Pernah tahu lingkar kepala “Delapan Firma”


SANGGAR DIAMOND
SANGGAR DIAMOND
Busana
Pakaian Resepsi

Medio Oktober 2017, kami mendatangi Vendor untuk resepsi pernikahan. Ssampailah pada acara pemilihan baju, tertutama bagi Ayah “CPP dan CPW”. Begitu buanyak ragam pakaian, bagi saya seperti ke toko parfum. Semua dicobai, semua Okey, kalau sudah “Yak Ubeng” alias “pening kepalaku Tante” – kata si Poltak “Ruhut”

Akhirnya memang saya memilih warna yang “restu” – maksudnya yang sudah dipilihin tetangga sebelah. Mungkin perangai ini terinduksi dari bahasa software  Microsoft “do you agree” to install yang jawabnya musti kudu YES dengan hurup besar. Berani klik “NO” – resiko tanggung penumpang.

Maka jadilah dua stel busana. Satu warna silver sedang satunya gold. Desember kelak, saya berbusana ala pria Bugis. Jadi yang saya fantasikan ya legenda jaman kolonial yaitu Daeng “Patojo” – yang kini menjadi Petojo.

Ukuran kepala saya 8 FIRMA

Giliran mencoba “kupluk” alias kopiah, si embak Sanggar bertanya yang bikin saya “pening kepalaku Tante” – lantaran istilah “ukuran bapak delapan Firma ya?”

Maksud mbak“”

Iya pak, kalau delapan Firma kursnya sama dengan sembilan Awing, si mbak mencoba menjelaskan. Ketika dia sebut AWING, aku mulai ngeh akan sebuah kupluk yang boleh dicuci sehingga terhindar dari bau campuran keringat, lemak, debu, lem kanji yang menempel pada kayu di loket kantor pos jaman sebelum NOW.

Pihak besan seperti teringat sesuatu, ia mengambil sebuah kupluk warna emas lantas dicobakan kepada saya.

Ukurannya Pas!,” komentar saya ikutan slogan SPBU yang menjual dagangan sesuai takaran katanya.

Kelar fitting memfitting acara diakhiri dengan eating di Bakmi GM.

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Dengan tidak mengurangi rasa hormat


Kerabat yang bekerja di Singapura baru-baru ini mendapat pasangan hidup seorang lelaki mapan. Saya sempat menyaksikan detik  mereka melakukan “pdkt”.. adu lempar pandangan berarti sampai pembacaan deklarasi “kami jadian..”

Pihak keluarga menghendaki perayaan dilakukan semeriah mungkin  di Jakarta. Apalagi keduanya berasal dari Jakarta.

Persiapan demi persiapan dilakukan – ketika melihat kost perhelatan ini  reken-punya reken ternyata “biaya” hidangan per porsi mencapai angka sekitar 2 juta rupiah per kepala.

Ini hanya obrolan biasa – antar kerabat. Dan memang kenyataannya banyak kerabat hanya datang pada saat janji nikah diikrarkan  untuk  mengucapkan selamat , foto bersama dan “mohon ijin” tidak datang  ke resepsi makan malam yang diselenggarakan di  sebuah Hotel di tempat yang berbeda.

Saya pun hadir pada saat upacara “pemberkatan” dan tidak pada Gala Dinner.

Lain Singapur lain pula kota AADC2.

Kebetulan saya satu-satunya orang  yang dapat “hardcopy” undangan melalui paket. Pesan Shohibul Hajat agar berita disampaikan ke keluarga di Jakarta.. Biar cepat – undangan saya scan dan dikirim melalui pesan WA.

Tetapi ada sedikit yang aneh. Undangan ini diberi stiker. Semula saya pikir ada salah cetak.. Ternyata semacam peringatan.

“Dengan segala rasa hormat, kami tidak menerima sumbangan dalam bentuk apapun kecuali doa…” – kali ini si penerima pesan yang bingung sebab tidak “sari-sari”nya nikah menolak kado atau angpau..

Kerabat yang saya sebut pertama kali adalah “orang kaya beneran” – bukan kayaknya orang kaya. Sementara keluarga yang saya sebut belakangan – datang dari keluarga sederhana.

Tapi itulah yang terjadi.. Lain Padang Lain Belalang..

Monic Indrisari Johan 2

 

 

Ada saja yang terlupakan


Teman senam istri saya komplin saat pernikahan putri kami. Kami dua kali naik panggung pura-pura untuk memberikan selamat kepada pengantin, katanya.

Malahan para suami hadir dipernikahan Lia dan Seno. Tapi kenapa Bu Mimbar tidak terkesan mengajak kami berfoto.”

Adik kandung saya ngedumel dibelakang karena tidak kebagian “pakaian seragam resepsi” – dia seperti sengaja tidak menghadiri pernikahan keponakannya, sekalipun bertahun-tahun pernah tinggal dengan saya. Alasannya sederhana. Tidak punya seragam dan tidak ada undangan. Seragam sebetulnya dikirimkan bersama undangan. Namun berkali-kali pak Kurir menghubungi kami menanyakan nomor tilpun rumahnya (saya berikan sesuai alamat yang di SMS adik saya). Tetapi entah bagaimana paket tersebut kembali.

Beberapa teman sengaja mengirim SMS. “Saya ucapkan selamat, tetapi saya TIDAK bisa datang karena tidak ada undangan.” – dengan kata tidak diberi tekanan berupa hurup besar, saya maklum dia mestinya gusar sekali. Maksudnya tentu email bukanlah alat legitimasi untuk datang ke pesta. Tentu tidak akan ada yang percaya bahwa bagaimana kami harus mengatur agar mendekati hari “h” ada waktu luang untuk persiapan. Tetapi lagi-lagi kantor malahan menahan saya dua hari di Perth.

Mas Wahono, terpaksa terlewatkan karena pada saat akan dikirim undangan via email, ia baru kehilangan putra kesayangannya.

Sejatinya nama-nama teman sudah diketik dalam software Applisoft keluaran perusahaan Bantex. Tapi apa lacur, kadang terjadi duplikasi, triplikasi, dan replikasi lainnya. Akhirnya ketika beberapa nama dicabut agar ada pemenang tunggal. Malahan bedol desa semuanya. Duh Gusti.

Itu adalah beberapa ganjalan dalam mengadakan pernikahan anak saya Lia dan Seno pada Desember lalu. Tapi kalau pernah terlibat pada situasi dimana tekanan-tekanan kesehatan, moneter, tenggat waktu, lobi-lobi kepada pihak besan dan semua pertanyaan bermuara kepada kita tak heran mudah menjadi pelupa dan jeleknya lagi mulut menjadi asal jawab.

Pernah saya dikritik famili yang “bakalan amburadul nih habis nggak pakai even organiser sih.” – Saya sendiri heran sejak kapan penjajahan atas “syaiful hajat” sang pembuat hajat. Pengaruh filem dan majalah begitu kuat sehingga demam “tanpa EO, perhelatan bakalan gagal.”

Baru saya mencoba mengecat muka agar berubah dari merah menjadi sawo matang normal. Istri sudah nyelantap nyerocos “Emang situ pernah mengawinkan anak? Emang situ pernah pakai EO.

Bahkan saat berdiri di panggung selama tak kurang dua jam. Tangan saya dijawil-jawil istri sambil mengernyitkan keningnya. “Kakiku bengkak kelamaan berdiri.” – kalau boleh terbang atau memfotocopy diri, saya kepinginnnya berputar sekitar Aneka Tambang

Mungkin lelahnya adalah tumpukan lelah mental dan fisik. Tak jarang memori sering error “407” alias ketemu orang tapi namanya tak ada dalam database. Begitu orangnya sudah bersalaman dan turun panggung baru data berhasil di download “oh itu mas Anu dengan istrinya mbak Menuk.” – Atau ada teman lama tidak kedengaran kabarnya, tiba-tiba sudah gandengan lain. Tentu soal yang sangat pribadi, namun tak urung muka terbelalak sebentar saja tapi.

Sampai hari ini rasa “gegetun” belum juga bisa saya hilangkan. Terbayang wajah teman yang selama ini mengobrol tetapi lupa diundang. Atau sudah datang namun lupa untuk diajak foto bersama.

Untungnya pada anggota Wikimu.com sudah saya set jauh-jauh hari. Sehingga begitu melihat pak Andri, Suhu Tan, Mas Bajoe (terpaksa tidak pulang hari sabtu ke Yogya) langsung saya “lupa diri” – beri tanda kepada petugas agar segera dipotret.

Departemen Logistik Kami


Departemen Logistik

Tentu tidak lengkap bagaimana sebuah perhelatan yang direncanakan dalam waktu berbulan melibatkan pelbagai rapat dan pertemuan tanpa didukung oleh pasokan logistik. Masih ingat kekuatan militer Sultan Agung yang hancur mawur hanya gara-gara logistic diputuskan oleh Belanda.

Pertama tentunya istri saya Ibu Mimbar aka Ibu Erni (daster coklat). Kesaktian meramu bahan-bahan masakan sangat nggegirisi. Kalau dewa Cupido menembak dengan panah tepat pada hati korbannya maka Ibu Erni menombak suami telak pada „telak“ – yakni tenggorokan (Jawa) sebuah kiasan menaklukkan suami dengan masakanmu.

Tim penguji mutu masakan adalah saya. Kalau masakan tiba-tiba membuat saya sulit memutuskan ada bumbu yang kurang sreg. Karena aku tak pandai memasak bisanya menilai saja. Biasanya dia sudah tahu jawabnya. Satu hal yang membuatnya patah arang adalah meramu kuah cuka untuk penganan Palembang. Saya wanti-wanti serahkan urusan yang satu itu kepada „wong kito bae.“

Ironisnya sehari-hari ia banyak mengonsumsi Mie Instan campur telur dengan irisan cabai.

Ibu yang kedua adalah Ibu Haryono (duduk), istri pensiunan Angkatan Udara. Kami memilih dia karena ketiga putra dan putrinya telah dewasa sehingga tidak direpotkan dengan alasan „les, ulangan umum, PR“ – selain kondisi geografis hanya berjarak selemparan batu.”

Kelemahan dalam memasak ia terlampau berhati-hati akan bumbu sehingga masakannya kerap hambar.

Yang ketiga adalah Ibu Kasih (paling kiri) alias mama Trio Kwek Kwek. Secara persyaratan „tanpa anak“ beliau tidak masuk hitungan. Namun perempuan yang sekarang hamil 9 bulan (Desember 2007) anak ke 4 ini jenis perempuan terbuat dari baja. Bayangkan mempunyai suami yang tidak bekerja, bukan pemalas, namun setiap mencoba bekerja jatuhnya selalu diakali pihak lain. Buka dagangan, habis dipalak preman pemabuk. Jadi penyalur kompor gas rakyat, bekerja sudah, giliran gaji dijanjikan doang sampai sekarang.

Maka ibu muda ini menjadi penyandang dana sebagai buruh cuci baju, menjadi penyalur Oriflame yang pembeli utamanya adalah keluarga kami. Sekalipun bu Kasih tidak pernah mengenal deodoran itu mahluk bersel berapa. Saya tetap saja dijejali busa cukur jenggot buatan pabrik tersebut. Celakanya kendati sudah diberi embel-embel kulit sensitive tak urung membuat saya cengar cengir kepanasan.

Keahliannya memasak kue-kue rakyat. Ketiga anaknya yang masih kecil kami bantu biaya pendidikannya agar pendidikan anaknya bisa digenjot. Tak diduga sang suami makin rajin mendonghkrak isterinya sampai akhirnya „tek dung“ anak ke empat. Cara pandang kaum proletar ..dilandasi hukum berharap „banyak anak banyak rejeki.“ Mendengar akan hadir jabang bayi ke empat, keluarga besar bu Kasih berang dan menyuruh ia pulang kampung untuk segera menceraikan suaminya yang mereka katakan „hopeless“ itu. Duh.

Lalu mbak Fauziah (paling kanan kecil). Tubuhnya kecil, namun gadis 16 tahun ini trengginas dalam bekerja. Dia hanya lulusan kelas lima SD ketika ayahnya yang pemalas menyetop sekolahnya dan menyuruhnya Fauziah yang kala itu masih kelas lima beserta adiknya menjadi PRT di Jakarta agar bisa mengirimkan bulanan ke kampung minimal 400-500 ribu perkepala per bulan. “Itu UMR standar” ketus sang ayah yang sangat teramat paham hak buruh, namun lupa ia memiliki kewajiban menyerdaskan anak-anaknya.

Lebaran kemarin Irah, nama panggilan nya tidak pulang kampung. Lalu gajinya sebulan dikirimkan ke kampung. Ayah yang tega mempekerjakannya sejak dibawah umur ini langsung bertolak ke Jakarta dan minta tambahan satu bulan gaji lagi karena ia tahu setiap majikan mempunyai kewajiban membayar uang lebaran satu bulan gaji. Irah adalah PRT favorit dikeluarga kami. Hampir setiap kami bepergian ke luar negeri dia selalu „keduman“ kebagian oleh-oleh dari baju, sepatu sampai tas.

Kadang kalau bekerja lupa makan sampai kumat maagnya dan badannya menggigil menahan sakit.

Coba tanyakan bagaimana mengisi pulsa prepaid mulai dari flexi, esia, starone, mentari, IM3 maka tangan kecilnya langsung pencet sana sini. Ira juga mudah membaca teknologi seperti mendaftar kartu perdana, memecah pulsa agar bisa dibagikan kepada orang lain. Bahkan nomor rekening Bank milik kami seperti BCA diapun hapal. Sepuluh nomor tilpun ada dikepalanya. Sayang setiap pulang kampung maka gelang, kalung, cincin, Hpnya langsung ghoib dilipat oleh sang ayah. Lalu ada Anita seorang Janda belum setengah baya keturuan pulau Tual sudah beranak dua dan bercucu dua. Manusia ini super fleksible mulai dari urusan angkot sampai tetek bengek lainnya. Dunia kekerasan bukan hal baru baginya. Termasuk mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Kami jatuh hati kepada keluarga ini melihat perjuangan hidup mereka mulai dari ibu sampai anak-anaknya. Tidak ada pekerjaan yang ditolak. Selama halal. hayuh saja. Perempuan ini serba bisa, kecuali memasak, menjadi ahli penjual Asuransi sebuah posisi pekerjaan berbau kepepet mirip seseorang pertama kali naik panggung didaulat menyanyi biasanya memilih lagu Burung Kakak Tua. Lalu mencari tambahan sebagai perias pengantin sekalipun masih tahap asisten, nyaris memegang ban hitam Taekwondo karena rata-rata orang Ambon digdaya dalam soal olah pukul, pemenang ratu kebaya, instruktur senam. Hidupnya masih seputar „kampung tengah“ alias urusan makan katanya – kalau saja Anita menulis riwayat hidupnya di media atau Internet, ia akan menjadi sumber inspirasi orang banyak. Bukan sukses namun bagaimana perjuangan saat harus berpisah dengan suami, membesarkan kedua anak dan dia cucu. Sebelum kekantor ia akan datang kerumah mengecek pekerjaan yang harus dilakukan hari itu. Urusan tenda, sound system, listrik dia jagonya. Namun gara-gara Anita pula ada tetangga sampai sekarang menjothak (marah) kepada kami. Stigma janda rupanya membuat tetangga kami pasang kuda-kuda sambil mengasah taji. Namun lupa bahwa orang yang begini seharusnya tangan kita lebih panjang terulur.

Orang-orang diatas sudah lulus „fit and proper“ sehingga meyakinkan kami bahwa perhelatan besar kelak bisa berhasil atas dukungan mereka.

Akibat kami terlalu percaya akan mahluk sakti diatas, maka tidak jarang muncul isue yang mempertanyakan mengapa saudara kandung sendiri malahan tidak dilibatkan.

Pengamatan saya saudara kandung kalau dijadikan panitia inti mencampur bawurkan urusan serius dengan bercanda. Misalnya kue konsumsi rapat enak saja mereka me-rekening kami namun ada saja yang nyinyir bercuap „enak dong bikin rapat makanannya sumbangan saudara“.

Sebetulnya tidak menjadi soal, pertama memang saudara dan kedua kami sering menyumbang mereka gratis dengan cara tersebut. Biasanya isu mudah di ditanggulangi dengan menunjukkan bon yang kami terima semoga bisik-bisik sumbang atas sumbangan bisa diakhiri tanpa drama. Belum lagi urusan anak, kendaraan yang dibawa suami sampai pertengkaran dengan pasangan ikutan masuk dalam agenda rapat. Akibatnya energi terkuras habis untuk urusan internal.

Sejak itu nama-nama saudara kandung hanya diberikan prioritas menjadi panitia yang tidak terlalu menguras tenaga dan pikiran. Misalnya among tamu (penerima tamu) belaka. Tapi jangan dibalik, manakala mereka yang „duwe gawe“ – siang malam kami didera tugas harus diselesaikan mulai dari urusan dana, gedung, katering dan tak jarang uang pribadi melorot keluar juga.

Catatan Pribadi Menikahkan Anak

Mama Norak, Mama Ketinggalan Jaman


Sebuah siang mendung pada Nopember hujan, di kawasan  Jatiwaringin. Pendingin udara tidak perlu berkerja terlalu keras  sehingga kami bisa tenang memilih paket-paket hidangan untuk resepsi kelak. Beruntung mbak Santi (bukan nama sebenarnya), sangat piawai memilihkan jenis makanan dan kombinasinya. Kami langsung memberikan “depe” dan ia menghilang kebiliknya untuk membuatkan kontrak.

Saat menunggu  MO (Marketing Officer) bekerja maka masuklah sepasang suami istri dengan membawa brosur menu. Mereka langsung menghempaskan diri pada sofa empuk berwarna kecoklatan. Saat menunggu MO lain melayaninya, kami terlibat pembicaraan singkat. “Anak saya cerewet sekali, kalau diberi tahu orang tuanya, gampang saja mereka bilang Ah Mama Norak, Kampungan, kurang gaul.” 

Kata ibu yang masih tampak fit dibalik kerudung warna kuning gadingnya. “Padahal, kita yang norak ini kan yang berhasil menyekolahkan mereka sampai selesai.” Seperti tidak perlu meminta jawaban dari kami.  

“Tapi kalau kita tanya bagaimana kesiapan seperti apakah sudah mendatangi katering, nama yang akan diundang, bahkan tempat resepsi, jawabnya gampang, Mah, entar aja,” 

“Padahal akan menikah bukan January ini (2008). Jadi kami diam-diam saja cari tempat resepsi, katering, memilih makanan. Nanti kalau kami sodorkan kerja kami, langsung ditolak, norak, nggak gaul. Payah anak sekarang”

Nampaknya sang bapak yang masih kelihatan gagah dan hensom pada usia “MPP” Masa Persiapan Pensiun yaitu 55 tahun ini kurang berkenan sang ibu “ngerasani” anaknya. Ia lalu menjawab, “masalahnya anak-anak belum tahu, problem yang menghadang dalan merencanakan pernikahan.” 

Padahal untuk kirim undangan saja, kurir sudah mematok minimal tujuh ribu rupiah,” kata sang ayah dengan kacamata baca dikalungkan didada.  Saya yang sudah melewati MPP, akhirnya cuma MMT (manggut-manggut thok), sambil berbicara dalam bathin seperti trend sinetron kita, “kok  zzzammmma”

Lalu kami gantian “curhat” – sehingga diam-diam bapak yang sampai berpisah tidak memberikan namanya (tapi saya sudah kasih kartu nama berikut hp), beringsut bergabung  kemeja kami.  Salah satu judul obrolan yang nendang adalah tajuk saya “mencari tempat resepsi minimal setahun sudah harus hunting” – apalagi kebiasaan sebagian suku yang hanya melakukan peristiwa besar seperti menikah pada “sasi gede” alias bulan yang dianggap “penuh rahmat” menurut hukum Pranata Mangsa bisa-bisa semua tempat favorit sudah terisi. Apalagi saya menambahkan “Pemaes saja menaikkan harga sampai 3 jutaan ketimbang tahun lalu, dengan alasan pada bulan besar seperti Desember, permintaan bunga melati dan bunga uba-rampe resepsi pernikahan meningkat tajam, padahal pasokan sedikit.”

Sebagai “tombo ati” setelah pembicaraan berat, saya menambahkan. Pengalaman kami melihat saudara, kerabat yang saat akan menikah hanya berdasarkan “impuls” – umumnya menangis atau ngenes ketika melihat pihak lain menikah dengan segala pernik upacara. Apalagi memandang hasil akhir berupa foto yang puluhan tahun kelak bakalan menjadi lem perekat jika keluarga mengalami ancaman keretakan. Sekalian menyampaikan “sanepo” – hint agar mereka menggunakan juru foto asal bisa jepret. Peristiwa terjadi dalam sekali, seharusnya diabadikan sebaik mungkin oleh juru foto berpengalaman.

Lalu saya lirik buku berwarna merah muda karangan “Tria Barmawi” – Siapa Bilang kawin Itu Enak? – mustinya saya menulis judul “Siapa bilang jadi Mertua itu enak?

Mengurus Pernikahan Anak -unfinished story


En: This article about my panicing to have my daughter wedding. In Indonesia, parents take over all cost of daugher or son wedding.

Bulan September 2002 tak terasa anak sulungku anakku lulus di National University of Singapore jurusan ekonomi. Setamat SLA di kawasan lapangan Banteng, cewek kelahiran 31 Maret 1981 Jakarta bilang mau sekolah ke luar negeri. Padahal dollar sedang membubung tinggi. Tapi dia nekad cari beasiswa, setidaknya pinjaman lunak dari pemerintah Singapura. Untungnya saat kita digempur moneter dan badai politik tak berkesudahan atas kebijakan Mr. Lee Kwan Yew dari Singapura diam-diam, negeri jiran ini memberikan pertolongan berupa beasiswa dengan pinjaman lunak.

Tahun pertama di Singapura para mahasiswa diberikan penginapan berupa asrama dalam komplek kampus. Cerita wisuda disini. Tidak terasa pula pada tanggal 30 Desember 2006, anak ditembung pihak lelaki aku nggak bisa menjawab didepan umum. Blangkemen, gagu. cerita disini

Tidak salah dong kalau kami mulai gedubrakan mencari tempat resepsi. Mulai dari tempat resepsi pernikahan sampai rumah digunakan untuk acara malam “midodareni.”Kami mengubek-ubek seluruh Jakarta memikirkan lokasi yang paling mudah dicapai oleh pihak saya maupun pihak besan kami.

Ternyata mencari lokasi harus dilakukan minimal setahun lebih awal. Pasalnya ada hari-hari tertentu yang prime-time. Kali ini kami beruntung, ada yang mengundurkan diri sehingga pada tanggal 8 Desember 2007 nanti kami bisa mengadakan resepsi pernikahan pada sebuah gedung di kawasan jalan TB Simatupang Jakarta Selatan.Persoalannya, sekali pakai gedung ini maka semua katering hanya yang masuk rekanan diperbolehkan beroperasi di gedung tersebut.

Yang unik. Beberapa orang yang sedianya menjadi panitia karena tiada kerepotan mengawinkan anak. Mendadak mereka harus mengawinkan anak-anaknya jauh lebih cepat daripada perkiraannya. Lalu kami bilang, hitung-hitung ini sebagai katalisator, membuka sumbatan (karena ada yang sudah lama anak gadisnya gagal menikah) selama ini.

Usaha pertama adalah menginventarisir nama yang akan diundang. Disini repotnya, selama ini mengenal seseorang dengan nama pendek seperti Mas Son padahal apalah namanya Soemarsono ata Sumarsono atau Sonnie, selama ini tidak tahu. Waduh. Belum lagi alamatnya sekarang dimana. Waduh lagi. Masakya kirim alamat Kepada Yth: Mas Son suaminya mbak Liz yang di Semarang itu Lho. Pasti pak pos kebingungan tujuh keliling.

Mencetak Undangan. Selama ini kami tergolong orang yang menganut paham menjadi pemain, sutradara, scripter sehingga pembuatan undanganpun dibuat sendiri. Ternyata tidak mudah, sekalipun nama sudah dibuatkan dalam bentuk digital para juru set sering gatal tangannya untuk mengubah nama yang menurut mereka tidak sesuai. Atau karena mereka sudah mengantuk menghadapi pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Persoalan menjadi ribet saat anak yang berada di luar negeri minta bagian undangan untuk diberikan kepada temannya disana. Akibatnya harus dibuatkan undangan dalam dua bahasa yaitu Inggris dan bahasa Indonesia. Semua bergantung kepada ketelitian setter dan kejelian mata kami.

Lalu mulai diputuskan akan menggunakan tradisi Jawa. Berarti harus mempersiapkan segala ubo rampenya. Juli 2007 kami ke Yogya, mampir di Tjokrosuharo membeli beberapa barang yang diperlukan.

Panitia dirancang sekecil mungkin. Banyak orang menawarkan jasa ingin menjadi panitia, namun dalam reputasi sehari-hari mereka lelet dalam bekerja sekalipun jago dalam berbicara. Maaf yang beginian terpaksa tidak dapat diakomodasi dalam tim kami. Mulai mendapat tekanan dari beberapa pihak yang semula acuh tak acuh mereka mulai ikut campur. Maksudnya sih baik, tetapi kalau semua orang harus di undang betapa merepotkannya.

Tetapi ada pengalaman bahwa mengundang saudara dari daerah berarti mempersiapkan akomodasi termasuk antar jemput dan (jalan-jalan ) ke Jakarta. Belum lagi yang mau datang kalau dikasih kebaya lengkap…lho..lho..lho. Apa dipikir uang saya nggak punya seri alias nyetak sendiri. Hal inilah yang sering tidak disadari.

Namun ada juga yang langsung bertanya, apa perlu bantuan keuangan. Waduh terharu juga. Sekalipun saat ini belum bisa menerimanya. Orang ini memang tajir sekalipun masih muda. Hatinya emas, akmi tahu itu namun mulutnya arogan. Kalau berbicara selalu keluar kata sakti “goblok, salah itu, nggak bener itu, nggak punya otak, kampungan,” akibatnya para sesepuh yang berada didekatnya sering “sakit telinga” berhadapan dengan anak muda yang kalau bicara selalu tidak mau kalah, dan merasa paling hebat sendiri.

Ada teman yang bersikeras akan datang sekalipun tak diundang hehehe ini lucu juga.

  1. Katering sudah dipersiapkan. Awal Nopember 2007, kami mendatangi salah satu pengusaha katering di kawasan Jatiwaringin. Kali ini kebagian marketing officer mbak Santi yang banyak membantu kami menentukan nuansa (ungu), kombinasi makanan. Nasihatnya, jangan menyuguhkan makanan serupa, misalnya ada tiga macam soup, atau tiga macam es krim. Seseorang akan cenderung mengambil semuanya. Celakanya kadang hanya mencoba satu icip, lalu dibuang dan ambil makanan yang lain. Terimakasih mbak, kami tidak ngeh soal trik dan trip beginian sehingga seratus persen pasrah bongkokan kepada mereka.
  2. Pemaes penganten, pakai Bu Tris.
  3. Juru Foto. Akan diadakan pre-wedding foto sebelum acara resmi digelar. Jurufoto sudah diuji coba pada saat ulang tahun pernikahan emas (50tahun) pada September 2007. Kami puas dengan hasilnya dan profesionalismenya. Pelajaran lain, jangan coba-coba menduplikasi DVD karena hasilnya tidak akan sebaik para profesional. Lagian masih ada urusannya dengan hak cipta mereka.
  4. Acara perkawinan
  5. Acara midodareni
  6. Uborampe (pernik) yang harus dipersiapkan dalam acara
  7. Komunikasi dengan pihak besan
  8. Keamanan, ibu Rahel istrinya Letkol Marpaung bersedia mengirimkan sebagian anggota untuk keamanan.
  9. Menyediakan HP untuk kelancaran operasi mungkin pakai Esia yang selama ini okey-okey saja.
  10. Dr. Yatiman dari Purworejo sudah dimintai kesediaan untuk memberikan sepotong sambutan.
  11. Teman-teman Lia dari Singapura katanya berkenan hadir lantaran mereka mendengar bahwa perkawinan adat Jawa biasanya unik dan agung dalam berpakaian. Waduh lagi… apa perlu acara tarian dan gamelan?

Picture from http://www.clipartguide.com/_small/0060-0608-0917-2947.jpg

Tanggal 27 Oktober 2007
Cigandung, Bandung.
Bertemu lagi dengan calon besan (Pria) bapak Susilo dan ibu Tatik.

  1. Pada saat midodareni di kawasan Tanjung Barat, mereka – pihak besan- pria akan melakukan acara midodareni, langkahan. Bahkan sudah menyiapkan panggung, bokor, gentong untuk upacara siraman kelak.
  2. Pihak pria menyediakan sendiri pemaes
  3. Pihak pria akan menyediakan sendiri tempat penginapan.
  4. Keseragaman tusuk kedua ibu pengantin.
  5. Pemberian cicncin akan dilakukan dimana?

4 Nopember 2007. Kumpul di rumah Pendidikan 73 Bekasi. Leo dan Anna membicarakan round down acara. Sempat ada pertanyaan mengapa saudara dari pak Mimbar tidak muncul dalam kepanitiaan. Repot rek menjawabnya.

5 Nopember 2007, terpaksa pertemuan dengan calon Besan dari Bandung ini hari saya tidak bisa ikut lantaran sudah harus terbang ke Perth dengan Garuda 730.

Siapa Bilang Kawin itu Enak? Sinih tak kasih tau ya…


Kok seperti hendak “menyindir” perkawinan keluarga Cendana yang serba moncer, serba kepenak, serba sempurna, maka pada 20 September 2006 lalu beredar novel tipis baru. Judul buku tipis warna merah jambu ini menggelitik, maklum kategori TeenLit “Siapa Bilang Kawin Itu Enak.”

Singkatnya penulis menceritakan bagaimana repotnya mencari hari baik yang ternyata sering tidak pas dengan ketersediaan hotel, mencari lokasi resepsi. tempat midodareni, membuat dan menyebar undangan dan pernik pernikahan.

Bahkan resepsi berlangsung yang kata orang menjadi raja sehari, justru rongrongan datang lebih hebat. Mana ada raja dan ratu kelaparan berat. Sudah berjam-jam dipaksa berdiri dan tersenyum sampai rahang sukar dikatupkan, saat dilanda lapar berat, mereka tidak boleh makan sampai acara selesai, sebab tugasnya hari itu adalah senyum dan mengucapkan terimakasih. Sampai-sampai memohon kepada juru kipas (anak-anak) untuk ambil “kue” saja.

Tapi celaka, baru mau mengemplok penganan, juru potret mendatangi sambil teriak “pengantin foto bersama.” Ya ampiiiunnn ..Gagal maning SON!

Lalu ketika pesta usai, hari mulai dijalani dan saat kulit pangeran dan putri kesempurnaan mulai mengelupas helai demi helai. Pertengkaran demi pertengkaran mengisi kehidupan perkawinan mereka. Satu senang tidur menempel di dinding, yang lain kepingin lampu menyala saat tidur.

Pendeknya kehidupan perkawinan hari-hari, ditulis dengan jenaka oleh seorang ibu yang kangen Bakso, lantaran harus tinggal di Kuala Lumpur.

Barangkali Tria, sang penulis juga mahfum, dan pikir kembali akan novelnya kalau melihat lakon Kakawin-Lulu Tobing yang bikin orang geleng-geleng kepala. Memang sih duit-duit sendiri, tak elok dibicarakan. Agnes Monica saja mampu pesta ultahnya “cuma satu eM” – masak cucu bekas orang nomor satu kalah? Anak Danajaya ngejoss sampai “dua eM” – mau dibilang apa?

Sebuah koran IbuKota meliput acara dan gambar hampir memenuhi satu halaman. Buah bibir, kembang lambe soal cindera mata berupa uang yang di lipet, dijepit merebak. Ini bicara mata uang resmi yang katanya acara tivi tidak boleh, diremas, dilipat, distaples.

Tapi khusus Cendana boleh di “origami” – tapi sudahlah, media masa gencar meliput habis-habisan. Bahkan acara ikutannya tak kurang Habibi bikin buku, dibantah Prabowo, disanggah Wiranto. Rasanya peristiwa baru kemarin, episodenya sudah mulai abu-abu. Bagaimana dengan Surat semacam Super Semar, pasti satu orang seribu cerita.

Namun disudut koran, seorang ibu melahirkan dibawah pohon lantaran tidak punya uang untuk ke rumah sakit. Tapi kontrasnya, ini bukan anak yang pertama melainkan anak keempat. Doyan napa bu? – saya selalu iri melihat orang punya anak buanyak.

Impian saya dari dulu punya anak banyak sehingga mau panggil Hasan jadi Sri, mau panggil Joko jadi Jang.

****

Padahal beberapa malam sebelumnya, anak saya pernah SMS, “aku mimpi be-ol tadi malam…

Lho kalau gitu buang uang di jalan, sebab orang tua dulu nasehatnya begitu. Bukan untuk menolak bala, tetapi sekedar rasa terimakasih kepada sang “kurir” – sehingga kalau bencanapun terjadi, hati sudah tegar.

Gantian SMS menyalak “Ini Singapore, jangan main-main dengan duit, ketahuan buang uang, bakalan jadi perkara masuk bui jadi anak rante..” – di Indon, kalau tidak mau jadi orang rante, silahkan buang-buang duit.

***

Pada 1996-1997, saya pernah memenuhi undangan pernikahan putrinya tokoh Pemuda Pancasila. Tidak usah ditanyakan hubungannya kekeluargaan, sebab sama sekali jauh panggang dari api. Sepanjang jalan masuk menuju Taman Mini, dipagar betis dengan pemuda berseragam “doreng” alias loreng-loreng jingga. Jadi anda tidak perlu tanya sana sini takut kesasar, karena dari jauh sudah “terbaca” yang punya hajat adalah bos vrijman.

Satu-satu kenangan adalah ketika acara “gropyokan” barang perkakas sehari-hari. Ada beberapa orang berpakaian ala petani masuk ketengah arena sambil memikul barang keperluan sehari-hari. Barang ini nantinya boleh diambil sambil berebutan tentunya. Kalau soal rebutan begini saya betul-betul “hidup akal“, betul saja, tahu-tahu saya sudah di tengah arena, sikut-sikutan dengan beberapa menteri, termasuk Menteri Kesra untuk “alap berkah” memperebutkan gayung, talenan, mangkok perak, padi dsb. Acara perkawinan tersebut unik, tanpa pameran kemewahan tetapi nuansa agungnya bisa dirasakan. Dan bukannya jadi kacau balau lantaran rebutan “udik-udik.

Waktu itu saya dapat mangkokan perak. Atensi-ku biar cepat dapat jodoh. Tentunya untuk anakku. Benda tersebut sampai sekarang selalu membuat saya teringat segar akan agungnya resepsi pernikahan, betapa kencangnya genggaman ayah mempelai yang notabene “tokoh pemuda” – tak heran ia kondang dibelantara dunia keras. Dulu saat tokoh ini berburu kijang di Lampung, mereka memanen banyak buruan di pajang diatas Jeep sehingga saat meliwati jalan pulang ke Jakarta masyarakat Lampung melihat konvoi tersebut. Ayah yang saat itu masih aktip dikesatuan mendapat teguran soal “pelestarian hewan.” – Lha ijinnya siapa yang bikin. Begitu bantah ayah.

Lho, setelah satu dasa warsa SMS yang dinantikan siang malam akhirnya berteriak juga. “Aku mau kawin….Pa! – Kalo bisa tahun 2007 – di Jakarta. “

Maka repotlah saya mendatangi segala macam tempat resepsi seperti Bidakara, Antam, Gedung Perfini dan beberapa daftar panjang, lantaran dompetnya pendek. Dan masukan-masukan kiri kanan mulai membanjir, pakai pemaes ini saja, kontrak katering itu saja dsb.

Ini urusan tidak main-main. Biasanya kami di “dapuk” jadi event organizer, sekarang kebingungan sendiri.

Secara kebetulan adik saya di Poso-Sulawesi mengirimkan kursi goyang. Tadinya saya ogah, tapi dia keukeuh dengan iming-iming, ini kayu ulin sehitam arang, tak bu tuh pernis, tahan ratusan tahun lantaran diemohi rayap yang racist. Rontok juga pertahanan saya. Apalagi katanya ongkos kirim cuma 300 ribu buat “anggota” yang membawanya pakai truk.

27tahun lalu saya bilang ingin berumah tangga, nenek yang masih keturunan “wong ndesa van Wanasari” duduk dikursi goyang sambil terkekeh “Mimbar iso njaluk rabi..heheheheh.”

Pasalnya saya sudah kelompatan adik-adik. Beliau masih ingat, masa saya kecil sakit gabagen (tampak, cacar air), sampai step-step lantaran halusinasi merasa ada pasukan ninja menyerbu dari kebun belakang rumah. Ibu kebingungan, dan nenek menetramkan saya dengan menyongsongkan susunya yang sudah pasti sudah peyot dan “saat”. Eh kok mujarobat, saya bisa “cep-klakep.”

Dan saya sudah siapkan lagu “Pada hari minggu, duduk di-muka(nya) pak Kusir yang sedang bekerja” – atau lagu syair Garuda Pancasila ..Pribang-pribangsaku…

Sebentara lagi aku menjadi kakek, lansia. Maka bacaan saya sekarang adalah “persiapan menjadi menjadi Lansia.” – menulis bagaimana rasanya menyiapkan sebuah perhelatan.

Wednesday, 27 September 2006
http://mimbar2006.blogspot.com

Tahun 2007 rencananya mengawinkan anak pertama.
Baru punya pot “puun dollar”