Betapa Artinya Sebuah Nama


Sahabat Sri Endang memposting cucunya akan di Vaksin. Lantaran jaraknya 60km, maka usulannya berangkat jam 07:00 “ben ora macet” – tetapi kakek nenek ritual panggilan alamnya rada padat dan “demanding”. Alhasil jam 09:00 cabut dan sampai Cikarang jam 11:00. Masih SOSO.

Nama cucunya NAJWA, waktu maju ke meja pendaftaran, sang Ibu “ULL” baru menulis nama eh  cucu langsung nyeletuk “Najwa pakai “J” – ibunya protes, emang mama yang kasih nama tidak tahu. Anaknya yang sudah tidak kecil lagi menjawab kadang ada yang menulis pakai “Z” kok. Ibu malahan pernah menulis Najwa menjadi Naswa. Ibunya terdiam. Anak jaman Now.

Itu episode pagi dari Cimanggis. Dari seorang nenek aselinya Sri Endang Susilowati di KTP menjadi Endang Susilowati, dan mau diubah ribetnya bukan buatan.

****
Lain Cimanggis lain pula tanah perdikan kami desa  “RawaBogo.”

Beberapa tahun lalu, seorang bocah komplek minta di khitan. Kami yang mendengar langsung mendaftar untuk menjadi “biang keladi“-nya. Hulu sampai hilir. Transportasi ke dokter semua “lump sump”. Tau beres.

Biasanya akan ada ritual membagikan besekan. Pemberitahuan kepada tetangga teparo akan sebuah langkah penting seorang Bani Adam.

Masih dalam lumpsump. Giliran saya dikasih tugas mencetak nama, atensi, agar sang penerima besek (maksudnya ya kotak kardus), tidak bingung dari mana ini. Dan yang penting doanya jangan-jangan salah kamar misalnya Semoga Arwah Beliau diterima YME. Kalaupun ngeles “maksudnya” Arwah Kulit yang dikubur tadi.

Redaksi sudah saya rancang.. Namun yang tidak boleh ngarang adalah nama sang IP (Injured Person), lha dipotong kan sakit.

Maka ibunya saya tanya nama anaknya terutama ejaannya. Misalnya setelah huruf S apakah pakai “H” atau pakai J atau Y atau setelah hurup pertama S langsung diikuti A..

Pertanyaan saya SHA, SJA, SYA atau SA saja.

Weleh, sang ibu yakubeng lantas plencing tunggang langgang kerumahnya. Sepertinya melakukan rapat dengan sang Imam. Setengah jam kemudian nama yang disepakati adalah SA.

Jadi cucu ibu Sri Endang Susilowati yang di KTP tertulis Endang Susilowati atas nama Najwa pakai “J” sudah melakukan hal yang benar. Jeremy Tety ingat betul perkenalannya dengan pesulap Deddy Corbuzier. Berkali-kali Deddy mengingatkan Jeremy bahwa nama keduanya Corbuzier.. Tapi masih ada yang menulis Cobuzier zonder “r”

Saya yang diberi nama SEPUTRO, menjadi Saputro, menjadi Saputra ya gara-gara monat-manut nama diubah dengan alasan kata Shakespeare “Apa Arti Sebuah Nama”. Bahkan kelahiran 4 Maret bisa di Rapot tertulis 19 Maret. [Baru nggresula setelah 65 tahun].

Nama selalu ada artinya. Kecuali berharap ditolak naik pesawat sebab nama tidak sesuai KTP. Atau harus ke “Court” di Singapura diangkat sumpah di depan Hakim negeri Sono untuk sebuah pernyataan BAHWA NAMA SAPUTRO dan SAPUTRA adalah orang yang sama. Dan yang tidak ngenakin, saat itu Anya cucu saya mulai bosan dan berlarian di lantai Mezzanine Mahkamah Singapore. Suara anak berlarian diatas panggunng memang gaduh.

Ibunya yang sudah kesal, lapar, karena seharia antri, m akhirnya mencubit sang putri. “kakek nenek tertunduk sedih“.

BETAPA ARTI SEBUAH NAMA

Advertisements

PUYI – dan Kromo Inggil


PROPOSAL FOR NARA, 1, FROM KAIZAR PUYI

Setelah antar kakak Anya, 3, ke Pre-school maka acara adiknya Nara,1, bermain di taman. Selesai bermain – dia sudah lelah dan saat dibawa ke rumah lalu diberi sebotol susu tepung – Bukan-Similac – dia langsung Tepar tertidur.

Di Taman biasanya akan dijumpai orang yang itu itu saja.

Ada Yang main Taichi, yang Wushu, Senam Gembira, tari badminton, palang dan banyak lagi. Yang bocah main perosotan, rolling, atau uber-uberan dengan pembantu yang akan menyuapinya.

Diantara yang ajeg tadi ada seorang bocah lelaki sekitar 1 tahun nampak seperti kaisar Puyi. Ia belum bisa berjalan cepat apalagi berlari mundur seperti Nara (Kakek Ngebanggainnya terlalu). Saya bilang Kaisar – Lha di taman angin sembribit bikin saya buru-buru cari PPO (Pak Pung Oil) elatala sang Kakek dan Nenek gonta ganti mengipasin sang bocah…… Seakan takut mentah di dalam..

Kaisar Puyi ini begitu melihat Nara ..langsung senyum di atas sepeda roda tiga kudapat dari ayah. Demikian pula cucu saya. Pokoknya nge-klik dah..

Karena bocah ini ngomongnya masih bekah bekuh .. Sang Kakek dan Nenek menerjemahkan maksud cucunya.. dalam bahasa Mandarin yang Kromo Inggil. Jadi ada dua jalur kominikasi acak adut..

Saya yang sekarang bekah-bekuh – tidak tahu mau mengerti darimana, apalagi menjawabnya..

***

Di kantong bawah PRAM (gledekan) Nara selalu ada air minum, biskit dan snack kecil. Nara napsu-banget makan kalau berada di taman. Mungkin malah sebenarnya karena ditonton teman.

Kadang Puyi pasang mupeng kalau melihat Nara pegang biskit.

Tak ada salahnya sepotong diberikan. Melatih “sharing”.

Sang Bocah menanggapi pemberian dengan wajah dan gerakan seperti lamban seperti Flash seekor SLOTH (kukang) ahli database kendaraan dalam filem animasi Zootopia.

Biasanya lagi-lagi sang kakek menerjemahkan – “ambil kan dikasih jangan lupa bilang Kamsia Yah..” – eh yang Kamsiah karangan saya, Mandarin Kromo Inggil nggak pakai istilah itu. SiehSieh.

Biskit sudah ditelapak tangan menghadap keatas..Mirip wasit piala Eropa hendak mentoss koin ke udara. Tapi tak kuncung masuk mulut, dan telapak tangan tak pula menutup..

Nara melihat bocah ini plenggang bin plenggong – Dalam hitungan “detik diperlukan untuk me-reset modem ke Factory Default” artinya cuma tiga detik, maka tangannya bertindak ..Biskit sudah balik ke pemilik – malahan sudah diemplok Nara.

Kaisar seperti baru sadar biskit ditangan sudah hilang .. dia mengadu bekahbekuh tapi kami tidak perlu penjelasan terjemahan dari Kakeknya. Nara langsung ditarik pulang..

Tadi pagi saat dibawa ke taman .. Nara terkantuk diatas pram. Dia kurang selera bermain. Kami memutuskan berputar-putar keliling taman paling tidak ada 5000 langkah dan baru pulang.

Saya mendengar bocah bayi teriak teriak sehingga menoleh..

Suara itu berasal dari Kaisar Puyi. Ia memegang sesuatu digulung lantas diacung-acungkan.

“Gile hare gini anak 1 tahun sudah modus..”

Saya berhenti menunggu ia menghampiri kami menyerahkan Bunga maksud saya proposal TV modern dengan bunga cicilan rendah.. Agak kaget juga jangan-jangan dia agen rahasia yang bisa tahu tv dirumah memang rusak.. Atau menunjukkan darah dagang yang kuat.

Perlahan tapi pasti area Rendezvous kami tinggalkan.. Kuatir Kakek dan Nenek mengajak nggosip dalam kromo Inggil bahasa Kaisar Puyi..

Awas Nara kamu nanti gongdongen, sudah ngasih kok diambil balik.

dalam 13775550_10208561273722356_9140360007451819963_nkromo Inggil bahasa negeri Kaisar Puyi..

Kentut


Ketika keponakan saya (Sita) melahirkan untuk pertama kali, kami berkesempatan menungguinya di rumah sakit di bilangan Kalimalang.
Sang dokter Kandungan aseli orang Komering (Sumatera Selatan) dan masih tautan famili. Sehingga bisa dibayangkan suasana mirip reuni keluarga sekalipun sang Ibu masih nampak terisak. Maksudnya berfoto ria-sudah seperti ritual.
Terjadi dialog – apakah Sita akan melahirkan  ala C-section atau tidak..
Sita – keukeuh kepingin lewat jalur Normal. Merasakan sakitnya jadi seorang ibu, katanya.

Dokter Marzuki dengan kalem  hanya menjawab dalam bahasa Palembang..

Nak Lewat pinggir Pacak (bisa), nak lewat Bawah Jugo Pacak.. “- terjemahannya mau lewat sesar maupun normal semua bisa.. Yang pokok, bayi sehat juga ibunya..

Lalu perut Sita diraba- dan ia menggeleng kepala..

“Dak Pacak(nggak bisa)..musti di bedah… ” – posisi kepala bayi perempuan ini sudah miring kesana-miring kemari-tralala.

Maka dalam waktu satu jam, keluarlah jabang bayi perempuan dengan berat 3,2 kilogram, Panjang 48cm..

WA keluarga mulai ramai dengan komentar, doa di WA.. Dan semoga Tuhan juga punya WA dan sempat membaca status kami di Fb dan WA.. Maklum – dulu berdoa cukup di hati.. sekarang harus melalui WEA atau BBM atau FaceBook.

Satu status menulis ucapan selamat..

Wah Empat kilo, besar juga.. Selamat ya..-

Lho kok empat kilo sih.. Itu bayi atau Akua Gallon..

Buru-buru WA kami jawab terkoreksi – Woi sodara-sodara bobotnya 3,2 kilogram yang betul..

Ternyata, beberapa pesan masih menyertakan angka 4,0 kilo. Ternyata (lagi) budaya copy paste memang sudah kronis.. Berita entah benar atau salah – langsung disebarkan..Zonder dibaca.

WA dijawab 3,2 kilo bukan 4,0 kilo…! (ngambek)
Dijawab lagi ” kalau beda-beda tipis – jamak lah..”
Ini status atau lelang pasar Ikan..

Saya embahnya lantas mengubah cara penulisan simbol menjadi hurup…

Bayi Perempuan Beratnya Tigo Kilo Duo Mato (bahasa Palembang Mato=ons).

Nampaknya pesan saya segera dimaklumi dan tak ada salah tulis lagi.

KENTUT
Biasanya pasien pasca operasi baru boleh makan atau minum setelah bisa kentut.. Umumnya dibantu dengan distimulasi dengan suntikan yang baunya minta ampun..

Mujarobat – begitu Sita disuntik obat kentut.. tidak lama terdengar suara dut dut dut.. seperti berasal dari orang dewasa.

Nenek yang harusnya merasa senang kai ini nampak Gusar.. Yang membuat naik pitam pasalnya suara berasal dari Kakeknya yang kena transfer ilmu pindah raga..

Sita sendiri masih plompang plompong belum mau keluar suara dut..
Kalimalang 10 Sep 2015

Bukan Cucu Saya


Satrio dan Rani
Satrio dan Rani

Bocah cilik yang digendong Satrio anak saya ini bukan cucu kami. Namun Satrio sayangnya bukan alang kepalang kepada Rani nama anak ini. Ceritanya – ada beberapa hari Satrio yang memang tinggal dengan  Kakek dan Neneknya selalu tidur diluar alias tidak pulang ke rumah. Terang saja sang Kakek dan Neneknya gelisah bukan alang kepalang.

Pasalnya Satrio tinggal dengan Nenek dan Kakeknya di Grogol. Sebagaiamana layaknya kakek dan nenek akan menjadi cerewet bilamana anak saya Satrio tidak kelhatan batang hidungnya barang sejam saja.

Belakangan, baru kami tahu bahwa ia berada di rumah sakit menemani istri teman karibnya melahirkan. Bukan cuma menunggu saja, ia bahkan rela membongkar kocek di ATM-nya untuk sekedar meringankan beban keuangan temannya.

Saya terharu sebab ketika orang lain selalu menepis rasa empati dengan kata-kata “emang gue pikirin” elu yang enak giliran punya anak  – orang lain yang diajak (susah).  Ternyata Satrio masih tersentuh nuraninya dan rela uang jajannya berkurang.  Seperti mengerti bahwa ada orang yang menyayanginya, Rani pun sangat sayang kepada  Satrio, bilamana ia ketemu anak saya, selalu muka anak saya dielus-elus sambil bilang “Iyok..Iyok.. kamu Kempo ya..” – Maksudnya Satriyo-kamu akan latihan Kempo ya. Manakala bertemu saya – Rani nampak malu-malu. Biasanya senyumnya terlukis kalau saya menyebut  Opa Satriyo.

Mudah-mudahan Indonesia banyak menyimpan stok anak macam anak saya ini. Atau Satriyo merindukan saya punya cucu?

Gathering dengan keponakan, cucu dan adik-adik


Jleg pesawat Garuda mendarat di Bandara begitu beranjak dari urusan imigrasi menuju pengambilan bagasi kami sudah dipapak (hadang) oleh para portir. Selamat datang di Indonesia. Justru manusia berseragam abu-abu kebiruan inilah “maskot” Indonesia, sebab di negara lain macam Australia, Singapura sulit mendapatkan pelayanan seramah mereka.

Tapi kali ini penumpang Garuda sangat sepi sehingga walaupun rangsel saya cuma 8,5 kilogram (ada Komputer dan baterei) serta 9 kilogram tas kanvas tak urung saya panggil portir. Terbungkuk sang portier mengucapkan terimakasih kepada saya, dan keluarga yang menjemput saking senangnya mendapat tarikan hari ini.

Jleg kedua, daftar acara sudah dibacakan selama liburan.

Pertama keponakan, adik, ipar, cucu semua kepingin ketemu, makan siang bersama. Lia sudah meledek bapaknya melalui SMS, “aku bayangkan senyum papa selebar parit di jalan tol.”

Kalau sudah begini ada dua orang lain yang bergembira, mak Trio Kwek Kwek dan mak Har para tetangga bisa dimintai tolong tenaganya dan sebagai tambahan tambal butuh kehidupan mereka sehari-hari.

Sekalipun saya masih bingung menukar waktu kerja 12malam -12siang ke hari normal maka kedatangan mereka sudah menjadi jamu super kolesum bagi saya.

Maka inilah daftar keluarga saya.

Ini Giswa – gadis kecil, memanggil saya iyan (eyang). Lahir dengan kebocoran jantung membuat seluruh keluarga dibikin panik.

Beruntung masa kritis sudah dilalui tanpa harus melalui pisau bedah. Hobinya memencet Aqua sampai penuh dan tumpah, lalu membagikan kepada setiap hadirin. Kalau ada tamu, herannya semua minuman tamu dicicipinya satu persatu.

Keahlian lainnya memencet tilpun, atau remote televisi. Pengamatannya setajam kakeknya yang jago Inteligent dan anti teroris. Begitu melihat gambar saya kecil dan terpampang bertopi, dia hanya melihat senyum dalam gambar tersebut lalu teriak iyan -alias Eyang.

Tangan kecilnya sempat membuat kami prei (puasa) nontonTV satu bulan sebab entah bagaimana, remote control TV sudah pindah kedalam tas Lia yang saat itu sedang liburan di Indonesia.

Baru ngeh setelah Lia menilpun menemukan dua remote ada ditasnya. Kalau selesai difoto ia selalu ingin melihat hasilnya, ini juga gara-gara tantenya sering berpura-pura memotret sehingga ia terdidik baru percaya kalau sudah melihat hasilya.

Sebuah anugerah sekalipun bukan dari anak saya sendiri. Cucu yang membuat kakek neneknya deg-degan kalau mulai mendekati kipas angin. Kuatir tangan mungilnya masuk diantara sisi-sisi pelindung.

Lalu Ashraf, anak Amerika yang sedang belajar bahasa Indonesia ini favorit masakannya adalah sup kacang merah (red peanut), lalu daging tetelan pendeknya semua masakan budenya dilidahnya cuma enak dan enak tenan.

Ashraf menemukan mainan baru di rumah kami yaitu “back scratch” kayu penggaruk punggung.

Anak ini naik bobotnya tujuh kilogram setelah mengubah menu dari makan roti menjadi nasi.

Disekolahnya dikenal dengan olokan anak bule yang yang kagak bisa ke WC gara-gara kebelet ee namun berhadapan dengan kakus jongkok dan air satu bak dia menjadi kikuk. “I can handle it Maam” sambil megal-megol menahan kedutan dalam usus pembuangannya.

Kakaknya “Arwa” sempat mendebat gurunya ketika Arwa mengatakan bahwa ia menyimpan pakaian di “closet” – maka seisi kelas termasuk gurunya tertawa, “masak pakaian ditauh di kakus..”

Sia-sia Arwa (gambar belum dipasang) menjelaskan beda antara Closet (lemari) dan Water Closet (kakus) sebab sang pendidik bahasa Inggris enteng mengeles, “oh kamu pakai Inggris Amerika sih, kami disini pakai Inggris British.” – Ternyata menjadi guru juga harus belajar bisa menerima kritikan muridnya.

Haza, cewek gemuk yang legendaris ini ngamukan dan ngerusak. Kalau kemauannya tidak dituruti, mengamuk sejadinya. Tapi kalau moodnya sedang bagus, mulutnya nyerocos lucu.

Tetapi tidak usah dipermasalahan lebih lanjut sebab seperti kakak-kakaknya menjelang besar mereka menjadi penurut dan pendiam. Kalau dipikir-pikir sang bundanya (adik kandung saya) mudah teriak dan ngambekan juga.

Betul saja ketika muncul tokoh generasi dibawah Haza yang lebih “legendaris” mendadak sontak Haza menjadi sosok pengalah.

Kelemahannya sulit membuat hurup V dari telunjuk dan jari tengah, selalu yang terbentuk adalah Jari manis dengan kelingking. Dan itu sudah cukup membuatnya frustrasi. Apalagi ketika pakdenya menyuruh membuat tanda metal antara kelingking, telunjuk dan jempol untuk difoto.

Bakat penggosipnya muncul ketika kami kerumahnya, sementara sang ibu mengenakan kerudung, Haza berbisik “pakde kan mbak T sudah haid..

Dan ini the rising star terbaru kami, gadis Yusi Yusuf, kalau sudah menangis, mengamuk, pingin buka baju entah dipesta entah dipesawat dianggap sama saja. Keponakan yang tinggal di Wates (betul Wates) di Metro, Lampung Tengah dengan peradatannya sendiri. Kalau sudah bilang “Emoh (jw)” alias tidak, sulit membujuknya. Di Sumatera bagian Lampung Tengah, bahasa sehari-hari disana banyak digunakan Jawa. Jangan salah Wahai Orang Beriman.

Sekali tempo ia minta makanan yang dijual dalam bungkus bergambar ceria.

Bret” bungkus dibuka, begitu diberikan kepada Yusi, weladhalah bocah ini malahan gulung-koming menangis sekuat tulang tenggorokannya.

Hanya masalah sepele, dirumahnya bungkus makanan harus dipotong rapi, sejajar dengan gunting. Lha dirumah orang lain ya main sobek sesuai petunjuk.

Popcon “UT” yang dibawakan oleh Pakdenya dari Perth ternyata sangat disukainya. Bude dan Buliknya pada wanti-wanti nanti batuk lho kalau kebanyakan makan popcorn. Saya menjawab humor “urusan batuk itu orang tuanya,” urusan aku menghitung listrik naik gara-gara bolak balik bikin popcorn. Lha di Perth Popcor cuma 2menit10detik ternyata baru mbledoz di Bekasi setelah menik ke enam.

Mudah-mudahan dengan pernah ditulis masa kanak-kanaknya, mereka tidak kaget kelak kalau sudah dewasa mempunyai anak yang mirip. Maklum banyak orang tua sering belagak pilon, begitu melihat anaknya berkelakuan aneh biasanya saling menyalahkan orangtuanya.

Kami meledeknya “maklum anak way kambas” – Way Kambas adalah sekolah Gajah didaerah Lampung Tengah. Hobinya bersisir lalu minta pakde Miem memotret.

Masih ada keponakan lain dalam stok, namun saat pemotretan diambil mereka sedang sibuk bermain PS dan baru kumpul ketika pakdenya bercerita soal Laskar Pelangi dan Pak Ando penemu mi instan.

Mereka semua adalah buah hati kami. Pertemuan dengan generasi kecil ini selalu kami rindukan. Semoga kelak mereka dewasa, jejak orang tuanya bisa dicontoh. Lia sulung saya sekalipun terkesan judes, juga menjadi favorit keponakannya.

Satrio anak yang bungsu bahkan rela membobol tabungan pribadinya ketika salah satu istri temannya melahirkan dan tidak punya biaya untuk membeli susu.

Adik nomor 10 alias sang bontot. Menikah dengan Janggam Adytawarma. Sudah memiliki buntut Arwa, Tabina dan Ashraf.

Bakat melucu mirip saya. Satu-satu adik yang pandai melawak, menulis dengan baik. Pandai menirukan dialog ala Cina Kota, menyampaikan anekdot dengan cerita-cerita yang memerlukan ketrampilan dan sensitivitas humor yang tinggi.

Adik 10 (ikutan filem kungfu), sama sekali tidak bisa terima ayahnya menikah dengan Janda beranak banyak, bercucu, sangat lihai bersilat lidah.

Arwa sulungnya menurun memiliki kemampuan menulis yang perlu diperhitungkan bola dipupuk terus.

Dengan wajah penuhnya “tabembeng – Manado) adik nomor enam ini tergolong berhoki moncer. Motonya banyak anak banyak rejeki bisa dengan mudah digulirkan. Satu cita-citanya sang suami menjadi Jendral dan kalau diijinkan Kapolda. Lho cita-cita, usia dan kemampuan suaminya yang selalu nomor satu dikelas memungkinkan. Pasangan ini menimbulkan iri hati saya yang cita-citanya punya anak banyak sampai-sampai kalau panggil Titi keliru Toto, kalau mau panggil Sri keliru Adam, misalnya. Mereka sudah membukukan keluarga anak terbanyak. Mulai dari Ajeng, Sita, Dimas (alm), Tika, Bowo dan Haza. Penggemar karaoke dan selalu menyanyi dalam setiap kesempatan. Sampai sekarang putra-putrinya masih terbatas mendengarkan lagu sebanyak-banyaknya namun belum PD untuk maju kedepan organ dan menyanyi. Belum kelihatan ada yang memiliki otak secermelang ayahnya. Mungkin karena tidak diexploitasi.

Adik nomor Lima, tinggal di Baturaja, Sumatera Selatan. Mempunyai anak mulai dari Ogie, Merry dan Putri. Dialognya sudah full Baturaja. Sekali tempo saat sang istri berada di Surabaya, sang suami menilpunnya. Ketiga anak-anaknya selalu teratas dikelasnya. Dapat angka sembilan adalah bencana diomeli oleh ibunya.

Lalu untuk menunjukkan kangen lantaran istri berkumpul di Jakarta, sang suami bilang “Ai Lap yu” – kok boro-boro dia menjawab “lap yu tu” adik saya menukas “Ai kanjian nian kau” – ini bahasa Palembang “kamu kok genit..” – tetapi setidaknya sama-sama ber ai. Ai Lap yu dan Ai Kanji.

Lalu sang suami saat hendak mengobrol ngalor ngidul, lagi-lagi istri memotong “jangan lamo-lamo nilpun tu (ka)gek pulsa habis..” – saya terjemahkan “jangan lama-lama tilpun nanti pulsa habis.”

Akhirnya adik no 6 ini diomeli kakak-kakaknya sebab naga-naganya kok watak ibunda tercinta yang kurang romantis menurun deras disini.

Adik nomor enam tinggal di Wates, Metro, Lampung Utara. Dengan anak ZIdan, Adam dan Yusi. Kami menyebutnya ibu dengan usus lebih panjang dari dua belas jari.

Waktu mudanya terkenal mengalah terhadap adik maupun kakaknya. Setelah berkeluarga mengalah dengan kehendak sang suami dan anak-anaknya. Iya adalah potret ibu dengan judul “ya dan ya,” padahal dalam keluarga, satu-satunya wanita dalam keluarga kami yang lulus dengan gelar Dokteranda Bahasa Inggris.

Sang suami yang harus menyertakan gelar R (raden) didepannya sedikit unik yaitu merasa gerah manakala berada diantara ipar-ipar. Namun rada memaksakan agar istrinya betah manakala berada dikeluarganya.

Memaklumi peradatan sang suami, kami tidak pernah mempersoalkannya sebab kalau nurani belum mengajak berkumpul dipaksakanpun tidak ada manfaatnya. Sebab setiap ipar manapun akan merasa tidak terlalu nyaman berada dikelompok lain. Apalagi kalau sudah menggembol rasa minder diperutnya.

Masih ada adik-adik lain belum sempat saya muat. Maklum belum semua bisa berkumpul.

Terasi dan Mak Irah



2/17/2006
Entah mengapa kantin di Australia kalau menanak nasi selalu terasa mentah sampai-sampai saya jarang sekali makan nasi disana. Akan berbeda misalnya ketika bakso dibalut nasi lalu digoreng, saya amat menyukainya. Jadi ketika di Bekasi saya dimasakkan tempe,sayur kacang panjang, goreng ikan asin, caisim, bayam, kangkung. Wah ini baru Nyam Nyam Bangget.
Namun keadaan menjadi drama ketika dari hari kehari masakannya kok ajek gitu, kata wong kito “jadi-maleg” – alias enek terenek.

Harap visualisasikan Fuadi yang ketua Artis sedang “ngejadul” pakai bahasa wong kito..
Ada apa ini. Dimana keahlian para juru masakku?
Daripada “Ya-Ubeng” tidak ketemu jawabannya mending saya melakukan investigasi ringan di TKP.
Ternyata penyebab semua ini berpangkal pada pemasok Logistik harian kami.

Levelnya belum sampai setingkat KSAN yang seloroh atasnya membuat seorang anggota DPR menuai Ketupat Bengkulu racikan front”Panca Marga”.

Namanya sebut saja “Mak Irah” kalau ditanya usia, dia jawab “kagak tahu, saya mah sehat bae…” – Ini bedanya kalau yang buta hurup orang Cina, paling tidak mereka masih bisa menyebut tahun kuda, tahun kelinci sehingga paling tidak bisa diurut per dua belasan tahun.

Saya taksir belum 50-an namun porem wajahnya boros lantaran deraan hidup yang dilakoninya. Suaminya sudah berpulang beberapa tahun berselang. “Muntah darah diteluh sampai mati,” katanya ketika ditanya mengapa dia berdagang.
Sekalipun jabatan tak resmi suaminya cuma kerja bantu-bantu tukang, ibarat kata, jabatan yang bukan dicecar oleh pesaingnya. Mak Irah keukeuh lawan suaminya tidak “fair play”.

Bagi rakyat pedesaan sakit adalah teluh dengki, jadi tidak perlu diobati kedokter, cukup orang pintar, sisanya pasrah. Perkara siapa yang meneluh, selalu misteri. Atau cukup disebut “ada ajah..” – untung mereka tidak baca koran. Kan repot sampai dijawab “Yang bunuh presiden Amerika JF Kennedy saja tidak tahu sampai sekarang. Apalagi cuma suami seorang tukang batu.”

Janda yang hanya melek hurup arab ini ikut anak lelakinya. Kok ya menantu sakit dan meninggal dunia, meninggalkan dua bocah. Akhirnya nenek inilah yang mengurus dua anak piatu.

Seperti belum usai cobaan, Anak yang kedua (lelaki) meninggal dunia, meninggalkan dua bocah yatim. Berarti total 4 mulut mungil harus diurusinya. Pasalnya Nenek Irah tidak tega melihat menantu perempuannya menjadi tukang cuci sana sini dengan penghasilan tambal butuh, sementara pekerjaan anak lelakinya tidak tetap.
“Kalau saya cerita panjang dik”, katanya sambil matanya berlinang. Kerutan diwajah tuanya bagaikan pahatan sungai-sungai mini akibat kulit terbakar matahari.

Tidak tega melihat kekurangan ekonomi keluarga, nenek Irah cancut taliwanda. Ia minta mantunya belanja sayur di pasar Kecapi, dan nenek Irah yang membantu menjualnya keluar masuk kampung.

Dan tengoklah telapak kaki telanjangnya yang sampai melebar “njebeber”dan telapak kulit yang menebal lantaran beradu dengan aspal, batu,pasir jalanan yang terkadang panasnya menyengat.
Kalau sudah dibeli dan diberi lebihan sekedarnya (kembaliannya diambil saja), doanya seperti tidak putus-putusnya. Kadang disela doanya dia berguman, “jadi dah anak yatim dan piatu saya makan nasi sama terasi goreng.”
“Terasi bakar…” rasanya keluarga saya akrab dengan kata-kata itu,lantaran saya pernah cerita, makanan paling lezat waktu kecil adalah kerak nasi masih panas diolesi terasi Bangka yang sudah digoreng. Bau terasi terbakar itulah yang menerbitkan rasa lapar.

Tong, kite adenye cuma terasi ama nasi, kalo elu ihlas makan jadi enak,” begitulah nenek Ira membesarkan hati ke empat cucunya yangkadang bertanya mengapa menunya harus terasi. Lantaran empati, kadang kami sumbangkan pula beberapa potong ikan asin buat cucunya.
Mak Irah, sering merasa alhamdulillah karena sering diberi tetangga baju dan kain bekas sehingga ia tidak pernah beli baju muslim. Sebuah design yang melindunginya dari terpaan angin dan sengatan matahari.
Menghindari rasa bosan. Tempe digoreng, sayuran diolah, hasilnya dibagikan ke tetangga yang di Rawa Bogo masih bisa dihitung sebelah tangan.
Kadang peristiwa kecil begini sering menambah wawasan dan rasa syukur bahwa masih banyak orang yang lebih menderita di bawah kita.Sehari-hari bergelut urusan pincuk belum menuju puncak.