Kincir Rasid


KINCIR RASID

Kerja serabutan, mengaku petani cuma sekedar penggarap sawah dilereng gunung yang bukan miliknya. Ini reaksi teman teman dan tetangga sekitar ketika Rasid, mengutarakan niatnya membuat proyek mini hidro dengan memanfaatkan sungai yang mengalir didesanya.

 

Andung Biru di kaki gunung Argopuro, Probolinggo, Jawa Timur, 48tahun lalu lahirlah Rasyid. Seperti anak desa lainnya, untuk menempuh pendidikan Sekolah Dasar ia harus menempuh jalan setapak sepanjang  6 kilometer, sekitar satu jam perjalanan pergi dan satu jam pulang.

Bagi bocah Rasyid, masalahnya adalah sepulang sekolah saat ia harus mengerjakan PR dan Mengaji, di malam hari. Satunya sumber penerangan adalah Lampu Teplok. Dengan keadaan ekonomi paspasan seorang penggarap sawah, terkadang rumah harus gulita manakala kerosinpun mereka tak mampu membelinya.

Subuh ia harus sudah bangun. Mengerjakan PR. Sebelum berangkat sekolah.

Tamat SD ia merantau ke Probolinggo masuk sekolah kejuruan. Cita-citanya tamat sekolah nanti ia buka bengkel sepeda. Tetapi sekolah butuh biaya. Ia menjadi penarik Becak sambil sekolah. Sayang, impian menyelesailan SLA harus dikubur pada usia 19. Ia jatuh sakit dan harus keluar sekolah. Pulang ke kampung, iapun bertani apa saja di tanah milik negara.

Tahun 1992, saat Lebaran ia mengunjungi pamannya di Jember, 50km, dari kampungnya. Sang paman bekerja di perkebunan. Penerangan listrik di Perkebunan, sangat menggoda pikirannya. Ternyata listrik bukan dari PLN melainkan dari Kincir Air. Begitu diijinkan sang paman melihat benda idamannya ia langsung mengukur dimensi kincir, menggambar diagram.

Sampai di rumah, ide dibicarakan kepada keluarganya.

Hanya Ayahnya sekalipun heran tak percaya, yang mendukung cita-cita mengubah kayu dan air menjadi listrik.

Ia sudah menemukan air yang mengalir 7x24jam dan tidak pernah kering sepanjang tahun. Air sungai harus digrojokkan ke suatu titik yang lebih rendah. Minimal 3 meter dibawah muka sungai. Lantas Kincir dan Genset dipasang disana.

Untuk bikin saluran dan kincir, dua ekor sapi ayahnya ia jual. Sekarang bagaimana mendapatkan GenSet sementara dana sudah kering. Untung saja ada donasi genset rusak yang segera ia perbaiki.

Namanya coba-coba sendiri.

Waktu utak-atik kincir air ia mengalami kecelakaan. Tangannya terjepit. Ia harus 4 bulan terbaring dirumah dengan patah tangan dan rusuk yang retak.  “makan saja disuapi” kenangnya.

Kecelakaan kedua, mencoba Generator. Ia kesetrum. Pingsan dan tergeletak di sabuk dan roda gila. Bekas luka pada paha masih nampak sampai sekarang.

Banyak nian parut pada tubuhnya, tapi petani merangkap santri ini malahan mendeklarasikan Jihad. “Jihad selalu banyak tantangannya. Itu biasa..”

1994 setelah dua tahun berkutat kurang uang, sendirian, kaya akan cercaan. Genset sudah bisa mengalirkan listrik.

Setelah berhasil ia mengutip biaya 27 ribu perbulan. Kalau penduduk tidak punya uang kes, bisa dibarter dengan Telur, Ikan, Ayam, Buahan atau apa saja. PLN akhirnya masuk desa dengan tarikan 270 ribu perbulan, itupun tegangannya sering onjlag-anjlog. Akhirnya mereka melirik kembali ke Kincir Rasid.

Cerita selanjutnya tentu akan ada di Kick Andy dan sebagainya… Saya cuma senang quotenya. Dan biasanya KEARIFAN LOKAL sering dibunuh oleh kita sendiri. Boro-boro disupport.

Berikut motivasinya..
“Kalau kamu menyerah, hanya karena dibilang bodoh. Maka kau lebih bodoh dari mereka”
“Kalau kamu diejek, gunakan itu sebagai motivasi..”
“Kalau kamu dibully, itu bagus. Sebab membuatmu berfikir, tunggu aku buktikan bahwa kalian salah..”

Reportasi keberhasilannya ditayangkan di media Luar Negeri. Yang biasanya kita malah “biasa-biasa” saja.

#Rasid petani padi Andung Biru Probolinggo
#Gara-gara lebaran 1992 mengunjungi rumah Paman di Jember. Listrik rumah paman dari Kincir Air jaman VOC
#Tapi Kincir air Jember terbuat dari metal. Digerakkan dengan tenaga “overshot” tabrakan ke roda kincir
#Rasid memodif dari kayu dan tidak perlu tenaga Tabrakan untuk menggerakkannya.

Advertisements

Churchill


Sering lihat orang senyam-senyum tebar pesona, lalu membuat tanda “V”dengan telunjuk dengan tengah.

Lagaknya seperti akan menandatangani prasasti peresmian gedung.

Padahal berjingga rompi dari KPK. Hasil OTT.

Legenda mengatakan bahwa Perdana Mentri Inggris Winston Churchill yang “mempopulerkan” tanda Victory ini sekalipun mula-mula presentasinya terbalik.

Mei 1940, Nazi sudah menguasai Ceko, Poland, Denmark, Norwegia.

Di Belgia mereka sudah tinggal meneruskan invasinya ke negara Eropa lainnya. Kekuatan Panzer andalan Nazi sungguh nggegirisi. Apalagi 3 juta pasukan yang bersemangat tinggi diterjunkan habis-habisan.

Pencaplokan Eropa tinggal hitungan waktu. Militer Inggrispun sudah putus asa melihat kekalahan demi kekalahan yang dideritaya. Di dalam, parlemen malah cakar-cakaran.  Musuh boleh di depan mata, tapi ambisi Oposisi mencuri peluang tetap dilakukan. Perdana menteri dipaksa mundur dari jabatan. Biar tidak mencolok, mereka akan menerima calon “pasukan Nasi Bungkus” yang diajukan sebagai pengganti – lalu menunggu gagal kedua dan Oposisi maju kedepan. Itu strateginya.

Filem “Dark Hours” memperlihatkan bagaimana seorang Churchill, harus membangun moral melawan karena invasi musuh. Musuhnya adalah tentara Nazi diluar dan rongrongan lawan ambisi dari lawan Politik, Istana yang hendak mengusung calon pilihannya dan ketakutan dalam dirinya. Churchill pernah gagal di operasi Gallipoli, dan itu kartu truf yang dipegang sang lawan.

“Dia memang orator, ahli strategi seperti ayahnya. Tapi jangan lupa Ayahnya mati lantaran Sipilis..”- kata haternya.

“Memangnya ada hubungan sakit ayah dengan pandangan politik anaknya yang sinting..” musuh lainnya yang masih moderat mempertanyakan. Tetapi ada hubungan atau tidak, “fiktip atau bukan” harus dipercaya ada dan pernah terjadi..

“Cuma orang sinting yang sarapan ditemani Whiski, Makan siang Wiski, wiski dan cerutu – sampai tertidur.”

Churchillpun menerima penunjukkannya dengan menggerutu.. “ini jabatan diberikan kepadaku karena ibarat di laut, kapalnya sudah tenggelam, kaptennya sudah pergi. Aku harus menyelamatkan kapal bocor sekarang.”

Sidat temperamentalnya diperlihatkan, saat sarapan ditempat tidur, ditemani wiski dan cerutu, Churchill mendikte isi pidato kepada sekretaris barunya. Ia mulai senewen, satu kalimat yang diucapkan di koreksi dan dikoreksi, lalu menyalahkan sekretaris tak mampu kerja. Hari pertama bekerja sekretaris diusir. Untung istrinya mampu meluluhkan temperamental.

“He is a man, like anyone else,” artinya kalau dielus bakal “theklok” alias lunglai  kemarahan dalam kepalanya.

Begitu dilantik sebagai PM,  Churchil, menggebrak mengobarkan semangat Victory berupa jari tengah dan telunjuk dibuka, namun caranya salah.

Telapak tangan si pemberi salam menghadap lawan bicara. Sekretarisnya Clayton segera mengoreksi, itu artinya lain Sir..

“Lain apa? apa maksudmu?..” Tanya Churchil
“Saya tidak berani menyebutnya Sir,” kata Sekretaris sambil tersipu.

Sejak itu Churchil menyadari kekeliruannya dan menghadapkan telapak tangannya kemukanya saat membuat tanda V. Sekretarispun makin PD mengedit kalimat Churchill yang dirasakan berlebihan pada penekanan seperti “I Repeat” – ia hanya menuliskan “I Repeat” satu kali, tidak dua kali seperti yang diingnkan bosnya.

Pada masa Churchill yang mengajak sekretaris diajak masuk “Ruang Perang.” Jaman 1940, Inggrispun masih menganggap wanita sekedar jadi sekretaris. dan tetap Tabu hukumnya mereka memasuki ruang tersebut.

Sebagaimana manusia ia juga terkadang takut akan keputusannya. Untung keluarga dekatnya menguatkan dengan kalimat “You are Strong Because You are unPerfect, You are wise because you have doubt.”

Mula-mula terjadi konflik antara Churchil dengan Pihak Istana. Pihak Istana menilai mulut Churchill terlalu tajam, banyak pihak tersinggung karenanya…”

“You scare me!” kata pihak Istana.

Setiap kali Churchill berpidato, orang akan merasakan ide manusia yang tak pernah putus 100 gagasan perhari. Tapi yang tidak nahanin, mulutnya kadang kaya comberan manakala gagasannya tidak bisa dimengerti orang lain. Sebagai orang Aristokrat Inggris – mereka selalu bicara dengan tertata rapih. Istilah Churchill “disuruh bicara – saat sakit gigi” Churchill malahan mbengak mbengok.

Begitu duduk diruang kerja, yang ia lakukan adalah menghubungi musuh politiknya, disini Halifax dan Pendeta Fox. Ajudannya bertanya “mengapa mendekati musuh pak..” – Tanpa mereka (musuh) – maka Kawanku yang jadi musuh. Tanpa musuh, orang sekitarku hanyalah segerombolan domba.

Namun Istana sadar, rakyat Inggris harus dibuat Marah, bukan menyerah. Dan Agitator yang bisa diandalkan hanyalah Churchill. Disaat Churchill juga hampir menyerah atas desakan “Massive” massa dan mengucapkan pidato untuk “damai” dengan Hitler, diperjalanan ia malahankeluar dari mobil, masuk kedalam Kereta Api Bawah Tanah, dan mulai membangkitkan semangat perlawanan.

Di Parlemen tema-temannya heran. Churchill yang sudah mau mendeklarasikan menyerah kepada Jerman, mendadak kembali ke pendirian semula “Never, Never” – never surrender.

Ketika temannya bertanya “mengapa berubah pikiran” – dan dijawab. Orang yang tidak pernah mengubah pendiriannya tidak akan pernah mengubah apapun.

Segi kocak digambarkan saat sahabat bertanya, “kamu sarapan pagi Whiski, Lunch Wiski, Mau Tidur Wiski, kok bisa sih..”

“Ya berlatih (Exercise)”- jawabnya singkat.

Ada kejadian sekretaris barunya dipanggil masuk kamar tidurnya, ia sarapan diatas ranjang ditemani seekor kucing. Saat itu ia masih mengenakan kimono. Usai sarapan, dengan susah payah menggerakkan tubuh tambunnya sampai “kerengkangan” mencoba turun dari tempat tidur, selangkangannya terbuka. Sekretaris paham. Ibu-ibu di dapur kerap dapat suguhan melihat penis Churchill.

Segi keuangan- ia yang selalu optimis, kali ini merengek kepada istrinya dan berjanji mengurangi konsumsi cerutu agar bisa bayar tagihan listrik.
SUCCESS IS NOT FINAL
FAILURE IS NOT FATAL
IT IS THE COURAGE TO CONTINUE THAT COUNTS

Jurus akalan babang Online


Jurus nakal ONLINE..
 
Kepingin ketemuan dengan teman di CITOS maka abis Jumatan YBL (Yang Baru Lalu), saya kepingin naik Taxi Online sambil cek-sound, mendengar keluhan babang OL. Ngapain Menhub cabut pasang pasal tasi OL..
 
Tilpun pertama diangkat, lalu saya lihat posisinya, saya baca bahwa butuh waktu 7 menit si Babang ke rumah. Saya menunggu.
 
Tidak lama, tilpun masuk.. pertanyaannya
 
“Bapak Mau Kemana”….{dalam hati ketawa, bukannya dia menilpun saya karena secara – ada panggilan, dalam nama Point of Drop dan jarak yang masuk akal untuk dicapai, bahasa OL – we find you nearby drivers-}
 
Saya menyebut “CITOS”
Citos itu apa?
Cilandak Town Square (mulai dong ada suara mendesing)
Itu dimana? (mendesing dan keluar gelembung udara kepermukaan). Jangan-jangan, lokasi Monas-pun dia akan tanya dimana itu…
 
Saya jawab shobirun ” Rumah Sakit Fatmawati, jalan TB Simatupang,”  lalu ada suara orang ramai dibelakang, eh RS Fatmawati itu dimana…[mestinya acting]
 
Langsung ibarat “godog Wedang”  mulut ceret, sudah melengking suara peluit.
 
Singkat cerita, beliau si Babang bilang keberatan, terlalu jauh.. Artinya jarak dibawah 15 kilometer itu jauh..
 
“Bapak batalkan saja”….
 
Harusnya saya main betah-betahan agar dia yang cancel agar tidak pat gulipat. Pasti alasannya “salah saya apa kok saya (taksi) yang cancel”.
 
Menjelang Megrib, selesai temu kangen dengan teman mudlogger Aji, Henry, Anton, Pentagon, saya menunggu di Lobby CITOS sambil mengorder Taxi…
 
“Saya ada di lobby Citos, tahu Citos, Cilandak Square Mall-paham” – kata saya..
 
“Paham pak, saya ada meluncur kesana….”
 
Tapi nanti dulu jangan keburu senang, tunggu punya tunggu- posisi Taksi kok di Jalan Antasari mengapa muntar muntir saja. Jalan ditempat grak..
 
Lha rak tenan… ia menilpun..
 
“Pak saya sudah kebablasan, bapak mau nunggu…” tentu saya menjawab “okay” – sambil melihat lokasi taksi yang mutar muter saja..
 
Tilpun berdering lagi…
 
“Pak saldo saya sudah dibawah 50 ribu, saya tidak bisa terima order sebab aplikasi saya offline..Batalkan saja ya pak.”
 
Saya merasa ada di Planit Meikarta, lantas yang menilpun ambil pesanan tadi apa Hantu Blau? Jin Iprit? – apa ya ada aplikasi yang kecolongan saldo dibawah 50 ribu, lalu saat sadar mencoba mengoreksi “maksud saya pemakai bisa angkat order untuk kasih kesempatan isi saldo..” jadi masih bisa terima orderan, masih bisa tilpan tilpun..
 
Kalau sudah begini, hilang simpati saya..
 
Pak Menteri Perhubungan, teruskan regulasi taksi OL. Banyak taksi OL  bodong diluaran sana hanya memanipulasi aplikasi.
 
Jakarta bukan penghuni yang cukup diatur dengan “Dipanggil, Ditata, Diajak bicara..” – lha cuma di “preeek” saja.

Matematika Babang VCDb


Harga sebuah DVD kosongan – di Alfamaret atau toko Fotocopy adalah Rp 6000 per keping. Harga yang sama didapat dengan isi filem full digital.

Siang itu diantara hujan lebat, saya dibawah payung berlindung di sebuah lapak DVD. Mestinya setelah payung dikuncupkan, lalu sisa airnya di kebas-kebas agar cepat turun yak.

Kebetulan lapaknya sepi.  Diantara jejeran filem barat, hongkong, nampak pula Windows7, Photoshop dan saya yakin yang bokep, LGBT dan sejenis tersimpan disuatu tempat yang hanya pemilik yang tahu.

Diujung lapak, seorang anak muda kurus sedang “tirus ayam” didepan seekor kucing hitam kurus yang tertidur dimejanya. Boleh jadi sang kucing hitam berhasil menghipnotisnya tanpa kata kecuali meong. Pemiliknya menghipnotis balik sehingga kucingpun ikutan tertidur. Sang pemilik meletakkan kanannya dan kedua tangannya memeluk kucing. Selain meong ada kalkulator, dan asbak.

Melihat kami masuk, iapun langsung beranjak berdiri.

Kebetulan sekali sudah ada kerenteg-renteg mencari filem Bolywood yang kontroversial Padmavaat (Padmawati). Kisah percintaan Hindu Totok dengan Muslim Radikal kan seru. Saya dulu pernah beli filem Bolywood bertitel PeKa yang juga kontroversial.

Sayang Anak muda seumuran Holili Sampang ini cuma cat rambutnya yang pirang nampak bersinar. Wajah alaynya sih tetap bingung “filem India apaan?”.

Jawaban jelas dia belum nyetok.

Kadung disana, akhirnya saya beli lima keping filem yang saya tidak tahu kapan akan ditonton.

Si rambut Pirang lantas mengkalkulasi  lima buah DVD. Zonder kalkulator ya Rp 30 ribu.

“Pak kalau beli lima ada bonus satu..” – Lalu uang 30 ribu diberikan untuk 5+1 DVD.

Kok teman sebelah saya yang memilih VCD lagu lama, nyeletuk. “Kalau gitu satu sidi bukan 6 ribu melainkan 5 ribu dong..!”

“Ndak bisa kalau segitu rugi (5 ribu), harga pas 6 ribu, tapi kalau beli lima dikasih satu gratis..”

Maka sore ini ada pelajaran 6 keping DVD harganya 30 ribu – namun menurut matematika penggemar kucing ini, satu DVD tetap Rp. 6000.

 

 

 

 

 

Gagal Datang (liong) BULAN


Tanggal 31 Januari 2018 siang.

Sebentar malam ada Gerhana LGBT, maksudnya Langka Gerhana Bulan Total. Musti sedia Kopi, Teropong buat melihat Kala Rahu menelan Dewi Chandra,  tapi lantaran badannya sudah dilepas dewa maka Dewi bisa keluar lagi.

Asisten WaraWiri -mbak Nani melaporkan bahwa Kopi Bulan sudah habis. Kami maklum maksudnya tak lain Kopi Lion Bulan van de Bogor. Syukurlah, sebab kopi persediaan  harus dikonsumsi menjelang pertengahan Februari 2018.  Bulan ini cuma tiga bulan. Ini SOP perkopian. Dan hanya dipasarkan di Bogor. Juga termasuk SOP. Mereka juga boro-boro repot bikin website. Juga SOP.

Kalaupun ada yang di Internet umumnya usaha ketengan.

Mengingat tempat dan waktu yang disediakan (kaya rapat kelurahan),  kok ujug-ujug kepikiran pingin datang ke Mabes mereka di Bogor. Atensi pertama siapa tahu jaman digital kopi bisa dipesan langsung dari pabrik, langsung order melalui WA.

Kopi Lampung Sinar Dunia saja bisa pesan via tilpun. HareGene secara gitu lho.

Ide dapat sambutan dari teman sebelah. Berjalan beduanya memang asik. Tapi ada menu ngotot-ototan, belok kiri atau belok kanan. Dia saya sebut dengan penuh hormat “Remote Control ”  cuma kadang baterenya error.

Singkat kata tak ayal lagi, siang itu kami cabut dari Jatiwarna menuju jalan raya Bogor, menuju Cibinong. Waze dipanteng ke arah Bintang Mas-Nanggewer-Cibinong.

20 kilometer jalan Tol Bogor yang sepi-sepi mayan.

Memasuki Raya Bogor Cibinong saya membelokkan kendaraan ke jalan Bintang Mas-itu alamatnya. Begitu masuk dari jalan raya ke jalan kecil – saya nyebut “Masaolo”, jalan sempit, pedagang makanan, dan karyawan pabrikan pada keluar buat makan siang.

Karena ini kali pertama cari alamat,  maka demi menghindari kebablasan, selalu setiap 50-100 meter kami berhenti menanyakan alamat.

Sebuah gudang nampak ada penjaganya. Kami datangi. Rupanya pak Satpam tak berseragam.

Begitu kata password “Liong Bulan” disebut tangannya langsung menunjuk, “sebelah saya ini, itu pagarnya..”

Ternyata tinggal beberapa langkah dari sana.

Saya cocokkan dengan foto di Internet. Deskripsinya  cocok. Ada dua pintu gerbang pagar abu-abu yang selalu terkunci, tak seorangpun disana. Tidak ada petunjuk bahwa disitu diproduksi Kopi kebanggaan orang Bogor. Sampai membuat Walikota Bogor spesial berkunjung ke TKP ketika mendengar desas desus pabrik ini gulung tikar. Untung hanya kabar angin tak beralasan. Foto reportasi pak Wali kemari, yang saya buat pegangan main detektipan. Niat banget.

Kok ya, kebetulan. Ada mobil box putih masuk. Zonder klakson, seorang engkoh tua tetapi masih gesit seperti biasa main dua set badminton seminggu sekali, berlarian membuka pagar. Dan pintu gerbang yang semula rapat tertutup kini terbuka hanya untuk ruang kendaraan masuk.

Gaya Engkoh membuka dan menutup pagar dengan kepala selalu menunduk, mengesankan  pemilik Anjing nakal yang kuatir peliharaannya nerobos keluar melalui pintu pagar.

Baru hidung mobil masuk halaman, pagar sudah siap tutup. Semua dilakukan tanpa menoleh.  Kalau kata bahasa kini “orangnya tertutup dengan tetangga”.

Kami merangsek sedikit, kendaraan sengaja bergerak menghalangi pintu pagar agar bisa berdialog. Tapi engkoh lebih cekatan. “Jreng” pintu pabrik telah tertutup. Pintu Tobat yang masih terbuka. Duh.

Dan saat dia akan masuk menghilang, kami memanggilnya.

“Kami tidak jual Lion Bulan disini, cari saja di Pasar Anyar..” lalu ia bergerak siap menghilang dibalik gerbang. .

Sia-sia menghiba, kalimat kami jauh dari Jakarta dengan harapan siapa tahu bisa nego.

Kami mencoba mengulur waktu dengan minta pagar dibuka agar kendaraan bisa balik arah menggunakan halamannya.

Si Engkoh nampak keberatan-karena harus buka gembok – tidak lama nongol wajah wanita setengah umur.

“Ada apa?” tanyanya kepada Engkoh. Engkoh menjawab maksud kedatangan kami. Biasanya kalau enci-enci lebih “duit mindset”.

Enci menghilang begitu juga si Engkoh. Game over. Wajah tua saya tidak menjual. Lha dia Tua juga.

Terus terang kami meninggalkan TKP dengan perasaan kecewa..

Tustel yang saya kokang tak sempat diletuskan.. duh..

Liong Bulan dengan segala cara konvensional dan konservatifnya pasti akan membuka celah pemain lain yang lebih luwes untuk masuk gelanggang. Terbukti misalnya, sebuah Perusahaan Kopi Naga Mas misalnya membeberkan proses pembuatannya dari “Roaster” sampai jadi kopi siap saji.  Boleh order pakai tilpun “asal ongkos kirim ditanggung.”

Dalam perjalanan balik ke Jakarta, kami mampir ke (TI) Tempat Istirahat sambil order kopi (mudahan Liong Bulan), Taoge Goreng dan Pisang Goreng.

Tak habisnya kami berfikir. Haregene jualan kopi main petak umpet seperti transaksi Cimeng. Serba rahasia, serba non digital. Tapi boleh jadi itu jurus dagang mereka. Terbukti mereka sejak 1945 sudah eksis, sampai kini.

 27337301_10213295801002579_1871785764543031714_n

Kala RAHU menelan Chandra


ALLAHUAKBAR!

Dikeremangan senja kala, ditemani gerimis dan kabut, kelelawar yang terkadang menabrak ranting pohon, mendadak Adzan dikumandangkan serentak di Mesjid maupun Surau. Kala Rahu sudah menelan Dewi Chandra yang dianggap merintangi usaha mendapatkan Tirta Keabadian. Namun Karena tinggal kepala, maka diharapkan Dewi Chandra bisa lolos menjadi santapannya  dan bumi selamat dari kegelapan.

TKP mengamati gerhana total ini, jaraknya ada dalam jangkauan antara 25 sampai lima ratus meter dari mesjid maupun surau.

Ada mesjid Nurul Hidayah, Nurul Ibadah, Wali, PdK, dan Ujung Rawa. Lima adzan dikumandangkan. Dari Toa berbeda. Dan itu sesuatu banget.

Suara pak Muadzin terdengar “gerok”, serak. Tidak lantang seperti biasanya.
Boleh jadi emosi merekapun diliputi sensasi kebesaran alam sehingga mempengaruhi pita suaranya. Saya merinding di duct rumah sambil ikut mengikuti lafal satu persatu. Sambil memandang kedahsyatan alam semesta.

Benda jagat berputar, “seprono seprene” dari jaman dulu sampai sekarang, mengorbit dalam hitungan ratusan bahkan jutaan tahun umur biologi manusia. Dan sekarang contoh didepan mata. Sekali untuk 150 tahun.

Inilah kejadian Bathara Kala memangsa Bulan.. Sayang tradisi Kothekan, seperti yang sering saya dengan di Jawa lainnya, tidak terdengar. Kentunganpun tidak.

Di Citayam, dulu, biasanya saya kebagian Telor Ayam, Itik, Angsa yang dijual setengah murah lantaran mereka percaya dan telah membuktikan bahwa saat Betara Kala mencaplok Dewi Rembulan, di bumi pun, balatentara mereka mencaplok telur dan mensterilkannya. Endang Gondok akan mengatakannya “telornya pada tembuhuk dimakan gerhana”. “Dieerimin juga percumaH bae udah jadi aer. Enakan digoreng pada.”

Kelar para Ustad denga Khotbah Gerhana, tidak lama kemudian, suasana seperti malam Takbiran. Beramai-ramai melantunkan “takbir.

Menjelang pukul 21, ketika bulan kembali bersinar, suara pengeras mesjid hanya mengatakan “bulan udah nongol…udahan..dah”- klotak suara mic diletakkan. Tapi sekarang berasal hanya dari satu Toa.

#batara kala
#telur tembuhuk
#ctayam
#Langka Gerhana Bulan Total
#SuperMoon

#31 Januari 2018 jam 20:30 wib

27332312_10213292454998931_4783589334475934117_n

PRASASTI BATIN


PRASASTI BATIN
Mereka tertawa, berteriak, menunjuk ke atas.

Tetapi kalau yang model “pendendam” seperti saya, telunjuk ini mengukir kenangan indah dalam prasasti batinnya.

Kelak kalau mereka melewati CitraLand – prasasti itu hidup seperti batu Krypton – endut-endut..

Dia akan bicara kepada anak, cucu bahwa pernah diundang teman nama Gaby (Elsa gaun merah), dikasih Ayam Goreng, Tas sekolah, Lunch Box.

120 menit yang bermakna dalam kehidupan mereka..

Kilas balik 60 tahun lalu…

Saya masih kelas satu SD, di Sukabumi. Bapak pendidikan SPN. Kami ngontrak di jalan Selabintana. Satu dari komplek luas milik Nyai Belanda. Nyai artinya orang Sunda yang menikah dengan Londo Totok. Ini memang bahasa sono.

Anak-anak Belanda Totok, Belanda Indo, Belanda Nyai dari Onderneming Teh GoalPara mengundang acara Cari Telor Paskah.

Itu kali pertama diperkenalkan kata “Telor Paskah”.

Akibatnya cuma “nunak-nunuk” bengong melihat Sinyo Belanda kendati umur kelas satu SD tapi badannya setinggi emak-emak saling tunjang-palang  berlarian diantara kebun Nanas mencari dimana Telur Paskah disimpan. Karena saya tidak dapat satupun, Pulangnya memang saya dibawain telur tersebut.  Ternyata  Belanda tidak selalu jahat.

Dan masih ingat sampai sekarang.