Delusi


MABUK BIR ORANG BICARA JUJUR. MABUK AJARAN ORANG JADI PEMBOHONG.

Sego Liwet dan “Jangan” Brongkos

Novel dibuka Hari Senin 27 November 2017, di sebuah perkantoran di Jakarta. Ada acara makan siang bersama, dengan hidangan Nasi Liwet dan Brongkos dari Yogyakarta. Brongkos adalah syuran terdiri dari kacang tolo, kulit melinjo, daging sapi, tahu dan yang paling khas kluwak (pucung) yang membuat kuah menjadi kehitaman. Biasanya mengambang cabai merah utuh. Tak ketinggalan Tempe Goreng dan Krupuk.

Komposisi menyentak. Umar Kayam dalam Mangan Ora Mangan Kumpul kerap membicarakan makanan legendaris yang hampir terlupakan ini.

Chefnya didatangkan khusus dari Yogyakarta. Tanya saja Butet, Djaduk pasti tahu masakan pak Min ini. Juga sambal pedes tapi tidak pedesnya.

Rupanya acara pelepasan seorang kerabat koran yang memasuki masa pensiun. Rumor di masa pensiun adalah Seperti Banyak Jalan Menuju Roma, para Pensiunan mengubahnya menjadi Banyak Kesusahan Menuju Tua. Misalnya saat di Jakarta, mereka berangan-angan pensiun kelak kembali ke Yogya, Bikin rumah bagus ditepi sawah, dipinggir kali. Kenyataan yang didapat desa sudah tidak seperti yang dibayangkan.

Manusia Pensiunan biasanya kembali ke masa lalu. Naliko Semono. Masa lalu dikunyah seperti permen, terutama bagian subyektivitas. Seakan semua masa lalu adalah indah dan teratur. Mantan diktator – dijadikan masa lalu dengan pemeo “Piye, enak jamanku tho?”. Orang dekatnya dijadikan iming-iming serba sebagai “Satria Piningit”

*** Kebenaran Makin Sulit dicari pada yang dimaknakan FAKTA. Ketika fakta sakit, Fiksilah obatnya…” [hal 113]

Tokoh dalam novel ini Santosa Santiana – disingkat eSeS. Jiwanya masih belum mau pensiun, apalagi merasa alumnus koran sangat terkenal berwibawa tanpa tanding – ia lalu diajak temannya sesama pensiunan yang kepingin bikin koran lagi.

Alasannya koran sekarang dangkal. Berita baru didengar sepotong sudah dilansir keudara. Mengoreksi berita kemudian sudah bukan aib. Cukup beri judul “Heboh” atau “Inilah Rahasia Mengapa” atau “Terbongkarnya penyebab bla.. bla” – yang kalau dibaca orang akan kecewa sebab mereka hanya menulis Judul, sepotong penjelasan dangkal, bahkan wartawan terkadang tidak berada di tempat kejadian.

Temannya sudah menasihatkan “Ini Jaman Fundamentalis, Orang Percaya Akan Apa Saja Kecuali Satu, Kebenaran…”

Lalu ada dialog saat mereka minum minuman keras Bir. Minuman keras di razia, dimusnahkan. Padahal orang mabuk minuman bicaranya jujur. Ketimbang orang mabuk Ajaran, umumnya mereka bicaranya Bohong, memfitnah dan sarat ujaran kebencian.

Proses kerja memndirikan Koran ini membuat mereka seperti menggunakan mesin waktu kembali ke masa lalu dimana hidup cukup dengan cinta seperti dikutip pada halaman 44, “Usaha yang berhasil adalah usaha yang dilakukan tanpa keberatan menanggung beban…”

Ada 16 Kata Mutiara yang orisinal dari 192 halaman buku ini.

Benang merahnya, jaman NOW – Media mengalir Bergas – namun manusianya tidak menjadi lebih cerdas. Kecepatan berita menjadi berhala. Soal salah benar nanti dipikir kemudian.

Novel “Koran Kami with Lucy n the Sky – ini seperti menceritakan sisi pribadi Penulis. Kendati ditulis disklaimer atau Nota “Berdasar Kisah Tidak Nyata dan Tidak Meyakinkan..”

#Krisis Zaman adalah mewarisi sikap bahwa MEMORI adalah musuh
#Koran Kami #Bre Redana
#Sabtu Malam 21:00 paket buku dikirimkan

Advertisements