Gagal Datang (liong) BULAN


Tanggal 31 Januari 2018 siang.

Sebentar malam ada Gerhana LGBT, maksudnya Langka Gerhana Bulan Total. Musti sedia Kopi, Teropong buat melihat Kala Rahu menelan Dewi Chandra,  tapi lantaran badannya sudah dilepas dewa maka Dewi bisa keluar lagi.

Asisten WaraWiri -mbak Nani melaporkan bahwa Kopi Bulan sudah habis. Kami maklum maksudnya tak lain Kopi Lion Bulan van de Bogor. Syukurlah, sebab kopi persediaan  harus dikonsumsi menjelang pertengahan Februari 2018.  Bulan ini cuma tiga bulan. Ini SOP perkopian. Dan hanya dipasarkan di Bogor. Juga termasuk SOP. Mereka juga boro-boro repot bikin website. Juga SOP.

Kalaupun ada yang di Internet umumnya usaha ketengan.

Mengingat tempat dan waktu yang disediakan (kaya rapat kelurahan),  kok ujug-ujug kepikiran pingin datang ke Mabes mereka di Bogor. Atensi pertama siapa tahu jaman digital kopi bisa dipesan langsung dari pabrik, langsung order melalui WA.

Kopi Lampung Sinar Dunia saja bisa pesan via tilpun. HareGene secara gitu lho.

Ide dapat sambutan dari teman sebelah. Berjalan beduanya memang asik. Tapi ada menu ngotot-ototan, belok kiri atau belok kanan. Dia saya sebut dengan penuh hormat “Remote Control ”  cuma kadang baterenya error.

Singkat kata tak ayal lagi, siang itu kami cabut dari Jatiwarna menuju jalan raya Bogor, menuju Cibinong. Waze dipanteng ke arah Bintang Mas-Nanggewer-Cibinong.

20 kilometer jalan Tol Bogor yang sepi-sepi mayan.

Memasuki Raya Bogor Cibinong saya membelokkan kendaraan ke jalan Bintang Mas-itu alamatnya. Begitu masuk dari jalan raya ke jalan kecil – saya nyebut “Masaolo”, jalan sempit, pedagang makanan, dan karyawan pabrikan pada keluar buat makan siang.

Karena ini kali pertama cari alamat,  maka demi menghindari kebablasan, selalu setiap 50-100 meter kami berhenti menanyakan alamat.

Sebuah gudang nampak ada penjaganya. Kami datangi. Rupanya pak Satpam tak berseragam.

Begitu kata password “Liong Bulan” disebut tangannya langsung menunjuk, “sebelah saya ini, itu pagarnya..”

Ternyata tinggal beberapa langkah dari sana.

Saya cocokkan dengan foto di Internet. Deskripsinya  cocok. Ada dua pintu gerbang pagar abu-abu yang selalu terkunci, tak seorangpun disana. Tidak ada petunjuk bahwa disitu diproduksi Kopi kebanggaan orang Bogor. Sampai membuat Walikota Bogor spesial berkunjung ke TKP ketika mendengar desas desus pabrik ini gulung tikar. Untung hanya kabar angin tak beralasan. Foto reportasi pak Wali kemari, yang saya buat pegangan main detektipan. Niat banget.

Kok ya, kebetulan. Ada mobil box putih masuk. Zonder klakson, seorang engkoh tua tetapi masih gesit seperti biasa main dua set badminton seminggu sekali, berlarian membuka pagar. Dan pintu gerbang yang semula rapat tertutup kini terbuka hanya untuk ruang kendaraan masuk.

Gaya Engkoh membuka dan menutup pagar dengan kepala selalu menunduk, mengesankan  pemilik Anjing nakal yang kuatir peliharaannya nerobos keluar melalui pintu pagar.

Baru hidung mobil masuk halaman, pagar sudah siap tutup. Semua dilakukan tanpa menoleh.  Kalau kata bahasa kini “orangnya tertutup dengan tetangga”.

Kami merangsek sedikit, kendaraan sengaja bergerak menghalangi pintu pagar agar bisa berdialog. Tapi engkoh lebih cekatan. “Jreng” pintu pabrik telah tertutup. Pintu Tobat yang masih terbuka. Duh.

Dan saat dia akan masuk menghilang, kami memanggilnya.

“Kami tidak jual Lion Bulan disini, cari saja di Pasar Anyar..” lalu ia bergerak siap menghilang dibalik gerbang. .

Sia-sia menghiba, kalimat kami jauh dari Jakarta dengan harapan siapa tahu bisa nego.

Kami mencoba mengulur waktu dengan minta pagar dibuka agar kendaraan bisa balik arah menggunakan halamannya.

Si Engkoh nampak keberatan-karena harus buka gembok – tidak lama nongol wajah wanita setengah umur.

“Ada apa?” tanyanya kepada Engkoh. Engkoh menjawab maksud kedatangan kami. Biasanya kalau enci-enci lebih “duit mindset”.

Enci menghilang begitu juga si Engkoh. Game over. Wajah tua saya tidak menjual. Lha dia Tua juga.

Terus terang kami meninggalkan TKP dengan perasaan kecewa..

Tustel yang saya kokang tak sempat diletuskan.. duh..

Liong Bulan dengan segala cara konvensional dan konservatifnya pasti akan membuka celah pemain lain yang lebih luwes untuk masuk gelanggang. Terbukti misalnya, sebuah Perusahaan Kopi Naga Mas misalnya membeberkan proses pembuatannya dari “Roaster” sampai jadi kopi siap saji.  Boleh order pakai tilpun “asal ongkos kirim ditanggung.”

Dalam perjalanan balik ke Jakarta, kami mampir ke (TI) Tempat Istirahat sambil order kopi (mudahan Liong Bulan), Taoge Goreng dan Pisang Goreng.

Tak habisnya kami berfikir. Haregene jualan kopi main petak umpet seperti transaksi Cimeng. Serba rahasia, serba non digital. Tapi boleh jadi itu jurus dagang mereka. Terbukti mereka sejak 1945 sudah eksis, sampai kini.

 27337301_10213295801002579_1871785764543031714_n
Advertisements

Jenang


 

TENANG ada JENANG
Kebiasaan saya manakala duduk dipesawat membaca majalah yang disediakan. Kalau ada artikel yang saya anggap menarik saya potret sebelum dipindahkan ke FB. Kebetulan ada artikel mengenai Jenang, diambil dari festival Jenang di Surakarta.

Apalagi saya juga punya bude Nunuk dan mbak Desi yang pemaes Pengantin Jawa dan kalau bicara uri-uri adat Jawa akan ribet dengan terminologi. Saya bisanya  Yak Ubeng.

Mudah-mudahan lain kali kalau ketemu mereka berdua di desa Sidomulyo Yogya, saya bisa menampilkan sosok “ketok rodho ono isine” – otak agak nyetel dah.

Berikut kutipannya..

Jenang Procotan – Mendoakan agar ibu Hamil diberi kelancaran
Jenang Sepasaran – Setelah memberi nama Bayi
Jenang Sengkolo – Simbul keberadaan manusia di dunia
Jenang Abang – Merah perlambang lelaki, putih perlambang wanita
Jenang Manggul – menjunjung tinggi jasa leluhur yang telah mewariskan segala bentuk pengetahuan
Jenang Suran – waktu itu selalu terbatas, ada siklus, kesempatan memperbaiki masa depan
Jenang Timbul – menyadari bahwa harapan tidak selalu menjadi kenyataan
Jenang Grendul – hidup seperti roda, harus mampu mencari keseimbangan
Jenang Lahan – membuang napsu iri, dengki
Jenang Pati – melebur napsi, pasrah
Jenang Kolep – manusia memiliki perbedaan dan harus saling memahami satu sama lain
Jenang Sungsum- Hajat pernikahan agar Pengantin dan Panitia terlibat diberi kekuatan, kesehatan dan barokah.
Jenang Abrit Petak – asal usul penciptaan manusia yang hitam putih, ada wanita dan pria.
Jenang Saloko – mewaspadai napsu aku.
Jenang Ngangrang – Mengontrol kemarahan agar tidak merusak.
Jenang Taning – menimbang kelemahan dan kekuatan diri
Jenang Lemu Mawi Sambel Goreng – Jangan putus asa dalam membangun harapan baru.
Jenang Koloh – Kesempurnaan
Jenang Katut – Manusia hidup masih butuh pertolongan dengan orang lain.
Jenang Warni Empat – Simbol napsu yang melekat pada manusia. Kuning mewakili sifat aluamah Lawwamah (cacat cela), sufiyah (hijau) keduniawian, merah -amarah, putih (muthmainnah, tenang)

#inflight Lion Air
#Jenang
#Bubur
#filsafat jawa

 

KOPI dari Bukit Menoreh.


26230864_10213120516340572_2920677724357989631_nRasanya melihat biji kopi di sangrai, di giling lalu diseduh pakai air mendidih sampai dihidangkan adalah sesuatu banget. Melihat Bu Rohmat menyiapkan bara api dari sabut dan batok kelapa saya jadi kepo. Pasangan suami istri ini sehari-hari membuka kedai di kawasan Samigaluh.26230524_10213114774997042_4192023805244857523_n

“Bu Rohmat, kalau Robusta dan Arabica, secara penampakan bagaimana membedakannya..”

Kalau Robusta di gongseng berubah kehitaman. Kalau Arabica ada bagian tertentu yaitu biji ysng membelah tetap saja putih kendati disangrai berulang kali.

Untuk bisa membedakan, saya menyiapkan dua kopi dari alam berbeda. Alam Parahiyangan, Bogor, saya seduh8 gram dengan air mendidih. Dari Bukit Menoreh saya perlakukan sama.

Itu saja..

Minumnya bergantian…

 

#Sungai jernih di jalan Kaliurang

Fakir-Hurup


Sekalipun mendeklarasikan nama saya sebagai Mimbar diseantero pojok. Namun ada beberapa teman baru yang lebih nyaman menyapa dengan “Bambang” – nama tengah saya.

Nama tengah sayapun saya pakai ketika memesan secangkir kopi sambil menunggu seseorang. Petugas menuliskan nama saya di cup putih zonder harus mengulang seperti kalau saya menyebut “Mimbar”  dan tak membaca kernyit wajah bak mengejek  “keknya ente kehabisan nama – ganti Young Lex kek”

Bambang lalu duduk manis menunggu. Agak jauh dari meja pengambilan pesanan. Sementara pengunjung yang tidak sabaran – berkerumun sekeliling konter seakan-akan pesanannya cepat diracik kalau petugasnya dipelototi.

Kedai kopi ramai sekali. Kafe yang dipuji Raditya Dika sebab selalu memilih dinding yang tidak memantulkan suara, tersedia colokan listrik ini malahan menyetel lagu Zaman NOW. Akibatnya telinga dan leher distel siaga penuh. Sesiaga satuan pengaman Alexis yang diancam kalau pengusaha baru dilantik, mereka akan jadi bagian sejarah. Teknik paling sederhana, mengamati pengunjung yang ada dibelakang antrean.

Setelah lama menunggu, datang juga  nama Mimbar eh Bambang, saya menuju counter namun cup yang dari jarak jauh sudah saya “TAG” nampaknya berpindah tangan seorang lelaki perlente separuh baya. Dia bersiap meninggalkan loket ketika saya dekati.

Gelas saya rebut (gentle), meyakinkan  lagi namaku “P’Bambang” tertulis disana. Ia berkelit mencoba mempertahakan.

Bapak namanya Bambang?” tanya saya. Saya lihat rambut keriting ikalnya sudah berwarna dua, artinya tuwir.

MarXXX, tapi saya pesan yang ini..” lantas dia menyebut nama kopi yang memang sama dengan pesananku.  Saya yakin dia tidak fakir-hurup, fakir-pendengaran.

Lelaki itupun tak terlihat di bangku kafe.

 

 

ARAB-ica dan ROBO-sta


KONON ada 6500 jenis kopi, namun orang menggolongkan hanya dua yakni ARABICA dan ROBUSTA. Apa bedanya – sampai sekarang saya tidak ngeh.. Jeremy seorang pakar Barista mengatakan perumpamaan sebagai berikut..

ARABICA ibarat kopi dengan 2 bagian gula dan setengah bagian Caffein… Aromanya manis dan harum bunga.. Ini alasan harganya mahal.

ROBUSTA ibarat dua bagian caffeine dan nol bagian gula. Rasanya lebih “sepet”. Para ahli mengatakan baunya mirip strawberry, cendana, cengkeh dan tembakau.

Lantas, negara mana yang kopinya yahuud dan woasli – adalah ETHIOPIA. Ia adalah negeri dimana kopi nongol pertama kali di dunia, dan dipercaya 96% kopi original mereka masih tumbuh di Ethiopia.

Kopi Ethiopia – selalu lebih memiliki aroma yang komplek dan menyengat (harum) sulit dibedakan satu sama lain. Misalnya SASABA – yang diberi catatan oleh para pakar – “Anda seperti melihat Emas – diujung Bianglala…”

Oleh sebab itu kemajuan industri kopi mulai memisahkan aroma ini satu persatu sehingga bisa penikmat kopi bisa mencicipi dari pelbagai aroma.

Durian Musang bukan lantaran keluar dari perut Pemakan Kopi


durian_musangvsd24Kopi Musang Luwak – sudah terkenal seantero bawana sehingga beberapa situs Goggle ada yang mempertanyakan keberadaannya. Myth or Facts. Cilakanya guna membendung daya bongkar kopi ini … beberapa Ulama bilang “makanan ilegal”.

Tapi Durian Musang – alias Rajah Musang yang saat ini menduduki posisi sebagai durian terbaik – jelas bukan hasil “lepehan-jalan belakang” oleh sang Musang sekalipun sudah pakai Titel Raja di depan namanya. Posisi ini mendesak Durian Sultan D-24 harus puas di anak tangga ke dua (2007).

Situs Blog JohorKaki – menyebut bahwa nama Musang diambil dari sentra durian di sebuah kota Gua Musang di Kelantan-Malaysia. Situs Wikipedia menyebut nama ini “Alkisah Jaman Dulu Kala” sebagai peringatan kepada para pemburu binatang membabi buta membunuhi segala mahluk di hutan tanpa tebang pilih. Ini yang membuat Raja Jin Musang penghuni gua murka sehingga mendatangkan badai dahsyat membuat  mereka berteduh di depan sebuah Gua..

Mendadak ratusan Musang keluar dari dalam  Gua sambil mencuri Panah dan Busur mereka. Sejak itu Goa tak bernama tersebut dinamakan Gua (raja) Musang.

Seperti pemburu yang dicuri alat berburu – maka hati Pelancong dicuri agar  kepingin datang ke kota ini.

Di tambah dengan keahlian pedagang memberi nama Durian mereka Raja Musang  – atau Mau Shan Wang (MouSanG) – maka Kelantan, Malaysia selalu menjadi pusat durian.

Sebetulnya soal durian musang, kita sering temui oleh abang Pikul di Citayam, hanya dari dulu – si Abang yang menjualnya datar-datar saja.. Padahal perlu juga Persamaan kalimat Hiperbolik.

“Ngomong Manis -deh.. (durian) Tembaga Punya karena warnanya cerah keemasan seperti  Tembaga baru di gali, bijinya bisa keliru dengan uang Gobang Belanda karena tipisnya, buahnya yang tebal dan lebih banyak “Pahit-pahit kearah Johny Walker” kalau dirasa-rasa. ”

Padahal pedagang kita butuh cerita mitos.. agar dagangannya bisa menarik perhatian.. Walaupun usaha kearah situ sudah ada. Misalnya Kopi Durian Musang..

Pernah coba Kencing Luwak


Ini tidak ada hubungannya dengan pengobatan alternatip yang glak glek “nyeruput-hangat-hangat” – air seni sendiri. Apalagi sebagai campuran Kopi Loewak yang kondang itu. Juga bukan musang berbulu ayam, juga ndak ada hubungannya dengan cerita favorit saya – komedi “Mencari Musang Berjanggut..” – jadi ingat dengan Taguan Hardjo pelukis komiknya.

Pada jaman jahiliyah (muda dan jahil) saya menggunakan fanatik deodorant dan parfum semprot merek “J” yang dibuat macam cairan berwarna emas padahal saya melihatnya ya mirip pipis musang. Menggunakan pewangi  juga gara-gara ojok-ojokan majalah pria  (ala MH tahun jebot, 1970-an), atau majalah Aktuil, bahwa pria yang mengenakan parfum berasal dari kelenjar musang akan menarik betina (musang). Eh masih ditambahi kata-kata menghipnotis – Pria Tanpa Deodorant layaknya hidup diabad Flintstone…- Kontan saya ketakutan sampai terkencing dan percaya tanpa dibaiat lantas menjadi militannya sampai sekarang.. Tanpa iming-iming ..Duh..

Tapi kan repot kalau sampai bawah bahu ada penampakan macam Ayu Ting-Ting yang ngetuk (seepage)  waktu pakai seragam Marinir.

Tapi sampai berbotol habis belum ada betina Yogya yang tertarik kepada saya. Sehingga saya musti mencarinya di Grogol kendati ujungnya keturunan Lor pasar Mbibis Yogya- masih pernah pernahan dengan pak Harto – sebatas pak Harto dulu doyan pernah order Tongseng SORSEM -Mbibis (Ngisor wit Asem), kakek istri saya juga .

Tapi setidaknya bau kelenjar musang (kata iklan) sangat melekat cinta dalam ingatan saya.

Karena kejadiannya sudah berlangsung diatas strip 40 tahunan lalu – maka saya hidung saya sempat kembang kempis ketika kamar mencium aroma macam barusan dijadikan gudang beras curah ala DOLOG yang disemprot parfum Pandan biar terkesan beras mahal. Ini artinya ada mahluk dilangit-langit rumah. Dari hasil kamera sih ada dua musang mungkin sepasang, mungkin lebih  yang menggunakan langit-langit rumah saya untuk tempat bercengkrama.

Mereka bisa datang dari mana saja-biasanya masa-masa mirip perang Diponegoro (18:25-18:30).  Irama musik kedatangan mereka mirip banting tutup kloset duduk. Gedombrang. Lalu terdengar langkah sang kapiten musang ternyata tidak prok-prok melainkan gedebak gedebuk.

DARI PANDAN TERBITLAH PESING

Lantaran ada suara berisik masih diikuti dengan harum macam pandan dicincang halus dan diberi minyak klentik macam embah saya kalau bikin ramuan cem-ceman. Saya kuatir penghuni rumah  mulai berfantasi mengedarkan edisi “uka-uka.”

Ya sudahlah – pikir saya rumah kedatangan musang, ular, kodok kesasar  artinya mereka merasa tentram. Apalagi saya punya rekaman sepasang musang dilanda asmara mereka pergi berdua (lagu Tety Kadi 1970- sepasang rusa). Saya pikir mumpung masih banyak gerumbulan biarkanlah geng musang hidup aman di alam nyata. Entah untuk berapa lama.

Tetapi makin lama selain bau pandan kursi yang saya duduki rasanya basah. Ternyata pak dan bu musang iseng memberi hadiah “pandanus lotion” dari langin-langit sana dalam jumlah dari kursi melebar ke lantai termasuki membasahi kopor kerja saya yang sejak 25 November mulai istirahat tidak bawa tagihan macet sana sini… – Sepertinya generasi muda musang balas dendam – “dulu suka parfum dari tubuh eyang moyang, sekarang saya kasih “aselinya”.

Terpaksa deh, malam-malam pak Lanjar asisten pribadi harus mematikan Jisamsunya karena kebagian cari pel.

Musang, musang mbok kalau kebelet keluar sana… Tapi ya kalau Musang Bisa Ngomong – apa ente tidak tahu diluar sana Badai Halilintar, Hujan Lebat sampai sarang tergenang air bagaimana akan cari mangsa  – mana tahan BRUR.

Cuma ya itu keesokan harinya sisa cairan pliket (lengket) mulai  mengering, nah baru deh ada bau pesing brang-breng mangkrak disekitar saya mengetik… Tiga bulan lalu, kencing mereka dengan mulus mendarat ditarget yaitu kasur tidur saya. Semula kami saling curiga mencurigai, jangan-jangan penyakit beser kakek nenek mulai datang tanpa disadari. Tapi pakaian kami kering semua.

Pengalaman menciumi kencing 9 adik saya (dan mencuci popoknya) ditambah dua anak saya (tapi ndak pernah cuci popok) maka bau pesing (plus pandan) bung Musang jauh lebih sopan ketimbang anak manusia.

Judul renungan ini mustinya.. Rumah macam ditinggali ……. yang pesing kencingnya.