Jenang


 

TENANG ada JENANG
Kebiasaan saya manakala duduk dipesawat membaca majalah yang disediakan. Kalau ada artikel yang saya anggap menarik saya potret sebelum dipindahkan ke FB. Kebetulan ada artikel mengenai Jenang, diambil dari festival Jenang di Surakarta.

Apalagi saya juga punya bude Nunuk dan mbak Desi yang pemaes Pengantin Jawa dan kalau bicara uri-uri adat Jawa akan ribet dengan terminologi. Saya bisanya  Yak Ubeng.

Mudah-mudahan lain kali kalau ketemu mereka berdua di desa Sidomulyo Yogya, saya bisa menampilkan sosok “ketok rodho ono isine” – otak agak nyetel dah.

Berikut kutipannya..

Jenang Procotan – Mendoakan agar ibu Hamil diberi kelancaran
Jenang Sepasaran – Setelah memberi nama Bayi
Jenang Sengkolo – Simbul keberadaan manusia di dunia
Jenang Abang – Merah perlambang lelaki, putih perlambang wanita
Jenang Manggul – menjunjung tinggi jasa leluhur yang telah mewariskan segala bentuk pengetahuan
Jenang Suran – waktu itu selalu terbatas, ada siklus, kesempatan memperbaiki masa depan
Jenang Timbul – menyadari bahwa harapan tidak selalu menjadi kenyataan
Jenang Grendul – hidup seperti roda, harus mampu mencari keseimbangan
Jenang Lahan – membuang napsu iri, dengki
Jenang Pati – melebur napsi, pasrah
Jenang Kolep – manusia memiliki perbedaan dan harus saling memahami satu sama lain
Jenang Sungsum- Hajat pernikahan agar Pengantin dan Panitia terlibat diberi kekuatan, kesehatan dan barokah.
Jenang Abrit Petak – asal usul penciptaan manusia yang hitam putih, ada wanita dan pria.
Jenang Saloko – mewaspadai napsu aku.
Jenang Ngangrang – Mengontrol kemarahan agar tidak merusak.
Jenang Taning – menimbang kelemahan dan kekuatan diri
Jenang Lemu Mawi Sambel Goreng – Jangan putus asa dalam membangun harapan baru.
Jenang Koloh – Kesempurnaan
Jenang Katut – Manusia hidup masih butuh pertolongan dengan orang lain.
Jenang Warni Empat – Simbol napsu yang melekat pada manusia. Kuning mewakili sifat aluamah Lawwamah (cacat cela), sufiyah (hijau) keduniawian, merah -amarah, putih (muthmainnah, tenang)

#inflight Lion Air
#Jenang
#Bubur
#filsafat jawa

 

Advertisements

KOPI dari Bukit Menoreh.


26230864_10213120516340572_2920677724357989631_nRasanya melihat biji kopi di sangrai, di giling lalu diseduh pakai air mendidih sampai dihidangkan adalah sesuatu banget. Melihat Bu Rohmat menyiapkan bara api dari sabut dan batok kelapa saya jadi kepo. Pasangan suami istri ini sehari-hari membuka kedai di kawasan Samigaluh.26230524_10213114774997042_4192023805244857523_n

“Bu Rohmat, kalau Robusta dan Arabica, secara penampakan bagaimana membedakannya..”

Kalau Robusta di gongseng berubah kehitaman. Kalau Arabica ada bagian tertentu yaitu biji ysng membelah tetap saja putih kendati disangrai berulang kali.

Untuk bisa membedakan, saya menyiapkan dua kopi dari alam berbeda. Alam Parahiyangan, Bogor, saya seduh8 gram dengan air mendidih. Dari Bukit Menoreh saya perlakukan sama.

Itu saja..

Minumnya bergantian…

 

#Sungai jernih di jalan Kaliurang

RAMBO MENOLAK BINTANG SATU


RAMBO MENOLAK BINTANG SATU sampai tiga kali..
 
Sekali tempo saat berada di kota Yogya Memang Ngangeni, kami harus menggunakan TeksiOL. Ini kali pertama merasakan layanan tersebut di kota Yogya. Rute yang kami pilih adalah “Catering Bu Nunuk” gang Pedawa (tanpa N), Sidomulyo, Sleman. Tujuan Ngaglik, Sleman km 8.5 jalan Kaliurang. Keponakan 212RN bermaksud mengajak saya melihat Sunset di kota Ngangeni.
 
Berapa biaya taksi yang harus dikeluarkan (Fare) sudah tertera dilayar HP- secara kami menyiapkan dua lembar nominal berbeda. Ini dimaksudkan agar sampai ditujuan, jangan sampai pak pir menunggu uang keringat, dan saya tidak kzl dapat jawaban “tidak ada kembalian”.
 
Cek list kecil dilakukan. Kamera full baterei. Ceklek, kamera saya coba, jangan sampai full batere tetapi SD Cardnya tertinggal (pernah).
 
Setelah semua okay, maka ceklik saya menekan BOOK. Butuh satu ronde tinju MMA sampai muncul pemberitahuan nama pengemudi sebagai Rambu namun saya samarkan sebagai Rambo. Dari peta riltaim di HP, Rambo nampak sedang menurunkan penumpang sebelum mengambil kami sebagai penumpang.
 
Dan saya siniew berulang keluar dari halaman mengecek apakah Rambo sudah datang atau belum.
 
Dua gadis usia 10 tahun entah dari mana “kurang saya perhatikan” sepertinya sudah lama bermain dihalaman melihat kelakuan “Non KAMSINI” lantas bertanya ramah “Bapak Cari Siapa?”.
 
Baru nyadari tingkah saya ini menarik perhatian orang, saya sadar tersadar kami ini tamu, dan dua gadis cantik cilik ini mengawasi lingkungan dengan cara mereka sendiri.
 
Begitu sampai di jalan besar (Gang Pedawa yang tanpa N), sebuah Avansa Hitam sudah sampai. Saya masuk kedalam, lalu mengajak teksi ke TKP menjemput toko sebelah a.k.a Remote Control.
 
Kami memang mahzab garis keras “Jangan Biarkan Mereka Menunggu”.. entah menunggu kalau rapat, sampai kalau hendak bepergian. Juga jangan sampai kang Teksi menunggu kami rogoh kantong seakan-akan baru tahu bahwa naik Taksi kudu bayar.
 
Belum lima menit taksi bergerak, mas Rambo nyeletuk lirih..”kalau semua pelanggan seperti ini, tugas taksi jadi ringan..” – lalu ia bercerita tentang pengalaman narik taksi dengan pelbagai karakter.
 
Umumnya pelanggan itu “SUKA” kalau melihat supir taksi menunggu.
 
Menunggu rampung Pasang Alis, ulas Lipen, menunggu buang Hajat Selesai, menunggu dengan kata “Mas di Toko Roti berhenti sebentar mau beli oleh-oleh, mas di Toko Buah saya lihat ada mangga bagus, mas di Alfa mampir saya perlu Aqua..” semua diluar perjanjian tak tertulis naik taksi.
 
“Dua tahun saya narik Online, sudah tiga kali diganjar tiga Bintang Satu”
 
Hanya karena Rambo bukan militer, maka anugerah Brigjen ini tak dikehendakinya. Rupanya penumpang yang suka kasih tambahan “job description” – juga suka menjadi Tidak Suka kepada Rambo yang memprotes bahwa ia bukan supir milik pribadi. Dan mereka menghukumnya dengan memberi bintang Satu – kalau ada minus Lima, bakalan diberikan pelanggan,
 
****
 
Yang tidak disangka, ia juga curcol bagaimana bertahun-tahun ia menikah, tinggal satu RT namun sang bunda seperti belum rela anak lelakinya pisah rumah.
 
“Padahal dari kerja di Jakarta, saya sampai balik ke Yogya untuk mendekatkan kepada beliau..” katanya lirih sekedar melepas unek.
 
Memasuki Jalan Kaliurang, saya memberi instruksi lokasinya setelah Pabrik Listrik, Pom Bensin. Begitu Pom bensin terlihat saya memberi nasihat, Bakso Cepot. Dan sonder banyak tanya nampak sebuah plang bertuliskan Jepang Kokuri Moiri (ngawur), dan gg Belimbing nampak disana. Di gang ini ada sungai lumayan deras, airnya jernih. Manakala berada disana saya berlatih memotret aliran air sampai mendapatkan “optic illusion” airnya menjadi kabut.
 
Tanpa diminta saya memberikan Bintang Lima, dan tentunya Tips. Sebetulnya babang Rambo juga memberi tip kepada saya walau tak pakai SOP-wer.
 
Tip yang saya dapatkan hari itu adalah begini.
 
Selama ini keluarga, kerabat selalu gerah (banyakan begitu) kalau bepergian dengan kami yang tergolong “THE EARLY BIRD” – Sampai-sampai merasa aneh terhadap diri sendiri.
 
Tapi babang Taksi, entah basa-basi atau tidak bagi kami ia memberikan BINTANG LIMA sebagai apresiasi terhadap penumpang yang tak membiarkannnya mencari Lokasi Pickup dan lokasi dropoff.
 
Yogya memang ngangeni. Dari kuliner, Wisata View sampai wisata bathin…
 
Keterangan gambar
#Babang Rambo
#Gang Pedawa a.k.a Gancahan 8
#Sungai jernih di jalan Kaliurang
 
Disclaimer: Cerita ini tidak ada sangkut paut dengan Rambo milik Atuknya UpinIpin yang tiga hari tidak pulang sebab jatuh cinta dengan betina lain kampung – dan berakhir dengan Rambo berjalan di depan upin ipin dengan langkah gontai dan kepala tertunduk sebab sang betina sudah siap angrem.

Keterangan gambar

#Babang Rambo
#Gang Pedawa a.k.a Gancahan 8
#Sungai jernih di jalan Kaliurang26733484_10213113674449529_387083657125404721_n26220026_10213113852973992_736590533272079955_n

CANDI IJO


Candi Ijo kalau menilik namanya kemungkinan besar candi Hindu ini diambil dari nama Bukit Ijo yang memiliki ketinggian 420m diatas muka laut. Kawasan ini masuk kampung atau Ndusun Groyokan, desa Sambirejo, Prambanan.

 

Lalu saya baca penjelasan dimuka candi. Berdasarkan Prasasti Poh ada disebut menyebut bahwa pada tahun 906 Masehi sudah ada desa bernama WuangHijo.

Prasasti POH menyebut sebuat upacara yang dilakukan didesa bernama WuangIjo. Persoalannya Prasasti Poh cuma cerita bahwa jaman itu sungai diluruskan.

Namun Candi ini sempat menghilang terkubur. Untunglah Orang Belanda yang secara kebetulan menemukan gundukan batu yang ternyata candi. Saat itu dia sedang mencari lahan untuk tanaman Tebu.

Belanda VOC itu namanya HE Doorepaal pada 1886. Ia melihat bahwa struktur candi terdiri dari 11 Undakan dan 17 group candi.

Dari situ keluar istilah candi A sebagai Candi Utama dan candi kecil dinamakan Perwara B,C,D.

Saat ini proses restorasi sisa candi masih berlangsung sekalipun  kadang On Off, misalnya ada gempabumi, yang menyebabkan beberapa bagian candi rusak.

Candi Ijo menjadi terkenal sejak kota Prambanan, diperkenalkan Obyek wisata Tebing Breksi. Pengunjung tebing akan dapat membaca spanduk ke Candi Ijo. Lalu pemda setempat mengecor jalan sehingga mobil atau motor mudah mencapai arah sana.
Spot yang elok untuk penggemar selfi berlatar belakang Yogya, Candi, bahkan kadangkala pesawat yang hendak mendarat.
Di pelataran parkir candi Ijo ada panggung spot untuk berfoto. Hati-hati, pagar kayu, tidak ada pengawas keselamatan kecuali kotak sumbangan yang menuntun anda naik ke spot.
Karena masih banyak temuan-temuan maka anda bisa menyaksikan bagaimana sebuah proses penggalian dan restorasi dilakukan.
Sayangnya, Candi ini tidak ramah DRONE

Alumni Mana?


Keponakan saya, tahu persis betapa antusiasnya keluarga kalau sudah mendengar kata “Ke Yogya.”
Alen-alen, Gedang Kepok, Gula Jawa, Tempe daun Jati, entah apalagi kalau dari Yogya itu rasanya harus ditambahkan kata Magik.. Alen Magik, Gedang Magik saking top markotop rasanya.
 
Barang siapa saja yang pernah tinggal di Yogya bakal memiliki sentimen  dan agen dari anasir alumni  “Yogya Itu Ngangeni“.
 
Lha kalau aku, fanatik kota apa ya?” – mau ngaku anak Bandung, sepertinya kejauhan.
 
Mau ngaku anak Sumedang Kota Tahu , juga Bukan.
 
Dia kuliah di Nangor. (Foto paling kiri)

Selamat Tinggal Kota Gudeg dan Gudeg yang ketinggalan


SELAMAT TINGGAL KOTA GUDEG – dan GUDEG yang Ketinggal.26169757_10213098458229133_4130238861590105427_n
 
Setelah beberapa berada di kota Gudeg Yogyakarta, sejak akhir tahun 2017,  tibalah saatnya meninggalkan kota yang selalu mebuat adrenalin berpacu setiap mendengar postingan di medsos mengenai kota ini.
Kami menggunakan jalan darat, dan pagi itu setelah pamitan tidak lama sudah meninggalkan kota Yogyakarta, menuju Jakarta melalui jalur Magelang. Ada yang pesan getuk Trio Magelang dan Wajik Week serta Bakpia Kurniasari.
 
Ada sekitar 40 menit, disebuah kota menjelang Muntilan, tilpun saya terbaca pesan “Assalamualaikum pak Mimbar, saya “Agus” sedang menuju ke Gancahan..”.
Lha kok ada pesan lain.
Pesan ke dua “Asalamualaikaum bapak, saya Yuli menuju ke rumah di Bekasi..
 
Celaka dua belas kali dua … Dua-duanya tidak bisa saya akomodasi..
 
Buru-buru saya tilpun balik..
 
Ada dimana pak?, saya sedang menuju nih…” kata rekan yang tinggal di Tentara Pelajar ini terputus-putus pertanda ada dalam kendaraan yang melaju.
 
Saya bingung.. nama kota belum terbaca kecuali ada warung dipinggir jalan tulisan MENERIMA PEKERJAAN NAFTOL… oh iya Medari..
 
Enteng tanpa beban, “maaf mas Agus saya sudah di perjalanan.”
 
Suaranya terdengar kecewa..Saya bisa memakluminya.  Mas Agus ini salah satu dari pernah menjadi tim saya. Ia direkrut karena memang reputasinya diperusahaannya terdahulu sudah bagus (bajak deh). Yang tidak bagus, selalu saja “ewuh pakewuh” dengan merasa aku ini berjasa dalam karirnya.  
Sudah dijelaskan berulang bahwa saya juga berhutang budi sebab bisa menjalankan peran sebagai pimpinan yang dibayar kantor untuk mencari karyawan terbaiknya.
Tapi ada juga sih mantan karyawan yang saat anak bungsu saya menikah saya kirim undangan via WA – membalas OK atau Maaf tidak bisa hadirpun, merasa terlalu berat baginya.
 
Namun yang lebih bikin hati saya flu berat ketika dalam suara kekecewaannya dia bilang “Lantas bagaimana nasib Gudeg kesukaan Pak Mimbar…” – Lha kok tahu saya suka Gudeg.
 
Yang itu sakitnya masih ada disini…
Dan saya menukas dengan Beban Berat…
“Haduh… ” sambil gleg..gleg.. mengelus jakun…
Tercium aroma sangit areh kelapa, suwiran ayam, kerecek, bau daun salam. Wasalam Gudeg.

Suatu Pagi di Bandara


The blue bags initially was okay by the Officer - but later on the other guy is asking me to pay US$ 38 for the excess

The blue bag initially it was OKAY to be put on Baggage. But other officer ask me to pay US380 (this is Jakarta to Singapore) and Indonesian’s note is RUPIAH

Kopor Biru yang kata orang adalah kopor jinjing sudah nangkring diatas temannya kopor berwarna Orange. Total berat melebihi kuota- ekses setara dengan berat sebuah PC .
Bapak petugas yang berdasi nampak tidak berkeberatan kami memasukkan barang tentengan ini kedalam Bagasi. Aman…
Tetapi saat pria berdasi ini meninggalkan kami, petugas yang duduk di Counter Garuda pada Sabtu 26.11.2011 penerbangan GA826 dari Jakarta – Singapura mulai “sesuai aturan”. Ia keukeuh meyakinkan bahwa kami harus bayar US38 untuk kelebihan kopor ini. Ketimbang berbantah di pagi yang sepi ini, kopor biru yang isinya cuma pakaian saya- kami tarik. Habis perkara.

Tadinya sih kepingin masuk pesawat melenggang tanpa barang jinjingan. Gara-gara 380US, dibelain deh narik-narik kopor pakaian.
Sesampainya di Changi Airport, manusianya baik-baik terhadap penumpang. Tapi tas saya ngadat ia seperti melawan keinginan saya. Setelah saya check wow wow satu bannya terkelupas. Perlu cari tukang vulkanizir ban.

One Bag found over weight. One officer say okay to put on Baggage. Other ask US38 as part of excess baggage. Better carry bags to the cabin