Bakmi Bangka


Sebentar saja Mie Bangka ( Mie+Ayam+tauge) ditemani Bakso dan Pangsit sudah ludes. Rasanya belum nendang. Sekalian menunggu pesan minuman, maka semangkok Bakso kami pesan. Dan berhasil.

Perut yang sudah puasa sejak pukul delapan belas kemarin mulai tenang. Sambil tunggu punya tunggu, sebuah mobil diurapi shampo kemudian masuk kedalam ruang bilas sambil di gosok dengan kemoceng otomatis.

Mobil selesai dengan basah dan bersih, tetapi kerongkongan masih kering. Ternyata minuman belum juga datang.

Akhirnya kedai Bakmi Bangka Super kami tinggalkan setelah sedikit berpesan – mbak kenapa pesanan minuman tidak kunjung tiba.

Tapi sambil larak lirik, memang teman pengudap lain makan juga zonder minum..

 

TKP Jalan Raya Jati Makmur, Pondok Duta

Satu Porsi Mie dan Bakso Lima Belas Ribu Rupiah

 

Advertisements

Mendadak Kalasan


Pagi itu kami mendapat undangan menghadiri keramat menikah/pemberkatan di sebuah tempat ibadat di kawasan Bekasi Timur. Udara yang mulai panas sekitar 10 pagi mulai menyengat sebab upacara sudah seharusnya dimulai, pengantin dan rombongan masih di Hotel.
Persiapan dan lain-lain termasuk menenangkan pengantin putri yang sesenggukan akibat teringat almarhum ibunya yang telah meninggal dunia setahun lalu. Konon bapak Pendeta yang memimpin perkawinan – terkenal galak. Namun entah bagaimana, saya tidak melihatnya demikian.
KECELE TINGKAT DEWA.
Sembilan puluh menit – upacara selesai, perut rasanya sudah tingkat dewa – tuntutannya. Kebetulan panitia datang membawa kantong plastik besar. Kami bergembira, paling tidak ada akua pelepas lelah kek buah penghilang haus dan penambah fokus.
Jebule – kami kecele. Panitia melakukan terobosan, jumlah undangan versus Konsumsi mirip David lawan Goliath. Sebuah atraksi perhelatan nan fatal dalam sebuah pernikahan, lantaran urusan perut akan dibawa…mati.. Ini serius.
Menelan ludah sambil menahan lapar, kendati berbasa basi peres “kami datang bukan untuk cari makan tetapi cari saudara”. Sayang perut tidak kompromi mendengar bahasa-bahasi tersebut. Saya pikir cuma kakek yang tak tahu diri.
 Seorang bocah lelaki yang dibawa oleh orang tuanya – nampak gusar kepada orang tuanya.
“Ke Mal Ma!” katanya merajuk. Saya tidak menyalahkan bocah 6-7tahun. Kalau tadinya menyanyi “Baby Shark doodoo doo doo” dengan saya. Kini dia seperti JAWS si Hiu Galak.
Ia pasti sudah tersiksa lapar. Kakek juga.
Kamipun bergegas ke ke tempat parkir sekolah, dan kebetulan si JAWS – berubah menjadi beruang sirkus. Rupanya lega lantaran bebas dari acara menjemukan plus bonus zonder konsumsi setidaknya air kemasan.
Belum terlalu jauh, kami melihat “Ayam Kalasan” dengan atraksi mirip Ayam Hongkong lantaran masakan digantung didinding kaca. Kendaraan saya belokkan. Dan nasi sepertinya nikmaaat sekali. Apalagi dengan gigitan ayam bakar Kalasan. Itu masakan terbaik dengan bumbu masak, lapar apalagi plus gusar. Maka, masakan jejamuran malahan menjadi penyedap rasa.
Lupakan kobokan yang dikorting satu, meja yang tidak ada sendok dan garpu, tisu yang baru diremas ambyar. Lupakan itu semwah..
Tapi selain gusar sayapun khawatir hal yang sama akan menimpa kami, istilahnya akan diuji pada bulan Desember mendatang pada perhelatan yang diselenggarakan keluarga kami.

CANDI


IMG_0235“Kaka .. Candi-nya  sudah di order belum Kaka..”

“Bentar ya.. saya cek dulu garis tengah yang akan di order”

“Baik kaka.. orderan ditunggu kaka”

Kalau anda mau awet muda sebaiknya berbelanja ONLINE, selalu dipanggil kaka, sekalipun terkadang disuruh menjadi transgender, dipanggil  Sista..

Standar prosedur diikuti secara seksama, item A harga satuan X rupiah maka harganya A dikalikan X rupiah, ditambah ongkir.

“Kaka… bayarnya salah!” – piye iki?, kan di Online tidak ada tawar menawar alias “nyang-nyangan” semua harga seperti Slogan negara “Harga Mati”

“Iya kami rugi kalau harga Candi yang gede cuma segitu… Bagaimana kalau kaka transfer kekurangannya .. tidak banyak kok cuma sekitar sekian…”

Akhirnya memang transaksi yang sudah dibayar kami kembalikan.. Ini memang romantika kalau mau jadi KAKA.. Adiknya salah hitung. Adik ketemu gede.

 

IMG_0231 (1).jpg

 

Fakir-Hurup


Sekalipun mendeklarasikan nama saya sebagai Mimbar diseantero pojok. Namun ada beberapa teman baru yang lebih nyaman menyapa dengan “Bambang” – nama tengah saya.

Nama tengah sayapun saya pakai ketika memesan secangkir kopi sambil menunggu seseorang. Petugas menuliskan nama saya di cup putih zonder harus mengulang seperti kalau saya menyebut “Mimbar”  dan tak membaca kernyit wajah bak mengejek  “keknya ente kehabisan nama – ganti Young Lex kek”

Bambang lalu duduk manis menunggu. Agak jauh dari meja pengambilan pesanan. Sementara pengunjung yang tidak sabaran – berkerumun sekeliling konter seakan-akan pesanannya cepat diracik kalau petugasnya dipelototi.

Kedai kopi ramai sekali. Kafe yang dipuji Raditya Dika sebab selalu memilih dinding yang tidak memantulkan suara, tersedia colokan listrik ini malahan menyetel lagu Zaman NOW. Akibatnya telinga dan leher distel siaga penuh. Sesiaga satuan pengaman Alexis yang diancam kalau pengusaha baru dilantik, mereka akan jadi bagian sejarah. Teknik paling sederhana, mengamati pengunjung yang ada dibelakang antrean.

Setelah lama menunggu, datang juga  nama Mimbar eh Bambang, saya menuju counter namun cup yang dari jarak jauh sudah saya “TAG” nampaknya berpindah tangan seorang lelaki perlente separuh baya. Dia bersiap meninggalkan loket ketika saya dekati.

Gelas saya rebut (gentle), meyakinkan  lagi namaku “P’Bambang” tertulis disana. Ia berkelit mencoba mempertahakan.

Bapak namanya Bambang?” tanya saya. Saya lihat rambut keriting ikalnya sudah berwarna dua, artinya tuwir.

MarXXX, tapi saya pesan yang ini..” lantas dia menyebut nama kopi yang memang sama dengan pesananku.  Saya yakin dia tidak fakir-hurup, fakir-pendengaran.

Lelaki itupun tak terlihat di bangku kafe.

 

 

Gagal Fokus kelas Dewa

Menu

Di rumah sakit, selalu ada ahli gizi, datang membawa menu menanyakan makanan yang disukai. Tentu daftar menunya panjang. Kadang pasien hanya tiduran, lalu beliau ahli yang membacakan menunya. Saya mengabadikan sikap sempurna, punggung lurus, bicara dengan teratur dan runut.

Tetapi yang bikin gagal fokus, nama makanan seperti bubur kacang hijau, bubur sumsum, puding, atau ayam bakar, steik sapi dan embel embel lainnya dibicarakan  pada pukul 13:00 Theng.

Saat kami lapar kelas dewa, apalagi adik saya yang sudah harus berpuasa. GlegGlegGleg

Hebatnya RS Harum ini memberikan makan untuk yang nungguin orang sakit. Tapi tidak ada deklarasi pembacaan menu untuk penunggu rumah sakit.

KEDAI DENGAN TAMU BERBAJU SUPER KETAT DAN KERINGATAN PULA


SetiapP1050985 pagi, manakala bersepeda sendirian saya melewati jalan yang pada jam 04:00 masih sepi, kedai masih tutup- kecuali kedai yang bertajuk PitStop ini.

Ini sekedar jalan tembus – untuk potong kompas memasuki jalur sepeda yang memang khusus dibuat.  Patih Singapore dan slagordenya mengucapkan janji mirip sumpah Palapa-Path Gajahmada  – AKAN MENYATUKAN BUMI SINGAPURA DENGAN JALUR SEPEDA. Orang bisa keliling Singapore dengan aman lantaran jalur khusus. Mau kerja bergowes-pun, boleh – Bike to Work..

Pegawai restoran 24jam – biasanya berbaju serba hitam, sambil terkantuk menyapa satu dua sepedawan dan sepedawati yang berlalu didepannya- “Good Morning” – tujuannya kalau lapar atau haus – boleh mampir ke kedai saya. Mereka menyediakan ruang parkir sepeda yang disebut Bike Bay.. Cara berbisnis ciamik, menurut saya..

Hari ini Minggu 12/1/2014. Usai “nggowes” – kepingin juga mendatangi kedai 24 jam ini.. Karena hari sudah siang, nampak pengendara sepeda pelbagai jenis mulai melepaskan lelah disini. Mata saya termehek-mehek melihat sepeda berseliweran mulai sederhana sampai yang tak putus sepuluh ribu dollar.

Memasuki kedai ini, suguhan dinding adalah Sepeda beneran yang digantung, kaos jersey, dan pelbagai foto kegiatan sepeda… Melihat  tampang pelayannya maka dengan mudah kita akan berbicara Malayam. Cuma ada satu yag saya kuatirkan .maafkan saya menilai rada Stereotype-rada gebyah uyah, sama rata… .. lantaran pegawainya banyak, maka orang Palembang sering bilang bilang – Sepi Tamu Pernesan, Ramai Tamu Jugo Pernesan.. (Pernesan=ngobrol)..

Saya memesan Roti Prata dan Nasi Lemak, ditambah MILO Dinosaurus – Masih Ngamuk dengan pesan Toast…

Kok belum datang-datang juga ?

Nasi lemak tinggal di sendP1050993ok, Ayam Goreng sudah dibuat sebelumnya, Milo juga  bukan minuman kompleksitas tinggi, entoh kami harus Kopang-Kaping bertanya… Satu pesanan terpaksa dibatalkan yaitu Toast – Roti Panggang sebab pelayannya lupa..

Dan kalau ikutan bahasa Marco sang Juri MasterChef Australia -“The Whole Presentation is a Failure..”

Kenapa tidak meniru gaya kedai lain yang selalu menempelkan daftar pesanan – dimeja lalu setiap masakan datang, dilakukan checklist..Mencoret nama menu yang sudah datang. Kalau bermodalkan ingatan, akibatnya pengunjung jadi kecewa.

Lalu keluhan kami sampaikan di bagian kasir, namun kesannya perempuan manis dengan bekas luka memanjang ditangan kirinya adalah membela diri – dan mencoba melemparkan kesalahan kebagian dapur.

Lalu saya meramal… dengan cara bisnis demikian… mereka tinggal menghitung hari.. Sayang sekali.. Padahal diawal pembukaannya saya melihat P1050991anak muda yang bersemangat..

Palagi… Sepintas – kedai ini boleh dibilang usaha Bunuh Diri – dengan seabrek pekerja, terus buka 24 jam, apalah yang diharapkan dari jalan buntu ini. Lokasinya memang dipinggir sungai sehingga kawasan ini dinamakan Tebing Lane.. Namun sebelah utara dibatasi oleh lapangan rumput liar.. Lapangan ini biasanya digunakan upacara pembakaran rumah-rumahan kertas dan perabot lainnya bagi keluarga yang berduka sebagai pelepasan arwah.P1050988 Kadang upacara ditingkahi orang pada kesurupan..

Lalu dipojok lain hanya ada lapangan Golf Punggol – yang jelas tidak mungkin buka 24 jam, sisi lain sebuah Kelenteng Besar yang tak kalah seramnya.

Yang bikin “ngayem-ayemi” ada pos polisi yang selnya jarang penuh berisikan tahanan.

Namun pak Polisi tidak akan bisa menggerebeg kedai ini sambil bicara ANGKAT TANGAN – HARAP BEKERJA .PAKAI CHECKLIST DONG!P1050995

Saya tak ingin kehilangan teman yang kendati tidak mengenal – tetapi mengucapkan salam hangat selamat pagi (04:00) – hal yang super langka di Bumi Singapore ini ditemui..

Nasi Padang Tanpa Greget


Seorang family yang sudah sepuluh tahun tinggal di Singapura mengajak saya menikmati masakan Padang yang kesohor di Singapura.

Pemiliknya orang Padang aseli, kelihatannya menikah dengan orang Singapura lalu membuka warung padang dan diberi nama RM Nasi Padang River Valley.”

Siang malam warung ini tak pernah sepi pembeli, pernah sebuah rumah makan “Mayang Sari” membuka kedai yang sama disebelah River Valley. Sekalipun masakannya lebih bersih, warna sayurannya lebih menggiurkan namun, hanya beberapa waktu pelanggan kembali kepada yang aseli yaitu River Valley,” tambahnya meyakinkan.

Ketika saya memasuki restoran ini, kata-katanya memang terbukti. Pembeli seperti tak habis-habisnya mendatangi warung ini. Pemiliknya ibu haji yang aseli Sumatera Barat kadang keluar menyapa pelanggan. Sebuah klipping tabloid menempel didinding kedai menyatakan bahwa “resep masakan padang ini telah direkam dalam disket dan disimpan dalam lemari besi sehingga dijamin tidak ada yang mengopinya..

Oh ya karena ini di Singapura, saya terpaksa mengambil sendiri sepotong ikan goreng, perkedel, cumi-cumi, babat sapi, gula ayam dan sayur kacang. Untuk nasi, tersedia nasi putih dan nasi kuning gurih yang semuanya dihidangkan dalam piring melamin.

Karena nasi dan masakan yang dihidangkan kedai di Jalan Zion no 55 ini dalam keadaan sudah dingin maka hilanglah sensasi jari ditarik sambil dilentikkan keudara lantaran tersengat nasi atau masakan panas. Disamping rasa masakan yang kurang greget sebab telah disesuaikan dengan selera orang Singapura

Ah, saya kehilangan lalap daun singkong dan sambal hijau.

Catatan:
Soal nasi Kapau, nasi Padang terimakasih kepada teman yang telah memberikan komentarnya