Burung Tak Bisa Membaca


Burung Tak Bisa MembacaYa ampiyun (iy) semua orang juga tahu selain Angin Tak Bisa Membaca (judul sebuah filem) maka burungpun sekalipun made in Australia pasti buta huruf. Tetapi apa urusannya sampai mereka diberi peringatan bakalan dirante kalau sampai berani menclok ditempat yang dilarang. Lalu biar burungnya mengerti bahwa bakalan dikunci (hukum) diberi logo kunci segala..

Usut punya usut, siapa sih burung yang dimaksud.

Mobil No BirdInilah burungnya, sebuah persewaan mobil di Perth mengambil nama unik yaitu “No Birds” mungkin agar kelihatan lain daripada yang lain.

Bukankah di Indonesia kita mengenal perusahaan semacam Blue Bird ada Big Bird sekarang bagaimana kalau mereka menamakan dirinya “No Birds” – Jadi papan peringatan diatas adalah ruangan parkir khusus untuk mobil dari perusahaan “No Birds”.

Foto diambil sekitar jam 09:00 yang seharusnya dipusat kota macam Jakarta entah seperti apa penuh sesaknya. Namun sedan “No Birds” melenggang sendirian di jalan sepi.

Daerah yang saya abadikan ini tergolong China Town Australia. Namun tak nampak orang meludah sembarangan dan kota teratur rapi.

Advertisements

Terpaksa Hampir Malam di Bali


Yang membuat hati mongkok (menggelembung) ketika pesawat dari Perth bersiap mendarat ke Bali, adalah wajah para turis Australia semangkin (ng) cerah, Bali..Bali, Indonesia kata mereka. Saya membayangkan mereka pulang membawa kenang-kenangan kaos Bir Bintang. Ketika mereka sibuk menurunkan papan selancar dari tempat pengambilan bagasi, saya ngelonyor ke loket keberangkatan dalam negeri. Maklum masih menggembol tiket cadangan ke Jakarta.

Melihat panjangnya daftar penumpang cadangan GA 727, Denpassar – Jakarta. Harapan saya seperti melaporkan kehilangan HP ke kantor polisi. Kemungkinan berhasil keangkut cuma tersisa setipis pisau cukur. Untunglah petugas menerbitkan harapan “bapak sendirian?, tidak bawa bagasi?

Kontan saya jawab “Yes”, mau rasanya menyodokkan siku saya kebawah seperti yang diperlihatkan di filem olah raga. Paling korban sebuah pemotong kuku dibuang agar tidak mengalami hambatan di pemeriksaan barang kabin nantinya. Biar lebih “yes” lebih menggigit, saya keluarkan kartu Frequent Flyer.

Tapi peraturan yang berlaku, harus menunggu setengah jam sebelum waktu terbang tiba. Padahal itu berarti masih dua jam lagi.

Maka sasaran saya pertama adalah Kedai, nama sebuah restoran Indonesia dengan logo mirip rumah makan Padang Simpang Ampat.

Saya memesan Soto Betawi yang dihidangkan dengan piring melamin kotak, mirip gaya kedai masakan Jepang. Ruangan ber AC, dipenuhi para anak-anak muda dan orang tidak muda yang memiliki kesamaan yaitu Merdeka untuk Merokok ditempat tertutup. Merdeka untuk tidak perduli banyak anak-anak kecil dalam ruangan tersebut. Uhuk, saya terbatuk batuk [habis esmosi (s)]

Rasa masakan biasa-biasa saja. Wes Pokoke, Caputauw – lumayan, apalagi perut memang sudah lapar lagi. Lalu didepan saya ada loket penjual es. Saya pesan es Kacang Merah, rasanya lebih kacau beliung sebab kacang merah bantat yang terhidang.

Waktu mulai dipangkas dengan duduk manis membaca novel Messiah sampai selesai. Lalu saya tarik majalah. Ada artikel Kelapa Bakar membuat “greng”, sayang saya sudah kehilangan “krentek” untuk membacanya sebab ditengah semilir angin pantai dan seliwerannya para pelancong di Denpassar, saya sempat tertidur di kursi dan terbangun saat mencium harumnya kapucino. Lalu disebuah kafe, saya memesan minuman ini, yang dilayani oleh seorang mbak yang entah kenapa kalau berbicara desibel suara “cempreng” yang dihasilkan selalu mengingatkan pemain sinetron perempuan pesolek di Office Boy atau si kembar dalam Cinderella.

Tigapuluh menit menjelang keberangkatan pesawat saya temui petugas, bahu langsung terkulai dan kepala tertunduk, tempat penuh pak. Lalu saya mengotak atik maksud pertanyaan petugas “ bapak sendirian, tidak bawa bagasi,” mungkin maksudnya, ngapain eluh buru-buru pulang ke Jakarta. Sial bener.

Dan ini liburan panjang sehingga praktis penginapan papan atas, tengah, bawah di Bali ini penuh semua. Lalu saya lancarkan, rencana “B” – namun keponakan yang saya hubungi hanya menjawab “maaf pakde saya sedang jadi kumendan (u) pedang pora teman menikah, baru bebas jam 8 malam nanti.”

Terpaksa menunggu Hampir Malam di Bali…

Gulai Petai di Perth, Nyasar di toko Pinky


Selasa, 21-08-2007 14:43:31 oleh: Mimbar Saputro

Kadang rindu juga akan masakan Indonesia. Maka TKP di jalan Barrack, Perth menjadi sasaran utama. Dengan tajuk Indonesia Indah, House of Rendang, maka jangan buru-buru memerintahkan enzym dalam perut bahwa anda akan menemukan cita rasa bak Sari Bundo, Simpang Raya atau Sederhana, sebab bagaimanapun pemilik kedai harus menurunkan standar bumbu agar tidak terlalu “merendang banget” sehingga bisa dinikmati perut “Mat Sale” alias bule.Ketika arloji menunjukkan pukul sembilan belas malam, saya sudah berada di mulut pintu masuk. Karena letaknya di lantai dasar, diperlukan tangga untuk menuruninya.

Di ujung anak tangga terakhir, sensor elektronik meraba tubuh saya dan langsung berteriak nyaring sehingga seorang anak muda keluar dari dapur. Sambil celingukan. Lalu ia masuk kembali kembali bergumam “kok orangnya tidak ada?,” Padahal sosok setinggi 163cm bobot 82 kilo sudah berdiri “ngejogrok” didepan bufet masakan. Mengingat saya belum mendalami ilmu panghalimunan (menghilang), anak tangga saya lewati sekali lagi untuk membangunkan alarm, kali ini berhasil soalnya saya teriak dalam bahasa negeri “beliii ..”

Beberapa jenis masakan kelihatannya ludes, termasuk rendang. Yang tersisa adalah gulai daun singkong bertaburkan petai, capcai kampung, gulai otak kambing dan ayam pop. Saya pilih semuanya terutama daun singkong, lalu anak muda ini menawarkan “ada ati dan ampela ayam pak,” yang tentu saja tidak saya tolak kesempatan emas ini. Sebab di resto MatSaleh, mana ada ati ampela dan otak diperdagangkan untuk manusia.Maka sambil duduk dibawah songsong gaya Bali pandangan menebar suasana resto yang didekor oleh pajangan wayang kulit, wayang golek, lukisan gunung Merapi yang memang diusahakan mirip dengan suasana Indonesia. Saat itu saya satu-satunya pengunjung direstoran tersebut. Lalu dibelakang, terdengar CD diputar “Bersama Bintang,” mendayu-dayu dari Drive. Lho kok yang terbayang adalah Sinetron Cindy. Tontonan prioritas utama Sinetron yang para Kitchen Kabinet, nun 1600mil jauhnya.

Tiba-tiba saya seperti terlempar dalam kesendirian, sementara diluar sana kafe-kafe memperdengarkan kesibukan dan keriuhan seperti anak sekolah ditinggal guru rapat ke ruang kepsek.

Mohon maaf, kepingin melankolis.

Kedai ini letaknya di bawah jalan Barrack. Uniknya lantai pertama diisi oleh toko orang dewasa yang menjual pernik uborampe urusan selang [bla bla bla]. Dengan dekorasi bernuansa pink, ada logo hati, kadang siluet kepala bertanduk dan berbuntut tombak, maka kerapkali habis makan kuterus nyasar ke toko selang [bla..bla..bla] ini.

Kadung mengaku sering kesasar, harga sekeping cakram DVD minimal 60 dollar (hampir setengah juta rupiah). Tapi pesan sekarang, seminggu baru tersedia. Jadi sistem penjualannya mirip inden punya.

Ini kesasar atau kesasar?

Berebut air dengan Pinus


Memandang hutan pinus apalagi dipuncak gunung berselimut halimun tipis konon mampu membuat beban berat terasa lepas begitu melihat batangnya yang semampai dan luwes seperti manekin yang berjalan dipanggung-panggung kota Paris. Belum lagi siulan angin yang membelai dedaunan pinus lengkap sudah keindahan mereka. Hutan pinus hijau royo-royo selain indah juga berfungsi sebagai hutan lindung danpenyangga kota. Maka ketika banjir melanda sebuah kota, mudah sekali orang menjatuhkan harga mati bahwa pembalakan hutan adalah penyebab utama.

Tetapi di Australia Barat, justru yang terdengar adalah, salah kawasan hutan pinus malahan dipandang biang kekurangan air yang semakin mulai dirasakan oleh warga kota Perth. Di kawasan Gnangara, pinus ditanam seluas 23 ribu hektar untuk keperluan industri dan keindahan kota. Apalagi ada danau Gnagara yang diambil sebagai penyuplai air minum disana.

Namun yang mulai dirasakan, pohon langsing ini ternyata mampu menimbun 40 triliun liter air yang seharusnya tersimpan dalam perut tanah. Jumlah ini sama dengan air yang harus disediakan oleh PAM daerah setempat untuk mensuplai pelanggannya dalam setahun.

Sebetulnya pinusnya sendiri dari sononya memang sudah doyan air, tetapi pihak perusahaan perkayuan terlalu memadatkan penanaman diluar ketentuan 11 meter persegi tanaman untuk satu hektar tanah menjadi lebih padat lagi. Di Riau, pohon kelapa sawit dituding sebagai tanaman pemangsa air tanah. Banyak tanah yang semula basah-basah nyemek begitu ditanami pohon tersebut, tidak lama kemudian nampak kering.

Satu-satunya jalan “perusahaan timber harus menebang lebih banyak lagi pohon sehingga mengurangi kemampuan pohon untuk menyunat air tanah, kata seorang pejabat setempat.

Nah lho ternyata menanam pohon kalau tidak pakai aturan main bakalan celaka juga.

Mimbar Bambang Saputro

Usaha memperpanjang passport di Australia


konsulat_perth.jpg

Sebuah siang yang melelahkan di kota Perth lantaran musim panas begini suhu mencapai 40 derajat selsius. Saya baru saja keluar dari halaman konsulat Indonesia di jalan Adelaide – Perth. Itupun hanya berada di luar pagar konsulat lantaran konsulat sudah tutup sehingga saya memencet bel dan bicara didepan aiphone untuk menanyakan kemungkinan memperpanjang passport.

Sementara pagar konsulat yang tinggi bercat hitam kokoh dan angkuh menolak kedatangan seorang buruh minyak macam saya.

Rabu Februari 2007 menunjukkan pukul tiga petang waktu setempat. Passport saya sudah kurang dari enam bulan masa lakunya, keadaan banjir di Februari 2007 membuat saya ragu apakah pelayanan publik di Jakarta bisa diharapkan diandalkan. Baru sadar bahwa setiap tahun baru acara tahunan kota Jakarta bulan berikutnya adalah hujan dan banjir.

Suara diujung sana nampaknya tidak banyak menolong. Ternyata di Australiapun urus passport harus sepuluh hari kerja, sementara anak saya di Singapore hanya perlu menginapkan pasport dua malam dan mendapatkannya kembali pada hari ketiga. Di Indonesia dengan sedikit penambahan biaya maka pengurusan passport bisa dipercepat.

Saya sudah kapok mengurus sendiri passport maupun Visa. Lama dan bolak balik menghabiskan waktu.

864 – Christina nama supir Taxi itu


Jam 03:00 pagi pesawat saya baru mendarat di Bandara Perth, Australia. Lalu saya antri ambil taxi Swan menuju hotel, ternyata kebagian mobil Van dikendarai seorang cewek berambut pirang sebahu dengan body mirip ibunya Schapelle. Maksud saya lebih “impluk” dari Corby Schapelle. Usia saya taksir sekitar 50-an. Tapi rata-rata cewek Australia boros muka jadi penampilan tidak bisa dijadikan pegangan. Saat membukakan pintu bagasi dia langsung menyapa “I am Christina” sementara saya hanya berhai-hai, toh disebutkan namaku pulang-pulang dia cari ahli urut lantaran lidahnya keseleo.

Dalam perjalanan saya curiga sebab ia buka kaca mobil, tanpa minta ijin dari saya. Rupanya ia mengambil sesuatu dari dashboard lalu “jress” menyalakan rokoknya. Sejatinya saya bisa protes sebab dia merokok dalam kendaraan umum. Tetapi, sebelum-sebelumnya dia bilang pernah ke Bali. Jadi soal isu ngelepus merokok, saya sudah kena skak-mat. Tidak bisa berkutik.

Sambil kelepas kelepus Christina menganjurkan saya lain kali pakai angkutan yang disediakan Hotel. Gratis lagi, katanya. Apalagi dia mahfum penjelasan saya baru pertama menyoba hotel yang saya tuju.

Tinggal call dari Airport, mereka akan datang menjemput” – katanya sambil menopangkan sikunya di jendela mobil maksudnya agar asap rokok cepat terbawa keluar kendaraan.

Ya olo .. saya pikir jam 03:00 dinihari kelayapan cari bis gratis sementara badan perlu mengaso. Apalagi lokasi hot el belum familiar.

Sampai di hotel saya sodorkan 30 dollar untuk taxi dan 2 dollar untuk Surcharge.

Lalu kami berpisah setelah ia mengucapkan Selamat Malam dalam bahasa Ibuku.

Kalau anjurannya saya ikuti, Christina akan kehilangan sekitar 30 dollar ( atau 210000 uk -uang kita). Boro-boro kepingin mengajak penumpangnya mutar-mutar agar argo naik. Dapat penumpang saja malahan diberitahu rahasia gratisan.

Mimbar Bambang Saputro

Kutu Musim Panas


Saya lihat para pesawat Garuda agak sepi terbukti didepan saya satu deretan kosong, padahal Garuda sudah mulai mengubah citra, ramah, dan menempa diri di teknologi informasi seperti bermain di Website, maksudnya anda bisa mengetahui status booking anda di website asal tahu Kode Booking anda.

Lalu ingat beberapa tahun lalu di Pekanbaru saya pernah menanyakan soal tiket murah plus adegan dan pengalaman horror yang disuguhkan penerbangan lain. Pihak Garuda hanya menjawab “kita tidak bermain di keselamatan pak!” – waktu cepat sekali melintas. Sepertinya pihak Garuda baru bicara sepuluh hari lalu.

Beberapa saat menjelang mendarat ke Perth, Australia Barat. Pramugari Garuda yang bertugas sejak dari Jakarta, menerangkan melalui pengeras suara bahwa jam sekarang menunjukkan pukul kosong satu dinihari waktu Indonesia Barat, atau pukul kosong dua pagi waktu Perth. Baru saja melahap roti Srikaya, yang dihidangkan dengan senyuman manis pramugari disertai kata-kata “komplimen dari Garuda” saya dengar pengumuman yang sama kali ini disampaikan Pilot Garuda.

Penumpang Garuda yang sebagian bule Australia tidak protes padahal mereka mahfum tidak selamanya perbedaan waktu Australia Barat dengan Indonesia Barat selalu 1 jam. Pada saat tertentu seperti musim Panas perbedaan waktu molor dari satu jam menjadi dua jam terhadap Indonesia Barat sehingga seharusnya mereka mengatakan pukul kosong tiga dinihari di Perth.

Sejak 2 Desember 2006 sampai Awal Maret 2007, Australia mengenakan sistem DST dimana jarum jam dimajukan 60menit lebih awal. Kalau semula jam 6 pagi, diganti menjadi jam 7 pagi.

Tapi mau bagaimana lagi. Memang di Indonesia kita tidak mengenal istilah DST (Day Light Saving), kecuali menggerutu, sudah “azan me(pakai e) grib udah nyampe, matahari masih moncer, napa yah.”

Lagian mengapa direpotkan urusan lansiran waktu, negara kita bukan, sistem kita juga jauh….

Saya sempat digigit kutu DST ini. Perjanjiannya jam 02 dinihari pada 2 Desember 2006, semua jam di Perth dan sekitarnya akan dimajukan. Tetapi yang terjadi baru jam 20.00 mereka sudah tidak sabaran memutar jarum jam ke jam 21:00, tidak sampai 5 detik, jam sudah ganti rupa.

Yang tidak dipikirkan adalah ketika saya bangun “normal” jam 11 malam untuk ikut rapat tengah malam (kurang sedikit) yaitu mulai pukul 11:30 malam thenk!, saat saya datang suasana ruang masih sepi-sepi. Celingukan sana sini seperti “kethek ketulup” – kera kena sumpit beracun ipoh orang Dayak Punan, lalu melihat jam dinding (yang tertawa) ternyata saya ketinggalan. Bahkan kantinpun sudah mulai kukut-kukut – tutup. Akhirnya malam menjelang pagi terpaksa puasa. Sial bener.

Itu baru soal rapat yang terlambat. Lalu bagaimana jam pada komputer kami yang sedang asyiknya melakukan tugasnya terus menerus membaca dan merekam data pengeboran lepas pantai secara realtime. Niat hati sih, mencari waktu yang pas untuk mengubah jam yang teronggok di sudut kanan bawah layar monitor. Tapi celakanya, data realtime yang kami kirim dari rig menuju Perth dan Sydney harus berselisihan dengan komputer di Perth yang sudah menggunakan jam yang baru. Sampai disini, kutu komputer mulai menunjukkan tanda keganasannya. Beberapa aliran data mulai stop, bahkan rekaman menunjukkan ada data hilang selama 1 jam. Celaka dua belas.

Terpaksa kami harus lembur semalaman menyoba mendapatkan kembali data yang sempat tidak terekam. Untung saja rekaman “backup” ada karena dibuat secara otomatis.

Bulan Maret 2007 mendatang, DST akan melakukan peyesuaian balik, yaitu waktu diundurkan satu jam lagi. Terus terang saya masih trauma dengan kutu DST. Paling cara mematahkan serangannya dengan membackup semua data menjelang pergantian waktu tersebut.

Kembali ke Laptop.

Saya pikir Pramugari dan Pilot Garuda yang menerbangkan saya dari Jakarta ke Perth pada 17 Januari 2007, belum pernah ketanggor-ketemu kutu DST (Day Light Saving Time), atau kejadian ini hanya rekaan saya saja yang terpengaruh dongeng kutu2000, lalu mengembangkan fantasi ke kutu DST. Tapi kalau anda hendak terbang di Perth, lalu menggunakan info yang diberikan mbak Pramugari GA730 tadi, bisa-bisa pesawat sudah lepas landas sejam lalu, kita baru bayar taxi di Airport Perth.

Mimbar Bambang Saputro