.

Judul : Epigram
Penulis : Jamal
Editor : Indah S. Pratidina
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 384 hlm ; 20 cm

Mimbar Bambang Saputro

Advertisements

Ruang Rekreasi di Pengeboran Minyak (Laut)


Ada pernyataan saling tumpang tindih. Laut itu luas sekaligus sempit maksudnya laut memang luas ngablak-ablak tetapi, ruangan tempat tinggal sempit. Bekerja di ruang sempit menimbulkan kejenuhan kalau tak pandai menyikapinya. Belakangan saya sering berbincang dengan pakah Feng Shui mengenai mengapa di rig laut kita mempunyai wc didalam kamar, wc diatas kamar, wc disamping kamar, padahal menurut ahli tersebut tidak baik. Suhu Tan menjawab, mangkanya pekerja rig banyak yang stress.

Bagi yang gemar membaca, di laut disediakan perpus untuk bacaan semacam novel. Novel ini makin lama makin panjang daftarnya sebab setelah membaca buku mereka biasanya meninggalakan buku tersebut untuk dibaca pihak lain yang berminat.

Bagi yang hobi ngemil, 24jam kantin terbuka. Yang senang menonton ada perpus dengan pelbagai filem termasuk kategory tiga sampai empat X. Tetapi sejak masuknya DVD buatan Cina yang terkenal murah disertai teknologi Ipod, menonton filem bersama sudah jarang dilakukan. Mereka melakukannnya di kamar masing-masing. Paling terdengar orang ngakak. Kalau filemnya lucu.

Memancing ikan, sebuah kebiasaan di rig Indonesia, sama sekali tidak diperkenankan sebab tali nilon yang kelihatannya sepele kecil kalau sudah menggubet, melilit bagian kapal seperti baling-baling dan peralatan lainnya, sama runyamnya dengan benang layangan dikabel listrik kita. Sayangnya di Indonesia, justru para supervisor kita yang memberi contoh yang kurang memperhatikan keselamatan kerja.

Bagi penggemar olah raga, saya perlihatkan gambaran sebuah kehidupan di rig laut.

Ruang rekreasi. Penayangan TV “FoxTel” semacam Indovision yang tidak bintik-bintik itu kata sang empunya perusahaan. Urusan music arahkan remote ke saluran MTV, bagian olah raga tentunya lain selera. Olah raga yang disukai disini adalah sejenis american football dan cricket sehingga bagi saya yang tahunya badminton dan bola sepak, rada tersandung-sandung melihat permainan bola lempar. Minggu sore penayangannya filem-filemnya rada NgNgtR alias ngeres-ngeres tapi resep.

Ruang tilpun para crew. Gratis seantero Australia. Saya malahan gratis menilpun keluarga di Singapore sebab kenyataannya Starhub milik negeri Singa ini jauh lebih berjaya ketimbang Telstra nya Kangguru. Agar menilpun dari Australia lebih murah. Istilahnya citarasa Global, tarip lokal dipakai kartu tilpun murah semacam “daybreak” – yang dengan 10 dollar (70 ribu) anda bisa menilpun 100 menit ke tanah air, asalkan handphonenya fleksi, starone. Disamping telkom biasa.Jangan remehkan lemari besi ini. Anda baru tahu manfaatnya jika ternyata anda harus bekerja untuk 1 bulan, lalu kehabisan rokok, sikat gigi, odol, shampoo, permen karet tetesan embun, coklat cadbury, aftershave (apalagi bagi penerbangan lintas Amerika mengharamkan barang-barang dibawa dalam penerbangan). Harganya tentu sedikit mahal. Tetapi keberadaannya menolong. Kertas papier $0.50 (3500 idr), deodoran $4 (28000 idr), Coklat Cardbury $3 (21000 idr), Sebungkus rokok Rokok Filter BH $12 (84000 idr), odol kecil $3.50 (24500 idr), Sikat Gigi $2 (14000 idr), Shampoo $7 (49000 idr), Cream Cukur $3 (21000 idr) dan permet karet $1 (7000 idr). Lalu ada tulisan dipintu lemari bahwa “It is against company policy to use credit” – maksudnya “hari inih (pakai h), bayar kontan, besok harih (h), boleh utang(malahan tanpa h)”

Herannya walaupun kue coklat seabreg-abreg disini, para crew masih rela mengeluarkan dua puluh ribu rupiah lebih untuk beli Cadbury. Mungkin kecilnya dulu dikasih uang jajan terus sehingga walau perut sudah kenyang, jajan adalah ritual.

Ruang olahraga tergolong lengkap. Mulai treadmill, sepeda stasioner, jalan tanjakan, mendayung, angkat beban semua komplit disini. Bahkan hampir tiap mesin dilengkapi sensor untuk mengukur denyut jantung. Saya pernah kepancing emosi disini. Para pekerja rig disini, liburannya pada ke Bali, surfing – jadi badannya pada berotot. Entoch sehabis bekerja keras di menara bor, paling tidak sejam dihabiskan waktunya untuk berolah raga, sambil menyetel lagu-lagu keras. Celakanya peralatan olah beban habis dipakai mereka, ukurannya pasti sangat berat untuk usia dan kemampuan saya. Sekali sekali saya ganti dengan yang ukuran 20kiloan. Tapi lama-lama bosan juga gonta dan ganti beban. Sampai satu ketika melihat halter begitu guede seperti tertantang sebagai penganut tenaga pusar” – hari gini saya coba uji kemampuan tenaga tersebut. Setelah konsentrasi sebentar, mengumpulkan cadangan tenaga di pusar. Dan hup beban 40×40 saya angkat. Betul juga, badan saya terangkat, sementara halter bergeming. Sampai setahun bahu kiri saya sakit lantaran pernah “salah urat” menerapkan aji besar pasak dari tiang. Sial bener. Salahnya percaya.

LOST AND FOUND

Pemandangan lain di ruang olah raga adalah kotak “lost and found” – crew disini memiliki kebiasaan main tinggal pakaian kerja merek terkenal Yakka, kaos, sepatu RedWing, dan pelbagai asesori. Biasanya barang ini ditumpuk disudut.

Kalau tidak ada yang mengklaim dalam seminggu, langsung masuk kotak untuk dibuang ke darat.

Bayangkan berapa kotak disitu. Lalu saya ingat di kawasan dermaga Tanjung Priuk pada tahun 1980-an, dimeriahkan oleh coveral warna biru muda tertulis Reading &Bates, nama sebuah perusahaan pengeboran yang moncer waktu itu. Kalau sempat ada yang rajin mengumpulkan barang bekas dalam kondisi bagus ini dari rig ke rig, barangkali istilah Roma (rombengan Malaysia) bisa berganti RoSet (rombengan setrali).

Mimbar Bambang Saputro
mimbarsaputro.wordpress.com

Lebaran di Rig Pengeboran Australia Lagi….


Ada yang tanya bagaimana lebaran di Rig Australia. Saya terpaksa bilang “prihatin” – apalagi di rig yang bercokol “sak-thil” satu-satunya mudlogger dari Asia.

Padahal, biasanya pagi-pagi begini (lebaran) saya sudah sibuk di Lampung bersama ayah dan adik-adik ke lapangan (bank) Mandiri, ketemu pensiunan Polisi dan tak lupa anak-anaknya, memandang wajah remaja putri bersiap salat dibalik telekung alias mukena serasa mendapatkan samudra kedamaian. Ternyata memang ada benarnya orang bilang, kecantikan terpancar dari lubuk jiwa.

Lalu saya ngelangut (memandang kosong kedepan). Membalik jam waktu.

Puluhan tahun lalu di Teluk Betung Bandar Lampung, kampung NagaMas, dalam suasana sembahyang Ied versi Pemerintah kerap saya lihat di saf terdepan ada beberapa tempat ompong, padahal jamaah sampai luber ke jalanan. Ternyata ruang itu adalah jatah bagi pejabat yang begitu sibuknya “mengabdi negeri” sampai sembahyang yang cuma setahun sekali membuatnya telat datangnya. Maka bagusnya lebaran adalah cuci gudang dosa, dasar “ember”, sempat-sempatnya kami membahas soal Quota yang tak “pener” tetapi lazim di negeri ini.

Di satu tempat di Hotel Purosani Yogya, (dulu), saya pernah ditugaskan menyeponsori suatu pertandingan sport yang paling tidak disukai bekas Menteri Daud Yusuf. Malamnya masih menyeponsori acara ramah tamah makan makan.

Merasa tugas sudah dilaksanakan, saya dekati salah satu panitia yang notabene teman tapi mudlogger, lantas menjadi birokrat di perusahaan minyak. Teman tadi menjadi tidak mesra. “Jangan duduk disitu , itu untuk bos…” – padahal ada beberapa bangku kosong disana. Lalu saya berdiri dan meninggalkannya sambil saya perhatikan bahwa acara ramah tamah sudah berlalu lebih setengah jam, satu jam sampai hampir selesai, sang bos tak kunjung tiba. Bak siang dengan malam ketika dia eh beliau menilpun saya di kantor (dulu) memohon agar membantunya dengan menjadi sponsor even olahraga dan resepsi yang ditanganinya. Maksudnya ingin laporan gitu, namun nampaknya tindakan tadi dianggap menyalahi tata krama kalangan birokrat.

****

Kemudian saat menjadi mudlogger bekerja di perusahaan yang warna dan napasnya berslogan pemilik aseli Negeri Adiluhung Bernorma Ketimuran Kental, bermental pekerja kelas Dunia, saat makan tiba biasanya mudlogger selalu datang lebih awal. Bagaimana tidak kaget ketika sang Chief Steward, sempat berbisik “makannya nanti menunggu bapak anu selesai (dahar, santap)….” – akibatnya kalau sempat ya ditangsel Mie Cepat Saji, atau jajan ke kampung-kampung.

Senior saya bercerita, dalam acara Halal Bihalal Iedhul Fitri seorang merasa dilecehkan karena disilakan duduk dibarisan bukan terdepan. Ia tidak perduli lantaran datang terlambat, barisan depan telah penuh.

Ini semuanya tidak terlepas pendidikan masa kecil kalau mau makan, harus tunggu Ayah datang. Sementara sang anak yang memang boros BBM lantaran untuk pertumbuhan badan dan otak harus menekan lapar. Bisa jadi sang ayah yang ditunggu sebetulnya sudah makan kecil di kantor dan berpura-pura makan di rumah demi menyenangkan sang Istri.

****

Saat pertemuan pagi, atau tengah malam atau mingguan di Rig Australia misalnya, peserta kelas krocuk boleh saja datang duluan dan duduk di kursi yang biasanya untuk pemimpin rapat. Sekalipun bos, kalau datang terlambat konsuensinya harus berdiri, atau nggelesot disebelah mudlogger “die hard”. Pernah sekali darah “timur adiluhung” saya bangun. Saya berdiri memberikan tempat kepada sang Company Man. Ini sih rela-rela saja, mengingat saya bukan pembicara. Lho kok Marty, 28tahun, bilang you sit there, I am here (berdiri). Mungkin itu juga asalnya istilah SID (Standing Instruction to Driller). Yaitu rencana kerja yang disosialkan sambil berdiri sesaat sebelum pekerjaan sesungguhnya dimulai.

Begitu saat makan tiba. Seorang petugas Janitor, habis keringatan merapikan kamar mandi kami misalnya, enak saja ambil piring, pisau dan garpu. Enteng saja duduk di depan Company Man, dan makan sambil ngobrol. Tidak ada urusan dengan “jaim” atau tuduhan keladuk-laduk – bersikap terlalu bebas dan berani.

Seperti juga di pemberhentian bis. Kalau sudah waktunya bis nomor 32 yang melewati jalan MillPoint datang jam 15:38, maka anda yang datang saat 15:39 atau lebih sedikit, jangan mencoba berlari didepan supir sambil menebar iba agar dibukakan pintu sebab akan ditolak, dan menunggu bis nomor 32 selanjutnya yang akan datang satu jam lagi. Di Jakarta bus kota, angkot begitu memanjakan penumpang sehingga mereka mau berhenti, mengangkat dan menurunkan penumpang sesuai perintah penumpang.

Meminjam istilah para dietician “kamu adalah yang kamu makan“, maka di Australia berlaku istilah kamu adalah bagaimana kamu mengatur waktu. Bangsa mau maju, jangan mau terlambat. Kalau terlambat, konsekuensinya jangan minta dispensasi diprioritaskan.

Nampaknya, kita memang ompong di soal yang satu ini.

Be prepare, or be behind.

Tuesday, 24 October 2006
http://mimbar2006.blogspot.com

Raksasa sakit kaki….


Layar laptop berkedip. Sebuah email datang katanya saya belum diperlukan ke Rig Pengeboran karena kapal sedang melakukan uji-produksi dan pemasangan fasilitas produksi bawah laut.

Biasanya orang seperti kami yang spesialisasinya di bidang mengebor atau membuat lubang bor, segera dipersilakan meninggalkan kapal karena tidak terkait dengan pekerjaan saat itu. Laut Australia yang tampak membiru dari kejauhan sebetulnya didasar laut sana, “pating-sliweran” pipa baja bergaris tengah 15 inci untuk menyalurkan minyak dan gas ke kapal-kapal tongkang. Saat laut “cerah” dan tenang, kadang kami melihat keadaan dasar laut dengan bantuan robot ROV (Remote Operating Vehicle), pada kedalaman 150 meter seperti benua Atlantis baru tenggelam, banyak bangunan, namun tak nampak penghuninya. Kecuali ikan tentunya.

Tetapi intuisi berkata lain, saya tetap memasukkan pakaian kedalam tas. Lho kok sehari kemudian 25 September (tentu 2006), email datang lagi dengan lampiran E-Ticket, berangkat pada hari ini juga jam 4 petang tanggal 25 September 2006, pakai Garuda ke Bali, lalu ke Perth.

Belum selesai Itinerary naik cetak dengan tinta suntikan, “mak kring” saya ditilpun separuh menegur “mengapa tidak menilpun kami” – Oalah, ampiun(pakai ir), jadi pegawai memang serba kagok. Keseringan tanya dibilang mau mengatur atasan, diam saja dibilang “kurang pro-aktip“.

Begitu saya lihat pesawatnya Garuda, saya membayangkan cerita klasik dari episode “E-ticket Linglung” – plus bonus proses yang lelet. Hal lain saya sedang kejar setoran Frequent Flyer dari Qantas.

Betul saja. Di counter Garuda saya ditanya, mana tiket? – saya bilang saya kemari karena mau meniketkan e-tiket ke Bali lalu Perth. Dia tercenung menatap tulisan tanpa kop surat dan berbentuk fotokopi datar. Roman wajahnya terbiasa dengan surat berkop Warna Warmi, harus ada tanda tangan, dan cap setempel basah, kalau perlu foto copy kelakuan baik dari RT dan RW setempat. Saya rogoh kantong memberikan Pasport.

Kamar dalam rig. Nomor pada ranjang (41) harus dihapal siang malam sebab menentukan alokasi setasiun penyelamatan bilamana terjadi kebakaran atau letusan gas. Biasanya yang lebih senior dapat tempat paling bawah, jadi tidak perlu “kethekeran” – kerepotan memanjat tangga. Kalau anda peka soal keselamatan, ada titik lemah “pinchpont” yaitu ranjang atas tidak diberi pagar untuk mencegah orang terjatuh. Namun demi sebuah foto, pagar kami cabut.

Ada yang tidak beres nampaknya, sebab tidak lama ia meninggalkan stasiunnya dan passport saya “gemeletak” begitu saja di mejanya. Rupanya petugas berkonsultasi dengan atasannya. Saya dipanggil oleh orang lain lagi agar mengikutinya ke counter lain untuk pembuatan tiket. Terang saja saya “mbegegek” – ada passport lengkap dengan visa diatas mejanya. Bagaimana kalau hilang? Saya dengar sekalipun di Kementrian Kehakiman, atau di dalam lemari para petugas Imigrasi, ada Passport dengan Visa Amerika hilang, karena akan diambil Visanya guna dimanfaatkan pihak lain.

Passport saya raih. Sempat dihalangi namun saya bilang ini Passport saya. Lha rak tenaaan, dia hanya diam saja. Bagaimana kalau orang lain berbuat serupa…

Jreng!!!, tiket selesai dengan expres, kalau 20 menit termasuk jalur layanan cepat. Ini prestasi, sebab ada bule lelaki, sebelum saya datang sudah “ngejogrok” di depan loket, toh urusan saya lebih cepat selesai daripadanya. Sebentar-sebentar ia bilang “I call my boss,” lalu merogoh henfonnya.

Petugas menulis kedalam buku Expedisi (sebuah cara kuno namun masih efektip sampai pengunjung tahun 2006), nama saya dicatat termasuk alamat, nomor passport, dan terakhir saya diasongkan balpoint untuk tanda tangan bahasa (saya lupa dialek mana mengubah kata bahwa menjadi bahasa) saya telah menerima tiket tersebut. Sebagai tambahan, di bawah tanda tangan saya tulis nama lengkap dan henfon, jam dan hari. Seorang guru saya yang Lawyer sering memberitahukan kebiasaan menulis jam, tanggal pada satu peristiwa. Dan jangan percaya komputer. Berkas dalam komputerpun harus dicetak.

Saya tidak tahu apakah petugas Garuda ini pernah mengenal boss saya tersebut (joking). Namun yang jelas, ada seorang pembaca, dokter Garuda, selalu merasa gerah kalau saya mulai membicarakan kesatuannya. Dia juga sering menulis di majalah Garuda. Maklum dia adik saya sendiri. Adik paling bontot, waktu SD pernah memasukkan artikel ke majalah anak-anak (Kuncung), namun sekarang ia ribet dengan memasukkan anak-anaknya yang “ndrindil” ke sekolah.

Masih ada waktu. Perasaan mulai tidak kemrungsung. Saya keluar terminal. Dari kejauhan saya lihat keluarga sedang mengobrol dengan “teman barunya”. Soal mencari teman, dia memang jago nya (emang SMS). Seandai ada antrian ATM empat orang didepannya, empat orang dibelakangnya. Maka dalam hitungan ke lima (menit), dia sudah mendapat teman ngobrol. Dimulai kata pembuka “panas cuaca, panjang antriannya, atau “kenapa sih nggak dibuka dua ATM”,” dijamin sudah dapat sparring partner. Padahal dia ndak pernah baca buku “how to pickup girl or man,” atau “how to be a effective salesgirl” Saya pernah mengalahkan prestasinya, disebuah ATM seorang ibu senyum-senyum “papanya Satrio ?” – kami terlibat pembicaraan ringan, sampai akhirnya dia mulai menohok “kok Satrio nakal sih kata anak saya” “kok Satrio bisa di teknik Geologi, kapan dia nakal” – Walau kucoba bertahan tersenyum tapi balon diatas kepala saya menulis “sampeyan belum bernah diseseli munthu.”

Betul saja keluarga sudah berhaha-hihi dengan keluarga yang ditilik dari mata dan kulitnya berasal dari tanah daratan, berbudaya lebih kuno, dan pintar dagang. Melihat saya mendatangi mereka, kontan obral senyum. Ini Jakarta, biasanya di tegur saja mereka sudah kecurigaan kok sekarang balik menegur duluan. Ternyata, bapak ini punya anak diwisuda di Perth dan belum pernah kesana sejak anaknya sekolah 4 tahun lalu. Anaknya protes, empat tahun sekolah sampai wisuda, papa tidak pernah tengok. Sibuk dagang melulu.

Lalu saya tanya bawa makanan apa, dan sebaiknya di deklarasikan agar tidak jadi masalah. Sayang menggunakan pesawat terakhir sehingga kami berpisah namun akan bertemu dalam satu pesawat di Bali, tiga jam kemudian. Saya lihat bule berhenfon masih didepan loket untuk mencairkan E-Ticketnya, padahal saya bersiap boarding. Ciaaan deh eluh…

Ada dua ruang tunggu untuk nomor penerbangan yang sama ke Bali…
Pintu F2 dan Pintu E5, saya tidak bisa membagi tubuh menjadi dua, akhirnya membagi kebodohan. “Bapak masuk pintu F2 karena akan ke luar negeri.” Lalu saya tanya, bagaimana dengan Fiskal yang satu jeti ? – bayar di Bali atau di Jakarta.

Jakarta, kata petugas singkat…

Di bagian pemeriksaan imigrasi, petugas rada bingung. Mengapa saya menyodorkan boarding pas untuk perjalanan ke Bali. Lalu harus ada permainan kata-kata sampai dia mengerti.

Di pintu F2, hanya ada dua penumpang seorang ibu Cina Totok Medan, dan saya. Nyonya ini bercerita bahwa “saya ala ana sekola di Pet, ambil menejemen gitu, ada sakit usus buntu, dotol sula opelasi, sulah ambil lia punya usus wuntu, sula sembuh, tapi dia olang banyak angkat balang belat sekalang ada lala keluar, kompelikasi, masuk lumah saki. Saya mau tengok..” – biar tidak rebyek, terjemahannya, dia punya anak sekolah Manajemen, usus buntu sudah dioperasi, masih angkat barang berat, akhirnya harus dioperasi lantaran perdarahan. Ibu ini ternyata nekad. Dia beli tiket pada hari yang sama dengan dia urus visa. Sampai-sampai petugas Kedutaan bingung, belum dapat Visa sudah beli tiket. Lalu dia bilang, kalo gitu tolong kasih visa ini hari bisa saya bisa tengok anak sakit. Dan mujarobat bis mustajab, dia berhasil.

Dia bilang sering ke Cina, ke Jepang pokoknya plesiran. “Saya tak bisa tulis Jepang, tapi ada liat milip mandalin, saya bisa kasi baca. Olang Jepang suka itu.”

Agak sulit juga mengerti semua pembicaraanya. Saya yakin diapun sulit mengerti bahasa saya. Lalu saya keluarkan koran pura-pura membaca. Dia sepertinya tertarik, bisa dirasakan pandangan matanya menerpa koran. Lantas koran saya sodorkan kepadanya. Koran Tempo habis dibacanya dalam tempo yang singkat. Saya sodorkan Majalah Tempo. Tiga jam menunggu sampai juga akhirnya kami dipanggil. Tapi dia masih baca majalah saya. Lalu saya berdiri siap-siap masuk, lho beliaw “masi ada baca. SapaW tauk kaga dengel.”

Suasana gang menuju tempat ganti baju merangkap toilet. Anda lihat lampu emergency, lalu bel yang merah sebagai tanda bahaya, pemadam kebakaran. Seperti halnya rumah sakit, suara harus ditekan seminimum mungkin sebab ada orang lain yang sedang beristirahat.


Ayo masuk, ajak saya.

Betul rupanya dia nggak ngeh kalau sudah dipanggil dalam bahasa Indonesia aroma Bali yang sangat teramat jelas pengucapannya. Sejelas pembacaan naskah Pancasila. Sekalipun saya ramah, namun menyetel ayat “curiga itu perlu, jangan terima pemberian atau titipan dalam bentuk apapun, sekalipun apapun…” – habis orang begini biasanya nekad kalau soal narkotik, bisa awak mengikuti serial Diary of Brigitte Jones. Rasanya kalau ada pemilihan baju terapih di dalam Qantas, saya menjadi pemenangnya. Lha pesawat isinya para Surfer degan gaya hippie, pakai sandal, kaos kutang, baju pantai, model hawaai, rambut di kuncir
kemana-mana. Ada yang jalan oleng bak Mariane Faithull, penyanyi rok overdose 60-an, limbung akibat “nenggak” – dipesawat dia duduk dikursi terdepan, saat beranjak ke toilet, kepalanya nyundul pesawat TV didepannya. Dan sepertinya dia tidak merasakan sakit. Namun tersembul kebanggaan ketika beberapa kaos bertuliskan “BIR BINTANG” – inilah satu-satu produk andalan yang diakui bule sambil bertekuk lutut. Soalnya kalau anda menjelaskan Indonesia dia bilang “Bier Bintheng, Good, bitter but good…”

Teh botol rupanya kurang diminati.

Lho kapan sakit kakinya???

Jam 2 pagi kami mendarat di Perth Internasional, sementara jam 6 pagi saya sudah harus laporan di Perth Domestik. Jarak ditempuh 30 menit, pergi pulang 60 menit. Akhirnya saya batalkan checkin di hotel, daripada kemrungsung cari taxi, lagian hanya dua jam di hotel harus cabut lagi .

Setiap kamar diberi alat penyelamatan seperti pelampung, jaket anti hipotermia, senter, masker. Paling tidak seminggu sekali diadakan latihan penyelamatan.

Waktu pemeriksaan imigrasi ibu Medan masuk barisan “Warga Australia” – waduh nekad juga. Semua penumpang sudah keluar gedung. Namun ibu tadi belum keluar juga. Lalu saya lihat beberapa anak perempuan Cina seperti menunggu sesuatu dengan cemas. Saat ibu keluar digelandang dengan seorang petugas. Penjemputnya kelihatan ketakutan ketika melihat ibu tadi bersama petugas. Untung petugas bilang “its Okay, not a big thing I just need help the explanation..”

Jam 3 Pagi saya cabut dari International, dan menuju Swan Taxi ke Airport Domestik. Supir menyambut “Are you from Jakarta, so early to the Airport.” Lalu dia menyetel radio yang membawakan lagu 60-an. Lantas saya bilang tumben hare geneh ada yang nyetelin saya lagu 60-an. Supir Taxi bilang, ini acara non-profit Universitas. Kalau tengah malam sampai pagi mereka tidak punya disc jockey, jadinya lagu disetel secara otomatis. Enak sih dengarnya, kadang saja kita tidak tahu judulnya atau nama penyanyinya. Lalu dia menambahkan “Mike Jagger hebat ya sudah 60-an masih hidup dan sukses, padahal ngobatan begitu….”

Di suatu tikungan di jalan Great Eastern Highway, matanya celingukan sebentar lalu lampu merah diserobotnya. “Pagi begini mana ada kendaraan, gumannya” – jangan heran dia dulu anak “ngeRock.. metaal Man!” – untung tidak keluar polantas yang nyaru jadi pohon dan berkata “taat kalau ada yang liat, tanyak kenapak?”

Ongkos taxi sekitar 26 koma sekian dolaran, tapi sejak demen dengan Sinetron DTK, maka kepada taxi saya teruskan pembayaran tanpa koma. “Lempengin 30 dollar Cak!” – tentu dalam bahsa sono yang keluar adalah terjemahan “make it 30” – cara pengucapan yang kalau di kursus LIA, sudah pasti dicoret merah oleh instruktur.

Jam 3 malam, airport mana juga sepi. Bahkan dikunci. Padahal diluar suhu Perth membuat sendi tulang pada lepas. Saya tetap mencoba memasuki pintu satu persatu, menarik perhatian Video Surveillance. Berhasil… Sekuriti keluar dan saya bilang “I catch early flight..” – lalu dia mengijinkan saya masuk dengan catatan, jangan meninggalkan barang di Airport. Kalau ke toilet bawa bawaan, ke toilet…”

Lalu saya mendekati mesin ATM-Quantas (Automated Check In), saya masukkan nama saya, flight detail. Dan jam 3 pagi lebih sedikit “mak jeglek” boarding pass sudah ditangan dengan tempat duduk yang saya inginkan.

Jam 5 pagi, pintu sudah mulai dibuka begitu juga Toko Buku, Minuman mulai memperlihatkan kesibukan sehari-hari. Bagi yang puasa, mencium bau kopi segar dengan aroma roti bakar. Wah ya bikin kluruk isi perut.

Waktu checkin, tiket tinggal dimasukkan kedalam Ticket Reader sehingga kalau jumlahnya masih kurang segera ketahuan nama yang lelet. Tak lebih 5 menit, pintu ditutup dan malang bagi yang harus ketinggalan. Penerbangan begitu padat sehingga tidak ada ruangan bagi menunggu. Jam 7 Pagi, saya sudah mengudara dengan Quantas menuju Karratha. Kota legenda “Red Dog,” – sebuah kota gersang mendadak kaya akan bahan tambang besi, garam, dan sekarang Boom Minyak.

Dua jam perjalanan tiba di Airport. Saya harus mengoleksi bagasi dan berjalan 50 meteran menuju counter Bristow, sebuah maskapai penerbangan yang menyewakan Helikopter untuk kegiatan Pengeboran Lepas Pantai. Barang saya masuk X-ray – laptop dibuka, barang diperiksa secara visual. Lalu kita digeledah. Penggeledahnya Nona Alex, gadis Australia berbadan langsing, dengan tindik perak ada 5 di telinga kirinya, berambut hitam pendek. Kalau ada filem Top Gun jilid II, mungkin dia bisa memerankan tokoh Kelley, instruktur merangkap kekasih “Pedhopilia” dengan Tom Cruise. Rumor miring mengatakan Alex ini jeruk makan jeruk. Mudlogger juga manusia, doyan dengar berita miring.

Video cara penyelamatan diputarkan, kecuali novel (bukan koran atau majalah), tidak ada barang lain boleh ditenteng. Termasuk laptop sekalipun. Dan tak lama kami sudah mengudara dengan Super Puma yang diawaki dua pilot Australia mengudara menuju rig setelah sebelumnya menurunkan penumpang di MODEC 11 (Ini nama fasilitas produksi terapung milik Woodside). Dari kejauhan nampak platform Rankin A, dan Rig Ocean Bounty…

Disela-sela awan lembut, sambil memandang pulau-pulau kecil di bawah sana pikiran saya mereka-reka sedang apa ya aktivitas di Bounty…

Sebetulnya ada alunan musik di headphone Heli, tapi apalah nikmatnya anda naik Bajaj Udara, dengan raungannya dikombinasikan dengan dengan ipod ditelinga. Paling sambil diguncang-guncang kami menikmati tidur aam mengobati stress dan kurang tidur semalaman.

Ketika helikopter Puma mendarat di landasan besi kapal. Sesaat pesawat harus menyesuaikan diri dengan arah angin dan tentunya ruang yang terbatas mengingat disisi landasan tengah berdiri menara pengeboran. Sekilas lantai menara bor sepi-sepi saja, bahkan alat katrol pemboran yang disebut Top Drive System nampak menggantung tidak bergerak. Ternyata Kumbakarna sedang menyelesaikan kontraknya dengan perusahaan SANTOS (ingat Santos, ingat LUSI – Lumpur Sidoardjo), sebelum ditarik dengan kapal tunda ke lokasi baru perusahaan Woodside.

RAKSASA SAKIT

Bagaimana tidak saya sebut raksasa. Lebar badannya 100 meter, tingginya mencapai 100 meter, memiliki 8 kaki PONTON yang besar, kemampuan minum sampai 5000 barrel cairan, perutnya berisi “anak-kapal” sebanyak 100 orang. Kapal yang mampu merobek perut bumi sampai 5000 meter, tetapi masih bisa bilang “kami sangat paham soal lingkungan hidup” – hanya karena sepotong kertas tidak boleh dilempar ke laut.

Rig buatan Mitsubisi tahun 1982 ini mampu memproses air laut menjadi air tawar untuk keperluan sehari-hari seperti mandi maupun cuci.Kecuali air minum yang masih harus didatangkan dari darat. Kalaupun ada perubahan, sistem propeler sudah lama tidak diaktipkan, Rig harus berjalan dengan diseret dua buah kapal tunda.

Yang ingin mencari bak mandi dan siwur bakalan kecewa sebab disini hanya ada pancuran (shower), toilet duduk (bukan jongkok) yang dilengkapi deo spray sehingga setiap yang duduk diwajibkan menyemprot ruangan sebelum ditinggalkan, agar pemakai berikutnya tidak merasakan “sambutan hangat dan tajam” dari sisa pemakai sebelumnya. Dan tidak akan tercium bau rokok. Pasalnya sangat dilarang merokok didalam ruangan. Kecuali tempat khusus merokok. Dan luar biasa, hal tersebut sangat dipatuhi. Rig semi terapung (semi-submersible), milik Diamond Offshore GlobalMarine disingkat DOG, ini memang sibuk melayani pelanggan.

Hampir 3-4 bulan sekali kami pindah pelanggan semisal Coogee Resources, Hardman Resources, Santos, ENI, Theo, ROC, dan belakangan Woodside Energy Limited. Setiap ganti perusahaan, maka ganti cara penanganannya. Biasanya kami-kami pekerja bayaran ini yang di “propaganda plus cuci-otak” – bahwa perusahaan tempat kerja sekarang ini adalah terbaik sistemnya dan ter-ter lainnya.

Sebagian pakaian sehari-hari biasanya sepasang coverall, kaos dan celana pendek di taruh dalam lemari besi ini. Masih ada satu locker di luar ruangan utnuk menyimpan alat mandi, sandal, sepatu dsb.

Paling repot lagi kalau semua Internet Backbone yang sudah ada, dianggap kuno dan diganti dengan sistem keselamatan mereka yang lebih “JOSS” – dan berakhir setiap orang harus cari kemana saja kabel networknya nyasar. Sistem wireless belum dipakai di rig karena badan baja yang umumnya susah ditembus dengan wireless.

Akibat sibuknya mengebor sana sini, suatu saat kaki baja terapung milik Ocean Bounty (OB), ini terkilir pada mata-kakinya. Kami menyebutnya “fair-led” – dokter spesialis kaki didatangkan dengan peralatan semacam X-ray, lalu ahli bedah tulang yang disini bergelar welder alias tukang las mulai sibuk berdatangan. Karena sebagian kaki tenggelam dalam air laut, mau tidak mau kaki tersebut harus berada diatas permukaan. Maka beberapa isi perut harus dipindahkan kekapal suplai, dan rig perlahan mengapung lebih tinggi “de-ballast.
Saat kaki mengapung, nampak binatang laut sejenis siput saling menempel dikaki rig, bau amis laut dan binatang yang mulai membusuk karena kekeringan mulai tajam menyengat.

Karena mengapung tanpa pemberat, jadilah raksasa besi ini seperti sabut ditengah laut, terhempas kesana kemari. Dan lagi-lagi sistem internet yang katanya sudah dilengkapi dengan dynamic positioning agar manteng terus ke satelit yang dituju, sempat bergeser. Internet kehilangan kontak, tilpun terputus, acara TV sami mawon. Tapi setidaknya kami seperti liburan dihotel mewah. Satu dua hari memang seperti di surga, memasuki hari ketiga kebosanan mulai melanda.

Rapat mulai berisi laporan rutin “stand by and ready to go“. Untuk mengisi waktu, di kapal diadakan perlombaan mendayung dalam waktu 5 menit, harus minimal mencapai 1400 meter. Di bawah itu akan didiskualifikasi dengan kehilangan biaya pendaftaran 2 dollar. Tod, si bule tukang las sempat-sempatnya menyempitkan badan ikutan kompetisi. Lho kok 1495m dia tempuh dalam 5 menit. Jadilah ia pemenangnya. Yang unik kompetisi ini dilakukan di ruang senam alias menarik alat simulasi mendayung. Tapi boleh coba 5 menit, rasanya ambegan sudah sampai kerongkongan plus full gemrobyos.

Mudah-mudahan kaki OB (OceanBounty) yang sakit segera sembuh. Dan ternyata pemulihan ini memakan waktu tak kurang 7 hari kerja 24jam.

Fairlead inilah yang rusak sehingga membutuhkan waktu berminggu untuk memperbaikinya.

Habis ya…
Keburu bada (lebaran)…