Bandeng SINCIA


Sebetulnya ini hari dua kali bolak balik ke Supermarket Superindo.
Pertama terlalu pagi sehingga barang yang dicari belum tiba. Eh tetiban nyampe di rumah sudah ditilpun oleh mereka. Katanya “Barang yang dicari sudah datang.”

Mau tidak mau musti mancal ke kendaraan lagi.
Untung jarak cuma sekitar sepuluh menit.

Kalau kloter pertama, tugas saya parkir, lalu saya cuma bedira bediri menggeret trolley maka pada Kloter kedua saya dapat tugas mirip, bonus duduk manis, mengamati ikan baru datang yang baru yang di betheti.

Kalau sudah diSIANGi ikan akan digoreng, dibungkus, lalu diambil untuk makan Siang.

Rak gampang to… Jal?

Kesempatan itu saya gunakan melihat bandeng Jumbo.

“Ikan khusus Imlek. Lihat ada yang sebesar betis Gilang Host Indosiar. Mereka dipelihara di laut bertahun hanya khusus dijual menjelang Hari Besar Cina. Sincia – Dulu kita mencarinya di Rawa Belong, ” kata teman sebelah.

Tradisi Tiongkok sejak jaman Jaman Kumpeni dulu, menjelang Imlek, Bandeng Jumbo menjadi ritual anteran. Biasanya Mantu anter Bandeng ke Mertua.

Kalo anak mantu bawain bandeng gede sampe “nggengeser” itu buntutnya (ikan) ditane(h) waktu ditengteng. Buset dah sontak mantu jadi sohor.

Kok kebetulan, TKP Superindo ini dikelilingi jalan kecil dengan nama “Betawi” seperti Jalan Mandor Jahip, Jalan Jampang Ngeles, Jalan Haji Gemin, Haji Mugeni.

Sementara saya mengagumi kilau perak sisik kan, mata bandeng yang merah delima, “cakep dah bakalan dipoto.”

Lagi ngeker-ngeker pakai HP, Eladala.. babang ikan bikin jantung kaget sebab dia punya pertanyaan tapi ditelinga saya mirip BEM UI keluarkan kartu kuning.

“a. ikan digoreng kering”

atau

“b. ikan digoreng setengah kering”

atau

“c. saya tidak tahu, phone a friend” ..

Apalagi sih kepinteranku. Paling banter ya pilih nomor c. alias phone a friend.

“Ya setengah kering” tukasnya. Nanti dirumah akan diproses lagi. Dimangut kek, secara gitu lho.

Lha jebul ora gampang to.. Jal, piye!

#bandeng
#bandeng jumbo
#imlek
#superindo
#sincia
#jl Mandor Jahip
#jl Jampang Ngeles

27788015_10213342912300332_1147253023033935753_o

Advertisements

Melihat Suhu Tan di TV One


Sincia-sincia begini apa salahnya keluar rumah. Kebetulan sedang berada di Grogol lokasi yang dekat dengan tanah tumpah darah segala kegiatan berbau etnis Tionghoa.

Menyusuri jalan Gajah Mada maksud hati menuju Petak Sembilan. Namun setelah mencoba menembus jalan tikus macam jalan Toko Tiga, Tanah Sareal,  pendeknya kawasan Pecinan kami sadari bahwa usaha ini akan sia-sia lantaran kawasan padat rumah dengan mobil parkir disana sini. Kami tahu bahwa pesta Imlek baru usai sehari sebelumnya. Namun lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Akhirnya memang betul, tidak ada pemandangan yang kami lihat kecuali kesibukan terutama warga keturunan saling bersanjo (palembang – berkunjung) antar kerabat.

Daripada bingung, kami masuk ke bakmi GM yang hari itu tetap berjualan. Menurut kabar yang kami dengan, barang siapa berjualan di hari Sincia, dia harus berdagang lima hari berikutnya. GM lantas memberikan hadiah “angpao GM.” Sebuah kalender meja menjadi milik kami.

Lepas makan bakmi. Kamipun beranjak pulang menembus jalan Tambora muncul di Duri.

Sesampai di Grogol  baru saja pantat ditaruh dikursi adik Ipar berteriak histeris “Suhu Tan di TV one” – saya langsung menghambur ke ruang TV sambil mencatat siapa tahu ada nomor yang bisa dipakai untuk menghubungi Suhu. Nama Suhu Tan seperti tidak asing bagi keluarga kami, pertama sesama warga Wikimu, kedua beliau pernah meringankan langkah mendatangi pernikahan anak saya Lia setahun lalu.

Sayang, sampai  akhir acara tidak diadakan tanya jawab. Kesimpulannya, tahun Kerbau API sebaiknya kita bermain di saham tidak keras. Jangan spekulatif.

Sementara Kerbau Api akan menghasilkan mineral. Perlambang dunia pertambangan termasuk minyak akan cerah memasuki bulan April.

Siapa Suhu Tan ini? – sejatinya pengurus agama Budha ini bernama Budiono. Namun saat diminta oleh pengurus jurnalisme warga untuk mengisi kolom Wikimu, seorang teman, Guswai, mengusulkan “pakai saja nama Suhu Tan, biar lebih meyakinkan..” – dan nama penggemar cerita silat Gak ini kemudian berkibar. Sekarang Suhu Tan mengisi acara fengshui pada harian Kontan setiap hari Jumat. Disamping kesibukannya sehari-hari mengurus umat dan mengawal pelancong ke China.

Yang paling menyenangkan dari semua prediksi Suhu adalah dunia pertambangan bakal membaik. Yihuui.

Ikan Sapu-sapu yang jago lari


Cuma pegawai rendahan di dasar kolam
Cuma pegawai rendahan di dasar kolam

Apa sih gunanya memelihara ikan sapu-sapu kecuali dimanfaatkan menjadi tukang bersih-bersih akuarium para penggemar ikan hias seperti milik teman saya ini.

Ikan sapu-sapu tergolong binatang tahan hidup dalam suasana apapun juga. Kolam, got, kalen yang sudah tercemar limbah pabrik, bukan merupakan halangan bagi mereka untuk beranak pinak. Padahal ikan “tahan banting” lainnya seperti mujair sudah lama klepek-klepek semaput.

Di perairan Ciliwung saya lihat bapak-bapak dan anak-anak pada menjaring ikan dengan kulit sekasar salak, kalau makan nungging (kata bahasa ikan lho).  Setelah kulit di klotoki, daging putihnya dicincang menjadi Somay dan Bakso ikan yang lezat yang ngider keliling kampung pakai sepeda dengan kotak kayu dibelakangnya. Kita percaya saja lantaran di kotak papan penjual tertera “Tengiri.” -Yang dikuatirkan, karena dia tahan cuaca tahan limbah, maka dagingnya meneruskan limbah berat ke darah kita.

Salah satu karakter ikan ini biasanya pemalas. Jatahnya makan lumut, tapi kalau sudah mencobai rasa pelet, ibarat pemakan sayuran pindah ke protenian, dan lumut kita semakin subur menggelora lantaran “predator” nya sudah tidak menaruh selera.

Si hitam sedang PDKT dengan si merah
Si hitam sedang PDKT dengan si merah

Teman saya pelihara arwana ada yang sudah seukuran Bandeng Imlek  buat pesta saudara kita ber tahun baru sebentar lagi. Tahu-tahu pagi-pagi kedapatan “dut” lantaran terjun bebas ke lantai marmer. Besoknya dia beli lagi.

Tapi saya tidak terkagum dengan Arwananya yang kalau lagi melotot dan memerahkan sisiknya kok mirip Raja Rahwana, ketimbang dewa rejeki.

Yang saya amati adalah atraksi sapu-sapu yang bisa seperti “interniran Jepang mabuk gadung” – mereka bisa berlarian kian kemari berjam-jam mengelilingi akuarium dengan stamina setara serdadu  Yunani bernama Pheidippides pada 490SM yang mencetuskan lari marathon.

Sayang ketika foto diambil dalam satu kesempatan maka  pak Sarengat atawa Gurnam Singh dari dunia ikan ini sedang malas berlari. Rupa-rupanya dia sedang berusaha PDKT dengan ikan sejenis yang warnanya lebih cerah. Mungkin kalau istilah dunia kita memperbaiki keturunan.

Jangan-jangan atraksi berlari dan terus berlalri mengejar sang Putri adalah kebiasaan ikan ini yang baru saya ketahui.

Artikel #903 Boleh Marah Menjelang Imlek


Perasaan hari masih terlalu muda di Singapore untuk sebuah aktivitas kegiatan bernama marah-marah. Sekitar jam 06:00 kami mendengar suara pintu diseberang sana digedor (tapi pak RT tidak nongol).

Seorang ibu sudah melewat setengah baya dengan suara keras menagih janji kepada tetangga kami yang sedikitpun tidak berusaha keluar dari kamarnya. Belum cukup dengan cara yang rada “urakan” pelepas uang ini menempelkan kertas berbentuk pita kuning beraksara hurup pisau kepintu tetangga sekitar.

Kalau saja ada adegan tersebut dalam filem hantu Hongkong, saya kuatirkan begitu ditempeli kertas bermantra sakti, pintu akan segera melakukan lancang depan lalu berjalan dengan cara melompat-lompat bak mayat hidup yang menor berpupur tebal.

Tulisan mandarin kira-kira berbunyi “wahai para tetangga, temanmu ini belum bayar hutang..” – celakanya dalam komunitas mereka masih dikenal pula kalau ada orang berhutang maka tetangga sekitar bakalan dilibas sial. Efek yang diharapkan agar para tetangga membujuk sang pengutang agar melunasi tunggakannya. Tentu kita bakalan bertanya, waktu akad kredit dilakukan secara gerilya dan suka sama suka, mengapa giliran ada “getah nangka” pihak ketiga dilibatkan. Seperti waktu dapat minyak dan gas banyak, diam-diam saja, giliran perut bumi meleduk, semua orang diminta membantu. Herannya lagi, pengemplang hutang yang merat bertemperasan sembunyi ke negeri Singa ini malahan membawa kemakmuran Singapura.

Berhubung di apartemen tidak ada yang namanya Hansip, Keamanan, mungkin untuk menghemat biaya iuran bulanan, biaya seragam hansip, ongkos reparasi sepeda dan baterey hansip, iuran lebaran dan sejenisnya maka reaksi penghuni adalah mengintip melalui jeruji besi pintu rumah yang terkunci. Paling anjing peliharaan penghuni apartemen yang menyalak sebagai reaksi atas kegaduhan tersebut.

Setengah jam berlalu, “mak-loncer” asal kata (loan, pinjam), pun berlalu tanpa drama berarti meninggalkan kami yang kebingungan mengapa dihari baik menjelang Imlek justru muncul kegaduhan.Rupanya inilah caranya sebagian besar masyarakat Singapore melakukan ritual menjelang tahun baru Imlek. Prinsipnya, semua pekerjaan yang belum selesai harus dirampungkan malam itu juga menjelang pukul nol nol teng. Tidak heran banyak orang masih lembur di kantor, pabrik sampai menjelang tahun baru tiba.

Para perajin industri rumah tangga mengangguk-angguk menahan kantuk asalkan pekerjaan hari ini tak tertunda. Konon Para dewa langit, bumi dan dunia arwah gentayangan tidak suka melihat manusia menunda pekerjaan padahal tahun sudah berganti.

Begitu tahun baru tiba, mereka juga merayakan secara tidak tanggung-tanggung. Piyama, celana dalampun harus baru termasuk memompa semangat dan harapan baru.