Nunggu kekasih


2017-11-12 141067194090..jpg

Ayam dikenal sebagai binatang penyandang Rabun Senja,  sehingga pada saat matahari tenggelam, demikian juga ayam masuk kandang. Tetangga saya, pak Gi, memelihara setidaknya 3 ekor ayam jantan jenis Ayam Penyanyi (ketawa) dan beberapa ayam hutan.

Ternyata ayam tetangga yang lain, sebut saja pak Y, ternyata ngefans berat dengan salah satu ayam jantan.

Sekitar pukul 2:30 -3:00 dinihari, sang babon berjalan munduk-munduk menyeberangi jalan dan tidur dengan setia di bawah sangkar sang jantan. In mungkin yang disebut Cinta Dekat Tetapi Jauh.. ,asalahnya Ayam penyanyi jantan selalu dikandang.. Jadilah pasangan ini merindu zonder saling belai.

 

 

 

 

 

Advertisements

Didatangi Mantan


Minggu lalu “mantan” saya datang sambil membawa undangan. Dia jauh-jauh menggunakan motor. Dari jalan Mesjid Nurul Iman. Namun karena nama Nurul Iman ini seperti generik, harus di pertegas dengan Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat.

Rupanya “mantan” berhajat menikahkan anak ke empat, satu-satunya putri dari 4 orang anak-anaknya. Putri ini dipercaya memanajeri keuangan sang mantan yang sekarang kami sebut Pak Uban.

Begitu saya membaca undangannya maka menarilah WAZE dimuka, sebab sejak lelaki yang kerap dipanggil Pak Uban ini pensiun sebagai “pilot” – tak salah lagi posisi yang ia sandang otomatis jatuh “Mak -BLEG” – diwajahku.

Maka waze menampilkan Stasiun Spoor Rawa Buaya sebagai “mark” kawasan tersebut.

Kali ini saya bawa Tustel, ingin memotet ke empat  anaknya dengan tiga cucunya. Saya harus kucing-kucingan memotretnya – sebab nampak sekali ia sungkan.

Selain Pak Uban berbahagia, kamipun tak kurang “Mongkok-atiku” – betapa sulitnya menghidupi tujuh anak dari penghasilan sebagai pengemudi yang jujur. Masih hangat bagaimana ia kali ledek sebab setiap penyebutan Mal Ambassador, menjadi Gobak Sodor dan RSIA Hermina dengan Hernia. Kini Pak Uban, bisa menyejajarkan tarap hidupnya sama dengan sang majikan. Dia tidak perlu menonjolkan diri, orang sudah tahu.

Alhamdulilah berempat  boleh berfoto dengan ayahnya sambil pamer Toga tanda lulus Akademi. Tapi jangan dilupakan juga support ibu Wantini – sebagai “tiyang wingking” orang belakang namun ubet (ligat) menjaga asap dapur dengan membuka warung.

Selama masa bertugas, mulai dari pak Uban bekerja dengan mertua, lalu ditransfer kepada saya, dia tidak pernah meminjam uang. Atau kas bon. Toko Onderdil memberi pujian bahwa “driver” bapak satu ini nggak pernah mau ngemplang bon.

Pak Uban adalah sosok ayah yang bekerja dan mendidik dengan Suri Tauladan bukan dengan ChitChat berkotbah, kalau perlu tindakan intimidasi kalau anak ternyata berpendapat lain.

Artinya kalau setuju ia diam. Kalaupun menyangkal ia memilih isap sigaret dan kopi (dua-duanya kelas berat), lalu keluar rumah.

“Saya pusing kalau istri sedang ngajari anak-anak, jadi galak,” katanya. Nyengenges, seperti biasa.

Berbahagia full hari itu nampaknya pak Uban.. eh nanti dulu, satu anak tidak hadir merayakan perkawinan saudarinya.

Sebuah cerita lama, antar anak pernah terjadi pergesekan meruncing, sampai-sampai mereka tak bertegur sapa dan keterusan hingga kini. Sampai berlaku pepatah “dekat bau terasi, jauh bau melati”

“Sudah saya minta datang, damailah demi saudara, tetapi bagaimana, sampai nyesek kalau dipikirin, luka disini (bathin, sebab ia menunjuk dadanya), tapi sebagai orang tua ya kami telan sendiri..mereka sudah gede-gede.”

Nyesel aku menanyakan hal yang dipikir lumrah, malahan membuka luka lama. Inilah ekses “Lambe Turah”.

Sabtu 11 Nov 2017
#pakuban,paklanjar23518941_10212663686880121_9082046192104087596_n

Yu Gemi


SIAPA YU GEMI ITU
Mendadak nama ini muncul di HP saya. Oh ya saya bercerita melompat lompat.

Mengirimkan undangan nikah, saya menggunakan jasa ekspedisi yang kadang menjengkelkan tetapi ada unsur pembelajaran. Misalnya – tidak setiap orang “update” dengan alamat, sekalipun alamat sendiri.

Untuk memonitor dokumen yang dikirim maka saya menggunakan aplikasi di HP untuk melakukan pelacakan. Dengan memasukkan Nomor Resi, maka bisa diketahui – kapan kiriman tiba dan nama sang penerima.

Ada nama yang unik misalnya YBS. Setelah di utak atik gathuk, maksudnya Yang Bersangkutan Sendiri.  Petugas ekspedisi kadang tidak ragu menulis Pembantunya. Padahal kalau hal tak diharapkan terjadi, akan sulit mencari batang hidung sang penerima.

Umumnya ibu-ibu kurang suka menulis nama kecilnya sehingga tanda terima berisikan nama Bu Sudin karena suaminya pak Sudin. Padahal Nama Kecil lebih memiliki legitimasi dalam urusan hukum.

Dari nama penerima undangan, maka muncul nama unik Yu Gemi. Yu adalah singkatan dari Mbakyu artinya lagi kakak perempuan. Nama Yu atau mbakyu Gemi muncul akrab ditelinga saya sebab inilah asisten wara-wiri sahabat saya, kita singkat namanya ES.

Ibu ES banyak menulis tentang Yu Gemi, gayanya memasaknya, serta teman nonton filem India disaat senggang. Bahkan memasak lodeh-pun bunda ES seperti chef Yuna membuat kue. Serba cantik, serba yummy. Ia pernah seperti “gerowong” alias mencelos hatinya ketika Yu Gemi pulkam.

Hidup seperti hampa, komentarnya.

Yang ditangkap dari cerita beliau adalah Yu kita ini sudah di “wong-ke” alias tidak dianggap sebagai PRT, melainkan sahabat.

Bakmi Bangka


Sebentar saja Mie Bangka ( Mie+Ayam+tauge) ditemani Bakso dan Pangsit sudah ludes. Rasanya belum nendang. Sekalian menunggu pesan minuman, maka semangkok Bakso kami pesan. Dan berhasil.

Perut yang sudah puasa sejak pukul delapan belas kemarin mulai tenang. Sambil tunggu punya tunggu, sebuah mobil diurapi shampo kemudian masuk kedalam ruang bilas sambil di gosok dengan kemoceng otomatis.

Mobil selesai dengan basah dan bersih, tetapi kerongkongan masih kering. Ternyata minuman belum juga datang.

Akhirnya kedai Bakmi Bangka Super kami tinggalkan setelah sedikit berpesan – mbak kenapa pesanan minuman tidak kunjung tiba.

Tapi sambil larak lirik, memang teman pengudap lain makan juga zonder minum..

 

TKP Jalan Raya Jati Makmur, Pondok Duta

Satu Porsi Mie dan Bakso Lima Belas Ribu Rupiah

 

Paket


Punya pengalaman pahit dengan jasa kurir? . Seperti saat minggu lali mengirimkan undangan antar Jakarta. Undangan yang dialamatkan ke Apartemen Semanggi, Slipi di jalan Gatot Subroto dikembalikan. Alasannya Kecamatannya salah.

Saya protes kepada pihak kurir. Karena hari sudah petang, customer service baru buka pada pukul delapan pagi. Kalau pakai email.. sepertinya perangko tidak cukup. Pertanyaan tidak dijawab.

Berdasarkan pengalaman tersebut, kami mulai menyidik undangan satu persatu. Untung saja ada WA yang tidak sempat di blokir. Jadi sanak kerabat dengan mudah dihubungi dan bilang bahwa kiriman sudah diterima.

Alhamdulilah, undangan ke Sampang Madura, dikabarkan sudah sampai. Yogyakarta, sampai Yogya kemringet saking jauh dari Tugu, mereka bilang sudah sampai…

Tetapi ada yang aneh.. Dari beberapa pengiriman ke Semarang yang lain alamat – mengapa khusus Jalan Purwogondo kami di charge 3x lipat padahal masih satu Kota Madya.

Kamipun komplin lagi.. Artinya harus “physically” mendatangi agen di komplek Duta untuk meminta klarifikasi dengan membawa bon pengiriman yang seabreg.

Petugas seperti tidak percaya. Ia mengecek di PC dengan penuh rasa heran ..lantas tepok jidat dan nyengenges..

Eh iya kami salah ketik (kurir) , Kota Semarang dimasukkan tertulis REMBANG, tapi suratnya sampai kan?-iya deh saya revisi..” – tanpa rasa dosa.

Sejak itu kami berniat – menimbang dan memutuskan.. lain kali selalu dan always pakai jasa ini lagi alias tidak kapok. Habis lucu kezelin.

Lha bisa banyak cerita didapat..

Musang


Musang Pandan..

Sontoloyo (maafkan My French).. Hujan awet seharian, mahluk rawa, semak pada sembunyi di langit rumah. Gerombolan ini kalau berlari mirip pak Tukang Kayu meriksa genteng suaranya.

Lha kok tercium pandan seakan alat rice cooker menanak beras Pandan Wangi. Diikuti dengan suara mengucur benda cair mengenai sesuatu..

Jebul musang ngompol dari atas mengalir ke ranjang saya. Pantas terdengar suara menetes berkepanjangan.

Rejeki hujan.. Lorot seprai, jemur kasur..

Mangga Pisang dibawa dari Pasuruan


23380064_10212641611648254_2209524233144122217_n

MANGGA PISANG (Zonder Jambu), karena dibawa dari Pasar Pasuruan

Ini jenis mangga kondang masih satu trah dengan Mangga ALPUKAd alias Gadung-21. Nama latinnya Agrigardina Banana Mango.
Mangga ini dinamakan Mangga Pisang, ya karena makannya dikupas seperti pisang. Buahnya manis, tidak berserat, serta ukurannya kecl sehingga pas untuk “cuci mulut”.

Selain Banana Mango, Pasuruan menghasilkan mangga kelas wahid. Disebut mangka alpukat lantaran makannya tidak dikupas (dikuliti) melainkan cukup diiris pinggangnya melingkar seperti membelah alpukad.

Hampir seperti nyayian. Mangga Pisang dan Jambu Pokad.

Terimakasih kepada Mukti Wibowo melaporkan dari Perkebunan Pasuruan..