Aturan Menyeberang ala emak Roxy Mas


Menyeberang jalan ada 3 perkara..
  • Jalan Sepi.
  • Lampu hijau tanda menyeberang menyala.
  • Nekad aja.
TKP di RoxyMas, Grogol.. Jalan tidak pernah sepi, Lampu BangJo juga tidak ada maka pilihan jatuh ke nomor Tiga. Nekad saja.
 
Kok pas saya sudah berhasil menyetop Taxi, Kendaraan Umum, Angkot, Ojol, Ojoff.. lalu menyeberang, di tengah menyeberang terlihat tiga emak. Dua emak masing-masing  gendong bayi-.. Satu menggendong beban hidup tetapi menggandeng bocah balita..
Gerak tubuh melihat ke kanan ke kiri, dengan kaki dipinggir trotoir- mestinya mereka akan menyeberang.
 
Saya segera ambil inisiatip. Tangan saya rentangan – masih di tengah jalan sambil – memberi isyarat “ibu-ibu silahkan, buruan menyeberang, lalu lintas sudah saya stop..”
 
Bukannya mau menyeberang, mereka malahan mundur. Satu emak menyahut.
“Nanti .. nunggu teduh..” Lantas mereka berlindung di bawah jalan layang yang melintas di depan RoxyMas.
 
Jadi, perkara yang ke empat – menyeberanglah saat “lampu matahari”  teduh..
Advertisements

PINTU LINTASAN KERETA API TELAT


PINTU PELINTASAN KA TELAT MENUTUP
Perasaan – ilmu mengendarai mobil itu – dimana ada perempatan, dimana  ada perlintasan Kereta Api – maka adalah wajib berhenti sejenak, tengok kiri-tengok kanan.
Dan jangan sekali-sekali bergantung sepenuhnya akan Lampu Lalu Lintas atawa Pintu Lintasan.
Jadi pak Gubernur DKI, pernyataan anda karena “pintu terlambat menutup” sepertinya tidak mengajarkan “bela diri” di jalan raya.
Catatan: saya juga sudah lama tidak menyetel musik keras-keras manakala mengendarai mobil.. Dan itu membuat saya menjadi aneh di mata kerabat..
(Terimakasih puluhan tahun lalu saya diberitahu pengetahuan ini oleh alm Mr. Ito seorang mantan PT KAI)
Mei 2016
Juga disarankan manakala hendak berbelok – gunakan bahasa tubuh misal kepala menoleh agar orang di belakang anda paham bahwa anda “confirm” akan berbelok. Sekalipun lampu richting sudah menyala. Bahkan mundur pun dianjurkan melihat kebelakang (bukan melihat spion).. 

Tabrakan Beruntun di Singapura


Pemerintah Singapura melancarkan aturan baru di bidang lalu lintas. Bilamana terjadi tabrakan beruntun, maka pihak yang menabrak dari belakang diwajibkan mengganti kerugian pihak didepannya. Alhasil, kalau sampai ada empat kendaraan saling tabrakan (beruntun), maka kendaraan ke-empat yang paling sial lantaran dia tidak akan mendapatkan ganti rugi sama sekali. Rupanya disana sudah mulai ketularan penyakit mengendarai dengan gaya “bumper to bumper” alias membuntuti kendaraan didepannya dengan jarak terlalu dekat satu sama lain.  Dengan aturan baru ini diharapkan cara mengemudi “mepet dan mengekor” – bisa dikurangi. 

Mungkin kita sering naik kendaraan yang diberi alat monitor kecepatan. Terutama kendaraan perusahaan. Lantas bilamana pak Supir ketahuan ngebut diluar yang ditentukan, misalnya melaju dengan kecepatan 100km/jam selain monitor akan memperdengarkan suara berisik sebagai peringatan, maka kecepatan dan waktu kejadian akan direkam. Sebulan sekali data ini dipresentasikan.  Pengendara yang memiliki sifat kurang sabar akan mendapat peringatan.

Ternyata suatu saat kendaraan kami terpaksa harus mengerem mendadak. Kali ini monitor memperdengarkan suara yang berbeda. Menurut supir kantor, data mengerem mendadakpun akan dicatat sehingga bisa jadi kalau kerapkali dilakukan, masa depan anak dan mungkin cucunya terancam di PHK.