Dari Perwira TNI menjadi Bintara Polri


si Pejuang
Dari Seorang Kapiten TNI menjadi Bintara Polisi..

Jujur semula saya tidak terlalu tertarik dengan buku ini. Dalam satu group WA famili yang diadmini sepupu yang doktor Psikolog melampirkan link youtube. Isinya ada sepupu lain penanggung jawab sebuah penerbitan nampak memberikan sambutan atas peluncuran buku berjudul Bhayangkara Pejuang melawan penjajah dan anti korupsi.

Isi sambutannya seperti mewakili perasaan saya. “Tiap hari kita dibombardir habis habisan bahwa Indonesia akan tinggal kenangan (2012)” – namun semua berbalik setelah membaca membaca naskah dari awal sampai akhir – ia menemukan konten buku yang tidak pernah terungkap. Mas Brata langsung setuju untuk mepublikasikannya. Ia seperti melihat Jendral Hoegeng edisi lain…

Sekalian sepupu berpesan, “pikirkanlah mulai sekarang, bapak-bapak dan ibu-ibu boleh jadi sudah memberikan suri teladan terbaik bagi bangsa dan negara. Namun tanpa teladan dalam bentuk tertulis, tuntunan seperti apa yang dilakukan Ursinus boleh jadi akan lenyap ketika kita dipanggil menghadap yang kuasa..” – Manusia hanya bisa menemui keabadian – hanya kalau ia menuliskan kisah hidupnya…”

Polisi pejuang ini aneh.

Saat revolusi – ia sudah berpangkat KAPTEN TNI. Namun pindah haluan menjadi Polisi dengan pangkat AJUN INSPEKTUR SATU – artinya dari Perwira menjadi Bintara. Artinya melorot empat tingkatan karir.

Padahal metamorfosanya menjadi polisi – sebab tugas intel untuk menyusup separatis Indonesia Timur yang hampir 100% pro Belanda. Jadi para tentara ini dilatih pura-pura jadi polisi agar bisa memonitoring perkembangan kelompok separatis yang memimpikan negeri Federal.

Namun mantan Kapolda SUMUT ini tergolong manusia berpikir keluar dari jamannya. Bayangkan saat mejabat DirLantas – mereka mengatakan “bagaimana kalau Surat Hak Milik Kendaraan bermotor kita hapus, lalu diterbitkan BPKB (Buku Pemilik Kendaraan Bermotor), karena tidak ada gunanya. Ini artinya menutup pintu Surat Hak Milik Kendaraan Bermotor yang dikeluarkan DLAJR. Jendarl Polisi Widodo Budidarmo dalam kesaksiannya mengatakan bahwa Ursinus – bisa disebut bapak BPKB.

Dan yang masih ingat saat pak Hoegeng ujug-ujug mengeluarkan Maklumat Kepolisian yang mengatakan Pengendara Sepeda Motor harus mnggunakan Helm, beliau orang yang menggodok aturannya.

BPKB pengungkap Amrozi..
Ketika ide BPKB di godog pada 1967, tidak pernah terpikir bahwa selain berfungsi sebagai Kartu Tumbuh Kembang, sebagai alat sah untuk pinjam uang di Bank, maka BPKB dipakai untuk menelusur jejak pengebom.

Ceritanya setelah beberapa hari mendalami dan menyelidiki kasus teror bom, polisi menemukan potongan chassis mobil yang diduga membawa bom berdaya ledak tinggi. Biasanya setiap rangka ada nomor identifikasi sehingga bisa dihubunkan kepada pemiliknya. Namun Angka yang biasa tercetak pada rangka sudah dihapus. Titik terang mulai terkuak ketika mereka menemukan stiker kir yang membawa Mitsubisi L-300 buatan 1981. Tebak siapa pemiliknya – Amrozi dan kawan-kawannya.

Dua tahun kemudian 9 Sep 2004 – didepan Kedutaan Kuningan, Daihatzu Zebra putih tahun 1990 segera dilacap pemiliknya melalui BPKB.

1 Agustus 2000 dikediaman Dubes Filipina Bom diledakkan menggunakan Suzuki Carry. Bom di JW Marriot 5 Agustus 2003 diangkut Toyota Kijang. Semua bisa diungkap melalui nomor registrasi dari BPKB. Seandainya pada 1967 pihak kepolisian masih nyaman dengan Surat Hak Milik Kendaraan Bermotor- besutan DLAJR, boleh jadi cerita teror bom akan menemui jalan buntu.

Presiden Pilippines 1992-2008 begitu terkesan pribadi polisi Indonesia yang satu- peluang menggendutkan dompet ia lewatkan. Markas Polantas di MT Haryono awalnya tercatat atas namanya sebelum ia serahkan semua ke kepolisian. Saking terkesima – seorang presiden negeri lain ini bersedia menuliskan kata kenangan di belakang buku ini..

Irjen_Pejuang

#Catatan Naskah buku ini selesai 2007, sudah diberikan ke penerbit tetapi mandelantaran dan. Sampai ia dipanggil sang pencipta pada 6 Januari 2012 buku belum terlaksana. Sebelum menghembuskan napas terakhir, Jendral, mantan Kapolda hanya memiliki rumah diujung gang sempit, Otista III Jakarta Timur.

Advertisements