DAPET MELON DIMANA..BERAPA DUIT?


TKP – Pasar Tradisional -Grogol

Perempuan bersepeda ini sedan melewai jalan Muwardi Grogol ketika mendadak ia dihadang pengemudi sepeda motor. Lalu terjadilah percakapan..

“Pok, dapet beli gas dimana?” – tanya yang dibonceng Sepeda motor. Si perempuan lalu menunjuk ke arah pasar. Tetapi maksudnya toko di sebelah pasar..

“Toko engkoh Apin tuh!” – tapi kalau beli dia minta segel dicabut ditempat. Pasalnya gas lagi susah kenapa engkoh punya persediaan. Bisa-bisa kena perkara dikira menimbun.

Pembicaraan ibu rumah tangga yang paling blingsatan kalau gas masak habis berlangsung lancar kendati mereka tidak saling mengenal..

Advertisements

“DOKOH” di RM Padang KW


Siang itu kami memasuki sebuah rumah makan Padang yang mangkal di depan pasar Grogol- Jakarta Barat. Saya menyebut rumah makan padang ini sebagai “KW” namun soal rasa boleh dipertandingkan.

Di rumah makan ini semua istilah berubah menjadi “kejawen” seperti Gule (bukan Gulai)  Kikil dan nambah nasi menjadi “seKulipun setunggal malih.”

Sebentar saja piringh demi piring sudah berpindah ke perut kami. Awalnya saya makan dengan pelan – namun tak terasa  Satu piring nasi sudah amblas.

Kalau sudah demikian saya  berada disimpang ragu  “nambah atau nambah lagi..” – dan selalu berakhir “tambah sepiring nasi lagi..”

ADA KETIDAK BERESAN DALAM MASAKAN

Setelah nasi kedua. Glek saya berhenti menyuap..setelah sadar  ada “ketidak beresan” dalam masakan favorit saya..

“Gulai Hati dan Jantung ayam ” tidak nampak dalam deretan masakan.

Harap maklum – masakan ini biasanya  disembunyikan, hanya disuguhkan kalau kita minta.

Saat pelayan mengasongkan masakan Hatio dan Jantung berbalut usus itu – saya dengar mas pelayan berbaju batik – senyum senyum usil ….

“Wah dokoh maemme…” – bahasa terjemahannya makannya kRakus kRakus…

DOKOH=makan lahap

Mimbar Bambang Saputro
Mei 201613103314_10207894489533168_9038158711002742887_n

RM SEDERHANA ternyata tidak sesederhana namanya


Date: Tue Feb 11, 2003 3:30 pm

Di Grogol kami memiliki Tabloid namanya Warta Grogol dan sumprit tidak ada iklan RSJ yang menerima pendaftaran pasien baru. Koran ini terbit dengan 16 halaman berwarna. Koran gratis bagi warga Grogol. Agak gila-gilaan jaman sekarang masih ada koran gratis.

Isinya memang seperti etalase sentra bisnis Grogol yang dipindahkan ke media cetak. Jadi kalau mau cari Lou Han dan asesorinya, Cetak Undangan, Potong Kertas, Memindahkan Peta berwarna A1 ke Disket (kalau cukup), semua ada informasinya. Salah satu informasi yang terbaca disana adalah diresmikannya Rumah Makan Padang, “Sederhana“.

Dan mulailah muncul rasa penasaran mengingat di Puncak dan beberapa penjuru negeri ini banyak saya lihat RM Padang Sederhana.

Rumah Makan “Sederhana” milik keluarga Bustaman bukanlah usaha asal-asalan. Buktinya resto yang ketika didirikan 1960 semula menggunakan nama “Singgalang Jaya” terpaksa mengubah nama menjadi “Sederhana” setelah beberapa petimbangan “klinis dan klenis” pada tahun 1972.

Layaknya sebuah perusahaan yang berkembang, maka banyak pula yang mengklaim bahwa andil mereka cukup besar dalam memajukan usaha tersebut. Biasanya ini datangnya dari saudara-saudara dekat. Tengok saja Gado-Gado Cemara – Pasar Boplo, dan kawasan lainnya.

Masing-masing berebut mengklaim mereka yang paling aseli, sementara yang lain cuma “original”. Isue ini lalu ditanggapi oleh H. Bustaman dan 1995 bisnisnya mulai dibuka dengan sistem waralaba kepada saudara-saudara sebangsa, setanah air, satu bahasa, yaitu Sumatera Barat).

Mungkin saja mereka ikut ala tender mudlogging, pasalnya ada dasar “operating days” 100 hari kerja, dengan bagi hasil 30% buat Bustaman, dan 70% buat pengelola cabang. Tapi saat itu belum ada yang namanya “standarisasi” sehingga tidak jarang mengundang komentar “rendangnya masam” “Kepala Kakap sudah berbau”

Baru dua tahun lalu (2001) dibentuk PT Sederhana yang 100% kepemilikan dipegang oleh keluarga Bustaman. Semua aturan main sudah jelas di dokumentasikan. Yang lebih jelas lagi, PT ini mematok 40-60% dari keuntungan. Pasalnya semua operasi dilakukan oleh PT Sederhana Citra Mandiri.

SATU EM, PLUS DUA RUKO.

Berapa modal ikutan bisnis waralaba Sederhana, menurut Intisari, pertama kalau anda mencoba buka di ruko, paling tidak 2 ruko harus anda gandeng. Kalau pegawainya sekitar 20 orang, dan lokasinya agak wah, paling tidak 1 EM sudah harus tersedia dikantong dan tidak boleh dicampur bumbu rendang.

Cara penggajiannyapun tidak “umum”, pegawai dibayar berdasarkan laba Perusahaan. “Untuk menjaga sense of belonging,” tutur salah seorang manajer andalan SCM. Jadi kalau sekarang makan di RM Padang dengan pelang nama sederhana, pasti cara penyajian, rasa masakan akan sama dimanapun berada. Itu kata yang iklan.

Minggu lalu, Grand Opening RM Sederhana dibuka, dengan design ala MinangKabau, maka mereka mengundang penghuni seputar jalan Susilo dan Muwardi (nama jalan di Grogol, menggunakan nama pahlawan. Jalan dr. Sumeru kadang dikira nama gunung di Jateng, sehingga jadi kepleset jalan dr. Semeru.)

Tetapi dasar ibu-ibu bergaya ala PKK, bergunjing dan mencari celah “cacat” suatu masakan mereka masuk level “guru” sekalipun dirumahnya kalau menjerang air jernih bisa jadi terlalu masak.
Contohnya ketika saya tanya bagaimana rasa masakan yang high level standarnya sudah ISO-Babat. Lho kok ada yang mengerenyitkan wajah seperti menelan mengkudu muda sambil bilang “Randangnyo iko masam Banar?“- Ada yang mengatakan sayur ijo-ijonya “ngiler”. Lalatnya banyak – woalah sadis bener.

Sayangnya saya missed the flight. Jadi entah postulate ibu-ibu pekaka itu betul atau tidak. Hanya memang rumah makan ini tidak bertahan lama. Grogol – baru akrab bisnis bakmi. Tapi bisnis apapun tidak sederhana seperti kata majalah atau koran. Dibutuhkan berjilid-jilid pengalaman.

mimbar (dot) saputro (at) gmail (dot) com