Pasar


Berada di pasar Tradisional Grogol di lantai dua – pada pagi hari- mruput Sesungguhnya cuma kangen Bakso mas Tomo yang sejatinya sang penjual sakit gigi (menantunya).

Tapi melihat kedai belum soap, kami urungkan niat berbakso, dan malahan belanja keperluan sehari-hari.

Jadi saya siapkan kamera saku. Lebih cocok untuk suasananya hiruk pikuk dan yang dipotret tak menyadari kalau diabadikan.

Melihat orang seliweran, bersenggolan di lorong sempit, penerangan yang ala kadarnya. Menangkap wajah pegiat pasar.

Sesekali pedagang kopi lewat sambi berteriak – Kopi-Kopi..
Penjual kuwe – demikian juga.. Kuwe-Kuwe.

Perhatian saya tercurah pada lelaki mendorong kereta atau gerobak kecil sambil meneriakkan “KAKI”, maka bayangan saya ia menjual kaki ayam, kaki kambing, atau kulit kaki sapi.

Boleh jadi makanan lain yang yang dijajakan tetapi telinga kurang tangkas menafsirkannya.

Nampaknya benda yang dijajakan lumayan berat. Mata saya mengikuti kemana dia bergerak meliuk menghindari pejalan lainnya.

Lha kok sekarang ia menuju ke arah kami. Kesempatan emas. Apa sih sejatinya benda dalam gerobag…

Mendadak langkahnya terhadang. Ia berpapasan dengan seorang wanita – yang pasti bukan Feydy Lyvyr yang bikin Abdee “Slank” susah makan sulit menelan. Mungkin ruang gerak antara Gerobag dengan tubuh wanita tidak memberi ruang leluasa.

“Maaf,” kata tukang “kaki”- lalu membelokkan gerobaknya dan plecing pergi. Pas melewati saya, ada benda coklat mumbul-mumbul. Bentuknya segitiga. Tahu kulit ternyata.

Enci yang dimaafi tadi melihat ke bawah, saya yang dibelakangnya juga ikutan latah melihat kearah kaki enci yang bersandal jepit. Jari kaki ini baru saja dilindas roda gerobag.

Kok ya dia tidak teriak, atau marah, atau menggigit tangan si Bapak.

Dan saking terpesona, adegan pentingpun tak terabadikan.

27.2.2018

Advertisements