Bakmi Bangka


Sebentar saja Mie Bangka ( Mie+Ayam+tauge) ditemani Bakso dan Pangsit sudah ludes. Rasanya belum nendang. Sekalian menunggu pesan minuman, maka semangkok Bakso kami pesan. Dan berhasil.

Perut yang sudah puasa sejak pukul delapan belas kemarin mulai tenang. Sambil tunggu punya tunggu, sebuah mobil diurapi shampo kemudian masuk kedalam ruang bilas sambil di gosok dengan kemoceng otomatis.

Mobil selesai dengan basah dan bersih, tetapi kerongkongan masih kering. Ternyata minuman belum juga datang.

Akhirnya kedai Bakmi Bangka Super kami tinggalkan setelah sedikit berpesan – mbak kenapa pesanan minuman tidak kunjung tiba.

Tapi sambil larak lirik, memang teman pengudap lain makan juga zonder minum..

 

TKP Jalan Raya Jati Makmur, Pondok Duta

Satu Porsi Mie dan Bakso Lima Belas Ribu Rupiah

 

Advertisements

Bakso BeliBIS


Babang Bakso ini mangkal di Komplek Ambharapura, sebuah komplek perumahan Perwira Tinggi TNI AU,  sehingga Top dengan nama Komplek Kodau. Bahkan jalan raya disana diberi nama jalan raya KODAU.

Tapi jangan kecele kalau tak secuilpun potongan pesawat dipajang disana. Dan jangan sekali-sekali berpikiran  mengubah nama komplek menjadi Bebek OffLine lantaran pesawat motor bebek yang kita temui disana milik babang Ojek.

Di kali Gapura bersayap yang mengindikasikan ada bau-bau “Angkatan Udara” – inilah babang Bakso Tahu mangkal disana. Saya baru tahu ini hari. Gegara tadi mengantar paket. Saya parkir pas didepan si babang. Dan terpesona melihatnya  sibuk sekali melayani pembeli.

Seperti tahu bahwa saya “kemecer” kepingin bakso tahu, oleh Toko Sebelah saya dibelikan semangkuk. Idep-idep upah nganterin beliau ke JNE yak. Seperti biasa, kami termasuk mahzab radikal anti “Saus” berkulit kemerahan. Eh si babang seperti baca pikiran, dia bilang -“Saus saya merek Belibis”  – jadi tidak usah kuatir ampas singkong dicelup wantex – katanya berpromosi.

Sudah sekali bilang Say No to Saus, jadi nggak enak hati mau ubah pikiran. Tetapi itu tidak mengubah cita rasa bakso tahunya yang glek.

 

 

METROMINI JUJUR


Supmetromini.jpg

 

Tiga emak cantik ini kendati usianya sepantaran anak-anakku namun justru menjadi sahabat kami. Kedekatannya seperti RING SATU. Bagi mereka tiada hari tanpa olah raga, keringat belum kering semua,  seperti tidak mengenal diksi letih, mereka akan memacu kendaraan menerobos kemacetan lalu lintas, masuk jalan tikus.

Kadang ada jalan sudetan yang “bagus” tetapi milik militer, pastinya ada penjaganya, pastinya akan ditanya ngalor ngidul akan kemana.

Ternyata kalau menemukan masalah dengan petugas, ada seseorang yang di jadikan tameng, yaitu toko sebelah saya yang memang perawakannya mirip Polwan Senior. Biasanya Alhamdulilah berhasil. Bohong kok pake Alhamdulilah yak.

Soal makan sih mereka ketat menjaga tubuh sehingga menjadi “picky” dan kurang perduli akan rasa- yang penting adalah mengobrol dan tak lupa Selfi. Ini memang gaya emak jaman NOW.

Emak-emak ini seperti memiliki ensiklopedia kedai makanan. Kalau mendengar selentingan ada  TKP bagus punyaK. Zonder perduli makanannya “Yucky” lawan dari Yummy, maka salah satu dari mereka  akan melakukan investigasi, bahasa kininya Fit and Proper Test. Kalau dirasa cocok, maka foto  di BC – dan keluarlah kata sandi “Merapat KitaH” atau kadang diganti menjadi “Jalan Bareng KitaH“. Ciri emak-emak NOW ini gemar menambahkan hurup “H” di akhir kalimat, tetapi sering menyingkat seperti “dimariH”, di TKP,  gegara (gara-gara), maren (Kemarin), mayan (Lumayan), babang untuk “abang”

Salah satu kedai yang lolos test adalah soto Iga kaki lima, yang oleh orang sekitar disebut Soto Metromini lantaran bangkunya memang bekas Angkutan Metromini. Namanya Kaki Lima, sebuah peninggalan Thomas Raffles, untuk menyisakan jalur  khusus pejalan kaki yang lebarnya lima kaki atau 1,5m, dan dengan berjalannya usia menjadi Kaki Lima.

Lantas apa bagusnya Selfie di tenda biru separuh, terpal sepotong dan plastik transparan sisanya buat di Selfi.  Penyebabnya adalah si Babang Sop Iga yang dalam foto lumayan ganteng mirip dari Praka dari Batalion Panser  ini.

Sepuluh tahun lalu mereka makan disana (Bogor), lantaran hujan lebat di kota hujan, sampai rumah baru “nyaho” dompetnya tertinggal. Ketika didatangi, dompet ini masih disimpan rapi oleh si babang Iga.  Ia terkesima “kok masih ada ya orang jujur” – Sama seperti saya, warga dari mayoritas 87% lebih pemeluk, masih terkagum ada SPBU tepuk dada “Ukuran PAS” artinya meterannya tidak di “kenthit”. Bahasa Jawa dicepol sebagian.

Babang Sop Metromini Jujur mengenal sahabat ini sebagai Ibu Dompet Ketinggalan.

fb_img_15091531732261682143291.jpg

 

CANDI


IMG_0235“Kaka .. Candi-nya  sudah di order belum Kaka..”

“Bentar ya.. saya cek dulu garis tengah yang akan di order”

“Baik kaka.. orderan ditunggu kaka”

Kalau anda mau awet muda sebaiknya berbelanja ONLINE, selalu dipanggil kaka, sekalipun terkadang disuruh menjadi transgender, dipanggil  Sista..

Standar prosedur diikuti secara seksama, item A harga satuan X rupiah maka harganya A dikalikan X rupiah, ditambah ongkir.

“Kaka… bayarnya salah!” – piye iki?, kan di Online tidak ada tawar menawar alias “nyang-nyangan” semua harga seperti Slogan negara “Harga Mati”

“Iya kami rugi kalau harga Candi yang gede cuma segitu… Bagaimana kalau kaka transfer kekurangannya .. tidak banyak kok cuma sekitar sekian…”

Akhirnya memang transaksi yang sudah dibayar kami kembalikan.. Ini memang romantika kalau mau jadi KAKA.. Adiknya salah hitung. Adik ketemu gede.

 

IMG_0231 (1).jpg

 

Taman Jajan Babe yang mirip Chrysjon


*** Gerai Pisang Pasir yang banyak dikunjungi penikmat Pisang Goreng **

Tempat saya dengan teman-teman kantor – menghabiskan jam makan siang. Di rusuk kanan ada penjual EsDoger  & Cincau yang menggunakan nama ChrysJon – tetapi pakai “y” bukan “i”

Hidangan yang tersedia berupa Sop Kaki Kambing, Iga Sapi, Soto Betawi, Sate, Nasi Timbel, Pecel Madiun.

Ada pisang pasir yang halalan tayyiban.

***Taman JajanBabe - Jalan TB Simatupang***

Bakmi Ayam (kampung) Acang van Grogol


Hanya pelang kecil menunjukkan jam praktek. Setengah tujuh buka, jam dia siang tutup. hari Senin libur.
Hanya pelang kecil menunjukkan jam praktek. Setengah tujuh buka, jam dia siang tutup. hari Senin libur.

Di minggu pagi yang cerah, seorang istri pernah kehilangan suami tercintanya sehingga jauh-jauh dari bilangan Kelapa Gading ia menilpun mertuanya – maksudnya hendak mengadu perilaku sang suami yang ngeloyor pergi tanpa pesan.

Padahal orang yang dicari sedang makan Bakmi Acang kesukaannya di Grogol.

Semula kedua kakak beradik Acang dan Alok hanya ingin sekedar keluar dari garis kemiskinan. Apalagi dari kecil sudah ditinggal orang tuanya. Rasanya hidup merih mereka lakoni . Tekad mereka berdua sudah bulat. Maklum sudah konotasi Cina Benteng sering diidentikkan Cina Miskin. Merih artinya prihatin. Yang mengatakan ini adalah istri Acang dalam suatu kesempatan bicara ringan.

Dari semula hanya tukang keliling ider bakmi pada era 1969-an, lalu mulai berani mengontrak untuk membuka kedainya. Dalam perjalanan waktu Alok membuka kedai bakmi sendiri dan berkembang meroket sedangkan Acang sekalipun tidak mengembangkan sayapnya secara besar-besaran namun ia sudah membuka cabang di luar Grogol tumpah darah Bakmi Acang.

Semangkuk Bakmi, boleh p0ilih mie keras atau mie lunak tergantu selera.
Semangkuk Bakmi, boleh p0ilih mie keras atau mie lunak tergantu selera.

Semangkuk Mie Ayam (kampung) dengan helai bakmi bergaris tengah lebih jumbo ketimbang bakmi biasa dan cukup “melawan” kala digigit adalah hasil tangan Acang memang sudah dikenal lebih dari tiga dekade. Nampaknya singgasana raja Bakmi Grogol belum ada tanda-tanda akan dilengserkan baik secara terhormat ataupun dijungkir balikkan.

Maklum Acang sangat teliti menjaga mutu bakminya. Tangannya sudah seperti sensor super sensitif. Cukup dengan “ngebejek” campuran tepung terigunya ia sudah tahu apakah bakminya sudah siap hidang atau belum.

Satu hari saja dia menghabiskan “satu Bal” tepung terigu. Saya tidak akan bertanya lebih jauh tentang resepnya sebab mereka akan mengatakan “rahasia perusahaan” – atau cukup dengan kata “dibejek-dirasain”

Kalau belum puas dengan semangkuk bakmi, anda bisa memesan satu mangkuk daging ayam (kampung) yang dihidangkan dengan kuah panas, jangan lupa tambahan sambalnya sekalipun saya sejatinya tidak suka sambal. Kuah panasnya, kalau dicampur bubuk merica, sedikit sambal. Rasanya kalau cuma masuk masuk angin atau pilek bakalan larut bersama keringat yang mengocor di kedai berpendingin udara Grogol.

Hanya seratus meter di belakang Terminal Bis Legendaris GROGOL.

Di papan namanya ditulis bahwa jam dua tutup, sebetulnya belum sampai jam dua siang dagangannya sudah ludes. Itulah kelebihan bakmi Acang yang sekarang sudah memiliki tiga tingkat ruko sehingga tidak perlu harus kontrak disana sini. Acang tidak banyak melakukan inovasi. Paling banter ia suguhkan bakmi buatan sendiri yang kenyal atau yang lembut. Itu saja.

Sekali waktu saya dekati waktu tangannya cekatan merajang daun bawang, “masih bisa potong bawang?,” dia terkekeh. Sukses, kaya, tidak mengubah penampilan maupun sikapnya. Senyum dan senyum. Sekali tempo saya menyaksikannya adu sabar dengan seorang pelanggan. Wanita ini sehari-hari berjualan “susu kacang,” dan kata orang semenjak ditinggal kabur suaminya, ia agak terganggu. Sambil memesan mie mulutnya tak henti berceloteh.

Di tempat lain, ia biasanya diusir pemilik sebab mengganggu kenyamanan pelanggan lain. Tapi melihat cuma kami yang makan disana, intruder ini dibiarkan tak berlalu. Saya hanya lihat setelah semangkuk mie nyaris ludes, enci tua ini enak saya berkomentar “masakan eluh kebanting dengan masakan sono..” – Sudah diberi gratis, masih mencela.

Tidak ada yang bereaksi, sementara saya seperti melihat sebuah tontonan dan tuntunan mengatasi emosi. Ibu Acang berhasil mengatasi dengan baik insiden kecil ini.

Pemilik Bakmi yang kadang sudah mulai lupa menghitung uang
Pemilik Bakmi yang kadang sudah mulai lupa menghitung uang

Kedai ini digawangi oleh sang istri yang sekarang mengaku suka keder kalau menghitung uang. Jangan tersinggung kalau Mak Acang berkali-kali bertanya makan bakmi berapa mangkok, lalu menulis harga dan menjumlahkannya diatas kertas buram dengan bantuan kalkulator.

Setelah “rapih” alias selesai menjumlah, seperti bu Guru memeriksa ulangan anak-anak yang bengal dan slordig tulisan tangannya dicoret-coret sendiri dan lantas memulai menghitung ulang sambil bertanya “makan bakmi berapa mangkuk ya, tambahannya apa?, ada minum susu kacang..” – kendati susu kacang sudah beberapa jam lalu ludes terjual.

Kalau sudah begini anak perempuannya yang kalau diledek “kok mirip- mama” akan menjawab “takut nggak diakui anak oom” atau bahkan para pembeli yang rata-rata langganan lama, ikut membantu membuatkan bon makan mereka sendiri. Ia memang mengaku mudah lupa.

Merasa usia merambat senja, sepasang anaknya diterjunkan membantu bahkan sekarang mereka rela melepas pekerjaan kantornya dan hidup dari berdagang bakmi.

Sukses tidak membuat Acang lengah lalu berlagak bos, main tunjuk sana sini. Ia memang seringkali berkipas-kipas, namun manakala kegerahan berada terlalu lama dekat kompor menyala mulak-mulak (api menjilat tinggi). Buktinya baru sebentar menemani kami, ia sudah cabut lantaran kompor barunya ternyata selain sering bumpet pada saluran gasnya, juga lebih boros gas. Padahal kompor yang lama, bentuk dan selangnya lebih jumbo tetapi irit energi.

Kalau anda kebetulan berada di jalan Nurdin Grogol- Jakarta Barat, dan lupa sarapan pagi bakmi ini boleh untuk diadu dengan bakmi lain. Strukturnya sedikit ulet namun gurih. Apalagi dia juga menyediakan kue-kue kecil, roti Soes, Nagasari, yang konon alasan sang mak Acang untuk “curi-curi ngemil” – maklum anak-anaknya kuatir penyakit bocor madu ibu tercinta bisa makin menjadi apabila tidak diawasi ketat.

mimbarsaputro.wordpress.com

Pesan Nasi Satu Ember


Nasi Seember Saya pesan satu porsi rendang dan satu ember nasi putih. Demikian teman saya yang nama depannya sama dengan nama tengah saya yaitu Bambang saat ia membisikkan pesanannya kepada pelayan di Hotel Hyatt, saat kami mengungsi akibat siklun di Perth.

Apa nggak salah dengar? Biasanya nasi sepiring, nasi semangkuk, nasi sebakul, nasi seceting, nasi setenggok, nasi semejik jer. Namun nasi satu ember ?. Seumur-umur baru kenalan sekarang.

Otomatis seperti seorang koboy terancam keselamatannya tangan saya menggerayangi pinggang tempat senjata saya sengkelit, yaitu kamera untuk menembak buruan berupa nasi satu ember sebelum berjatuhan pesanan lainnya.

Betul saja, tidak lama kemudian datang satu piring rendang beef ala Australia yang rasanya lumayan manis seperti bu Djuminten dari Yogya memasak rendang. Dan yang nggak nahanin nasinya satu ember tembaga (mini). Mau tidak mau saya yang memesan Laksa Australia, menjadi celamitan mencobai rasa nasi yasmin dan rendang bule yang memang nyam-nyam.

Tak heran ada pepatah liar pernah mengatakan bahwa perkawinan ibarat memasuki kedai makan. Sudah manztab memesan rendang ketika pesanan datang melirik gulai kambing dimeja tetangga seperti lebih syur.

Teman saya Bambang Budiarto ini orangnya berkulit putih, senyumnya meneduhkan, teman yang enak diajak mengobrol. Saya memanggilkan reinkarnasi Norodom Sihanouk pasalnya kami pernah makan di resotran Campuchea. Begitu melihat teman saya datang, pelayan yang cantik-cantik dan langsing langsung tregal-tregel melayaninya. Sementara saya sekedar dianggap penasehat spiritualnya atau sekedar bala dupak alias krocuk.

Sejak itu saya panggil anak Nologaten yang kondang dengan Bambang Kasur dan tidak pernah merasakan memantukan anak (lelaki semua) ini sebagai Norodom Budiarto. Keunikan lain, salah satu puteranya dituduh cuma bisa vak “sosial” waktu SMA, kemudian masuk Vaak Mesin, ternyata bisa, ternyata malahan menjadi asisten dosen diuniversitasnya.