Fakir-Hurup


Sekalipun mendeklarasikan nama saya sebagai Mimbar diseantero pojok. Namun ada beberapa teman baru yang lebih nyaman menyapa dengan “Bambang” – nama tengah saya.

Nama tengah sayapun saya pakai ketika memesan secangkir kopi sambil menunggu seseorang. Petugas menuliskan nama saya di cup putih zonder harus mengulang seperti kalau saya menyebut “Mimbar”  dan tak membaca kernyit wajah bak mengejek  “keknya ente kehabisan nama – ganti Young Lex kek”

Bambang lalu duduk manis menunggu. Agak jauh dari meja pengambilan pesanan. Sementara pengunjung yang tidak sabaran – berkerumun sekeliling konter seakan-akan pesanannya cepat diracik kalau petugasnya dipelototi.

Kedai kopi ramai sekali. Kafe yang dipuji Raditya Dika sebab selalu memilih dinding yang tidak memantulkan suara, tersedia colokan listrik ini malahan menyetel lagu Zaman NOW. Akibatnya telinga dan leher distel siaga penuh. Sesiaga satuan pengaman Alexis yang diancam kalau pengusaha baru dilantik, mereka akan jadi bagian sejarah. Teknik paling sederhana, mengamati pengunjung yang ada dibelakang antrean.

Setelah lama menunggu, datang juga  nama Mimbar eh Bambang, saya menuju counter namun cup yang dari jarak jauh sudah saya “TAG” nampaknya berpindah tangan seorang lelaki perlente separuh baya. Dia bersiap meninggalkan loket ketika saya dekati.

Gelas saya rebut (gentle), meyakinkan  lagi namaku “P’Bambang” tertulis disana. Ia berkelit mencoba mempertahakan.

Bapak namanya Bambang?” tanya saya. Saya lihat rambut keriting ikalnya sudah berwarna dua, artinya tuwir.

MarXXX, tapi saya pesan yang ini..” lantas dia menyebut nama kopi yang memang sama dengan pesananku.  Saya yakin dia tidak fakir-hurup, fakir-pendengaran.

Lelaki itupun tak terlihat di bangku kafe.

 

 

Advertisements

ARAB-ica dan ROBO-sta


KONON ada 6500 jenis kopi, namun orang menggolongkan hanya dua yakni ARABICA dan ROBUSTA. Apa bedanya – sampai sekarang saya tidak ngeh.. Jeremy seorang pakar Barista mengatakan perumpamaan sebagai berikut..

ARABICA ibarat kopi dengan 2 bagian gula dan setengah bagian Caffein… Aromanya manis dan harum bunga.. Ini alasan harganya mahal.

ROBUSTA ibarat dua bagian caffeine dan nol bagian gula. Rasanya lebih “sepet”. Para ahli mengatakan baunya mirip strawberry, cendana, cengkeh dan tembakau.

Lantas, negara mana yang kopinya yahuud dan woasli – adalah ETHIOPIA. Ia adalah negeri dimana kopi nongol pertama kali di dunia, dan dipercaya 96% kopi original mereka masih tumbuh di Ethiopia.

Kopi Ethiopia – selalu lebih memiliki aroma yang komplek dan menyengat (harum) sulit dibedakan satu sama lain. Misalnya SASABA – yang diberi catatan oleh para pakar – “Anda seperti melihat Emas – diujung Bianglala…”

Oleh sebab itu kemajuan industri kopi mulai memisahkan aroma ini satu persatu sehingga bisa penikmat kopi bisa mencicipi dari pelbagai aroma.

Durian Musang bukan lantaran keluar dari perut Pemakan Kopi


durian_musangvsd24Kopi Musang Luwak – sudah terkenal seantero bawana sehingga beberapa situs Goggle ada yang mempertanyakan keberadaannya. Myth or Facts. Cilakanya guna membendung daya bongkar kopi ini … beberapa Ulama bilang “makanan ilegal”.

Tapi Durian Musang – alias Rajah Musang yang saat ini menduduki posisi sebagai durian terbaik – jelas bukan hasil “lepehan-jalan belakang” oleh sang Musang sekalipun sudah pakai Titel Raja di depan namanya. Posisi ini mendesak Durian Sultan D-24 harus puas di anak tangga ke dua (2007).

Situs Blog JohorKaki – menyebut bahwa nama Musang diambil dari sentra durian di sebuah kota Gua Musang di Kelantan-Malaysia. Situs Wikipedia menyebut nama ini “Alkisah Jaman Dulu Kala” sebagai peringatan kepada para pemburu binatang membabi buta membunuhi segala mahluk di hutan tanpa tebang pilih. Ini yang membuat Raja Jin Musang penghuni gua murka sehingga mendatangkan badai dahsyat membuat  mereka berteduh di depan sebuah Gua..

Mendadak ratusan Musang keluar dari dalam  Gua sambil mencuri Panah dan Busur mereka. Sejak itu Goa tak bernama tersebut dinamakan Gua (raja) Musang.

Seperti pemburu yang dicuri alat berburu – maka hati Pelancong dicuri agar  kepingin datang ke kota ini.

Di tambah dengan keahlian pedagang memberi nama Durian mereka Raja Musang  – atau Mau Shan Wang (MouSanG) – maka Kelantan, Malaysia selalu menjadi pusat durian.

Sebetulnya soal durian musang, kita sering temui oleh abang Pikul di Citayam, hanya dari dulu – si Abang yang menjualnya datar-datar saja.. Padahal perlu juga Persamaan kalimat Hiperbolik.

“Ngomong Manis -deh.. (durian) Tembaga Punya karena warnanya cerah keemasan seperti  Tembaga baru di gali, bijinya bisa keliru dengan uang Gobang Belanda karena tipisnya, buahnya yang tebal dan lebih banyak “Pahit-pahit kearah Johny Walker” kalau dirasa-rasa. ”

Padahal pedagang kita butuh cerita mitos.. agar dagangannya bisa menarik perhatian.. Walaupun usaha kearah situ sudah ada. Misalnya Kopi Durian Musang..

Pernah coba Kencing Luwak


Ini tidak ada hubungannya dengan pengobatan alternatip yang glak glek “nyeruput-hangat-hangat” – air seni sendiri. Apalagi sebagai campuran Kopi Loewak yang kondang itu. Juga bukan musang berbulu ayam, juga ndak ada hubungannya dengan cerita favorit saya – komedi “Mencari Musang Berjanggut..” – jadi ingat dengan Taguan Hardjo pelukis komiknya.

Pada jaman jahiliyah (muda dan jahil) saya menggunakan fanatik deodorant dan parfum semprot merek “J” yang dibuat macam cairan berwarna emas padahal saya melihatnya ya mirip pipis musang. Menggunakan pewangi  juga gara-gara ojok-ojokan majalah pria  (ala MH tahun jebot, 1970-an), atau majalah Aktuil, bahwa pria yang mengenakan parfum berasal dari kelenjar musang akan menarik betina (musang). Eh masih ditambahi kata-kata menghipnotis – Pria Tanpa Deodorant layaknya hidup diabad Flintstone…- Kontan saya ketakutan sampai terkencing dan percaya tanpa dibaiat lantas menjadi militannya sampai sekarang.. Tanpa iming-iming ..Duh..

Tapi kan repot kalau sampai bawah bahu ada penampakan macam Ayu Ting-Ting yang ngetuk (seepage)  waktu pakai seragam Marinir.

Tapi sampai berbotol habis belum ada betina Yogya yang tertarik kepada saya. Sehingga saya musti mencarinya di Grogol kendati ujungnya keturunan Lor pasar Mbibis Yogya- masih pernah pernahan dengan pak Harto – sebatas pak Harto dulu doyan pernah order Tongseng SORSEM -Mbibis (Ngisor wit Asem), kakek istri saya juga .

Tapi setidaknya bau kelenjar musang (kata iklan) sangat melekat cinta dalam ingatan saya.

Karena kejadiannya sudah berlangsung diatas strip 40 tahunan lalu – maka saya hidung saya sempat kembang kempis ketika kamar mencium aroma macam barusan dijadikan gudang beras curah ala DOLOG yang disemprot parfum Pandan biar terkesan beras mahal. Ini artinya ada mahluk dilangit-langit rumah. Dari hasil kamera sih ada dua musang mungkin sepasang, mungkin lebih  yang menggunakan langit-langit rumah saya untuk tempat bercengkrama.

Mereka bisa datang dari mana saja-biasanya masa-masa mirip perang Diponegoro (18:25-18:30).  Irama musik kedatangan mereka mirip banting tutup kloset duduk. Gedombrang. Lalu terdengar langkah sang kapiten musang ternyata tidak prok-prok melainkan gedebak gedebuk.

DARI PANDAN TERBITLAH PESING

Lantaran ada suara berisik masih diikuti dengan harum macam pandan dicincang halus dan diberi minyak klentik macam embah saya kalau bikin ramuan cem-ceman. Saya kuatir penghuni rumah  mulai berfantasi mengedarkan edisi “uka-uka.”

Ya sudahlah – pikir saya rumah kedatangan musang, ular, kodok kesasar  artinya mereka merasa tentram. Apalagi saya punya rekaman sepasang musang dilanda asmara mereka pergi berdua (lagu Tety Kadi 1970- sepasang rusa). Saya pikir mumpung masih banyak gerumbulan biarkanlah geng musang hidup aman di alam nyata. Entah untuk berapa lama.

Tetapi makin lama selain bau pandan kursi yang saya duduki rasanya basah. Ternyata pak dan bu musang iseng memberi hadiah “pandanus lotion” dari langin-langit sana dalam jumlah dari kursi melebar ke lantai termasuki membasahi kopor kerja saya yang sejak 25 November mulai istirahat tidak bawa tagihan macet sana sini… – Sepertinya generasi muda musang balas dendam – “dulu suka parfum dari tubuh eyang moyang, sekarang saya kasih “aselinya”.

Terpaksa deh, malam-malam pak Lanjar asisten pribadi harus mematikan Jisamsunya karena kebagian cari pel.

Musang, musang mbok kalau kebelet keluar sana… Tapi ya kalau Musang Bisa Ngomong – apa ente tidak tahu diluar sana Badai Halilintar, Hujan Lebat sampai sarang tergenang air bagaimana akan cari mangsa  – mana tahan BRUR.

Cuma ya itu keesokan harinya sisa cairan pliket (lengket) mulai  mengering, nah baru deh ada bau pesing brang-breng mangkrak disekitar saya mengetik… Tiga bulan lalu, kencing mereka dengan mulus mendarat ditarget yaitu kasur tidur saya. Semula kami saling curiga mencurigai, jangan-jangan penyakit beser kakek nenek mulai datang tanpa disadari. Tapi pakaian kami kering semua.

Pengalaman menciumi kencing 9 adik saya (dan mencuci popoknya) ditambah dua anak saya (tapi ndak pernah cuci popok) maka bau pesing (plus pandan) bung Musang jauh lebih sopan ketimbang anak manusia.

Judul renungan ini mustinya.. Rumah macam ditinggali ……. yang pesing kencingnya.

Dari Kopi Setan ke Gobak Sodor


Cerita ini mengambil tempat di Jakarta Raya sementara GOBAK SHODOR permainan perang-perangan “gocek-gocekan” yang sekarang sudah jarang dimainkan anak-anak.

Tokohnya pak Anjar… Sudah 2 tahun ikut kami sebagai Supir Pribadi. Itu judul awalnya. Lantaran pak Anjar di Tangerang, saya di Bekasi sudah barang tentu sulit baginya datang jam 8 pulang jam lima sore. Alhasil lima hari dalam seminggu ia menginap di rumah, sisanya ia habiskan untuk keluarganya.

Lelaki asal BAYAT- Jawa Tengah yang mirip pakde saya ini sekalipun usianya baru 55-tahun, pekerjaan awalnya adalah supir pribadi mertua saya. Lalu menjelang meninggal dunia pak Anjar diwariskan kepada saya. Seperti kata awal tadi, judulnya “supir’ tetapi kata istri saya dia lebih tepat “baby-sitter seorang kakek bernama Mimbar” alias saya.

Betapa tidak, Bangun tidur menjelang 04:30, air panas sudah tersedia untuk saya atas jasa pria yang terkekeh kalau nonton OVJ …. Apa bukan saya diperlakukan seperti anak kecil? –

Kadang kalau saya bekerja dirumah sampai larut malam, dia setia menemani sambil klepas-klepus merokok. Sesekali terdengar batuk beratnya. Entoh dia belum berani beranjak tidur kalau saya belum ada “lampu ijo” dari saya. Selain ilmu nyupir yang kalem, dia jago soal mekanik, bengkel, sedikit listrik. Jadilah ia tukang serabutan dirumah kami.

Selama ikut saya baju dia banyak hibah baju yang kekecilan, atau baju bekas menantu saya hampir dipastikan mampir ke tubuhnya. Tak heran kadang para kerabat melihatnya pakai baju berwarna ngejreng yang bukan ciri pak Anjar sehari-hari. Tadinya pria ini slebor. Pakai baju compang koyak di ketiak adalah kesukaannya. Sekarang ada kemajuan dalam cara ia berbusana, yaitu mengenakan sepatu..

PAK SAYA RAMUKAN – KOPI SETAN- YA

Acara pagi adalah setelah alarm berbunyi, saya terbangun (tidak selalu) dan langsung ke kamar mandi menghadapi ember besar penuh air panas buatan Anjar. Semetara saya menikmati air hangat, Anjar sambil batuk sesekali “cekeh” – tapi bandel isap rokok JiSamSu – akan bertanya apakah saya mau minum seduhan KOPI SETAN buatannya. Jangan keburu heran atau berprasangka kopi ini dicampur cabe sebab, dia cuma kopi+gula dalam saset tinggal seduh. Dan logo kopi itu gambarnya nggak nyambung – alat transportasi di laut.

Repotnya pak Anjar main memudahkan urusan penamaan kopi sasetan diplesetkan menjadi KOPI SETAN.

MAL GOBAK SODOR

Waktu menunggu jemputan pak Lanjar untuk satu keperluan mendadak, pada jam yang ditentukan dia belum datang. Lalu saya tilpun. Orang ini adalah supir yang kalau ditilpun mengucapkan SELAMAT PAGI ATAU SELAMAT SIANG… pak Anjar menjawab “Maaf Pak.. Saya kena macet nih, posisi masih di Mal (dia berfikir sebentar) lalu tegas menjawab Gobak Sodor…”

Anda ndak perlu mencurigai pengetahuan umum soal Jakarta anda rendah, sebab usut punya usut, pak Anjar keliru mengeja mal AMBASSADOR – yang posisinya di Kuningan…

SEBELAH PABRIK DIKLAT

Anda tahu dong DIKLAT adalah singkatan pendidikan dan latihan. Tapi kenapa pak supir Anjar waktu ditanya jalan tikus dia menjawab masuk dari Pabrik DIKLAT. Lha ternyata entah kenapa pabrik ban DUNLOP kok pak Anjar bisa membacanya sebagai Diklat.

Secangkir Kopi Hitam di pagi hari


Secangkir Kopi Hitam

Keponakan cilik saya sering komentar di FB – “Pakde kok jalan-jalan terus sih..” – Padahal maksud hati ingin memberikan contoh bahwa ketika orang sudah sibuk minta pensiun, menjelang pensiun, pakdenya seperti bergeming bekerja dan bekerja.

Untuk mengisi pekerjaan yang nyaris rutin 30tahun (kata orang Jepang – isoku iki) maka harus dicari celah agar bekerja dan sedikit ber-wisata. Foto ini diambil di kawasan Sudirman, Jakarta- jam 06:00 pagi setelah melakukan perjalanan sepanjang 20kilometer dari propinsi Jawa Barat. Jam segitu, para Satpam masih kucek-kucek mata, lampu penerangan sebagian dimatikan. Bahkan penjual koranpun masih menyisakan gulungan koran diikat rafia belum sempat dibuka.

Satu-satunya tempat duduk adalah warung dengan koordinat ala Garmin Etrex dan Nokia seperti di atas.

Di warung yang berjudul belanja sambil beramal saya ditemani tukang kopi hitam langganan saya. Kalau dilihat di latar belakang, maka beberapa lapak baru melakukan tahap “Rigging Up.”

Ada satu colokan listrik tersedia yang saya pakai untuk baca email. Inilah kantor berjalan pakdenya. Nanti saat meeting, laptop dimatikan. Selesai rapat, saat orang bercakap-cakap bebas, laptop dinyalakan kembali untuk membaca dan menulis email. Setengah jam kedepan, seorang ibu muda berjilbab (the only gender here), mulai meracik mie ayam.  Saya suka bakminya- menjauhi baksonya yang  kelewat asin.

Menjelang jam 07:00 pagi baru angkat kaki dari warung dan masuk ke kantor pelanggan. Biasanya saya disapa pak Satpam atau pelanggan kami “masih lama pak!,” – karena sudah kenal, para resepsionis membiarkan saya masuk ruang rapat untuk buka email dan mengerjakan pekerjaan kantor di kantor orang lain. Dan disela-sela sepi tadi, biasanya saya mengupdate face book.

Sendok untuk mengukur


Spoons are for measuring
Sticks are for stirring

Lha iyalah anak kecil juga tahu sendok untuk menakar/mengukur sementara batang kayu kecil untuk mengaduk.

Namun nyatanya tulisan atau peringatan ini tertempel di dinding lapangan terbang kaum pertambangan di Pulau Barrow Australia Barat. Pasti ada udang dibalik pengumuman ini.

Pulau Barrow adalah kawasan yang dijaga ketat ekologinya. Binatang dan tumbuhan disini tidak boleh dibawa keluar dan juga tidak diperbolehkan memasukkan mahluk lain kedalam pulau Barrow.

Seperti nampak pada gambar, pemandangan dari dalam lapangan terbang semata hanya semak dan gunungan hasil olah kerajaan anai-anai (kerucut berwarna kecoklatan).

Karena di lapangan terbang tersebut kami tidak diperkenalkan meninggalkan ruang tunggu, sebagai ganti “suntuk” disediakan TV Foxtel yang saat ide menulis ini timbul sedang memperlihatkan dua raja Sexi JT dan Madonna menari dan menyanyi dengan sangat ciamik. Lalu ada tilpun lokal gratis sebab sinyal HP tidak sampai ke daerah terpencil ini. Tak ketinggalan sebuah perangkat minuman otomatis.

Dan di ujung terminal disediakan perangkat minum kopi gratis.

Namanya orang banyak, ada saja kebiasaan anehnya. Semisal menggunakan sendok gula dan kopi untuk menyeduh minuman lalu dikembalikan ketempat semula dalam keadaan berlumuran air panas. Akibatnya gula dan kopi dalam toples yang semula menggiurkan menjadi nggilani.

Oleh sebab itu mereka menyediakan sendok didalam toples kopi, sendok ditoples gula dan potongan kayu pipih ala penjual eskrip untuk mengaduk minuman ditambah dengan sedikit “aturan pakai” – maka diharapkan ketidak tertiban soal aduk mengaduk teh atau kopi bisa kembali ke jalan yang benar.

Sayangnya politik devide et impera dengan memisahkan sendok kopi dan sendok gula ini tidak berlaku di rig pengeboran kami. Orang tetap saja tidak perduli akan wacana pemisahan alat minum ini.

Daripada repot-repot, pihak katering “ESS” – menyediakan sejumlah sendok plastik kecil sekali pakai terus buang. Dan aturan yang bernada kekanak-kanakanpun tidak dibutuhkan lagi.