RAMBO MENOLAK BINTANG SATU


RAMBO MENOLAK BINTANG SATU sampai tiga kali..
 
Sekali tempo saat berada di kota Yogya Memang Ngangeni, kami harus menggunakan TeksiOL. Ini kali pertama merasakan layanan tersebut di kota Yogya. Rute yang kami pilih adalah “Catering Bu Nunuk” gang Pedawa (tanpa N), Sidomulyo, Sleman. Tujuan Ngaglik, Sleman km 8.5 jalan Kaliurang. Keponakan 212RN bermaksud mengajak saya melihat Sunset di kota Ngangeni.
 
Berapa biaya taksi yang harus dikeluarkan (Fare) sudah tertera dilayar HP- secara kami menyiapkan dua lembar nominal berbeda. Ini dimaksudkan agar sampai ditujuan, jangan sampai pak pir menunggu uang keringat, dan saya tidak kzl dapat jawaban “tidak ada kembalian”.
 
Cek list kecil dilakukan. Kamera full baterei. Ceklek, kamera saya coba, jangan sampai full batere tetapi SD Cardnya tertinggal (pernah).
 
Setelah semua okay, maka ceklik saya menekan BOOK. Butuh satu ronde tinju MMA sampai muncul pemberitahuan nama pengemudi sebagai Rambu namun saya samarkan sebagai Rambo. Dari peta riltaim di HP, Rambo nampak sedang menurunkan penumpang sebelum mengambil kami sebagai penumpang.
 
Dan saya siniew berulang keluar dari halaman mengecek apakah Rambo sudah datang atau belum.
 
Dua gadis usia 10 tahun entah dari mana “kurang saya perhatikan” sepertinya sudah lama bermain dihalaman melihat kelakuan “Non KAMSINI” lantas bertanya ramah “Bapak Cari Siapa?”.
 
Baru nyadari tingkah saya ini menarik perhatian orang, saya sadar tersadar kami ini tamu, dan dua gadis cantik cilik ini mengawasi lingkungan dengan cara mereka sendiri.
 
Begitu sampai di jalan besar (Gang Pedawa yang tanpa N), sebuah Avansa Hitam sudah sampai. Saya masuk kedalam, lalu mengajak teksi ke TKP menjemput toko sebelah a.k.a Remote Control.
 
Kami memang mahzab garis keras “Jangan Biarkan Mereka Menunggu”.. entah menunggu kalau rapat, sampai kalau hendak bepergian. Juga jangan sampai kang Teksi menunggu kami rogoh kantong seakan-akan baru tahu bahwa naik Taksi kudu bayar.
 
Belum lima menit taksi bergerak, mas Rambo nyeletuk lirih..”kalau semua pelanggan seperti ini, tugas taksi jadi ringan..” – lalu ia bercerita tentang pengalaman narik taksi dengan pelbagai karakter.
 
Umumnya pelanggan itu “SUKA” kalau melihat supir taksi menunggu.
 
Menunggu rampung Pasang Alis, ulas Lipen, menunggu buang Hajat Selesai, menunggu dengan kata “Mas di Toko Roti berhenti sebentar mau beli oleh-oleh, mas di Toko Buah saya lihat ada mangga bagus, mas di Alfa mampir saya perlu Aqua..” semua diluar perjanjian tak tertulis naik taksi.
 
“Dua tahun saya narik Online, sudah tiga kali diganjar tiga Bintang Satu”
 
Hanya karena Rambo bukan militer, maka anugerah Brigjen ini tak dikehendakinya. Rupanya penumpang yang suka kasih tambahan “job description” – juga suka menjadi Tidak Suka kepada Rambo yang memprotes bahwa ia bukan supir milik pribadi. Dan mereka menghukumnya dengan memberi bintang Satu – kalau ada minus Lima, bakalan diberikan pelanggan,
 
****
 
Yang tidak disangka, ia juga curcol bagaimana bertahun-tahun ia menikah, tinggal satu RT namun sang bunda seperti belum rela anak lelakinya pisah rumah.
 
“Padahal dari kerja di Jakarta, saya sampai balik ke Yogya untuk mendekatkan kepada beliau..” katanya lirih sekedar melepas unek.
 
Memasuki Jalan Kaliurang, saya memberi instruksi lokasinya setelah Pabrik Listrik, Pom Bensin. Begitu Pom bensin terlihat saya memberi nasihat, Bakso Cepot. Dan sonder banyak tanya nampak sebuah plang bertuliskan Jepang Kokuri Moiri (ngawur), dan gg Belimbing nampak disana. Di gang ini ada sungai lumayan deras, airnya jernih. Manakala berada disana saya berlatih memotret aliran air sampai mendapatkan “optic illusion” airnya menjadi kabut.
 
Tanpa diminta saya memberikan Bintang Lima, dan tentunya Tips. Sebetulnya babang Rambo juga memberi tip kepada saya walau tak pakai SOP-wer.
 
Tip yang saya dapatkan hari itu adalah begini.
 
Selama ini keluarga, kerabat selalu gerah (banyakan begitu) kalau bepergian dengan kami yang tergolong “THE EARLY BIRD” – Sampai-sampai merasa aneh terhadap diri sendiri.
 
Tapi babang Taksi, entah basa-basi atau tidak bagi kami ia memberikan BINTANG LIMA sebagai apresiasi terhadap penumpang yang tak membiarkannnya mencari Lokasi Pickup dan lokasi dropoff.
 
Yogya memang ngangeni. Dari kuliner, Wisata View sampai wisata bathin…
 
Keterangan gambar
#Babang Rambo
#Gang Pedawa a.k.a Gancahan 8
#Sungai jernih di jalan Kaliurang
 
Disclaimer: Cerita ini tidak ada sangkut paut dengan Rambo milik Atuknya UpinIpin yang tiga hari tidak pulang sebab jatuh cinta dengan betina lain kampung – dan berakhir dengan Rambo berjalan di depan upin ipin dengan langkah gontai dan kepala tertunduk sebab sang betina sudah siap angrem.

Keterangan gambar

#Babang Rambo
#Gang Pedawa a.k.a Gancahan 8
#Sungai jernih di jalan Kaliurang26733484_10213113674449529_387083657125404721_n26220026_10213113852973992_736590533272079955_n

Advertisements

CANDI IJO


Candi Ijo kalau menilik namanya kemungkinan besar candi Hindu ini diambil dari nama Bukit Ijo yang memiliki ketinggian 420m diatas muka laut. Kawasan ini masuk kampung atau Ndusun Groyokan, desa Sambirejo, Prambanan.

 

Lalu saya baca penjelasan dimuka candi. Berdasarkan Prasasti Poh ada disebut menyebut bahwa pada tahun 906 Masehi sudah ada desa bernama WuangHijo.

Prasasti POH menyebut sebuat upacara yang dilakukan didesa bernama WuangIjo. Persoalannya Prasasti Poh cuma cerita bahwa jaman itu sungai diluruskan.

Namun Candi ini sempat menghilang terkubur. Untunglah Orang Belanda yang secara kebetulan menemukan gundukan batu yang ternyata candi. Saat itu dia sedang mencari lahan untuk tanaman Tebu.

Belanda VOC itu namanya HE Doorepaal pada 1886. Ia melihat bahwa struktur candi terdiri dari 11 Undakan dan 17 group candi.

Dari situ keluar istilah candi A sebagai Candi Utama dan candi kecil dinamakan Perwara B,C,D.

Saat ini proses restorasi sisa candi masih berlangsung sekalipun  kadang On Off, misalnya ada gempabumi, yang menyebabkan beberapa bagian candi rusak.

Candi Ijo menjadi terkenal sejak kota Prambanan, diperkenalkan Obyek wisata Tebing Breksi. Pengunjung tebing akan dapat membaca spanduk ke Candi Ijo. Lalu pemda setempat mengecor jalan sehingga mobil atau motor mudah mencapai arah sana.
Spot yang elok untuk penggemar selfi berlatar belakang Yogya, Candi, bahkan kadangkala pesawat yang hendak mendarat.
Di pelataran parkir candi Ijo ada panggung spot untuk berfoto. Hati-hati, pagar kayu, tidak ada pengawas keselamatan kecuali kotak sumbangan yang menuntun anda naik ke spot.
Karena masih banyak temuan-temuan maka anda bisa menyaksikan bagaimana sebuah proses penggalian dan restorasi dilakukan.
Sayangnya, Candi ini tidak ramah DRONE

Alumni Mana?


Keponakan saya, tahu persis betapa antusiasnya keluarga kalau sudah mendengar kata “Ke Yogya.”
Alen-alen, Gedang Kepok, Gula Jawa, Tempe daun Jati, entah apalagi kalau dari Yogya itu rasanya harus ditambahkan kata Magik.. Alen Magik, Gedang Magik saking top markotop rasanya.
 
Barang siapa saja yang pernah tinggal di Yogya bakal memiliki sentimen  dan agen dari anasir alumni  “Yogya Itu Ngangeni“.
 
Lha kalau aku, fanatik kota apa ya?” – mau ngaku anak Bandung, sepertinya kejauhan.
 
Mau ngaku anak Sumedang Kota Tahu , juga Bukan.
 
Dia kuliah di Nangor. (Foto paling kiri)

Selamat Tinggal Kota Gudeg dan Gudeg yang ketinggalan


SELAMAT TINGGAL KOTA GUDEG – dan GUDEG yang Ketinggal.26169757_10213098458229133_4130238861590105427_n
 
Setelah beberapa berada di kota Gudeg Yogyakarta, sejak akhir tahun 2017,  tibalah saatnya meninggalkan kota yang selalu mebuat adrenalin berpacu setiap mendengar postingan di medsos mengenai kota ini.
Kami menggunakan jalan darat, dan pagi itu setelah pamitan tidak lama sudah meninggalkan kota Yogyakarta, menuju Jakarta melalui jalur Magelang. Ada yang pesan getuk Trio Magelang dan Wajik Week serta Bakpia Kurniasari.
 
Ada sekitar 40 menit, disebuah kota menjelang Muntilan, tilpun saya terbaca pesan “Assalamualaikum pak Mimbar, saya “Agus” sedang menuju ke Gancahan..”.
Lha kok ada pesan lain.
Pesan ke dua “Asalamualaikaum bapak, saya Yuli menuju ke rumah di Bekasi..
 
Celaka dua belas kali dua … Dua-duanya tidak bisa saya akomodasi..
 
Buru-buru saya tilpun balik..
 
Ada dimana pak?, saya sedang menuju nih…” kata rekan yang tinggal di Tentara Pelajar ini terputus-putus pertanda ada dalam kendaraan yang melaju.
 
Saya bingung.. nama kota belum terbaca kecuali ada warung dipinggir jalan tulisan MENERIMA PEKERJAAN NAFTOL… oh iya Medari..
 
Enteng tanpa beban, “maaf mas Agus saya sudah di perjalanan.”
 
Suaranya terdengar kecewa..Saya bisa memakluminya.  Mas Agus ini salah satu dari pernah menjadi tim saya. Ia direkrut karena memang reputasinya diperusahaannya terdahulu sudah bagus (bajak deh). Yang tidak bagus, selalu saja “ewuh pakewuh” dengan merasa aku ini berjasa dalam karirnya.  
Sudah dijelaskan berulang bahwa saya juga berhutang budi sebab bisa menjalankan peran sebagai pimpinan yang dibayar kantor untuk mencari karyawan terbaiknya.
Tapi ada juga sih mantan karyawan yang saat anak bungsu saya menikah saya kirim undangan via WA – membalas OK atau Maaf tidak bisa hadirpun, merasa terlalu berat baginya.
 
Namun yang lebih bikin hati saya flu berat ketika dalam suara kekecewaannya dia bilang “Lantas bagaimana nasib Gudeg kesukaan Pak Mimbar…” – Lha kok tahu saya suka Gudeg.
 
Yang itu sakitnya masih ada disini…
Dan saya menukas dengan Beban Berat…
“Haduh… ” sambil gleg..gleg.. mengelus jakun…
Tercium aroma sangit areh kelapa, suwiran ayam, kerecek, bau daun salam. Wasalam Gudeg.

Bantal dari Kayu Kapuk


Makam Kiyai Wirojombo Dono Murah Yogyakarta

Adat kebiasaan keluarga (istri) manakala ke Yogya adalah mengunjungi makam lelulur yang kebetulan dimakamkan di komplek makam Suruh, Ganjahan, Sidomulyo, Yogyakarta.

Teladan ini diturunkan dari satu generasi ke generasi sehingga tidaklah lengkap datang ke Yogyakarta tanpa menyambangi “sarean” alias makam.

Saat berada di makam biasanya sesepuh mulai menceritakan perbuatan ahli kubur semasa hayatnya. Saya juga menyaksikan satu persatu tokoh yang biasa bercerita menjadi penghuni makam tersebut.

Masih dalam ring satu dari komplek makam terdapat satu cungkup besar makam Kiyai Wirojombo Dono Murah.

Menurut silsilah yang tertera pada dinding makam sejarah dimulai dari Prabu Brawijaya V di Majapahit yang menurunkan Bondan Gejawan, berikutnya Ki Ageng Getis Sendowo, Ki Ageng Selo, Ki Ageng Nis, Ki Ageng Pemanahan, Panembahan Senopati, prabu Hanyakrawati alias Pangeran Sedakrapyak, Sultan Mangkurat Agung Hanyokrokusumo, Mangkurat Agung I, Pakubuwono (Pangeran Puger), Mangkurat IV sampai Kiyai WIrojombo Dono Murah.

Namun entah mengapa Kiyai Wirojombo sampai dimakamkan diluar wilayah kraton.

Berpuluh tahun saya ke makam ini terkadang malam hari, memang saya lihat banyak orang laku tapa atau tetirah atau tirakat pada makam leluhur Jawa. Para peziarah biasanya melakukan tirakat dengan meletakkan kepalanya pada potongan kayu kapuk ini sambil melantunkan doa dan niat kedatangan mereka bertafakur disana.

Lama-kelamaan kayu kapuk seperti terkikis membentuk lengkung yang pas dengan ukuran kepala manusia.

Setelah menyampaikan doa dan menabur kembang di makam keluarga, kebiasaan istri diam-diam mencari bunga kemboja bertajuk empat atau enam (langka) yang biasanya banyak terdapat sekitar makam Mbah Wirojombo.

Yang tidak disangka-sangka, entah darimana muncul dua lelaki sambil membawakan dua petik bunga kamboja dan mendekati istri “meniko kulo gadah kalih,” – “ini saya dapat dua yang aneh..” – tentunya dengan ditukar sejumlah uang. Padahal mencari bunga seharusnya dilakukan secara diam-diam.

Bisa jadi ketika saya merangkak memotret diantara makam sebetulnya mereka mengetahui perbuatanku – hanya tidak menegur.

Jaman revolusi, kawasan ini dipakai persembunyian para pejuang kita dan konon pasukan Belanda seperti terkena ajian panglimunan, mereka tidak sadar bahwa Gerilyawan republik bersembunyi dalam makam ini.

Sebuah makam lama, sampai dipasang tiang bambu runcing yang terbuat dari potogan pipa dan diujung pipa yang tajam disematkan bendera merah putih berbentuk segitiga terbuat dari plat besi tipis. Pada bagian bendera tertera “Pejuang”.

Hanya – sesuai dengan kemajuan jaman. Suasana hening makam sedikit berkurang sebab tidak jauh dari TKP sekelompok pemancing asyik dengan hobinya sehingga terkadang mereka melepaskan lelah di makam sambil bersenda gurau.

Tongseng Soraren van Pasar Bibis Yogya – kegemaran pak Harto


Kursi yang papannya mengkilat karena kerap diduduki

Siapa mengira bahwa bangun kedai teramat sederhana ini dulu tempat mantan orang nomor satu kita Soeharto menghabiskan waktunya sambil menyantap tongseng, gule dan teh manis hangat dan wangi.

Atau logikanya kita putar, barang siapa ingin hidupnya tenar, maka makanlah sate dan tongseng daging kambing racikan kedai bersahaja ini. Sengaja saya tulis urusan “hokkie”  lantaran bangsa kita kalau sesuatu ada urusan dengan Hokkie, bakalan dikejar sampai manapun.

Di ujung pasar Bibis – Godean Yogyakarta saya melihat sebuah warung tongseng entah mengapa tertarik untuk memasukinya. Pintu masuknya sekedar papan yang disusun tegas bersebelahan. Saya ingat dengan papan amben (ranjang) yang biasa dipasang dibawah  kasur jaman dulu, atau kemiripan dengan usaha bengkel sepeda jaman beheula.

Ibu ini pewaris "gubug reyot" - sangat bahagia sepanjang hayatnya pernah menemani sang ayah ke Cendana

Warung nampak sepi, padahal jam makan siang sekitar pukul 13:00 siang.

Seorang lelaki kecil kurus berkaos oblong “bermerek” sebuah ban sepeda, ditemani isteri dan seorang anak kecil nampak menanti kedatangan pembeli.

Lalu saya pesan Tongseng pada bu Warso, yang mengaku bahwa ia dan suaminya meneruskan usaha sang ayah, Karta atau lebih dikenal pak Senen.

Pak Senen sendiri  sudah berusia lanjut yaitu 90 tahun lebih banyak waktunya dihabiskan dipembaringan.

Iseng saya menanyakan nama resmi warung ini. Ternyata sejak didirikan tahun 1948-an, pak Senen tidak pernah memberi nama pada warungnya kecuali kecuali para tetangga menyebutnya warung SORAREN.

Ini bahasa Jawa dari Ngisor Aren alias bawah pohon Aren (kolang kaling, buah atep, betawi). Bahkan sebelum ganti jalur sate, pak Senen terlebih dahulu dikenal sebagai pengolah masakan Tahu Campur yang kondang.

Sambil mengamati ruang seluas 3×3 meter, beratap genting dengan empat buah genting kaca sehingga cukup untuk penerangan ruangan.  Dua buah bangku kayu besar, mengkilat karena digesek ribuan kali mengalami jaman pendudukan sampai kini oleh pembeli. Lalu saya memperkirakan dimana jejak pak Harto pernah duduk disini. Terbayang senyumnya sehinga ia digelari The Smiling General. Seperti juga penduduk Blitar terhadap bung Karno, penduduk sini sangat hormat menyebut pria yang pernah memperkenalkan kampung halaman mereka.

Dinding anyaman kulit bambu (gedeg) yang besar dan hanya dikapur putih seperti memperkuat dugaan bahwa pemilik warung ini bisa jadi memang sudah terlalu letih mengais nafkah di bidang sate dan tongseng.

Saya memesan 10 tusuk sate dan tongseng sambil memasang mantera untuk mengorek informasi dari seseorang.

Jujur saja, saya agak grogi kalau harus berbahasa Jawa. Ketiak saya rasanya basah. Kalau pakai baju putih lantas dipotret pasti seperti mengenakan baju tambalan di bawah ketiak. Sialnya dari tulang ekorpun seperti soldaritas aksi meneteskan asam keringat. Orang Jawa menyebut keadaan seperti ini dengan “ngetuk” alias ketiak sesubur mata air (tuk)

Tiba-tiba mata saya seperti mau copot dari frame ketika melihat suami bu Warso, dengan sigap menusuki daging tebal tidak menggunakan tusukan bambu melainkan besi jari-jari sepeda. Sebuah jaminan bahwa potongan dagingny pasti gede. Dan tak sengaja saya menemukan sate kondang dari Yogyakarta – yaitu sate Klathak yang biasanya dijajakan di kawasan Bantul, Yogyakarta.

Belakangan saya kecewa karena, saat dihidangkan sang daging merah dengan irisan bawang merah dalam jumlah “melimpah ruah” plus aroma sedikit segar campur sangit hasil reaksi fisika dengan arang batok kelapa, ternyata daging panas dihidangkan tanpa tusuk (jari-jari sepeda). Jadi urung untuk memotret sang klathak. Grrrh.

Saat menghidangkan teh panas kental beraroma melati dan rasa sepat segar, bu Warso bercerita bahwa pak Senen membuka warung ini pada 1946-an yaitu saat berakhirnya “clash” dengan Belanda.

Orang Yogya, selalu menyebut kata “clash” dengan penuh tekanan heroik. Biasanya orang demikian terlibat memanggul senjata dalam perang gerilya melawan Belanda.

Setelah clash, Pak Harto berjuang menjadi militer sementara bapak kulo (saya) berjuang menusuk sate dan tahu guling,” katanya sambil menunjukkan deretan gigi yang ompong.

Rupanya pak Senin ini teman sepermainan pak Harto di kawasan pasar Bibis, Yogyakarta, sehingga iapun sering makan di warung sederhana tersebut.

Deretan nama besar pernah menghias sejarah Indonesia adalah alumni pasar Bibis Godean selain pak Harto, juga Kardono, Karsono dan Bardosono.

Kulo pernah nemanin bapak kulo menghadap Cendana (Jalan Cendana Menteng), rapat pembubaran panitia perkawinan Mas Sigit. Kami membawa angkring lengkap ke istana, bersama pasukan tahu guling, bakmi godog semua makanan favorit pak Harto dari kawasan pasar Bibis.”

Waktu kami memasak, ibu Tien datang dan berbisik Hayo pada Wijik (cuci tangan) – cuci tangan-, Bapak sebentar lagi rawuh (datang), tentunya karena kegemaran pak Harto menyalami orang kecil. Sebuah pelajaran kecil, disamping menghormati pembesar, Bu Tien menanamkan pelajaran bahwa cuci tangan adalah urusan besar.

Maka semua juru masak bersiap untuk bersalaman dengan pak Harto dari pintu depan rumah Sigit Suharto. Yang tidak diduga, justru yang ditunggu-tunggu datang dari arah dapur,” kata bu Warso sambil mengusap bintik air matanya, nampak ia tak kuasa menahan rasa bangga dan haru bahwa masakannya pernah diangkut ke Cendana.

Pikulan ini saksi sejarah pernah jalan-jalan ke Cendana, kini renta menunggu kehancuran

Pengalaman lain adalah, saat berada di jalan Cendana, semua peralatan masak yang tajam dan berkilat berjejer panjang tersedia.

Suatu ketika bu Warso bermaksud mengambil pisau untuk memotong daging.

Sambil berjalan tertunduk dengan penuh takzim.

Namun ia rada kebingungan, maklum bermacam pisau mengkilat tersedia disitu.

Mulai dari pisau fillet, pisau pemotong, pisau pembelah yang tak ia pahami cara penggunaannya.

Di sela kebingunganya tiba-tiba ada suara kecil dalam bahasa jawa “aja wedhi aja wedhi..” – jangan takut, jangan takut.

Hampir saya menjerit, ternyata suara burung beo kesayangan keluarga Cendana,” lagi-lagi tawanya putri kedua dari dua anak pak Senin ini terdengar berderai campur isak terharu.

Rasa tongsengnya cukup lembut dengan kuah yang kental akan rasa kecap manis. Potongan daging sate cukup besar, sekalipun produksinya cukup lama, sesuai dengan motto kepasrahan Jawa. Satenya sendiri tidak menunjukkan masakan istimewa, kadang saya tergigit daging liat.

Sebelum berpisah, saya sempat diajak menengok ke kamar bagian belakang untuk memotret Angkring (pikulan) yang pernah dibawa ke Cendana. Angkring yang teronggok tak berarti ini, bagi mata yang jeli akan menjadi barang antik yang bernilai jutaan rupiah dikemudian hari.

Ada yang tertarik memburunya?. Mudah-mudahan dapat membantu Warung pak Senen alias Soraren alias Tongseng Soeharto agar bisa di renovasi dari kehancuran dimakan usia setua pemiliknya yang kini terbaring sakit uzur.

Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com