SUKA DUKA KIRIM UNDANGAN PERNIKAHAN.


26047380_10213003230288494_8379041926271742527_n

Thok palu dijatuhkan, hari pernikahan diputuskan oleh kedua belah pihak. Jujur sih anak-anak yang memutuskan. Mereka mulai cari TKP resepsi.
 
Kami yang orang tua ada beberapa saat kita bingung, galau dengan perkembangan situasi terkini (nggak usah di elaborate alias dijlentrehkan), namun “show must go on.”
 
Maka yang pertama dilakukan adalah mengumpulkan alamat. Dari buku tilpun, dari Gmail, Kartu Nama, bekas Undangan, semua daya dikumpulkan. Tidak ada kata nanti dulu.
 
Alamat ini kami pindahkan ke spreadsheet, lalu disimpan di DropBox sehingga setiap saat bisa di akses dari Komputer maupun Smartphone. Google Spreadsheet, sungguh ciamik dalam melakukan tugasnya. Aplikasinya “free” dan sangat portabel.
 
Setelah alamat selesai disiapkan, lalu dicetak sebagai label.
 
Kami gunakan Computer Label, dalam hal ini saya mempercayakan kepada tipe RA-01273, label 37mm panjang dan 70mm lebar.
 
Dulu label ini aduhai harganya, tetapi entah mengapa mereka sekarang harganya bisa “harga pertemenan deket..”
 
Jadi database mengambil dari Spreadsheet, dikawinkan dengan Program APLI LABEL. Tidak perlu bingung dengan pernik “mail merge” segala macam. Tinggal pakai.
 
Sekalipun demikian harus dilakukan cross check.
 
Misalnya ada yang berkeras alamatnya di Kunciran Permai, padahal yang betul Kunciran Mas Permai. ATau Komplek Perumahan Antilop, padahal seharusnya Antilop Maju.
 
“Orang lelakiH emang kurang perduli detail..”
 
Dalam hal ini Google Map sangat membantu menelusuri alamat lengkap suatu daerah.
 
Penulisan Label ternyata tidak bisa sepanjang guwe mau. Ada trik untuk sedikit menyingkat seperti Kelurahan, Kecamatan menjadi Kel, Kec. Ini guna menghindari ada aksara yang tidak muat untuk dicetak.
 
Sambil mengumpulkan informasi alamat, jangan dilupakan bahwa Undangan yang dikirim, akan menentukan jumlah piring. Dalam kasus kami, quota undangan adalah misalnya 200, maka disinilah kejujuran diuji.
 
Kita bisa saja “nakalan” tetapi merasa cerdik dengan mengundang 300 undangan apalagi WA sangat ampuh dalam menerobos hambatan geografis. Ditambah dengan desakan membaca mantera sakti “toh tidak semua tamu datang,”
 
Tetapi resiko yang dihadapi adalah kalau terjadi overload, malunya itu sampai kemana-mana.
 
Godaan over invited ini sangat besar.
 
Begitu anda ketemu seseorang, teringat akan undangan, atau bisikan kerabat untung mengundang si A, si B, si C. Family terkadang over enthusiastic – sehingga mereka suka rela menjadi relawan “getok tular” seperti yang biasa di lakukan di desa jaman dulu.
 
Kebiasaan baik yang sekarang terutama diperkotaan bisa menjadi boomerang.
 
EKSPEDISI MANA YANG PALING TERPERCAYA..
Pertanyaan yang tidak mudah dijawab, sebab selalu pakai buntut yang bertolak belakang “Tapi Murah..”
 
Semula kami menggunakan sebut saja JNE, lalu ketika mulai pinter mempercayakan kepada Wahana. Pernah juga dicoba dengan usaha BUMN, namun ongkosnya ternyata tidak murah. Lagian kantor mereka kerap putus nyambung, alias bisa tutup sepanjang mereka mau.
 
Begitu, barang terkirim, saya menggunakan aplikasi untuk mengecek dimana keberadaan kiriman kita. Pernah ada kiriman yang seminggu belumn sampai juga. Atas nasihat – diminta menggunakan alamat non formal, “di depan rumah putih tingkat, dekat bengkel tambal Ban.”
 
Etika menulis undangan juga harap diperhatikan, memang tidak mudah. Beristrikan Erni, kerap membuat saya garuk kepala ketika diundang dengan judul kepada “Mbak Erni”.
 
Saat menempelkan label luangkan waktu sebentar untuk meletakkannya tidak harus presisi, namun jangan pula mencang-mencong. Percaya atau tidak, kadang ini sering bawa-bawa nama sekolah.
 
Kalau lulusan SD kelas 2 misalnya, akan dikomentari pantes tidak becus lha cumaK lulusan SD 2. Tapi kalau lulusan S2, akan dikomentari lulusan S2 kok nempel label kayak orang mau pasang pamplet. Ngasal secara gitu.
 
Jaman kita masih berkirim pakai perangko, kemiringan perangko bisa ditafsirkan mulai dari “I Love You” kalau terbalik pasangnya, atau I like you kalau setengah miring.
Ada kerabat yang menyatakan berhalangan hadir karena satu dan lain hal. Dalam hal ini barulah kita berani mencari “pemeran pengganti”.
 
Undangan adalah perwakilan diri kita. Menempelkan label hendaknya dikerjakan dengan “hati dan passion”, bukan asal-asalan. Juga tidak elok jika kita mengirimkan undangan kosongan tanpa nama.
 
Pernah kami di tilpun oleh ekspedisi, “pak kami tidak menemukan Blok L2.” Setelah dicek, cebul memang hurup I (India) dengan L (lima) kadang kerap membingungkan. Kesalahan ada pada saya.
 
Tilpun lain pak Ibu Muharti tidak ada. Ternyata salah mata saat membaca nama Mujiarti menjadi Muharti.. Maaf ya bu.. Kesalahan jebul ada pada saya.
 
Beberapa tetangga yang masih bisa dijangkau kaki saya datangi secara pribadi. 
 
Tok..tok..Spada..
“Siapa?”
“Saya Mimbar, mau menyampaikan undangan…”
[Nama Mimbar… gampang dikenal] ..sombong..mode.
Beruntung ditangannya ada segebok kunci rumah. Nyatanya saya perlu menyelesaikan satu lagu pakai tiupan trompet, iklan Bukalapak – menunggu beliau menemukan anak kunci yang sudah pas tepat tetapi tidak bisa dibuka gemboknya, lha “gregelan drijine.” Lalu dicoba dengan anak kunci yang salah, ya tetap tidak bisa membuka gembok, lalu memasukkan anak kunci yang setelannya. Dan baru bisa.. Voilla.. kok persis aku ya.. gopohgopoh.
 
Lain tetangga lain reaksinya..
 
Tok-tok.Spada
 
Situ siapa?” sambil matanya menembus bahu celingukan kalau-kalau nih orang tua bawa temannya.
“Anu bu saya tetangga, nama saya singkat Mimbar, rumah dipojok sana, nomor sekian, menyampaikan undangan”- nunduk sambil usap bahu kiri yang sudah disempitkan.
Saya tidak tahu ada rumah disitu..” – katanya lagi. Entah mengapa rumah dua belas tahun lebih disana masih belum dikenali keberadaannya.
 
“Saya suaminya Bu Erni,” masih berharap ada kata kunci yang perlu disebut.
Saya ndak kenal tuh” – katanya lagi.
 
“Ya sudah itu tidak penting, ini ada undangan tolong diterimakan, tugas saya selesai ya bu, Selamat Siang..”
[Nama Mimbar… gampang dikenal] ..sombong..mode. OFF, dia tidak kenal saya, heu heu
Dan tetangga yang tidak kenal tersebut hadir pada malam resepsi.
Bekasi, Jawa Barat  17422 masih dekat Jakarta juga, orang harus selalu waspada.
 
#the wedding
#Satrio Wicaksono dan Raini.
#Gedung Wanita Patra SImprug
#Minggu 171217
Advertisements

RAHASIA SANG DUKUN HUJAN


IMG_0412.jpg

SECRET of DUKUN HUJAN KAMI

Salah satu yang ditakutkan dalam mengadakan perhelatan adalah hujan lebat, air masuk sampai mata kaki, sepatu basah, rusak, perut kembung. Ceritanya bakal diturun temurunkan sampai anak cucu…

Minggu malam 17 Desember 2017, awanpun sudah “ngenthak-enthak” tebalnya. Ini hujan extrim kalau turun bisa seperti dikasih formalin. Tidak terkecuali di Gedung Wanita Patra Simpruk tempat resepsi nikah diselenggarakan.

Mas Dody Julianto sudah mengeluarkan “songsong” untuk mengakomodasi undangan yang mungkin bakal kehujanan. Itupun ia lakukan sedari akad akan dimulai. Jarak antar Gedung dengan lokasi Parkir lumayan jauh.

Naga-naganya seperti lagu “BUKALAPAK”, AKAD berlangsung dalam suasana Payung Teduh.

Alhamdulilah, cuaca kali ini extrim bisa diajak berdamai. Resepsi berlangsung dalam keadaan kering.

Di luar dugaan, saya banyak ditanya “pakai orang pintar” dari mana. Atau “serana” – ritual apa yang dilakukan. Misalnya apakah ada celana dilempar (ini gedung orang), atau ramuan cabe dan bawang ditusuk lidi.

Kami tidak menggunakan jasa tersebut semua terpulang dari kehendak diatas. Terlintaspun tidak saat itu. Namun sayapun amat menghargai warisan nenek moyang, soal kepercayaan ini.

Saya lebih percaya doa para undangan sekalipun singkat “mbok yao jangan ujan yak,” selama dikeluarkan dengan ihlas, ya Insyaallah dijabah Tuhan.

Ketimbang doa panjang 300 lembar dengan kecepatan 3000 kata per menit lantas “tegese opo”.

***

Tapi kok ada cerita yang berbau uka-uka.

Lalu ingat sepuluh tahun lalu . “Desember 2007” – TKP Kapling Pendidikan.

Memang diantara kerabat ada yang kesehariannya dianggap Orang pintar, melalui medium menyampaikan pesan bahwa sang mBauRekso rumah minta Lisong, Kembang Setaman, dan sedikit -ngomongnya sambil berbisik – XXXXX .
Suara televisi berbunyi “tuut.” Sensor.

Alasannya ini rumah masih dingin (baru dihuni), butuh biaya pindah seredhanya agar mahluk halus mau tidur sementara dirumah saudaranya kalau siang. Itu kalau yang dibicarakan “diwongke” alias dianggap wadagnya sama dengan kita.

Permintaan Lisong diganti rokok biasa dan request XXXXX (bunyi tuut) dicoret.

Acara siraman dan serah-serahan berjalan lancar awalnya.

Mendada Mak Pet, Listrik mati saat upacara berjalan di rumah, padahal ya sudah loos stroom. Begitu penerangan darurat seperti petromax dinyalakan – maka Anai-anai keluar semua dari sarang sampai Petromak tersumbat sayap mereka.Sepuluh tahun kemudian, kalau hujanpun daerah kami masih bisa disaksikan laron macam air petasan mercon muncrat saking jumlahnya banyak.

Kok ndelalah, semua peralatan listrik mendadak seperti over voltage, kulkas, AC semua mengeluarkan getaran akibat over heat. Padahal dari segi kekuatan sekedar angkat beban pengeras suara apalagi lampu penerangan Video. Ia tak mampu. Duh..

Biar cerita lebih liar, semua tamu undangan yang bawa mobil, pulangnya harus didorong. Bukan macet melainkan kepater. Jalanan kami belum di semen. Masih tanah merah. Dan hujanpun seperti ikut meramaikan saat itu.

Kami memang akhirnya harus mengganti beberapa peralatan listrik.

Fact not fiction.. Believe of not..Kejadian sepulh tahun lalu, bisa dilewati “Kanthi Aman lan Tentrem..”

Thanks God..

#Kapling PdK 17 Desember 2017
#Gedung Wanita Patra

FOTO TAK BERSAKSI


IMG_0381

Kemarin – saya memilah foto koleksi dari WA, FB Instagram, tentunya hasil potret saudara dan kerabat.  Ini dilakukan  sementara menunggu Official Released dari juru foto Vendor yang biasanya baru klaar dalam hitungan bulan.
Setelah mencari foto kerabat, sayapun mencari foto Saksi mas Yusuf Iskandar.  Kalau ketemu langsung saya forwardkan, sebab beliaupun bisa menjailkan foto menjadi tulisan menarik.  Saksi sering dilupakan. Padahal pernikahan tak bakal terlaksana tanpa saksi, iapun dibeberapa kepercayaan menjadi “GodFather” yang dinikahkan.
Sayangnya mereka biasanya di kejar-kejar saat dibutuhkan, lalu setelah ada kata “SAH” keluar dari bibir mereka, seperti dilupakan.
Ini tidak boleh terjadi. Bahkan dalam technical meeting ditulis foto dengan saksi.
Jebul, entah mengapa – ingatan bisa hilang begitu saja. Padahal, sempat saksi yang lain mas Erwin bersalaman dengan saya. Saya cuma sebatas berhola-halo, namun ternyata isi kepala tidak full  loading. Sehingga saya tidak sempat mengingatkan kepada pihak WO untuk berfoto.
Jadi agak malu juga ketika dapat pesan WA “Baru Ingat Saya Tidak Punya Potret dengan Pengantin..
Hopo tumon…..
Tapi namanya wong Jowo, tetap ada untungnya. Untung Satrio mendadak minta Siraman, jadi kami bisa berkumpul bersama kerabat, fota-foto bersama, potong tumpeng, makan cendol.
Jadi andai Acara Siraman di SKIP dengan alasan tertentu,  nama saksi hanya diingat oleh orang tua pengantin belaka. Dan perlahan pudar.
KILAS BALIK BEBERAPA TAHUN LALU

 

Sekali tempo saya dimintai menjadi saksi sebuah pernikahan kerabat. Seperti biasa, saya menyambut tugas ini dengan penuh antusias. Saya bilang sebagai dukungan, transportasi dan akomodasi di Bandung, biarlah kami tanggung. Idep-idep Libur ke Bandung tetapi kali ini obyek wisatanya adalah menjadi saksi.

Yang diluar dugaan dan sempat bikin mengkeret adalah setelah diberi tahu bahwa saksi pasangan saya kelak adalah Menteri BUMN yang sedang aktip. Namanya tak penting sebab bukan inti inti cerita.

Hari yang telah ditentukan,  dalam acara temu pengantin, kami berhadapan, saya hanya membaca secarik kertas karangan sendiri. Kertas itupun sudah kumal seperti dokumen serifikasi  yang mengikuti emas bodong jaman VOC. setelah mengucapkan salam, ucapan terimakasih kedua pihak tuan rumah, saya memperkenalkan nama saya, menyebut maksud tujuan kemari.

Sayang naskah serah terima yang baku yang biasa disuplai oleh  pengantin baru muncul setelah jaman now, jaman WO.

Pernikahan dan resepsi berlangsung lancar. Pak penghulu nampak sedikit “ripuh” menikahkan seseorang didepan menteri yang lengkap dengan pengawalan. Berkali-kali ia menyebut saksi kepada saya tapi menyebut pak Menteri kepada saksi satunya. Pak Menteri bahkan berkenan memberikan sambutan sekaligus semacam Kotbah Nikah tambahan.

Kelar akad nikah, lalu dilanjutkan makan siang.  Eufora lapar, mencicip makanan lezat, bertemu famili seperti biasa mengiringi sebuah perhelatan. Ditambah ini pesta kebun.

Saya tak memiliki dokumentasi babar blas berupa foto sepotongpun bersama pengantin apalagi bersanding dengan Menteri (Kumis). Dan berjanji ini jangan terjadi pada anak keturunanku…

Lha kok sekarang terulang lagi terhadap saksi saya. Duh..

 

Mendadak Kalasan


Pagi itu kami mendapat undangan menghadiri keramat menikah/pemberkatan di sebuah tempat ibadat di kawasan Bekasi Timur. Udara yang mulai panas sekitar 10 pagi mulai menyengat sebab upacara sudah seharusnya dimulai, pengantin dan rombongan masih di Hotel.
Persiapan dan lain-lain termasuk menenangkan pengantin putri yang sesenggukan akibat teringat almarhum ibunya yang telah meninggal dunia setahun lalu. Konon bapak Pendeta yang memimpin perkawinan – terkenal galak. Namun entah bagaimana, saya tidak melihatnya demikian.
KECELE TINGKAT DEWA.
Sembilan puluh menit – upacara selesai, perut rasanya sudah tingkat dewa – tuntutannya. Kebetulan panitia datang membawa kantong plastik besar. Kami bergembira, paling tidak ada akua pelepas lelah kek buah penghilang haus dan penambah fokus.
Jebule – kami kecele. Panitia melakukan terobosan, jumlah undangan versus Konsumsi mirip David lawan Goliath. Sebuah atraksi perhelatan nan fatal dalam sebuah pernikahan, lantaran urusan perut akan dibawa…mati.. Ini serius.
Menelan ludah sambil menahan lapar, kendati berbasa basi peres “kami datang bukan untuk cari makan tetapi cari saudara”. Sayang perut tidak kompromi mendengar bahasa-bahasi tersebut. Saya pikir cuma kakek yang tak tahu diri.
 Seorang bocah lelaki yang dibawa oleh orang tuanya – nampak gusar kepada orang tuanya.
“Ke Mal Ma!” katanya merajuk. Saya tidak menyalahkan bocah 6-7tahun. Kalau tadinya menyanyi “Baby Shark doodoo doo doo” dengan saya. Kini dia seperti JAWS si Hiu Galak.
Ia pasti sudah tersiksa lapar. Kakek juga.
Kamipun bergegas ke ke tempat parkir sekolah, dan kebetulan si JAWS – berubah menjadi beruang sirkus. Rupanya lega lantaran bebas dari acara menjemukan plus bonus zonder konsumsi setidaknya air kemasan.
Belum terlalu jauh, kami melihat “Ayam Kalasan” dengan atraksi mirip Ayam Hongkong lantaran masakan digantung didinding kaca. Kendaraan saya belokkan. Dan nasi sepertinya nikmaaat sekali. Apalagi dengan gigitan ayam bakar Kalasan. Itu masakan terbaik dengan bumbu masak, lapar apalagi plus gusar. Maka, masakan jejamuran malahan menjadi penyedap rasa.
Lupakan kobokan yang dikorting satu, meja yang tidak ada sendok dan garpu, tisu yang baru diremas ambyar. Lupakan itu semwah..
Tapi selain gusar sayapun khawatir hal yang sama akan menimpa kami, istilahnya akan diuji pada bulan Desember mendatang pada perhelatan yang diselenggarakan keluarga kami.

Kebaya


Pernikahan biasanya yang ideal adalah satu Iman satu Aqidah, itu kata pak Ustad. Namun belum ada jaminan semua berjalan lancar. Sayapun termasuk yang berada diwilayah abu-abu soal yang satu ini. Diperkuat dengan bukti saat kerabat anak kami Lusi sepakat akan menikah dengan Feri, percampuran antara Luci van Gurun Parang Tritis berkolaborasi dengan Ferry dari Gurun Go Bi Pai, sama-sama pergi ke tempat ibadah yang sama entoh tetap saja gesekan yang terjadi. Gesekan pertama hubungan bak tegangan PLN pada jam 18:30 alaias naik turun. Maklum kita masih berpegang bahwa Nabi Adam dan Siti Hawa memang nenek moyang, tetapi dalam perjalanan sejarah manusai selalu ada suku tertentu merasa lebih superior dari suku lainnya kendati sama-sama membenci Nazi yang racist, misalnya. Akibatnya hubungan cinta pasangan manusia ini naik turun dlama kurun waktu sepuluh tahun. Sampai akhirnya berkat kegigihan mereka berdua, pihak orang tua mumpung masih utuh di dunia, sepakat merestui pernikahan dengan catatan “resiko ditanggung sendiri..”

Semula ayahanda Lusi kepingin dan mengidamkan bahwa saat pernikahan anak perempuannya kelak mereka akan mengenakan blangkon, surjan, dan isterinya berkebaya dan sanggul di pelaminan. Apalagi setahun lalu saat menikahkan anak saya Lia dan Seno, mereka menyaksikan kami secara full menggunakan busana Jawa. Ada juga sih yang menolak, misalnya ayah saya sendiri yang masih beranggapan bahwa jas adalah segalanya.

Usulan ini di sampaikan dalam rapat kedua keluarga. Tidak dinyana Ratu dari partai Go Bi Pai, langsung ketus menimpali “aiih hayya nggak mau – seperti baju orang miskin..” – sempat terjadi ketegangan antar kedua pihak. Begitulah yang saya dengar.

Sambil pikir, perasaan kebaya bermula dari pakaian para Putri Go Bi Pai mengapa sekarang konotasinya menjadi baju kere? Dan baju orang kaya adalah gaun mengembung, bahu terbuka, pita dibelakang melambai dengan ujung gaun menyapu tanah sehingga kalau hendak berjalan harus ada asisten yang membantu mengangkatkan baju.

Saat undangan pernikahan datang di kawasan Medan Merdeka Selatan, saya teramat ingin melihat apa yang terjadi setelah pasca pibu busana.

KEPALA PIHAK KELUARGA PRIA DIBOTAKI

Ketika saya memasuki ruang pernikahan, langsung saya mengenali pihak pengantin Pria dari Go Bi Pai. Pertama tentu wajahnya dan kulit yang cerah. Lalu mereka mengenakan jas berwarna hitam-hitam potongan yang biasa dipakai Ho Chiu Minh atau Mao Zte Dong dan yang paling nyata benar adalah semua pria membotaki kepalanya sampai plontos. Lantaran orang kaya saya lihat mereka pantas pantas saja berpakaian demikian.

Tepat jam yang dijanjikan, pembawa acara juga bergaun barat mempersilahkan hadirin berdiri mengikuti pengantin masuk ruang resepsi dibarengi oleh kedua orang tuanya. Dan ayahanda Luci nampak pede saat mengenakan Blangkon dan Surjan diantara gerombolan orang ber jasa barat.  Sementara kedua ibu mempelai seperti yang dikatakan didepan mengenakan gaun rancangan dari rumah mode.

Sambutan ketua panitia tidak kalah unik, kedua tangannya keatas sambil berteriak Syaloom, Syaloom berulang-ulang. Kadang mirip lambaian kepada seorang teman lama dalam jarak 100 tampak menapak di tangga pesawat, sementara kita berada di ruang kedatangan. Atau juga bisa jadi mengadaptasi murid-murid di tanah nun jauh disana saat bangsa purba mengelukan kedatangan guru yang berjanji menyelamatkan mereka.

Jadi orang Indonesia saja sudah sulit, kok kepingin jadi bangsa lain. Ini saya yang mengeluh. Saya baru sadar ketika tangan saya digamit untuk dikeataskan. Namun saya memilih memegang tustel.

Sambutan selesai, disertai sedikit insiden berulang kali pidatoawan salah menyebut nama orang tua pihak Puteri. Dan masuklah acara yang dinantikan yaitu “Toast” dengan mencampurkan pelbagai anggur mahal kedalam satu bejana lalu mereka bersulang.

Tahu saya sedikit bingung dan ndeso, tiba-tiba pelayan datang dengan baki berisikan cairan merah, hitam. Yang ini bukan anggur merah yang sangat memabukkan kuanggap, melainkan soft drink.

Gelas diangkat, didekatkan kemulut lalu “seirupan bae” dan diangkat lagi sampai tiga kali. Saya mendadak bingung sebab diminta tepuk tangan padahal tangan memegang gelas berisi minuman separuh kosong. Namun hadirin mampu melakukannya dengan baik.

Acara bersulang selesai. Mak Duerr tiba-tiba terdengar ledakan dari mercon tarik yang dibawa oleh panitia. Kertas bergambar haripun bertaburan. Hadirin bersorak sorai lagi.

Acara selanjutnya adalah tradisi entah jawa entah gurun gobi. Mereka saling bersalaman sambil menikmati hidangan.

Makanan yang namanya aneh segera saya coba “sup bibir ikan.” -sementara Dim Sum, Lontong Cap Gomeh, Mie Shanghai rasanya okey juga sekalipun dilayani oleh pelayan yang penampilannya sangat bersahaja. Kontras nian dengan “gonjang ganjing” pemilihan baju sang penganten.

Mengurus Pernikahan Anak -unfinished story


En: This article about my panicing to have my daughter wedding. In Indonesia, parents take over all cost of daugher or son wedding.

Bulan September 2002 tak terasa anak sulungku anakku lulus di National University of Singapore jurusan ekonomi. Setamat SLA di kawasan lapangan Banteng, cewek kelahiran 31 Maret 1981 Jakarta bilang mau sekolah ke luar negeri. Padahal dollar sedang membubung tinggi. Tapi dia nekad cari beasiswa, setidaknya pinjaman lunak dari pemerintah Singapura. Untungnya saat kita digempur moneter dan badai politik tak berkesudahan atas kebijakan Mr. Lee Kwan Yew dari Singapura diam-diam, negeri jiran ini memberikan pertolongan berupa beasiswa dengan pinjaman lunak.

Tahun pertama di Singapura para mahasiswa diberikan penginapan berupa asrama dalam komplek kampus. Cerita wisuda disini. Tidak terasa pula pada tanggal 30 Desember 2006, anak ditembung pihak lelaki aku nggak bisa menjawab didepan umum. Blangkemen, gagu. cerita disini

Tidak salah dong kalau kami mulai gedubrakan mencari tempat resepsi. Mulai dari tempat resepsi pernikahan sampai rumah digunakan untuk acara malam “midodareni.”Kami mengubek-ubek seluruh Jakarta memikirkan lokasi yang paling mudah dicapai oleh pihak saya maupun pihak besan kami.

Ternyata mencari lokasi harus dilakukan minimal setahun lebih awal. Pasalnya ada hari-hari tertentu yang prime-time. Kali ini kami beruntung, ada yang mengundurkan diri sehingga pada tanggal 8 Desember 2007 nanti kami bisa mengadakan resepsi pernikahan pada sebuah gedung di kawasan jalan TB Simatupang Jakarta Selatan.Persoalannya, sekali pakai gedung ini maka semua katering hanya yang masuk rekanan diperbolehkan beroperasi di gedung tersebut.

Yang unik. Beberapa orang yang sedianya menjadi panitia karena tiada kerepotan mengawinkan anak. Mendadak mereka harus mengawinkan anak-anaknya jauh lebih cepat daripada perkiraannya. Lalu kami bilang, hitung-hitung ini sebagai katalisator, membuka sumbatan (karena ada yang sudah lama anak gadisnya gagal menikah) selama ini.

Usaha pertama adalah menginventarisir nama yang akan diundang. Disini repotnya, selama ini mengenal seseorang dengan nama pendek seperti Mas Son padahal apalah namanya Soemarsono ata Sumarsono atau Sonnie, selama ini tidak tahu. Waduh. Belum lagi alamatnya sekarang dimana. Waduh lagi. Masakya kirim alamat Kepada Yth: Mas Son suaminya mbak Liz yang di Semarang itu Lho. Pasti pak pos kebingungan tujuh keliling.

Mencetak Undangan. Selama ini kami tergolong orang yang menganut paham menjadi pemain, sutradara, scripter sehingga pembuatan undanganpun dibuat sendiri. Ternyata tidak mudah, sekalipun nama sudah dibuatkan dalam bentuk digital para juru set sering gatal tangannya untuk mengubah nama yang menurut mereka tidak sesuai. Atau karena mereka sudah mengantuk menghadapi pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Persoalan menjadi ribet saat anak yang berada di luar negeri minta bagian undangan untuk diberikan kepada temannya disana. Akibatnya harus dibuatkan undangan dalam dua bahasa yaitu Inggris dan bahasa Indonesia. Semua bergantung kepada ketelitian setter dan kejelian mata kami.

Lalu mulai diputuskan akan menggunakan tradisi Jawa. Berarti harus mempersiapkan segala ubo rampenya. Juli 2007 kami ke Yogya, mampir di Tjokrosuharo membeli beberapa barang yang diperlukan.

Panitia dirancang sekecil mungkin. Banyak orang menawarkan jasa ingin menjadi panitia, namun dalam reputasi sehari-hari mereka lelet dalam bekerja sekalipun jago dalam berbicara. Maaf yang beginian terpaksa tidak dapat diakomodasi dalam tim kami. Mulai mendapat tekanan dari beberapa pihak yang semula acuh tak acuh mereka mulai ikut campur. Maksudnya sih baik, tetapi kalau semua orang harus di undang betapa merepotkannya.

Tetapi ada pengalaman bahwa mengundang saudara dari daerah berarti mempersiapkan akomodasi termasuk antar jemput dan (jalan-jalan ) ke Jakarta. Belum lagi yang mau datang kalau dikasih kebaya lengkap…lho..lho..lho. Apa dipikir uang saya nggak punya seri alias nyetak sendiri. Hal inilah yang sering tidak disadari.

Namun ada juga yang langsung bertanya, apa perlu bantuan keuangan. Waduh terharu juga. Sekalipun saat ini belum bisa menerimanya. Orang ini memang tajir sekalipun masih muda. Hatinya emas, akmi tahu itu namun mulutnya arogan. Kalau berbicara selalu keluar kata sakti “goblok, salah itu, nggak bener itu, nggak punya otak, kampungan,” akibatnya para sesepuh yang berada didekatnya sering “sakit telinga” berhadapan dengan anak muda yang kalau bicara selalu tidak mau kalah, dan merasa paling hebat sendiri.

Ada teman yang bersikeras akan datang sekalipun tak diundang hehehe ini lucu juga.

  1. Katering sudah dipersiapkan. Awal Nopember 2007, kami mendatangi salah satu pengusaha katering di kawasan Jatiwaringin. Kali ini kebagian marketing officer mbak Santi yang banyak membantu kami menentukan nuansa (ungu), kombinasi makanan. Nasihatnya, jangan menyuguhkan makanan serupa, misalnya ada tiga macam soup, atau tiga macam es krim. Seseorang akan cenderung mengambil semuanya. Celakanya kadang hanya mencoba satu icip, lalu dibuang dan ambil makanan yang lain. Terimakasih mbak, kami tidak ngeh soal trik dan trip beginian sehingga seratus persen pasrah bongkokan kepada mereka.
  2. Pemaes penganten, pakai Bu Tris.
  3. Juru Foto. Akan diadakan pre-wedding foto sebelum acara resmi digelar. Jurufoto sudah diuji coba pada saat ulang tahun pernikahan emas (50tahun) pada September 2007. Kami puas dengan hasilnya dan profesionalismenya. Pelajaran lain, jangan coba-coba menduplikasi DVD karena hasilnya tidak akan sebaik para profesional. Lagian masih ada urusannya dengan hak cipta mereka.
  4. Acara perkawinan
  5. Acara midodareni
  6. Uborampe (pernik) yang harus dipersiapkan dalam acara
  7. Komunikasi dengan pihak besan
  8. Keamanan, ibu Rahel istrinya Letkol Marpaung bersedia mengirimkan sebagian anggota untuk keamanan.
  9. Menyediakan HP untuk kelancaran operasi mungkin pakai Esia yang selama ini okey-okey saja.
  10. Dr. Yatiman dari Purworejo sudah dimintai kesediaan untuk memberikan sepotong sambutan.
  11. Teman-teman Lia dari Singapura katanya berkenan hadir lantaran mereka mendengar bahwa perkawinan adat Jawa biasanya unik dan agung dalam berpakaian. Waduh lagi… apa perlu acara tarian dan gamelan?

Picture from http://www.clipartguide.com/_small/0060-0608-0917-2947.jpg

Tanggal 27 Oktober 2007
Cigandung, Bandung.
Bertemu lagi dengan calon besan (Pria) bapak Susilo dan ibu Tatik.

  1. Pada saat midodareni di kawasan Tanjung Barat, mereka – pihak besan- pria akan melakukan acara midodareni, langkahan. Bahkan sudah menyiapkan panggung, bokor, gentong untuk upacara siraman kelak.
  2. Pihak pria menyediakan sendiri pemaes
  3. Pihak pria akan menyediakan sendiri tempat penginapan.
  4. Keseragaman tusuk kedua ibu pengantin.
  5. Pemberian cicncin akan dilakukan dimana?

4 Nopember 2007. Kumpul di rumah Pendidikan 73 Bekasi. Leo dan Anna membicarakan round down acara. Sempat ada pertanyaan mengapa saudara dari pak Mimbar tidak muncul dalam kepanitiaan. Repot rek menjawabnya.

5 Nopember 2007, terpaksa pertemuan dengan calon Besan dari Bandung ini hari saya tidak bisa ikut lantaran sudah harus terbang ke Perth dengan Garuda 730.