Betapa Artinya Sebuah Nama


Sahabat Sri Endang memposting cucunya akan di Vaksin. Lantaran jaraknya 60km, maka usulannya berangkat jam 07:00 “ben ora macet” – tetapi kakek nenek ritual panggilan alamnya rada padat dan “demanding”. Alhasil jam 09:00 cabut dan sampai Cikarang jam 11:00. Masih SOSO.

Nama cucunya NAJWA, waktu maju ke meja pendaftaran, sang Ibu “ULL” baru menulis nama eh  cucu langsung nyeletuk “Najwa pakai “J” – ibunya protes, emang mama yang kasih nama tidak tahu. Anaknya yang sudah tidak kecil lagi menjawab kadang ada yang menulis pakai “Z” kok. Ibu malahan pernah menulis Najwa menjadi Naswa. Ibunya terdiam. Anak jaman Now.

Itu episode pagi dari Cimanggis. Dari seorang nenek aselinya Sri Endang Susilowati di KTP menjadi Endang Susilowati, dan mau diubah ribetnya bukan buatan.

****
Lain Cimanggis lain pula tanah perdikan kami desa  “RawaBogo.”

Beberapa tahun lalu, seorang bocah komplek minta di khitan. Kami yang mendengar langsung mendaftar untuk menjadi “biang keladi“-nya. Hulu sampai hilir. Transportasi ke dokter semua “lump sump”. Tau beres.

Biasanya akan ada ritual membagikan besekan. Pemberitahuan kepada tetangga teparo akan sebuah langkah penting seorang Bani Adam.

Masih dalam lumpsump. Giliran saya dikasih tugas mencetak nama, atensi, agar sang penerima besek (maksudnya ya kotak kardus), tidak bingung dari mana ini. Dan yang penting doanya jangan-jangan salah kamar misalnya Semoga Arwah Beliau diterima YME. Kalaupun ngeles “maksudnya” Arwah Kulit yang dikubur tadi.

Redaksi sudah saya rancang.. Namun yang tidak boleh ngarang adalah nama sang IP (Injured Person), lha dipotong kan sakit.

Maka ibunya saya tanya nama anaknya terutama ejaannya. Misalnya setelah huruf S apakah pakai “H” atau pakai J atau Y atau setelah hurup pertama S langsung diikuti A..

Pertanyaan saya SHA, SJA, SYA atau SA saja.

Weleh, sang ibu yakubeng lantas plencing tunggang langgang kerumahnya. Sepertinya melakukan rapat dengan sang Imam. Setengah jam kemudian nama yang disepakati adalah SA.

Jadi cucu ibu Sri Endang Susilowati yang di KTP tertulis Endang Susilowati atas nama Najwa pakai “J” sudah melakukan hal yang benar. Jeremy Tety ingat betul perkenalannya dengan pesulap Deddy Corbuzier. Berkali-kali Deddy mengingatkan Jeremy bahwa nama keduanya Corbuzier.. Tapi masih ada yang menulis Cobuzier zonder “r”

Saya yang diberi nama SEPUTRO, menjadi Saputro, menjadi Saputra ya gara-gara monat-manut nama diubah dengan alasan kata Shakespeare “Apa Arti Sebuah Nama”. Bahkan kelahiran 4 Maret bisa di Rapot tertulis 19 Maret. [Baru nggresula setelah 65 tahun].

Nama selalu ada artinya. Kecuali berharap ditolak naik pesawat sebab nama tidak sesuai KTP. Atau harus ke “Court” di Singapura diangkat sumpah di depan Hakim negeri Sono untuk sebuah pernyataan BAHWA NAMA SAPUTRO dan SAPUTRA adalah orang yang sama. Dan yang tidak ngenakin, saat itu Anya cucu saya mulai bosan dan berlarian di lantai Mezzanine Mahkamah Singapore. Suara anak berlarian diatas panggunng memang gaduh.

Ibunya yang sudah kesal, lapar, karena seharia antri, m akhirnya mencubit sang putri. “kakek nenek tertunduk sedih“.

BETAPA ARTI SEBUAH NAMA

Advertisements

PBB


P1100325
Transaksi Pajak dilakukan ZONDER duduk, dan dua lembar kertas di meja darurat itulah saksinya

Kalau Speaker mesjid berbunyi biasanya dua perkara. Panggilan Salat dan Pengumuman sehubungan dengan RT/RW. Belakangan ini  saban Sabtu Pagi – sekitar pukul 08:00 – dibacakan  pengumuman mengenai cara mudah bayar Pajak Bumi Bangunan (PBB)  melalui  RT kami namanya  Gedung Serba Guna dari jam 09-12:00.

Lantaran diumumkan berulang ulang dan kebetulan tahun ini kami belum bayar PBB maka himbauan ini masuk ke hati. Masuknya seperti mars Partai yang lebih banyak diudarakan ketimbang mars Negeri.

Apalagi jaraknya hanya beberapa ratus meter. Sampai disana, 08:30 belum nampak petugas, mau duduk dimana tidak ada kursi. Hanya dua meja kayu  terbuat dari triplex. Kalaupun mau duduk-ada bangku semen di sebuah pos jaga, namun empat orang pengojek  plus dua bocah sudah kongkow disana entah sejak kapan.

Seekor anjing coklat ditambat erat pada sebuah pot kecil.

Sambil menunggu petugas datang maka saya mulai melihat  kondisi bangunan yang disebut serba guna ini. Pintu toilet tidak memiliki kunci. Jadi apa yang terjadi kalau anda buang hajat disana. Kran wastafel sudah lama tak berfungsi.

Tidak lama datang seorang wajib pajak – Ibu Soeroso, janda yang baru ditinggal suaminya setahun lalu, jalannya seperti Robot pertanda Radang Sendi sudah betah tinggal dikakinya.

Dia datang diboncengkan seorang wanita. Bu Roso ternyata hanya ketemu perempuan “baik” yang tidak dikenalnya di jalan dan luar biasa – perempuan muda ini bersedia mengantarkan ke Gedung Serba Guna.

Berulang kali ibu mengeluhkan sudah ditinggal suami sehingga harus ke kelurahan sendiri buat bayar pajak bangunan.

Menunggu selama setengah jam sambil berdiri sudah barang tentu siksaan bagi beliau usia lanjut ini sehingga saya tawarkan duduk digardu pangkalan ojek yang berjarak sekitar 20m. Tawaran saya disetujui dan saya tawarkan untuk menggandengnya.

Sesungguhnya saya agak kuatir beliau menolak bersentuhan. Sampai sekarangpun kalau ada orang menolak disalami kendati maklum… hati saya tetap “mak jegagik” kaget.

Seperti yang saya katakan di gardu siskampling sudah ada empat lelaki dewasa di – namun ada 3 motor mangkal disana. Jarak tempuh yang begitu dekat bisa menjadi lama sebab ibu berjalan seperti bergeser. Sayapun harus sabar menggandeng ibu ini untuk melangkahi tanggul-tanggul got.

Dua anak sekolah yang bermain disekitar cuma melongo melihat saya menuntun Ibu – mereka saya tegur “dik kalau lihat orang tua begini dibantu ya…”

Kedua bocah SMP seperti serempak menjawab “kami tidak tahu Pak”. Ibu berbisik – anak kecil begitu bisa apa.. Sementara pesan yang ingin saya sampaikan – adalah “mbok yao get-get-en” – ini bahasa Nenek saya – cobalah melihatkan reaksi (empati).

Sementara Kang Ojek (3+1 orang) hanya saling pandang..

Nenek Roso baru saja duduk ketika tatkala datang petugas yang ditunggu. Setelah menstandarkan motornya mbak petugas meletakkan sebotol air minum, sebungkus roti coklat, dompet kain warna pink – sepertinya logonya “monyet”.

Hilang sudah fantasi liar saya – ternyata tak ada PC, apalagi network – gampangnya tak ada Online. Transaksi online dilakukan sambil berdiri. Harap maklum kursi yang dijanjikan “ada didalam” – tak pernah terlihat.

Ibu Suroso ternyata tidak bawa dokumen apapun sebab “disimpan suami” sebelum meninggal. Tapi mbak Rob sang petugas sudah berbekal list daftar wajib pajak. Jadi nggak masalah..

Nama Bu Roso dengan nominal yang harus dibayarkan – alamat tempat tinggal dengan mudah didapatkan. Sedikit masalah dengan uang pengembalian, sehingga petugas sepertinya merelakan seribu rupiah keluar dari koceknya. Petugas memberikan selembar formulir yang kelak datanya akan dimasukkan kedalam database komputer, dicetak bukti transaksi pada secarik kertas tebal. Namun jelas ini tidak dilakukan di gedung SerbaGuna melainkan di Bank Jabar. Bukti asli akan diserahkan kepada petugas RT atau RW untuk diteruskan kepada wajib pajak.

Ketika ditanya bukti pembayaran aseli akan dititipkan kepada siapa.. Bu Roso menyebut suatu pejabat dengan jabatan tertentu. Pejabat yang lain ia komentari “pemalas”..

Setelah ibu Suroso selesai.. Saya mengajukan copy PBB lama sebab tahun ini SPT tersebut belum kami terima dari pak RT “A”

Celakanya menurut si Ibu, blok Sepuluh (saya) tidak termasuk dalam listnya.
Ketika saya mulai mengkeret untuk undur diri – Ibu menilpun Pak RT untuk membacakan nominal PBB saya.

Cuma ya itu.. Saya diberi potongan kertas stensilan yang sudah diberi cap basah sebelumnya (premeditated form).

Bahkan kopian formulirpun ibu muda tersebut tidak menyimpannya. Semua hanya ditulis pada kertas Script.  Bagaimana kalau satu dan lain hal – buku skrip sang petugas – hilang, bukankah menjadi berabe. Di jaman serba komputer begini.

Mei 2016

Bank itu namanya KIM


Dimusim liburan ini saya ke sebuah mal di Jakarta Barat. Bukan 
blanja-blanji melainkan mencairkan cek yang sebagian milik teman-teman. 
Pekerjaan yang tidak masuk JOBDES saya- tetapi kalau mengingat liburan 
NATAL yang bakalan mengular panjangnya, maka kami harus siap-siap 
“cash”. Beberapa jam setelah kepergian saya, hujan langsung turun, dan 
motor sampai pada masuk jalan tol..

Coba saya tunda sebentar saja.. maka urung sudah rencana kirim fulus 
yang dinanti-nanti beberapa teman..

Jam Sepuluh, bank sudah mulai menerima transaksi. Saya masuk dideretan 
antrean. Sambil nyeruput Kopi ber Voucher Internet Akses Gratis. Lha 
datang jam 08:00 Mal juga baru dipel.. Cuma warung kopi bule yang sudah 
aktip.

Didepan saya ada seorang bapak yang nampaknya klik diajak ngobrol.

Bank ini termasuk yang “mengubah paradigma” selama ini. Yang mengucap 
kata tanda kutip adalah seorang bapak yang antrean didepan saya dan 
ternyata “mudahan betul” dari bank yang sama.

Tetapi jujur saja lho baik saya dan teman dikantor masih belum ngeh - 
bahwa bank dengan embel-embel Syariah - nyatanya proses transaksinya 
Ribettt sekalipun biasanya mendompleng nama yang induknya.

Saya pernah "dituding" menelantarkan beberapa tenaga Konsultan kami yang 
dari awal “deal” kerja kami teriak-teriak - minta nomor rekening dari 
bank “B**” sebab itu bank resmi kami dan kontrol uang mudah dilakukan. 
Mereka tetap ngotot pakai Bank lain sehingga selalu saja ada salah 
sambung dan berakhir ribet deh.

Seorang sahabat saya, lebih membingungkan lagi ketika kami akan 
mentransfer uang - beliau keukeuh untuk dikirim ke rekening Bank KIM...

Sebelum terjadi kesalahan, saya minta eja nama banknya... Setidaknya 
diemail/scan bagian belakang buku tabungan yang ada nomor dan nama 
banknya. Jawabannya - aku ndak punya email.. Akhirnya komunikasi pakai 
Text.. dan Voice.

"Cirebon, Indramayu, Magelang, Bandung - sing kuwi lho - mantan Lippo 
Bank.." kata suara diujung sana.

Deg....

Kalau Chotbah menjadi Kotbah

Kalau Chairul menjadi Kairul

Tetapi kalau CIMB mbok yao jangan dizolimi menjadi KIM(B)- apa kalau 
ditambahi jadi Kim Syariah...

Persahabatan dengan Bank (dulu) mirip kepompong


 Selamat pagi pak ada yang bisa dibantu. – Gadis ini berdiri, lalu dua petugas loket lainnya ikut berdiri pula menyambut saya. Hal yang biasa dan standar untuk pelayanan bank-bank dimana saja. Tapi pagi ini sekitar jam sembilan saya merasa ada yang ajaiban. Pasalnya petugas cantik berseragam kuning gading pada sebuah Bank Swasta kondang yang amat saya percaya ini, bukan teman saya. 

Semula saya ingin mengatakan: “Terimakasih, saya hanya ingin mencetak buku tabungan saya,” namun kata tersebut saya jepit diantara gigi dan lidah. Alhasil yang keluar tenggorokan adalah: “Nanti dulu, saya belum memperkenalkan diri, mbak sudah menyebut nama saya dengan tepat dari nama pertama dan nama terakhir.” – Gadis tersipu, katanya dia pernah melihat saya kerap mendatangi bank yang kebetulan satu bangunan dengan gedung penyedia jaringan seluler “suka-suka” berlogo merah.

Yang sebetulnya saya ingin menunjukkan kepada teman sekitarnya bahwa inilah contoh pelayanan terbaik. Cukup sekali dua pelanggan datang kesana, mereka sudah berusaha dengan susah payah menghapal nama nasabah. Apalagi berhadapan dengan bank yang kondang sangat profesional tetapi kelemahannya kurang ramah terhadap pelanggan.

Bukan itu saja, HP yang seumur umur tidak pernah dihubungi oleh bank inipun sekarang mulai terisi pesan-pesan bersahabat ala kepompong marketing.

Ini sebuah perubahan, yang biasanya memang dilakukan bank papan dibawahnya.

Padahal saya pernah dua kali mengapply kartu kredit kelas “emas”, dua-duanya ditolak, karena persyaratan belum dirasakan memenuhi quota mereka. Padahal sampai datang ke rumah segala.

Saya tidak merasa terlecehkan. Tetap menjadi fanatikusnya. Tanpa dimintapun saya selama satu dekade selalu mengiklankan bank “biru putih” ini. Tak jemu mengatakan kepada setiap teman minta nasihat bank apa yang sebaiknya dipercaya, saya membutuhkan seper nano detik menjawab “bank Biru Putih” – dengan tambahan “kurang ramah memang tetapi profesional..”

Di Australia, misalnya setiap saat saya bisa mentrasfer uang ke bank tersebut dalam hitungan 2-3 jam, lalu saya bandingkan dengan bank lain, ternyata diatas 3 hari. Hopo Tumon.

Dalam soal Teknologi Informasi, semua sarana yang ditawarkan mampu berfungsi dengan baik, semenara bank pesaing lainnya, payah. Kendati saya sabar bolak dan balik ke bank pesaing ini untuk diberi “pengarahan” sampai akhirnya masuk pada fasa “ya sudah memang kemampuan bank lain hanya sampai segitu saja. Titik.”- Belum lagi manakala hari libur seperti Sabtu atau Minggu bank pesaing langsung jadi “ATM kere” alias “maaf tidak bisa mengambil tunai”

Suka rela saya mengajak teman dan kerabat menggunakan bank yang iuran awalnya lebih tinggi dari yang lain. Lagian saya sudah punya kartu kredit yang menemani saya lebih dari 10tahun.

Kalaupun saya punya kritik, host di tipi yang perempuan “gebyar-gebyar”cantik sering jadi model ramuan kecantikan, sebaiknya diganti. Bahasanya tinggi betul, sampai-sampai pesan yang ingin disampaikan kepada calon pelanggan tidak sampai.

Nasabah Perlente


Date: Sun Oct 26, 2003 8:03 am

Hari Sabtu siang yang terik, matahari masih sepenggal galah. Maksudnya bayang-bayangnya orang yang dihasilkan sinar ini masih sangat pendek, sebuah dos-a-dos (delmaan atau sado) berhenti dimuka sebuah bank terkenal di Batavia di kawasan jalan Pintu Besar. Menilik cara berpakaian , penumpangnya jelas seorang tuan perlente, bercambang lebat. Biasanya orang beginian, aselinya Eropa, roman-romannya orang Inggris. Kelihatannya ia sudah lama menjadi nasabah Javasche Bank sehingga petugas Bank bersikap ramah (apalagi Bule pula). Tiba-tiba keadaan berubah chaos, ternyata Manusia Bercambang tadi mengeluarkan revolver dan menggasak sebuah tromol berisi uang.

Kalau laporan satpam di kampung saya yang kerjaannya tidur dan baru pura-pura patroli setelah jam 5, maka keadaan berubah dari 86 (Aman terkendali dan kondusif) menjadi 29, alias usaha perampokan. Petugas bernama Reijnst dan seorang opas melihat pelaku kejahatan beraksi langsung mengejar penjahat. Tetapi gerakan mereka terhadang akibat moncong revolver menyalak dan mengenai tubuh sang opas. Beruntung Reijnst masih sempat menjatuhkan diri tiarap sehingga butir “mimis” alias timah panas tidak sempat menggores tubuhnya.

Sado penjahat terus melaju sampai diujung gang, sebuah sado yang lewat dicegat perampok dan dipaksa untu membawa kabur penjahat yang single fighter ini. Sais yang kebingungan jadi salah tingkah sehingga perampok menjadi panik dan moncong senjata menyalak sekali lagi dan akibatnya seorang penonton ditempat kejadian roboh diterjang peluru panas (bukan) dari petugas – bahasa Buser plus Derap Hukum :-).

Akibatnya sais tunggang langgang ketakutan, dan sado dirampas untuk meneruskan pelariannya menuju jalan Jakarta. Dekat jembatan Merah, seseorang Eropa juga rupanya teman perampok ini segera bergabung dan keduanya lari melalui Kramat dan Menteng. Disebuah rumah mewah mereka berganti deelman (istimewa) yang ditarik dua kuda, satu duduk dimuka dan kabur keluar kota arah Bogor.

Kontrolir Polisi Johan segera turun ke TKP dan melakukan perburuan, instingnya mengatakan penjahat bersembunyi (beneran) ke Bogor. Di Tanjung OOST (Tanjung Timur), mereka mulai rajin bertanya kalau-kalau melihat dua orang Eropa. Istilahnya informasi saksi dikembangkan lebih lanjut. Di kawasan Ciluar, Johan melihat sebuah kereta kuda yang tidak istimewa lagi karena kudanya kecapekan sedang parkir di jalanan. Melihat Johan dari kejauhan, maka sado langsung tancap gas, cuma karena dipacu terus menerus di sejak dari Jakarta, maka sampai di Kedunghalang kuda tadi sudah letoy habis. Tenaga kudanya sudah menjadi tenaga tak bertenaga. Hari sudah menunjukkan Minggu jam 06 pagi. Johan melihat ada seorang yang melompat dari kereta. Sedangkan teman satunya berhasil tertangkap basah didalam deelman. Schout Hinnes (anda tahu tokoh ini yang menembak mati Pitung) datang ketempat kejadian dan “Inglish” yang diinterogasi ternyata Belanda bernama Gentis yang menyamar jadi British. Di saku bajunya ada 4000 gulden sedangkan didalam kereta polisi menemukan 8750 gulden. Seperti biasa pelaku menyangkal perbuatannya, atau kalau sudah dijepit kaki meja atau dijadikan asbak hidup oleh sang interogator mereka teriak bilang “baru pertama kali ini melakukan perbuatan karena dorongan ekonomi.”

SIAPA SATRIA BERCAMBANG TADI

Semula Gentis adalah pemilik Firma Gentis en Co (1900). Perusahaan ini kerjanya menerima deposito para nasabah dengan iming-iming bunga yang aduhai Mungkin kalau bahasa klise diInternet “maukah anda bergabung dalam bisnis yang sangat luar biasa ini?, kejujuran anda adalah kunci kesuksesan, dengan 20 ribu rupiah, anda bisa berpenghasilan 10-30 juta perbulan tanpa kerja keras.”

Makin dibaca ke bawah kalimatnya biasanya makin aneh. Apalagi kalau ditindak lanjuti dengan bergabung atau menjadi downline. Banyak sekali kata puitis dan bersayap.
Akibatnya iklan Gentis yang sangat “luar biasa” dan menggugah mimpi kebanyakan orang yang entah sudah putus asa atau memang doyan cari perkara, maka orang berlomba-lomba menanam deposito disitu. Kelihatannya kakak beradik Gentis ini akur-akur saja ketika membuka usaha beginian, tidak seperti penjualan “mirip” deposito dengan wajah lain GoldQuest yang mengundang pertengkaran keluarga, seratus tahun kemudian. Dan seperti bisa diduga, bisnis ecek-ecek begini cuma berujung malapetaka. Melihat laporan banknya mengatakan bahwa ia sudah bangkrut mereka kebingungan. Mau lari ke Singapore, Australia atau Jepang kok belum ngetrend akhirnya jalan pintas yang di tempuh. Inilah yang menggagas Gentis untuk merampok bank. Revolver dan Cambang palsu dibeli di sebuah toko milik Paul di jalan Rijswijk lalu diberikan kepada adiknya yang saat itu sedang dirawat di RS Cikini. Adiknya ini kelak jadi eksekutor perampokan.

Bagaimana kelanjutan sang adik yang lari kehutan, nasibnya ternyata lebih buruk. Ia di bacok peronda (yang tidak tidur kalau tugas), karena Gentis muda dikira maling. Inilah perampokan terbesar dan terberani di Batavia, bahkan di koran-koran berspekulasi sebagai Perampokan Terbesar di planet ini Dalam sidang Raad van Justitie di Betawi dua saudara ini dijatuhi hukuman 15 dan 10 tahun. Sayangnya lantaran yang melakukan kejahatan adalah orang Belanda, sidang dilakukan secara tertutup sehingga jalannya sidang tidak bisa diketahui khalayak. Beda misalnya kalau inlander yang melakukan kejahatan. Istilahnya sekarang dikupas tuntas, dikuliti-ti.
Perampokan Javasche Bank mengilhami pengarang-pengarang menulis syair. Salah satunya “Sair Tuan Gentis di Betawi” dengan sub-judul “Yang suda(h) kejadian
di Betawi 22 November 2002” oleh Ahmad Beramka, lalu Sair “Java-Bank dirampok tanggal 22 November 1902” oleh F. Wigger.

10/26/03 mimbar seputro

Vespa bukan sepeda motor


Kejadiannya pada tanggal 30 April 1985, waktu itu saya bermaksud mencairkan cek dari kantor sebesar Rp. 835.000 di Bank Of Amerika (BOA) yang lokasinya di Medan Merdeka Barat-Jakarta.Karena jarak Bank dengan Rumah tidak terlalu jauh, maka saya memutuskan untuk mengendarai sebuah Vespa putih keluaran tahun 1960, jadi usianya sudah 25 tahun tapi dalam keadaan terawat baik.

Scooter saya parkir di tempat penitipan sepeda motor di basement, lalu saya kunci pada stangnya. Di BOA ini kami sering bertemu dengan teman sejawat dari perminyakan seperti dari Baroid, Corelab dan banyak yang lainnya sehingga terjadi pertukaran info lowongan pekerjaan. Saya bertemu dengan teman lama yang sudah bekerja di perusahaan lain.

Teman ini punya kebiasaan pakai baju Safari setiap kali mengambil uang di Bank. Hari itu ia mengajak anak dan isterinya. Harap maklum kami orang lapangan yang pekerjaannya di pengeboran laut sehingga berpisah selama dua minggu dan mendapat jatah cuti selama seminggu untuk temu keluarga dalam sebulannya sehingga karena masih kangen, anak dan istri diajak serta dalam pelbagai urusan. Setelah transaksi, teman ini juga selalu terburu-buru ke toilet seperti orang “kebelet” berat.

Dalam suatu kesempatan, saya “usil” bertanya mengapa kamu selalu terkencing-kencing setiap kali dari loket. Dia tertawa terbahak-bahak sehingga matanya yang sipit makin tak kelihatan. Rokok yang terselip dibibirnya sempat terjatuh. Jidadnya juga lebar dengan rambut yang keriting gondrong sampai tergerai-gerai.

“Mimbar my friend,” katanya seraya berbisik.

“Aku bukan kencing air, tetapi kencing uang.”

“Maksudmu?” tanya saya polos.

“Uang yang kuterima aku bagi dua, uang buat biniku, aku taruh di saku depan, uang lelaki (untuk dirinya) ditaruh di saku belakang.”

Itulah sebabnya aku harus masuk ke toilet untuk membagi uang ini supaya tidak kelihatan isteriku.” ketawanya makin keras membuat tubuhnya yang lebih pendek dari saya seakan berguncang-guncang.

Barulah saya paham mengapa ia selalu menggunakan baju Safari yang memang banyak kantongnya.

Kemudian kami berpisah, celaka, Vespa saya sudah raib. Padahal di kunci pada stangnya. Segera saya cari SATPAM untuk melaporkan kejadian tersebut.

“Bapak kehilangan motor?”

“Ya Vespa Putih!,” sambil mengeluarkan STNK motor tersebut dari dompet saya.

“Motor bapak dipindahkan ke lantai II, sebab di basement itu khusus parkir motor,” katanya secara meyakinkan. lalu saya ke lantai II dan memang Vespa tadi ditaruh disana bersebelahan dengan kendaraan roda empat seperti Jeep, Sedan dsb.

Hampir 20 tahun peristiwa berlalu, saya masih bingung. Pasalnya motor saya dianggap parkir ditempat yang salah, yaitu tempat parkir sepeda motor (Honda, Suzuki, Yamaha, Kawasaki). Tetapi memindahkannya ke ruang parkir mobil. Atau memang kebijakan bank tersebut, membedakan ruang parkir Scooter dengan Sepeda motor.