Mesin cetakan cendhol


Advertisements

Mangga Pisang dibawa dari Pasuruan


23380064_10212641611648254_2209524233144122217_n

MANGGA PISANG (Zonder Jambu), karena dibawa dari Pasar Pasuruan

Ini jenis mangga kondang masih satu trah dengan Mangga ALPUKAd alias Gadung-21. Nama latinnya Agrigardina Banana Mango.
Mangga ini dinamakan Mangga Pisang, ya karena makannya dikupas seperti pisang. Buahnya manis, tidak berserat, serta ukurannya kecl sehingga pas untuk “cuci mulut”.

Selain Banana Mango, Pasuruan menghasilkan mangga kelas wahid. Disebut mangka alpukat lantaran makannya tidak dikupas (dikuliti) melainkan cukup diiris pinggangnya melingkar seperti membelah alpukad.

Hampir seperti nyayian. Mangga Pisang dan Jambu Pokad.

Terimakasih kepada Mukti Wibowo melaporkan dari Perkebunan Pasuruan..

 

LARANTUKA


Disebuah akad pernikahan saya seperti biasa cari teman baru. Korban kali ini sebut saja pak Boro asal Larantuka.

Dengar nama Larantuka maka zonder pikir panjang saya menarik arsip dikepala. Hardisk berputar “loading” tapi lambat. Malah pernah error “404” – file not found. Akhirnya arsip tercabut juga.

“Ah waktu tahun 1979 an kami, pernah menggalang dana untuk disumbangkan ke Larantuka…” Bukan pamer..tetapi sedang melongok topik pembicaraan agar emosi lawan bicara merasa “di-wongke” dimanusiakan.

Ah wajah ayah dua anak ini nampak sumringah. Saya makin agresif menambahkan..

“Sekampung meninggal saat tidur akibat uap racun gunung..” kata saya Ahlul Yaqin..

Spontan wajahnya keheranan.. kalau dikartunkan ada tiga tanda tanya muncul.

“Kok saya tidak pernah dengar ?, yang sering adalah tanah longsor atau gempa bumi…” katanya.

Langsung saya menghubungi penasehat spirituil saya.

“Mbah..dimana bencana uap racun yang fatal. ” Ya ampiyun.. itu kawah Sinila.. bukan Larantuka.. Saya sukses memamerkan dungu kepada orang baru kenal.

Lalu mulailah teknik pengalihan perhatian.

Bicara ngalor ngidul. Eh zonder ditanya pak Boro nyeletuk. Larantuka jadi maju setelah di bawah Jokowi. Tanpa sadar saya menjepret wajahnya.

Pengacara


Makan siang bersama keponakan Gilang mahasiswa tahun pertama fak hukum di Bandung.

Mereka mengadakan semacam pelatihan sidang. Ternyata ada persyaratan untuk berperan pengacara adalah memakai pen yang mereknya Wow.

Tanganpun harus dihiasi batu cincin. Jadi mereka harus melatih bagaimana pengacara kondang menggosok batu cincin sambil mendengarkan sidang.

Tapi Gilang keberatan menjawab soal latihan memiliki gebetan artis.

Orionid


Berkali-kali artikel online ini saya baca, bahasa Inggris dan bahasa Pribumi. Ada badai meteor “grand finale” pada 20 Oktober, the best show menjelang Sabtu pagi 21 Oktober 2017.  Hujan berasal dari rasi Orion.

Dimana itu rasi bintang Orion, nggak usah jauh-jauh kuliah Astronomi, download saja aplikasi Skyview, arahkan kamera HP ke langit maka akan muncul image bintang yang dipercaya bangsa Romawi sebagai dewa mereka.

Lantaran banjir meteor datang dari Orion maka mereka menyebutnya Orionid.

Sejatinya meteor ini sisa debu komet Halley.

Saya baca lagi balik dan ulang, hujan (meteor) akan nampak di langit Timur Laut dengan ketinggian sekitar 30 derajat. Maka berbekal teropong (kata ahli ndak perlu), tripod dan kamera dan tak lupa cream oles, mulailah saya lek-lekan menunggu jatuhnya meteor yang sementara sekte agama besar meramalkan sebagai datangnya Apokalips (Kiamat).

Karena malam fakir cahaya, maka padas iang hari, kamera disetel ke INFINITY (jauhnya tak terhingga). Caranya ya saat siang atau kesempatan pertama, kamera di fokuskan ke puncak gunung atau apa saja yang jauuuh, lalu “thek” matikan autofokus. Biar lena tidak kelayapan cari fokus. Supaya kelihatan profesional (tapi tidak), bodi kamera saya bedong plester kertas biar nggak fokus. Mudah-mudahan tidak minta Akwa.

Kalau kamera sampeyan yang “mahal” urusan ini menjadi cemen, tinggak muter ring ke simbol matematika infiniti. Tapi kalau baru akan motret kalau sudah kamera mahal, ya repot.

Kasus saya adalah tetangga sekitar yang rumahnya tinggi besar ganteng, mereka pasang lampu sorot. Jadi pengamatan menjadi polusi cahaya. Tapi bisa diatasi. HP saya arahkan mencari Orion. mendadak bayangan putih, perempuan “non pri” telanjang dada seperti lukisan Ubud jaman 1900-an nampak melayang.

Jangan jauh-jauh mencerca sebagai jin itu memang aplikasi HP yang menunjukkan bahwa kamera anda sedang menuju rasi bintang dengan perempuan setengah telanjang. Mayan.. Kalau anda putar lagi kamera, akan muncul sejenis tikus “Ursa Major”.

Sambil tertelentang sambil mendongak ke langit, beberapa bayangan hitam beterbangan, dengan suara “seperti ketukan”, kalau mudlogger oildfield gaek seperti saya atau orang rig paham betul suara itu biasanya ditimbulkan oleh gaungan alat perekam sonik (Sonic Log) – tetapi yang saya lihat adalah rombongan kelelawar memancarkan suara memandu arah penerbangan mereka.

Jam 03:00, setengah jam lagi ada penampakan, Venus, lantas Mars disamping meteor. Sayang kamera saya sudah basah kuyup oleh embun, tikar, bantal basah semua. Kopi sudah habis. Saya memutuskan “melambaikan tangan.”

Entar malam dicoba lagi..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jarinya dipatahkan semua


OKRA /LADY FINGERJari-jari -nya di-Patah-kan semua
Untuk makan malam – biasanya mbak Tini – asisten rumah tangga – beli dadakan sayur di Mini Market di Blok Kami.
Biasanya sekitar jam 16:00 ibu beranak satu yang sudah satu tahun ikut dengan keluarga anak saya – siap dengan catatan belanja.
Pulang dari belanja ia mengeluh “sayuran patah-patah semua, dan cuma ini yang tersisa.”
Yang ia tunjukkan adalah OKRA- seperti Gambas(oyong) Kurus . Biasanya – yang dikenal sebagai Lady Finger – Saya tidak bisa menyebutnya dalam Mandarin pertama ditulis dalam aksara Mandarin sementara bahasa Inggris menyusul dibawahnya.
Pembeli nakal kami – kadang para Old Bapak, mungkin sudah dapat “santi-aji” dari sang Istri alias pengarahan bahwa memilih Okra yang muda caranya harus dipatahkan terlebih dahulu untk dilihat bijinya sudah besar atau masih kecil. Sial bener – barang dagangan orang main dipatah-patahin.
Akibatnya mbak Tini tidak perlu memotong Okra lagi, kecuali sedikit merutuk sebab Okra Tua dan Setengah Tua yang kami dapatkan sore ini.
ANG MO
8 Oktober 2015