Menyelesaikan urusan lalulintas di pengadilan


Pas lampu merah menyala di kawasan Cilandak, terdengar bunyi “gedubrak” – sebuah motor mencium pantat mobil mirip kijang. Pagi begini tatkala semua orang bergegas hendak kekantor, maka kecelakaan lalu lintas seperti pemandangan hari-hari. Maka saling lontar umpatan terjadi. Kedua pihak yang bertengkar tiba-tiba naik pangkat – mereka merasa lebih cerdas daripada lawan bicara, merasa lebih manusia ketimbang lawannya, dan merasa lebih tahu aturan daripada yang lain.

Ujung-ujungnya keduanya saling tukar menukar kepalan tangan. Sementara pengendara lain segera menepis membiarkan pihak yang bertikai. Lalu ada yang nyeletuk “selesaikan saja di pengadilan…” – mungkin ia barusan membaca iklan di pinggir jalan tol “kebenaran itu tidak memihak..”:

Tapi coba kalau anda sendiri duduk sebagai pengemudi Kijang, langsung kita akan berubah menjadi manusia “pemaki” segala kendaraan roda dua. Mulai dari “Yang tidak tahu aturan, main nyerobot, salib kanan salib kiri tanpa memberikan tanda sehingga membuat adrenalin berdenyut lebih deras.”

Apalagi ada aturan baku tak tertulis- kalau nabrak maka mobil yang salah.

Tapi coba juga anda duduk disadel roda dua, sepagian tangan “nyekengkeng” tegang memutar kopling, rem, menghisap CO2, disauna kering knalpot panas mesin mobil, diasapi mirip rawa nyamuk malaria. Maka pengendara motorpun berkilah “situ enak duduk diruang AC, dengerin CD, menjawab HP, sambil kadang mulut disuapi oleh istri atau siapa saja.” – Salah-salah selangkangan kram mirip orang belajar naik kuda tanpa pelana.

Lalu saya ingat teman saya pernah mengalami kejadian mirip. Bemper mobilnya rusak dihajar mobil dari belakang sehingga ia minta ganti rugi. Harga dipasaran gelap sekitar setengah jutaan. Tapi sang penabrak lebih ngotot cuma mau ganti 25 ribu. Atas tantangan sang penabrak mereka setuju menggunakan jasa pengadilan.

Maka hari yang ditentukan, diantara deretan PSK, gelandangan ia menunggu giliran dipanggil pak Hakim. Lepas makan siang gilirannya tiba. Pak hakim setuju bahwa pria penabrak membayar ganti rugi sebesar 250 ribu rupiah alias sepuluh kali lipat daripada kesanggupan pertamanya. Bahkan sitergugat enteng meninggalkan sidang lalu nyantai makan bakso lalu menandatangani berita acara dan membayar denda. Giliran teman saya berada didepan loket dengan harapan dapat sekedar ganti rugi ia dengan menunjukkan formulir serah terima.

Tapi mana uang yang disebut oleh Hakim?”

Anda mungkin tak percaya, teman saya tadi tidak menerima sesenpun ganti rugi yang ia perjuangkan sebab uang tadi dipaksa disumbangkan untuk negara.

Nanti kalau anda masih ngotot mencari yang 250 ribu tadi, sebaiknya anda naik banding perdata, dan itu bisa berjalan setahun lamanya. Mau dapat untung malahan buntung.

Tak heran orang suka sekali menyelesaikan sebuah masalah dengan kekerasan alias OKOL. Dari soal kecelakaan lalu lintas sepertinya lebih afdol diselesaikan seperti ilustrasi mobil dan sepeda motor yang memilih gebug-gebukan dijalan sebab kalau dibawa ke “jalan yang benar” malahan kesasar yang didapat.

Advertisements

Hadiah di Hari Bhayangkara ke 58


Date: Fri Jul 2, 2004 10:29 pm

Pagi buta jam 4 saya harus mengeliminasi acara jalan pagi lantaran ada keluarga minta diantarkan ke Gambir untuk mengejar Parahiyangan 05:30 ke Bandung. Bagi saya, ke stasiun kereta api di pagi buta sudah merupakan hiburan tersendiri. Bisa duduk memesan Capucino yang muanisnya pol kendati sudah dipesan jangan manis manis. Dan beli Koran atau Majalah yang baru datang dari percetakan sehingga bau catnya masih kenceng. Apalagi Gambir sudah bersolek jauuh sekali seperti sebelumnya. Apalagi kehidupan dunia emper setasiun, gerbong kereta api, amat pekat dengan kehidupan masa kecil saya.

Dalam keadaan sepi, didepan saya lewat Patroli dari Kepolisian. Saya kuntit Mobil Patroli Kuda warna abu-abu sejak arah Roxy menuju Harmoni. Ketika saya lihat mobil dengan klakson rada bangor “Thoot Thoot” melanggar lampu merah diperempatan. Entah kenapa saya ikutan melanggar, pingin tahu apa jadinya kalau sama-sama melanggar lalu lintas. Bedanya si Kuda Tot belok ke jalur lambat, saya terlanjur jalur kenceng. Dan output sudah bisa diduga, saya distop dengan tuduhan masuk jalur kencang saat lampu merah. Seperempat abad mengemudi di Jakarta (dan belum hapal semua), akhirnya saya ditangkap dengan tuduhan salah jalan.

Mula-mula saya berakting seperti warga PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian), mudah-mudahan polisi tadi tidak menyangka bahwa saya adalah anggota PT…PN (nama lama dari Perguruan Tinggi Pembangunan Nasional sebelum menjadi UPN). Dengan gaya sok diwibawa-wibawakan saya tanya kesalahan saya. Tapi sia-sia. Salah tetap salah.

Untung saya masih ingat spanduk di Polsek Grogol. “Damai itu Indah”, tetapi denda damai mestinya lebih indah lagi…

“Suwun Pak!,” kata anggota polisi Patroli ketika selembar uang kertas saya sisipkan sebagai pengganti STNK yang dimintanya.

Sebelum menutup kaca jendela saya mengeluarkan kepala ambil berseru..

“Dirgahayu Bhayangkara ke 58!”

Sekilas saya lihat “anggota” tadi bengong.

Mungkin pikirnya “Jeruk kok minum”

NB: 1 Juli adalah Hari Bhayangkara ke 58

Lampu Hazard diwaktu hujan, sudah betulkah prosedur itu?


Date: Mon Jun 28, 2004 8:52 am

Sebuah fungsi dalam kendaraan yaitu tombol lampu HAZARD biasanya dipakai dalam beberapa peristiwa. Pengemudi Lampung paling suka menghidupkan lampu hazard dengan kelap-kelip kuning di sebelah kanan dan kiri kendaraan, jika hendak berjalan maju dalam satu perempatan. Kalau dulu, waktu richting masih berupa pengganti tangan yang njeplak ke kanan atau ke kiri, pak pulisi masih mewajibkan pengendara mengeluarkan tangan dan menunjuk lurus kedepan. Maksudnya mencari perhatian agar pengemudi lain lebih meningkatkan kewaspadaannya.

Lantas kebiasaan yang dijumpai di negeri ini adalah mengaktipkan lampu Hazard saat ada prosesi Jenasah, tidak ketinggalan pawai “Harley-arogan-Davidson” yang meminta perlakuan khusus di jalan raya maupun tol, sekalipun jelas-jelas motor tidak boleh masuk jalan tol. Saya juga penganut mahzab “nyalakan hazard saat hujan turun lebat..”

Padahal kalau kebiasaan ini dilakukan di negara lain, kita bakal berurusan dengan polisi. Pasalnya kalau hazard diaktipkan, bagaimana pengemudi lain akan tahu hendak berbelok kemana kendaraan didepannya. Solusinya, ya hidupkan lampu kecil saat hujan turun. Hazard hanya dipakai untuk menunjukkan kendaraan mogok.

TAHUKAN ANDA

Merek resleting (zipper) adalah YKK merupakan kependekan dari Yoshida Kogyo Kabushikikaisha didirikan 1934 di Jepang.