Yu Gemi


SIAPA YU GEMI ITU
Mendadak nama ini muncul di HP saya. Oh ya saya bercerita melompat lompat.

Mengirimkan undangan nikah, saya menggunakan jasa ekspedisi yang kadang menjengkelkan tetapi ada unsur pembelajaran. Misalnya – tidak setiap orang “update” dengan alamat, sekalipun alamat sendiri.

Untuk memonitor dokumen yang dikirim maka saya menggunakan aplikasi di HP untuk melakukan pelacakan. Dengan memasukkan Nomor Resi, maka bisa diketahui – kapan kiriman tiba dan nama sang penerima.

Ada nama yang unik misalnya YBS. Setelah di utak atik gathuk, maksudnya Yang Bersangkutan Sendiri.  Petugas ekspedisi kadang tidak ragu menulis Pembantunya. Padahal kalau hal tak diharapkan terjadi, akan sulit mencari batang hidung sang penerima.

Umumnya ibu-ibu kurang suka menulis nama kecilnya sehingga tanda terima berisikan nama Bu Sudin karena suaminya pak Sudin. Padahal Nama Kecil lebih memiliki legitimasi dalam urusan hukum.

Dari nama penerima undangan, maka muncul nama unik Yu Gemi. Yu adalah singkatan dari Mbakyu artinya lagi kakak perempuan. Nama Yu atau mbakyu Gemi muncul akrab ditelinga saya sebab inilah asisten wara-wiri sahabat saya, kita singkat namanya ES.

Ibu ES banyak menulis tentang Yu Gemi, gayanya memasaknya, serta teman nonton filem India disaat senggang. Bahkan memasak lodeh-pun bunda ES seperti chef Yuna membuat kue. Serba cantik, serba yummy. Ia pernah seperti “gerowong” alias mencelos hatinya ketika Yu Gemi pulkam.

Hidup seperti hampa, komentarnya.

Yang ditangkap dari cerita beliau adalah Yu kita ini sudah di “wong-ke” alias tidak dianggap sebagai PRT, melainkan sahabat.

Advertisements

Sekali Mbak Irah – pamit, dua keluarga kehilangan pembantu ….


Gonjang ganjing daging sapi hilang dari pasaran, heboh bakteri Enterobacter Sakazakii (ES), Jaksa Ketua yang mencari koruptor tetapi nyambi mencuri dari koruptor belum menggoncangkan keluarga kami. Namun hari Minggu dua maret 2008 orang rumah bisa tertunduk meneteskan air mata.

Pasalnya sang deputy kepercayaannya sejak Februari 2006 tiba-tiba pamit untuk menikah dengan kerabat dekat seperti yang di inginkan oleh sang ayah. Modusnya biasa, keukeuh minta ijin pulang kampung lantaran ditilpun keluarga bahwa sang ayah muntah-muntah. Satu indikasi awal prt kita tak betah jika tilpun selalu berdering dari adik, kakak, keponakan, paklek entah siapa saja. Betul saja, Irah langsung pamit “cuma seminggu” pulang kampung – lantaran bapak sakit.

Beberapa hari lalu ia sempat mencium punggung tanganku pamitan sambil bilang “Irah pulang duluganya bahwa ya Pak..” – biasanya dia pulang membawa oleh-oleh beras tutu (tumbuk) merah kesukaanku. Namun kali ini setelah seminggu ia kirim pesan singkat mengatakan “Maaf Irah tidak boleh bekerja lagi ke Jakarta…

Saya masih ingat baru beberapa minggu bekerja dengan kami, pada bulan Maret 2006 sang ayah datang njujuk (tinggal) disalah satu familinya di bilangan Jakarta Barat. Malam harinya kami ditilpun lantaran diberitakan bahwa Irah sakit muntah-muntah dan tidak mampu untuk berjalan. Lalu kami bergegas menuju ke rumah kontrakannya. Melihat anaknya sakit sang ayah ternyata bergegas pulang “tinggal glanggang colong playu” ke kampung ketimbang mengurusi sakitnya sang puteri. Sementara pihak keluarga yang kuatir ketempuhan seperti mendesak Irah agar “jangan sakit dirumahnya” – tidak seoles balsem sebagai tindakan pertolongan dilakukan disini.

Malam itu juga Irah kami bawa ke rumah sakit. Tidak mudah mendapat ruang di rumah sakit sebab Jakarta sedang dilanda demam berdarah dan tidak sanggup menerima pasien baru. Saya harus minta tolong adik dr. Agus Sudrajat yang saat itu masih di jalan Tol untuk kembali kerumahnya dan membatalkan semua acaranya untuk menolong nyawa Irah.

Kami terlanjur jatuh hati. Tak heran, berpembawaan “merak hati” – membuat orang suka melihatnya, para tamu kami kerap memberinya tips.  Membalas email, membuka attachment, cukup satu kali ia diberi pengarahan, sisanya kita geleng-geleng melihat kecekatannya. Urusan mendaftarkan SIMCARD baru, memecah pulsa, mengisi pulsa, mengecek pulsa dia adalah kamus hidup.
Pakaian yang disandangnya keluaran merek dari luar negeri yang terkadang menimbulkan iri hati ABG “non PRT” se RT kami.

Baru sebentar bekerja di tempat kami Ira sudah memiliki HP, Gelang, Suweng (anting), Jam Tangan, Cincin, Tas, Sepatu sehingga kalau dia tidak mengaku siapa dirinya, orang akan menyangkanya anak SMA, kecuali memang wajahnya yang tertempa pekerjaan saat usia masih teramat belia. Tapi setiap kali ia pulang kampung terseoklah dia kembali menjadi Irah Gundul. Perhiasan dan uangnya ludes.

Ada lagi kebiasaannya sekali tempo ia pamit untu acara mingguan “main” ke rumah teman-temannya seprofesi. Bisa dipastikan penggemar Sinetron Fitri seperti mengalami semacam cuci otak atau “pencerahan” sebab keesokan harinya ia akan pamit dengan alasan menengok ayahnya di kampung.

Sebagai anak yang patuh, ancaman yang disampaikan temannya “bakal masuk neraka tidak mengikuti kata ayah” – sangat mempengaruhi bathin gadis kecil yang kuat salatnnya ini termasuk keputusan sang ayah bahwa Irah harus nikah dengan pemuda pilihan ayahnya.
Efek domino datang, sang Arjuna lain, Imam mendengar Irah menikah maka pemuda yang sehari-hari bekerja sebagai supir sebuah keluarga langsung pamit keluar kerja dan pulang kampung.

Hati saya gundah gulana,” alasannya. Padahal sebelumnya ia masih tergeletak akibat dugaan serangan thypus. Belakangan saya baru tahu setelah HP berdering. Di ujung telpun suara adik ipar terdengar tak bersemangat “Mas..supirku keluar tadi pagi, padahal semalam suhu badan masih panas..“- WoalahIrah ternyata kamu sudah mampu menaklukkan beberapa keluarga.

Doa kami Irah agar kamu bisa tegak berdiri bersama suamimu. Dan Imam bisa legawa menerima keputusan Irah dan paham bahwa jaman Siti Nurbaya masih ada di era PLN edisi Insentif dan De-insentif.

Segarnya Mantab… boleh… asal sudah sarapan


29 Maret 2006

Liburan weesak, Irah, deputy yang baru 2 bulan bekerja minta ijin pakansi “kecil” lantaran mendapat kabar bahwa orang-tuanya dari desa datang menengoknya. Biasanya kangen-kangenan diteruskan dengan evaluasi penghasilannya selama bekerja di Jakarta. Ada kemungkinan sang orang tua menganjurkannya pindah tauke bilamana hasilnya dinilai kurang memadai.

Masalahnya, Irah di Rawa Bogo sementara sang keluarga “ngepul” di bilangan Grogol. Lantaran Jendral dari Kitchen Kabinet -JKK- merasa tidak PeDe melepaskannya sendirian dibelantara Angkot, Minibus dan Calo-calo sehingga sang deputy diberikan akomodasi dengan supir dari Australia. Jam 04:30 dinihari kami meluncur ke Grogol. Jam 06:00 kami bayangkan Irah sedang ngomong “ngapak-ngapak” dengan sanak familinya. Duh bahagianya.

Saat jarum jam beranjak ke angka 14 belum ada tanda Irah akan melapor k ePosko.

Jam 15 masih idem-dito. JKK mulai gelisah. Pertama bisa jadi Irah memenuhi permintaan orang tuanya mencari penghasilan yang lebih layak, yang kedua – kekuatiran jangan-jangan anak ini sakit. Lalu telik sandi dikirim mencari sisik melik keberadaan Irah. Pelapor menyampaikan berita, Irah berada di Jalan Makaliwe Gang Lima tidak mau pulang lantaran ia muntah terus sejak pagi. Sekarang ia hanya penunggu kamar mandi dengan wajah pusat pasi…” – sementara Orangtua sudah kembali ke desa meninggalkan Irah dengan saudaranya. Dan kini saudaranya takut ketempuhan biaya dan resiko, buru-buru “meminta” saya menjemput Irah di kontrakannya.

Usut-punya usut. Rupa-rupanya Irah berniat merayakan pakansinya dengan membeli minuman ringan. Begitu cairan dingin yang segarnya mantab itu mengalir melalui kerongkongannya. Ia meringis kesakitan. Alih-alih dunia meriah, perutnya terasa akan pecah. Cairan sodium bi carbonat melepaskan gas CO, menendang kekiri, kekanan, bergulung.

Akibatnya Irah “gulung koming” dan harus dipapah berdiri oleh saudaranya. Iklan memang sering tidak mendidik dan kurang informatip. Minuman Segarnya Mantab boleh saja. Tapi perut harus sudah terisi. Apalagi yang cenderung menderita tukak lambung seperti Irah. Kawan-kawan di Australia glegak-glegek minum  SoftDrink baik sarapan pagi, siang maupun malam. Kendati ditengarai penyebab osteo, tapi diet tandingan mereka di pagi hari adalah full susu.

Bagaimana kalau operasi SAR digelar“. Usul saya dalam rapat darurat terbatas.

Setelah disepakati, tidak lama kemudian kendaraan SAR sudah berada di mulut gang. Untuk menjemputnya orang harus berjalan kaki sejauh 30 meter menuju rumah kontrakan. Kebetulan penghuni lainnya sedang bekerja mencari nafkah. Hanya Irah dan saudara perempuannya yang kami jumpai. Kondisinya lemah sampai untuk berjalan menuju kemobilpun ia harus dipapah sambil sesekali muntah “uger” lantaran tidak ada lagi yang bisa dikeluarkan.

Dalam keadaan lemah, Irah dibawa ke Dokter sementara arloji menunjukkan jam 16. Dokter keluarga kami, Kardi, yang memeriksanya seperti punya firasat agar Irah tidak dibawa ke Bekasi. Lebih baik melakukan operasi pemulihan kesehatan di Grogol.

Jam 17:30 ternyata obat yang diberikan hanya menjadikan muntahnya makin menjadi. Akhirnya ia kami larikan ke rumah sakit. Tujuan pertama RS Tarakan, ternyata sampai ke lorong-lorongpun sudah terisi penderita demam berdarah. Coba tilpun RS lainnya, keadaan sama, tidak menerima pasien baru.

Kalau sudah kepentok begini saya pakai jurus KKN, adik kandung, dr. Agus Sudrajat saya tilpun. Pertama minta saran, kedua minta tulung, ketiga saya setengah memaksa. Adik dan temannya sebenarnya sudah masuk Tol menuju Jagorawi dan terpaksa mutar balik ke rumahnya di bilangan Cipinang Jaya 2EE Perumahan Depkes. Saementara menunggu perjalanan kami ke Cipinang Jaya, saya minta adik untuk membelikan cairan infus dan segala ubo-rampe sehingga saat kami tiba disana Irah bisa langsung diterapi.

Teman rombongan adik sampe heran rencana sudah diatur seminggu sebelumnya, tiba-tiba dibatalkan hanya lantaran saya tilpun. “Elu tau, kakak gue ini cuma ngebelain pembokat sakit. Tapi yang gue tau, kalau sampe dia minta tolong, artinya sudah kepentok usahanya kesana kemari..

Obat-obat kami peroleh di apotik RS Mitra International Jatinegara, yang diperkirakan beberapa tahun lagi akan dibeli oleh perusahaan berlogo Ramsey. Selang dua jam diinfus, keadaan pasien nampak tenang.

Tuan rumah menyediakan nasi goreng ayam dan kopi Aceh yang segera kami embat tandas. Baru terasa lapar abizz setelah jam-jam menekan. Setelah botol infus berwarna merah jambu habis, kami minta diri berhubung sudah jam 12:00 malam. Baru nyadar bahwa BBM sudah mendekati nadir. Mobil saya belokkan ke sebuah stasiun yang berlogo tiga warna Merah, Hijau, Biru. Antrean panjang namun hanya seorang petugas yang melayani pom.

Ketika giliran saya tiba, baru satu liter diisi, pompa sudah menyentak berhenti, liter kedua pompa menyentak sama. Sang juru isi bergumam “tangkinya kosong ya pak!“.

Lha sejak kapan tangki dalam keadaan full baru diisi bensin?” tanya saya.

Kalau tangkinya kosong, anginnya mengganggu pompa kami….

Seumur-umur mengisi bensin ya baru hari ini saya dikomplin penjual lantaran menyisakan bensin 10 liter dalam tangki. Dan Logo warna merah, biru, hijau tervisualisasikan menjadi Merah, Biru Hijau dan buram, manakala saya lihat stasiun berlogo kerang berdiri tegak tak jauh dari situ.

Tidak perut tidak mobil, kalau sedang kosong lalu diisi mendadak. Bisa timbul masalah baru.

Mimbar Saputro