Jurus akalan babang Online


Jurus nakal ONLINE..
 
Kepingin ketemuan dengan teman di CITOS maka abis Jumatan YBL (Yang Baru Lalu), saya kepingin naik Taxi Online sambil cek-sound, mendengar keluhan babang OL. Ngapain Menhub cabut pasang pasal tasi OL..
 
Tilpun pertama diangkat, lalu saya lihat posisinya, saya baca bahwa butuh waktu 7 menit si Babang ke rumah. Saya menunggu.
 
Tidak lama, tilpun masuk.. pertanyaannya
 
“Bapak Mau Kemana”….{dalam hati ketawa, bukannya dia menilpun saya karena secara – ada panggilan, dalam nama Point of Drop dan jarak yang masuk akal untuk dicapai, bahasa OL – we find you nearby drivers-}
 
Saya menyebut “CITOS”
Citos itu apa?
Cilandak Town Square (mulai dong ada suara mendesing)
Itu dimana? (mendesing dan keluar gelembung udara kepermukaan). Jangan-jangan, lokasi Monas-pun dia akan tanya dimana itu…
 
Saya jawab shobirun ” Rumah Sakit Fatmawati, jalan TB Simatupang,”  lalu ada suara orang ramai dibelakang, eh RS Fatmawati itu dimana…[mestinya acting]
 
Langsung ibarat “godog Wedang”  mulut ceret, sudah melengking suara peluit.
 
Singkat cerita, beliau si Babang bilang keberatan, terlalu jauh.. Artinya jarak dibawah 15 kilometer itu jauh..
 
“Bapak batalkan saja”….
 
Harusnya saya main betah-betahan agar dia yang cancel agar tidak pat gulipat. Pasti alasannya “salah saya apa kok saya (taksi) yang cancel”.
 
Menjelang Megrib, selesai temu kangen dengan teman mudlogger Aji, Henry, Anton, Pentagon, saya menunggu di Lobby CITOS sambil mengorder Taxi…
 
“Saya ada di lobby Citos, tahu Citos, Cilandak Square Mall-paham” – kata saya..
 
“Paham pak, saya ada meluncur kesana….”
 
Tapi nanti dulu jangan keburu senang, tunggu punya tunggu- posisi Taksi kok di Jalan Antasari mengapa muntar muntir saja. Jalan ditempat grak..
 
Lha rak tenan… ia menilpun..
 
“Pak saya sudah kebablasan, bapak mau nunggu…” tentu saya menjawab “okay” – sambil melihat lokasi taksi yang mutar muter saja..
 
Tilpun berdering lagi…
 
“Pak saldo saya sudah dibawah 50 ribu, saya tidak bisa terima order sebab aplikasi saya offline..Batalkan saja ya pak.”
 
Saya merasa ada di Planit Meikarta, lantas yang menilpun ambil pesanan tadi apa Hantu Blau? Jin Iprit? – apa ya ada aplikasi yang kecolongan saldo dibawah 50 ribu, lalu saat sadar mencoba mengoreksi “maksud saya pemakai bisa angkat order untuk kasih kesempatan isi saldo..” jadi masih bisa terima orderan, masih bisa tilpan tilpun..
 
Kalau sudah begini, hilang simpati saya..
 
Pak Menteri Perhubungan, teruskan regulasi taksi OL. Banyak taksi OL  bodong diluaran sana hanya memanipulasi aplikasi.
 
Jakarta bukan penghuni yang cukup diatur dengan “Dipanggil, Ditata, Diajak bicara..” – lha cuma di “preeek” saja.
Advertisements

RAMBO MENOLAK BINTANG SATU


RAMBO MENOLAK BINTANG SATU sampai tiga kali..
 
Sekali tempo saat berada di kota Yogya Memang Ngangeni, kami harus menggunakan TeksiOL. Ini kali pertama merasakan layanan tersebut di kota Yogya. Rute yang kami pilih adalah “Catering Bu Nunuk” gang Pedawa (tanpa N), Sidomulyo, Sleman. Tujuan Ngaglik, Sleman km 8.5 jalan Kaliurang. Keponakan 212RN bermaksud mengajak saya melihat Sunset di kota Ngangeni.
 
Berapa biaya taksi yang harus dikeluarkan (Fare) sudah tertera dilayar HP- secara kami menyiapkan dua lembar nominal berbeda. Ini dimaksudkan agar sampai ditujuan, jangan sampai pak pir menunggu uang keringat, dan saya tidak kzl dapat jawaban “tidak ada kembalian”.
 
Cek list kecil dilakukan. Kamera full baterei. Ceklek, kamera saya coba, jangan sampai full batere tetapi SD Cardnya tertinggal (pernah).
 
Setelah semua okay, maka ceklik saya menekan BOOK. Butuh satu ronde tinju MMA sampai muncul pemberitahuan nama pengemudi sebagai Rambu namun saya samarkan sebagai Rambo. Dari peta riltaim di HP, Rambo nampak sedang menurunkan penumpang sebelum mengambil kami sebagai penumpang.
 
Dan saya siniew berulang keluar dari halaman mengecek apakah Rambo sudah datang atau belum.
 
Dua gadis usia 10 tahun entah dari mana “kurang saya perhatikan” sepertinya sudah lama bermain dihalaman melihat kelakuan “Non KAMSINI” lantas bertanya ramah “Bapak Cari Siapa?”.
 
Baru nyadari tingkah saya ini menarik perhatian orang, saya sadar tersadar kami ini tamu, dan dua gadis cantik cilik ini mengawasi lingkungan dengan cara mereka sendiri.
 
Begitu sampai di jalan besar (Gang Pedawa yang tanpa N), sebuah Avansa Hitam sudah sampai. Saya masuk kedalam, lalu mengajak teksi ke TKP menjemput toko sebelah a.k.a Remote Control.
 
Kami memang mahzab garis keras “Jangan Biarkan Mereka Menunggu”.. entah menunggu kalau rapat, sampai kalau hendak bepergian. Juga jangan sampai kang Teksi menunggu kami rogoh kantong seakan-akan baru tahu bahwa naik Taksi kudu bayar.
 
Belum lima menit taksi bergerak, mas Rambo nyeletuk lirih..”kalau semua pelanggan seperti ini, tugas taksi jadi ringan..” – lalu ia bercerita tentang pengalaman narik taksi dengan pelbagai karakter.
 
Umumnya pelanggan itu “SUKA” kalau melihat supir taksi menunggu.
 
Menunggu rampung Pasang Alis, ulas Lipen, menunggu buang Hajat Selesai, menunggu dengan kata “Mas di Toko Roti berhenti sebentar mau beli oleh-oleh, mas di Toko Buah saya lihat ada mangga bagus, mas di Alfa mampir saya perlu Aqua..” semua diluar perjanjian tak tertulis naik taksi.
 
“Dua tahun saya narik Online, sudah tiga kali diganjar tiga Bintang Satu”
 
Hanya karena Rambo bukan militer, maka anugerah Brigjen ini tak dikehendakinya. Rupanya penumpang yang suka kasih tambahan “job description” – juga suka menjadi Tidak Suka kepada Rambo yang memprotes bahwa ia bukan supir milik pribadi. Dan mereka menghukumnya dengan memberi bintang Satu – kalau ada minus Lima, bakalan diberikan pelanggan,
 
****
 
Yang tidak disangka, ia juga curcol bagaimana bertahun-tahun ia menikah, tinggal satu RT namun sang bunda seperti belum rela anak lelakinya pisah rumah.
 
“Padahal dari kerja di Jakarta, saya sampai balik ke Yogya untuk mendekatkan kepada beliau..” katanya lirih sekedar melepas unek.
 
Memasuki Jalan Kaliurang, saya memberi instruksi lokasinya setelah Pabrik Listrik, Pom Bensin. Begitu Pom bensin terlihat saya memberi nasihat, Bakso Cepot. Dan sonder banyak tanya nampak sebuah plang bertuliskan Jepang Kokuri Moiri (ngawur), dan gg Belimbing nampak disana. Di gang ini ada sungai lumayan deras, airnya jernih. Manakala berada disana saya berlatih memotret aliran air sampai mendapatkan “optic illusion” airnya menjadi kabut.
 
Tanpa diminta saya memberikan Bintang Lima, dan tentunya Tips. Sebetulnya babang Rambo juga memberi tip kepada saya walau tak pakai SOP-wer.
 
Tip yang saya dapatkan hari itu adalah begini.
 
Selama ini keluarga, kerabat selalu gerah (banyakan begitu) kalau bepergian dengan kami yang tergolong “THE EARLY BIRD” – Sampai-sampai merasa aneh terhadap diri sendiri.
 
Tapi babang Taksi, entah basa-basi atau tidak bagi kami ia memberikan BINTANG LIMA sebagai apresiasi terhadap penumpang yang tak membiarkannnya mencari Lokasi Pickup dan lokasi dropoff.
 
Yogya memang ngangeni. Dari kuliner, Wisata View sampai wisata bathin…
 
Keterangan gambar
#Babang Rambo
#Gang Pedawa a.k.a Gancahan 8
#Sungai jernih di jalan Kaliurang
 
Disclaimer: Cerita ini tidak ada sangkut paut dengan Rambo milik Atuknya UpinIpin yang tiga hari tidak pulang sebab jatuh cinta dengan betina lain kampung – dan berakhir dengan Rambo berjalan di depan upin ipin dengan langkah gontai dan kepala tertunduk sebab sang betina sudah siap angrem.

Keterangan gambar

#Babang Rambo
#Gang Pedawa a.k.a Gancahan 8
#Sungai jernih di jalan Kaliurang26733484_10213113674449529_387083657125404721_n26220026_10213113852973992_736590533272079955_n