STREET PHOTOGRAPHY


Kerapkali kita menemukan coretan  humor para babang truk seperti yang sempat saya jepret. Namun ada komedi lain para babang truk ini kalau berada diterowongan atau overpass. Mereka pada mengadu klakson “oom tolalet.”

Lantaran didalam terowongan maka gemanya saling bersahutan. Inilah cara babang truk melepaskan penat dan kebosanannya.

StreetPhotography1
RUMUS ISTRI SOLEHA ALA BABANG TRUK
Advertisements

Hurrah Jalan Kodau – JatiAsih di cor semen akhirnya


Perbaikan_jalan_KodauOlie keponakan saya dari Yogya dengan mata lebar dan dahi lebar juga memiliki kesan kerumah “Pakde yang lucu” itu – rumahnya belok (tanah liat) dan banyak laronnya. Dia betul sekali, begitu memasuki jalan Kodau anda akan disambut genangan air, becek dan jalan berlubang saat musim hujan. Lalu laron yang berukuran jumbo bisa melesat dari gundukan tanah persis kembang api air muncrat. Yang Olie(via) belum tahu, di halaman depan kamipun ular ada yang bersarang dan meninggalkan kulit tuanya. Rumah saya sendiri berada di Jalan Pendidikan dengan akses melalui jalan Kodau V – JatiMekar.

Foto yang diambil 25 Juli 2009 ini memperlihatkan sekelompok anak remaja seakan menghadang kendaraan kami. Sebetulnya tidak demikian, mereka adalah relawan yang mengatur lalu lintas di jalan Kodau V – JatiAsih -Pondok Gede yang setelah selama ini mengalami kerusakan berat akhirnya diperbaiki oleh Pemda Jawa Barat.

Memang menyebabkan jalanan macet karena saat pengecoran separuh badan jalan, sambil menunggu semen mengeras para relawan menggunakan sistem buka tutup. Nampaknya perbaikan jalan ini dilakukan secara serentak dikawasan kami menghadapi lebaran, menghadapi masuknya musim hujan nanti.

Rasanya pujian terhadap Pemerintah Daerah, Bina Marga tidak habis-habisnya kami lantunkan lantaran jalana kami akhirnya diperbaiki. Hidup Pemda Jabar
Rasanya pujian terhadap Pemerintah Daerah, Bina Marga tidak habis-habisnya kami lantunkan lantaran jalanan "KODAU" akhirnya diperbaiki. Hidup Pemda Jabar
Pembetonan Jalan
Pembetonan Jalan

Yang merepotkan, jalanan di tempat kami minim akan fasilitas saluran got sehingga parit hanya berfungsi sebagai posko dan budidaya nyamuk dan alat uji coba penciuman.

Kalau malam hari kebetulan lampu mati cukup andalkan hidung anda dan yakin tidak akan kesasar dipandu oleh bau got. Mungkin lantaran begitu rindunya jalanan diperbaiki bak menunggu Ratu Adil, manakala sore hari, para ibu selesai memandikan anak-anaknya lalu mereka mengajak putra-putri nonton “orang bikin cor” – sambil menyuapi anak-anaknya. Ibu dapat hiburan, anak-anak lancar disuapi.

Terimakasih pemda JABAR. Terimakasih kepada anak-anak yang setia menjadi relawan mengatur jalanan. Terimakasih kepada pemakai jalan yang bersedia dititipi bendera kecil pertanda waktunya untuk jalanan dibuka/tutup. Saya pikir dengan panjang jalan ratusan meter bagaimana ujung jalan satu dengan yang lainnya akan berkomunikasi. Ternyata mereka memanfaatkan bahasa bendera. Kalau bendera dibawa oleh seorang pengendara motor yang. Berarti giliran penerima bendera membuka jalan bagi kendaraan terutama mobil.

Hanya kadang masyarakat sering tidak sabaran. Sudah tahu jalanan ditutup gara-gara semen masih basah, masih saja ada yang menerabas sehingga bekas roda motorpun membekas. Padahal kalau jalanan rusak yang rugi kita semua.

Manakali Olie datang berkunjung mungkin dia akan bertanya “mana jalan beloknya?” – mudah-mudahan.

Rejeki Lebaran


Kapal diperbaiki menjelang Lebaran
Kapal diperbaiki menjelang Lebaran

Saat menunggu kapal roll ro datang, Saya memang sengaja memotret kapal yang sedang diperbaiki di pelabuhan Merak ini. Pekerja yang asyik memukuli pelat besi sampai tabung-tabung gas berserakan disekitar kapal penyeberangan ini.

Ternyata mengejar target agar saat ekskalasi mudik tiba sepertinya menjadi mode kita belakangan ini.

Menarik perhatian bagaimana mengamati mulai dari jalur Pantura,  jalan Tol antara Merak – Jakarta, jalan di kawasan bekasi seperti Jatikramat, jalan Ratna, Jalan Kodau semua diadul-adul secara bersamaan. Jalanan menjadi semakin sempit dan macet tentunya.

Kalau sudah begini anak-anak tanggung mulai akal-akalan, sekalipun jalanan sudah bisa dipakai, mereka masih membuat barikade agar supaya pengguna jalan melambatkan jalannya dan eng ing eng sebuah ember diangsongkan.

Lalu di saat menempuh perjalanan di Lampung keadaan tidak jauh berbeda. Jalanan bypasspun di odal adul secara seksama dan terencana sehingga lagi-lagi kemacetan menjadi-jadi.

Semua dengan satu slogan, lebaran pasti siap. Sekalipun selama menghirup kemerdekaan selama 63tahun, kata-kata sakti itu selalu menjadi retorika belaka.

Tapi ngomong-ngomong – ada yang membisiki saya, sudah diperbaiki saja seharusnya bersyukur.

Terimakasih Gerbang Tol Dukuh


Ada beragam tarif jalan tol di Jakarta, mulai dari 100, 1500, 2500, 5500, 6000 dan 7000 rupiah.

Hampir bisa dipastikan cara transaksinya seperti orang musuhan (berseteru).

Pertama kita mendekati loket pembayaran yang biasanya dilayani wajah kaku menatap mesin register, atau wajah sedikit santai sambil mengobrol dengan teman sebelahnya (biasanya pergantian shift).

Tetapi tol Dukuh 2 yang paling berkesan. Dengan ongkos tol 1500 rupiah saya hampir selalu mendapat sapaan Selamat Pagi dan Terimakasih. Bayangkan subuh belum lama berlalu, ada suara menyapa kita yang juga masih belum full terjaga. Indah nian rasanya.

Coba, tol mana yang sekalipun membayar 7000 perakpun boro-boro-biri-biri anda disapa petugas. Ternyata tol yang murah malahan lebih ramah.

Jalan Raya Australia


s4100032.jpg

Masih seputar mengungsi sehubungan dengan Siklun Tropical – Nicholas bulan Februari 2008

Sambil menunggu waktu makan malam, jam 19 Waktu Australia Barat kita masih melihat matahari kinclong-kinclong maka dua pekerja pengeboran (pengungsi) sedang berbicang mengenai kemampuan masing-masing handphone menerima signal.

Victor seorang Filipino yang tinggal di Selandia Baru dengan HP mahal yang baru dibelinya ternyata hanya mampu menerima satu bar signal. Tak heran istrinya di sering kebingungan sambungan tilpun terputus begitu saja. Lawan bicara Bambang mengatakan HP-nya termurah didunia tetapi mampu menjelajah sampai ke Nologaten dibelakang Ambarukmo Plaza – Ngayogyokarto.

Saat mereka bertukar pikiran, saya menjauh dan memotret jalanan aspal pedalaman Australia. Nampak seperti dipoles tipis berbeda dengan jalanan kita yang sepertinya menggunakan rumus tiap kali diperbaiki harus dipertebal.

Aku tinggal di Bekasi saudara-saudaraku tercinta. Masuk wilayah JawaBarat – Perbatasan antara Pondok Gede dan Jawa Barat. Kalau pakai tol dua jam baru sampai ke Bandung ibukota Jawa Barat.

Jalanan di daerah kami tak pernah beres. Para pimpinan obral janji, jalan ratusan kilometer jalan rusak, yang diperbaiki cuma sekitar puluhan klik.

Pernah sekali saya dibikin bungah dan berbinar-binar, tumpukan baru krakal dan pasir menggunung dipinggir jalan. Hari ini mereka menggunung malamnya menghilang lantaran disapu hujan begitu seterusnya. Ketika hujan reda tumpukan menggunung datang lagi. Lalu nampak pekerja sibuk menggali sana sini. Ternyata hanya got yang mereka semen itupun cuma sepotong kecil sementara jalannya egp.

Ironis sekali meredeka 63tahun lebih warga hanya ingin sebuah jalan yang bukan mirip kubangan kerbau. Pekerjaan yang sia-sia kecuali Daftar IsianProyek yang mengalir deras tentunya. Angkot pengangkutan vital bangsa ini harus berjuang untuk memperpanjang usia suku cadang kendaraan yang cepat koma lantaran berperang melawan jalan yang teramat buruk. Sudah dipalak para bandit berselimut timer – petugas  setengah resmi masih  dengan ancaman kenaikan bahan bakar namun dilarang menaikkan tarif angkutan.

Rasanya kalau saya berdarah separatis macam alm Mayor Alfredo Reinadonya dari Dili, saya akan bikin pasukan pemberontak untuk berkoalisi dengan Pemerintah Propinsi Jakarta. Agar kami memiliki jalan sebaik saudara tua kami. Rasa tidak puas kami sebagai daerah yang diterlantarkan sederhana saja. Kalau sudah begini, hikmah yang dirasakan adalah “oh begini rasanya penduduk Papua yang kadang marah merasa terlantarkan pemerintahannya…

Akibat kesumat memiliki jalan bagus, saya tidak segan-segan kenorakan memotret jalan-jalan diluar negeri agar bisa berhalusinasi memiliki jalan yang bagus. Membuat jalan tidak perlu setebal kulit dinosaurus, bagian pinggiran diberi cat putih sebagai pedoman bagi pengendara agar tidak kehilangan pandangan. Masih lagi diberi campuran baru kasar berwarna mereah untuk membedakan badan jalan. Mirip ampyang (kue kacang) yang juga berfungsi menyerap air karena lebih berpori.Pemimpin Jawa Barat… saya akan pilih sampeyan, saya promosikan seperti saya gerilya kepada partai politik bendera biru saat pemilu kemarin. Asal perbaiki jalan yang seharusnya hak rakyat. Tidak banyak kok..

Jalan yang menghilang


Kalau saya berolah raga jalan kaki di Jakarta, kadang saya “mblandang” memasuki kawasan kota sambil belajar mengingat nama gang, nama bangunan tua dan menghubungkannya dengan peristiwa bersejarah. Kadang saya berhenti dihalaman bekas Gedung Arsip Nasional di jalan Gajahmada, sebuah bangunan yang masih terpelihara.

Dihalaman depan, para penghuni sekitar berolah raga, jalan kaki sekitar taman, membaca koran, main badminton dan ini dia tak lupa adat bangsa membuang bungkus nasi uduk, tumpahan sambel, bakmi dihalaman gedung yang asri. Itung itung melestarikan budaya “seenak udel buang sampah”.

*** JALAN YANG HILANG ***
Salah satu peta Jakarta terbitan tahun 2003 menyantumkan nama jalan Ketentraman (JK). Rasa ingin tahu ingin merasai lewat JK tersebut ternyata tidak kesampaian. Pas melewati Jalan Ketentraman “JK”, saya mulai tertegun sebab sosok gang kecil, yang dimuaranya biasanya bergerombol para pengojek, ternyata sudah raib berganti Hotel Mediterania. Plang JK sendiri masih utuh tertancam di salah satu pagar beton bangunan hotel. Tidak ada jaminan kalau plang jalan ini rusak dimakan usia, apakah pihak hotel atau pemda bersedia membuatkan penggantinya.

Melihat “fasad” bahasa yang dipopulerkan GATRA sebagai “fisik” bangunan yang dijaga Satpam, sulit bagi pemakai jalan akan keluar masuk bangunan hotel seperti sebelum hotel ini dibangun.

Tapi itulah modernisasi, penghuni sekitar JK yang umumnya berkulit terang, nampaknya enggan untuk menempati kawasan sepetak yang kumuh, gelap, sempit seperti nenek moyangnya tempo dulu.

Hal yang sama terjadi di Grogol. Dulu ada Jl. Rawabahagia (JRB) 1 sampai 10, namun sesuai dengan kemajuan jaman, anda sekarang hanya menemukan JRB 1 sampai 6, lalu melompat 9 dan 10 sementara 7 dan 8 sebagian (kecil) jadi Madrasah dan SD, sebagian besar jadi RUKO. Persoalannya adalah pilih mana, mempertahankan cagar budaya yang ribet karena keluar ongkos pelihara, atau serahkan ke developer, dijamin kocek penuh, lahan bermanfaat, bebas pusing. Nampaknya pilihan kedua inilah yang digandrungi. Dan selamat tinggal bangunan kuno Jakarta.