Matematika Babang VCDb


Harga sebuah DVD kosongan – di Alfamaret atau toko Fotocopy adalah Rp 6000 per keping. Harga yang sama didapat dengan isi filem full digital.

Siang itu diantara hujan lebat, saya dibawah payung berlindung di sebuah lapak DVD. Mestinya setelah payung dikuncupkan, lalu sisa airnya di kebas-kebas agar cepat turun yak.

Kebetulan lapaknya sepi.  Diantara jejeran filem barat, hongkong, nampak pula Windows7, Photoshop dan saya yakin yang bokep, LGBT dan sejenis tersimpan disuatu tempat yang hanya pemilik yang tahu.

Diujung lapak, seorang anak muda kurus sedang “tirus ayam” didepan seekor kucing hitam kurus yang tertidur dimejanya. Boleh jadi sang kucing hitam berhasil menghipnotisnya tanpa kata kecuali meong. Pemiliknya menghipnotis balik sehingga kucingpun ikutan tertidur. Sang pemilik meletakkan kanannya dan kedua tangannya memeluk kucing. Selain meong ada kalkulator, dan asbak.

Melihat kami masuk, iapun langsung beranjak berdiri.

Kebetulan sekali sudah ada kerenteg-renteg mencari filem Bolywood yang kontroversial Padmavaat (Padmawati). Kisah percintaan Hindu Totok dengan Muslim Radikal kan seru. Saya dulu pernah beli filem Bolywood bertitel PeKa yang juga kontroversial.

Sayang Anak muda seumuran Holili Sampang ini cuma cat rambutnya yang pirang nampak bersinar. Wajah alaynya sih tetap bingung “filem India apaan?”.

Jawaban jelas dia belum nyetok.

Kadung disana, akhirnya saya beli lima keping filem yang saya tidak tahu kapan akan ditonton.

Si rambut Pirang lantas mengkalkulasi  lima buah DVD. Zonder kalkulator ya Rp 30 ribu.

“Pak kalau beli lima ada bonus satu..” – Lalu uang 30 ribu diberikan untuk 5+1 DVD.

Kok teman sebelah saya yang memilih VCD lagu lama, nyeletuk. “Kalau gitu satu sidi bukan 6 ribu melainkan 5 ribu dong..!”

“Ndak bisa kalau segitu rugi (5 ribu), harga pas 6 ribu, tapi kalau beli lima dikasih satu gratis..”

Maka sore ini ada pelajaran 6 keping DVD harganya 30 ribu – namun menurut matematika penggemar kucing ini, satu DVD tetap Rp. 6000.

 

 

 

 

 

Advertisements

KW


Perempuan separuh baya ini nampak tajir. Rambut disasak, bercelana panjang dan bukan dari bahan jean, memakai hak tinggi kendati berjalan jauh sepanjang jalan Orchard Singapura. Biasanya dicirikan perempuan Indonesia yang kaya.

Di sebuah pusat pertokoan di jalan Orchard yang menjual barang macam tas kulit, dompet kulit barang bermerek salah satuannya keluaran LV – dia masuk dengan penuh percaya diri. Nampak mengincar sebuah tas bermerek LV.

Transaksipun berjalan mulus. Tas yang ditaksir diatas 5ribuan dollar berpindah tangan. Pembayaran menggunakan kartu Kredit yang diselipkan dalam dompet nampaknya merek LV.
Tapi mata tajam dan terlatih kasir di pertokoan jalan Orchard ini melihat bahwa dompet yang dikeluarkan perempuan adalah bajakan.

Diam-diam Kasir mengirimkan isyarat kepada pihak keamanan Gedung. Perempuan tadi terpucat-pucat karena kedapatan menggunakan barang bajakan. Biasanya pertanyaan ini berujung denda. Tentgunya tidak kecil.

Negeri Singapura makin tak ramah terhadap fans barang “KW” entah KW Premium atau KW nomor dua. Lebih aman pakai mereka biasa tetapi aseli ketimbang merek sohor jebul tetiron. Atau, kalau mau pakai, jauhi Orchard.