Gabus Pucung


Sejatinya belakangan ini saya sedikit kehilangan selera menulis kuliner, sebab sudah terlalu luber dilakukan hampir setiap media, Televisi dan bisa diduga isinya pasti Enak, Huenak sekali.

Sekali tempo kami lewat di jalan Benda, kel JatiLuhur, Kecamatan JatiMekar Bekasi.

Warung ini cukup besar dan sederhana. Menunya memang menu rumahan BETAWI Udik.

Misalnya ada lalapan Terong Bunder, Mentimun. Lalu pepes ikan, sambal goreng udang. Dan ini dia, saya melihat menu ikan Gabus Pucung – atau masakan mirip Rawon tetapi dagingnya diganti oleh ikan Gabus.

Agak heran juga masih bisa diketemukan ikan Liar yang cukup besar, dilihat dari potongan dagingnya.

Rasanya boleh saya bilang “average” – tapi kalau bisa saya order tanpa garam berlebihan, mungkin lidah saya tidak tersengat rasanya. Saya sudah kesulitan menikmati bilamana masakan terlalu asin.

 

“Aku kasih tahu makanan ibu-ibu pada ngumpul ya, kalau habis pada pulang
ngumpul.”

Kalau ibu-ibu berarti lebih seorang kalau dikatakan pada ngumpul – dengan
satu occasion yang beragam tiap hari. Misalnya

“Habis senam kita istirahat di warung A”
“Habis senam kita anterin ibu Rahel ke warung A”
“Habis senam, bu Reggie suaminya baru dating dari Vietnam minta anterin beli
makanan kesukiaannya di Warung A”

Dari tiga kalimat, para ibu-ibu lingkungan Kelurahan JatiAsih, Jati Luhur,
Jati jati lainnya tinggal pasang bongkar kalimat hurup A diganti B,C,D dan
seterusnya. Predikatnya boleh diganti “Ulang Tahun”, selamatan, dan
seterusnya. Dengan kata lain habis senam kuterus jajan. Tapi mereka berteman
sudah lebih dari 6 tahun, kok ya belum terdengar ada yang “Jothakan” –
apalagi jenggut-jenggutan rambut. Mungkin merasa bukan DP dan JP kali ya..

Ini sekedar background check ikutan gaya filem NCIS.

Ada jurus lain, bilamana kalimat pertama mulai diucapkan – HarMal (artinya
Haram Boleh – Halal Boleh) hukumnya saya memperlihatkan wajah “jreng” –
musti install wajah “biasa-biasa” saja. Kalau saya antusias “bisa-bisa
gagal.”

Setelah mengenalnya 35tahun, rupanya membuka “isi perut” dalam bentuk
tulisan masih dianggapnya pekerjaan sia-sia baginya- “Cuma gitu aja kok
ditulis, orang lain lebih hebat saja tidak pernah cerita, apa nanti bukan
cuma diejek oleh pihak yang lebih dahsyat cara makannya, lebih elit, lebih
banyak duitnya. Belum lagi nanti ada yang tersinggung karena komentar
mengenai kepercayaannya.”

WARUNG TEGAL TEKNOLOGI LAYAR SENTUH

Singkat Kata SIngkat Cerita, kuberkenalan dengan warung yang Cuma satu
sebrangan jalan tol Jatiasih. Masih sepi, maklum jam 11 siang. Piring berisi
lalapan berupa Timun, Terung ukuran bola bekel, lalu lalapan daun-daun
lainnya sudah siap saja. Makanan yang dipresentasikan mirip warung Tegal
dengan Layar Sentuh- maksudnya makanan dikurung dalam kotak kaca jadi kita
harus menyentuh dinding kaca agar penjual maklum yang kita butuhkan.

“Ikan Gabusnya – Kepala-Leher-Ekor?”

Saya membayangkan kereta peluru Jepang, lalu kepala kereta membuka gigi
merenges, jaman kecil dulu kalau menangkap ikan gabus bonusnya ada mata
pancing tertinggal. Kadang lebih dari satu..

Akhirnya pilihan jatuh ke Badan ikan gabus, yang diluar dugaan saya Ikan
Gemuk. Terus terang saya kagum, disaat rawa mulai mengecil, sungai mulai
dangkal, entoch Jakarta masih bisa melayani pesanan ikan predator yang sulit
dipelihara karena makanannya harus benda hidup dan bergerak.

Semangkuk Gabus saya coba. Sedikit “Theng” lantaran saya memang sedari dulu
kurang menyukai masakan yang golongan “Beraniin Garem”

Cuma waktu gilran bayar, kasirnya lelaki, pakai kalkulator yang displaynya
guide. Apa yang kita ucap, tanpa pakai tulis, langsung dimasukkan kebarisan
hurup. Pucung, Pepes,Pepes Telur Ikan, Botok Leunca, Sambal GorengUdang,
Sambal Goreng Tempe, dua es jeruk.

Penjual ceklak..ceklik.. berkalkulator dan sederetan angka terpajang IDR
Tiga Puluh Enam Ribu Rupiah. Merasa ada kesalahan maka kasir diminta
mengulang lagi tak “jreng” harganya tetap.

Yang sudah-sudah ditempat lain sepotong Gabus Pucung saya dikenai paling
tidak 20-25 ribu rupiah – ini cerita lima tahun lalu di di kampung Jalan
Kampung Sawah, tempatnya musti mendaki, gubuknya reyot. Terus Es Jeruk
dihargai berapa, terus masakan lainnya. Kalau secuil kertas lalau makanan
yang telah dikonsumsi dicatat dengan harganya, bisa dilakukan double check
agar pedagang tidak dirugikan. Kami seringkali mendapat pelayanan, harga
terlalu murah.

Tapi ya sudah mereka keukeuh bahwa yang ditulis adalah Benar dan Tiada
Keraguan didalamnya. Saya eh kami pamit, dengan sedikit komentar “harga
rendah apa karena saya sedikit mengernyitkan kening keasinan? ”

Jalan Benda 49
Kelurahaan JatiLuhur- Bekasi
Mimbar Saputro

Advertisements

Dapur Betawi


Dapur Betawi masakan Batavia minus Gabus Pucung
Dapur Betawi masakan Batavia minus Gabus Pucung

Lokasinya di Jalan Raya Jati Asih.  Cukup strategi sebab ada Mini Mart dan ATM dalam komplek tersebut.

Dapur Betawi dalam artian harfiah menurut para ahli mengenai Betawi adalah dapur yang langsung connect dengan teras di belakang rumah. Akibatnya banyak orang Betawi kongko-kongko justru di dapur, bukan di ruang tamu.

Menjelang hari H-3 kami mulai kesepian dan kerepotan lantaran ditinggal para asisten selama bersama kami. Rasanya pas juga berbuka puasa sambil mencobai “mudik” di kedai-kedai yang selama ini cuma dilewati saja.

Diiringi lagu TapianUli (?) yang cukup keras menyetelnya maka mengalirlah menu berupa Gurami Goreng, Tahu Sapo, Cah Kangkung, Sambal Gowang (serba mentah).

Waktu menunjukkan mendekati pukul 19:00 – lalu saya pesan Es Kelapa muda, ternyata sudah tandas dipesan pengunjung lain. Terakhir saya minta tambahan es teh tawar, itupun diberi jawaban “maaf pak Es batu sudah habis..

Jadi kalau anda kepingin mencoba masakan di Dapur Betawi yang mirip masakan sunda ketimbang Betawi ini, jangan terlalu malam. Bisa bisa sudah kehabisan.

Dan satu lagi, jangan pesan Nasi Goreng, terlalu biasa-biasa saja masakannya (salahnya saya sering coba sana sini).

Nomor tilpun dapur betawi di Jalan Raya JatiaAsih
Nomor tilpun dapur betawi di Jalan Raya JatiaAsih

Saat keluar saya amati seorang bapak kurus berpeci dengan memelas menjajakan buku dan peralatan ibadah. Mulai menginjakkan kaki ke Kedai ini sampai hampoir keluar tidak satupun pengunjung mendekatinya sebab buku jenis yang biasa dijajakan di Bus-bus AKAP. Menjilidnyapun kadang terbolak dan terbalik. Saya pernah beli buku berjudul atraktip, Harry Mukti menjadi Dai, begitu saya buka isinya dua lembar adalah klipping soal Harry Mukti yang kita sudah sering dengar. Sisanya copy dan paste ceramah entah dari mana tidak jelas.

Alhasil saya lebih berminat melihatnya termenung, kadang menyeruput kopi tubruk, temannya berbuka. Bisa dibayangkan betapa ia harus menceritakan kepada keluarga yang menyambutnya di rumah “dagangan sepi, mana ada orang mau baca buku agama…”

Sebuah tasbih yang katanya “anu iye lima rebu rupiah” – kira-kira begitu dalam bahasa Sunda, langsung saya ambil satu, sementara lembaran hijau yang baru saya ambil dari ATM sebelah saya berikan sembari mengatakan, “sisanya bapak ambil ya..”

Hidup diatas usia 55tahun, saya masih melihat kerabat, sohib saya lebih pandai memberikan sumbang berupa “komentar dan saran” – namun kalau urusan lebih fisik, ada saja dalih untuk ngeles.

Bahkan beberapa tahun lalu saya pernah memberikan dana kedalam kotak amal (besek bambu) dalam sebuah upacara besar Idhul Fitri. Langsung uang saya disambar oleh “seseorang” disamping saya, dan ditukar uang pecahan yang lebih kecil lagi. Orang ini dimana-mana saja menyampaikan dakwah walau satu ayat, tetapi soal pergaulan kesamping, nilainya buruk sekali.

Dalih-dalil “ria” atau sombong, “mengajari mereka tambah malas”dan sebagainya deras mengalir sehingga ujung-ujungnya, supaya jangan riya, mending tidak bersedekah sama sekali.

Jadi ingat tayangan PPT-2 (Para Pencari Tuhan jilid 2) – digambarkan juragan Kosasih yang kaya raya selalu saja berdalih “di musyawarahkan” – setiap kali ada permintaan sumbangan. Kendati sumbangan untuk wuwungan sekolah yang tinggal menghitung jam untuk roboh.

Mudah-mudahan “maafkan kalau terkesan sok” – setelah perut kenyang, pikiran untuk berbagi dengan sesama lebih mudah terbuka.

Buah Atep


Es Buah Atep dan Peuyeum Bandung
Es Buah Atep dan Peuyeum Bandung

Bulan Ramadhan tahun ini (1Sep 2008) suasana kota Jakarta dan Bekasi memang panas luar biasa.  Tenggorokan serasa dijalari cairan empedu.

Tak heran ketika sinetron religi kesayangan saya PPT Jilid 2, alias Para Pencari Tuhan yang ditayangkan salah satu stasiun swasta SCTV mulai mengucapkan Selamat Berbuka Puasa maka saya langsung menyerbu sebuah makanan yang dihari non Ramadhan adalah biasa-biasa saja.

Tetapi inilah berkah Ramadhan. 

Sekarang saya bisa lebih “ngeces” melihat sebuah mangkuk berisikan buah atep yang hijau, peuyeum Bandung bak tembaga. Luar biasa warna hijau dan tembaga keemasan seperti saling isi mengisi.

Ditambah lagi sup santan kelapa berwarna putih diaduk dengan sirup manis kemerahan sehingga ketika bercampur dalam mangkuk warna-warna memberikan suatu hasil campuran baru “merah jambu” – rasanya seakan ingin kutelan sekaligus dengan mangkuknya.

Apalagi ada potongan es batu yang bak berlian terapung bergesekan dengan porselin sambil mengeluarkan nada poliponik menggoda telinga saya seperti kalau baru baru mendengarkan suara HP yang baru dibeli.

Rupanya karena takut saya “kenapa-kenapa” kalau beli makanan di warung maka praktis dari pembuatan sirup, santan bahkan menyiapkan buah atep menjadi satu proses yang njelimet, namun membahagiakan.

Saya ingat buah atep dibeli sekitar 4hari lalu, di sebuah pasar tradisional jam 23:00 – saat yang belanja bisa dihitung dengan jari.

Sebelumnya di bagasi kendaraan sudah ia taruh baskom plastik. Sambil menaruh bungkusan plastik basah berisikan buah atep kedalam baskom “agar tak membasahi lantai mobil

Lalu sesampai dirumah, buah atep direndam semalaman sambil basuhan kerap di buang. Ada semalaman saya mencium bau masam macam saguer (tuak, minahasa) kadaluarsa. Ada dua malam buah atep diproses supaya tiodak masam, tidak berlendir dan mengeluarkan aroma aselinya.

Pada hari-hari biasa buah atep hanya tiarap pada kisaran selembar harga jalan tol dalam kota Jakarta.

Tetapi memasuki ramadhan daging yang menyerupai “lontar mini” langsung bertengger di angka dua kali karcis tol, bahkan kelas super sampai tiga kalinya.

Setiap melihat buah kecil menggemaskan ini saya ingat pernah membuat saya dan mbak Win sepupu saya telanjang bulat di Magelang (masa kecil) lantaran menyentuh buah muda yang bergetah dan gatal luar biasa. Belum lagi sekujur tubuh kami di borehi oleh bubuk “blauw” – sejenis benda berwarna biru biasanya untuk memutihkan pakaian putih.

Selesai satu proses, buah atap didinginkan, air dibuang, lalu direbus lagi, entah ramuan apa yang dimasukkan “orang dapur” yang saya tahu daun suji dan pandan “biar ijoknya keluar.”

Saat lebaran tiba, biasanya manisan buah atap kami selalu laris manis, sekalipun urusan prosesnya njelimet seperti urusan kucuran cek perjalanan di DPR, namun kami puas karya kami (eh orang dapur) dihargai.

Tambahan: Gambar di bawah ini adalah buah atep sumber WIkipedia alias kolang kaling alias buah enau yang masih mentah. Mungkin saja asal kata Kolang Kaling alias berlendir basah sehingga mudah mrucut alias lolos dari genggaman lalu tercipta kata Kong Kalikong. Di sebuah acara Kisi-kist TV Elshinta saya melihat presenter mendatangi sentra buah atep, buah enau, aren atau KolangKaling di desa Ujung Tebu – Kecamatan Ciomas.

Buah atep dari WIkipediaMula-mula buah kolang-kaling yang masih hijau dilepaskan dari tangkainya. Lalu direbus dalam tong-tong besar selama sembilan puluh menit. Masih hangat, biji kolang kaling dikeluarkan dari kulitnya. Kadang satu buah berisi tiga kolang kaling yang berwarna transparan.

Selesai di kupas, biji di pukuli sampai gepeng, lalu direndam di bak khusus selama 15 hari sebelum dilempar ke pasaran. Menurut Rudi, salah satu pengusaha Kolang Kaling, sebulan mereka bisa menjual 1500 kaleng minyak tanah. Harga kolang kaling kualitas baik seharga 85000 per kaleng sedangkan kualitas rendah dilepas dengan harga 30000 per kaleng.

Hukuman Pancung di Batavia


Saya menonton TV mengenai perdebatan apakah hukuman mati bagi Amrozi dkk dalam kasus Bom Bali sebaiknya di hukum tembak dengan tiga peluru tajam merobek jantung atau dihukum Qisas (pancung) seperti yang diinginkan oleh Team Pembela Amrozi.   Alasan tim pembela “apa jaminannya sang terpidana “thek sek” langsung sekalipun 3 peluru menembus jantungnya.

Di lain pihak, kelompok dari Bali sudah geram sekali melihat permainan mulur mungkret soal pelaksanaan eksekusi ini. “Membunuh ratusan orang yang tidak tahu apa-apa soal politik seperti menghabisi nyawa ayam kurus berpenyakit Flu Burung, sekarang teriak bilang melanggar kemanusiaan.” Belum lagi perdebatan dari kalangan pihak berwajib. Ada yang bilang sebelum puasa, ada yang membantah, “masak puasa kok membunuh..” 

Pemerintah perlu mengganti proses hukuman tembak menjadi hukuman pancung dalam proses eksekusi agar tidak menimbulkan rasa sakit yang terlalu lama bagi seorang terpidana mati.”  Pendapat tersebut disampaikan Presiden Perjuangan Hukum dan Politik (PHP),HMK.Aldian Pinem,SH, MH di Medan, Selasa. Menurut dia, hukuman pancung sangat efektif dalam menghilangkan nyawa seseorang tanpa menimbulkan rasa sakit yang berkepanjangan. Dalam prosesi pemancungan tersebut, fungsi syaraf dan jantung langsung terhenti karena organ tubuh yang terpisah.
Singkat kata, menurut tim pembela, hukum pancung lebih tidak lancung, tebas, terpercaya tanpa keraguan sedikitpun didalamnya.

Mungkin kita sering melihat di flem-filem Jepang, pedang Samurai yang dimainkan oleh pendekar pedang macam Mushashi, Zato Ichi begitu bereaksi lawan langsung “terkulai” lehernya. Atau dikomik Ganes TH, sampai pendekar kita menyarungkan pedangnya sang musuh masih berdiri dan tidak sadar kepala sudah talak dengan badannya. Di alam nyata, saya baru baca dari buku berjudul Sang Penjegal pendiri dinasti Kerajaan Saudi Arabia (King Abdul Aziz) yang mampu menetak lawannya sampai dikatakan satu kali ayunan badan terbelah, dada menganga memperlihatkan jantung yang masih berdetak.

Keruan saja pihak yang anti penggal akan mengatakan bahwa Hukum Pancung tak dikenal di Indonesia.

Tapi eit nanti dulu….

Tercatat ada dua pedang dulu berlumuran darah sekarang bermandikan karatan tergantung di lantai dua Museum Sejarah DKI alias Fatahilah. Pedang ini panjangnya 1,20m dulu dipakai untuk menebas batang leher sang pesakitan menjadi saksi sejarah repotnya hukuman pancung di negeri ini.

Menjelang upacara pancung dilaksanakana ditandai dengan pemukulan kentongan biasanya mrupakan undangan bagi rakyat untuk berbondong-bondong menyaksikan eksekusi spektakuler. Persis kampanye Saiful Jamil mantan suami Dewi Persik kepingin jadi Caleg.

Konyolnya menurut Dr. F de Haan dalam buku Oud Batavia, pelaksanaan hukum tebas persis bendo kethul dipakai untuk menebang batang pisang tanduk. Sekali bacok, belum tentu batang pisang putus apalagi leher manusia. Mana lebih sadis melihat leher di gorok, di “otot-otot” untuk meyakinkan korbannya “duut”.

Jadi sekalipun ditebas belum tentu lebih ampuh ketimbang di tembak lho..

Tapi itulah para pakar pembela malahan lebih suka hukum pancung disebarkan dimuka publik seperti jaman Wolanda, “jadi tidak perlu ditutup-tutupi..

Soto Jakarta Pak Jenggot – bumbunya sama dengan jumlah propinsi Indonesia


Soto Jakarta A.K.A Soto Jenggot
Soto Jakarta A.K.A Soto Jenggot

Tiga puluh tahun lalu Soto Betawi alias Jakarta ini bercokol di kawasan Jalan Muwardi Raya – Grogol.

Nama pendirinya,  Haji Halim kurang dikenal tetapi lebih populer dengan sebutan pak Jenggot. Uniknya mampu bertahan lebih dari tiga dasawarsa soto legendaris ini tetap ramai dikunjungi orang, terutama pada saat jam makan siang.  Padahal pesaing lain banyak bermunculan disana sini.

Mengenai resep sotonya sampai bertahan sekian lama, pak Jenggot yang kini sudah menyerahkan kendali perusahaan kepada anaknya enteng mengatakan bahwa ia mencampur 27bumbu kedalam sotonya sebagai perlambang 27 Propinsi di Indonesia termasuk Timor Timur waktu itu.

Suasana saat makan siang
Suasana saat makan siang

Namun setelah Timor Timur merdeka dan Indonesia mekar menjadi 33 propinsi, tidak disebutkan apakah Soto Jakarta eh Soto Jenggot ini mengubah racikannya.  Misalnya racikan 33 propinsi termasuk artis yang berlomba-lomba ingin mengatur negeri bak skedul shooting. Rapat sambil berdugem ria di kafe-kafe.

Tetapi dari padatnya pengunjung yang memilih Kuah bersantan diberi emping lalu irisan babat, atau ayam terserah pilihan anda, maka kalau anda berkesempatan ke Grogol tidak ada salahnya mencoba Soto kebanggaan warga Jalan Muwardi dan sekitarnya.

Flona – Lapangan Banteng 2008


Bang Sugi salah satu peserta lomba Kerak Telor 2008
Bang Sugi salah satu peserta lomba Kerak Telor 2008

Salah satu daya tarik Flona 2008 yaang diselenggarakan di Lapangan Banteng Jakarta adalah bau harum, gurih parutan kelapa kering bercampur aroma telor dadar dan ketan bakar yang sangit aduhai ternyata lebih mendominasi arena.

Semula saya pikir datang ke pameran bunga saya akan menghirup bau bunga semerbak. Sayangnya aku kurang piknik, bunga semerbak sudah bukan dagangan yang menarik. Ternyata selain pameran bunga dan hewan peliharaan, para penjual kerak telor ikut mengadakan lomba masak kerak telor terheboh.

Pedagang kerak telor betawi
Pedagang kerak telor betawiPengunjung Pameran Mencicipi Kerak Telor

Gegeran Kantor Post Yogyakarta


14 Juni 1903

Ini hari ada gegeran di diseantero kantor pos Yogyakarta.

Tuan Residen Couperus dengan wajah merah padam memanggil Kepala Kantor Pos Yogya menghadap dikantornya. Sementara yang dipanggil hanya bisa tertunduk pucat sambil kakinya bergeletar karena takutnya. Mungkin inilah cikal bakal mengapa pegawai selalu kuatir dan bertanya-tanya jika tiba-tiba dipanggil oleh “sep” kantornya. Apalagi boss pakai bahasa Inggris dengan ditekuk “Come to my office Now!” – seperti ada “api”  di bola matanya. Herannya bawahan berprestasi malahan jarang dipanggil sebab dianggap itu adalah suatu kelumrahan sebagai pegawai.

Sebuah surat aangeteekend yang harus di tekeend (ditandatangani si penerima sebagai bukti terima), yang dikirimkan oleh Pemerintah Belanda di Batavia, ternyata tidak sampai ke sialamat yaitu Tuan Couperus, sang Residen Yogyakarta.

Celakanya, ada bukti otentik yang menjelaskan bahwa surat tersebut sudah berpindah tangan alias dipalsukan seseorang yang mengatas namakan dirinya sebagai Residen Yogya. Maka koranpun menulis ” Ada yang tidak berlaku seperti sabenarnya disini siapa lagi kalau bukan Jawatan Post.”

Sebetulnya sudah lama kinerja rendah Dinas Pos dapat sorotan masyarakat sebab banyak kiriman-kiriman yang hilang diduga orang dalam Kantor Pos. Hanya seperti biasa pengaduan demi pengaduan hanya dibuat untuk mempertebal tumpukan arsip tanpa pernah ada tindakan pengusutan.

Kali ini tikus di kantor pos terkena batunya. Sebab yang “opyak” adalah orang pangkatan. Pasalnya kiriman dari kantor Gubernemen Batavia ke Residen Yogyakarta juga ikut ditilep. Apalagi dalam kiriman berharga tersebut ada emas didalamnya.

Kepala pos mengaku salah karena tidak teliti mengecek tanda tangan dan bukti diri sang pengambil barang. Sebagai tindak lanjutnya ia melaporkan kejadian ini kepada polisi Gondomanan.

Setelah menulis “proces-Verbaal” sigra semua orang mulai dari Asisten Residen, Wedana, Schout atawa Detektip dan puluhan opas polisi mendatangi kantor pos di Gondomanan. Akhirnya dalam waktu sigra politie berhasil meringkus biang kerok yang ternyata karyawan magang di kantor pos tersebut.

Keberhasilan polisi diulas dengan pertanyaan nyinyir dari wartawan courant Bintang Betawi “sekarang orang menanya, jikalau (nanti) ada orang ketjil hilang ia poenya barang, apakah opas polisi nanti soeka menoenjoekkan keradjinan seperti mengusut aangetekeend sang Residen.”

Courant nyinyir ini punya alasan mengulas sedikit sengkring (sindiran tajam) sebab pejabat jaman dulu seringkali menggunakan tenaga opas untuk urusan remeh temeh.

Pasalnya…..Beberapa bulan lalu di Betawi, seorang anggota dewan rakyat atau edeler menerima hadiah menco alias burung Beo dari seorang Residen dari Luar Jawa. Suatu hari menco yang elok bernyanyi ini lepas dari kurungannya sehingga opas polisi dipanggil untuk membawa beo kombali selamat. Karena yang meminta adalah petinggi yang berpengaruh. Maka zonder diprenta kadua kali, sigra itu para opas dari pangkat rendah sampai tinggi disibukkan mengejar burung “sampai lari keluar masuk itoe kampoeng.

Perburuan diteruskan sampai kedaerah terpencil seperti alas Jelambar dan kampung Duri. Orang kampungpun dikerahkan sebagai tim buru sergap untuk mengejar burung yang akhirnya ditangkap oleh seorang kepala distrik bernama Daeran. Burung sialan ini rupanya masuk ke masjid Luar Batang.

Entah lantaran nasib lagi “HO-JI-UN” alias mujur. Atau memang sudah dateng masanya maka kepada Daeran mendapat kenaikan pangkat menjadi Jaksa Roll. Suatu jabatan yang sudah lama diidam-idamkannya.

Rupanya nasib manusia bisa berada di tangan seekor Menco (beo).