Fungsi lain kaca spion


TKP – Jalan Muwardi Grogol. Pasar Tradisional..

Hari masih sekitar pukul 11 siang tetapi teriknya bukan alang kepalang. Tak heran, minuman dingin banyak diserbu. Tak ketinggalan babang es doger. Bahkan saking manisnya, sekelompok “drone” zonder batere ikutan merubung mencari tumpahan gula.

Seorang pengendara motor yang kehausan, segera minggir dan order segelas doger. Baru saja akan dinikmati, HP-nya berbunyi. Ia tidak kalah akal. Spion dimanipulasi sebentar dijadikan tatakan gelas.  Lalu ia meneruskan menekan layar smartphone.

Pabrik sepeda motor boleh jadi tidak terbersit bahwa kaca spion di Indonesia menjadi tstakan es doger sementara pemiliknya membaca smartphone.

Advertisements

Juru Parkir Cilik


Parkirnya jangan disini pak..Ada Polisi..

Ini hari saya urus KTP putra saya yang akan menikah sebulan lagi. Baru bisa diambil kelar Pilkada.
KtP diambil, dipotret, difotocopy sebelum dikirim. Bocah parkir di halaman toko fotocopy dengan seragam kegedean ini yang mengingatkan untuk tidak parkir dikiri jalan melainkan mepet di kanan menyebelahi taman.

Riol yang disulap jadi tempat tinggal


Macam-macam cara orang bertahan di Ibukota. Kawasan ini sejatinya Jalur Hijau, jalur kereta api melintas, jalur Got besar dibuat untuk pembuangan air. Mula-mula orang membuat jembatan kayu untuk menyeberangi got yang lebarnya sekitar 3 m.  Lalu ketika jembatanb kayu mudah patah, orang mulai mengecor got ini sebagai tiang untuk membuat jembatan beton..

Lama-lama warga tergoda pula untuk sekedar mendirikan bangunan semi permanen dan beringkat mengingat lahan yang susah..

Saya mengabadikannya sebab – pemda  DKI segera akan mengembalikan lahan ini menjadi jalur hijau.

Keterangan gambar:

Arsir kuning bagian depan bangunan (sepotong). Arsir biru bagian yang sebelah belakang. Bagian ditengah adalah got yang semula ditempat dimana menjadi satu kesatuan dengan bangunan sebelum didobrak paksa oleh pemda DKI. Tapi berangsur didirikan banguna kembali.

April 2016

 

P1100271 (2016_03_29 15_17_02 UTC)

Soto Betawi Roxy – H. Darwasa


Soto Betawi – Legendaris

Di Jakarta, tak terhitung kedai penyaji makanan khas Betawi ini yang terdiri santan gurih ditambahkan potongan daging sandung lamur, paru, babat, usus sapi lalu dihidangkan dalam keadaan kuah kebul-kebul berhias potongan tomat kemerahan, daun bawang dan sledri, masih harus digoda dengan gorengan emping yang renyah-renyah sedikit pahit.

Bagi masakan betawi terkenal pemeo berani santen” sekalipun pada kenyataan mereka bisik-bisik bahwa menambahkan sedikit susu akan membuat santan tidak pecah ketika dipanaskan. Belum lagi ada lawan klasik soto yaitu berupa nasi akel bertubuh tinggi langsing, beraroma beras Rajalele bertabur bawang goreng.

Kalau sudah begini iman bakalan jeblok? – belum lagi sepiring kecil, acar, sambal cabe rawit hijau dihidangkan secara terpisah ada disisinya. Bagi saya pribadi, lebih afdol kalau dikecroti kecap benteng bergambar burung sedih.

Yang bikin keder, rata-rata masakan Soto Betawi rasanya hampir standar. Mirip dengan image yang diberikan oleh masakan Padang. Perlu parameter tambahan lainnya seperti pengalaman mereka berdagang dan klasemen pembelinya.

Diantara deretan penyaji makan kelas super harga bemper, maka jajan jalan Biak memang sudah kesohor. Sebut saja Soto Madura “Ngatijo”, Sup Kambing “Sudi Makmur”, Bakmi “Roxi”, martabak kubang ARH. Tapi ini untuk cerita lain kali.

Saya ajak anda mengunjungi salah satu cabang jalan Biak yaitu jalan Tidore.

Maka pas di belakang bekas bioskop Roxy yang kini sudah berubah menjadi pertokoan. Saya mengarahkan kendaraan menuju langganan Soto Roxy milik Haji Darwasa. Tepatnya di jalan Tidore no 2, Jakarta Pusat. Saya mengenalnya baru 1978-an.

Ketika sekitar jam 9 pagi saya mendatanginya. Kendaraan baru nongol dari kejauhan salah satu tukang parkir berkaus kutang merah, berambut dicat ala bule, menenteng dua handphone di pinggangnya. Nampak memberi isyarat tempat parkir.

Di pojok kedai sudah duduk serombongan warga Hokian nampaknya baru merampungkan olah raga tenis, terlihat dari pakaian dan raket yang mereka jinjing. Indikasi lain bahwa sebuah kedai jajan itu masuk “okey zone,” adalah jika warga keturunan banyak hadir. Mereka terkenal cerewet dan selektip. Jadi makanan yang sudah lulus uji lidah mereka biasanya tidak perlu dipertanyakan rasanya.

Suasana kedai masih seperti puluhan tahun lalu. Empat puluh kursi plastik bakso merah tersedia buat melayani pembeli pada jam makan siang. Dua pria berumur mengenakan kaos oblong dan celemek merah. Lalu ada istri pak haji dan pak Haji Darwasa sendiri nampak siap melayani para pembeli.

Di bawah meja dagang, tergeletak lima dandang aluminium besar (50liter) sebagian berisikan kuah soto yang masih panas. Setiap sebentar santan dari bawah meja dipindahkan ke atas pertanda satu dandang kuah soto sudah mulai menipis. Sementara di atas meja dagangan tergolek menantang rebusan dan gorengan daging dalam kotak kaca, hidup berdampingan dengan susunan piring beling warna putih polos.

Hitung-hitung menurut pemiliknya, Darwasa, “ade kali barang sekitar anem pulu kilo, semue, sehari ludes,

Dengan menghabiskan sekitar 60 kilogram daging (campuran daging, usus, paru, babat, sandung lamur), maka warung yang buka sejak jam 7 pagi akan ladas (tandas Palembang) pada sekitar jam 16:00 an. Pasalnya setelah jam tersebut jalanan Tidore praktis dikuasai para pemilik lapak.

Darwasa membuka kedai ini sejak 1951, ia masih ingat kawasan Roxy dulu masih banyak kebon singkong, belum ada jalan beraspal. Bioskop Roxy sebagai landmark tempat ini (dulu) baru dibangun pada 1953-an.

Maaf sekarang dua puluh ribu, maksudnya untuk harga sepiring soto, saya sebut sepiring karena disini soto Betawi disajikan dalam piring, bukan mangkok. Ditambah sepiring nasi Rajalele bertabur bawang goreng, “ maklum semua serba mahal”, kata pak Haji tersenyum sambil memberikan kembalian. Saat itu saya langsung memotretnya dengan HP – ceklek, cepat namun hasilnya kurang tajam.

Mungkin pak haji ingin menjelaskan bahwa hukum gravitasi Newton tidak pernah berlaku di Indonesia. Pasalnya pernyataan Newton bahwa benda yang dilemparkan ke atas akan mengalami gaya tarik. Uniknya di negeri ini sekali harga barang terlempar keatas, tidak akan pernah turun lagi.

Oh ya tentang tukang parkir, rupanya satu dari dua kotak HP dipinggangnya adalah sarana uang kembalian parkir.

Mimbar Bambang Saputro

Pekojan mulanya diisi wangsa Moor


TERTIDUR

Syech Abdullah adalah pedagang kain yang biasa keluar masuk kampung untuk menjajakan kain Bombay dan sutra Cina. Sebagai penghormatan biasanya penduduk Betawi memanggilnya sebagai Wan Abdul. Hari itu ia masuk ke Kampung Bali untuk menjajakan dagangannya. Panas Matahari bulan Juni ’03 (maksudnya 1903) mulai terasa menyengat sehingga Wan Abdul kepanasan.

Disebuah pohon yang rindang ia melepaskan lelah sambil bersender dipohon dan menikmati berhembusnya angin semilir pelan. Tau-tau Wan sudah “ngegeros” lelap sekali. Ketika mendusin ia lihat dagangannya lenyap. Jelas diambil maling sehingga ia segera melapor kepada polisi.

Polisi agak kesukaran mencari malingnya sebab si korban tidak bisa menyebutkan ciri maling, maklum ketiduran. Seorang petugas polisi yang menulis “Proces Verbaal” hanya berkomentar singkat:” Orang kampoeng sekarang tiada sekali menaruh hormat pada muridnya Nabi…”

Di komunitas Betawi orang banyak yang menganggap bahwa semua orang Arab atau Arab tapi India, adalah Murid Nabi dan juga keturunan langsung Nabi Muhammad SAW. Dan ini berarti bahwa kedudukan mereka amat dihormati. Dalam peraturan Kependudukan Belanda mereka tergolong orang asing, apalagi kedatangannya lebih dahulu daripada Belanda. Mereka digolongkan sebagai Asing Timur (Fremde Osterling) segroup dengan Cina, Jepang dan peranakan. Kompeni memasukkan orang Arab sebagai orang Moor, yang dalam bahasa Portugis dari Mouro artinya Pengikut Nabi Muhammad SAW.

Cilakanya orang Moor sebetulnya orang Keling asal Coromandel-Bengali, sementara orang Arab berasal dari Handramaut-Yemen. Tapi bagi warga Betawi dianggap sama saja mengingat keduanya sama-sama hobby memakai pakaian semacam jubah.

Apalagi Kompeni menempatkan orang Arab tadi ke lokasi “Moorish quarter” yang dikenal sebagai Pekojan. Lokasinya antara dua kanal yaitu Ammanusgracht (Bandengan Selatan)dan Bacherachtgrachtn (Jalan Pekojan). Kerancuan antara Keling dengan Arab bisa dilihat seperti Martabak Telur. Mana yang martabak India dan mana yang Arab/Mesir sing dhodhol sami-sami sarungan.

PAKOJAN=KOJA= Orang MOOR

Kata Pakojan berasal dari Koja, yaitu sebutan untuk pedagang dari Gujarat. Daerah ini semula dihuni kaum Moor India dan Arab. Cuma yang Arab rupanya dibudidayakan secara intensif. Buktinya tahun 1859, perbandingan jumlah Moor dan Arab sudah tidak seimbang, penduduk Arab semula 312 naik tajam menjadi 3 kali lipat pada 1870 dan pada 1885 mencapai 1448 orang. Alasannya orang Arab memang suka memiliki banyak anak. Mungkin akibat menu makan kambing Qibas yang menyebabkan mereka amat kuat dalam “bertahan” maupun “menyerang” sehingga dalam semalam bola bergulir kekiri kekanan maju mundur sehingga tercipta goal untuk kedua dan ketiga kalinya.

Akhir abad ke-19, orang Arab yang semula miskin mulai menjadi kaya mulai membeli rumah-rumah diluar Pekojan dan memilih tinggal diluar sana. Orang-orang Arab ini terkenal kaya dan hemat bahkan terkesan pelit. Mereka suka berdagang dan juga memberikan bantuan keuangan kepada penduduk Betawi yang kesusahan, lalu memberikan bunga yang tinggi. Sehingga dijuluki lintah darat. Para rentenir ini sering dijuluki Triple T atau TTT “Tien Terug Twaalf” maksudnya pinjam sepuluh gulden kombali (cuma) dua belas gulden. Bukan renten Wan, ini uang “terimakasih”.

Berangkat dari kondisi rakyat yang terjepit lintah darat tadi, Gubernemen Olanda mendirikan pegadaian untuk membantu orang-orang yang meminjam uang.

MESJID PAKOJAN [KOTA]

Masjid ini tampak seperti bangunan Belanda, dibangun setelah tahun 1740 oleh para kontraktor Cina yang dipersembahkan untuk orang-orang Moor kaya. Bangunan mesjid ini diapit oleh bangunan-bangunan tua lainnya yang kini berfungsi sebagai toko. Lokasi mesjid ini terletak di Jalan Pakojan, Jakarta Barat. Sebagian kawasan Pekojan sudah terpotong oleh flyover.

24 Jun 2003