Kopi Tiwus


KOPI TIWUS
“Ketika Kesempurnaan itu memang Palsu adanya:..
 
Kebetulan saya berada di tempat anak. Yang paling besar. Memberikan dua cucu. Istilahnya, “mbak” mereka berlibur, kami mengisi kekosongannya. Sekaligus Annually mengagumi hasil kerja mbak ini sebagai Aisten Rumah Tangga. Seorang diri, memasak, bersih rumah, jemput anak, memberi makan, memandikan, cuci baju, gosok cucian yang kering. Sepertinya 24 jam tidak cukup.
 
Sambil merapihkan mainan cucu yang kadang membuat saya “gethem-gethem” lantaran bingung melakukan seleksi kalau sudah campur bawur. Kalau sudah mainan, biasanya buku anak-anak. Termasuk buku dewasa.
 
Diantara Rick Riordan, Ensiklo kecil, Sophoholic kok saya menemukan buku kecil Filosofi Kopi. Diberi label Karya terbaik 2006 pilihan majalah Tempo.
 
Yang sudah-sudah buku dengan embel-embel karya sastra biasanya malahan “keliwat alot” dikunyah. Sering melongo sendiri, lha kok malah ruwet setelah selesai membacanya.
 
Yang ini kenapa lain.
 
Tapi tak kurang Arswendo Atmowiloto yang nama pertamanya saya jadikan “hint password -sebagai pengarang yang paling disukai” – berani pasang taruhan – kalau selama ini Sastra selalu maju mundur karya Pramoedya, maka nama pengarang Dwi Lestari, bisa menjadi kandidat.
 
Gunawan Muhammad – bahkan kasih catatan DL adalah satu dari pengarang wanita yang tidak berangkat dari bedak, lulur, dan erotisme.
 
***
KOPI … k-o-p-i. Sudah ribuan kali aku mengeja sembari memandangi serbuk hitam ini. Memikirkan kira-kira sihir apa yang dimilikinya sehingga ada satu manusia tergila-gila Ben… B-e-n. Demikian Dee membuka cerita.
 
Untuk menjadi peramu profesional, B-e-n “ngangsu kawruh” menimba ilmu dari Barista Roma, Paris, Amsterdam, London, New York bahkan Moskow. Tidak perduli bahasa Inggrisnya Belepotan. Mengemis agar bisa masuk dapur saji, mengorek rahasia kelas kakap meramu cafe latte, cappucino, espresso, russian coffe, irish coffee, macciato – sampai akhirnya membuka kedai sendiri dan sukses.
Dengan cekatan ia membuat narasi misalnya Cappucino adalah kopi genit. Penampilannya harus cantik. Kalau diaduk sampai acakan orang tidak akan meminumnya.
 
Kopi tubruk wujudnya kasar, serampangan. Tetapi sekalipun namanya TUBRUK saat akan menikmatinya harus diciumi dahulu (aromanya), sebab kedahsyatannya adalah takaran suhu sampai keluar aroma tubruk. Setelah puas “ngambungi” – boleh ditubruk bahasa Jawa “diuleng-uleng” sampai puas.
 
Bahkan ada seorang kaya, menantang dibuatkan kopi terenak didunia, segelas akan dihargai 50 juta rupiah, kalau perlu.
Ben berhasil memenangkan tantangan 50 juta rupiah. Dalam bentuk Cek sebuah bank Internasional.
 
Namun egonya terkilik, ketika kedatangan seorang penampilan biasa, bawa koran tulisan kuliner kopi Sempurna warung Ben. Bahasa Indonesianya Jawa medok. Gaya clingak-clinguk – bisa dipastikan lelaki ini “first timer” di kedainya.
 
Kendati tidak dilukiskan oleh penulis, konotasi Jawa Medok sering lencang kanan dengan “gaya sinis tetapi mlipir halus”
 
Tentunya Ben menyuguhkan kopi yang pernah memenangkan taruhan 50juta. Herannya setelah meneguk si Bapak perhatiannya kembali tertuju ke koran-seperti meyakinkan apa yang ia baca tidak keliru.
 
Padahal pengunjung lain biasanya akan membelalakkan mata, lalu bilang wow..
 
Ditanya soal rasa, si Bapak cuma menjawab “Lumayan, beda sedikit dengan rasa kopi langgananannya..”
 
Gara-gara dibilang beda tipis. Ben menutup kedainya dan memulai petualangan berkendara mobil, ratusan kilometer dari Jakarta. Mencari juru kopi yang dikatakan enak tersebut. Ia harus belajar kepadanya.
Sayang mereka kemalaman sehingga memutuskan menginap di Klaten – Jawa Tengah.
 
Keesokan hari, mereka kembali dengan pencarian ke desa. Baru nampak jelas bahwa hampir perbukitan dipenuhi pohon kopi. Kopi rakyat yang begitu ditanam ya dibiarkan besar sendiri sonder pupuk.
 
Ilmu Kopi-nya yang dipelajari dari pakar kelas internasional, menolak bahwa kopi ditanam rakyat diperbukitan dengan ketinggian “tak memenuhi sayarat untuk tanaman ini tumbuh menghasilkan kopi yang mumpuni..”
 
Mereka menanyakan alamat kopi terkenal di kampung ini kepada seorang perempuan. “Oh Kopi Tiwus, namanya. Pak Seno nama pemiliknya..”
 
Sebagai terimakasih, Ben memberikan selembar uang Lima Ribu kepada si mbok yang diterima dengan melongo. “Maas, disini Lima Ribu dapat kopi satu Bakul..” – Perempuan itu menunjukkan bakul yang dibawanya, berisikan kopi sudah disangrai.
 
“Saya juga mau nyetor kopi kepada pak Seno..”
 
Disebuah warung Reyot, inilah warung pak Seno “Tiwus.”
 
Mereka memesan kopi. Ada gorengan selalu menemani. Mereka menyomot pisang goreng dan bertanya “Berapa harga kopi segelas..”
 
“Kalau gorengan 50 perak satu, kalau kopi ya cuma-cuma, terserah, lha wong disini buanyak. Kadang ada yang kasih 150 perak, 200 perak..ya berapa sajalah..”
 
Kopi kampung segera mereka minum.. Satu gelas berlalu, menjadi dua gelas.
 
Mengisi keheningan pak Seno berbicara lirih. Banyak sekali orang doyan kopi Tiwus (nama pemberian alm putrinya), katanya bikin tentrem, bikin seger, bikin kangen, bikin sabar. Bapak sendiri ndak ngerti kenapa. Wong bikinnya biasa saja. Barangkali biji kopinya yang ajaib..
 
B-e-n segera menghambur keluar warung. Ia yang sekolah dimana-mana belajar ilmu racikan njelimet ala kedai waralaba besar alias International, harus mengakui kenikmatan kopi yang rumus penyediaannya cuma, air sumur dijerang, kopi dimasukkan kedalam gelas belimbing lalu saat air mendidih, tuangkan kedalam gelas berisikan bubuk kopi rakyat.
 
Sampai di Jakarta ia memutuskan untuk menyerahkan cek kemenangan 50 juta rupiah kepada pak Seno di Desa Klaten tapi jauuh.. tadi. Ia merasa tak berhak.
 
RATUSAN KILOMETER Lagi (Klaten Jauuuh)..
Pak Seno berbincang kepada istrinya dalam bahasa Jawa tadi ada orang mengambil kopi Tiwus (Sebungkus), lalu memberikan kenangan selembar kertas..
 
Istrinya tidak tahu kertas apa ini. Sambil garuk kepala mereka menaruh “Kertas Kenangan di Bawah Pakaian dalam lemari mereka..”
 
Bulan Pasa pukul 12 teng baca FILOSOFI KOPI…Hadeuuhhh..
 
2 Juni 2018
#kopi
#filosofi kopi.
#gagal maning signout dari FB
Advertisements