Hitam Tua


Mbak Nani sekali tempo kepingin mencoba mewarnai rambutnya yang sebagian ditumbuhi uban putih.. Maklum saja usianya sudah kepala lima. Kelar keramas ia sudah siap memudakan rambutnya.

Sebuah mangkok hitam, sisir hitam nampak dimejanya. Setelah mencampur kedua tube “odol” pewarna dan mengaduk-aduknya. SESUAI DENGAN ETIKET pada sampul luar yang  ia baca.. ca13319947_10208073583370402_3906610281584538241_nmpurkan kedua “odol” dengan jumlah sama banyak lalu diaduk sampai merata.

Sebentar saja ia melihat adonan hitam pekat. Tapi ia masih belum puas, adukanpun ia aduk terus menerus.

Sambil mengaduk – ia mengenakan BEP berupa handuk untuk pelindung tubuhnya.

“PLEK..PLEK..”

Tak lama seluruh kepala wanita berambut sebahu ini  ditutupi mirip agar-agar sepekat dan sehitam aspal jalan. Ia melakukannya sendiri dibantu dengan sebuah cermin. Maklum selama ini ia selalu mengecatkan  rambut orang lain.

Asisten kamipun bahagia dengan penampilan barunya. Rambut putih menjadi hitam pekat, tebal kembali.

Sayang itu tidak berlangsung lama. Dalam hitungan jam – cat rambut mulai kehilangan daya sihirnya. Dan celaka dua belas  mending kalau balik menjadi uban – ini malahan  kecoklatan seperti Reza Artamevia sebelum menyeberang ke Padepokan Brajamusti.

Ini yang membuatnya kelabakan… dan berusaha mengembalikan ke uban aselinya

“dicuci pakai air hangat juga nggak menolong”.

Kalau biasanya beli satu dapat satu, mbak Nani beli satu dapat dua yakni warna hitam dan coklat pirang.

 

 

Advertisements

Hampir Semalam di Dago


Masih Hampir Semalam di Dago

Setelah memotret Memotret Dago di pagi dan di malam, kami segera meluncur untuik menemui kerabat dekat di kawasan Cigadung yang masih satu-luncuran juga dengan tempat menginap.
Setelah menilpun pihak “sana” dan diberi signal “86” sembari dapat pesan “pintu pagar sudah dibuka”..

Tidak banyak yang dilihat disini selain permukiman padat. Kecuali satu yang rada spesial komplek sekitar kediaman pak Ridwan Kamil. Tetapi “hardisk” saya hanya merekam Plang Nama Praktek Dokter .

Ketika Tour Guide dengan anaknya yang kebetulan cucu saya menunjukkan komplek kediaman pak Walikota Bandung yang mereka sayangi (dan saya juga kagum). Hardisk saya buka selebar mungkin agar bisa menangkap bahan buat menulis. Salah satunya adalah:

Melihat “Air Terjun” di komplek kediaman pak Ridwan Kamil..

Ditengah hujan lebat membasahi Bukit “Pakar” Dago, kendaraan harus berjalan lambat mengingat jalan yang cuma ngepas untuk dua mobil, berliku cukup tajam, namun gelap akibat malam dan hujan lebat disertai sedikit kabut..

Saat itulah nampak pemandangan berupa air terjun yang tinggi dan panjang disisi jalan..

Saya membayangkan mirip kisah Nabi Musa membelah lautan. Sambil mikir bagaimana kereta bisa lewat didasar laut yang mestinya sangat berpasir tebal tetapi benyek lumpur. Lalu hayalan hardisk berubah lagi bagaimana kalau lereng ini mendadak longsor mengingat sedang musim tanah bergolak.

Tapi kekaguman cepat sirna setelah diamati “air terjun” ternyata memang air banjir yang meluap dari bagian sisi tebing – saking guedenya banjir sampai bisa menipu mata seperti air terjun (hayalan hasil hardisk saya yang penuh).

Pantesan warnanya kecoklatan..

Tilang


Sepeda dengan tenaga baterai mulai banyak dipakai. Tanpa bahan bakar, dengan daya jelajah 60-70 kilometer cocock dipakai diperumahan. Namun ia termasuk bahan dengan motor sehingga pengguna ini bila masuk jalan raya tanpa HELM sudah termasuk pelanggaran lalu lintas. Seperti nampak pada gambar..

Oktober 2015

P1080764

Susahnya kalau Orangnya Satu HP-nya Banyak


Setengah harian saya berada di centra jual beli HP di Jakarta Barat - 
Roxy. Mereparasi perangkat BB saya. BB ini pernah kehujanan dalam 
backpack dan terendam air, tetapi masih digdaya. Tapi kok melihat Tato 
disana sini saya memutuskan ganti casing dengan yang "lisik" - mulus 
(citayam)

Pekerjaan yang dijanjikan 30 menit membuat saya memilih duduk sambil 
memperhatikan aktivitas "konter HP" sekeliling. Nampak sepi, nampak 
tidak mungkin meraup untung, nyatanya mereka tetap eksis dan "kaya". 
Tapi sebetulnya saya sedang memikirkan seorang konter HP mampu menulis 
Novel humor kehidupannya menjadi pelayan Konter.

Gedubrak...Seorang anak muda datang - langsung merangsek disebelah saya 
dengan meletakkan sebuah BB bergaransi dan sebuah Galaxy 1 yang masa 
garansinya selesai pada bulan Mei 2013. Ia bermaksud "barter" tetapi ia 
masih harus nombok 1 Satu Setengah Juta+ satu perangkat BB97. Eh rupanya 
dia tergolong pelanggan kecomelan - “*KoH Guwa denger elo ambil master 
di Mining Australia, ngapain cuma jualan HP?*” -

Si Counter kecut menjawab “*bosen: kerja di Pertambangan...*”

Saya seperti tersentil... Sial bener...

Lalu saya gantian menyahut - Maap kata nih (ikutan karakter haji 
mahyudin) ..Aku ngebleng (blank) soal Note1 apalagi Note2, bedanya apa 
sih sampai anda rela tukar BB dan cash 1,5 juta untuk barter ala tawuran 
(ada barter masih pakai duit).

Jawabannya- “Pekerjaan pak!” - kalau designer - butuh yang bisa 
“ngegambar..”

Lalu matanya dan telunjuknya mengarah ke layar HP. Terdengar suaranya 
kakak kekek.. Lho kok mirip Angry Bird. Anggap saja dia designer game 
Smartphone.

Perasaan badan saya sudah tipis digesek oleh pengunjung lain yang lalu 
lalang di kawasan mirip gang senggol. Tapi BB belum kelar-kelar juga. 
Seorang peempuan bawa baki menyeruduk di- Gang Senggol - sambil 
menawarkan "Makan Siang- Bisa di antar!"

Saya membolak balik address HP saya, hasil koleksi puluhan tahun, bisa 
menghasilkan sekitar 2 ribu alamat. Tidak yakin sebagian masih eksis. 
Sebagian hasil kopi dari Simcard yang dulu cuma bisa 100 alamat dan 
tulis nama musti singkat.

Untuk alamat Rumah Sakit saya sukses secara idiot mulai dengan awalan “R”

Rumah Sakit Hermina

Rumah Sakit Hernia

Rumah Sakit KO

Rumah Sakit BAB

.... dan seterusnya.. Akibatnya kalau saya tekan "R" musti berkutat 
lama. Klinik masuk rumah sakit, pangkalnya "R:"

Lalu karena pergaulan saya dikalangan ibu-ibu teman istri, maka saya 
tulis alamat mereka sebagai:

Bu Siti

Bu Romlah

Bu Bakir 1

Bu Bakir 2 - Kalau Bu Bakir punya Hp lebih dari satu.

...dan seterusnya akibatnya kalau mau cari nama seorang ibu saya harus 
padat merayap mencari satu persatu...

Giliran mengidentifikasi HP istri yang serenteng, terpaksa saya memberi 
kode providernya..

Istri XL

Istri S(untuk Simpati)

Istri M (untuk Mentari)

Tapi yen dipikir-pikir ini istri apa ukuran sandal jepit...

Saya ganti lagi dengan memberi nomor urut..

Istri 1

Istri 2

Istri 3

Istri 4

Giliran HP ke lima saya kebingungan (kan biar adil boleh cuma 4), 
apalagi kesannya saya seperti "tweeter" pengusaha Ayam Bakar dari 
Surakarta.

Jadi untuk HP yang terakhir milik istri saya tulis begini..

“Istri SIMPA”

Persoalannya - kalau tilpun berdering dari HP ke lima -munculnya

Istri SIMPA... Istri Simpa...dan sering otak ini meneruskan Istri 
Simpanan....

Padahal saya ya dari Genus Erectus Monogamikus.

Laptop papan atas


Kalau anda punya duit, tapi bingung mau dikemanakan. Mari sini saya bisiki. Bagaimana kalau dibelikan Laptop. Mungkin dunia komputer jinjing masih berkutat dinomor seperti Dell, HP, Toshiba, Acer. Tapi bagaimana dengan komputer jinjing berlogo bunga Tulip. Sudah itu model yang dijual adalah E-GO yang ternyata bukan mengambil kata Ego bukan berarti Egois melainkan singkatan dari Easy Going.
Sayang tidak seperti namanya, komputer jinjing buatan Belanda ini mematok harga yang ck,ck,ck yaitu US$ 350 ribu. Lantas apa kehebatan kompi semahal itu mengingat teknologinya yang tidak “wah“. Sebuah webcam yang konon bisa berfungsi sebagai cermin terutama bagi pemilik yang pesolek kosmopolitan, layar 12 inci, DVD, Wireless semua peralatan komputer standar. Jangan kepikiran teknologi duo core sudah ditanam disana.
Rupanya desain yang bikin mahal adalah lapisan platinum dan hiasan berlian. Memang sih kalau komputer ini dijinjing mirip sebuah tas tangan ketimbang laptop yang terkesan serius dan kutu buku. Apalagi ada design bak zebra, kulit kayu, kulit aseli.
Kalau angka diatas membuat kocek terasa seperti pungguk merindukan bulan, maka tidak ada salahnya melirik laptop masih “saudara jauh pungguk” milik seorang pengusaha catering Indonesia, 31, Naomi Susan. Ia memang penggemar berat laptop. “Ini modal saya membangun usaha..” – sambil mengelus laptop berlapis emas 23 karat dan berbalut berlian.
Konon laptop ini diperoleh dari lelang seharga 116 juta rupiah. Menurut majalah Gatra, dalam usia semuda itu ia sudah memperoleh yang oleh sementara orang seumurnya masih separuh hayalan dan sisanya realita. Mau apartemen di luar kota, sedan di eropa, berlibur ke luar negeri, membawahi 1000 pegawai. Semua diakuinya hanya berasal dari laptop.
Lho apa hubungannya ?. Laptop bagi Naomi adalah kantor. Disitu ia mengoleksi database dan alamat email serta nomor tilpun orang yang pernah dikenalnya. Dari nomor kontak dan email, ia mengetahui kebutuhan pelanggan dan mulai menyiptakan ide-ide dagang yang cemerlang.Laptop memang sudah menjadi bagian dari kehidupan sementara orang. Maka tak heran, rata-rata orang Amerika jika disodori pertanyaan “kalau rumah tinggal anda terbakar, apa yang anda selamatkan pertama kali?” mereka akan menjawab laptop. Sebab laptop jaman sekarang berisikan semua catatan penting mulai dari nomor kontak, daftar gaji, salinan kontrak kerja seperti halnya laci meja kerja dan filing cabinet kita.

Bu Sabar


Bagi yang doyan di pijat, maka kebutuhan yang satu ini memang bisa membuat kecanduan. Ada yang mampu membuat sakit tapi enak lantaran pijatan refleksi di telapak kaki yang membuat “unyeng-unyeng” di kepala seperti tercabut. Dan tak sedikit yang mampu menyisakan bilur biru sehingga alih-alih nikmat malahan memar yang diperoleh.

Kendati kerap ketanggor pemijat amatiran yang “nyiksa” entoch sebulan sekali tidak ditangani ahli pijat, maka badan seperti ngilu dan loyo mencari pemijat untuk meluruskan otot yang bengkok.

Salah satu profesional, sebut saja Ibu Sabar 45tahun, wanita jawa timur kurus namun jarinya masih “roso-roso” urusan memencet ujung kaki membuat tubuh mengejang kesakitan, dan setelah itu muncul rasa nyaman.

Ia memang jagonya totok darah dan pijat refleksi.

Sebelum menjadi pemijat, bu Sabar adalah istri seorang pegawai negeri cukup terpandang sehingga terbiasa dihormati, dan mendapat pelayanan jalur khusus.

Saat itu ibu Sabar hanya sebagai ibu rumah tangga mendampingi sang suami. Ekonomi rumah tangga mulai gonjang ganjing tatkala suami memutuskan mempercepat masa pensiunnya. Menyoba berbisnis dan jeblok.

Celakanya ada yang masih menganggap dunia ini tidak mengkal-mengkol alias lurus.

Bawaan saat masih jaya “masih di kesatuan” seperti beras, lauk pauk, minyak datang tiap bulan masih susah terhapus dalam benak.

Dan lebih runyam lagi, sang El-Kapitang rumah tidak mengijinkan para makmum mencari tambahan dengan berjualan atau memanfaatkan keahliannya. Jalan cerita yang klop dijadikan sequel sinetron “mantan pejabat”.

Lalu melalui gerakan tutup mulut bu Sabar coba berdagang makanan di Pasar Induk. Maksudnya agar bisa menopang asap dapurnya. Sekali tempo, suami menangkap basah bu Sabar sedang berjualan. Barang dagangan dijungkir balikkan lantaran sebagai mantan pejabat ia merasa malu akan gunjingan tetangga dan relasi.

Tetapi seperti namanya ia tetap ibu Sabar, dan masih nekat berjualan penganan dengan modal yang dipepet paling banter mampu membeli lima kilogram singkong yang di parut dan dijadikan penganan. Kalau penganan ini tersisa, maka dagangan dititipkan kepada tetangga agar terhindar dari deraan sang pemimpin rumah tangga.

Dari beberapa pihak yang prihatin akan rumah tangga mereka, disamping ada yang “nyukurin” terselip seorang Rosa yang mata lahirnya melihat jari tangan perempuan ini nampak kekar, kendati tubuhnya kerempeng.

Modal bagus menjadi ahli refleksologi..” batin Rosa.

Hatta, Rosa membawa Ibu Sabar keteman-temannya yang banyak mengetahui seluk beluk ilmu totok darah dan refleksi, tak lupa ilmu mengurut. Rosa sendiri seorang janda yang ditinggal suami dan anak dalam keadaan morat-marit urusan “Kampung Tengah” maksudnya masih berkutat urusan perut. Dasar perempuan pintar, bu Sabar menjadi perempuan mumpuni refleksi dan urut.

Dan asap dapur tetap mengepul mengirimkan aroma harum masakan.

Mungkin kita akan kepikiran, nelangsa betul hidup perempuan ini. Tapi jangan salah. Anda akan terheran kalau dari mulut perempuan bersuara lirih ini muncul pengakuan, inilah jalan yang harus dilakoni demi sebuah kepercayaan akan karya penyelamatan. Sambil bercerita kadang tangannya terangkat ke udara seperti akan menerima bayi, atau kadang didekapkan ke dadanya.

Twaaang” – ubun-ubun saya menggelembung. Secara reflek kaki kanan saya tertarik. Rupanya saraf kaki kena mengirim signal sakit akibat tekanan stik refleksinya. Waduh buyar sudah ilmu “interogasi” mengorek sebagian kehidupan bu Sabar.

Kalau kata lagu, dia itu perempuan Jantan!

Namun ada seorang ibu Rosa yang sering menitikkan air mata. “Saya orang susah, masih ker-ker-tok (eker-eker-patuk), artinya cari makan hari ini, dihabiskan ini hari, tapi bahagia melihat teman saya bisa bangkit dari keterpurukan ekonomi rumah tangganya..

Iyalah bu. Menolong orang tidak perlu menunggu uang bejibun. Hutang rumah lunas, anak sudah besar dan lulus semua. Atawa ekonomi stabil terkendali.  Never happened. Pokoknya Now or never kata Elvis Presley.

Mimbar Bambang Saputro

Balada mbak Imah


Pulang mudik lebaran, usai mengunjungi sanak saudara, menyekar makam para leluhur. Melihat pagar rumah berdebu, tanaman hias mengering karena musim kemarau berkepanjangan, dedaunan yang kering dihalaman. Tuntas sudah ritual tahunan. Beberapa hari lagi akan kembali ke kantor, kembali ke aktivitas “normal” sehari-hari. Lemas tapi puas. Sementara Gubermen Jakarta tak putus menghimbau agar para pemudik, tak membawa pasukan urban ke Jakarta.

Tapi eit.. tunggu dulu. Tidak sepenuhnya benar sinyalemen bahwa para pemudik membawa teman sekampung ke Jakarta.

Buktinya, pembicaraan para ibu masih berkisar para Kitchen Kabinet yang belum nongol dari kampungnya. Mereka yang selama ini mendapat multi predikat “masak sering gosong, sayur terlampau asin, ngepel lantai basah kuyup, nyapu tidak sampai kolong, boros deterjen, dapur penuh kotoran dan minyak ” – maka pada hari itu menjadi sosok dewi penolong yang sangat dinantikan, melebihi kedatangan Bush ke Hotel Salak- Bogor pada 20 Nopember 2006. Lebih celaka lagi handphone yang mereka bawa dari Jakarta seperti tidak bisa dihubungi. Kemana gerangan berita Cicih, Irah, Kadi, Mistok, Nanik (pakai K).

Tunggu punya tunggu, masuk juga laporan dari beberapa pihak. Cicih janda beranak tigar ternyata berniat balik kepada suaminya. Pupus sudah luka batin tatkala beberapa tahun lalu saat darah akibat melahirkan belum mengering, air susu masih muncrat segar buat orok anak mereka yang ke tiga, suaminya sudah merat meninggalkannya lantaran jatuh di pelukan orang lain. Cicih terdampar di Jakarta sebagai PRT dan bekerja pada keluarga kami sampai sekarang.

Orangnya bersih, profesional dan seperti bisa membaca pikiran kita. Baru mau ambil pen, dia sudah datang menyodorkan ballpoint. Rupanya mantan suami (berlagak) tohobat di hari Fitri dan mengajaknya kembali satu atap. Alasannya belum bercerai. Pasal tak memberi nafkah lahir bathin selama bertahun, seperti terlupakan. Apalagi sejak bekerja di Jakarta Cicih mampu menabung untuk membeli kalung dan giwang. Cicih bukan perempuan yang dulu, kini ia sudah mandiri dan nampak berduit.

Sebagai perempuan lugu, Cicih luluh akan rayuan sang mantan tak perduli nasihat para rekannya. Bahwa Cicih akan membiayai anak-anaknya, dan anak dari madunya. Sang suami melontarkan jurus Naik Kuda Lama, sembari memetik Padi. Ini namanya dapat service Bathin dan Lahir. Inilah tarik menarik molekul kimia yang susah di dijabarkan.

Sementara Irah, kendati sudah dilarang oleh orang tuanya, nekad juga beserta temannya Imah dan yang lain ke Baturaden. Maklum hanya setahun sekali. Irah hanya telat beberapa jam ketika dipenghujung jalan melihat raungan sinire dan jeritan korban jembatan gantung putus. Baru ia ingat larangan orang tuanya.

Atau sebut saja Imah,17, yang kali ini berniat tidak pulang kepada Nyonyah dan Toean lamanya. Tapi Imah belum punya “pemilik” baru, maka seperti lagu lama. Ia datang ke rumah beserta Irah, dalam hal ini ke rumah saya. Bukan mainya gembira mereka dengan bahasa “Ngapak bin Tegal” berbicara sambil sebentar-sebentar tilpun berdering dari sohibnya. Kami cuma kuatir ia keburu betah di sini, sementara kami tidak membutuhkan tenaga tambahan.

Kok kebetulan, sebuah keluarga tanpa anak curhat lantaran kebingungan lantaran mbak Inah asistennya meminta PHK. Maka otak berputar cepat Imah ditawari pekerjaan baru, di keluarga tanpa anak. Klop, apalagi nama mirip.

“Saya mau kerja kalau tidak ada anak kecilnya…”

Tidak masalah Imah, mereka belum punya anak.

“Tapi, saya tidak mau ada anjing…. sebab tuwan saya dulu pelihara anjing…”

Hm agak repot memang, tetapi kan anjing bisa masuk kurungan, biar pemilik yang memberinya makan.

“Tapi saya minta gaji…..,” lalu ia menyebut angka mendekati setengah jeti.

Tidak masalah Imah…Masih standar…

Maka, setelah semalaman masa orientasi di rumah, keesokan harinya dengan semangat ORMAS mengganyang toko kecil yang jualan miras, Imah diantar ke majikan barunya…

Di tempat yang baru, Imah langsung pegang sapu, memperkenalkan diri. Selesai menyapu, ia minta ijin kepada tuan yang hari itu sengaja tidak kekantor untuk menyambutnya. Maka belia bertubuh jumbo ini menilpun “kakaknya” – dan dramapun mulai.

Begitu tilpun diletakkan, Imah mengajukan MOU baru, pertama dalam setahun ia dua kali cuti masing-masing sepuluh hari. Juga kalau ia kawin (pengakuannya sudah tunagan cowoknya), harus diberi cuti nikah.

Butir kedua, Imah mengatakan ia tidak suka dan tidak bisa memasak…

Sang tuan hanya terdiam sebab urusan kitchen kabinet diluar wewenangnya. Tapi itu bisa diatur, mereka hanya perlu orang menunggu rumahnya.

Baru saja Imah akan ditinggal sendiri, mungkin ia menyadari akan sendirian bersama dua anjing yang dikandang. Langsung ia meraih tilpun dan berani sang Nyonya barunya yang sedang rapat. “Nyonya harus pulang, kalau tidak saya mau pulang, saya tidak mau kerja sendirian…”

Akhirnya sekalipun semua permintaan (kecuali eutanasia anjing) dikabulkan, Imah makin berani. Dia bahkan minta agar Nyonya rumah berhenti bekerja, menemaninya…

Kesabaran tuntas sudah, belum 24 jam dia sudah bukan main persyaratannya. Akhirnya vonis datang “okey kamu boleh meninggalkan rumah ini kalau kamu tidak suka…”

“Saya minta ganti rugi, saya minta diantar ke rumah temannya di Grogol..”

Masih disabarkan akhirnya, dari suatu kawasan di Bekasi, supir secara khusus mengantarkannya ke sebuah alamat di jalan Makaliwe Grogol.

Ini episode berjudul “memanusiakan orang yang gagal..”

Kadang, kalau ketanggor majikan yang paceklik-sabar ditambah ada unsur sadis, tidak heran mendengar ada pembantu disetrika, dipukuli. Alasannya “tidak tahu dielus” malahan mau ngaprus (mukul).

Cerita menahun pengiring lebaran.


11/3/2006
Mimbar Bb. SAPUTRO
Text Msg: +62811806549

You must not lose faith in humanity. Humanity is an ocean; if a few drops of the ocean are dirty, the ocean does not become dirty.- Gandhi