Public Library


Perpustakaan umum ini namanya SENGKANG Public Library. Terletak di lantai 4.

Ada buku yang dipinjam cucu sudah waktunya dikembalikan. Sekalipun bukan anggota saya bisa mengembalikannya. Saya tinggal cemplungkan seperti kalau memasukkan surat di kantor pos. Selebihnya mesin bertanggung jawab. Tidak ada manusia disana.

Tapi, deuh deuh, sudah di lantai 4, Kopang-kaping ke TKP kok ya masih ditempeli setan lupa. Alias celingukan.

Kebetulan ada sekuriti. Dia sedang asik memandang kerumunan orang di lantai dibawahnya. Pandangannya seperti orang Madura Pantai, melihat tumpukan Garam di pantai Madura, dan ada orang berteriak memberi pengumuman bahwa rasa Garam itu Asin.

Saya mendatanginya :”Uncle do you know where is the Public Library” – biasanya orang keturunan Melayu rada singgung kalau kita pakai bahasa Inggris.

Tapi mana saya tahu dia Melayu atau Ghurka.

“There is no Public Library” tukasnya. Nah lho.

Saya sekarang memandangnya seperti kalau ada orang Madura bertanya “Asinkah rasa Garam?”

Sontoloyonya dia malahan “Why are you looking for Public Library?”

Saya menyadari kesalahan… “Okay Uncle, where is the Library so I can read a book, magazine..”

Dan bergumamlah dia seperti “kalau dari tadi bilang Library saya sudah tahu. Ini pakai Public Library segala”

Padahal didindingnya tertulis Sengkang Public Library..

Jangan-jangan si babang sekuriti saat sahur tadi pagi lupa banyak minum. Jadi tidak fokus.

Advertisements

Pamanku Gaptek (sekali)


Kalau ada skala “heboh” dari satu sampai sepuluh, maka posisi paman kami (70) adalah 9,5 – betapa tidak dalam keluarga ialah satu-satunya memegang gelar DOKTOR dibidang kesehatan, punya penemuan yang dipatenkan, kekurangannya sampai kini belum diberi hak Profesor sekalipun pekerjaannya membina teman sejawat menjadi DOKTOR. Kata orang di kampusnya adalah bagian dari “politis yang puitis”.

Hobinya akan buku sangat luar biasa. Bisa saya gambarkan sekali belanja buku setara dengan sebuah BB Torch terbaru. Kadang ia cuma terbang ke Singapura, belanja buku disana, pulang pada hari yang sama. Paman yang pendiam ini menjadi figur yang ideal..

Keponakannya termasuk saya selalu meminta bantuannya sebagai saksi dalam pernikahan keluarga. Apalagi sekalipun uangnya banyak, tenar, namun soal integritas berkeluarga, ia terbilang “tuntunan” dan belum sekalipun terdengar “tergelincir” akan tahta atau wanita. Pendeknya hidupnya melulu untuk keluarga.

Tapi jangan coba ber-SMS-an dengan paman. Dalam hitungan detik, Pria beranak satu, sekalipun berada dimana, akan menilpun anda. SMS merupakan OPSI terakhir baginya.
Dalam satu sarapan pagi yang mewah… Bayangkan saya disuguhi Soto Sapi warung Soto Terkenal, Telur Asin, Kerupuk Udang, sementara beliau yang sampai usia 70tahun tidak pernah percaya kata sakti mau sehat ya berolah raga. Dia cuma percaya bekerja sampai berkeringat. Sehari-hari hanya menyantap bubur havermouth yang hambar, ditemani air putih yang hangat. Mungkin kata olah raga yang diakuinya adalah – makan sedikit lemak, sedikit protein agar usus yang berolah raga.

Sambil makan, tangan saya membelai IPAD. Barang ini belum dipasang SIMCARD jadi ya macam burung ndak punya sayap. Gara-gara lihat YouTube saya beranikan melakukan percobaan SIMCARD biasa lalu saya iris samping kiri kanan dan bawah. lalu diampelas agar bisa masuk ke dalam SLOT IPAD menjadi microSim. Saya tidak akan menceritakan bahwa percobaan ini gagal total.

“Ipad bisa untuk simpan foto nggak?,” tanyanya. Jelas jawabannya bisa
“Kalau saya punya foto di FlashDisk, apa bisa pindah ke IPAD,” Jelas jawabnya idem
“Apa IPAD bisa dipakai untuk presentasi,” lha jelas jawabnya Ya

Dia menyatakan tertarik memiliki IPAD – saya cuma senyum ternyata saya masih bisa membuat lawan bicara tertarik dan percaya obral obrosl saya.

Saya pesankan IPAD melalui Internet.

Dan kesalahan yang baru saya sadari. IPAD bukanlah pengganti Laptop atau PC. Pasalnya untuk bisa memindahkan “file dari luar” – harus ada PC atau Laptop yang menjalankan program ITUNES. Sayangnya saya baru tahu bahwa yang biasa dipanggil Doctor PHI lantaran otak matematikanya ternyata tidak punya sepotong komputer dirumahnya.

Mustinya lain kali saya pamer Laptop dulu… baru.. Ipad…

Ten Commands For Writing Your Love Story


Masih bingung mengapa ada orang rajin sekali menulis di blog, maka tidak ada salahnya anda menyimak tulisan dari pengarang Graham Ascough.

  1. Write with a sense of positive expectancy – Believe you have a story worth telling and leave a legacy for family and friends.
  2. Awaken the writer within – Begin now! You may be surprised to find what talent you have for this task.
  3. Write to communicate not to impress – Tell people about what you think and feel and not just what you have accomplished.
  4. You dont have to be perfect – Writing gives you the freedom to express yourself. Do not compare yourself with anyone else.
  5. Write with your head and heart – it has to be believe and entertaining. Live the moment you are writing about as you convey your thoughts to the page. Capture the mood. Readers will feel that what you are sharing is important to you.
  6. Write with honesty – elements of conflicts, humour and pathos. Tell your story as it was, not how you would have liked it to be. Reveal yourself. Let people see the various aspects of you the person.
  7. Writing is simply speaking on paper – Writing as you speak is like engaging in a one on one conversation. Be chatty and choose words from your own vocabulary.
  8. Writing is hardwork – Nothing of worthwhile nature is achieved without a lot of effort, perserverance and resolve.
  9. Write at your own pace – Make it a pleasurable hobby not a chore. Be discipline in setting aside time, but do not allow the project to dominate your life. Set your goals about how much and when to write, and review these regularly if necessary.
  10. Writing is a way of reviewing your life – Take time out for yourself as you review your life. You might not think that you have led terribly interesting life, but the chances are, once you start writing it all down you will be surprised by how eventful it has been.

Writing Your Life Story by Graham l. Ascough

Laskar Pelangi – cerita masa anak-anak yang sudah langka


Kalau anda pernah membaca kisah petualangan empat sekawan, mungkin Laskar Pelangi memang seperti mengambil tema persahabatan masa anak-anak.

Cuma ke sepuluh tokoh dalam cerita ini memang unik. Tokoh Lintang misalnya, ngelaju (pergi-pulang) naik sepeda 40 kilometer setiap hari ke sekolah pakai sepeda, mungkin cerita biasa bagi anak-anak Yogya puluhan tahun lalu, namun bagi anak Melayu Belitung, adalah ujian mental.

Mau sekolah terus atau kembali membantu perekonomian orang tua dengan menjadi kuli parut kelapa seperti abang-abang mereka.

Lalu kekonyolan Lintang sekalipun bukan tokoh utama, ketika rawa yang akan dilaluinya sudah ditunggui penguasa rawa yaitu seekor buaya besar.  Ia memperkirakan jarak berdiri dengan buaya sekitar 15 meter. Lalu ia mulai berhitung mempraktekkan rumus energi massa Einstein bahwa kalau dia melaju dengan kecepatan setara dengan kilat beserta sepeda rongsoknya maka sesampainya di seberang rawa, buaya bodoh tidak akan mampu mencecarnya. Namun ketika ia mendekat berjarak 13 meter, ia sedikit ragu sebab dapat mendengar nampaknya perut buaya sudah mendekur pertanda lapar. Disaat anak kecil yang tak mengenal marabahaya ini ragu, muncul manusia rawa yang bolot lantaran kerap menyelam di sungai, namanya Bondenga. Bondenga dengan sabar memegang punggung buaya dan membisikkan sesuatu. 

Ajaib buaya menggerakan ekornya seperti Scooby Doo melihat kue taart, lalu melompat masuk rawa dengan kecepatan dua kali lebih cepat dari kilat yang diperkiraan Lintang.

Bondenga disebut pawang ular sebab ketika ia masih kecil, sang ayah terjun ke rawa penuh buaya. Saat ditemukan, ada sepotong kakinya tersisa. Tidak lama kemudian di rawa muncul buaya besar berkaki buntung.

Kalau saja Lintang nekad merangsek buaya dengan adu cepat menyeberangi rawa, mungkin ia sudah berada di perut buaya, dan orang hanya menemukan sepeda rongsoknya.

Untuk mendemonstrasikan kegunaan sekolah, Lintang pernah bertanya kepada bapaknya sang Cemara Angin, lantaran tubuhnya yang kurus kering. “Empat kali empat berapa ayahanda?”.

Sang ayah yang buta hurup langsung menghilang lari ke balai desa mencari jawaban yang tepat. Secepat pelanduk sang ayah sudah ada didepan Lintang dengan napas tersengal dan senyum bak kucing garong habis mencuri peda. “Empat belas anakku, tak kurang tak lebih.” Usut punya usut ayah lebih terpaku pada jumlah keluarga yang ditanggungnya, ketimbang angka yang diberikan aparat desa.

Atau saat sekolah mereka SD Muhamadiah papan bawah, dengan semangat sekolah macam Lintang ikut perlombaan cerdas cermat di kota. Persis seperti cerita filem ala “sister act” anak-anak desa ini berusaha mempertunjukkan kebolehannya agar nama mereka tidak dilecehkan. Dan yang terpenting sekolah tidak ditutup karena kekurangan murid.

Karena anak desa tidak terbiasa dikerumuni orang banyak, tidak terkecuali Lintang yang paling dijagokanpun terkena demam panggung sehingga mustahil akan memenangkan perlombaan. Menekan belpun ia tak sanggup.

Maka bukan alang kepalang sorak sorai pendukung SD Muhammadiah ketika Lintang mampu meraup semua pertanyaan juri. Tak terkecuali teman mereka Harun yang tak henti-hentinya bertepuk tangan dengan keras. Sayang wajah Harun selalu menoleh ke luar jendela. Rupanya ia memberikan semangat anak perempuan bermain kasti di luar ruangan.

Lain halnya dengan Mahar. Manusia kreatif yang seperti tidak habisnya menggagas ide aneh. Biasanya karakter demikian sering menyerempet hal-hal berbau esoteris. Misalnya, setiap menonton penampakan Pelangi, Mahar akan berceloteh bahwa benda berwarna warni adalah lorong waktu untuk berhubungan dengan leluhur mereka orang Sawang Purba.

Mahar mempunyai monyet yang dilatihnya dengan sabar sehingga mampu meniru gaya pelatih binatang komidi topeng monyet. Dan Mahar menggantikan fungsi monyet dalam topeng monyet yang jumpalitan sambil menarik pedati dan membawa payung pergi kepasar.

Saya banyak ngikik dengan perbendaharaan yang dibuat penulis. Untuk badan lunglai seperti kalau mengharapkan sesuatu tidak kesampaian, misalnya, pengarang buku ini melukiskan „bak tulang masuk presto”

Sebetulnya buku ini seperti menceritakan masa ke Timahan, pulau Belitong tempat mereka bermain mencelupkan tangan ke tanahpun sudah mendapatkan timah. Sampai kehancuran rumah-rumah Gedong milik Stap (staf) setelah harga timah anjok di pasaran.

Cerita mengalir dengan gaya kedaerahan aseli Sumatra sehingga bagi pembaca asal Jawa mungkin sedikit berkeringat membayangkannya. Kalaupun ada hak yang sedikit saya kritik, penulis seperti hendak mengumbar ilmu gado-gado dari majalah semacam Trubus sampai ke buku Sci Fi yang lainnya yang mungkin didapat dari Wikipedia, Encarta, Iwan Gayo kedalam ceritanya. Jadi kadang berkerut membaca istilah latin yang diumbar habis disini.

Yang pasti saya seperti digitik-gitik ke masa kecilku.

Pesan Trilogi dapat Triplex


Gara-gara resensi seorang Wikimuer mengenai buku Laskar Pelangi, saya seperti mati langkah. Niat mengebet baca buku habis. Tapi Apa daya.

Pertama saya ada di tengah laut, kedua kalaupun saya sampai di daratan Perth maka toko buku macam Dymocs, Borders jelas tidak akan menjual buku karya Andrea Hirata tersebut. Maka untuk memenuhi hasrat yang berkobar, sebuah toko buku online saya pilih. Maksud hati saat kepulangan ke tanah air, buku sudah tiba. Halaman depan situs ini bertaburan pujian nan tiada kering, cepat, baru klik pesan, tahu-tahu sudah “jleg” di depan mata sehingga membuat saya Muantabz melakukan pesanan online.

Perlahan saya baca resep memesan. Saya klik Laskar Pelangi harga X rupiah, saya klik Sang Pemimpi Y rupiah, saya klik Edensor Z rupiah. Lalu ketiga petikan ini saya masukkan keranjang belanja.

Upacara pesan memesan diakhiri dengan perintah beli. Situs menjumlah tiga deret sederhana. “Jeglek” yang muncul angka kurang pas. Barangkali persamaan hasil persilangan antara Pitagoras dengan rumus membuat KTP karena menghasilkan X+Y+Z = X+X+X.

Gagal bertransaksi, saya cabut dari situs tersebut lalu setelah surfing kesana kemari entah kenapa kepingin balik ke situs awal.

Kelihatannya ada sistem error pada situs tersebut.

Kebetulan pikir saya, kalau ada anomali, bakalan ada berita. Saya nekad memesan tiga buku, bahkan melunasi pembayarannya.

Ada beberapa hari email saya dijawab. Alasannya masih liburan hari Raya. Lalu seorang berinisial “D” menegaskan apa betul saya pesan tiga buku yang sama. Terang saya jawab “Tidak, saya tidak pesan tiga buku yang sama, saya pesan buku jilid 1, Jilid 2 dan Jilid 3″

Email dijawab, baik pak, pesanan sudah diperbaiki.

Dua minggu setelah lebaran, terbaca SMS dari toko buku online. Buku akan dikirim besok tanggal sekian.

Takut saya tidak ada di Jakarta (lha saya kan di Bekasi), status Menunggu Cemas saya naikkan menjadi Waspada Menunggu. Ternyata buku yang dijanjikan tidak datang.

Baik kalau begitu, saya SMS kembali, dan dijawab “Maaf Penerbitnya belum kirim Buku” – Inilah hebatnya cara kita berbisnis, mulai dari karyawan tidak masuk pada saat liburan sudah usai, penerbitan yang lelet, segala macam parameter ikut ditimpakan kepada pelanggan. Jangan-jangan bertengkar dengan istri dirumah gara-gara jatah malam tidak diberikan akan mengajak pelanggan menanggung akibatnya.

Kebetulan status saya turunkan menjadi “masa bodoh” alias tidak terlalu memikirkan pemesanan, di Jakarta, sang kurir datang.

Tolong dicek pak,” katanya sambil mengendorkan jaket dan sarung tangan kulitnya. Sebelum membuka bungkusan bersampul kertas kopi ini, saya meraba ketiga buku.

Saya merasakan ada salah kirim. Mari kita buktikan..

Bret sampul saya buka.

Buku salah kirim. Saya pesan jilid satu, jilid dua, jilid tiga. Ini semuanya buku jilid satu sebanyak tiga buku” – sebab warna buku, ketebalan, dan judulnya sama “Laskar Pelangi.”

Kurir keukueh dengan mengatakan memang ada buku dengan ketebalan dan cover sama, tetapi isinya berbeda Pak.

Maka kali ini buku dibedah. Bab I bertajuk Sepuluh Murid Baru.

Buku lainnya saya buka dan Bab I dengan tajuk serupa saya pelototkan didepan kurir. Kali ini dia menyadari pendapatnya digugurkan.

Saya kan cuma kurir pak! Jauh juga ya pak dari Jatinegara ke Grogol” – keluar ilmu simpanannya.

Kata sakti yang bisa berarti sudah jauh dikirim masak dikembalikan, kasian dong kepada kurir yang sudah buang bensin dan waktu, maklum lebaran belum lama, pegawai masih mengantuk.

Lalu saya tanda tangani formulir berita acara, bahkan masih ada pesan khusus. Bila anda puas dengan pelayanan kami, silakan kirim testimonial ke email addres xxxxgmail.

Dan sekalipun ongkos kirim sudah tertulis 0000, maka seperti biasa saya memberikan uang puas sekedarnya. Maka sekaligus melegitimasi kesalahan dimaafkan. Kapokkah saya dengan toko buku yang ternyata super lelet dan super salah ini. Tidak.

Saya masih kirim SMS, saya pesan Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov, tapi tidak pakai salah, tidak pakai lama. Siapa tahu bisa bikin cerita aneh lagi.

Karl May Dengan Rasa Sambal Tomat Belacan


Karl May Dengan Rasa Sambal Tomat Belacan
Selasa, 23-01-2007 08:08:51 oleh: Mimbar Bambang Saputro
Kanal: Gaya Hidup

Pengetahuan kita akan tentara Belanda atau Kumpeni biasanya terbatas bahwa orang Belanda harus serba wah. Makan harus pakai sendok garpu dan serbet. Maka ketika sebuah novel mampu bercerita tentara Eropa Benteng mampu melahap nasi tanak liwet dengan oseng-oseng dan sambal tomat belacan. Sampai sampai mereka berdecap “Kamu itu Lucullus,” katanya memuji juru masak. Saya tidak terbendung ingin menghabiskan buku yang ditulis 285 halaman tersebut. Lucullus adalah jago masak dalam cerita Romawi.
Buku ini seperti hendak bercerita namanya tentara dimana-mana sama. Kalau bertemu kerusuhan harus maju terlebih dahulu, tetapi soal kesejahteraan berada diurutan paling bontot.
Empat serdadu VOC, dua berkebangsaan Swiss, satu Belgia dan satu anak Nias merasa mentok jadi prajurit, janji mendapatkan ribuan gulden ternyata cuma angin surga. Mereka lalu menyelinap keluar dari benteng Kuala Kapuas dan resmilah menjadi desersi yang selain diburu oleh bala tentara Belanda pimpinan Kolonel yang mengajak anak buah terdiri suku dayak yang kampiun dalam melacak jejak. Belum lagi bertemu dengan buaya, ular dan para pengayau kepala manusia di pedalaman Kalimantan. Dalam jerita yang ditulis 1870-an memang kental dengan adat istiadat dayak. Mulai dari bagaimana sumpit dirancang, ramuan yang terbaik untuk membuat bisa, memilih jenis mandau sehingga ketika memenggal kepala musuh, terkadang sang korban masih berjalan tanpa kepala, dan berusaha mengayunkan parangnya karena masih mengira berduel senjata. Bahkan kebiasaan kanibal menyeruput otak musuhnya, gamblang ditulis disini. Hal yang sudah lama disembunyikan dalam khasanah etnik kita.
Ada protes-protes terhadap tekanan kebijakan Belanda seperti ketika mereka menyelamatkan nyawa Harimau Bukit seorang kepala suku dayak, maka sebagai ganti pertukaran energi. Ditumbalkan seorang perempuan suku mereka sendiri. Sebagai orang Eropa, jelas cara ini tidak bisa dimengerti dan coba dicegah. Lalu Harimau Bukit menjadi berang “anda muka pucat bicara kemanusiaan di negeri ini atas seorang nyawa perempuan yang akan kami korbankan. Tapi anda lupa ribuan nyawa dikorbankan ketika pundi orang Belanda diutik-utik…” – Kepala dari desersi adalah Yohanes, pemuda Nias yang ahli strategi perang, jagoan berkelahi satu lawan satu, bahkan begitu liat badannya sampai tidak ragu terjun ke dalam air melawan buaya.
Penulisnya MTH Perelaer, dijuluki Snouk Hugronye spesialis Dayak, kelahiran Belanda yang semula bercita-cita hidup selibat menjadi pastur tetapi drop out dan nasib membawanya menjadi opsir Belanda. Pada 1855 ia sudah mengecap nyamuk dan lintah Kalimantan, dan terlibat dalam perang Banjarmasin 1859. Berpengalaman dalam memadamkan pemberontakan Aceh yang nggegirisi. Lalu pensiun dari Tentara Kerajaan pada 1879 dengan pangkat Mayor.

Membaca alur cerita dengan indah seperti Petualangan Karl May, tetapi rasa sambal belacan (terasi).

Desersi, Menembus Rimba Raya KalimantanKPG, 285 halaman.
Mimbar Bambang Saputro

Don njaj nde mbuk prom nde koper


Istilah diats saya ambil dari humor mas Thukul Arwana “Dont Judge the book from the cover.”

Kalau orang Australia lebih suka pemeo “jangan menebak umur dari gigi kuda” – Pasalnya dipasaran semua buku ditulis dengan “best seller” sehingga kita tertarik membacanya, lalu kecewa abiz isinya “best teler (kacau)”, kata Kelik Pelipur Lara.

Sebuah buku setebal 361 halaman sudah sepekan ini tidak tersentuh lantaran masih “diselimuti kekuatan gaib” membuat saya malas membukanya. Kekuatan gaib tersebut berupa sampul yang kurang menawan, cuma potret badan dari leher ke bawah. Ada tiga perempuan (setidaknya dari baju dan lengan serta jemari yang panjang melenting) duduk berdepetan disebuah bangku, mengapit seorang berpakaian lelaki berkaos dan bercelana mirip Bon Jovi Apa menceritakan cinta segi tak beraturan?.

Mestinya klise. Judul buku seperti terbuat dari sapuan kuas (pit) cina karena selalu dimulai dengan garis yang tipis lalu menebal di ujung. Saja menebak, jangan-jangan cerita ini berlatar belakang Cina kentara dengan judul Dimsum terakhir – sementara di kelompok orang perantauan makan Dimsum adalah sarapan pagi saat hari raya Imlek.

Repotnya beban mental dari buku ini adalah pinjaman sehingga pemiliknya yang ayu suatu saat akan menanyakan hasil resensi saya terhadap buku yang dipinjamkannya.

Lalu saya buka, halaman pertama ucapan terimakasihnya uantik (pakai u).

Pengarang menyitir Stephen King “menulis adalah perbuatan manusia, tetapi mengedit adalah pekerjaan dewa…” -elok tenan, bathin saya menjerit riang. Lho setelah dikebet(dibuka lembar per lembar), muncul lagi tulisan “saya menulis .. karena usia saya singkat tetapi banyak yang harus diucapkan. Saya menulis karena saya tidak abadi, sementara tulisanku immortal. saya menulis sebab saya tidak punya sayap. Sementara tulisan dapat terbang mengantar ke langit ketujuh.”

Mau menjerit lebih keras nggak sih kalau sudah gini (kok aku jadi kenes? kayak pemain netron Ayahku Astuti)

Cerita ini sendiri, sama dengan persoalan kaum Cina yang saya kenal. Merasa diperlakukan tidak adil. Tapi pengarang melukiskan persoalannya dengan pelbagai dialog tanpa sarat protes. Dimulai dari “buk” mobil mereka diserempet oleh motor. Jelas pengendara yang salah. Tapi hukum di negeri ini, kalau mobil diserempet oleh sepeda motor yang sudah seperti laron usai hujan, terbang dikiri, di belakang, di depan tidak perduli kita sudah menyalakan lampu richting (sen) sambil mbaplang memberikan isyarat tangan mereka tetap tancap gas, sekali nabrak – apalagi ditabrak, galaknya bukan main, ujung-ujungnya pengendara mobil yang harus ganti rugi.

Hukum kedua apalagi anda Cina. Opsi lain tidak ada. Maka pengarang melalui lidah Rosi menulis, moncong mobil penyok, lampu pecah tapi “ya sudah salah siapapun bayar saja yang nabrak.” – tetapi seorang kenek mobil yang tidak terlibat dalam tabrakan berteriak, “dasar belagu, sok borjuis, pelit pula..masak kasih duit cuma segitu..

Sekali waktu pengacara Yap Thiam Him diadili dan dihujat kiri kanan. Lalu Arif Budiman jago demo masalalu membelanya, menjadi minoritas di Indonesia adalah kesalahan terbesar, menjadi minoritas lalu berani mengeritik pemerintah adalah kesalahan terbesar kedua, menjadi minoritas nasrani pula, adalah kesalahan nomor tiga. Maksudnya Yap adalah orang yang sangat luar biasa berani berenang kehulu saat perahu lain ke hilir.

Atau saat seorang anak dalam cerita ini sakit lumayan serius dan ingin absen dari sekolah. Apa sih susahnya, kecuali orang tua tinggal menulis surat pemberitahuan ke sekolah. Namun sekalipun kepala seperti ditindihi daging sapi gelontoran, mereka memaksakan mengikuti kelas dengan langkah setengah pingsan. Pasalnya besok adalah Hari Raya Imlek orang Cina. Sementara pemerintah melarang Imlek dirayakan plus sekolah diliburkan. Suster disekolahnya tidak ingin mencari persoalan dengan pemerintah. Siapa absen pada Hari Raya Imlek, apalagi berdarah Cina. Akan dikenai skorsing.

Sayang, pengarang tidak ingin menyuarakan rasa Superioritas kaum keturunan yang sejak jaman Belanda selalu menjadi warga kelas satu dan merasa demikian sehingga cenderung mengelompok. Pernah dengar ungkapan “dia orang Indo tapi caputaw(baik) seperti Cina…” Tapi kalau dipikir-pikir manusiawi. Lha orang suku lain seperti Jawa misalnya selalu merasa lebih halus tutur budi ketimbang suku lain. Demikian sebaliknya pandangan suku lain.

Bagi orang Cina, anak lelaki adalah dambaan yang akan meneruskan generasi mereka. Sayangnya keluarga Nung dalam cerita ini melahirkan anak empat kembar yang semuanya perempuan. Anung, sang ayah, pengusaha elektronik di Glodog, yang bangkrut lantaran tokonya dibakar pada kerusuhan Mei bahkan nyaris tewas dibakar massa, untung diselamatkan oleh seorang pribumi, sedikit kecewa dan menyoba protes mengapa tidak ada anak lelaki? – ternyata protesnya didengar. Salah satu anaknya yang tomboy doyan berkelahi jatuh cinta kepada sesama jenis, lalu memproklamirkan nama sang lelaki yang selalu tumbuh di alam bawah sadarnya, Roni sekaligus menjelaskan mengapa cover novel melukiskan “lelaki” diantara tiga perempuan.

Seperti layaknya pengarang perempuan, bumbu gesek-gesek kulit cinta nggak lazim tapi memang “mayan” banyak menghiasi novel wanita Leo kelahiran 1973 ini. Ada yang menjalin hubungan dengan pria yang sudah kadung janji hidup selibat. Bedanya dituturkan lumayan halus ketimbang penulis perempuan lain yang doyan ber “SMS” – sedetailnya mengenai selangkangan – kata Taufik Ismail.

Betul juga ungkapan Tukul Arwana, “don njaj nde mbuk prom nde kover.” sambil menangkupkan jari dibibirnya, lalu ditarik kedepan memeragakan sebuah moncong. Dengan gaya mbagusi tentunya.

Mimbar Saputro

caputaw = lumayan
daging sapi gelontoran= sapi yang dicekoki air sebelum disembelih agar
mendapatkan berat lebih banyak.
mbaplang = melintang

Buku: Dimsum Terakhir
Pengarang: Clara Ng