867 – Hidup Berdampingan dengan Beras dan Pemutih Pakaian


Gara-gara tulisan beras sim salabim van Indramayu, maka terjawab rasa penasaran beberapa teman yang mengalami pembusukan pada nasi tanakan Magic Jar. Mereka menuduh mesin tersebut bikin gara-gara sehingga terpaksa merogoh kocek mempolygami Magic Jar kedua. Sementara yang lama pasrah dizolimi majikannya. Sekarang mereka menyesal telah berbuat sewenang-wenang dan kembali ke jalan yang benar yaitu back to old magic jar. Sementara penanak nasi listrik yang baru masuk kotak buat serep.

Selama ini beras kualitet premium dinilai dari butiran yang licin berkilat . Lalu kalau ditanak dari Magic Jar mengepul aroma wangi seperti Pandan, kita pasrah bongkokanhaqul yaqin itulah aroma aseli yang ditimbulkan oleh beras. Ketika percaya pada karung yang berlabel Beras RojoLele, Beras Pandan Wangi, Ramos dsb.

Ternyata kepercayaan kita diselewengkan. Sejak tahun 1980-an para pedagang saling berselingkuh dan diam-diam menaruh racun agar kita mati perlahan.

Beras mutu rendah tu(run) mu(tu) yang umumnya rusak dari gudang Bulog, kutuan, dan berbau apak kini disosoh, dijemur sambil ditambahkan bahan kimia klorin agar permukaan butek pada beras bisa menjadi kinclong lalu naik kasta. Baru dioplos dengan beras kelas premium. Untuk beras kelas satu, seperempat bagian adalah beras asli sisanya adalah permakan pabrik Indramayu. Sementara beras papan bawah seperempat asli sisanya oplosan. Soal memunculkan aroma wangi sih kecil, bisa dikecroti parfum pandan.

Konon beras permakan kalau disantap cepat menimbulkan rasa kenyang sehingga kita keburu turun pujian, sebagai beras yang sip untuk program diet kita.

Bisa jadi saat anda makan lalu tersedak, maka bau yang anda rasakan dari hidung adalah rasa kaporit, bukannya rasa nasi yang kita kenal beberapa waktu berselang.

Jadi kalau nasi di rumah tiba-tiba berubah kuning, berkerak, berair dan berbau apak, jangan buru-buru ganti magic jar anda, apalagi diramal sebagai isyarat ghaib bahwa keluarga anda akan ada yang sakit. Juga jangan langsung menuding Bibik tidak becus cuci beras..

Setelah tahu dan ayam berformalin, kini muncul beras berklorin.

Tapi para komandan beras kita ketiban sampur masih anteng Cuma dibesar-besarkan, cuma orang yang nggak ngerti saja yang bekoar. Cuma belum ada yang mati akibat beras berbahan dasar pemutih. Dan selaksa cuma lainnya.

Nampaknya masih butuh seminar dan perjalanan panjang untuk menghakimi beras From Indramayu With Oplosan untuk sementara sebut saja Fenomena.

Lalu seorang rekan yang memang pekerjaannya mengisik-isik alias mengelus lubang sumur minyak dan gas milik Pertamina di kawasan Mundu, Karang Ampel, Indramayu. Kalau “turun ” ke Batavia, disempatkan membeli beras Indramayu yang baru panenan. Alasannya tengok padiku berjurai-jurai, warnanya kuning tandanya masak.

Tapi alih-alih melihat tulisan beras Indramayu, yang ia lihat adalah karung plastik bertuliskan Beras Delanggu. Sejak kapan Delanggu yang sampai ini masih dalam pelukan Ibu Klaten, Jawa Tengah, sudah bergabung dalam kesatuan utuh Indramayu, Jawa Barat. Alasan pemasok beras sontoloyo di sana, kalau mau masuk Jakarta, beras Delanggu yang dicari…

Kecuali beras Taj Mahal barangkali yang mereka tidak niatan menyulapnya.

Para pemburu beras “tumu”– nampaknya memang ubet dalam menggali dan mengupas lebih dalam lagi bahan kebutuhan beras sulapannya. Mula-mula sasaran mereka adalah beras asal-asalan keluaran gudang Bulog atawa dikenal Raskin dan beras stok lama.

Karena permintaan bertambah maka mereka melirik beras Sapon ini sekedar istilah beras tercecer dalam gudang, lalu disapu bersih dan dikumpulkan. Beras bocoran karung, beras operasi pasar, Beras Stok Lama dari Pasar Induk dan beras dari gudang Logistik PNS/TNI/POLRI .

Beras tersebut dikumpulkan oleh para pengepul yang setelah berjumlah ton-tonan dijual kepada penampungnya. Penampung inilah yang akan menjual beras kepada para juragan penggilingan padi yang sekarang merangkap keahlian dengan memutihkan beras dan mengoplosnya.

Menurut majalah Tempo, di Jakarta sentra sulapan ini banyak ditemui di kawasan Karang Tengah, dan Bekasi. Sementara di Karawang adalah sepanjang jalan Syekh Kuro, lalu Kandanghaur sepanjang jalan Karang Sinom-Gabus Wetan, Indramayu. Dari lini Pamanukan datang serangan sepanjang jalan Pamanukan-Subang, lalu Widasari – masih dari team Indramayu.

Setelah digiling dan dipoles (termasuk di oplos), beras kasta baru ini dijual kembali ke Pasar Induk Indramayu, Pasar Induk Cipinang, Pasar Induk Johor, Karawang, Pasar Induk Bekasi, bahkan tidak jarang (Astaga) beras tadi balik bakul ke Dolog untuk disimpan sebagai stok. Opo ora elok?

Dari pasar itu, beras didistribusikan ke pasar Tradisional DKI, Jawa Barat, sejumlah toko dan konsumen.

Kocap Carito (singkat padat). Pesan para ahli beras. “Wahai para konsumen beras. Bilamana tidak ada keraguan sedikitpun akan kandungan kotak Cosmos anda sudah tercemar silapan, maka sebaik-baiknya beras adalah beras yang dikocori air lebih lama, agar terhindar dari godaan pemutih. Dengan demikian kita akan terbebas sebagai orang yang merugi.”

Mimbar Bambang Saputro

Advertisements

Menghidupkan kembali beras Dwiwarna


Bisa jadi asal muasal nenek moyang kita memilih bendera warna merah putih, berasal dari padi purba yang sekali waktu pernah menjadi produk unggulan bangsa ini. Ini beras ajaib, beras biasa umumnya hanya putih, namun beras yang bibitnya ditemukan direruntuhan candi Sleman ini bisa menghasilkan beras separuh merah, separuh putih persis dengan bendera kita.

Pada Ahad 13 Agustus 2006 lalu, di alun-alun utara, Yogya, Aji penemu padi purba itu membagikan bibit padi dwiwarna kepada 12 petani, mewakili 12 wilayah Indonesia. Tidak banyak, setiap orang mendapat tujuh bulir.

Kisah penemuan padi RI-1 demikian mereka menamakannya, bermula ketika penduduk menemukan bulir gabah purba. Padi yang berjumlah 160 bulir ini diberikan kepada Ajikusumo, sarjana Filsafat UGM. Lalu Aji mengajak temannya bersama temannya Hartanto ahli budidaya pangan Universitas Muhamadiyah, menyortir bulir tersebut. Bagaimana tidak deg-degan, usia padi ini sudah sangat tua, konon berasal dari abad ke 7.

Alhamdulilah 120 butir nampaknya bisa dihidupkan kembali. Satu kelompok disemaikan di atas kapas yang diberi hormon perumbuhan, sedangkan kelompok kedua di dibungkus gabah padi Rojolele.

Debaran keduanya makin keras ketika 88 butir berkecambah. Namun kegembiraan hampir pupus lantaran satu persatu kecambah tadi mati. Untung tujuh bibit berhasil bertahan sampai panen. Tiga bibit dari semaian sekam, empat yang dibiarkan bugil diatas kapas.

Sementara seperti biasanya para ahli berdebat asal padi, sebab biasanya mereka menemukan kacang hijau, gabah dan jagung yang sudah kisut. Sementara padi dwiwarna masih gabah masih segar padahal terkubur berabad-abad. Jelas dengan daya tahan yang “die hard” – ini beras yang ampuh kualitetnya. Apalagi gempa Eyang Merapi pernah mengamuk sejadi-jadinya di kerajaan Mataram, termasuk mengubur candi dengan cairan silika amat panas. Kok nggak ngaruh?.

Aji hanya enteng berteori. Bisa jadi wadah batu yang dibuat bersekat tersebut kedap udara. Jadi padi bak terawetkan secara alam.

Mengenai lempengan emas bermantra? jangan kaget, pasti sudah dijarah para penemunya.

Tapi yang baku, Padi RI-1 mestinya pernah berjaya di Yogya, terbukti digunakan untuk ubo rampe sesembahan. Rujukan umur juga sederhana. Candi di Sleman yang tertua dibangun pada abad ke 7, sementara Prambanan abad ke 9. Jadi beras dwiwarna berasal dari 12-14 abad lalu ketika Kerajaan Mataram sedang mencorong.

Lantas bagaimana padi Yogya ini bisa ditemukan di bawah Candi?

Sebelum candi didirikan, warga diminta mengumpulkan ubo-rampe berupa pipilan jagung dan sorgum, biji kopi, kacang hijau. Dan dari sawah dipilihkan padi kelas satu yaitu beras MerahPutih. Selain itu tentunya logam lempeng emas yang nantinya akan ditulisi mantra-mantra, sementara tulang belulang ternak dibakar. Ubo rampe ini disebut pripih.

Pripih pertama dimasukkan kotak batu bersekat untuk ditanam dibawah bangunan utama. Pripih kedua terbuat dari gerabah seperti untuk mengubur ari-ari. Gerabah ini akan ditanam di sudut utara, selatan, barat dan timur. Pendeta biasanya meramal mantera ditengah lokasi yang akan dibuat candi lalu menanamkan batu pertama yang berisi pripih. Untuk menentukan arah barat dan timur, maka sebuah tonggak ditancapkan ditengah arena, dan arah barat serta timur ditentukan dari bayang-bayang tonggak saat matahari terbit dan tenggelam. Dari keempat mata angin ini ditarik segi empat, dan batu penanda ditanam. Lalu pembangunan Candi dimulai.

Jadi kalau anda membangun rumah lantas pak tukang minta ijin membuat sesajen, jangan buru-buru dilaknat, siapa tahu padi yang anda bungkus dikemudian hari menjadi temuan anak cucu kelak. Kadang nenek moyang kita melakukan sesuatu “ritual” atau kebiasaan yang belum kita mengerti maksudnya.


9/13/2006
Mimbar Bb. SAPUTRO
Text Msg: +62811806549

Sementara pemerintah sibuk merancang untuk mengimpor beras, lalu disambar oleh politikus lain yang lebih pintar-pintar berdebat. Sambil menunggu Batari Sri membangunkan anak buahnya bernama padi YOGYA Kembali alias padi Dwiwarna alias RI-1 bisa dijual dipasaran maka negeri nun jauh disana, kondang dengan satu milyar penduduk, di wilayah India Selatan, Banglore, sudah beribu tahun orang mengembangkan beras khusus penderita diabetes dan bagus untuk anti keropos tulang.

  • BERAS PONNI. Orang menamakannya beras Herbal Ponni dari veritas mani chamba yang dikenal memiliki karbohidrat 70% lebih rendah dari beras normal, dimasak lebih irit karena satu takar beras harus ditanak dengan 3 takar air lantaran daya memuainya tinggi. Pangkajian lain mengatakan bahwa lantaran beras ini cuma hidup ditanah berkapur, maka tidak heran kadar kalsiumnya lebih tinggi sehingga memperkaya kadar kalsium tulang dan mengulur waktu keropos tulang. Orang memang agak melupakan beras Mani Chamba ini karena dianggap kurang praktis. Pertama adalah umur siap panen cukup mulur yaitu sekitar 7 bulan, sudah itu masih harus disimpan di lumbung selama 2 tahun agar khasiatnya lebih joss. Mungkin ini yang membuat orang beralih ke beras yang lebih singkat usia, pulen. Namun bagi penderita kencing-madu tapi masih “baru kenyang kalau makan nasi” dan yang kuatir akan keropos tulang, biar tetap bisa main badminton bersama Imelda, maka pilihan beras Mani Chamba boleh dicoba. Indonesia menurunkan beras sama dengan kelas Taj Mahal dan mahal itu dengan kode IR-36, memiliki indek glikemik (glukosa) rendah, cuma mental ini harus diatur bahwa bagaimanapun beras ini beras “herbal” sehingga soal rasa harus di nomor duakan.
  • BERAS EMAS. Kaya akan Vitamin A. Sejatinya tidak ada dibuku manapun nasi mengandung Vit A sehingga ini merupakan rekayasa genetika.
  • BERAS WANGI. Orang berlomba-lomba meningkatkan kadar aromatiknya sehingga merangsang selera makan.
  • BERAS “MEDAN” kata orang pasar. Beras ini paling gres diperkenalkan di Indonesia, sangat kaya akan vitamin B. Bisa jadi lama-lama namanya Beras Medan, karena ada nilai jualnya ketimbang menyebut dari Aek Sibundong di Zumatera Utara Zuga.
  • BERAS BESI – Yang ini kadar besinya nggegirisi, seang disempurnakan di Subang hasil kerjasama dengan Universitas Tokyo
  • BERAS ANTI HEPATITIS B, juga hasil rekayasa Universitas Tokyo, menghasilkan antibodi mencegah hepatitis B