Rampogan


satrio_rampogan_des2008.jpg

Barang-barang kebutuhan sehari-hari yang diakrabi oleh ibu-ibu rumah tangga ini, kami kumpulkan sedikit demi sedikit. Tidak sedikit diantaranya hasil berburu barang obralan di Luar Negeri seperti Singapura, Australia misalnya. Perkara ujung-ujungnya tertulis buatan Cina, seperti produksi alat rumah tangga yang membanjir di tanah air, ya mau bilang apa kenyataannya demikian. Pikulannya kami peroleh berupa “lungsuran” – seken dari keluarga besan di Bandung.

Beberapa bagian terutama kayu dasarnya sudah mulai lapuk sehingga perlu di “dempul” dan overhaull disana sini. Maklum diwariskan beberapa generasi dan biasanya setelah dipakai, ia di onggrokkan – tergolek, begitu saja di sudut gudang.

Rampogan atau rayahan sendiri saya tidak tahu bagai mana duduk perkaranya sampai muncul tradisi mirip demikian. Dalam acara sekatenan Jawa yang diperebutkan biasanya tumpukan berisi hasil bumi seperti padi, tebu, jeruk. Barang tersebut disimpan oleh petani didalam lumbungnya sebagai harapan mendapatkan panen dan ternak yang berlimpah ditahun mendatang. Sementara makna simbolik acara rampogan adalah membagikan kebutuhan dapur agar para lajang yang mendapatkannya segera omah-omah alias membangun rumah tangga sendiri.

satrio_rampogan_des20081.jpg
Lalu mengapa barang-barang tersebut dibungkus plastik? Adalah hasil masukan dari ibu Haryono yang mengatakan bahwa tangannya pernah “kebeler” tergores barang tajam saat merebut rampogan yang umumnya terbuat dari seng atau aluminium.

Saya mengenal acara rampogan ketika entah mengapa mendapat undangan perkawinan puterinya mas Yapto seorang tokoh FKPPI di Taman Mini Indonesia Indah. Upacara Jawa yang begitu agung tiba-tiba bisa sedikit kacau balau ketika kerabat pengantin puteri, biasanya adiknya, dengan gaya kocak masuk ke arena sambil membawa pikulan berisi alat-alat rumah tangga. Lalu ia berkeliling arena sambil menawarkan barang-barang tersebut.

Mula-mula hadirin terkesima menanggapinya sebagai salah satu tarian. Baru ketika seorang hadirin mencomot barang tersebut seperti dikomandoi barang tersebut menjadi jarahan. Seperti disedot kekuatan dahsyat tiba tiba saja saya sudah ditengah arena. Bahkan sempat rebutan dengan seseorang yang belakangan saya ketahui Menteri Kesejahteraan Rakyat.

Sebuah penggorengan dari aluminium saya dapatkan. Lalu saya mundur sambil mengucapkan niat agar puteri saya yang masih SMA saat itu bisa mendapatkan jodoh yang baik, dan bisa mengadakan perhelatan ala mas Yapto atau paling tidak “edisi bajakan“. Untuk mengukuhkannya saat pulang saya sempat bersalaman dengan tokoh yang kepalan tangannya disegani.

Ketika Satrio mendapat tugas mengangkat pikulan saat resepsi di gedung saya baru saja memberikan instruksi kepada anak saya ini.

Diluar skenario, barang-barang sudah di jarah hanya beberapa detik ketika Satrio belum sepenuhnya masuk arena gedung. Rupanya barang-barang tersebut sudah diintip kelompok ring satu dan dua kami. Saya (paling kanan) sampai harus memegang lengan kanan bungsu saya ini lantaran keadaan sudah tidak terkendali. Akhirnya saya malahan ikutan memberikan komando “rebuut” sehingga kurang dari enam puluh detik, barang sudah ludes dan juru foto kelabakan mengabadikan peristiwa tersebut. Sayang teriakan saya didengar mertua saya sehingga ia berlarian dengan wajah pucat kuatir ada yang berkelahi dan biasanya pakai teriakan untuk menjatuhkan mental lawan (maksudnya).

Pengunjung yang datang terlambat sebab acara dimulai jam 18:45 bahkan yang duduk manis-manis didalam ruangan tidak menyadari ada upacara yang sedang berlangsung.Mohon maaf tidak semua hadirin kebagian tentunya. Ternyata banyak pengunjung mengambil tidak hanya satu sehingga terkesan kurang memerdulikan kebutuhan pihak lain. Atau rampogan adalah pengejawantahan sifat manusia kita yang suka memiliki barang atau apa saja lebih dari satu?

Belakangan saya harus menyampaikan rasa hormat kepada keluarga DwiHartanto sebab ketika anak puterinya Pricilia ikutan merampog lebih dari satu barang, sang ayah lantas menegurnya “kamu hanya perlu satu, yang lain bukan hakmu dan kembalikan..” – kalau saja seisi gedung berperilaku seperti pak DwiHartanto, saya yakin moral bangsa ini bisa dibina menumbuhkan kejujuran dan rasa perduli sesama.

Ada lagi satu acara terlewatkan oleh hadirin yaitu pelemparan bunga. Akibatnya bocah gendut Gilang Perdana, 14tahun, sekarang merengek kepada orang tuanya minta dinikahkan kepada siapa saja, sebab ia sudah mendapatkan lemparan bunga dari mbak Lia puteri saya yang menikah.

Advertisements

Kopi Eva Riwayatmu Kini


Dalam perjalanan melalui darat dari Jakarta, menanjak di Bedono, Ambarawa kami menyempatkan diri beristirahat di sebuah tempat persinggahan legendaris, Kopi Eva. Pada masa Narayana (muda)1970-an, sebelum memarkirkan Honda S90Z, saya harus tepuk paha 3x untuk meyakinkan bahwa isi dompet masih bisa bertahan sebulan menunggu kiriman wesel orang tua selanjutnya.
Begitu “jleg” rem tangan diangkat, segera saya menuju peturasan yang langsung diikuti oleh seorang petugas berbaju putih. Rupanya begitu WC dipakai, mereka langsung menyiramnya mengingat kebiasaan sementara kita sekalipun air berlimpah ruah, tangan tinggal memencet tombolpun sering rasanya menyerahkan urusan “sentor-menyentor” kepada orang lain. 

 

Masih terlalu sore untuk makan malam sehingga saya tidak mencoba Gudeg Manggar yang sering dibicarakan penulis kuliner. Gudeg “manggar” tidak dibuat dari buah nangka melainkan bunga pohon kelapa.

Kopi segera kami pesan dan tidak lama kemudian sudah terhidang kopi, ditambah “trasikan” makanan kecil berupa godogan tahu kulit yang kemepul (berkepul).

Rasanya memang pas betul, diudara dingin perbukitan Ambarawa, lalu disuguhi “TahuZilla” – sebab ukurannya bisa sepuluh kali lipat tahu yang dijajakan pengasong di tengah jalur HighWay kita dikala macet.

Rasa tahunya empuk dan gurih sehingga tidak perlu curiga akan campuran Formalinnya.

Kalau tahunya enak, apalagi kopinya, begitu saya berpromosi sambil menyeruput cairan hitam panas. Saya lirik anggota lainnya pada mengernyitkan kening pertanda sesuatu yang kurang beres sedang terjadi.

Lalu saya menaikkan kapasitas “kecerdasan lidah” dan yang terbayang adalah loncatan waktu di kereta api Senja Utama. Tepatnya saya tidak bisa membedakan apakah kopi ini saya pesan di restoran Kereta Api, atau penyeberangan Ferry Merak Bakahuni. Lantas kemana, rasa Kopi yang katanya super-duper lezat. Atau karena saya sudah mengalami distorsi Starbuck, Kopi Lampung, Kopi Aceh, Medan?

Sambil bertanya-tanya apa yang salah, saya menuju barang kerajinan yang dipamerkan disini. Sebuah patung seperti penggambaran dalam fiksi Da-Vinci dipajang disana, lalu wayang golek, peralatan minatur semacam kendang, bahkan replikasi “balung buto” – alias fosil gajah purba dijual disini dengan harga tidak terlalu murah, kadang bercampur dengan Es, maksudnya selain rupiah juga dinyatakan dengan dollar.

Saat akan membayar, di balik Kasir duduk seorang senior, jalannya terbungkuk didera usia. Kata petugas dia adalah pak Cip, sang Founder Kopi Eva. Di depannya terbentang buku “ledger” yang besar dengan angka yang rumit. Seorang petugas membacakan nota penjualan yang berwarna putih, nampaknya sangat tebal, sementara pak Cip (70-an) dengan tekun menuliskan deretan angka dari kiri ke kanan. Tangannya sedikit bergetar lantaran usia, namun yang luar biasa senior ini tidak menggunakan kacamata untuk membaca.

Jadi kepikiran, otak kalau teratur diperas, membuat seseorang menjadi lebih jernih ingatannya. Atau ini akibat sampingan mengonsumsi sirup kopi Eva.