Bakso BeliBIS


Babang Bakso ini mangkal di Komplek Ambharapura, sebuah komplek perumahan Perwira Tinggi TNI AU,  sehingga Top dengan nama Komplek Kodau. Bahkan jalan raya disana diberi nama jalan raya KODAU.

Tapi jangan kecele kalau tak secuilpun potongan pesawat dipajang disana. Dan jangan sekali-sekali berpikiran  mengubah nama komplek menjadi Bebek OffLine lantaran pesawat motor bebek yang kita temui disana milik babang Ojek.

Di kali Gapura bersayap yang mengindikasikan ada bau-bau “Angkatan Udara” – inilah babang Bakso Tahu mangkal disana. Saya baru tahu ini hari. Gegara tadi mengantar paket. Saya parkir pas didepan si babang. Dan terpesona melihatnya  sibuk sekali melayani pembeli.

Seperti tahu bahwa saya “kemecer” kepingin bakso tahu, oleh Toko Sebelah saya dibelikan semangkuk. Idep-idep upah nganterin beliau ke JNE yak. Seperti biasa, kami termasuk mahzab radikal anti “Saus” berkulit kemerahan. Eh si babang seperti baca pikiran, dia bilang -“Saus saya merek Belibis”  – jadi tidak usah kuatir ampas singkong dicelup wantex – katanya berpromosi.

Sudah sekali bilang Say No to Saus, jadi nggak enak hati mau ubah pikiran. Tetapi itu tidak mengubah cita rasa bakso tahunya yang glek.

 

 

Advertisements

Sate Matematika


Masih sepuluh jam lagi beduk magrib tiba. Tetapi saya sudah nyepedah menuju rumah sate Madura langganan untuk diambil besok (Rabu) sore. Di saku saya tuliskan jumlah order, jam akan diambil dan nomor tilpun rumah.

Ketika saya tiba disana – Tukang sate ini sedang berjongkok didepan dua karung plastik berisikan Batok Kelapa. Di depan pintu rumah yang sepertinya hanya disinari matahari pagi beberapa perempuan muda sedang mengiris dan menusuk sate.

Melihat seseorang mendatanginya – Lelaki berkaos putih bercelana panjang ini menghentikan pekerjaannya dan berbalik menatap.

“Ada keperluan apa?”

“Pesan sate pak ”

Lalu saya memerincikan keinginan saya.. Supaya jangan lupa saya serahkan secarik kertas kecil.. termasuk instruksi bumbu dipisah dari satenya. Seperti belum cukup saya masih   nyinyir mengulang instruksi bahwa barang akan diambil  Besok Rabu Sore… (sekarang Selasa Pagi).

Ia mengangguk .. mulutnya menggumam “jadi sate akan diambil malam ini jam 23 ya?”

Astaganaga.. Baru sepuluh detik keadaan sudah kacau…Maksud saya sih biar jelas saya tulis sate akan diambil jam 3 sore hari Rabu tanggal 23.. Singkatnya sate akan diambil besok Rabu sore.. bukan ini hari.. Kok Mr Prengky bisa baca secara bulak dibalik siy…

Problem timeline sepertinya selesai…

Saya hanya pesan 50 tusuk sate untuk diambil BESOK SORE.(nggak bosan diulang). Dan yang paling penting… berapa harganya. Maklum harga daging meningkat akhir-akhir ini.

Ia menyebut angka 2x lipat dari harga semestinya

“kok mahal sekali..”

Sebelum kekagetan sirna, lelaki Madura ini menambahkan :”itu kalau bapak pesan Seratus Tusuk.. Kalau pesen separuhnya ya tinggal dibagi..” – katanya enteng.. (pikiran saya jadi inget filem di TV semalam ketika Hobbit Bilbo harus bermain tebak-tebakan agar tidak dimakan oleh Smeagol..yang selalu terbalik menyebut Saya dengan Kamu”

Sayapun membayar – jumlah sesuai dengan Main Tebak-tebakan Matematika bang Prengki.

Lantaran pria 30an ini minta uang pas, maka seluruh isi dompet saya kerahkan ..

Selembar dua lembar tiga lembar…dan seterusnya uang parkir mobil melorot dari kantungnya.

“Coba hitung dulu Pak Prengky, uangnya..”

Ia hanya menumpuk uang kucel ditangannya lalu menjembrengnya.

“Ini kurang sepuluh ribu pak!”

Kekurangan ini segera saya lunasi dan saya bilang lunas ya pak Lunas.. Jangan harap dia mengeluarkan nota tanda terima.

Ketika ditanya nomor HP, ia berjalan dari sisi rumah  ke halaman depan tempat Gerobak Dagangnya. Saya hanya cukup memutar badan. Sebuah laci dibukanya.

Tadinya saya mengira dia mengeluarkan kartu nama, atau minimal kertas HVS dicetak kartu namanya. Ternyata kecele sebab benda tersebut adalah  lipatan  plastik ukuran 1 x 1,5m – Sebuah spanduk – Sate Ayam dan Kambing pak Prengky (Franky).

Dimana nomor HP-nya ? pak Prengky..

Ia menunjuk salah satu bagian di gerobaknya.. Tulisan berspidol hitam dengan garis bergelombang seperti hasil dari otot tangan kaku  karena terbiasa bekerja keras.

Sederet nomor tertera dan diberi tambahan SATE KODAU..

“Aktip kan pak HP-nya..” tanya saya nyinyir..

“Ya aktip pak masak tidak tau…”
Yang pak Prengky tidak tahu selama ini saya suruhan asisten. Baru kali ini turun tangan sendiri.

Sepuluh tahun sudah mengenalnya. Selalu tepat waktu.. Anda boleh pesan untuk diambil jam tiga pagi – akan dilayani olehnya.  Satu kesalahan kecil memang pernah terjadi dalam kurun waktu itu. Kami seperti biasa pesan sate dengan bumbu terpisah.. Hasilnya Sate dengan deplokan kacang tanah yang yang terpisah dari unsur gula, garam, merica  alias hambar.

Tapi sejak ini hari sepertinya saya akan menyebut Sate Matematika  ala Madura.. Dan tetap menjadi pelanggan setianya.

Mesjid Nur Ibadah – jalan Kodau-Bekasi


NO ZAKAT!

Sekitar beberapa tahun lampau – saya mengajak seorang teman untuk salat Jumat disana.

Mesjidnya kurang PANAS, saya tidak suka…” – katanya menolak.

Saya hargai keputusannya beribadah dibarengi kotbah yang membakar. Sebaliknya saya malah suka ke mesjid ini. Pulang dari mesjid ya memang tidak spaning..

Itu cerita sepuluh tahun lalu..

Sejak itu saya  sendirian saja mendatangi mesjid yang jarak tempuhnya hanya lima menit ini.

Siang ini 17/7/16 – saya sudah duduk sampai kram dengkul saya. Untunglah tidak lama kemudian – mikropon mesjid ditepuk prtanda pengumuman akan dibacakan mendahului agenda salat.

Pengumuman berkisar keuangan mesjid manteng diangka 130 juta (dan ini sudah bertahun-tahun), bayar listrik 350 ribu untuk dua bulan, lalu beli lampu cadangan 450 ribu.

Usai pembacaan masalah keuangan, lalu diteruskan ajakan baca Al Fatihah – untuk atensi-atensi tertentu.. Ada lima kali Surah tersebut kami baca bersama.

Pengurus melirik jam dinding dibelakangnya.

Nampaknya masih ada ruang sebanyak lima menit sebelum Azan tanda waktu salat tiba.

Maka pengurus mengumumkan bahwa:

Mesjid Nur Iman tidak menerima Zakat Fitrah.” – beberapa kali kebijaksanaan ini diucapkan. Pesan mereka “anda lebih tahu mana orang yang membutuhkan bantuan..”

“Jadi sekali lagi bapak-bapak (ibu-ibu tidak), kami tidak akan mendatangi rumah anda untuk minta Zakat dan tidak menerima anda datang ke mari untuk urusan itu (zakat)..”

Lalu soal Lebaran – mesjid menyerahkan lebaran kepada Pemerintah..

Biar pemerintah yang menghitung dan menetapkannya setelah Isbat nanti, kita mengikut saja..

Mesjid Nur Iman – tidak memakai Khatib untuk berkhotbah dalam bahasa Indonesia. Alasannya – khatib kadang menyelipkan unsur politik kedalam ceramahnya.

Biarlah mesjid ini seperti tujuan utama orang beribadah…” – demikian pengurus menutup kata sambutannya.

ACC Ustadz..

 

 

Portal


Berita mengenai robohnya JPO (Jembatan Penyeberangan Orang) akibat tersangkut trailer di Tol BSD KM7+600 memenuhi media belakangan ini.

Pak supir yang tak memiliki -SIM-beralasan “biasanya kagak terjadi apa-apa kami lewati. mungkin  jalan mendadak bisulan sehingga membuat trailer menyundul jembatan.

(Tol BSD Senin 16 Mei 2016 km 7+600).

Lain BSD lain pula kavling P&K (Bekasi). Ada ruas jalan namanya Pendidikan yang baru di cor semen sepanjang 300m. Portal segera dipasang. Hanya  mobil pribadi yang bisa lewat dibawah portal. Melihat ada jalan cukup lebar dan layak pakai mulailah mobil box, truk, bahkan ada kontainer mencoba lewat.. Tapi untuk itu hanya penjaga pak Mar yang boleh membuka portal atas.

Namun ada yang nekad, portal disundul-sundul sampai patah agar mereka bisa masuk kedalam komplek kami….

13307482_10208134464372389_5105412191516775257_n

Kenapa Gado Pedas Karetnya harus dobel


Ini alasan Kenapa Gado-gado yang pedas minta ampun – karetnya dobel…

Si Alay ini sebetulnya memasang pelang gerobak sebagai Gado-gado Kuningan Bang EWO, tetapi penam13095934_10207844989455697_4317910328336016721_npilan kekiniannya yang Alay lebih “passion” ketimbang simbol ke-Kuningannya..

Sudah beberapa minggu gerobak yang mangkal di seberang Taman Ambharapura nampak sepi alias tidak berjualan. Sayapun sudah mencari alternatip penjual gado-gado seorang emak-emak di belakang Kantor Pos. Sekalipun rasanya seperti membandingkan DHL dengan Pos kita.

Ceritanya saat “ngePiet” alias naik sepeda – menjalankan pesanan ibunya Lia dan Satrio – mencari yang “sesuatu banget” saya melewati posko gerobagnya.

Ternyata wajah dan busana khasnya nampak berada di balik  kaca display sayuran dan tahu. Agenda  pit-pitan langsung saya modifikasikan dengan cara membelokkan kereta-angin ke  Markas Gado-gado. Dia masih sibuk melayani pesanan..Wajahnya terlihat pucat..

Ketika giliran pesanan saya tiba -Alay langsung saya “donder” dengan interogasi.

“Lama kagak dagang.  Masalahnya lagi segen atau pulang kampung?”

Saya tidak mengada-ada akan uji materi dua pertanyaan tadi. Pertama dia pernah mangkir sebab sepagian hujan turun terus sehingga urung berjualan.

Jawaban ke dua adalah dari teman mangkalnya yang mengatakan “mungkin pulang kampung”

Mana yang betul…

Saya sakit Pak… kalau pulang kampung saya akan kasih tahu teman-teman “dimari”, tapi kalau sakit kan datangnya mendadak dan berhari-hari.. Seperti filem sinetron yang kadang melupakan logika – pikiran akan “kan elu sepertinya “ngemut” alias menelan speaker handphone setiap ada kesempatan – ditepiskan jauh-jauh. Yang terucap adalah:

“Ok..Ok.. bungkus dua plus kupat plus pare plus tempe. Dengan catatan  bungkus kesatu yang  pedas-das, yang satu lagi  pedas tetapi sayup-sayup sampai di lidah.”

Berapa menit kemudian dua bungkus gado-gado sudah siap..

“Pak, yang pedas karetnya dua, yang tidak (pedas) karetnya satu..” kata si Alay..

“Bang biar hemat, yang pedas karetnya satu yang nggak pedas jangan pakai karet ajah..” – terbayang saya bangga bisa menghemat satu karet gelang..

“Tapi bapak mau bawa pulang bagaimana kalau tidak dikaretin, bisa ampar-amparan kemana-mana..”

Eh si alay ternyata lebih pandai daripada saya. Teknologi “biting” sudah lama ditinggalkan diganti karet gelang atau staples..

Sesampainya dirumah, gado-gado saya sikat ludes. Tetapi terdengar komplin – kenapa parenya nggak ada ya? – dan saya malahan tidak tahu apakah benda pahit tersebut ada atau tidak dalam piring.

@mimbar
April 2016

 

Galian yang bikin sikecil tambah singset


Jalan yang sudah sempit digali dan dibiarkan terbengkelai sehingga badan jalan makin singset layaknya
Jalan yang sudah sempit digali dan dibiarkan terbengkelai sehingga badan jalan makin singset layaknya

Apa yang terlintas dalam benak kita kita melihat sekelompok pekerja bekerja di tengah terik matahari, diantara lalu lalang angkot, motor, bus tanpa alat keselamatan kerja yang memadai, bahkan diantaranya hanya bertelanjang kaki.  Berarti ada peningkatan pelayanan masyarakat, misalnya sambungan tilpun bertambah banyak atau data internet yang lemot bisa secepat lari srigala.

Sisi negatifnya adalah mereka umumnya akan menoreh luka di badan jalan yang memang sudah bonyok, lalu kabel warna jingga ditarik holopis kuntul baris dan dikubur lalu ditutup kembali. Alhasil badan jalan  aspal jalan rusak, pengusaha yang mangkal disekitarnya terganggu karena pelanggan berpindah tempat. Belum lagi pada musim hujan, becek akan tanah merah.

Dibeberapa tempat, biasanya titik pertemuan kabel dari beberapa arah lantas dibuatkan lubang lebih besar lagi sehingga menyita sebagian badan jalan. Sialnya tanah bongkaran/urugan dibiarkan berceceran ke jalan raya. Repotnya, satu “kuburan kabel” belum padat tanahnya sudah harus dibongkar dengan alasan berbeda. Jadilah trotoar, badan jalan makin amburadul.

Keadaan ini bisa berjalan berhari-hari. Yang ajaib saat galian kabel melewati rumah pejabat militer, seperti para marsekal AU, kok bisa ya jalanan yang dibongkar buru-buru diplor kembali, saat itu juga. Apakah ini berarti ada kable-diskriminasi?