Mesin cetakan cendhol


Advertisements

Kursus Memasak Mi Instan



Bukannya membuat mi instan sekedar direbus pakai air sampai mendidih?
– ini pekerjaan sepuluh ekor simpanse, tetapi sembilan ekor sedang jalan-jalan tinggal seekor yang kebingungan. Pengalaman bodog (bodoh bangget) menyiapkan mi instan di sebuah hotel pakai microwave sampai meleduk bin mbledosz membuat saya harus hati-hati soal mie instan.

Dengan termalu-malu – saya tarik memo (tarik suara) kepada menko keuangan kabinet Mimbar, bagaimana menyiapkan masakan tersebut andaikata cuma tersedia sebuah ketel air yang kecil.

Mudah, telur dimasukkan gelas, kucuri air mendidih, diamkan lima menit. Mie instan dikucurkan air mendidih, tutup dan biarkan lima menit. Ndak perlu panci dan kompor segala..” – lho kok nyimut. Aku mau bukti kata saya setengah merengek seperti kalau punya gejolak “arus bawah” tersembunyi.

Betul saja, sewat-sewet, srak-srek dia siapkan masakan tersebut. Kadang dari belakang saya endus kuduknya. Perempuan ini selalu wangi.

Ada sedikit tipnya, air rebusan mi instan sebaiknya dibuang sebab banyak bahan pengawet, kuahnya diambilkan dari air mendidih baru.

Terus terang bagian ini saya kurang setuju sebab, rasa gurih bakmi menjadi “antah-berantah” maksudnya tidak keutara, tidak keselatan, tidak juga ke timur. Setelah mi selesai dihidangkan, saya ketempuhan harus menghabiskan masakan yang sebetulnya perut masih kenyang. Apa boleh buat. Ini memang harga yang harus saya bayar.

782-Ketika tangan kiri mengintip perbuatan kanan


Kami harus bersyukur melihat betapa warga sekitar kami masih banyak yang tertatih empot-empotan dalam memenuhi hajat hidupnya. Ada anak yang menangis dipulangkan dari sekolah gara-gara tak mampu beli seragam.

Sebut saja keluarga Kwek Kwek. Ayah dengan tiga anak ini sehari hari berjualan penganan murah meriah yang diantar setiap dinihari dengan sepeda. Maka bisa dibayangkan bagaimana ia menghidupi keluarganya. Memasakpun mereka masih mencari ranting kayu yang saya yakin lama kelamaan akan semangkin langka. 

Atau ibu Bejo yang istri seorang (kapiten betulan) yang sudah pensiunan mencoba menambal kebutuhan rumah tangga dengan  memasakkan untuk para kuli bangunan demi mempertebal kebutuhan asap dapur. Terkadang kuli bangunan pada kabur dengan meninggalkan bon belum lunas.

Dari beberapa episode diatas, maka pimpinan Kabinet Dapur rasan-rasan kepingin menularkan kepandaian memasaknya minimal membuat penganan, seperti kue kering. Tempatnya dipilih rumah kami yang tidak di(ge)recoki suara mewek anak bertengkar.

Keponakan saya setiap akan datang ke rumah sudah diwanti-wanti oleh ibunya, ditempat pakde Miem pasti sudah disediakan makan lengkap. Akibatnya kalau mau datang mereka cukup ber SMS “kami datang, kami belum makan“. Karena memasak bkan bagian saya maka iseng saya timbul. Setiap sepuluh menit keponakan saya kirimi SMS, “sudah sampai dimana? mengapa belum sampai juga.” – lalu mereka menjawab “Pakdeku kami sedang dijalan sabar dong, kan macet.”

Kami memang sudah terbiasa menjadi katering, membuka warung makan. Bahkan beberapa keluarga mempercayakan kami sebagai wedding organizer.

Persoalannya bagaimana kalau para target operasi yang akan diajar memasak ini malahan tersinggung dianggap ekonomi rendah, atau merasa direndahkan kemampuan memasaknya. Maksud baik bisa diterima lain oleh yang bersangkutan.

Lantas akal pertama adalah kami menurunkan umpan. Kepada tetangga terdekat kami mengirimkan Capcai. Minggu selanjutnya bakwan jagung, lain waktu gudeg kumplit. Belum lagi nasi goreng, lalu kue-kue, peyek dan entah jenis penganan apa lagi.

Umumnya mereka berterimakasih. Tetapi tidak semua lho. Sebuah keluarga antiq ketika rantang diangsong didepan seorang bapaknya malahan sang bapak memanggil istri, lalu istri memanggil anak, anak tertua menyuruh adik, ketika adik menolak juga maka terjadilah pertengkaran mulut. Sampai kepikiran apa sih beratnya menerima sebuah rantang makanan?. Gratis lagi.

Untung hanya sebuah keluarga yang demikian. Singkat kata maka terlaksanalah demo memasak yang alatnya dari kami, bahannya dari kami, pengajarnya dari kami.  Pokoknya mereka datang, duduk, membantu, hasilnya silahkan  dibawa pulang.

Setelah pelajaran masak termasuk membuat kue kering dianggap selesai. Ibarat praktikum harus ada responsi. Seminggu dua minggu ditunggu kok adem ayem saja – alias dirumah mereka tidak mempraktekkan pengetahuannya. Padahal katanya ingin menjual kue kering dalam toples saat puasa menjelang lebaran nanti.

Ternyata ada kesalahan teknis di luar skenario, di rumah kami, menggunakan mixer tinggal “zwiiing” – mau pakai oven tinggal “zeklek” – sementara dirumahnya dengan penerangan kontrakan 450 watt, hasil praktikum mustahil dipraktekkan.

Kelihatannya yang dibutuhkan oleh mereka adalah membuat kue tanpa mixer, mengadon tanpa “romboter” – pendek kata bagaimana bikin kue kampung, tapi enak.

Kami sempat kebingungan, namun sandungan kecil ini dapat diatasi.

Keluarga Kwek Kwek ternyata alumnus paling siap untuk menjual tempe mendoan, dan kue-kue lainnya sayangnya tidak memiliki jejaring pemasaran.  Akhirnya istri melakukan pendekatan di tempat senamnya.

Keluarga KwekKwek diperbolehkan berdagang. Namun dasar orangnya pendiam, terpaksa istri lagi yang halo-halo agar dagangan dibeli. Ketika pembeli ramai berdagang, mereka bingung akan kecepatan menggoreng dan membungkus. Masih pakai baju senam, lagi-lagi istri srebat-srebet menggoreng, membungkus sekaligus promosi.

Lama-lama orang akan kepikiran yang dagang ini siapa?

Pempek Palembang


Perkenalan dengan pempek Palembang sekitar tahun 1960-an ketika orang tua pindah dari pulau Jawa ke Palembang. Kami tinggal di asrama Brimob Kertapati yang baru saja dibangun dari bekas kuburan Cina. Tetangga saya menawarkan makanan yang terbuat dari tepung kanji, dan katanya lazid jiddan alias lemak nian “Belum jadi wong -orang- Palembang, kalau belum merasakan pempek lezat ini…” begitu bunyi promosinya.

Satu gigitan, ternyata penganan ini melakukan perlawanan alias alot, apalagi dengan rasa amis ikan yang asing bagi lidah didikan tangsi Pathuk dan tangsi Pingit Yogya yang terbiasa manis. Cuka kami teguk, weleh kok barang kecuut dan pedes begini dibanggain. “Ai besak kelakar wong Plembang Niii -cem mano, makanan seliat sendal jepit dibilang lemak nian.” – ah saya mulai belajar berujar dalam bahasa wong kito.

Alhasil, untuk tidak menyinggung sipemberi, diam-diam cuka dan pempek kami lepeh….Peh..

Ada beberapa bulan kami sekeluarga seperti heran melihat tetangga bangun pagi kok terus nguyup (minum) cuko atau cuka.

Saat itu memang banyak gadis dan pemuda Palembang giginya ompong seperti yang penah dilakukan penelitiannya oleh drg Safrida Hoesin dari Tabloid Nova, tetapi bagi WongPalembang, soal ompong itu masalah keciiil lantaran mereka bisa ganti dengan gigi perak atau emas, sehingga alih-alih nestapa berubah menjadi extravagansa.

Lalu ada tetangga yang lain memberikan pempek yang mungkin mutunya tinggi, kami diminta mencobanya.

Lho kok uenak tenan, mungkin karena perut sudah mulai terbiasa dengan jajanan seperti TekWan, Burgo, Model, Lenggang maka sejak itu pempek dianggap salah satu makanan kehormatan kami.

Sekarang, saya hanya kenal satu tukang pempek di Palembang yaitu Pempek Pak Raden. Pernah di coba merek lain seperti Candi, Dempo dsb tetapi namanya sudah RadenMania, ya tetap pak Raden yang paling okay. Kadang dalam kesempatan ke Palembang saya mencoba di seberang SMA Xaverius yang katanya lebih dahsyat, tapi lagi-lagi pak Raden masih lebih Jozzz…

DIBEDAKI BIAR TAHAN LAMA

Adik-adik saya sudah tahu bahwa kakanya cuma perlu sebesek empek-empek pak Raden. Supaya tahan lama, pempek minta di bedaki dulu sebelum di bungkus. Jadi kalau mereka datang ke Jakarta, cukup bawa satu besek pempek, kecuali minggu lalu gantian saya yang membawakan nasi Padang rasa Istana. Anak-anak bahkan isteri bisa terherman-herman, kalau jam lima pagi saya bisa menyantap empek-empek dengan menyruput cuka tanpa sakit perut, padahal minum coca cola seteguk saya sudah ngeluh “sudhuken” alias perut kembung seperti ditusuk-tusuk. Pak Raden dilawan….

Konon pak Raden ini miliknya adalah seorang Palembang tulen bernama Ahmad Rivai Husein. Dengan bahan baku ikan “GABUS” yang ternyata selain bikin empek-empek makin gurih, kandungan proteinnya bisa menggantikan sel-sel tubuh yang luka. Maka dikabarkan seminggu sekali mereka perlu 150 kilogram ikan gabus giling. Belum lagi dengan gerai-gerai pak Raden yang lainnya.

Sayang cerita suksesnya bagaimana saya kurang jelas, lantaran seperti serangan operasi Badai Gurun gerai-gerai Pak Raden mulai bermunculan di Jambi, Lampung, Bandung dan Jakarta. Bagi saya empek-empek boleh lain, tetapi soal cuka, pak Raden biangnya…..

Di Jakarta, saya lihat ada satu yang di jalan Warung Buncit, satu gerai di Margonda dan konon yang terbesar adalah di gerai Jalan Fatmawati. Konon hidangan luar biasa dari pempek Fatmawati adalah Es Kacang Merah (kacang tolo). Seperti belum sip bercerita kalau kaum “dugem” belum disebut, Nico, Berliana, Cut Tari, H. Damsyik adalah para fans pempek Fatmawati, itu kata koran lho.

Komentar
From: “Astrada Barnazs”

hmmm….. uenakee… baru baca saja rasanya sudah terbit air liur…. sayangnya penjual pempek terdekat dari lokasi saya jaraknya 3jam perjalanan, yaitu di mataram, tepatnya di food bazaar mataram mall. satu jam pake fast boat NNT, 2 jam jalan darat. itu kalau pake boatnya NNT. kalau pakai public boat lebih mengenaskan lagi. 1 1/2 jam ke pelabuhan, 1 1/2 jam nyebrang laut, plus 2 jam jalan darat, total 5 jam untuk sepiring pempek ! itupun rasanya biasa saja, nggak ada yang istimewa. tapi ya karena cuma itu yang terdekat, mau nggak mau tiap ke mataram mampir ke situ. biar nggak enak yang penting judulnya pempek. apa boleh buat….

mas-mas sekalian,

Berarti saya beruntung dong, kebetulan saya dinas di Prabumulih-Palembang, yg setiap hari ada tukang mpempek ngider didepan rumah. Tapi yg terkenal di Prabumulih….mpempek Semar. yaaa tergantung selera lah.
Andree-Prabumulih

Menembus langit-langit kaca dengan masakan Padang


Masakan Padang biasanya agak-agak standar gitu, rumus pertama nasi putihnya harus pas kerasnya, tepat airnya, dari situ baru standar yang lain yaitu lalapan daun singkong, dan potongan ketimun bangkok sehingga nggak bakalan ketemu timun pahit.Kalau ini sudah kena setelannya, maka rendang, gulai ayam, daging cincang biasanya tinggal ikutan enak di santap. Tapi ada masakan padang yang mampu menerobos langit-langit kaca, inilah kepiawaian Nanny Zaenuddin dan ibunya yang tidak percuma jauh datang ke Jakarta pada 1962. Mulanya Zubaedah, ibu Nanny mulai melayani tetangga komplek Garuda, dan kok masakannya mulai dipesan orang sekelurahan.

Mungkin yang ngomong “cangkem pilot” jadi dianggap seleranya extravaganza. Cari kekasih saja kalau kebetulan dapat pilot kita bisa diajak “fly” dalam arti tersurat dan tersirat katanya. Kata sticker di kaca lho.

Ketika sidang MPRS 1965, Zubaedah didaulat melayani 3000 perut termasuk panganan kecil. Jelas mereka kelabakan. Apalagi Bung Karno bakal ikut mencicipi masakan mereka. BK terkenal dengan falsafah wanita ibarat pohon karet, bagunyha sampai 30 tahun. Soal makanan tentunya beliau punya falsafah lain… Tapi dengan cerdik kesulitan tersebut segera diakali dengan membooking beberapa restoran dan toko kue. Nggak percuma jadi orang Padang Panjang.

Usai MPRS 1965, cerita sukses menerobos langit-langit kaca tidak berlanjut, tetapi siapa juga tahu RM Sari Bundo pasti tahu kualitas masakannya, nyem nyem glek…

Baru ketika Gus Dur naik tahta sebagai RI-1, Nanny dipanggil lagi sebagai pemasok untuk urusan perut Gus Dur, sampai ke Pasampres. “Pagi buta jam dua, dapur sudah mengebul untuk urusan perut ini.” Bahkan Nanny boleh bangga bahwa dia punya “pasukan berani mati demi Gus Dur”, lantaran pekerjaannya ya icip-icip masakan siapa tahu di racun atau disantet (?). Bahkan setelah Gus Dur berhasil digulingkan dan di zholimi (kata pengikutnya), tak kurang Hamzah Haz ikutan memberikan order kepada perusahaan Ina Citra, yang dikomandaninya.

Bagaimana kiat Nany Sari Bundo merangsek istana tanpa halangan ini, rupanya dia pakai aji-aji empat sehat lima sempurna yang sudah disehat dan sempurnakan lagi menjadi enam lezat dan tujuh murah….

Alasannya makanan sehat kalau nggak lezat, lha siapa mau icip-icip…
Kalau sudah lezat tapi murah, nah berbondong orang datang…

Oooh gitu toh…

Contohnya?, satu porsi masakan dipatok 15 ribu sudah termasuk makanan pembuka dan pencuci mulut lho… Wah kok sama dengan resto Amigos ya..

Sudah coba ke Sari Bundo, ada di Arya Duta, Magga Dua dan Haji Juanda (depan-depanan Bina Graha). Kalau waktu lunch tiba, jangan kaget anda harus sabar menanti giliran… habis enak sih.

Mau jadi presiden, barangkali makan dulu di Sari Bundo lah yauwww.

Date: Thu Jan 9, 2003 12:02 pm